DANCING ON THE VALENTINE : review

Image

Diceritakanlah, dua orang cowo keren : Valent dan Jay yang tegabung dalam grup vokal : VALENTINE, yang suka beredar manggung di diskotik diskotik terdekat,dalam waktu dekat akan segera launching album terbaru mereka sekaligus menjadi pengisi acara Discothique Valentine: acara valentine SMA se jakarta raya. Namun kehadiran Luvy, seorang cewe manis dikampus mereka membuat semuanya berantakan , sebenarnya ini bukan yang pertama bagi mereka, meeka memang ‘sengaja’ selalu beesaing dalam mendapatkan ‘korban’ mereka. Saat yang lain mendekat yang lain akan mencoba menggagalkan dengan pesona masing –masing. BIasanya cuma sekedar adu eksistensi, namun kali ini berbeda…

Plot cinta segitiga diatas sebenarnya tidak terlalu istimewa, dan hasilnya sudah bisa ditebak. Mungkin. Namun yang membuat ini istimewa adalah cara mas Hilman mengantarkan cerita cinta ini dengan komedi yang … PAS, baik timing maupun kadarnya. Membaca Dancing on the Valentine, buat saya seperti membaca LUPUS versi kuliah yang mungkin cuma seuprit kita temukan di volume LUPUS : idih udah gede. Mungkin cuma saya, tapi karakter utama, Valent memang sangat Lupus, tentunya minus pemen karet. Dan kali ini tunggangannya tidak lagi vespa antik, melainkan sebuah civic wonder ‘bonus’ dari perusahaan rekamannya. walau hal hal seperti civic wonder, tape recoder, dan semua artifak artifak 1990 lainnya memenuhi novel ini, (karena memang ditulis di zaman saya masih berwujud balita ini ) buat saya komedinya masih pas untuk ditertawakan pada zaman ciyus miapah ini. kalau meminjam bahasa zaman itu: masih tetap ngocol. Kalo kata anak-anak sekarang sih ..PECAH !!!

Terakhir, walau sinopsis di paragraf utama bercerita tentang cinta, sebenarnya novel tipis lebih ini lebih dari sekedar itu semua. Novel ini tentang eksistensi dan yah..persahabatan. Buktinya, Luvy sebagai orang ketiga pun tidak terlalu sering muncul ,Cuma satu dua kali, bahkan mungkin kalah dengan kemunculan Gala, tokoh yg berada dibalik kesuksesan valentine, seorang pemusik handal yang akhirnya memilih untuk menjadi penulis,
Tapi, tentunya persahabatan dan cinta di novel ini tetap tidak bisa dipisahkan, tidak bisa dipilih salah satu, sama halnya dengan Valen dan Jay, seperti yg diungkapkan Luvy di awal novel :“memilih Jay dan Valent ibarat torn between two lovers, kalau boleh sih mendingan memiliki keduanya”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s