Bule Sacha Indonesia

Berhubung sudah tidak berkicau di Twitter dan memutuskan tidak aktif di Instagram untuk waktu yang tidak ditentukan, selama Ramadhan ini saya punya kesibukan baru : nonton youtube dan sebisa mungkin menghindari komen komen sok nan bangsat.

Dan dari banyaknya video yang saya tonton, saya mendapatkan sosok baru yang memberi saya harapan kalau youtube(r) Indonesia masih ada keren kerennya, no offense

SACHA1-820x513

Dulu, saya mikir wanita cantik ini kurang lebih sama dengan bule-bule lain di dunia entertaiment indonesia, yang ‘pasrah’ saja menjadi objek, yang mendapat peran begitu begitu saja ( kebetulan ini juga menjadi salah satu materi youtube Sacha, silahkan dicari sendiri), jadi saya pikir, youtubenya pun isinya pasti  gimmick yang begitu begitu saja

Ternyata, saya salah besar. steretotype bule bule yang begitu begitu saja, dipatahkan begitu saja oleh wanita yang juga bermain di Masalembo, serial di salah satu televisi swasta ini.

Awalnya, saya cuma akrab dengan Seleb English, yaitu dimana Sacha yang seorang native mengomentari level Bahasa Inggris para figur di Indonesia, mulai dari Rich Brian sampai Sule, dari Joe Taslim sampai Jokowi. dan channel ini membuat saya ketagihan, karena saya bisa belajar banyak, mulai dari grammar, pengucapan, pilihan diksi, sampai accent. Cocok buat saya yang speaking-nya pas pasan ini. Tapi anehnya lagi-lagi masih banyak yang salah kaprah tentang video-video ini, misal mengatakan Sacha sok, bahasa Indonesia Sacha juga belum benar, dan sejenisnya. Hebatnya, selain dijadikan bahan buat sarcasm, Sacha tidak begitu memperdulikan hal yang beginian. Dan untunglah, di kanal  ini, jumlah komentator hebat ini tidak begitu banyak, tidak seperti di kanal lain milik Sacha misalnya: How to Act Indonesian

How to Act Indonesian adalah sketsa pendek buatan perempuan yang sudah menikah dengan seorang pria Bandung ini tentang bagaimana keseharian orang Indonesia dari pandangannya setelah sekian lama tinggal disini : dan sebagai orang Indonesia, saya setuju dengan hampir semua pandangan Sacha tentang keseharian, hal-hal lucu, nakal sampai kepada hal-hal yang tabu dan jarang diperbincangkan, misalnya soal Boroknya birokrasi, soal ras, atau soal  agama… yang selalu benar.

Hal inilah mungkin yang bikin gerah sebagian dari kita yang tidak biasa di kritik, kita tidak suka kalau fakta dibeberkan kewajah kita. Jangankan dari orang luar, dari kalangan sendiri saja kita tidak bisa menerimanya. Padahal sekali lagi, yang ditampikan adalah kenyataan ! Walaupun Sacha sudah melakukannya dengan cara yang cerdas dan jenaka, dengan video dengan akting dan prop yang total! Tetap saja,  kalimat : kafir! pulang saja ke negara kamu!  bule sok tau ! bule gila ! dan semacamnya tak jarang menjadi hadiah bagi wanita asal Kanada ini.

Sedih, jangankan menjadikan video-video ini sebagai cermin dan alat berbenah diri, menjadikan video ini dari sisi lucunya saja, sebagian dari kita masih belum bisa. Mau bagaimana, mungkin kita memang lebih suka video pribumi seagama yang pecicilan ga jelas yang melenakan, daripada pil pahit menyehatkan seperti ini.

Sekali lagi, untunglah, pemilik akun sendiri sepertinya tidak terlalu bermasalah dengan komen komen menyebalkan seperti yang saya katakan diatas, dia cuma menanggapinya dengan tawa, sesekali sarkas, bahkan mau meminta maaf untuk hal yang menurut saya dia tidak salah, demi ketenangan umat manusia. Setelah itu, dia lanjut berkarya, menghasilkan video video baru, ( bukan cuma Seleb English dan How to Act Indonesian, Sacha punya banyak video lain !)  yang menurut saya pintar, jenaka dan punya muatan luar biasa.

Begitulah, selamat berjuang terus neng Sacha ! buat saya, mungkin kamu lebih Indonesia, dan lebih mencintai Indonesia dibanding saya pribadi dan mungkin banyak orang diluar sana.

Seperti peringatan yang selalu hadir di awal video Sacha : TIDAK SEMUA INDONESIA BERPRILAKU SEPERTI INI. maka begitu pula komentar dan komentator hebat ini, masih banyak orang yang mendukung dan mengapresiasi, dan saya salah satunya!

Jangan berhenti, jangan menyerah memberi perbedaan buat bangsa ini, jangan seperti saya yang lemah yang tidak sanggup bertahan di sosial media dipenuhi postingan dan komen yang tidak jelas, sok tau, sok pintar dan memancing rusuh dunia !

GO SACHA GO SACHA GO!

MAHA BENAR NETIZEN DENGAN SEGALA KOMENTARNYA..

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Cerita Seorang Pemula Mengenal Okky Madasari Lewat Kerumunan Terakhir.

Saya bukan pembaca buku-buku hebat, buktinya buku Mbah Pram dan Orhan Pamuk cuma tergeletak penuh debu di lemari. Saat membaca karya-karya sastra adiluhung tersebut, entah kenapa dikepala saya sudah muncul asumsi kalau buku ini adalah buku buku berat, dan kadang memang kenyataanya demikian.

Sampai kemudian, lewat perbincangan dengan seorang teman, saya jadi tahu tentang  Okky Madasari dan  buku bukunya yang sudah sudah malang melintang di jagad perbukuan indoneia, bahkan dunia,

Dan ternyata buku Okky yang berjudul Kerumunan Terakhir ini, bisa saya selesaikan dengan lancar. Mungkin saya beruntung, sebagai pembaca pemula buku buku Okky, saya bisa memulai dengan karya nya yang tidak terlampau berat

Ataukah sebenarnya, buku ini emang sedang memilih saya ?  karena mungkin saya mengingatkannya akan Matajaya?

**

 

20180509_123009[1]

Dunia baru ini adalah dunia yang dibentuk dari kata dan suara, kalau aku tidak berkata dan bersuara, maka aku tidak ada

Kerumunan terakhir adalah cerita tentang  Jayanegara, seorang pemuda biasa dari daerah, yang  memilih tidak menyelesaikan kuliah dan pergi ke Jakarta menyul Maera, pacarnya yang sudah bekerja sebagai sebuah wartawan di sebuah koran. Keputusan Jay ini merupakan salah satu bentuk perlawanan kepada ayahnya, seorang professor hebat yang sayang anak tapi sayangnya juga doyan main perempuan sehingga  membuat ibunya menderita.

Di Jakarta Jay tinggal dengan Maera. Memenuhi keinginan Maera untuk mencari kerja lewat internet,  Jay malah berkenalan dengan sebuah dunia baru : internet, yang di penuhi kerumunan- kerumunan dengan berbagai macam kepentingan dan pemenuhan kebutuhan Perlahan Jay pun tenggelam dalam dunia barunya, sampai lahirlah : Matajaya

Beda dengan Jayanegara, Matajaya merupakan seorang  lelaki asal kampung yang memulai karirnya menjadi stuntman, sampai kemudian suatu ketika beasiswa pacarnya membuat dia harus pindah Amerika. Di sana, Matajaya menjadi tukang cuci piring dan kemudian pindah haluan menjadi seorang fotografer kelas dunia. Lewat cerita ceritanya Matajaya mendapat tempat di dunia baru ini yang dipenuhi pelbagai tokoh dan karakter ini : ada akardewa, veteran perang, pejuang sosial yang vokal dan menjadi semacam nabi baru di dunia Jay,  Nura, yang pernah punya kisah dengan Akardewa kemudian ditinggalkan para penghuni dunia baru, juga Kara, seorang remaja yang ingin mengubah dunia.

