Ekor cicak yang sudah terpotong akan tumbuh kembali, tapi tidak akan sama seperti sebelumnya.

Lagi-lagi Dia, Cicak sawo matang yang berukuran sedikit lebih besar dibanding cicak lain yang pernah aku temui sebelumnya. Aku bukan ahli cicak, tapi aku cukup yakin kalau ini adalah cicak yang sama. Belakangan sepertinya makhluk ini selalu mengawasiku dimanapun, dan kapanpun. Oke, aku melebih-lebihkan, maksudku paling tidak, ketika aku berada di kostan ini, ketika di luar aku tidak tau pasti. Otak parnoku pernah berpikir, mungkin saja demikian. Tapi kalau kau tahu bahwa kenyataannya sebagian besar hariku cuma aku habiskan di kamar, aku kira pernyataan tadi tidak begitu berlebihan.

Seperti saat ini, aku sedang berada di kamar mandi, dia menunjukkan diri dengan gagah berani, menempel di dinding di depanku. Aku kemudian bergerak, dan dia tidak beranjak, setahuku cicak lain akan  ketakutan kalau sudah begini.

Tapi dia tidak.

Aku kemudian sadar sekaligus takut akan satu hal. Takut kalau-kalau cicak ini sadar satu hal :

Aku sebenarnya takut cicak.

**

Aku masih mengawasinya.

Aku tahu dia takut cicak.

Ayolah, tentu saja aku tahu.

Aku juga tahu pasti apa yang akan di lakukan pria ini selanjutnya :  buru-buru melipat buku bacaan yang hampir selalu menemaninya ketika di closet, mematikan rokok, membersihkan lubang pantat,  kemudian bergegas keluar.

Aku tertawa. Ya, tertawa cicak. Kau tahu kan yang bagaimana?  menjengkelkan memang.

**

Aku memang takut cicak, aku tidak tahu bagaimana awalnya ketakutan ini muncul. Seingatku, sedari kecil aku sudah tidak suka dengan makhluk satu ini. Ya, tidak suka, takut, geli, aku tidak terlalu yakin dengan nama perasaan ini, tapi aku lebih memilih ‘takut’, karena kenyataannya kalau disuruh memindahkan cicak yang sedang nempel di dinding, aku lebih memilih untuk mencuci tumpukan piring di dapur. Sebuah trauma yang belum bisa kujelaskan.

Sampai sekarang pun di usia dimana aku seharusnya sudah menikah, aku akan rela menggeser kursiku, atau menghentikan dulu pekerjaan tulis menulisku kalau makhluk ini muncul. Apalagi belakangan ada cicak berukuran besar yang doyan mengawasiku. Sungguh,aku tidak sombong, aku lebih memilih berurusan dengan moyangnya, sebut saja Naga dan Dinosaurus dibanding harus berhadapan dengan makhluk kecil cerewet ini.

Kau tidak percaya dia cerewet? silahkan dengarkan sendiri.

Mungkin makhluk ini juga yang menjadi penyebab kenapa aku belum menikah sampai sekarang. Bayangkan kalau tiba tiba istri minta tolong soal cicak-cicak di dinding yang diam diam merayap?

Dia muncul lagi di hadapanku, sekarang dengan santainya berjalan diantara koleksi bukuku.

Aku geli sendiri membayangkan, bagaimana kalau dia memang tahu dan melompat ke leherku

dingin, licin

Aku menyalakan rokokku dan keluar dari kamar.

Ah, akhirnya ada alasan untuk beristirahat !

Kau tahu, sebenarnya, aku sudah cukup lelah.

**

Aku sama sekali tidak berniat menganggunya.

Bagaimana mungkin? Aku punya misi lain yang lebih penting.

Tapi, asal tahu saja, ini cukup menggelikan sekaligus mengasikkan. Kau tahulah kehidupan seekor cicak, sama sekali tidak menarik. Tapi apa aku bisa memilih?

