Salah Satu Tempat Wisata Bandung Adalah Balai Kota-nya Sendiri ?

Bandung memang kota yang istimewa, karena ada begitu banyak alasan untuk hidup bahagia di kota ini. Selain kuliner yang enak dan beragam, tempat wisata Bandung  juga hadir dalam berbagai pilihan, mulai dari wisata alam seperti Gunung Tangkuban perahu, kawah Putih Ciwidey, atau Tebing Keraton, ( untuk referensi travel lainnya bisa dilihat di sini ), juga dalam wujud wisata belanja berupa mall dan FO, sampai tempat wisata  yang kadang sering terlupakan : taman dengan berbagai tema.

Salah satu taman tematik yang bisa dikunjungi sebagai tempat wisata bandung TAMAN BALAI KOTA yang terdapat di jalan Wastu Kencana, di pusat kota, tidak jauh dari Bandung Indah Plaza. Dengan daerah yang cukup luas, taman ini menjadi area multi fungsi, arena bermain anak lengkap dengan instrument bermain warna warni yang membahagiakan, tempat memanjakan mata dengan hijau pepohonan, tempat latihan berbagai macam kegiatan, tempat pacaran, juga sebagai spot swafoto yang cukup instagramable.

**

Saya tidak tau pasti, tapi berapa banyak sih kota di Indonesia yang bersedia membagi Balai Kota-nya menjadi taman untuk kebahagiaan warganya ?

Salah satu spot menarik dari taman Balai Kota ini  adalah air mancur yang dihiasi patung Badak dan Ikan dimana anak anak bisa bermain air, basah-basahan sepuasnya, selain tentunya sangat cantik untuk dijadikan objek foto.

 

Selain itu di bawah naungan pohon-pohon besar nan rindang, dilengkapi dengan bangku taman,di sini terdapat juga taman bunga dengan variasi warna yang indah,  yang tentunya  menjadi penyejuk mata. Jadi buat kita yang datang ke sini untuk membaca atau sekedar bersantai, ini  sungguh pilihan yang tepat. Apalagi buat pengunjung yang biasanya bergelut dengan bising dan gerahnya peradaban  kota besar.

20181229_145834.jpg

Kunjungan ke taman Balai Kota ini rasanya belum lengkap kalau belum mampir dan mengambil foto di spot yang satu ini : Taman Merpati, tapi lebih sering disebut taman labirin, karena di bawah sebuah pohon besar, yang dikelilingi area hijau ada sebuah labirin kecil. Tidak usah takut, walau bernama labirin, lorong lorong ini sama sekali tidak menyesatkan , lebih susah menelusuri lorong menuju hatinya si dia. Bahkan daripada pusing untuk mencari jalan keluar,  lebih pusing mencari angle foto yang pas untuk foto di sini sih.

 

20181229_151426

Spot foto lain di taman balai kota adalah gembok cinta ala-ala tempat wisata lainnya. Jadi buat yang ingin memproklamirkan cinta dengan pasangan, berharap langgeng, tapi belum ingin dan belum bisa menikah,  maka untuk sementara bisa mengaitkan gembok cinta-nya disini, atau cuma sekedar berfoto dengan tulisan ‘love’ dan berharap mendapatkan love yang sejati , bisa juga. Paling tidak ada satu dua love yang mampir di sosial media.

20181229_152002

Terakhir, taman yang juga dilengkapi kebun binatang mini yang berisi beberapa jenis unggas ini  juga merupakan salah satu pemberhentian BANDROS- bis wisata kece kota Bandung yang hadir dengan warna warna ajaib : beda warna beda rute. Nah, jadi kalau sudah capek bermain di taman, maka anda bisa naik Bandros untuk mengelilingi beberapa tempat di Bandung, cukup dengan 20.000 rupiah saja.

20181229_152342.jpg

Sementara untuk Taman Balai Kotanya sendiri, tidak dipungut bayaran, kecuali untuk berbagai makanan dan minuman dari pedagang kecil yang hadir untuk melengkapi kebahagiaan anda di taman ini. Selain itu, anda tidak usah khawatir dengan kebutuhan kamar kecil dan mushalla,  Taman ini punya kamar kecil dan mushalla yang terjaga kebersihannya

Jadi taman Balai Kota Bandung adalah tempat wisata bandung yang cocok untuk segala usia, baik tua muda maupun anak-anak, juga untuk berbagai macam kebutuhan : sekedar mencari kedamaian, selfi, atau memang sengaja mencari jodoh. Taman ini juga tujuan wisata Bandung yang ramai oleh warga Bandung sendiri tapi juga wisatawan yang datang dari luar kota.

Sekali lagi , bahagia di Bandung sangat mudah. it’s like walking in the park.

 

**

catatan :

tulisan ini diikutsertaan dalam lomba BLOG BUKAREVIEW  kategori travel. Untuk melihat review dan tips travel lain bisa membuka link ini,

Advertisements

K3PALA BARU

Hari ini saya resmi kepala tiga. kalau sudah di angka segini sih,  menyambut ulang tahun tidak lagi seantusias dulu, bahkan ulang tahun (mungkin) menjadi sesuatu yang tidak diharapkan kedatangannya

Bukan menolak bersyukur masih diberi kesempatan hidup, tapi mungkin ga sih, Desembernya ditunda dulu, misalnya habis November, ada bulan baru apa gitu,dua atau tiga bulan tambahan?

