Cerita Seorang Pemula Mengenal Okky Madasari Lewat Kerumunan Terakhir.

Saya bukan pembaca buku-buku hebat, buktinya buku Mbah Pram dan Orhan Pamuk cuma tergeletak penuh debu di lemari. Saat membaca karya-karya sastra adiluhung tersebut, entah kenapa dikepala saya sudah muncul asumsi kalau buku ini adalah buku buku berat, dan kadang memang kenyataanya demikian.

Sampai kemudian, lewat perbincangan dengan seorang teman, saya jadi tahu tentang  Okky Madasari dan  buku bukunya yang sudah sudah malang melintang di jagad perbukuan indoneia, bahkan dunia,

Dan ternyata buku Okky yang berjudul Kerumunan Terakhir ini, bisa saya selesaikan dengan lancar. Mungkin saya beruntung, sebagai pembaca pemula buku buku Okky, saya bisa memulai dengan karya nya yang tidak terlampau berat

Ataukah sebenarnya, buku ini emang sedang memilih saya ?  karena mungkin saya mengingatkannya akan Matajaya?

**

 

20180509_123009[1]

Dunia baru ini adalah dunia yang dibentuk dari kata dan suara, kalau aku tidak berkata dan bersuara, maka aku tidak ada

Kerumunan terakhir adalah cerita tentang  Jayanegara, seorang pemuda biasa dari daerah, yang  memilih tidak menyelesaikan kuliah dan pergi ke Jakarta menyul Maera, pacarnya yang sudah bekerja sebagai sebuah wartawan di sebuah koran. Keputusan Jay ini merupakan salah satu bentuk perlawanan kepada ayahnya, seorang professor hebat yang sayang anak tapi sayangnya juga doyan main perempuan sehingga  membuat ibunya menderita.

Di Jakarta Jay tinggal dengan Maera. Memenuhi keinginan Maera untuk mencari kerja lewat internet,  Jay malah berkenalan dengan sebuah dunia baru : internet, yang di penuhi kerumunan- kerumunan dengan berbagai macam kepentingan dan pemenuhan kebutuhan Perlahan Jay pun tenggelam dalam dunia barunya, sampai lahirlah : Matajaya

Beda dengan Jayanegara, Matajaya merupakan seorang  lelaki asal kampung yang memulai karirnya menjadi stuntman, sampai kemudian suatu ketika beasiswa pacarnya membuat dia harus pindah Amerika. Di sana, Matajaya menjadi tukang cuci piring dan kemudian pindah haluan menjadi seorang fotografer kelas dunia. Lewat cerita ceritanya Matajaya mendapat tempat di dunia baru ini yang dipenuhi pelbagai tokoh dan karakter ini : ada akardewa, veteran perang, pejuang sosial yang vokal dan menjadi semacam nabi baru di dunia Jay,  Nura, yang pernah punya kisah dengan Akardewa kemudian ditinggalkan para penghuni dunia baru, juga Kara, seorang remaja yang ingin mengubah dunia.

Di tengah hiruk pikuknya dunia baru, masihkah Jay menaruh dendam pada dunai lamanya? pada ayahnya?

**

Di zaman sekarang ini, lebih cantik aslinya daripada fotonya adalah bentuk pujian tertinggi

Hiperrealitas, secara sederhana merupakan dimana sebuah realitas bercampur baur dengan fantasi, ilusi, dengan citra dan rekaan, sehinga sulit dibedakan, dan media sosial, internet adalah tempet tumbuh suburnya fenomena  ini. Hal inilah yang menjadi roh dari buku ini. Disini, Kita bisa melihat bagaiamana, kritik sosial dan fenomena kaum milenial bersatu,

Di dunia baru, dunia virtual, kita menemukan begitu banyak tokoh yang menarik namun ketika bertemu di dunia nyata ternyata jauh berbeda, Lihat bagaimana Akardewa yang ternyata tak ‘segagah’ yang ditampilkannya di  media, begitu juga dengan Matajaya, bahkan mungkin kita sendiri, apa sesuatu yang kita posting di media sosial adalah benar benar diri kita?

Tapi tentu saja selalu ada orang orang di kerumunan yang berhasil menjadi dirinya sendiri, di Kerumunan Terakhir, kita bisa melihat sosok in diwakili oleh Maera, yang menampilkan dirinya apa adanya, memakai nama dan foto asli.Lebih dari itu, lewat tulisannya, Maera berani jujur dengan menelanjangi dirinya sendiri,tentang kebutuhannya akan sex, tentang bagaimana dia tidak mampu menahan keinginan untuk selalu disentuh dan dipuaskan. Sesuatu yang (mungkin ) tabu bagi ( sebagian ) perempuan, bahkan bagi Jaya sendiri. Namun tidak untuk Maera, dia seperti ingin menunjukkan : kalau sex, adalah kebutuhan dasar setiap manusia.

Om Freud pasti bangga !!

**

Terlepas dari tema bernuansa kekinian, kritik sosial, dan pesan yang disampaikan, sayangnya, seperti kehidupan Jay, tidak ada sebuah goal  besar yang dinanti oleh pembaca, akibatnya cerita berjalan pelan, dan karakter terasa datar, sehingga buku ini menjadi tidak terlalu mengikat. Kerumunan Terakhir menjadi  cuma potongan cerita dari pelbagai tokoh. Kalaupun anda seperti saya, membacanya sepotong-sepotong, maka kenikmatannya juga tidak akan berkurang. Kita seakan ‘cuma’ disuguhi orang orang yang diam  didepan kom[puter, barulah di halaman halaman terakhir,  ada aksi –aksi di dunia nyata, yang sekali lagi, sayangnya sudah sangat terlambat, sehingga malah menimbulkan kecanggungan, walau memang mengantar pada sebuah konflik akhir. Tapi tetap saja, seandainya tokoh Kara dengan anarkismenya ini muncul lebih cepat,  mungkin ini akan jadi lebih menarik.

but who am I to judge?

Afterall, seperti yang saya katakan di awal ; buku yang memilih pembacanya. Buku ini datang di saat yang tepat, dimana kurang lebih saya sedang berada di fase seperti Jayanegara, maka buat saya pribadi, buku ini sangat menarik untuk di baca, mungkin juga buat mereka yang seirama, yang sedang bergiat di depan komputer, ponsel, menghabiskan waktu di dunia maya, dan tenggelam dalam kefanaannya.

“Kami mabuk dan hilang kesadaran tanpa alkohol. Imajinasi, ilusi, khayalan, jauh lebih memabukkan daripada  sebotol bir”

Advertisements

Memasak Di Atas Sebuah Badai

Saya bukan penggemar kuliner, tapi yes, saya suka makan.

karena saya percaya,  itu adalah dua hal yang cukup berbeda.

Yang pasti, penggemar kuliner tidak mungkin cuma tau (dan suka) nasi goreng dan mie instan bukan?

jadi, apa alasan saya sok sok menonton film kuliner berjudul COOK UP A STORM ini?

**

COOKUP.jpg

Cook Up A Storm (2017)  bercerita tentang persaingan dua anak muda:  SKY, yang pernah dicaci maki ayahnya yang seorang jurumasak, karena memasak mie saja tidak becus, sekarang merupakan seorang tukang masak di seven, sebuah restoran kecil di  kawasan sederhana yang tak lama lagi akan di rubuhkan demi  proyek proyek besar, dan PAUL, seorang chef dari prancis,keturunan Korea dan Cina, yang menolak tawaran menggiurkan di sana,  dan malah membuka restoran berbintang  bernama Stellar sendiri yang ‘kebetulan’ berada di depan seven. Sebuah appetizer yang cukup menjanjikan,

Yap, ihwal persaingan dua koki tampan inilah, yang menjadi alasan pertama saya tertarik untuk menonton film ini ( catatan : penekannya di persaingan, bukan di tampan ), Sky yang santai dan menjunjung tinggi masakan timur, dan Paul yang rapi jali dan lebih mendewakan masakan barat, akhirnya harus bertarung, demi restoran masing masing dan demi diri mereka sendiri.