Jujur, buatku nyamuk tidak ada di daftar pertama santapan harianku,  tapi sekarang lidah panjangku sudah terbiasa. Lagian, kalau kau masih menunggu hal-hal yang kau suka, paling yang bisa kau makan cuma idealismu itu, cape sendiri,  kemudian mati.

Ah, dan pertama kali ekorku tumbuh lagi itu mengasikkan.

Tapi, tidak seperti mitos yang beredar kalau cicak kerjaannya cuma bersenggama di loteng,  sampai sekarang aku masih belum melakukan hubungan badan dengan seekor cicak betina pun. Terserah kau menganggapku pembohong atau sok suci. Entah kenapa aku belum siap, masih terasa aneh, lagian aku belum mengerti bagaimana menilai cantiknya seekor cicak. Oke, beberapa kali aku tertarik pada mata bulat, tubuh ramping, atau ekor panjang, tapi aku langsung turn off setelah yang dia omongkan adalah soal bagaimana mendapatkan nyamuk dan nyamuk dari hari ke hari.  Padahal, tanpa bermaksud sombong, menurut mereka – teman teman baruku di dinding, aku jenis cicak alfa, bukan cuma karena ukuran, tapi karena aku juga tergolong gagah perkasa dan  pemberani.

Tidak percaya? aku tanya, ada berapa banyak cicak yang kau kenal yang berani mencicipi kopi  ketika manusia didepanku ini lengah, kemudian menghilang tepat saat dia hendak menikmati kopinya lagi?

Aku salah satunya.

Mereka memujiku, sebenarnya mereka tidak tau, aku bukannya berani, aku cuma rindu.

Dan saat rindu, kau akan jadi berani dan lupa dengan semua resiko yang akan kau hadapi.

Tapi sebenarnya tidak juga, aku selalu berhati- hati. Bertaruh nyawa ? itu bodoh, karena kalau kau mati kau tidak akan pernah tahu akan dilahirkan sebagai apa.

Aku berani, karena  aku tahu, karena kalaupun aku ketahuan, dia yang akan ketakutan.

Ya, pengetahuan akan membuatmu berani. Sering kali kita takut, cuma karena kita tidak tahu, itu saja.

Misalnya saja soal masa depan, atau akhirat nanti.

**

Pil itu sudah kutelan, namun sepertinya serangan kali ini luar biasa,

Layar dihadapanku masih kosong, padahal ini sudah satu jam lebih, dan ini bukan sekali dua kali. Ditambah lagi, cicak bangsat itu muncul lagi, berjalan dengan tenang diantara koleksi novelku. Lidahnya keluar masuk seolah mengejekku.

Sialan!

Aku  beranikan diri, balik menatapnya, dan dia masih disana. Matanya kemudian seperti menantangku, bagian di lehernya bergerak. Seperti yang aku katakan tadi, cicak satu ini memang pemberani, sekaligus kurang ajar.

Aku meremuk kotak rokokku yang kosong, berniat melemparnya, tapi entah kenapa, aku mendadak membatalkan niat tersebut.

Cicak itu kemudian bersuara.

Cukup !

Aku mengambil sebuah novel yang cukup tebal, bersiap-siap hendak melibasnya tepat saat pintu kamarku terbuka!

**

Hampir saja!

Aku tidak tau entah berapa kali perempuan itu menyelamatkan nyawaku sedari dulu.

Tapi..

 Tunggu, harusnya dia tidak datang hari ini !

Apa suaminya keluar kota lagi?

Tiba-tiba terdengar suara merdu dari cicak lain, seekor cicak betina yang sedang muncul dari sela loteng. Aku kemudian mendekatinya. Cicak yang satu ini cantik, apalagi keberaniannya untuk menyapaku terlebih dulu adalah nilai tambah tersendiri diri bagiku. Kami pun kemudian duduk di sela loteng yang terbuka, sumber bocor kalau hujan deras menyerang, untungnya, ini jauh dari rak koleksi novel-novel yang biasa aku jelajahi itu.