Karena realita semakin menggigit , sementara mewujudkan mimpi dan fantasi hampir memasuki injury time.

Lalu, apa ada yang berubah setelah 30?

Berubah itu sebuah keniscayaan, tapi seperti biasa, tidak banyak,

Bahkan berat badan saya cuma beredar di angka 95 segitu segitu juga, padahal enam bulan terahir di tahun 2018, bahkan sampai tulisan ini diturunkan, saya mendapat peringatan lewat sebuah penyakit yang pencapaian terbaiknya adalah membuat saya berhenti mengkonsumsi tiga hal ternikmat di dunia : kopi, cabe/lada, juga rokok.

Dulu, saya sama sekali tidak percaya saya bisa makan tanpa sambal atau cabe, tapi ternyata setelah dilewati ….bisa-bisa saja. Saya gak bilang makanannya jadi enak ya, tapi manusia memang man of habits :  kalau dibiasakan, ya bisa.  Seperti halnya  sayur  yang sekarang menjadi teman terbaik saya

Dulu?. jangan harap.

Mungkin ini jalan dari tuhan, untuk saya perlahan  menjauhi  nikmat dunia, dan akhirnya mencapai derajat  moksa.

Pencapaian?

Saya pikir, tidak ada pencapaian personal yang bisa dibanggakan, tidak pulang kampung selama 2018 jelas bukan pencapaian,

Novel belum terbit, masih belum ada kabar dari penerbit soal kumpulan cerpen.  Sejumlah cerpen lain juga gagal bawa laptop dan uang tunai, Novelette teenlit yang saya lombakan juga gagal keluar sebagai pemenang. Tapi sepertinya untuk yang satu ini saya akan “terbitkan” seluruhnya di storial

bagi yang tertarik mengikuti silahkan ke   sini

Belum lagi kegagalan- kegagalan dalam beberapa lomba dan audisi untuk ikut pelatihan yang saya pikir saya punya kesempatan besar,  salah satu yang lukanya lumayan dalam adalah kegagalan menjadi bagian dari SCARA, karena yang satu ini bukan cuma sekedar pelatihan, tapi juga langsung tergabung dalam tim yang siap bekerja menulis cerita anak.

Pekerjaan juga begitu, 2018 ini saya cukup senang mendapat kesempatan terlibat dalam penulisan sebuah sitkom yang dulu sempat ngehits. Ketika sekarang dibuat versi terbarunya,  ternyata tidak bisa mengulang kejayaan yang lama, dan excitement saya tak bisa bertahan lama, sitkom ini harus diakhiri, dan lagi-lagi saya kembali ke titik nol.

Tapi, kalau mau bersyukur sebenarnya sangat banyak hal hal  luar biasa, misalnya bagaimana saya masih dikelilingi keluarga dan teman-teman yang baik, termasuk mereka yang baru masuk dan mewarnai kehidupan saya di 2018.

love you all!!

Dan, di 2018  juga, saya sudah diberi kesempatan mengikuti sebah pelatihan besar,  sekaligus pitching TV series yang diadakan HOOQ, walau ya, pada akhirnya,  TV series dibikinin pilot episode tinggal harapan.

Harapan 2019?

Tidak banyak, saya cuma ingin bisa lebih bijaksana saja bersikap dan memangdang dunia, memperdalam ilmu,  mengurangi mengeluh, memaafkan diri sendiri, dan lebih banyak bersyukur.

Klise ya? Saya pikir tidak juga, karena hal hal diatas cukup positif, sementara klise itu negatif.

Tapi, Mudah-mudahan harapan yang satu ini tidak klise : mudah mudahan Pak De kembali memimpin negeri ini lagi untuk 5 tahun kedepan.

yes, im a proud cebong!

last but not least, 2018 juga menyediakan momen indah bersama seseorang, dimana kami bisa kembali bertemu dan bercerita, dan melanjutkan hal-hal yang tertinggalkan waktu.

Begitulah.  Terima kasih sudah membuat 2018 menjadi tahun cukup Indah.

Selamat Natal dan tahun baru.

Mudah-mudahan 2019 penuh cerita yang lebih menarik, dan menjadi tahun dimana satu persatu doa dan harapan mulai terkabulkan.

Aamiin

 

20181224_062315

 

 

 

ATTAR & ALEXANDER

ATTAR DAN ALEXANDER

Kadang hal hal  kecil bisa menjelma menjadi masalah besar. Sama halnya, kadang dalam hal kecil terdapat cerita-cerita besar.

**

ini cerita semut di kamarku.

Oke  aku tau kamarku ini tidak begitu bersih. Disana sini terdapat sampah-sampah sisa makanan dan minuman. Tapi menurutku, bukan berarti semut-semut ini berhak mendatangkan warganya seramai ini ke kamarku. Jangan salah, aku tau semut itu juga makhluk tuhan, makanya aku sangat jarang  serta merta membunuh semut ( dalam jumlah kecil, atau yang bergerak secara individu) karena aku yakin rejeki mereka mungkin ada di kamarku yang berantakan ini, namun kalau mereka datang  dengan jumlah yang banyak  seperti ini sih, beda cerita.

