BUKAN LAPORAN WAWANCARA

Untuk pertama kalinya, tertanggal 2 Desember ,dalam satu hari TIDAK ADA SATU MAHLUK PUN yang mengunjungi blog cecurhatan ini.

saya galau….

 tapi saya bohong

Karena justru saya mau minta maaf untuk ke seratus kian kali mengenai hal tersebut,  karena sudah lumayan lama saya tidak posting ( baca : curhat ) disini. Jadi wajarlah, kalau para pendengar curhat dan keluhan saya malas datang ke sini. Ceritanya begini: beberapa waktu belakangan ini saya lagi sibuk galau dan merenungi sebuah ‘keputusan’ yang ternyata terbilang berhasil membawa  dampak negatip terhadap kehidupan saya,padahal itu bukan sebuah keputusan baru, itu sudah berbulan bulan yang lalu. Tapi yah, harap dimaklumilah, saya yang seorang drama king ini, berhasil mendramatisir hal tersebut sehingga efeknya menjadi panjang dan terasa berlipat ganda.

Yah, sekian ekskyus saya untuk kealphaan menulis saya beberapa waktu ini.

Hari ini saya  sudah lumayan stabil, karena saat menulis ini, saya sudah mandi, cukuran dan terlihat keren. Karena seperti yang sama sama kita tahu, mandi adalah saat dimana, harapan-harapan dan ide cemerlang muncul sesegar air yang tumpeh tumpeh di kepala kita, disaat yang sama dimana air tersebut menghanyutkan semua kegalauan dan ketakutan yang ada dikepala kita……..Walau Cuma sementara.

Hari ini ada job fair lagi dan saya tidak mengerti kenapa lagi  dan lagi tidak banyak perusahaan beruntung yang menerima CV saya. Mungkin memang takdirnya demikian : saya hibernasi sampai siang dan pas bangun, hujan deras sedemikian, mandi dan dandan, macet dijalan, sampai ditekape cuma tersisa beberapa perusahaan. paling tidak ini bukan salah saya sepenuhnya,

terima kasih kepada hujan yang tidak protes walau selalu disalahkan dan dijadikan alasan..

 Namun, jobfair kali ini ada yang menarik, ketika saya ikut  berkunjung ke sebuah booth media cetak yang cukup mendapat nama  di negeri kita ini, si mas-mas disana  bertanya  dengan antusias,

Simas : Minat yang mana mas?

Saya : Melihat2 tempelan didinding..hhmm.. *mikir sebentar* reporter mas, saya jawab mantap

SMas:  Silahkan duduk mas

Saya : *Sedikit heran, karena masih ada beberapa orang bernasib sama di sebelah saya * oke mas.*pasrah

 smas : *Menatap tajam* udah tau kerja reporter  kan mas? Maaf lo mas, saya nanya gini, karena takutnya apa yang mas pengen ternyata ga cocok ama karakter mas. ( saya suka bagian ini.sumpah )

saya : *Tersenyum* kalau yang umum udah udah si mas, tapi detailnya sih belum

smas: Oke, sebelumnya kerja dimana?

maka dimulailah sesi perkenalan diri saya, tentang asal muasal dan latar belakang pendidikan, hobi dan ……….kata mutiara. Yang terakhir boong. Dan si mas mulai bercerita seluk beluk reporter, mulai dari skill apa aja yang musti dikuasai, tentang penggunaan bahasa, tentang etika, tentang susahnya wawancara, tentang pejabat yang super sibuk, sampai keharusan saya  memiliki kamera, yang dengan  begonya ( baca : polos) saya bertanya:

“Emang kantor ga nyediain mas?”

“ Nyedian sih, tapi  gimana kalo reporter senior juga make, mas sebagai calon reporter bisa clash kan nantinya ama senior. Juga kemungkinan kasus-kasus lain,seperti seandainya…..”

dan  mas tersebut pun memberikan kemungkinan kemungkinan kasus yang terjadi. Saya manggut-manggut sok paham.

“Ya ga musti DSLR Juga, camdig 2 mega pixel juga udah cukup,” si mas senyum. Saya balas senyum.   (Ga terdengar gay kan ya? )

Dan…. cerita kembali bergulir tentang pekerjaan seorang reporter, tentang nulis berita, tentang beda media cetak dan tv, tentang harus kreatif. Saya senyum senyum.

“Kalau fasilitas kantor ga usah khawatir mas, kalau mas beneran butuh, jangankan kamera, mobil juga silahkan pake “

Saya menangis dalam hati. Jangankan mobil mas….ah, udahlah

“ Tapi ini untuk penempatan wilayah Bandung kan mas?” saya bertanya “ buat sementara, emang di Bandung mas, tapi kalau nantinya Jakarta butuh, atau Kalimantan butuh mas harus siap. “

Si mas senyum. Saya ngangguk ngangguk.

“ Kalau mas ragu, ntar lewat email juga bisa kok”

Saya tertawa. Kemudian berdiri menyalami mas-mas keren berjaket kulit coklat di depan saya tersebut

“Makasih mas, saya tertarik” ujar saya sok mantap

“Sip mas, kami tunggu” balas si mas kemudian membalas genggaman tangan saya.

Dan kemudian saya pun mohon ijin untuk melihat perusahaan lain yang beruntung, tinggal beberapa sih,karena yang lain sudah gulung tikar. ehm, merapikan tikar, spanduk dan segala Sesuatu yang ada di area mereka masing masing. Para pencari kerja juga sudah terbilang sepi, tinggal beberapa di dekat panggung nunggu door prize dan diluaran yang menunggu hujan berhenti sambil ngopi ngopi. Saya sendiri juga menunggu, menunggu kesempatan buat berkenalan dengan mbak mbak manis yang berseliweran di job fair kali ini.sumpah, manis dan wow wow semua.

Tapi setelah memperhitungkan  situasi, kondisi, toleransi dan segala sesuatunya:  seperti kemungkinan tidak diacuhkan, ditampar atau si korban teriak, atau kemungkinan beliau memberikan pin bb sementara saya tidak punya bb, dilengkapi kalkulasi herder yang berkeliaran , maka saya memutuskan mundur dari medan laga ini dan langsung pulang.   

Bukannya takut, atau pesimis..

I just try to be smart to pick my own battle.

Wakarimashitaka?

 

 

Advertisements

4 thoughts on “BUKAN LAPORAN WAWANCARA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s