Di tengah hiruk pikuknya dunia baru, masihkah Jay menaruh dendam pada dunai lamanya? pada ayahnya?

**

Di zaman sekarang ini, lebih cantik aslinya daripada fotonya adalah bentuk pujian tertinggi

Hiperrealitas, secara sederhana merupakan dimana sebuah realitas bercampur baur dengan fantasi, ilusi, dengan citra dan rekaan, sehinga sulit dibedakan, dan media sosial, internet adalah tempet tumbuh suburnya fenomena  ini. Hal inilah yang menjadi roh dari buku ini. Disini, Kita bisa melihat bagaiamana, kritik sosial dan fenomena kaum milenial bersatu,

Di dunia baru, dunia virtual, kita menemukan begitu banyak tokoh yang menarik namun ketika bertemu di dunia nyata ternyata jauh berbeda, Lihat bagaimana Akardewa yang ternyata tak ‘segagah’ yang ditampilkannya di  media, begitu juga dengan Matajaya, bahkan mungkin kita sendiri, apa sesuatu yang kita posting di media sosial adalah benar benar diri kita?

Tapi tentu saja selalu ada orang orang di kerumunan yang berhasil menjadi dirinya sendiri, di Kerumunan Terakhir, kita bisa melihat sosok in diwakili oleh Maera, yang menampilkan dirinya apa adanya, memakai nama dan foto asli.Lebih dari itu, lewat tulisannya, Maera berani jujur dengan menelanjangi dirinya sendiri,tentang kebutuhannya akan sex, tentang bagaimana dia tidak mampu menahan keinginan untuk selalu disentuh dan dipuaskan. Sesuatu yang (mungkin ) tabu bagi ( sebagian ) perempuan, bahkan bagi Jaya sendiri. Namun tidak untuk Maera, dia seperti ingin menunjukkan : kalau sex, adalah kebutuhan dasar setiap manusia.

Om Freud pasti bangga !!

**

Terlepas dari tema bernuansa kekinian, kritik sosial, dan pesan yang disampaikan, sayangnya, seperti kehidupan Jay, tidak ada sebuah goal  besar yang dinanti oleh pembaca, akibatnya cerita berjalan pelan, dan karakter terasa datar, sehingga buku ini menjadi tidak terlalu mengikat. Kerumunan Terakhir menjadi  cuma potongan cerita dari pelbagai tokoh. Kalaupun anda seperti saya, membacanya sepotong-sepotong, maka kenikmatannya juga tidak akan berkurang. Kita seakan ‘cuma’ disuguhi orang orang yang diam  didepan kom[puter, barulah di halaman halaman terakhir,  ada aksi –aksi di dunia nyata, yang sekali lagi, sayangnya sudah sangat terlambat, sehingga malah menimbulkan kecanggungan, walau memang mengantar pada sebuah konflik akhir. Tapi tetap saja, seandainya tokoh Kara dengan anarkismenya ini muncul lebih cepat,  mungkin ini akan jadi lebih menarik.

but who am I to judge?

Afterall, seperti yang saya katakan di awal ; buku yang memilih pembacanya. Buku ini datang di saat yang tepat, dimana kurang lebih saya sedang berada di fase seperti Jayanegara, maka buat saya pribadi, buku ini sangat menarik untuk di baca, mungkin juga buat mereka yang seirama, yang sedang bergiat di depan komputer, ponsel, menghabiskan waktu di dunia maya, dan tenggelam dalam kefanaannya.

“Kami mabuk dan hilang kesadaran tanpa alkohol. Imajinasi, ilusi, khayalan, jauh lebih memabukkan daripada  sebotol bir”

Sebuah wawancara fiktif ( bukan fiksi ) mendalam : Bagaimana Nasib Jomblo? – Bagaimana Nasib? Jomblo

Seandainya kaum jomblo di Indonesia ingin mendirikan negara sendiri, maka saya rasa kita tidak perlu menunjuk siapa calon presiden jomblo, karena sudah pasti satu nama akan muncul dan langsung menjadi pemenang :  RADITYA DIKA

Kenapa Radit, kenapa bukan..?

Karena menurut saya, lewat jari dan mulut beliau lah ( kata ) jomblo di Negara  mengalami kepopuleran menembus batas, dan disaat yang sama menjadi  joke paling  overused legendaris seperti saat ini.

dan Sabtu kemaren, 5 May 2018,  Bapak presiden  Jomblo Indonesia akhirnya menikah!

Trus, salah?

Jelas tidak, karena jomblo bukan dosa, apalagi menikah, keduanya tidak berada di kutub yang berlawanan.

Bisa tolong diperjelas?

Maksud saya begini : ketika seandainya ada ustad yang heboh soal haram dan neraka, tapi ternyata ketahuan main perempuan?

itu namanya : bertentangan

Tetapi ketika jomblo akhirnya berkesempatan punya banyak pacar, atau menikah bukankah itu namanya….  pencapaian?

Selamat Bang Radit! SAMARA!

**

Sayangnya, tidak semua yang ditampilkan adalah kebenaran HQQ.

Saya percaya (mudah-mudahan ada yang setuju) bahwa jomblo cuma persona seorang Raditya Dika :  materinya yang paling laku. Saking lakunya, hampir tidak ada saingannya di negara ini, kecuali menjual agama, mungkin.

Sotoy kamu anak muda!

Begini, ini murni pendapat pribadi :  saya tidak terlalu percaya kalau penulis best seller ini benar-benar memiliki definisi dan sifat kejombloan seperti kebanyakan jomblo darah murni di luar sana. Kalaupun ada darah jomblonya, menurut hemat saya,  sifatnya itu  temporary : semacam peralihan ketika putus dari satu wanita ke wanita lainnya dalam tempo yang relatif singkat. atau dari putus ke balikan lagi  dengan yang tidak begitu lama. Saya penganut teori konspirasi kalau selalu ada wanita disamping salah satu pelopor stand up comedy di Indonesia ini.

Screenshot_2018-05-07-04-25-57
MANTAN (RADIT) FAVORIT SAYA – gambar dicapture dari IG yang bersangkutan

 

Di salah satu wawancara, sebelum melangsungkan pernikahannya, Radit kurang lebih berkata  kalau dia ingin pernikahannya ini menjadi motivasi buat jomblo-jomblo di luar sana…

Trus, apa salahnya?

Ga ada yang salah, tapi begini kawan-kawan :

saya yakin dan percaya  keajaiban itu ada, tapi yang terjadi kasus Radit menurut saya bukanlah suatu keajaiban, bukan sesuatu yang patut diherankan. atau terlebih lagi menjadi sebuah motivasi : kalau jomblo seperti Radit saja bisa menikah, terus kenapa anda tidak?

Ayolah, it’s THE Raditya Dika we’re talking about!

Udah?

Terlepas dari itu semua, seperti judul tulisan ini, lebih jauh saya cuma mengkhawatirkan bagaimana nasib komoditi jomblo kedepannya?

Apakah Radit akan masih bermain-main dengan persona jomblonya, dan masih menjadi semacam suara kaum yang sudah terpinggirkan tiap malam minggu ini? atau sebaliknya mungkin Radit akan lebih keras menyerang para jomblo dengan status barunya ini?

Screenshot_2018-05-06-04-24-34

Harapan penulis sendiri?

Saya pribadi sih mengharapkan semua becandaan jomblo, dan atributnya, seperti mantan, patah ahti, move on,  dan lain-lain, akan segera menghilang, khususnya dari bit dan materi  Radit.

Kenapa?