Aku memandang lelaki yang menangis dibawah sana, yang sedang di peluk erat oleh si perempuan. Sementara, si cicak betina tadi masih heboh, entah berbicara apa. Aku cuma menangkap kata terakhir sebelum dia pergi meninggalkanku.

PE-CUN-DANG

**

Aku memang pecundang. aku tidak tau lagi harus bagaimana, kepalaku sudah tidak tahan dengan semua ini. Aku mengambil botol obat di meja, mengeluarkan semua isinya.

Aku tau pasti saat ini sedang kalap. Sama sepertiku, aku juga tidak tau apa yang harus kulakukan. Apalagi si perempuan sudah tidak ada disana.

Ini diluar dugaanku. Si perempuan membawakan obat baru untuknya,  padahal sudah berusaha menghilangkan stock obatnya. Tidak jauh sebenarnya, aku cuma mendorongnya ( dengan susah payah ) ke belakang lemari,  kemudian menutupinya dengan onggokan sampah-sampah yang berserakan di kamarnya.  Ini bukan tebakan, aku tahu pasti kalau lelaki ini tidak akan mau susah payah mencarinya sampai ke sana.

Aku mulai mengetik. Akhirnya, layar-layar itu terisi. Tidak seperti biasanya, kali ini semua mengalir begitu saja.

Aku tidak tau lagi, mencoba bersuara tapi yang terdengar. Seandainya aku masih punya jari itu, jari yang mengetik kata- kata perpisahan hari itu.

Ah, bodohnya aku !

Aku kemudian melompat dari loteng kamar ke atas rak buku, kemudian melompat lagi tepat ke hadapannya. Tapi, dia cuma menatapku, dan kemudian tetap memasukkan pil-pil itu ke dalam mulutnya, Aku pun kemudian melompat ke tangannya.

Tapi lagi-lagi percuma.

Dia sepertinya sudah tidak takut.

**

Aku melihat kearah cahaya terang didepanku. Awalnya menyilaukan, tapi kemudian cahaya itu perlahan berubah wujud menjadi sebuah kaca ukuran raksasa, lebih seperti TV layar datar berukuran sangat besar, dan dihadapanku sekarang ada wajah cicak..

..Wajahku.

SIAL!

Sepertinya aku tahu, darimana ketakutanku akan makhluk ini berasal.

END

 

Advertisements

YANG TIDAK DICERITAKAN TEMANKU

Aku baru menempati kamar ini beberapa hari. Hasil rekomendasi salah satu temanku di kampus, tepatnya mungkin, satu satunya temanku. Jadi kamar ini sebenarnya bekas kamarnya dulu. Sekarang makhluk ini sudah pindah kostan ngikut kakaknya. Sebenarnya kost-kostan ini agak jauh dari kampusku, kalau memakai kendaraan harus memutar, tapi untunglah, ada gang-gang kecil yang baru aku temukan beberapa hari yang lalu, yang bisa mempersingkat perjalananku ke kampus.

kost- kostan ini terbilang lumayan bagus, apalagi untuk fasilitas dengan harga yang berada di bawah rata-rata kostan mahasiwa lainnya di sekitar sini.  Cuma masalah yang tidak diceritakan temanku. Sebenarnya ini lebih ke pribadi, mungkin penghuni lain tidak mempermasalahkan hal ini, apalagi temanku yang merekomendasikan ini. Masalh itu adalah  pemilik  kost nya yang kelewat rajin berkunjung ke kostan, satu lagi, orang sekitar yang kelewat ramah,

Aku pikir, cuma itu masalahnya, ternyata …

**

Temanku tidak mengatakan tentang hal ini, yah, seperti sudah kubilang, mungkin menurutnya ini bukan masalah. Aku bukanlah seorang yang cepat akrab dengan orang lain, dan orang orang yang cepat akrab denganku membuatku muak. Maksudku kenapa mereka bisa seakrab itu? kenapa kami harus sedekat itu? apa keuntungan buat mereka?