Sampai akhirnya,sebuah kejadian membuat  mereka memutuskan bahu membahu demi mewujudkan mimpi mereka : mengalahkan dewa masak, yang merupakan idola Paul , yang menjadi inspirasinya menjadi chef, yang kebetulan juga merupakan ayah dari Sky…

bukan spoiler kok, film ini pun tidak merahasiakannya,

**

Cerita film ini tipis, memang cuma bergantung pada rivalitas dua karakter utamanya. Sebuah main course ya kurang berhasil diolah dengan baik. Padahal kalau seandainya lebih di bumbui tentunya ini akan lebih memberi rada tersendiri pada film ini.  Binary oposisi antara Sky yang dominan dan meledak2 dan Paul yang kalem tetunya akan membaut penonton ( baca :saya) geregetan, sayangnya di film,  dua kali pertarungan mereka terasa agak datar dan dan meningalkan after taste yang biasa juga.

cook-up-a-storm2

Saya malah suka momen pertemuan mereka pertama kali, ketika rebutan ikan tuna, dan ketika akhirnya sama-sama sepakat untuk mengalahkan dewa masakan dengan melempar botol ke poster sang dewa.

Begitulah,  saya selalu suka momen bromance berbumbu rivalitas ini, seperti yang terjasi  Eric dan Xavier di x-men, atau antara L dan Light di Death Note.

Percayalah, bromance yang seperti ini sangat menarik.

Selanjutnya, sebagai show yang menjadikan  makanan sebagai sajian utamanya, kehadiran  makanannya terbilang masih kurang, begitu juga dengan proses memasak, terutama pada saat turnamen dimana seharusnya detail proses, baik dari tim karakter utama dan tim lawan lebih diulik untuk mendapatkan sesuatu yang lebih berasa. Mungkin, ini juga ada pengaruhnya dengan tempo yang seperti  percepat di penghujung cerita, juga twist yang seakan kosong tanpa ada efek yang berarti. padahal sound and special effectnya terbilang bagus,

Padahal tadinya saya mengharapkan drama yang agak mendalam, sesuatu seperti yang saya rasakan ketika bela belain nonton Master Chef di salah stu TV swasta, lagi lagi saya tidak mengerti, tidak pernah mencicipi, tapi saya suka dramanya, bahkan saya rela nebeng di kostan teman cuma untuk nonton Marinka kontes masak memasak tersebut. Pendeknya, film ini seperti sebuah sajian dengan bahan yang lengkap dan menjanjikan, tapi di masak dengan proses yang kurang sempurna,

Tapi, untunglah penghujung film, kita disajikan sebuah dessert, penutup yang cukup manis  : ketika Sky akhirnya memberikan masakan pamungkasnya,semangkok mie, bukan pada juri,  tapi pada ayahnya sang dewa masak.

Dan sesuai judulnya, Cook Up a Storm yang artinya memasak dengan sepenuh hati, semaksimal kemampuan, akhirnya membawa Sky pada sebuah pengakuan dari ayahnya

“WELL DONE, SON…”

and that’s (maybe) a spoiler..

 

 

 

 

Cerita BATMAN : NINJA yang hilang ditengah kepulan asap aksi visual.

Batman, sepertinya akan selalu menjadi superhero yang paling menarik, paling tidak buat saya,

simple, karena mungkin, Batman  sangat dekat dengan kita

don’t get me wrong,

Saya tahu, sebagian besar dari kita tidak sekaya Batman, sebagian lain juga tidak segenius beliau, atau bahkan jawara diantara kita pun masih jauh dari kemampuan beladiri manusia kelelawar ini.

Tapi paling tidak, kita selalu diperlihatkan, bahwa dari semua ketidak manusiawiaannya, kita tau kalau Bruce Wayne seorang  millionaire playboy cuma persona yang  ingin diperlihatkan dipublik, seperti yang  kita lakukan lewat instagram dan media sosial milik kita (mungkin), Batman juga seperti kita, baru menanggalkan ‘topeng’  saat bersama orang yang kita cintai dan percaya, dalam kasus Batman, tentunya Alfred, dan topeng yang dilepas Batman sering kali bukan cuma topeng batman yang terlihat secara fisik. Berapa kali kita melihat rapuhnya om Bruce  di depan Butlernya ini?

Dan yang terakhir Batman sendiri, siapa yang tidak punya kehidupan rahasia atau sisi gelap?

dan masih seperti Batman:  mungkinkah bagian paling rahasia ini justru adalah siapa yang sebenarnya? entahlah.

Hal-hal manusiawi inilah yang sering digali, dan dimainkan dan menjadi cerita yang sepertinya tidak pernah habis untuk sang cape crusader ini.

Bagaimana dengan Batman : Ninja. Cerita dan konflik apa yang akan dibawa?

**

Batman_Ninja_poster_01

Sebuah eksperimen dari Grodd si Gorilla membuat para penjahat utama Gotham dan bat-family terlempar ke zaman feudal Jepang , sementara Batman sendiri sampai disana dalam hitungan telat dua tahun, dimana  Penguin, Two face, Poison Ivy dan Deathstroke sudah menjadi para daimyo  (lord)  di Jepang, sementara di puncak kasta tertinggi : siapa lagi kalau bukan Sang Joker (dan Harleyquin) ?

Begitulah, cuma Bane yang kebagian menjadi stereotip tertebak: pesumo.

Maka Batman harus berjuang untuk kembali ke zamannya sekaligus menyelamatkan Jepang ditemani  Catwoman, Alfred, Robin, Red Robin, Nightwing, Bahwan Red Hood. mengambil tampilan ala feudal japan,  ( Favorit saya adalah Red Hood yang mengambil bentuk budhist monk dengan penutup kepala). Selain mereka,  Batman juga dibantu oleh Aeon dari klan ninja pemuja Batman yang memegang teguh ramalan bahwa seorang ninja bertopeng kelelawar akan menjadi penyelamat jepang.

Ya, Walau ninja bukan element yang baru dalam kehidupan Batman, tapi dengan mengambil setting zaman feudal, hal ini tetap memberikan kesegaran dan antusiasme baru. Dan bukan cuma itu, apalah artinya sudah di Jepang kalau kita tidak mengunakan…. MECHA ?  lengkap dengan rudal dan teknologi yang melewati zamannya.bahkan mereka juga bisa bergabung menjadi robot superbesar diiringi soundtrack nan super keren!!

GATTAI GATTAI GATTAI

Sementara jagoan kita hadir dengan teknologi ninja  ( dan samurai ) ‘apa adanya’ lengkap dengan kuda-kuda mereka..

**

Seperti yang sudah ditulis diatas, awalnya, saya mengharapkan film yang saya tunggu bahkan melebihi Infinity Wars ini, memberikan jalan cerita yang sedikit berisi dan dalam, kalau bukan penggalian emosi, atau ada misteri, mungkin  sedikit pelintiran sejarah Jepang, namun ternyata, film ini lebih memilih memanjakan mata kita lewat redesign karakter, aksi dan visual, dengan anime style yang TJAKEP LUAR BIASA dan beberapa menit menyadur lukisan ala jepang yang pcyhedelic. Bahkan pertarungan pedang antara Sang Batman dan Joker Nobunaga di atap kastil yang terbakar jauh lebih menarik dibanding tipu muslihat Joker yang terkesan cuma selewat.