Pertama : ini akan menjadi kesempatan bagi beliau untuk menunjukkan kemampuannya di genre yang lain ( yang saya percaya bisa tetap pecah,  he’s a genius comedian, indeed), kedua : agar menjadi contoh juga bagi para pengikut Radit : pencela jomblo dan atau jomblo pencela, agar menggantinya dengan lawakan yang lebih fresh. Leave the single joke, alone !!  ketiga :  karena seandainya ini masih dijadikan materi oleh Radit, tentunya, magis nya akan berkurang, it’s not make-believe anymore, kira-kira seperti lagu Terlalu Lama Sendiri nya  Mas Kunto yang terasa ilang magnetnya setelah si pelantun tidak lagi sendiri.

Lalu, bagaimana dengan  nasib penulis sendiri?.Ada apa sampai rela menulis topik ini dan seakan membela hak para jomblo? Mau berniat menjadi maju sebagai calon presiden jomblo dengan sok menunggangi kepentingan para jomblo?

Ah, saya sih sebenarnya tidak ingin ya, tapi kalau masyarakat menghendaki, maka…

Tunggu, emang  penulis jomblo? kalau gak jomblo gak usah ikut-ikutan lah!

Begini, pada akhirnya yang manapun itu, tidak semua yang ditampilkan itu kebenaran bukan? masalah jomblo atau tidak itu cuma soal keberpihakan, survey juga soal siapa yang bayar. Yang penting, saya bisa memakai persona yang pas didepan mereka yang mendukung saya. Lagian saya sudah siapkan yel-yel untuk kampanye pemenangan saya:

WAHAI PARA JOMBLO, MARI KITA LUPAKEN SOAL KEMENANGAN. YANG PENTING, MARI KITA BERGERAK UNTUK MEREBUT KENANGAN!

Sekian, terimakasih.

**

sudah terlalu lama sendiri

sudah terlalu asik dengan duniaku sendiri…

 

 

 

Memasak Di Atas Sebuah Badai

Saya bukan penggemar kuliner, tapi yes, saya suka makan.

karena saya percaya,  itu adalah dua hal yang cukup berbeda.

Yang pasti, penggemar kuliner tidak mungkin cuma tau (dan suka) nasi goreng dan mie instan bukan?

jadi, apa alasan saya sok sok menonton film kuliner berjudul COOK UP A STORM ini?

**

COOKUP.jpg

Cook Up A Storm (2017)  bercerita tentang persaingan dua anak muda:  SKY, yang pernah dicaci maki ayahnya yang seorang jurumasak, karena memasak mie saja tidak becus, sekarang merupakan seorang tukang masak di seven, sebuah restoran kecil di  kawasan sederhana yang tak lama lagi akan di rubuhkan demi  proyek proyek besar, dan PAUL, seorang chef dari prancis,keturunan Korea dan Cina, yang menolak tawaran menggiurkan di sana,  dan malah membuka restoran berbintang  bernama Stellar sendiri yang ‘kebetulan’ berada di depan seven. Sebuah appetizer yang cukup menjanjikan,

Yap, ihwal persaingan dua koki tampan inilah, yang menjadi alasan pertama saya tertarik untuk menonton film ini ( catatan : penekannya di persaingan, bukan di tampan ), Sky yang santai dan menjunjung tinggi masakan timur, dan Paul yang rapi jali dan lebih mendewakan masakan barat, akhirnya harus bertarung, demi restoran masing masing dan demi diri mereka sendiri.

Sampai akhirnya,sebuah kejadian membuat  mereka memutuskan bahu membahu demi mewujudkan mimpi mereka : mengalahkan dewa masak, yang merupakan idola Paul , yang menjadi inspirasinya menjadi chef, yang kebetulan juga merupakan ayah dari Sky…

bukan spoiler kok, film ini pun tidak merahasiakannya,

**

Cerita film ini tipis, memang cuma bergantung pada rivalitas dua karakter utamanya. Sebuah main course ya kurang berhasil diolah dengan baik. Padahal kalau seandainya lebih di bumbui tentunya ini akan lebih memberi rada tersendiri pada film ini.  Binary oposisi antara Sky yang dominan dan meledak2 dan Paul yang kalem tetunya akan membaut penonton ( baca :saya) geregetan, sayangnya di film,  dua kali pertarungan mereka terasa agak datar dan dan meningalkan after taste yang biasa juga.

cook-up-a-storm2

Saya malah suka momen pertemuan mereka pertama kali, ketika rebutan ikan tuna, dan ketika akhirnya sama-sama sepakat untuk mengalahkan dewa masakan dengan melempar botol ke poster sang dewa.

Begitulah,  saya selalu suka momen bromance berbumbu rivalitas ini, seperti yang terjasi  Eric dan Xavier di x-men, atau antara L dan Light di Death Note.

Percayalah, bromance yang seperti ini sangat menarik.

Selanjutnya, sebagai show yang menjadikan  makanan sebagai sajian utamanya, kehadiran  makanannya terbilang masih kurang, begitu juga dengan proses memasak, terutama pada saat turnamen dimana seharusnya detail proses, baik dari tim karakter utama dan tim lawan lebih diulik untuk mendapatkan sesuatu yang lebih berasa. Mungkin, ini juga ada pengaruhnya dengan tempo yang seperti  percepat di penghujung cerita, juga twist yang seakan kosong tanpa ada efek yang berarti. padahal sound and special effectnya terbilang bagus,

Padahal tadinya saya mengharapkan drama yang agak mendalam, sesuatu seperti yang saya rasakan ketika bela belain nonton Master Chef di salah stu TV swasta, lagi lagi saya tidak mengerti, tidak pernah mencicipi, tapi saya suka dramanya, bahkan saya rela nebeng di kostan teman cuma untuk nonton Marinka kontes masak memasak tersebut. Pendeknya, film ini seperti sebuah sajian dengan bahan yang lengkap dan menjanjikan, tapi di masak dengan proses yang kurang sempurna,

Tapi, untunglah penghujung film, kita disajikan sebuah dessert, penutup yang cukup manis  : ketika Sky akhirnya memberikan masakan pamungkasnya,semangkok mie, bukan pada juri,  tapi pada ayahnya sang dewa masak.

Dan sesuai judulnya, Cook Up a Storm yang artinya memasak dengan sepenuh hati, semaksimal kemampuan, akhirnya membawa Sky pada sebuah pengakuan dari ayahnya

“WELL DONE, SON…”

and that’s (maybe) a spoiler..

 

 

 

 

Cerita BATMAN : NINJA yang hilang ditengah kepulan asap aksi visual.

Batman, sepertinya akan selalu menjadi superhero yang paling menarik, paling tidak buat saya,

simple, karena mungkin, Batman  sangat dekat dengan kita

don’t get me wrong,

Saya tahu, sebagian besar dari kita tidak sekaya Batman, sebagian lain juga tidak segenius beliau, atau bahkan jawara diantara kita pun masih jauh dari kemampuan beladiri manusia kelelawar ini.

Tapi paling tidak, kita selalu diperlihatkan, bahwa dari semua ketidak manusiawiaannya, kita tau kalau Bruce Wayne seorang  millionaire playboy cuma persona yang  ingin diperlihatkan dipublik, seperti yang  kita lakukan lewat instagram dan media sosial milik kita (mungkin), Batman juga seperti kita, baru menanggalkan ‘topeng’  saat bersama orang yang kita cintai dan percaya, dalam kasus Batman, tentunya Alfred, dan topeng yang dilepas Batman sering kali bukan cuma topeng batman yang terlihat secara fisik. Berapa kali kita melihat rapuhnya om Bruce  di depan Butlernya ini?

Dan yang terakhir Batman sendiri, siapa yang tidak punya kehidupan rahasia atau sisi gelap?

dan masih seperti Batman:  mungkinkah bagian paling rahasia ini justru adalah siapa yang sebenarnya? entahlah.