Aku sedang mencuci piring dan gelas di dapur bersama, sebuah dapur kecil di sebelah tangga tepat di bawah kamarku, dan dan tepat di sebelah kamar lelaki ini saat dia dengan santai dan senyum menjulurkan tangan besarnya kepadaku.

Aku memberi kode bahwa aku sedang mencuci gelas, yang artinya tanganku basah.

Dia masih tersenyum.

“Ga apa-apa, santai”

Aku kemudian terpaksa mengelurkan tanganku. Dia menyebutkan namanya, dan aku akhinya menyebutkan namaku dengan malas.

Detik selanjutnya aku  kemudian naik ke tangga, meninggalkannya.

“Sok akrab”

Gumamku di dalam hati

**

Lelaki itu terlihat sibuk dengan mesin tiknya, ada sisa rokok dan kopi di mejanya.

Tentu saja aku bisa melihatnya, pintu kamarnya terbuka lebar, seperti biasanya. Sekedar informasi, selain pintu utama, yang seperti pintu normal lainnya, dia juga sudah membuat sebuah pintu lain serupa pintu-pintu di saloon di film-film koboi.

Aneh.

Aku berjalan, berusaha, menghindari, tapi  kemudian memanggilku.

“Kemana Bung ?”

Bung? aku tidak tau dia lahir tahun berapa, walau wajahnya jelas terlihat jauh lebih tua dibanding denganku, tapi menurutku, tetap saja penggilan bung sudah tidak cocok lagi. Maksudnya apa?

“Keluar, bentar” ucapku dingin

“Baiklah, hati hati” ucapnya dengan nada hangat seperti biasa.

Aku tidak menjawab dan dia kembali sibuk dengan ketikannya.

**

“Ada apa dengan orang itu?” Tanyaku ketika kami duduk di kantin kampus, menyantap makan siang kami

“Aku pikir tidak ada yang salah, dia punya banyak teman, sebentar lagi kau akan lihat kalau..”

“Apa itu tidak mengganggumu?” potongku kemudian.

“Terkadang” jawab temanku singkat,

“Tapi bagaimana mungkin aku berkata itu mengganggu saat diajak gabung dan kemudian satu atau dua botol minuman bisa kunikmati dengan gratis?”

“Ayolah. santai” lanjutnya.

Aku cuma bisa menggeleng.

Untungnya aku sudah berteman dengangan makhluk ini semenjak kecil, makanya pembawannya, sikapnya, gayanya, tidak mengangguku. Seandainya aku baru kenal, jelas, aku tidak akan …

“Hai, sorry, boleh kenalan?” ujar seorang gadis yang tiba-tiba mendekat kemudian menyebutkan namaku

Aku heran, darimana dia bisa tau namaku, dan yang lebih mengherankan  kalau dia sudah tau, buat apa kenalan?

“Oh, boleh silahkan duduk dulu’

Temanku kemudian sibuk sendiri.

Menyambung yang aku katakan tadi, kalau aku baru kenal mahluk ini sekarang, mugkin aku tidak punya teman sama sekali.

**

Untunglah,  kali ini lelaki di kostanku ini sepertinya sedang sibuk, jadi aku tidak perlu terlibat basa basi busuk seperti biasanya. Saat ini dia terlihat sedang membersihkan akuarium kecilnya di westafel.

“Dari mana?”

Aku kaget

“Kampus” jawabku seperti biasa sambil terus berjalan ke lantai atas

‘Nanti malam teman-teman mau maen kartu,mau ikut?”

“Terimakasih, aku ada tugas ”

**

Seperti yang kukatakan di awal, ada hal-hal yang sepertinya lupa disampaikan temanku kepadaku tentang kost-kostan ini, atau mungkin dia tidak mengalaminya, atau mungkin tidak mau membicarakannya.