Jadi, bisa dikatakan, saya agak kecewa dengan film ini, karena saya terlanjur punya ekspektasi yang tinggi.

Namun,tentunya, sebagai penyuka Batman, jejepangan, termasuk anime dan mecha, tentunya ada bagian diri pribadi saya yang bersorak kegirangan saat menonton film ini.

GATTAI GATTAI GATTAI !!!

Saya Menyukai Aroma Mistis Yang Menyelubungi Aroma Karsa

Dari dulu, saya selalu tertarik dengan dunia selain dunia kita, manusia. Misalnya tentang makhluk cerdas dari luar angkasa  yang bisa dijelaskan secara (fiksi) ilmiah,  atau keberadaan mereka yang tak kasat mata yang masih diperdebatkan. Tapi kalau seandainya ditanya, saya mau diculik yang mana, saya akan memilih yang pertama.

Berangkat dari kecintaan  itulah kenapa saya selalu suka buku-bukunya Dee, terutama serial Supernova, yang mengangkat dunia yang saya tuliskan tadi (  juga tentang mimpi, jamur,  dan hal-hal lain diantaranya ). Setelah berakhirnya IEP, saya berpikir, saya tidak akan lagi menikmati sesuatu yang demikian, Sampai Ibu Suri menciptakan sesuatu yang baru :  AROMA KARSA.

Walaupun Awalnya saya tidak begitu yakin, akankah saya menyukai buku ini?  karena buku ini mengambil jalan yang sedikit berbeda:  penciuman, parfum dan dunia disekitarnya, yang notabene bukan daerah yang menarik minat saya. Tapi ternyata, Aroma Karsa lebih dari sekedar cerita tukang parfum dan cinta.

Seperti buku-buku Dee lainnya, ini juga soal pencarian…

***

105403_f

Aroma Karsa,  sejatinya adalah cerita tentang Jati Wesi dan Tanaya Suma, sepasang anak muda dengan penciuman luar biasa yang dibesarkan di dunia berbeda, Jati dibesarkan di Bantar Gebang, di tengah tumpukan sampah yang membuatnya harus mengambil beberapa pekerjaan untuk bertahan hidup, satu diantaranya dalah peracik parfum di toko parfum aspal, sementara Suma dibersarkan dalam kemewahan oleh ibunya : Raras, pemilik Kemara, perusahaan parfum terbesar di Nusantara, yang punya misi tak kalah besar :  mencari bunga legendaris bernama Puspa Karsa yang nantinya akan berkaitan dengan penciuman dan pencarian Jati dan Suma.

Lebih dari separuh awal novel, adalah perkenalan yang mendalam khas Dewi Lestari tentang tokoh-tokohnya, Tentang ambisiusnya Raras dan misteri yang menyelubunginya, tentang hampir sempurnanya Suma dan sekelumit kisah asmaranya,  dan tentang Jati wesi yang keren, jenius dan sixpack.  Juga tentang tokoh-tokoh lain sepeti Khalid, Anung dan lain-lain yang terlihat minor namun menjadi bagian dari puzzle yang arus dipecahkan oleh Jati, Suma, dan juga pembaca untuk menemukan siapa mereka serta apa dan dimana sebenarnya Puspa Karsa? .

Di bagian  ini sangat terlihat hasil ketajaman riset Dee ( yang bahkan sampai ikut kursus meracik parfum demi novel ini ), sehingga tidak heran beragam istilah dunia wewangian, bisnis parfum dan kosmetik, bentang alam Prancis sebagai kota parfum dunia, sampai bahasa Jawa kuno dan sekelumit mitologinya, benar-benar melebur menjadi sebuah racikan wewangian khusus  a la Dewi lestari yang melenakan pembaca.

Namun buat saya pribadi, aroma favorit saya adalah aroma mistis ketika memasuki sepertiga akhir buku. Ketika benih-benih kecil informasi  yang ditanam di awal mulai tumbuh, wangi-wangi mulai semerbak, dan perburuan Puspa Karsa akhirnya benar-benar dilaksanakan. Di titik inilah saya kembali bernostalgia dengan dunia supernova-nya Dee. Saya tersenyum-senyum sendiri, ketika Dee menceritakan dunia astral Gunung Lawu yang terkait dengan sejarah (fiksi) kerajaan Majapahit, yang mau tidak mau membawa saya  kembali kecerita cerita nenek saya, tentang makhluk tak kasat mata yang dikenal dengan bunian, yang punya perkampungan seperti kita manusia, tapi tidak terlihat oleh mata biasa, atau dikenal juga dengan kampung dewa di daerah lain, kampung tak tampak, atau nama-nama lain di tiap daerah di Nusantara yang sepetinya memang memiliki daerah magis seperti ini, dan semuanya memiliki kesamaan : mereka biasanya bermukim di hutan atau gunung. Kurang lebih seperti kaum elf di literatur barat sana, mungkin.

Kembali ke Aroma Karsa, dititik inilah para tokoh : Raras, Jati, Suma juga beberapa tokoh ‘baru’ seperti Lambang, Kapten Jindra dan Iwan, terlibat petualangan seru, penuh misteri dan resiko, yang sayangnya terlalu cepat berakhir. Untunglah, sebagai pengobat,  sang pengarang, memberikan ending yang luar biasa yang memberikan harapan kepada para pembaca (khususnya saya yang protes kenapa bagian pencarian nan seru bin magis ini cuma sepertiga buku? ), kalau ini adalah awal dari semuanya, sesuai judul bab terakhir dari buku ini : GERBANG AWAL.

Maka begitulah, Kalau ada satu aroma lain yang bisa saya endus ketika membaca buku ini maka itu adalah aroma sekuel untuk Aroma Karsa. Semoga ini memang menjadi awal sebuah universe baru, yang tidak kalah keren, magis dan mengguncang nalar seperti Supernova.

 

DILAN, aku belum suka sama kamu saat liat trailer. Untuk film, baca saja

Saya akui saya adalah anggota sekte yang meragukan kemampuan Iqbal untuk berakting sebagai Dilan di film hasil adaptasi karya ayah Pidi Baiq ini. Lagi-lagi alasannya sama, Dilan di kepala saya sama sekali tidak ada Iqbal-Iqbalnya. Saya tidak bisa menjelaskannya secara detail bagaimana sosok Dilan dikepala saya, tapi yang paling mendekati ketika membaca buku dan mendengar Dilan akan di filmkan, adalah  si Adipati Dolken, lawan main Milea di film Teman Tapi Menikah yang akan tayang dalam waktu dekat.

Apalagi setelah melihat trailer.

Gila. delivery dialog Iqbal segini doank nih ? kosong, ga bernyawa.

Adipati Dolken pasti lebih romantis lebih bandel, lebih NdilanI.

Tapi ternyata, di pembukaaan tulisan ini, saya akan langsung saja nyatakan :  trailer bisa saja salah, dan saya juga.

**

Punya harapan tidak terlalu tinggi malah dengan senang hati siap untuk melihat adaptasi film ini gagal, saya pun menonton film ini setelah melewati penantian cukup lama. Hari pertama penayangan, saya ga kebagian tiket , dan di hari saya menonton yang notabene sudah beberapa hari kemudilan, hampir juga bernasib sama , kalau seseorang mbak-mbak tidak menjual tiketnya kepada saya karena dia ada keperluan mendadak.

Sungguh Iqbal, kamu dan fans kamu memang luar biasa.