Hal-hal manusiawi inilah yang sering digali, dan dimainkan dan menjadi cerita yang sepertinya tidak pernah habis untuk sang cape crusader ini.

Bagaimana dengan Batman : Ninja. Cerita dan konflik apa yang akan dibawa?

**

Batman_Ninja_poster_01

Sebuah eksperimen dari Grodd si Gorilla membuat para penjahat utama Gotham dan bat-family terlempar ke zaman feudal Jepang , sementara Batman sendiri sampai disana dalam hitungan telat dua tahun, dimana  Penguin, Two face, Poison Ivy dan Deathstroke sudah menjadi para daimyo  (lord)  di Jepang, sementara di puncak kasta tertinggi : siapa lagi kalau bukan Sang Joker (dan Harleyquin) ?

Begitulah, cuma Bane yang kebagian menjadi stereotip tertebak: pesumo.

Maka Batman harus berjuang untuk kembali ke zamannya sekaligus menyelamatkan Jepang ditemani  Catwoman, Alfred, Robin, Red Robin, Nightwing, Bahwan Red Hood. mengambil tampilan ala feudal japan,  ( Favorit saya adalah Red Hood yang mengambil bentuk budhist monk dengan penutup kepala). Selain mereka,  Batman juga dibantu oleh Aeon dari klan ninja pemuja Batman yang memegang teguh ramalan bahwa seorang ninja bertopeng kelelawar akan menjadi penyelamat jepang.

Ya, Walau ninja bukan element yang baru dalam kehidupan Batman, tapi dengan mengambil setting zaman feudal, hal ini tetap memberikan kesegaran dan antusiasme baru. Dan bukan cuma itu, apalah artinya sudah di Jepang kalau kita tidak mengunakan…. MECHA ?  lengkap dengan rudal dan teknologi yang melewati zamannya.bahkan mereka juga bisa bergabung menjadi robot superbesar diiringi soundtrack nan super keren!!

GATTAI GATTAI GATTAI

Sementara jagoan kita hadir dengan teknologi ninja  ( dan samurai ) ‘apa adanya’ lengkap dengan kuda-kuda mereka..

**

Seperti yang sudah ditulis diatas, awalnya, saya mengharapkan film yang saya tunggu bahkan melebihi Infinity Wars ini, memberikan jalan cerita yang sedikit berisi dan dalam, kalau bukan penggalian emosi, atau ada misteri, mungkin  sedikit pelintiran sejarah Jepang, namun ternyata, film ini lebih memilih memanjakan mata kita lewat redesign karakter, aksi dan visual, dengan anime style yang TJAKEP LUAR BIASA dan beberapa menit menyadur lukisan ala jepang yang pcyhedelic. Bahkan pertarungan pedang antara Sang Batman dan Joker Nobunaga di atap kastil yang terbakar jauh lebih menarik dibanding tipu muslihat Joker yang terkesan cuma selewat.

Jadi, bisa dikatakan, saya agak kecewa dengan film ini, karena saya terlanjur punya ekspektasi yang tinggi.

Namun,tentunya, sebagai penyuka Batman, jejepangan, termasuk anime dan mecha, tentunya ada bagian diri pribadi saya yang bersorak kegirangan saat menonton film ini.

GATTAI GATTAI GATTAI !!!

Sudahkah saya mempersiapkan kebahagiaan sebelum 40-an?

Konon, usia 40 dianggap usia kematangan seorang pria. Kenapa, karena seharusnya di umur tersebut seorang pria sudah benar-benar mantap dalam tindakan maupun pikiran. Tidak ada lagi pencarian, 40 adalah waktu menikmati keputusan-keputusan dan jalan yang sudah dipilih sebelum memasuki fase tersebut.

Tapi, apakah 40  merupakan jaminan kebahagiaan?

Buat sebagian besar orang, Mungkin. Pasalnya diumur segitu, seharusnya, anak-anak sudah tumbuh menjadi remaja, Kalau  lelaki sudah bisa diajak mancing , teman bongkar motor, nonton bola, atau main playstation edisi sekian. Sementara sebagai ayah dari seorang anak perempuan, ini sudah memasuki tahapan karma : fase dimana melindungi anak perempuan dari serangan remaja lelaki yang sedang berada dalam masa puber.

Sayangnya tidak semua orang bisa begitu, dan tidak semua orang memilih jalan hidup demikian.

Saya,saat ini sudah berada di usia 30, yang tentunya sudah sangat dekat dengan usia 40  ( percayalah, sepuluh tahun itu sebentar), Harusnya ini adalah detik-detik akhir saya berpikir dan menjawab pertanyaan : apakah mimpi-mimpi  saya akan terwujud sebelum 40? apakah saya memang akan menjadi penulis naskah di salah satu film atau serial televisi? atau mungkin, apakah fiksi saya akan best seller ? atau saya akan terjun bebas menjadi pemilik warung kopi dan indomie dengan rak buku kecil sebagai menu tambahannya?

Bagaimanapun perbedaan jalan, apapun mimpi dipilih, tentunya akan ada semacam keinginan, langsung tidak langsung, untuk bahagia sebelum menginjak usia 40. Kalau kita kembali pada definisi bahagia diatas tadi : misalnya nanti saya bekeluarga ataupun paling tidak mengadopsi anak atau mungkin memelihara Naga, apa yang harus saya lakukan agar tetap tenang ketika diri sendiri atau anggota keluarga sakit atau mendapat musibah? atau  tidak terlalu berlarut dalam kesedihan ketika sudah ada yang harus pergi duluan. tetap kuat untuk meninggalkan dan ditinggalkan?

Atau kalau merujuk ke mimpi mimpi bahagia versi saya :  Setelah semuanya terwujud,    ( Amin! ) apa yang harus saya lakukan untuk menjaga agar kebahagiaan itu tetap ada ?

Jujur,  saya belum terlalu memikirkannya.

Jalan bahagia yang saya pikirkan sekarang, sejatinya sungguh sederhana: bagaimana mendapatkan sebuah  laptop baru untuk menunjang mimpi saya sebagai penulis, karena laptop yang sekarang sudah cukup lama menemani saya dan sudah sepantasnya beristirahat.Selain itu, saya juga butuh sebuah kamera professional, untuk meningkatkan kualitas foto saya yang sedang gandrung-gandrungnya memotret jalanan dan ruang publik dan selama ini masih mengandalkan kamera ponsel.

Dan kebetulan, keduanya, adalah hadiah dari kompetisi menulis yang diadakan oleh Commonwealth life yang secara tidak langsung membuat asuransi muncul di kepala saya ( untuk informasi lebih lanjut silahkan berkunjung kesini ), sekaligus  memunculkan pertanyaan dan kemungkinan lain, misalnya :  seberapa besar manfaat asuransi untuk masa depan saya? apakah asuransi jiwa adalah bentuk investasi terbaik? apa saja unit link yang cocok untuk nantinya melindungi saya, keluarga, atau mungkin rumah saya yang berwujud kontainer raksasa suatu hari nanti ?

Sekali lagi, belum hari ini memang, tapi waktu akan terus berjalan,dan kita tidak akan pernah tahu perubahan yang menanti di masa depan. Suatu hari nanti, di ketika yang tidak terlalu lama dari hari ini, mungkin saya akan berpikir : jalan dan pilihan-pilihan apa saja yang saya punya agar  bahagia menjelang  40-an?

Mungkin, asuransi bisa menjadi salah satu jawaban.

 

Saya Menyukai Aroma Mistis Yang Menyelubungi Aroma Karsa

Dari dulu, saya selalu tertarik dengan dunia selain dunia kita, manusia. Misalnya tentang makhluk cerdas dari luar angkasa  yang bisa dijelaskan secara (fiksi) ilmiah,  atau keberadaan mereka yang tak kasat mata yang masih diperdebatkan. Tapi kalau seandainya ditanya, saya mau diculik yang mana, saya akan memilih yang pertama.