Kaki dan tanganku mulai gatal.

Aku kemudian meemutuskan untuk membersihkan sampah sampah yang  bisa kutemukan, namun sialnya semut-semut ini masih menyerangku.

Konspirasi macam apa ini?

 “ Mau kalian apa sih?” Gerutuku,

Terdengar petir menggelegar. Aku kemudian  menghempaskan tubuhku di kasur. Peduli setan,  setan-setan kecil ini mau apa. Hujan adalah waktu yang tepat untuk tidur.

**

Ada suara ribut di kepalaku, aku langsung bangun  dan mencari sumber suara tersebut,

Ah, aku masih dalam mimpi rupanya : aku mendengar semut-semut ini berbicara!

“Walau kita kecil, kita harus punya target besar, saya yakin kalian semua mampu, kita akan menjadi raksasa, karena kalau tidak, kita akan menjadi budak bangsa yang lebih besar dari kita, belalang misalnya”

“Oh, saya sudah pernah melihatnya juga Pak, di televisi, tapi saya lupa judul filmnya”

Aku mendengar jawaban dari seekor semut lain. Dan mau tak mau aku tertawa, fiksi memang kadang menakutkan.

“ Poinnya bukan disana, anak muda, poinnya adalah, kita harus kembali berjaya, seperti masa Nabi Sulaiman, sekarang saya tanya kepada kalian : siapa yang membuat lapuk tongkat Nabi Sulaiman ?

Aku bukan orang yang menguasai ilmu agama, tapi aku cukup tau cerita ini. Jadi, di agama ku, diceritakan kalau Nabi Sulaiman meninggal dengan bertumpu pada tongkatnya, sampai tidak ada yang tahu kalau beliau sudah meninggal, sampai tongkatnya tersebut dimakan..

“Rayap”  terdengar sebuah jawaban.

Benar, dikisahkan kalau rayaplah yang memakan tongkat tersebut, bukan semut. Lebih jauh, bisa juga kisah tersebut merupakan semacam kiasan. Tapi intinya, mengatakan semut yang memakan tongkat tersebut adalah semacam hoax, bukan?

 “Maksud saya,  kita adalah bangsa yang besar, yang bermimpi besar, dan akan menjadi penakhluk hal-hal besar lainnya”

Sunyi.  Dan seperti  ketakutanku,  suara pemuda semut yang tadi menjawab tidak terdengar lagi. Hilang. Cuma ada pidato berapi-api, yang kemudian membuatku yakin, ini bukan mimpi.

**

Besoknya, pidato kebangsaan semut ini terdengar lagi.

“TIDAK ADA YANG PERLU DI TAKUTKAN! UKURAN BUKAN JAMINAN !!!  JADI, SEKALI LAGI, APAKAH KITA TAKUT?”

“TIDAK TAKUT!!!” aku mendengar koor dari serombongan semut.

“KALAU BEGITU, KITA AKAN MENYERANG!! KITA AKAN MENERJANG !!” ucap suara yang tadi bertanya.

“Tapi paman Alexander..” terdengar suara yang lain.

“Ada apa Attar?”

Baiklah, sekarang mereka punya nama, Alexander dan Attar. Menarik.

“Saya pikir, yang perlu diutamakan saat ini bukanlah menyerang, tapi bagaimana mencukupi kebutuhan pangan kita. Karena paman tahu, sekarang sudah musim hujan”

“Jangan mengajari saya Attar, kamu  ingat, saya yang membuat kamu menjadi pimpinan semut kamar ini ketika saya pergi ke rumah sebelah!”  Tukas Alexander.

“Saya mengerti paman, justru karena itu saya mencoba memberikan yang terbaik untuk semut-semut kamar ini”

Ah, terserah kalianlah. Satu hal yang pasti, pekerjaanku sudah menunggu. Dan saat aku membuka laptopku,  tampak beberapa ekor semut berjalan di layar.

“Ini..apa lagi ???”  dan  tanpa mereka sempat  menjawab, aku melakukan jentikan kepada mereka yang membuat mereka mendarat entah dimana.

Dan aku mulai mengetik.

“ADA YANG MATI-ADA YANG MATI,  RAKSASA ITU MEMBUNUHNYA”

Aku kaget,dan sedikit kesal,  makhluk-makhluk ini memanggilku raksasa. Memang ukuran tubuhku terbilang besar, tapi..sudahlah, kita tidak perlu membahas itu, mari kita dengarkan perbincangan semut-semut ini.

“KITA HARUS MEMBALAS!” lagi-lagi suara Alexander.

“SAUDARA KITA SUDAH DIBUNUH, APA KITA CUMA DIAM?“ lanjutnya kemudian.

Terdengar dengungan yang tidak jelas, tebakanku ini semacam bisik- bisik keraguan diantara para semut lainnya..

“Kalian sudah terlalu lama dipimpin oleh keponakan saya yang lemah. Saya yang salah, saya yang memintanya memimpin kalian”

Aku masih sibuk mengetik. dialog-dialog ini tidak akan selesai dengan sendirinya.