**

Dibuka dengan narasi oleh Milea dewasa, yang berarti cukup setia pada buku pertamanya yang bertutur dari sudut pandang Milea, Film ini dilanjutkan dengan adegan pembuka seperti  di trailer dimana Milea pertama kali bertemu dengan Dilan sang peramai. Kemudian cerita mengalir seperti yang ada dibuku. Beberapa momen lucu pun bisa dihadirkan dengan manis : hadiah buku teka-teki silang, tukang pijit, berantem dan seterusnya.

Saya tidak akan banyak membahas cerita, karena sekali lagi, menurut saya film ini cukup setia kepada sumber aslinya. Kalau ada yang bilang, ceritanya terasa hampa, begitu saja, kurang meledak,dan sejenisnya, maka  saya akan membelanya dengan mengatakan : setahu saya, sumber aslinya memang demikian. ini cuma soal Dilan dan Milea dan pahit manis keduanya.

Jadi apa kabar dengan mereka?

**

Vanesha layak mendapat acungan jempol untuk , dia benar benar bisa memainkan milea, cewek pindahan yang tiba tiba ditaksir seorang jagoan sekolah dan panglima geng motor, yang  artinya menambah deretan cowok-cowok yang naksir padanya. Cewek ini buat saya hampir berhasil memerankan semua part Milea :  marah ke Beni, kesal kepada Dilan, manja sama Bunda.dan berbagai macam keimutan lainnya,

Dia adalah Mileaku.

Sementara itu, sebagai Dilan yang manis dan lucu, Iqbal sukses memainkan keduanya, kecuali pas ketawa, mungkin. Kembali ke masalah yang saya bahas di awal, ternyata trailer sengaja atau tidak, menampilkan momen-momen terlemah delivery Iqbal, sementara di filmnya cukup banyak momen-momen dimana mantan personil CJR ini berhasil mendeliver dialognya dengan manis, dan berhasil menajdi Dilan yang ya… bikin klepek-klepek wanita dan bikin iri kaum lelaki yang tiba-tiba merasa bodoh, kenapa dulu tidak secanggih ini ya ngegombalnya?

Misalnya saja ketika mereka berbalasan gombalan di motor, tektok yang manis dan luar biasa, chemistry hebat antara keduanya. so natural. Terlabih lagi, pihak berwenang beberapa kali sengaja menangkap momen-momen senyum manis menjengkelkan si Iqbal ini.

Kalau ada satu hal yang belum didapatkan Iqbal adalah, mungkin sisi badboynya Dilan, mungkin memang karena wajahnya yang terlalu manis, senasib dengan warung bi Eem yang buat saya teralu instagramable untuk tongkrongan makhluk belakang sekolah. Atau memang aslinya begitu?

Tapi satu hal, buat saya, walau dia tidak terlihat bad boy dan jaket jeansnya terlalu bersih, Iqbal mendapat kharisma seorang Dilan sebagai pembaca Dilan, saya mengakui itu. Bagaimana ya menggambarkannya, pokoknya waktu nonton, di beberapa titik saya sempat berpikir, membayangkan Adipati Dolken yang berakting disana. Tapi tidak bisa, ada yang kurang pas, disana memang tempatnya Iqbal. Dolken mungkin lebih bad boy, tapi ada magis yang cuma bisa dikeluarkan oleh cowok yang sedang kuliah di Amerika ini.

Begitulah, akhir kata saya tidak mengatakan Iqbal berhasil muncul sebagai Dilan di kepala saya, tapi disana, di layar bioskop, Iqbal berhasil menjadi Dilan yang smooth dan natural.

Tingkatkan prestasimu di 1991 anak muda !

Sementara  buat filmnya sendiri, secara keseluruhan, Dilan 1990 tidak semenggelikan  apa yang kita  takutkan wahai para pembenci trailernya, namun sayangnya juga tidak sebagus yang diharapkan para pembaca tua yang mungkin mengharapkan film ini menjadi AADC generasi ini.  Apapun itu,  satu hal yang pasti, di 7 hari penayangan saja , film ini sudah di angka dua juta sekian penonton. Maka mungkin saja, Dilan 1990 akan jadi film terlaris tahun ini.

Berat, tapi kita tunggu saja.

 

kurang dari 24 JAM BERSAMA GASPAR : BUKAN CERITA DETEKTIF

Sebagai penggemar detektif, pertama kali melihat novel  24 JAM BERSAMA GASPAR, saya langsung gatal ingin memiliknya, bagaimana tidak, dengan sub judul SEBUAH CERITA DETEKTIF, tentulah ini semacam keharusan, namun sebagai orang kere yang punya pekerjaan sama dengan tokoh utama di buku ini, maka saya menahan diri untuk tidak membelinya dulu, sampai, pada suatu hari junior yang juga seorang suhu saya,di instagram menawarkan buku buku bekas bacaanya, maka jadilah saya membelinya, dengan harga yang kurang lebih sama, bedanya,  kali saya dapat dua buku.

Dan setelah membaca kurang dari 24 jam, percayalah, walau buku ini keren, ini bukan cerita detektif.

***

gaspar-depan

“Semua orang terlahir untuk menjadi keparat dan siapa pun yang berkata sebaliknya pastilah delusional atau, kalau tidak, ya pendusta kelas berat.” (hlm. 170)

Seperti yang tertera di bagian belakang, novel ini bercerita tentang rencana seorang lelaki 35 tahun bernama Gaspar yang dalam 24 jam kedepan berencana  untuk merampok toko emas Wan Ali demi sebuah kotak hitam yang misterius. sepanjang jalannya waktu tersebut  kita akan diberikan cerita dan mitologi tentang kotak hitam misterius terebut, seiring itu juga kita akan bertemu tokoh tokoh menarik yang akan meramaikan perjalnanan Gaspar, sang tokoh utama  dalam tindak kejahatan ini : ada Cortazar,motornya yang dirasuki jin citah, Nik, mantannya Gaspar, yang lagi hamil anaknya gaspar, tapi mau menikah dengan Jet, sohib selaigus mekanik buat Cortazar. Selanjutnya ada Afif atau Agnes, cewek yang dikenali di diskusi film Fight Club, ada Yadi atau Pongo, orang dalam pekerja toko mas Wan Ali, dan ibu-ibu yang mencari suaminya, serta ada Budi alozon, rocker legendaris yang memakai topeng pegulat.

Bersamaan dengan hitung mundur, kita akan terlibat dengan masalah masing masing karakter, ada yang berat dan rumit, ada yang selewat dan cuma sedikit. yang membuat kita akan berpikir dan percaya  kalau tidak ada yang kebetulan di dunia ini, dan kita kita semua terhubung in a way, Selain plot cerita utama ‘rencana’ perampokan toko emas oleh Gaspar, kita juga akan dihibur  oleh babak interogasi antara seorang lulusan terbaik akademi kepolisian dan seorang saksi nyinyir tentang kematian seorang anak.

Tapi percayalah, walau sempat meragukan  Holmes dan Poirot , ini bukan cerita detektif.

**

Gaya penulisn novel ini  seakan terkesal asal dan slengean, namun terkadang  lucu, dan di beberapa titik filosofis dan kritis, inilah yang membuat novel ini tidak monoton dan efeknya, susah untuk ditinggalkan. Dengan magis dari Sabda Armanio sang penulis yang kaya referensi baik dari film, musik atau bacaan, kita akan percaya saja pada semua mitologi yang  diceritakan oleh Gaspar. Begini,  kalau anda jenis manusia  yang percaya dan suka kalau laksamana Noah  akan bertarung melawan zombie yang muncul dari bekas banjir besar, maka hal hal lainnya di novel ini  juga akan membuat anda jatuh cinta.