Berangkat dari kecintaan  itulah kenapa saya selalu suka buku-bukunya Dee, terutama serial Supernova, yang mengangkat dunia yang saya tuliskan tadi (  juga tentang mimpi, jamur,  dan hal-hal lain diantaranya ). Setelah berakhirnya IEP, saya berpikir, saya tidak akan lagi menikmati sesuatu yang demikian, Sampai Ibu Suri menciptakan sesuatu yang baru :  AROMA KARSA.

Walaupun Awalnya saya tidak begitu yakin, akankah saya menyukai buku ini?  karena buku ini mengambil jalan yang sedikit berbeda:  penciuman, parfum dan dunia disekitarnya, yang notabene bukan daerah yang menarik minat saya. Tapi ternyata, Aroma Karsa lebih dari sekedar cerita tukang parfum dan cinta.

Seperti buku-buku Dee lainnya, ini juga soal pencarian…

***

105403_f

Aroma Karsa,  sejatinya adalah cerita tentang Jati Wesi dan Tanaya Suma, sepasang anak muda dengan penciuman luar biasa yang dibesarkan di dunia berbeda, Jati dibesarkan di Bantar Gebang, di tengah tumpukan sampah yang membuatnya harus mengambil beberapa pekerjaan untuk bertahan hidup, satu diantaranya dalah peracik parfum di toko parfum aspal, sementara Suma dibersarkan dalam kemewahan oleh ibunya : Raras, pemilik Kemara, perusahaan parfum terbesar di Nusantara, yang punya misi tak kalah besar :  mencari bunga legendaris bernama Puspa Karsa yang nantinya akan berkaitan dengan penciuman dan pencarian Jati dan Suma.

Lebih dari separuh awal novel, adalah perkenalan yang mendalam khas Dewi Lestari tentang tokoh-tokohnya, Tentang ambisiusnya Raras dan misteri yang menyelubunginya, tentang hampir sempurnanya Suma dan sekelumit kisah asmaranya,  dan tentang Jati wesi yang keren, jenius dan sixpack.  Juga tentang tokoh-tokoh lain sepeti Khalid, Anung dan lain-lain yang terlihat minor namun menjadi bagian dari puzzle yang arus dipecahkan oleh Jati, Suma, dan juga pembaca untuk menemukan siapa mereka serta apa dan dimana sebenarnya Puspa Karsa? .

Di bagian  ini sangat terlihat hasil ketajaman riset Dee ( yang bahkan sampai ikut kursus meracik parfum demi novel ini ), sehingga tidak heran beragam istilah dunia wewangian, bisnis parfum dan kosmetik, bentang alam Prancis sebagai kota parfum dunia, sampai bahasa Jawa kuno dan sekelumit mitologinya, benar-benar melebur menjadi sebuah racikan wewangian khusus  a la Dewi lestari yang melenakan pembaca.

Namun buat saya pribadi, aroma favorit saya adalah aroma mistis ketika memasuki sepertiga akhir buku. Ketika benih-benih kecil informasi  yang ditanam di awal mulai tumbuh, wangi-wangi mulai semerbak, dan perburuan Puspa Karsa akhirnya benar-benar dilaksanakan. Di titik inilah saya kembali bernostalgia dengan dunia supernova-nya Dee. Saya tersenyum-senyum sendiri, ketika Dee menceritakan dunia astral Gunung Lawu yang terkait dengan sejarah (fiksi) kerajaan Majapahit, yang mau tidak mau membawa saya  kembali kecerita cerita nenek saya, tentang makhluk tak kasat mata yang dikenal dengan bunian, yang punya perkampungan seperti kita manusia, tapi tidak terlihat oleh mata biasa, atau dikenal juga dengan kampung dewa di daerah lain, kampung tak tampak, atau nama-nama lain di tiap daerah di Nusantara yang sepetinya memang memiliki daerah magis seperti ini, dan semuanya memiliki kesamaan : mereka biasanya bermukim di hutan atau gunung. Kurang lebih seperti kaum elf di literatur barat sana, mungkin.

Kembali ke Aroma Karsa, dititik inilah para tokoh : Raras, Jati, Suma juga beberapa tokoh ‘baru’ seperti Lambang, Kapten Jindra dan Iwan, terlibat petualangan seru, penuh misteri dan resiko, yang sayangnya terlalu cepat berakhir. Untunglah, sebagai pengobat,  sang pengarang, memberikan ending yang luar biasa yang memberikan harapan kepada para pembaca (khususnya saya yang protes kenapa bagian pencarian nan seru bin magis ini cuma sepertiga buku? ), kalau ini adalah awal dari semuanya, sesuai judul bab terakhir dari buku ini : GERBANG AWAL.

Maka begitulah, Kalau ada satu aroma lain yang bisa saya endus ketika membaca buku ini maka itu adalah aroma sekuel untuk Aroma Karsa. Semoga ini memang menjadi awal sebuah universe baru, yang tidak kalah keren, magis dan mengguncang nalar seperti Supernova.

 

Ekor cicak yang sudah terpotong akan tumbuh kembali, tapi tidak akan sama seperti sebelumnya.

Lagi-lagi Dia, Cicak sawo matang yang berukuran sedikit lebih besar dibanding cicak lain yang pernah aku temui sebelumnya. Aku bukan ahli cicak, tapi aku cukup yakin kalau ini adalah cicak yang sama. Belakangan sepertinya makhluk ini selalu mengawasiku dimanapun, dan kapanpun. Oke, aku melebih-lebihkan, maksudku paling tidak, ketika aku berada di kostan ini, ketika di luar aku tidak tau pasti. Otak parnoku pernah berpikir, mungkin saja demikian. Tapi kalau kau tahu bahwa kenyataannya sebagian besar hariku cuma aku habiskan di kamar, aku kira pernyataan tadi tidak begitu berlebihan.

Seperti saat ini, aku sedang berada di kamar mandi, dia menunjukkan diri dengan gagah berani, menempel di dinding di depanku. Aku kemudian bergerak, dan dia tidak beranjak, setahuku cicak lain akan  ketakutan kalau sudah begini.

Tapi dia tidak.

Aku kemudian sadar sekaligus takut akan satu hal. Takut kalau-kalau cicak ini sadar satu hal :

Aku sebenarnya takut cicak.

**

Aku masih mengawasinya.

Aku tahu dia takut cicak.

Ayolah, tentu saja aku tahu.

Aku juga tahu pasti apa yang akan di lakukan pria ini selanjutnya :  buru-buru melipat buku bacaan yang hampir selalu menemaninya ketika di closet, mematikan rokok, membersihkan lubang pantat,  kemudian bergegas keluar.

Aku tertawa. Ya, tertawa cicak. Kau tahu kan yang bagaimana?  menjengkelkan memang.

**

Aku memang takut cicak, aku tidak tahu bagaimana awalnya ketakutan ini muncul. Seingatku, sedari kecil aku sudah tidak suka dengan makhluk satu ini. Ya, tidak suka, takut, geli, aku tidak terlalu yakin dengan nama perasaan ini, tapi aku lebih memilih ‘takut’, karena kenyataannya kalau disuruh memindahkan cicak yang sedang nempel di dinding, aku lebih memilih untuk mencuci tumpukan piring di dapur. Sebuah trauma yang belum bisa kujelaskan.

Sampai sekarang pun di usia dimana aku seharusnya sudah menikah, aku akan rela menggeser kursiku, atau menghentikan dulu pekerjaan tulis menulisku kalau makhluk ini muncul. Apalagi belakangan ada cicak berukuran besar yang doyan mengawasiku. Sungguh,aku tidak sombong, aku lebih memilih berurusan dengan moyangnya, sebut saja Naga dan Dinosaurus dibanding harus berhadapan dengan makhluk kecil cerewet ini.

Kau tidak percaya dia cerewet? silahkan dengarkan sendiri.