“Maaf paman Alexander, sekali lagi, tanpa mengurangi rasa hormat kepada paman, selama ini semut semut di kamar ini hidup berkecukupan cuma dengan gotong royong mencari sumber makanan yang banyak berserakan di sekitar kamar ini”

“Ah, sudahlah Attar, jangan mendebatku”

Aku sama sekali tidak tau apa yang membuat semut bernama Alexander ini sangat dendam kepada kaum Raksasa, juga bersifat kaku dan otoriter. Aku membayangkan, kalau Alexander ini manusia, dia adalah jenis om-om yang kalau pendapatnya ditentang, atau anak buahnya salah di dalam rapat : benda benda bisa melayang. Ah, tapi siapa aku menjudge dia? kita kan tidak pernah tahu pengalaman pahit masa lalu apa yang sudah dilewatinya?

“Kita bangsa semut walau kecil harus bermimpi besar”  Lagi lagi Alexander berorasi.

“Saya mengerti Paman, tapi bagaimana dengan keluarga-keluarga semut kamar ini?  kalau mereka mati,  bagaimana nasib istrinya, anak-anaknya” 

“Apalagi, aku sudah lama disini Paman Alexander, dan aku cukup tahu kalau raksasa satu ini, sangat pemarah !” sambung Attar kemudian.

BANGSAT !!  AKU DITUDUH PEMARAH??  tapi Attar ini ada benarnya,  aku memang suka menitup, menjentik, kalau sud terlalu banyak semut yang mendekat ke kopi dan kakiku, aku..

“Itu sudah tabiatnya raksasa, lalu apa kita harus diam saja?” Terdengar suara yang berat khas Alexander.

Tidak terdengar lagi suara Attar. Kemana dia? Hilangkah?

**

Aku sedang menikmati rokokku, ketika  aku melihat para semut berjalan beriringan di mejaku,

 “Ayo hati hati jangan lewat sana, disana ada genangan air” terdengar komando dari dari suara yang aku tahu adalah milik  Attar.

Aku tersenyum. Syukurlah. ternyata dia masih hidup, aku pikir setelah membantah Alexander kemaren, dia sudah tidak ada dikamar ini.

“SEDANG APA KALIAN?”

Panjang umur, baru saja kupikirkan sudah terdengar kembali teriakan dari Alexander si semut tua pemarah. Ya, aku baru saja memutuskan menamainya demikian.

“Yang itu tinggalkan saja, jangan dibawa dulu, kita bisa membawanya besok, dia tidak akan membersihkannya hari ini”

Aku kaget. Sialan, ternyata Attar seorang pengamat yang baik.

Tanpa Sengaja aku mengamati pergerakan lain di meja, Aku melihat beberapa semut yang berukuran kecil bergerak. Merapat.

“Paman, mereka…?”

“Iya mereka semut penggigit, mereka temanku ” jelas Alexander

“Apa yang mereka lakukan disini Paman?”

“Kau urus saja urusanmu anak muda”

Ah,untuk pertama kalinya aku setuju dengan Alexander.  Aku baru sadar,  daripada  menguping aku memang sebaiknya menyelesaikan tulisanku, Masih ada beberapa scene yang harus kutulis untuk menyempurnakan skenario ini, belum lagi scene-scene yang butuh perbaikan nantinya. Entah kenapa, aku merasa tidak percaya diri dengan joke-joke yang sudah kutulis, karena di beberapa kasus sebelumnya, joke dan dialog yang kutulis selalu harus dirubah, ditambah, dan disesuaikan. Entahlah. Yang penting aku sudah memberikan yang terbaik.

Aku kemudian mengambil gelas kopiku, tapi ternyata disana sudah dipenuhi  semut semut kecil yang menggigitii tanganku, aku pun menaruh kembali mimuman tersebut, mulai mengibas ngibaskan tangan, dan reflek membunuh mereka satu persatu.

Suara-suara pun memenuhi telingaku. Pertama terdengar teriakan kesakitan

 “Ayo sudahi dulu pekerjaannnya, kembali, keadaan sedang tidak aman” aku  mendengar komando dari Attar.

“Kalian sudah gugur dengan kehormatan.wahai para pejuang. Surga gula menanti kalian” suara lirih Alexander

Aku menghela nafas. Sepertinya gendrang perang sudah ditabuh!

**

Masih pagi. Aku baru tidur paling banyak empat jam setelah mengirimkan skenario bagianku kepada head writer menjelang subuh tadi. Agak telat, dan sepertinya aku memang sudahharus memutakhirkan kemampuan menulisku. Mudah-mudahan buat yang berikutnya aku bisa lebih baik.

Aku terbangun karena kakiku terasa sangat gatal.

Dugaanku benar, semut-semut kecil mulai mengerubungi kakiku. Banyak, sangat banyak!

Terdengar teriakan serbu dan serang di telingaku, dan kemudian aku menyingkirkan mereka yang memenuhi tanganku juga.

“HIDUP ALEXANDER”

“ALEXANDER PEMIMPIN SEJATI”

Tangan dan kakiku kembali diserang. Gatal memang,tapi aku masih mencoba menangkap pembicaraan semut-semut ini semut semut ini.