Terakhir, tidak perlu menjadi seorang detektif atau mencintai cerita detektif untuk menyukai buku ini, buku ini ringan dan sama sekali tidak berbelit-belit. Ikuti saja alurnya, biarkan dialog dialognya mengalir di tubuh anda. Lalu,tersenyumlah mengkerutlah, dan tertawalah, dan  kurang dari 24 jam, anda akan langsung terlibat dan jatuh cinta pada seorang Gaspar yang walau ini bukan cerita detektif, konon adalah seorang detektif.

GERBANG NERAKA yang tidak begitu panas.

Rasanya sudah cukup lama saya tidak menulis  ‘review’ film disini,  dan berhubung saya sudah menunggu film  ini semenjak  kemunculan trailernya di 2016, sat masih memasang FIRE GATE sebagai judulnya, maka saya akan merayakan kembalinya review-review-an film di blog ini, dengan mereview film satu ini

Masih ingat, penemuan situs piramida gunung padang di Jawa Barat yang digadang gadangkan sebagai  piramida tertua di dunia

Nah , cerita filmsatu  ini memang berangkat dari sana, dan di film ini pun kalimat senada di ulang  beberapa kali :

“Piramida Gunung Padang adalah piramida tertua dunia, yang artinya ini akan mengubah sejarah manusia

okay, we got it.

Dan  dari trailernya, kita sudah tahu lebih banyak dari yang kita butuh, kalau ini lebih dari sekedar penemuan sebuah piramida, karena tempat ini ternyata adalah penjara dari kekuatan kuno yang akan menhancurkan dunia, tempat ini adalah..

GERBANG NERAKA

**

GERBANG NERAKA

Setelah  kuliah tentang  Gold ( kekayaan),  Gospel ( penyebaran agama/ilmu pegetahuan) dan glory (kejayaan) dari  professor  Ray Sahetapi yang merupakan pemimpin Ekskavasi piramida ini, kita pun perlahan diantar menuju tiga karakter kunci :  Tomo ( Reza Rahadian) , seorang wartawan majalah ghoib yang justru skeptis terhadap hal hal seperti ini , sekaligus mantan  wartawan majalah politik yang sudah membuang idealisme untuk makan keluarga, kemudian ada Arni, ( Julie Estelle) yang merupakan  tangan kanan dari professor Ray sahetapy. Terakhir, ada Guntur Samudra,( Dwi Sasono ) seorang paranormal, dukun selebritis,

Nasib ketiganya bertemu di situs ekskavasi, dan yang berikut ini bukan spoiler, karena di trailer pun sudah di bocorkan kalau ketiganya adalah semacam perwujudan dari Gold Gospel  dan Glory, sekaligus tiga orang yang konon diutus Tuhan untuk menutup gerbang neraka ini.

**

Film ini berjalan cukup lambat, jadi buat yang pengen aksi atau petualangan menegangkan dari awal, atau paling tidak tegah, mungkin akan terasa menjemukan, Sementara pencinta horror sejati akan sedikit dimanjakan dengan beberapa penampakan dan jump scare yangterbilang  lumayan.  Film ini mencoba membangun setup yang kuat dan tidak terburu-buru, walau dengan waktu sebanyak itu, setupnya masih saja terasa kurang, masih banyak yang terasa terbuang. misalnya kita bisa melihat Tomo punya cerita dibalik pilihan pilihanya, tapi bagaimana dengan Arni dan Samudra ?

Tomo, yang walau tetap bisa diperankan dengan apik oleh Reza sayangnya  menjadi karakter yang kurang ‘kuat , padahal dia adalah sentral dari cerita, Oke, dia wartawan yang sudah tidak percaya dengan idealisme, skeptis dengan hal hal gaib, doa dan tuhan, then what?  Dia seperti ikut ke cerita cuma karena tuntunan naskah  untuk seorang reza Rahadian,ketika film ini butuh  seorang alpha male untuk menjadi sentral cerita, Dan  beberapa line dialog  juga terdengar  “ah, sayang sekali keluar dari mulut Reza”, walau, di akhir terbayar dengan  dialog teologis-filosofis nya dengan Lukman Sardi yang mungkin merupakan  salah satu bagian keren, atau mungkin terkeren dalam film ini. Julie Estelle, arkeolog cantik pemimpin eskavasi setelah mentornya meninggal , juga kurang meyakinkan, lagi lagi  buat saya ini bukan masalah akting  julienya, tapi  ini masalah Arni Kumalasarinya,  yang artinya, ini masalah penulisan, ini masalah riset !  Sementara Mas Adi sebagai Guntur Samudra  mungkin tokoh paling  meyakinkan disini, cara dia berbicara, bergerak, membuat kita yakin dia seorang yang sakti,  sayangnya lagi, Mas Guntur  tidak mendapat banyak porsi menarik ,bahkan di bagian gelut dengan  Badurah, sang jin. Dan chemistry ketiganya pun, masih terbilang lemah.

Begitulah, tidak semua ide luar biasa  bisa diekssekusi dengan luar biasa.

Apalagi ketika ada banyak hal yang di hadirkan di dalamnya : kompilasi horror drama dan adventure, pertentangan science dan klenik, idealisme dan uang, dan hal hal lain yang membuat semuanya tidak terjawab dengan sempurna. Bukan tidak bisa, tapi mungkin, penulisan yang lebih baik dan riset yang lebih mendalam bisa menjadi jawabannya,

Yang pasti, saya sebagai penggemar fantasi, fiksi ilmiah dan supranatural  harus angkat topi untuk keberanian mas Rizal Mantovani menghadirkan film ini, sebuah film yang seperti oase ditengah gurun film horror repetisi atau komedi yang jokenya begitu begitu saja. Gerbang Neraka, jelas dibuat dengan serius, dilihat dari jajaran cast yang tidak main main dan CGI yang buat saya , sudah berada di level lumayan. Lebih jauh, Firegate atau Gerbang Neraka ini juga membuktikan kalau mas Rizal masih belum kehilangan sentuhan magis jailangkungnya. Mudah mudahan kedepannya, mas Rizal, dan juga sineas lain, mampu mengeksplor lebih genre ini. Terbukti lewat Pintu Neraka,  kita bisa, cuma masih belum sempurna.

Terakhir, membahas Glory, Gospel dan Gold yang cukup sering di sebutkan di film ini, maka sesuai dengan apa yang terjadi di filmnya, maka ramalan saya mengatakan, kalau yang tersisa untuk film ini pun cuma  gospel : sebuah pengetahuan, kalau Indonesia pun bisa bikin film seperti ini, sebuah pengetahuan kalau Indonesia juga punya piramida dan situs purbakala yang cukup mengguncang dunia. Sementara Glory dan Gold…. silahkan tonton sendiri!

 

Bentang

Ceritanya, lagi-lagi, saya sedang mencoba mengisi sebuah posisi di sebuah penerbit  yang kali ini mengharuskan saya untuk melampirkan ulasan buku  dari penerbit tersebut. Singkat cerita, saya baru sadar kalau saya sudah membaca beberapa buku dari penerbit ini, namun ‘lupa’ menuliskan ulasannya.

so, here we go

Saya menulis lagi tiga buah ulasan buku dari serial SUPERNOVA, tulisan Ibu Suri, Dewi Lestari

**

PARTIKEL

Sejatinya, buku ini tidak seberat Ksatria Putri Dan Bintang Jatuh, tidak seserius Akar, namun juga tidak seringan dan seceria Petir.