Mungkin makhluk ini juga yang menjadi penyebab kenapa aku belum menikah sampai sekarang. Bayangkan kalau tiba tiba istri minta tolong soal cicak-cicak di dinding yang diam diam merayap?

Dia muncul lagi di hadapanku, sekarang dengan santainya berjalan diantara koleksi bukuku.

Aku geli sendiri membayangkan, bagaimana kalau dia memang tahu dan melompat ke leherku

dingin, licin

Aku menyalakan rokokku dan keluar dari kamar.

Ah, akhirnya ada alasan untuk beristirahat !

Kau tahu, sebenarnya, aku sudah cukup lelah.

**

Aku sama sekali tidak berniat menganggunya.

Bagaimana mungkin? Aku punya misi lain yang lebih penting.

Tapi, asal tahu saja, ini cukup menggelikan sekaligus mengasikkan. Kau tahulah kehidupan seekor cicak, sama sekali tidak menarik. Tapi apa aku bisa memilih?

Jujur, buatku nyamuk tidak ada di daftar pertama santapan harianku,  tapi sekarang lidah panjangku sudah terbiasa. Lagian, kalau kau masih menunggu hal-hal yang kau suka, paling yang bisa kau makan cuma idealismu itu, cape sendiri,  kemudian mati.

Ah, dan pertama kali ekorku tumbuh lagi itu mengasikkan.

Tapi, tidak seperti mitos yang beredar kalau cicak kerjaannya cuma bersenggama di loteng,  sampai sekarang aku masih belum melakukan hubungan badan dengan seekor cicak betina pun. Terserah kau menganggapku pembohong atau sok suci. Entah kenapa aku belum siap, masih terasa aneh, lagian aku belum mengerti bagaimana menilai cantiknya seekor cicak. Oke, beberapa kali aku tertarik pada mata bulat, tubuh ramping, atau ekor panjang, tapi aku langsung turn off setelah yang dia omongkan adalah soal bagaimana mendapatkan nyamuk dan nyamuk dari hari ke hari.  Padahal, tanpa bermaksud sombong, menurut mereka – teman teman baruku di dinding, aku jenis cicak alfa, bukan cuma karena ukuran, tapi karena aku juga tergolong gagah perkasa dan  pemberani.

Tidak percaya? aku tanya, ada berapa banyak cicak yang kau kenal yang berani mencicipi kopi  ketika manusia didepanku ini lengah, kemudian menghilang tepat saat dia hendak menikmati kopinya lagi?

Aku salah satunya.

Mereka memujiku, sebenarnya mereka tidak tau, aku bukannya berani, aku cuma rindu.

Dan saat rindu, kau akan jadi berani dan lupa dengan semua resiko yang akan kau hadapi.

Tapi sebenarnya tidak juga, aku selalu berhati- hati. Bertaruh nyawa ? itu bodoh, karena kalau kau mati kau tidak akan pernah tahu akan dilahirkan sebagai apa.

Aku berani, karena  aku tahu, karena kalaupun aku ketahuan, dia yang akan ketakutan.

Ya, pengetahuan akan membuatmu berani. Sering kali kita takut, cuma karena kita tidak tahu, itu saja.

Misalnya saja soal masa depan, atau akhirat nanti.

**

Pil itu sudah kutelan, namun sepertinya serangan kali ini luar biasa,

Layar dihadapanku masih kosong, padahal ini sudah satu jam lebih, dan ini bukan sekali dua kali. Ditambah lagi, cicak bangsat itu muncul lagi, berjalan dengan tenang diantara koleksi novelku. Lidahnya keluar masuk seolah mengejekku.

Sialan!

Aku  beranikan diri, balik menatapnya, dan dia masih disana. Matanya kemudian seperti menantangku, bagian di lehernya bergerak. Seperti yang aku katakan tadi, cicak satu ini memang pemberani, sekaligus kurang ajar.

Aku meremuk kotak rokokku yang kosong, berniat melemparnya, tapi entah kenapa, aku mendadak membatalkan niat tersebut.

Cicak itu kemudian bersuara.

Cukup !

Aku mengambil sebuah novel yang cukup tebal, bersiap-siap hendak melibasnya tepat saat pintu kamarku terbuka!

**

Hampir saja!

Aku tidak tau entah berapa kali perempuan itu menyelamatkan nyawaku sedari dulu.

Tapi..

 Tunggu, harusnya dia tidak datang hari ini !

Apa suaminya keluar kota lagi?

Tiba-tiba terdengar suara merdu dari cicak lain, seekor cicak betina yang sedang muncul dari sela loteng. Aku kemudian mendekatinya. Cicak yang satu ini cantik, apalagi keberaniannya untuk menyapaku terlebih dulu adalah nilai tambah tersendiri diri bagiku. Kami pun kemudian duduk di sela loteng yang terbuka, sumber bocor kalau hujan deras menyerang, untungnya, ini jauh dari rak koleksi novel-novel yang biasa aku jelajahi itu.

Aku memandang lelaki yang menangis dibawah sana, yang sedang di peluk erat oleh si perempuan. Sementara, si cicak betina tadi masih heboh, entah berbicara apa. Aku cuma menangkap kata terakhir sebelum dia pergi meninggalkanku.

PE-CUN-DANG

**

Aku memang pecundang. aku tidak tau lagi harus bagaimana, kepalaku sudah tidak tahan dengan semua ini. Aku mengambil botol obat di meja, mengeluarkan semua isinya.

Aku tau pasti saat ini sedang kalap. Sama sepertiku, aku juga tidak tau apa yang harus kulakukan. Apalagi si perempuan sudah tidak ada disana.

Ini diluar dugaanku. Si perempuan membawakan obat baru untuknya,  padahal sudah berusaha menghilangkan stock obatnya. Tidak jauh sebenarnya, aku cuma mendorongnya ( dengan susah payah ) ke belakang lemari,  kemudian menutupinya dengan onggokan sampah-sampah yang berserakan di kamarnya.  Ini bukan tebakan, aku tahu pasti kalau lelaki ini tidak akan mau susah payah mencarinya sampai ke sana.

Aku mulai mengetik. Akhirnya, layar-layar itu terisi. Tidak seperti biasanya, kali ini semua mengalir begitu saja.

Aku tidak tau lagi, mencoba bersuara tapi yang terdengar. Seandainya aku masih punya jari itu, jari yang mengetik kata- kata perpisahan hari itu.

Ah, bodohnya aku !

Aku kemudian melompat dari loteng kamar ke atas rak buku, kemudian melompat lagi tepat ke hadapannya. Tapi, dia cuma menatapku, dan kemudian tetap memasukkan pil-pil itu ke dalam mulutnya, Aku pun kemudian melompat ke tangannya.

Tapi lagi-lagi percuma.

Dia sepertinya sudah tidak takut.

**

Aku melihat kearah cahaya terang didepanku. Awalnya menyilaukan, tapi kemudian cahaya itu perlahan berubah wujud menjadi sebuah kaca ukuran raksasa, lebih seperti TV layar datar berukuran sangat besar, dan dihadapanku sekarang ada wajah cicak..

..Wajahku.

SIAL!

Sepertinya aku tahu, darimana ketakutanku akan makhluk ini berasal.

END

 

DILAN, aku belum suka sama kamu saat liat trailer. Untuk film, baca saja

Saya akui saya adalah anggota sekte yang meragukan kemampuan Iqbal untuk berakting sebagai Dilan di film hasil adaptasi karya ayah Pidi Baiq ini. Lagi-lagi alasannya sama, Dilan di kepala saya sama sekali tidak ada Iqbal-Iqbalnya. Saya tidak bisa menjelaskannya secara detail bagaimana sosok Dilan dikepala saya, tapi yang paling mendekati ketika membaca buku dan mendengar Dilan akan di filmkan, adalah  si Adipati Dolken, lawan main Milea di film Teman Tapi Menikah yang akan tayang dalam waktu dekat.