“Sudahlah Paman Alexander, mari kita kembali, kau cuma akan membuat mereka cedera, istri mereka jadi janda, atau lebih buruk, pulang tinggal nama”

Aku baru sadar, selain yang menyerang kakiku, di bawah sana, masih ada beberapa semut yang hilir mudik. Tebakanku mereka berada di kubu yang berbeda.

“Kau tidak meihat  skema besarnya wahai Attar, kalau raksasa ini kalah, maka kita akan punya semuanya, kita akan punya stock gula yang banyak tanpa ada halangan, apa kamu tidak ingin gula?”

“HIDUP GULA!!” terdengar teriakan .

“Tentu saja aku juga mau gula paman, tapi aku tidak akan mengorbankan semut-semut kamar ini untuk itu, masih ada cara lain paman”

“DASAR PEMIMPIN LEMAH, PANTAS SEMUT KAMAR INI HIDUPNYA DALAM KESENGSARAAN”

Aku pernah mendengar hal semacam ini sebelumnya, tapi aku lupa dimana. Yang pasti, aku melihat  banyak semut keluar dari  belakang lemari, dari balik karpet, juga dari bawah kasurku.

“Semoga beruntung paman Alexander” terdengar ucapan Attar.

Handphone ku berdering, Terdengar suara headwriterku di seberang sana.

“Ram, gua udah terima  script lo. Udah oke kok, tinggal gue  revisi dikit aja. Tapi Ram. Ada kabar buruk, Gini.. Ah, tapi lo udah pasti bisa nebak lah Ram, dari meeting terakhir kita dan keputusan perubahan format belakangan ini…”

Aku diam sejenak.

“Mau dibungkus ya mbak?” mendadak kepalaku ikutan gatal.

“Yoi Ram. Tapi yang sekarang gue tetap bayar elo kok. Soalnya habis gue revisi nanti,  yang ini akan tetap di syuting, sama satu episode lain dari tim sebelah. Pokoknya kalau ada update, nanti gue kabarin lagi”

“Oke Mbak, siap. Rama ngerti. emang gak bisa dipaksain, cuma gak nyangka aja secepat ini. Makasih ya Mbak ” jawabku setelah diam beberapa saat,

Panggilan tersebut pun berakhir.

Dan aku melihat semakin banyak semut-semut menuju kearahku. Darahku terasa mendidih.

Aku menyalakan rokokku, menghisapnya pelan sambil kemudian merobek beberapa kertas dari buku dihadapanku, membakarnya dengan korek di tangan. Kemudian kertas-kertas yang sudah menyala tersebut aku letakkan di tempat semut-semut itu muncul dan berkumpul.

“Maaf Alexander, bukan surga, tapi api neraka yang akan menjadi bagianmu”

Aku terus membakar kertas dan menyebarkannya di tempat semut-semut tersebut muncul dan berkumpul. Aku cuma berharap Attar dan pengikutnya tidak lagi disana : sudah bersembunyi  atau pergi jauh. Aku sudah terlanjur suka dengan semut satu itu.

END

 

Bule Sacha Indonesia

Berhubung sudah tidak berkicau di Twitter dan memutuskan tidak aktif di Instagram untuk waktu yang tidak ditentukan, selama Ramadhan ini saya punya kesibukan baru : nonton youtube dan sebisa mungkin menghindari komen komen sok nan bangsat.

Dan dari banyaknya video yang saya tonton, saya mendapatkan sosok baru yang memberi saya harapan kalau youtube(r) Indonesia masih ada keren kerennya, no offense

SACHA1-820x513

Dulu, saya mikir wanita cantik ini kurang lebih sama dengan bule-bule lain di dunia entertaiment indonesia, yang ‘pasrah’ saja menjadi objek, yang mendapat peran begitu begitu saja ( kebetulan ini juga menjadi salah satu materi youtube Sacha, silahkan dicari sendiri), jadi saya pikir, youtubenya pun isinya pasti  gimmick yang begitu begitu saja

Ternyata, saya salah besar. steretotype bule bule yang begitu begitu saja, dipatahkan begitu saja oleh wanita yang juga bermain di Masalembo, serial di salah satu televisi swasta ini.

Awalnya, saya cuma akrab dengan Seleb English, yaitu dimana Sacha yang seorang native mengomentari level Bahasa Inggris para figur di Indonesia, mulai dari Rich Brian sampai Sule, dari Joe Taslim sampai Jokowi. dan channel ini membuat saya ketagihan, karena saya bisa belajar banyak, mulai dari grammar, pengucapan, pilihan diksi, sampai accent. Cocok buat saya yang speaking-nya pas pasan ini. Tapi anehnya lagi-lagi masih banyak yang salah kaprah tentang video-video ini, misal mengatakan Sacha sok, bahasa Indonesia Sacha juga belum benar, dan sejenisnya. Hebatnya, selain dijadikan bahan buat sarcasm, Sacha tidak begitu memperdulikan hal yang beginian. Dan untunglah, di kanal  ini, jumlah komentator hebat ini tidak begitu banyak, tidak seperti di kanal lain milik Sacha misalnya: How to Act Indonesian

How to Act Indonesian adalah sketsa pendek buatan perempuan yang sudah menikah dengan seorang pria Bandung ini tentang bagaimana keseharian orang Indonesia dari pandangannya setelah sekian lama tinggal disini : dan sebagai orang Indonesia, saya setuju dengan hampir semua pandangan Sacha tentang keseharian, hal-hal lucu, nakal sampai kepada hal-hal yang tabu dan jarang diperbincangkan, misalnya soal Boroknya birokrasi, soal ras, atau soal  agama… yang selalu benar.

