Anjing Jadi Banyak

Semut semut itu menjelma jadi anjing ketika menggigit kaki

dan aku sungguh ingin melempar nyamuk-nyamuk dengan batu

para tetangga menggonggong soal nikah dan urusan lain yang tidak perlu

ada juga orang-orang yang menjilat-jilat seolah patuh, padahal menyalak paling keras kalau aku sedang tidur!

waktu juga menggigit, sakit, mudah mudahan tidak rabies

mimpi diikat, karena kalau lepas dia juga suka ribut,

mungkin membandingkan dengan anjing tetangga yang lebih bagus

atau ribut karena melihat masa lalu yang masih gentayangan

aku tidak takut anjing, takut ini takut itu yang anjing!

tapi semua akan jadi anjing  dan aku jadi babi

semua memburu, memaksaku lari.

lari, entah sampai kapan,

mungkin sampai aku juga jadi anjing yang suka mengejar ekornya sendiri

 

Advertisements

Kita Berdua Seharusnya Tidak Tumbuh Dan Besar Di Negara Ini, Katamu

 

 

“Kekasihku besok datang, jadi jangan melakukan hal bodoh” katamu

aku kadang menyukai tantangan itu

kau marah, pergi, dan kemudian datang lagi

aku tau itu dan sepertinya akan selalu begitu

ciuman mu itu magis

walau aku lebih suka ketika kita bercerita bahwa matahari hari ini dan besok bukanlah matahari yang sama atau berkhayal  di salah satu bumi entah dimana kita sudah menikah dan hidup normal tapi keduanya tidak mempunyai kesempatan untuk bercerita seperti kita sekarang tentang sekian judul buku dan film, tentang gitar yang kau gantung di kamarmu, tentang muaythai, atau tentang kekasihmu…

Aku ingin kau tau,  kalaupun aku punya tubuh indah dengan buah dada besar seperti wanita impianmu

percayalah, aku tetap tidak ingin jadi kekasihmu

aku ingin tetap merasa hina da tumbuh lewat kata dan pencapaianmu

atau mengikuti nasehatmu dengan belajar mengenal 1000 meter dari duniaku sekarang tanpa harus  jadi pematung di Bali, itu saja

paling tidak untuk saat ini

nanti, akan kita biarkan menjelaskan ceritanya sendiri

karena seperti katamu, nona..

kita berdua seharusnya tidak tumbuh dan besar di negara ini.

Aku Tidak Tau Kenapa Aku Bangun Pagi Beberapa Hari Ini

Aku tidak tau berapa kali aku tertidur dalam beberapa hari ini

Atau menangis

Aku cuma tertidur,kemudian bangun pagi

Untuk berbangga sejenak kemudian tertidur lagi

Ketika takdir bergerilya di kepala dan air mata

Malam ini, aku juga tidak tau berapa semut yang menikmati martabak bersamaku

Setelah aku menghabiskan nasi dengan porsi yang tak biasa, bahkan untuk aku

Berapa kaleng minuman energy yang harus kuhabiskan agar setara dengan sebuah pelukan?

Terlalu banyak tanya lain yang belum kujawab di kepala,

Mulai dari apakah aku harus mengganti lampu kamar mandi sementara tanpanya nyala api rokokku terlihat sangat indah?

Atau kenapa beberapa orang teman malah meruncingkan perbedaan antara dasar jurang dan  atas

Sementara kita masih sama sama merangkak  walau dengan kecepatan dan cerita berbeda.

 

 

 

 

Sosok Manusia Yang Tidak Baik Untuk Kesehatan Lambung

Di luar hujan

dan disini, aku hanyut dalam tanya dan tawamu

bercerita tentang kopi dalam wujud manusia dan sampah permen yang terlupakan

juga tentang rasa lalu dari sebuah masa patah hati yang rahasia

atau tentang nada tunggu telepon putih abu abu yang pernah membuatku bahagia

Terimakasih, walau kedipan itu belum tersentuh nyata

dan pelukan itu belum bertemu mata

senyum maya-mu membuat ku kembali membuka layar dan mencoba.Mengeja.

karena seperti jawabanku untuk salah satu pertanyaanmu :

“setiap kita punya alasan magis untuk tidak bertemu atau dipertemukan”

seperti halnya setiap orang punya alasan tertentu untuk mengganti foto profilenya

Taukah Kau Kalau Aku Tidak Menulis Apa-apa?

 

Aku bohong kemudian percaya

Cerita bodoh yang kutulis dan kukarang sendiri

bahwasanya aku tidak apa apa

Meringkuk di bawah selimut, mengutuk setan di gusi dan geraham

Yang mengganggu konsentrasiku kala menjamah dan mencumbu ruang hampa

Ya, aku tidak apa apa..

Air bak mandiku hampir hitam oleh rambut yang terus mengalir dari kepala

lebih banyak dari ide yang harusnya keluar

atau berbanding lurus dengan calon penulis hebat yang mengendap di dinding

selain itu, aku tidak bisa apa-apa

Aku bohong kemudian percaya

Kalau aku sudah menulis satu atau dua cerita

tapi taukah kau cerita sebenarnya? aku tidak menulis apa apa

 

 

 

 

 

Tapi Tak Begitu Dengan Senyummu

 

Dahulu di langit itu ada senyummu

kupahat tangga dari kata, rapuh sederhana

namun senyummu dari balik topeng penjara suci  itu yang mengikatnya kuat

bukan peluk pada suatu ketika, tapi senyum di kota tua itu

yang menggores warna  di kanvas, melukis sebuah kisah cinta

kisah yang masih begitu saja, rapuh dan sederhana.

pernahkah kau baca, pernah kutulis :

saat ku bisa terbang, langit tak lagi akan seindah dahulu?

tak apa, paling tidak tak begitu dengan senyummu

index
from: dailymail.co.uk

NARA

 

Suatu malam kau bercerita padaku

Hari ini di toko itu kau tidak menemukan lipstick yang memuaskan nafsu bibirmu

Tahukan kamu kalau tanpa lipstikpun, bibirmu adalah yang terindah untuk kucumbu

Aku tidak bohong, Paling tidak dalam beberapa hari ini

Nara

Tiap malam, seusai perkelahian kita yang tak pernah habis

Kita selalu kembali larut dalam peluk

Sampai pagi dimana kau berkata : “maaf, aku harus bekerja”

Dan kau pun berlalu dari duniaku

Dunia yang sama sekali berbeda dari dunia gemerlapmu

Nara

kekasihku yang tak pernah ada