Menurut saya pribadi, dibanding tiga buku sebelumnya, PARTIKEL merupakan buku yang sangat  memperlihatkan ( baca :  memamerkan ) kejeniusan Dee dalam riset, yang sayangnya sekaligus menjadi ‘kelemahan’ buku ini, dimana banyaknya hasil riset dan studi yang dipaparkan membuat buku ini menjadi semacam  kumpulan artikel tentang alien yang sudah tersebar di banyak artikel internet:  para penggemar teori konspirasi pasti sudah khatam dengan tiga ras alien paling terkenal yang ada di novel ini.

Namun, PARTIKEL tidak cuma bercerita tentang alien dan makhluk langit,

Novel ini sebenarnya sangat membumi. Secara tidak langsung, novel ini mengajak kita untuk lebih peduli kepada bumi, makhluknya, dan segala isinya :  mulai dari jamur sampai orang hutan. Dan tidak bisa tidak, kita pasti akan jatuh cinta dengan ZARAH,sebagai partikel utama buku ini, juga FIRAS sang ayah, walau kejeniusannya diluar akal manusia.

Dan, Diantara semua seri supernova, ini boleh dikatakan PARTIKEL adalah seri favorite saya.

Kenapa? simple :  karena ada Alien-Aliennya.

Saya dari dulu suka bermimpin diculik atau paling tidak bisa bekomunikasi dengan alien jelas langsung jatuh cinta pada buku ini, walaupun ada bagian bumbu sinetron dalam bentuk cinta dan pengkhianatan yang sedikit tatatanan yang sudah di bangun untuk Zahra khususnya, dan buku ini pada umumnya.

GELOMBANG

Akar, saya selesaikan sebagai teman perjalanan panjang di sebuah bis, Petir saya selesaikan cuma beberapa jam di sebuah taman bacaan, sementara partikel, saya selesaikan kurang dari satu malam di kontrakan seorang teman.

Walau di tempat berbeda, ketiganya punya rasa yang sama, rasa  yang sama ketika menyelesaikannya.

Namun tidak dengan Gelombang….

**

Gelombang., menceritakan tentang Ichon, nama kecil dari Thomas Al(F)a Edison,sang tokoh utama  atau yang kemudian kita kenal dengan Alfa, yang ektika sebuah upacara di kampungnya, membawanya berkenalan dengan mahluk bernama Jaga Portibi, sebuah manifestasi malaikat dari mitologi batak tua, yang kemudian membawanya menjadi rebutan dari dua datuk  ( dukun) di kampungnya….

Waktu berlalu, kemudian tokoh kita pindah ke Jakarta,hanya singgah, karena kemudian Alfa harus segera betolak   ke Negara yang menjadi setting utama cerita ini : Amerika

Disinilah, Alfa memperlihatkan kejeniusannya yang mungkin mirip dengan cerita laskar pelangi yang padahal belum saya baca sampai sekarang .  Anak rantau biasa di negeri orang, jenius, masuk universitas ternama dengan beasiswa full, dan kemudian bekerja sebagai pialang di wall street.

Ada lagi? yup, dia jago main gitar dan cakep.

Okay, masalahnya bukan cuma sentiment pribadi saya terhadap cerita macam ini saja, tapi lebih karena tokoh kita kali ini tidak di ceritakan sepadat  yang di  alami  akar bodi, Elektra di Petir dan Zarah di Partikel, di sebelumnya kita bisa lebih  menyelami , memahami, dan merasa ikut larut dalam kisah tokohnya, tapi disini, entah kenapa saya seakan berada di luar, dan cuma disodori kejeniusan dan kemampuan Alfa, sekaligus kejeniusan riset  seorang Dee.

Di buku ini juga, banyak hal yang tidak ( atau  belum ) terlalu signifikan keberadaannya, keberadaan jaga portibi, fungsi dari mimpi, dan tokoh-tokoh yang kalau tidak adapun tidak apa-apa, berbeda dengan Bong di Akar atau Mpret di Petir.

Namun dari semuanya saya curiga, Ibu suri  sengaja  tidak membuka keseluruhan tentang Alfa di buku ini, karena kalau kita membandingkanya dengan seri sebelumnya buku ini lebih banyak membuka soal supernova yang di tiga seri sebelumnya cuma muncul di awal dan di akhir buku. Di buku ini dibukakan jelas kalau masih ada dua batu lainnya, di buku ini juga dibukakan kalau bintang jatuh bukan bagian dari klan mereka. Di GELOMBANG juga  dihadirkan kembali Ishtar,tokoh penting yang pernah hadir di Akar, yang sepertinya menjadi bagian penting dari mereka yang  mengalami Amnesia ini. jadi, mungkin buku ini seperti sebuah pengantar untuk menutup kisah besar ini, yang artinya mungkin semua ketidak jelasan, kekosongan di buku ini adalah untuk disimpan di seri berikutnya ;  Intelegensi Embun Pagi.

mudah-mudahan.

Karena kalau tidak, bagi saya pribadi gelombang akan menjadi rangkaian terlemah dari serial Supernova, sebuah buku dimana ketika menyelesaikannya, saya tidak merasakan sebuah orgasme otak tak bernama  yang sama ketika saya menyelesaikan serial Supernova lainnya.

INTELEGENSI EMBUN PAGI

Mungkin saya seorang peretas yang mengalami  amnesia.

Serius, saya baru sadar  kalau ternyata saya belum ( baca : tidak) mengulas buku pamungkas seri Supernova ini, padahal  pada masanya,buku ini adalah buku yang paling saya tunggu.

wajar, pembaca Supernova mana sih yang tidak menunggu, pertemuan para peretas di seri ‘terakhir’  ini?

INTELEGENSI EMBUN PAGI, berhasil menjalankan tugasnya secara paripurna : memberi penjelasan dan menjawab ( hampir )  semua pertanyaan yang terbentang dari Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh sampai Gelombang.

Walau beberapa diantaranya muncul terkesan dipaksakan dan disajikan dengan instant, Misalnya chemistry antara dua tokoh utama yang terlalu cepat padahal sebelumnya kita tau masing-masingnya (* atau paling tidak salah satunya) punya cerita yang dibangun sedemikian rupa di buku-buku sebelumnya, atau tentang ‘evolusi’ status salah satu tokoh menjadi lebih penting dengan penjelasan yang terkesan baru sengaja dihadirkan di buku ini sebagai sebuah ‘pembenaran’. Twist? Buat saya tidaklah demikian.

Walau, harus diakui, memang ada beberapa twist yang patut diacungi jempol, misal tokoh yang dianggap sebagai infiltran ternyata savara, tapi itu punya penjelasan yang berterima.

Terakhir, mungkin buat beberapa orang, ending buku ini sedikit mengecewakan, dari yang semua berat-philosophical berubah menjadi lebih ‘biasa’ dan ringan. Walau memang, Dee sendiri  masih memberi garis yang lumayan kabur antara hitam dan putih, bahwa kedua kubu:  savara dan infiltran punya maksud yang baik  untuk para peretas,  pada akhirnya intelegensi embun pagi tetap menjadi pertarungan baik dan jahat.

hati-hati ekspektasi

Sementara, bagi saya, semenjak membaca supernova, khususnya ketika mengakhiri Akar dan Petir, saya sudah membayangkan ( baca : mengharapkan) kalau endingnya akan menjadi seperti ini : pertarungan layaknya avatar dengan berbagai kanuragannya  demi menyelamarkan dunia.