Mataku masih melek, kehebohan main kartu di kamar bawah membuatku tidak konsentrasi untuk membaca buku, sementara besok buku ini harus dikembalikan, karena itu aku menyelesaikannya malam ini, ketika keadaan sudah terbilang sepi. Aku yakin aku bakal menyelesaikannya kalau tidak ada gangguan yang membuat bulu kudukku berdiri.

percaya atau tidak, aku mendengar suara tangisan lirih.

Terisak,persis suara wanita yang tengah menangis.

Sial.

Aku melempar bukuku, dan  langsung menutup tubuh dengan selimut

**

awalnya aku ingin menceritakan ini kepada temanku, tapi setelah aku pikir ulang, aku tidak jadi menceritakannya. Banyak alasan tentunya.

“Gimana, nyaman?” tanyanya, setelah aku resmi satu minggu di mantan kosannya tersebut

“Ya, begitulah” Jawabku

“Warung depan apa kabar?” lanjutnya kemudian

“Ga tau, aku ga pernah ke warung depan”

Dia mengangguk paham.

“Kalau sama penghuni kos cewek di sebelah udah kenalan?”

“Hah,kostan cewek?”

Jangankan kostan cewek, sesama penghuni kostan saja aku belum berkenalan…..kalau mereka tidak datang duluan

“Main donk kesana, manis manis semua”

Bertambah lagi hal yang dia belum ceritakan:  kos cewek disebelah, dan aku sama sekali tidak tahu itu.

Ah, apa sih yang aku tau?

Temanku ini berhenti sejenak, kemudian menatapku.

“Kamu masih normal kan?”

Aku tidak menjawab pertanyaan bodohnya itu, karena ada hal lain yang berkelebat dikepalaku.

Fakta baru ini,  paling tidak menjelaskan satu hal.

**

Makhluk menyebalkan itu disana lagi duduk di tangga menuju kamarku, sepertinya dia tidak punya kerjaan selain menegur dan menyapa orang pulang kuliah. Tapi untunglah, kali ini dia sibuk dengan anak kamar atas lain, satu angkatan denganku, beda jurusan, dan aku tidak tau namanya.

**

Malamnya, ada lagi keriuhan  lagi. Malam ini lelaki tersebut melakukan ritual bakar membakar daging di teras kosan yang cukup besar, kali ini dengan teman-teman yang lain yang belum pernah aku lihat. Dia mengenalkanku, katanya ini rekanan sewaktu kuliah. Terserahlah, aku tidak begitu tertarik.

Aku melenggang ke atas, kemudian menghempaskan badanku. Aku menyangga kepalaku dengan tangan, pikiran ini kembali menyerangku. perasaan ini…

**

Tengah malam aku terbangun. Suasana sudah sepi, sepertinya makhluk – makhluk di kamar bawah sudah bubar.

Dan ada suara isak tangis lagi,

Awalnya aku mencoba mengalahkan ketakutanku, mengingat perkataan temanku kalau di sebelah ada kost-kostan cewek, dan aku tidak perlu takut.

Tapi kali ini berbeda, kali ini berat, isaknya lebih mengerikan, karena ada suara suara mengumam seperti memohon sesuatu namun tidak jelas, dan aku juga tidak punya keinginan dan keberanian juga untuk mendengarkannya dengan seksama.

Bangsat.

Aku menarik selimut, memejamkan mata, tapi aku tidak bisa tertidur, wajar saja, aku baru saja bangun

Badanku menggigil,

Sial. aku lupa jendelaku belum kututup, apalagi musim hujan seperti ini.

Tapi kubiarkan, tidak lucu kalau tiba-tiba pemilik suara itu muncul di jendelaku.

Pokoknya, besok harus kuceritakan pada temanku.

Harus !

**

“Akhirnya kau mendengarnya juga,” Dia tertawa.

Aku heran.

“Sebenarnya aku tidak ingin menceritkan hal ini, tapi daripada kamu pindah atau mati penasaran?”

dan kemudian dia pun menceritakan hal yang agak sulit untuk kupercaya.