Apalagi setelah melihat trailer.

Gila. delivery dialog Iqbal segini doank nih ? kosong, ga bernyawa.

Adipati Dolken pasti lebih romantis lebih bandel, lebih NdilanI.

Tapi ternyata, di pembukaaan tulisan ini, saya akan langsung saja nyatakan :  trailer bisa saja salah, dan saya juga.

**

Punya harapan tidak terlalu tinggi malah dengan senang hati siap untuk melihat adaptasi film ini gagal, saya pun menonton film ini setelah melewati penantian cukup lama. Hari pertama penayangan, saya ga kebagian tiket , dan di hari saya menonton yang notabene sudah beberapa hari kemudilan, hampir juga bernasib sama , kalau seseorang mbak-mbak tidak menjual tiketnya kepada saya karena dia ada keperluan mendadak.

Sungguh Iqbal, kamu dan fans kamu memang luar biasa.

**

Dibuka dengan narasi oleh Milea dewasa, yang berarti cukup setia pada buku pertamanya yang bertutur dari sudut pandang Milea, Film ini dilanjutkan dengan adegan pembuka seperti  di trailer dimana Milea pertama kali bertemu dengan Dilan sang peramai. Kemudian cerita mengalir seperti yang ada dibuku. Beberapa momen lucu pun bisa dihadirkan dengan manis : hadiah buku teka-teki silang, tukang pijit, berantem dan seterusnya.

Saya tidak akan banyak membahas cerita, karena sekali lagi, menurut saya film ini cukup setia kepada sumber aslinya. Kalau ada yang bilang, ceritanya terasa hampa, begitu saja, kurang meledak,dan sejenisnya, maka  saya akan membelanya dengan mengatakan : setahu saya, sumber aslinya memang demikian. ini cuma soal Dilan dan Milea dan pahit manis keduanya.

Jadi apa kabar dengan mereka?

**

Vanesha layak mendapat acungan jempol untuk , dia benar benar bisa memainkan milea, cewek pindahan yang tiba tiba ditaksir seorang jagoan sekolah dan panglima geng motor, yang  artinya menambah deretan cowok-cowok yang naksir padanya. Cewek ini buat saya hampir berhasil memerankan semua part Milea :  marah ke Beni, kesal kepada Dilan, manja sama Bunda.dan berbagai macam keimutan lainnya,

Dia adalah Mileaku.

Sementara itu, sebagai Dilan yang manis dan lucu, Iqbal sukses memainkan keduanya, kecuali pas ketawa, mungkin. Kembali ke masalah yang saya bahas di awal, ternyata trailer sengaja atau tidak, menampilkan momen-momen terlemah delivery Iqbal, sementara di filmnya cukup banyak momen-momen dimana mantan personil CJR ini berhasil mendeliver dialognya dengan manis, dan berhasil menajdi Dilan yang ya… bikin klepek-klepek wanita dan bikin iri kaum lelaki yang tiba-tiba merasa bodoh, kenapa dulu tidak secanggih ini ya ngegombalnya?

Misalnya saja ketika mereka berbalasan gombalan di motor, tektok yang manis dan luar biasa, chemistry hebat antara keduanya. so natural. Terlabih lagi, pihak berwenang beberapa kali sengaja menangkap momen-momen senyum manis menjengkelkan si Iqbal ini.

Kalau ada satu hal yang belum didapatkan Iqbal adalah, mungkin sisi badboynya Dilan, mungkin memang karena wajahnya yang terlalu manis, senasib dengan warung bi Eem yang buat saya teralu instagramable untuk tongkrongan makhluk belakang sekolah. Atau memang aslinya begitu?

Tapi satu hal, buat saya, walau dia tidak terlihat bad boy dan jaket jeansnya terlalu bersih, Iqbal mendapat kharisma seorang Dilan sebagai pembaca Dilan, saya mengakui itu. Bagaimana ya menggambarkannya, pokoknya waktu nonton, di beberapa titik saya sempat berpikir, membayangkan Adipati Dolken yang berakting disana. Tapi tidak bisa, ada yang kurang pas, disana memang tempatnya Iqbal. Dolken mungkin lebih bad boy, tapi ada magis yang cuma bisa dikeluarkan oleh cowok yang sedang kuliah di Amerika ini.

Begitulah, akhir kata saya tidak mengatakan Iqbal berhasil muncul sebagai Dilan di kepala saya, tapi disana, di layar bioskop, Iqbal berhasil menjadi Dilan yang smooth dan natural.

Tingkatkan prestasimu di 1991 anak muda !

Sementara  buat filmnya sendiri, secara keseluruhan, Dilan 1990 tidak semenggelikan  apa yang kita  takutkan wahai para pembenci trailernya, namun sayangnya juga tidak sebagus yang diharapkan para pembaca tua yang mungkin mengharapkan film ini menjadi AADC generasi ini.  Apapun itu,  satu hal yang pasti, di 7 hari penayangan saja , film ini sudah di angka dua juta sekian penonton. Maka mungkin saja, Dilan 1990 akan jadi film terlaris tahun ini.

Berat, tapi kita tunggu saja.

 

DIAMOND CUT DIAMOND

Aku adalah seorang kapster di salon milikku sendiri :  DIAMOND, sebuah salon kecil yang berada di sebuah kawasan kost-kostan karyawan dan mahasiswa. Kalau ditanya, sebenarnya aku tidak mau membuka salonku disini, tapi apa daya, daerah ini satu satunya yang cukup dengan kantongku. Untungnya, benar seperti kata orang, selama masih ada usaha, rejeki mah ada aja. Buktinya, paling tidak untuk kebutuhan harianku cukup dengan pengunjung yang kadang tidak seberapa. Ya, walau lain waktu aku juga harus menutup salonku dan nyambi sebagai pengantar galon, atau kerjaan  serabutan lainnya.

Kaum hawa adalah pengunjung utamaku, tidak bisa kukatakan semuanya,karena sejatinya diamond ini juga membuka servis untuk pria, namun, kenyataannya, cuma ada satu orang, ya benar-benar cuma ada satu orang lelaki ( selain pacar dan suami yang cuma menemani ) yang datang ke salonku, namanya Brahma. Ya, saking seringnya kita sampai merasa perlu untuk berkenalan.

Di pertemuan pertama aku tidak percaya lelaki sepetinya akan hadir di salonku :  rambut gondrong, baju yang mendekati kata kumuh, dan sepatu butut, maksudku tanpa mengurangi rasa hormat, aku tidak percaya salon akan muncul dalam prioritasnya, tapi  kemudian aku sadar, kalau semua yang datang ke salon adalah yang rapi, bersih, wangi dengan rambut berkilau, itu sama saja dengan mengatakan kalau  yang ke gym haruslah yang sixpack dan tubuh sempurna, dan yang datang ke tempat ibadah adalah mereka yang sudah benar dan suci. Bukankah seharusnya yang terjadi adalah  sebaliknya?

**

Aku salah. Brahma ternyata memang tidak niat untuk mendapatkan perawatan lebih atau lebih jauh mengganti penampilannya, dia cuma ingin dicuci rambutnya, dan kemudian di pijat kepalanya, dan lama kelamaan aku sadar, yang terakhir inilah sepertinya yang menjadi tujuan utamanya.

“Cape banget ya Mas kerjanya?” tanyaku pada suatu sore saat salonku sudah sepi. Ya, dia hampir selalu datang saat tidak ada pengunjung, pernah sekali ketika ada pengunjung, dia memilih untuk pergi lagi dan datang beberapa waktu kemudian.

Entahlah kenapa.

“Dipijat seperti ini adalah kemewahan untukku”, jawabnya kemudian.

“Sudah dua hari begadang ngerjain tulisan” lanjutnya tanpa kutanya.