**

Epilog : sama seperti intelegensi Embun Pagi yang bukan hanya sebuah akhir, tapi menjadi awal dari sesuatu yang lain, maka mudah-mudahan berakhirnya ulasan ini bisa menjadi awal yang baik untuk saya di Bentang Pustaka.

Amin.

Balado Si Ray

Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, saya sebenarnya berniat menyelesaikan koleksi di meja Boss saya ini ketika saya masih berstatus orang kantoran, tapi karena ada satu buku yang absen, maka saya gagal menyelesaikannya. Barulah ketika editor saya : Nenek Oni, menghibahkan boxset ini, saya yang sekarang berstatus pengangguran terselubung ini punya kesempatan untuk menyelesaikan balada keren ini.

Ada beberapa alasan kenapa buku ini berpindah ke tangan saya, pertama, karena Oni tidak suka ( atau mungkin sudah masuk ke fase benci?  😀 ) pada karakter Roy ini, mungkin bisa dilihat dari reviewnya di sini, atau bisa juga karena Oni yang penggila fantasi tidak mau buku ini ‘menodai’ koleksi fantasinya, ( padahal buku ini juga fantasi  : fantasi para pria :D) . dan terakhir, mungkin Roy ini sedikit banyak mengingatkan Oni kepada saya…

img-20160309-wa0018

HA HA HA

**

20161202_000555

BALADA SI ROY,  karangan Gol A Gong ( sudah di kembalian dengan ‘A’ terpisah, setelah sebelumnya disambung dalam wujud Gola Gong )  ini sebenarnya merupakan kumpulan cerita  dari majalah HAI yang dalam kemunculan awalnya diterbitkan dalam wujud sepuluh buku, tapi belakangan, dicetak ulang kemudian menjadi lima buku dengan ukuran yang tentunya  lebih tebal,sementaa dalam boxsetnya juga dilengkapi dengan buku naskah filmnya yang tidak ( baca : belum ) terwujud, Covernya keren, sayangnya sinopsis dari lima buku tetap menggunakan kisah yang sama dari buku pertama.

Buku ini, seperti halnya fiksi remaja lainnya, berisi hal-hal penting dalam kehidupan remaja : petualangan, keluarga, persahabatan  dan tentu saja, cinta wanita

Sepanjang buku kita disajikan petualangan Roy ke pelosok Indonesia, menikmati kerasnya jalanan sekaligus indahnya pemandangan dan kehidupan berbagai daerah, sembari Roy menuliskan catatan  tersebut untuk di kirimkan ke HAI, menerima honor dan menggunakannya lagi untuk perjalanan berikutnya.Ada banyak alasan kenapa Roy memilih untuk advonturir/ journey/ traveling, selain untuk mencari inspirasi, dan mengerti makna hidup, salah satu alasannya yang lain adalah mewarisi semangat almarhum papanya.

Sepeninggal papanya yang mengakhiri petualangannya ketika membuka rute baru di  di gunung tertinggi di indonesia, Roy cuma tinggal dengan mamanya, ditambah seekor anjing herder bernama Joe, yang nantinya juga menjadi salah satu penyebab perjalanan Roy. Selain itu seperti  halnya remaja lainnya,  Roy, punya banyak teman dan sahabat, mulai dari RAT (Roy Andi Toni), geng pertama Roy ketika pertama kali pindah ke Banten, yang berujung tragis.  Borsalino, gengnya Dulah, yang awalnya  menjadi lawan akhirnya kawan, juga SPIDER kawan-kawan Roy di Bandung,  juga kawan kawan sesama traveler dari manca Negara dan orang orang yang ditemuinya di tiap kota perjalanannya.  Perkelahian, silang pendapat, kemalangan, kehilangan semuanya mendapat tempat dan menjadi catatan dan pelajaran berharga untuk Roy. Dari kesemuanya, yang paling menarik dari 5 buku/ sepuluh kisah ini  buat saya pribadi adalah ketika Roy si bandel keren menemukan saingannya : sang pengembara, yang merepotkannya ketika kehilangan belahan jiwanya  : blue ransel-nya . Si pengembara bahkan  mampu membuat sebuah orchestra yang melibatkan banyak orang untuk mempermainkan Roy. Sayangnya tokoh menarik ini tidak pernah hadir lagi sampai di buku terakhir,

Terakhir, kurang lengkap membahas si bandel ini, kalau tidak menyertakan para wanita yang berada di sekelilingnya, di tiap kota dan tiap perjalanannya. ada banyak sekali wanita yang singgah di hidup Roy  ( bahkan saya malas menuliskannya satu persatu saking banyaknya .:D)

“Kamu seperti  koboi Amerika saja Roy, meninggalkan  wanita di tiap kota yang kamu lalui”

Namun, dari sekian  banyak wanita, menurut saya cuma ada beberapa yang tergolong penting dalam kisah Roy :

  1. Ani , si dewi venus, cewek pertama di buku pertama Roy, yang kemudian menjadi penghuni sinopsis sampai buku ke 5, entah apa alasannya, padahal sudah ada entah berapa wanita lagi setelah Ani, tapi mungkin Dewi Venus adalah salah satu yang beruntung mendapatkan perhatian lebih dari si nakal, tidak cuma singgah, karena walaupun Ani sudah menikah, Roy masih kembali mengajaknya bertemu, di toko kaset saat itu. Manis.
  2. Si manis, Suci, yang awalnya kenal dari wanita Roy yang lain : Jesse si keren. Suci juga yang membuat Ray hampir saja mengakui adanya cinta, bagaimana dia ‘cemburu’ melihat suci bersama cowo lain, juga menjadi pemilik kisah terpanjang bersama Roy, baik lewat surat-suratnya selama Roy traveling atau pertemuan mereka kembali.
  3. Mima, si cewek berbibir merah delima. Cewe ini dimana koboi kita merasa ditampar, ketika ‘korban- korban’ Roy lainnya cuma bisa menerima kepergian Roy tanpa terikat apa-apa, Mima, tidak. Mima memaki Roy di tengah hujan, dan tidak memberi kesempatan Roy untuk melakukan pidato pembelaannya.
  4. Ina, si gadis jerman, yang mengisi perjalanan Roy selama di India, menelusuri Gangga, menikmati indahnya taj-mahal, menonton konser, sampai menghabiskan malam berdua,
  5. Aisyah,seorang pemilik perusahan besar di makasar, di kenal Roy di atas kapal menuju Ambon, mamah muda ini masuk list karena ini adalah favorit pribadi si Ray, bukan si Roy.

“entahlah, apa yang sebenarnya ada di benak si Roy tentang wanita. Kadang kala sebuah episode sudah direncakan dan dia sekaligus memerankan pemain utamanya. Itu memang betul. Pernah suatu kali seorang kawan wanitanya protes “kalau nyari inspirasi jangan nyusahin orang dong, Roy!”

(125,solidarnos)

Lalu Kepada siapakah hati Roy berlabuh? mampukah Roy bertahan dengan kepercayannya tersebut?

Selamat membaca !

**

box-set-balada-si-roy.jpg
ngambil dari greeny-onie.blogspot.com

“ Roy cuma traveling Ma. Melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain. Gunungnya adalah kota, hewan-hewannya adalah manusia” ( 55. Traveler)

Seperti Roy yang pada akhirnya memilih meninggalkan kuliah sastranya di Bandung, dan kemudian traveling ke manca negara untuk belajar di ‘universitas kehidupan’. Pada akhirnya, Balada si Roy ini seakan seperti sebuah kehidupan sendiri di tiap lembarnya. Ceritanya terus maju, masalah  datang, namun tidak berlarut, satu, dua judul, kemudian selesai. Tidak ada musuh abadi,kalau kita mau melapangkan hati. Kesedihan akan berganti kebahagian, demikian sebaliknya, dan seperti kehidupan pula, tiap halaman dan ceritanya memberi kita pelajaran : tentang bersyukur, berbagi, memberi, tentang menghargai orang lain, dan diri sendiri, tentang keluarga, tentang cinta, dan tentang mimpi.