Hal inilah mungkin yang bikin gerah sebagian dari kita yang tidak biasa di kritik, kita tidak suka kalau fakta dibeberkan kewajah kita. Jangankan dari orang luar, dari kalangan sendiri saja kita tidak bisa menerimanya. Padahal sekali lagi, yang ditampikan adalah kenyataan ! Walaupun Sacha sudah melakukannya dengan cara yang cerdas dan jenaka, dengan video dengan akting dan prop yang total! Tetap saja,  kalimat : kafir! pulang saja ke negara kamu!  bule sok tau ! bule gila ! dan semacamnya tak jarang menjadi hadiah bagi wanita asal Kanada ini.

Sedih, jangankan menjadikan video-video ini sebagai cermin dan alat berbenah diri, menjadikan video ini dari sisi lucunya saja, sebagian dari kita masih belum bisa. Mau bagaimana, mungkin kita memang lebih suka video pribumi seagama yang pecicilan ga jelas yang melenakan, daripada pil pahit menyehatkan seperti ini.

Sekali lagi, untunglah, pemilik akun sendiri sepertinya tidak terlalu bermasalah dengan komen komen menyebalkan seperti yang saya katakan diatas, dia cuma menanggapinya dengan tawa, sesekali sarkas, bahkan mau meminta maaf untuk hal yang menurut saya dia tidak salah, demi ketenangan umat manusia. Setelah itu, dia lanjut berkarya, menghasilkan video video baru, ( bukan cuma Seleb English dan How to Act Indonesian, Sacha punya banyak video lain !)  yang menurut saya pintar, jenaka dan punya muatan luar biasa.

Begitulah, selamat berjuang terus neng Sacha ! buat saya, mungkin kamu lebih Indonesia, dan lebih mencintai Indonesia dibanding saya pribadi dan mungkin banyak orang diluar sana.

Seperti peringatan yang selalu hadir di awal video Sacha : TIDAK SEMUA INDONESIA BERPRILAKU SEPERTI INI. maka begitu pula komentar dan komentator hebat ini, masih banyak orang yang mendukung dan mengapresiasi, dan saya salah satunya!

Jangan berhenti, jangan menyerah memberi perbedaan buat bangsa ini, jangan seperti saya yang lemah yang tidak sanggup bertahan di sosial media dipenuhi postingan dan komen yang tidak jelas, sok tau, sok pintar dan memancing rusuh dunia !

GO SACHA GO SACHA GO!

MAHA BENAR NETIZEN DENGAN SEGALA KOMENTARNYA..

 

 

 

 

 

 

Cerita Seorang Pemula Mengenal Okky Madasari Lewat Kerumunan Terakhir.

Saya bukan pembaca buku-buku hebat, buktinya buku Mbah Pram dan Orhan Pamuk cuma tergeletak penuh debu di lemari. Saat membaca karya-karya sastra adiluhung tersebut, entah kenapa dikepala saya sudah muncul asumsi kalau buku ini adalah buku buku berat, dan kadang memang kenyataanya demikian.

Sampai kemudian, lewat perbincangan dengan seorang teman, saya jadi tahu tentang  Okky Madasari dan  buku bukunya yang sudah sudah malang melintang di jagad perbukuan indoneia, bahkan dunia,

Dan ternyata buku Okky yang berjudul Kerumunan Terakhir ini, bisa saya selesaikan dengan lancar. Mungkin saya beruntung, sebagai pembaca pemula buku buku Okky, saya bisa memulai dengan karya nya yang tidak terlampau berat

Ataukah sebenarnya, buku ini emang sedang memilih saya ?  karena mungkin saya mengingatkannya akan Matajaya?

**

 

20180509_123009[1]

Dunia baru ini adalah dunia yang dibentuk dari kata dan suara, kalau aku tidak berkata dan bersuara, maka aku tidak ada

Kerumunan terakhir adalah cerita tentang  Jayanegara, seorang pemuda biasa dari daerah, yang  memilih tidak menyelesaikan kuliah dan pergi ke Jakarta menyul Maera, pacarnya yang sudah bekerja sebagai sebuah wartawan di sebuah koran. Keputusan Jay ini merupakan salah satu bentuk perlawanan kepada ayahnya, seorang professor hebat yang sayang anak tapi sayangnya juga doyan main perempuan sehingga  membuat ibunya menderita.