Dari percakapan inilah aku tahu apa yang dia lakukan dalam keseharian.

“Ya gitulah mas, namanya juga freelance, kadang ada kadang gak. Dalam kasusku, sedikit kelaparan adalah semacam harga yang harus dibayar untuk kebebasan ini, tuhan maha adil”

Aku tertawa. Itulah salah satunya kenapa aku suka berbincang dengan pemuda yang umurnya tidak jauh berbeda denganku ini, dia selalu punya pandangan menarik soal kehidupan yang dijalaninya, berkeluh kesah sebentar kemudian kembali menyemangati dirinya sendiri. Dan untunglah, menurutnya aku  juga lawan bicara yang menarik. Dia bahkan sempat minta maaf dengan penilaiannya pertama kali. Aku tertawa, dia tidak tahu saja, bagaimana aku menilainya pertama kali. Kita memang terlalu suka menggeneralisir, atau bahkan lebih parah, menjudge hal-hal yang kita tidak mengerti.

Satu kali aku pernah bercerita tentang bagaimana aku tutup salon tiga hari, karena aku harus bekerja panas-panasan di sebuah jalan tol baru.Dia tertawa saat aku berkata mukaku memerah karena panas.

“Karena biasa di ruang tertutup ya Bos”

Jangan heran, memang begitulah lelaki ini, kadang dia memanggilku bos, kadang mas, kadang saban hari dia memangilku kang, aku tidak mengeti, sampai ketika dia sudah terlalu sering muncul ditempatku, aku akhirnya mengerti, paling tidak, aku pikir aku mengerti.

**

Ini semua muncul ketika dia meminta segelas air putih.

Aku tertegun, biasanya setelah mencuci dan pijat kepala, dia akan duduk sejenak dan kemudian mengeluarkan kopi sachetan, dan ditemani air panas yang mengepul dari tekoku, kami akan bercerita tentang banyak hal.

Seperti kali ini, diluar  hujan, dan sepertinya agak lama, momen yang konon berjodoh dengan segelas kopi hitam, tapi  tidak, kali ini Brahma meminta segelas air putih.

Pembicaraan kami juga agak berbeda, Brahma yang kukenal biasanya lebih suka bicara soal politik, atau paling ringan acara tv yang sedang mengudara di tv tabung model lama di salonku.

Tapi Brahma yang sekarang di hadapanku, sepertinya lebih tertarik dengan bagaimana aku memulai bisnis salon kecantikan ini, dan tentunya aku pun bercerita dengan dengan lancar.

Aku bingung, namun aku tetap meladeni dirinya yang ternyata cukup tau soal dunia yang kugeluti ini. Sedikit heran, tapi kubairkan menguap, mungkin hari ini dia tidak dalam mood untuk berbicara  hal hal suram.

**

Tapi kejutan tidak cuma sampai disana,  ada kali lain ketika dia memintaku untuk memotong rambutnya, bukan cuma mencuci dan pijat seperti biasanya. Dia ingin rambutnya di potong seperti salah satu aktor papan atas yang sudah memenangkan beberapa penghargaan atas kiprahnya di dunia perfilman, Aktor yang juga kukagumi.

Ini pertama kalinya, aku sendiri bahkan tidak percaya dia rela memotong rambut gondrong ikalnya tersebut.

Aku tersenyum dengan pihannya, karena memang kuntur wajahnya cocok dengan gaya rambut si actor tersebut, dan kebetulan lagi mereka memang berbagi darah tiumur tengah  yang sama, dan terakhir :  faktor yang paling penting, rambutnya memang  bisa dibentuk sedemikian rupa.

Tapi, kali ini aku merasakan ada yang beda, lelaki di depanku ini,  hari ini sedikit nyinyir. Biasanya dia memang suka bicara, tapi bukan seperti ini. Kali ini dia lebih seperti diva, yang ingin dilayani ekstra.

Ditambah lagi, Setelah aku selesai memotong rambutnya, dia kemudian  berswafoto, dan akhirnya memintaku mengabadikan lagi beberapa foto rambut barunya. Setelah itu tidak ada sesi tambahan, dia cuma mengucapkan terimakasih dan melenggang keluar.

**

Semenjak itu, aku melihatnya sebagai sosok yang berbeda. Mungkin terdengar mengada-ngada, tapi panggilan kang, mas atau bos yang kuterima aku jadikan penanda, dan pembicaraan kami mulai berkembang, makin  menjurus ke arah yang lebih pribadi. Aku mulai tau ternyata dia tidak sekuat yang terlihat, dari lelaki yang memangilku kang ini, aku tau ternyata dia juga suka membicarakan soal fashion dan liburan, juga beberapa parfum yang bahkan aku tidak tau. Sementara  dengan lelaki yang memanggilku bos, aku setuju  kalau lelaki harus tampil fit dan prima,  tapi sepakbola sama sekali bukan untukku. Dan entah kenapa, aku bisa bercerita banak hal juga tentang diriku, bahkan hal-hal yang tidak kuceritakan kepada banyak orang. Misalnya tentang bagaimana istriku meninggalkanku, karena pekerjaan, aku dan masa depan keluarga kami yang belum jelas.

“ Yang sabar bos,”

Lelaki yang terakhir  itu memegang tanganku, aku terkesiap, kemudian melepasnya, dia meminta maaf.

**

Aku sudah bersiap siap tutup, dia datang ketempatku, aku bertanya apakah dia ingin layanan seperti biasa atau tidak, dia menggeleng, dia cuma butuh teman bicara, katanya. Maka aku pun bermaksud membuatkannya kopi, tapi ternyata, dia cuma ingin secangkir teh. Aku mengerti, kemudian kami pun larut, lebih cepat dari teh celup di depan kami.

Sebelum pulang tiba tiba dia ingin cambang, kumis dan jenggot tipisnya dicukur, permintaan yang lagi lagi adalah pertama kali, soalnya karena aku tau brahma bangga sekali dengan penampilan brewokannya  itu.

Aku kemudian merapikan rambut-rambut halus diwajahnya tersebut. Ini merupakan jarak terdekat yang pernah tercipta diantara kami. Dia menatapku, aku meletakkan shaver, dan kemudian aku sadar satu hal, alisnya tak kalah menawan, dan bulu mata lelaki ini sungguh lentik.

**

Apakah semua berubah ?

Aku sempat takut, tapi ternyata tidak demikian.

Hampir satu minggu kemudian, dia datang lagi ke salonku.

“Mas, Kita harus bicara” ucapku, ragu ragu, setelah dia dengan lancar menghangatkan air di teko.

Dia tersenyum, kembali ke sofa.

“Ada apa. kayanya serius amat kang” Jelas aku kaget, aku tidak menyangka dia sesantai ini.

Aku kemudian menceritakan tentang kejadian kejadian antara kami belakangan, aku tidak tau apakah dia tau, pura-pura, atau benar benar tidak tau.

Dia terlihat kaget, tapi kemudian kembali menguasai dirinya. Seperti biasa,  lelaki ini sakit, tapi dia bisa sembuh dengan cepat.

“Aku tidak tau , sungguh, tapi aku minta maaf, aku tidak menyangka mereka akan melakukan itu”

“Jadi, semua itu diluar kesadaranmu?” Aku memastikan

”Tidak, tidak ada yang namanya di luar kesadaran, kalaupun itu bukan aku, aku tau pasti mereka melakukannya dengan sadar”

Aku menyesap kopiku, kemudian memandangnya serius, aku masih tidak percaya akan mengatakan hal ini.

“Bilang kemereka, aku sudah punya pacar, penyanyi dangdut, namanya Putri”

Aku memberi penekanan pada kata terakhir yang aku ucapkan.

Lelaki di depanku tersenyum. “ Baiklah, akan kusampaikan’

Dia menyesap kopinya ” Jadi, sepertinya aku juga harus mundur dan tau diri”

lanjutnya kemudian.
END