 **

Sedikit tambahan, ada sebuah hal menarik lain yang dituliskan Gol A Gong, lewat Roy :

“Ini jelas surprise, segalanya di luar batas kesadarannya, dia menyadari ini  sebab akibat. bukankah kalau  rajin belajar kita akan pintar? menyirami tanaman berarti akan memetik buah-buahan? nah si Roy sudah bekerja keras dan berjuang untuk menjadi seorang pengarang dan hasilnya mulai nampak sekarang. walaupun sedikit. ya, memang masih belum apa apa. masih seujung kuku/ belum bisa menularkan trend permen karet dan rambut gondrong model John Taylor” ( Bad Days 186)

Dari tokoh-tokoh keren yang hadir di generasi 80-90 an, memang, si rambut sarang burung berpermen karet tetap menjadi favorit saya. tapi yang pasti, saya percaya, bahwa Roy, kala itu sudah mendapat tempat spesial di bagian remaja lain yang mungkin tidak terwakili oleh pemilik vespa kuning,  symbol remaja ceria, konyol,  yang hidup di area aman ini. Roy yang pemberontak dan ‘liar’ dan baik hati, juga mungkin membagi tempatnya di jalan bersama si wartawan jalanan yang juga doyan kebut-kebutan. Sementara di   tempat lain lagi, yang lebih mentereng, remaja kalangan atas, diwakili oleh seorang lelaki sempurna, yang baik hati lagi pintar, dan seterusnya.

Sementara untuk Oni, remaja perempuan berusia lanjut ini, walau tidak di tulis di era tersebut,  lelaki 80-90-annya tetaplah Dilan, seniornya, yang konon cuma bisa dipandangnya dari kejauhan, ketika punggung kokoh itu sudah menjadi milik kakak kelasnya, Milea.

HA HA HA

peace, sekali lagi, tengkyu buat boxset, ( atau bookset sih) yang keren dan menginspirasi ini Nek!

**

Matahari yang ternyata tidak terlalu panas

Kalau di seri sebelumnya : BULAN, ada  perlombaan ala hunger games + binatang raksasa dalam rangka mencari bunga matahari pertama mekar, maka setelahnya, giliran saya bertarung dengan ketidaksabaran menunggu terbitnya MATAHARI Tere Liye ini, apalagi setelah kemudian muncul bocoran cover terbaru yang lebih panas  dan makin menjanjikan, dan syukurlah, beberapa hari setelah ada di toko buku, saya pun bisa membaca novel ini..

.. dengan meminjam di tempat peminjaman buku langganan saya.

sinopsis-novel-matahari-karya-tere-liye
cover cantik nyulik dari google, konon Bulan dan Bumi akan di cetak ulang dengan cover sejenis ini

Seperti seri sebelumnya, bumi yang bersetting di klan bulan, bulan yang mengambil setting di klan matahari, maka matahari ini mengambil setting di klan yang konon punya teknologi paling tinggi di antara 4 klan : klan bintang,  yang ternyata bersembunyi di dalam perut bumi.

kali ini, petualangan trio kebalikan trio Harry Potter ini tidak lagi memakai teleport buku kehidupan nya raib, tapi memakai ILY, kapsul bikinan Ali : masuk perut bumi, melawan ular raksasa dan kelelawar,  bertemu dengan tetua klan bintang, menikmati segala teknologi disana, dan akhirnya, menjadi buronan dan akhirnya, mempersiapkan diri untuk sebuah perang besar di seri berikutnya: BINTANG, yang kemungkinan akan mengambil setting di permukaan bumi dengan musuh bersama yang ‘mendadak’ ternyata ingin menguasai dunia…

 **

Ali, si jenius  dari klan bumi, mendapat porsi yang lebih besar di novel  ini, terutama di bagian pembuka, kita akan diantar dengan Ali mendadak menjadi idola sekolah dengan menjadi pemain andalan tim basket, kemudian kita juga diajak ke rumah tuan muda Ali yang ternyata super duper gede bahkan ada sungai buatan di depannya, serta juga ada basement sendiri untuk bengkel eksperimen Ali , yang tentunya akan membuat kita tidak heran kenapa cowok ini bisa membuat kapsul penjelajah yang mengabungkan teknologi klan bulan dan matahari. Bukan, bukan karena dia kaya dan genius, karena  kalau sekedar kaya dan genius, Ali mungkin cuma jadi Batman. Ali lebih dari itu, diceritakan cowok ini punya akses ke perpustakaan terbesar klan bulan dan mempelajarinya dalam tempo yang sesingkat singkatnya, sesingkat saya membaca buku ini.

oke.

Sebenarnya bukan cuma Ali, dua tokoh kita lain, Raib dan Seli juga punya kekuatan baru di novel ini, Seli sudah mampu mengeluarkan petir biru, upgrade dari petir biasa, Selain itu, Seli punya kekuatan kinetis besar yang mempu membuat putting beliung whatever, terus juga bbisa mengalirkan panas pada benda, dan sebagainya, sementara Raib juga punya kekuatan penyembuh dan kekuatan menghilang level baru karena dia adalah ……. SPOILER,  yang  yang membuat misi mereka menjadi jauh lebih mudah, tapi tetap saja, upgrade skill Raib dan Seli tidak semenarik dan semengagumkan kejeniusan Ali :  sampai-sampai bukan kita saja, para pembaca, tapi juga para tokoh dalam cerita, selalu  terkagum-kagum dengan Ali.

“Kamu mungkin pemalas, tapi kamu genius”

“Aku bisa mengenali orang genius”

“Ali adalah pemikir strategi terbaik di tim kami..”

dan pujian sejenis yang selalu di lontarkan para tokoh…

okay, we got it. he is so fucking genius

bahkan di sinopsis sudah diceritakan, bahwa : jika orangtuanya mengizinkan, dia seharusnya sudah duduk di tingkat akhir program doktor fisika di universitas ternama..

don’t get me wrong, saya pribadi sebenarnya suka tipikal karakter seperti ini : natural born genius, tapi penceritaan Ali, buat saya pribadi, berada di luar kepercayaan saya, semuanya terkesan terlalu gampang buat dia. Begitu juga dengan teknologi klan bintang yang diceritakan di novel matahari ini : bubur yang bisa berubah rasa menjadi makanan apa saja yang kita pikir, dan baju yang mampu merubah menjadi pakaian jenis apa saja….

saya tau klan bintang ini pemilik teknologi paling tinggi, dan sekali lagi, Ali itu super genius

tapi tetap saja menurut saya ini sudah. too much..

meminjam statement  Raib di halaman 256:

“jika kehidupan menjadi sangat mudah dengan pengetahuan, lantas dimana seni nya?”

buat saya, matahari tidak lebih baik dari bumi dan bulan, selain kemudahan-kemudahan yang di dapatkan oleh para karakter, entah kenapa, saya merasa lebih banyak ruang kosong dalam penceritaan, mirip seperti ruangan lorong didalam perut bumi yang mereka jelajahi, namun, untunglah di ujung lorong bernama matahari ini, ada seberkas cahaya harapan dari Bintang yang sepertinya akan menyajikan lebih banyak aksi (yang mudah mudahan lebih baik dari aksi laga di novel ini), sebagai penutup  dari tetralogi ini..

Semoga