Di Jakarta Jay tinggal dengan Maera. Memenuhi keinginan Maera untuk mencari kerja lewat internet,  Jay malah berkenalan dengan sebuah dunia baru : internet, yang di penuhi kerumunan- kerumunan dengan berbagai macam kepentingan dan pemenuhan kebutuhan Perlahan Jay pun tenggelam dalam dunia barunya, sampai lahirlah : Matajaya

Beda dengan Jayanegara, Matajaya merupakan seorang  lelaki asal kampung yang memulai karirnya menjadi stuntman, sampai kemudian suatu ketika beasiswa pacarnya membuat dia harus pindah Amerika. Di sana, Matajaya menjadi tukang cuci piring dan kemudian pindah haluan menjadi seorang fotografer kelas dunia. Lewat cerita ceritanya Matajaya mendapat tempat di dunia baru ini yang dipenuhi pelbagai tokoh dan karakter ini : ada akardewa, veteran perang, pejuang sosial yang vokal dan menjadi semacam nabi baru di dunia Jay,  Nura, yang pernah punya kisah dengan Akardewa kemudian ditinggalkan para penghuni dunia baru, juga Kara, seorang remaja yang ingin mengubah dunia.

Di tengah hiruk pikuknya dunia baru, masihkah Jay menaruh dendam pada dunai lamanya? pada ayahnya?

**

Di zaman sekarang ini, lebih cantik aslinya daripada fotonya adalah bentuk pujian tertinggi

Hiperrealitas, secara sederhana merupakan dimana sebuah realitas bercampur baur dengan fantasi, ilusi, dengan citra dan rekaan, sehinga sulit dibedakan, dan media sosial, internet adalah tempet tumbuh suburnya fenomena  ini. Hal inilah yang menjadi roh dari buku ini. Disini, Kita bisa melihat bagaiamana, kritik sosial dan fenomena kaum milenial bersatu,

Di dunia baru, dunia virtual, kita menemukan begitu banyak tokoh yang menarik namun ketika bertemu di dunia nyata ternyata jauh berbeda, Lihat bagaimana Akardewa yang ternyata tak ‘segagah’ yang ditampilkannya di  media, begitu juga dengan Matajaya, bahkan mungkin kita sendiri, apa sesuatu yang kita posting di media sosial adalah benar benar diri kita?

Tapi tentu saja selalu ada orang orang di kerumunan yang berhasil menjadi dirinya sendiri, di Kerumunan Terakhir, kita bisa melihat sosok in diwakili oleh Maera, yang menampilkan dirinya apa adanya, memakai nama dan foto asli.Lebih dari itu, lewat tulisannya, Maera berani jujur dengan menelanjangi dirinya sendiri,tentang kebutuhannya akan sex, tentang bagaimana dia tidak mampu menahan keinginan untuk selalu disentuh dan dipuaskan. Sesuatu yang (mungkin ) tabu bagi ( sebagian ) perempuan, bahkan bagi Jaya sendiri. Namun tidak untuk Maera, dia seperti ingin menunjukkan : kalau sex, adalah kebutuhan dasar setiap manusia.

Om Freud pasti bangga !!

**

Terlepas dari tema bernuansa kekinian, kritik sosial, dan pesan yang disampaikan, sayangnya, seperti kehidupan Jay, tidak ada sebuah goal  besar yang dinanti oleh pembaca, akibatnya cerita berjalan pelan, dan karakter terasa datar, sehingga buku ini menjadi tidak terlalu mengikat. Kerumunan Terakhir menjadi  cuma potongan cerita dari pelbagai tokoh. Kalaupun anda seperti saya, membacanya sepotong-sepotong, maka kenikmatannya juga tidak akan berkurang. Kita seakan ‘cuma’ disuguhi orang orang yang diam  didepan kom[puter, barulah di halaman halaman terakhir,  ada aksi –aksi di dunia nyata, yang sekali lagi, sayangnya sudah sangat terlambat, sehingga malah menimbulkan kecanggungan, walau memang mengantar pada sebuah konflik akhir. Tapi tetap saja, seandainya tokoh Kara dengan anarkismenya ini muncul lebih cepat,  mungkin ini akan jadi lebih menarik.

but who am I to judge?

Afterall, seperti yang saya katakan di awal ; buku yang memilih pembacanya. Buku ini datang di saat yang tepat, dimana kurang lebih saya sedang berada di fase seperti Jayanegara, maka buat saya pribadi, buku ini sangat menarik untuk di baca, mungkin juga buat mereka yang seirama, yang sedang bergiat di depan komputer, ponsel, menghabiskan waktu di dunia maya, dan tenggelam dalam kefanaannya.

“Kami mabuk dan hilang kesadaran tanpa alkohol. Imajinasi, ilusi, khayalan, jauh lebih memabukkan daripada  sebotol bir”

Sebuah wawancara fiktif ( bukan fiksi ) mendalam : Bagaimana Nasib Jomblo? – Bagaimana Nasib? Jomblo

Seandainya kaum jomblo di Indonesia ingin mendirikan negara sendiri, maka saya rasa kita tidak perlu menunjuk siapa calon presiden jomblo, karena sudah pasti satu nama akan muncul dan langsung menjadi pemenang :  RADITYA DIKA

Kenapa Radit, kenapa bukan..?

Karena menurut saya, lewat jari dan mulut beliau lah ( kata ) jomblo di Negara  mengalami kepopuleran menembus batas, dan disaat yang sama menjadi  joke paling  overused legendaris seperti saat ini.

dan Sabtu kemaren, 5 May 2018,  Bapak presiden  Jomblo Indonesia akhirnya menikah!

Trus, salah?

Jelas tidak, karena jomblo bukan dosa, apalagi menikah, keduanya tidak berada di kutub yang berlawanan.

Bisa tolong diperjelas?

Maksud saya begini : ketika seandainya ada ustad yang heboh soal haram dan neraka, tapi ternyata ketahuan main perempuan?

itu namanya : bertentangan

Tetapi ketika jomblo akhirnya berkesempatan punya banyak pacar, atau menikah bukankah itu namanya….  pencapaian?

Selamat Bang Radit! SAMARA!

**

Sayangnya, tidak semua yang ditampilkan adalah kebenaran HQQ.

Saya percaya (mudah-mudahan ada yang setuju) bahwa jomblo cuma persona seorang Raditya Dika :  materinya yang paling laku. Saking lakunya, hampir tidak ada saingannya di negara ini, kecuali menjual agama, mungkin.

Sotoy kamu anak muda!

Begini, ini murni pendapat pribadi :  saya tidak terlalu percaya kalau penulis best seller ini benar-benar memiliki definisi dan sifat kejombloan seperti kebanyakan jomblo darah murni di luar sana. Kalaupun ada darah jomblonya, menurut hemat saya,  sifatnya itu  temporary : semacam peralihan ketika putus dari satu wanita ke wanita lainnya dalam tempo yang relatif singkat. atau dari putus ke balikan lagi  dengan yang tidak begitu lama. Saya penganut teori konspirasi kalau selalu ada wanita disamping salah satu pelopor stand up comedy di Indonesia ini.

Screenshot_2018-05-07-04-25-57

MANTAN (RADIT) FAVORIT SAYA – gambar dicapture dari IG yang bersangkutan

 

Di salah satu wawancara, sebelum melangsungkan pernikahannya, Radit kurang lebih berkata  kalau dia ingin pernikahannya ini menjadi motivasi buat jomblo-jomblo di luar sana…

Trus, apa salahnya?

Ga ada yang salah, tapi begini kawan-kawan :

saya yakin dan percaya  keajaiban itu ada, tapi yang terjadi kasus Radit menurut saya bukanlah suatu keajaiban, bukan sesuatu yang patut diherankan. atau terlebih lagi menjadi sebuah motivasi : kalau jomblo seperti Radit saja bisa menikah, terus kenapa anda tidak?

Ayolah, it’s THE Raditya Dika we’re talking about!

Udah?

Terlepas dari itu semua, seperti judul tulisan ini, lebih jauh saya cuma mengkhawatirkan bagaimana nasib komoditi jomblo kedepannya?

Apakah Radit akan masih bermain-main dengan persona jomblonya, dan masih menjadi semacam suara kaum yang sudah terpinggirkan tiap malam minggu ini? atau sebaliknya mungkin Radit akan lebih keras menyerang para jomblo dengan status barunya ini?

Screenshot_2018-05-06-04-24-34

Harapan penulis sendiri?

Saya pribadi sih mengharapkan semua becandaan jomblo, dan atributnya, seperti mantan, patah ahti, move on,  dan lain-lain, akan segera menghilang, khususnya dari bit dan materi  Radit.

Kenapa?

Pertama : ini akan menjadi kesempatan bagi beliau untuk menunjukkan kemampuannya di genre yang lain ( yang saya percaya bisa tetap pecah,  he’s a genius comedian, indeed), kedua : agar menjadi contoh juga bagi para pengikut Radit : pencela jomblo dan atau jomblo pencela, agar menggantinya dengan lawakan yang lebih fresh. Leave the single joke, alone !!  ketiga :  karena seandainya ini masih dijadikan materi oleh Radit, tentunya, magis nya akan berkurang, it’s not make-believe anymore, kira-kira seperti lagu Terlalu Lama Sendiri nya  Mas Kunto yang terasa ilang magnetnya setelah si pelantun tidak lagi sendiri.

Lalu, bagaimana dengan  nasib penulis sendiri?.Ada apa sampai rela menulis topik ini dan seakan membela hak para jomblo? Mau berniat menjadi maju sebagai calon presiden jomblo dengan sok menunggangi kepentingan para jomblo?

Ah, saya sih sebenarnya tidak ingin ya, tapi kalau masyarakat menghendaki, maka…

Tunggu, emang  penulis jomblo? kalau gak jomblo gak usah ikut-ikutan lah!

Begini, pada akhirnya yang manapun itu, tidak semua yang ditampilkan itu kebenaran bukan? masalah jomblo atau tidak itu cuma soal keberpihakan, survey juga soal siapa yang bayar. Yang penting, saya bisa memakai persona yang pas didepan mereka yang mendukung saya. Lagian saya sudah siapkan yel-yel untuk kampanye pemenangan saya:

WAHAI PARA JOMBLO, MARI KITA LUPAKEN SOAL KEMENANGAN. YANG PENTING, MARI KITA BERGERAK UNTUK MEREBUT KENANGAN!

Sekian, terimakasih.

**

sudah terlalu lama sendiri

sudah terlalu asik dengan duniaku sendiri…