“Serius?”

“Yap. demikian lah adanya” balasnya tenang

“Bangsat, kenapa kau tidak pernah menceritakannya?”

“karena kadang ada hal hal yang memang ga harus diungkapkan, kadangkala untuk melindungi orang lain, kadang kala melindungi diri kita sendiri” balasnya sok bijak

Tapi aku mengganguk-angguk setuju. Aku tidak bisa membantah soal ini.

**

Dibawah ada keramaian lagi, sepertinya seorang temannya membawa boardgame entah apa, permainan yang  pokoknya menyebabkan keributan yang tak kalah dahsyat dibanding permainan kartu atau genjreng-genjreng gitar seperti sebelumnya. Tapi, apapun itu, sepeti biasanya, kehebohan itu bisa menyembunyikan suara tangisanku saat aku merasa kesepian, sendirian seperti saat ini. Keadaan dimana aku harus memakan kebohonganku sendiri, aku harus aku butuh teman.  Ternyata ketika ada hal halyang tidak harus diceritakan, sebaliknya, ada juga hal-hal yang harus diceritakan dan tidak bisa disimpan, sendirian.

 

Kuda Terbang

Kuda terbang, adalah nama daerah yang berada di bawah jalan layang terbesar di kota ini, yang punya beberapa jalur yang memang sering meragukan pengendara, terutama mereka yang baru menginjakkan gas di kota ini. Saat ini kawasan teduh karena terlindung oleh beton raksasa ini menjelma menjadi surganya para pedagang kecil.  Asal nama ‘kuda terbang’ sendiri ada beberapa versi, yang pertama adalah dulu sekali ada sebuah toko besar yang bernama ‘koeda terbang’ di daerah ini, toko ini menjadi satu satunya tempat belanja.Apapun, mulai dari sandal jepit sampai garam. Yang kedua kenapa nama daerah ini menjadi kuda terbang adalah karena dulu, lebih tua dari toko tersebut, pernah ada patung kuda terbang besar yang menjadi penanda daerah ini, namun patung itu dirobohkan, karena dianggap puja-pujaan terhadap setan oleh kaum ekstrimis agama kala itu. Kemudian,  ada juga sumber lain yang mengatakan bahwa daerah ini dinamakan kuda terbang, karena ada sebuah minuman keras terkenal hasil racikan lokal yang bergambar kuda terbang, padahal mungkin yang terjadi justru sebaliknya, karena ini terkenal dengan kuda terbang, produsen minuman tersebut membuat nama yang sama, entahlah, sementara yang terakhir adalah yang paling sedikit dipercaya sekaligus yang paling fantastis, adalah tentang keberadaan kuda terbang yang semenjak zaman dahulu kala sering terlihat di daerah sini.  Sempat beberapa hari yang lalu seseorang mengaku melihat kuda terbang tersebut  namun tidak ada yang percaya,karena di tangannya sedang ada botol kuda terbang yang konon memang jago membuat orang kecanduan meracau.Ada pula yang mengatakan kalau kuda terbang itu akan menampakkan diri pada mereka yang sudah melakukan kebaikan kebaikan, dan akan membalasnya dengan….. kotorannya yang konon adalah emas. tapi yang pasti apapun itu yang paling terkenal adalah kawasan hiburan malam di bawah jembatan tersebut, maka kalau sudah ada yang mengataan ke ‘kuda terbang’, biasanya itu artinya, mereka ingin melepaskan roh kuda dalam diri untuk meringkik ke angkasa. Padahal sejatinya,masih banyak pedagang lain di bawah jalan layang ini, misalnya pedagang makanan, minuman, aksesoris handphone dan juga pedagang DVD bajakan, dan satu diantaranya adalah :  Malik.

Malik, adalah seorang penjual DVD bajakan terlaris di daerah bawah jalan layang tersebut, dan rekor penjualannya terbanyak adalah dari DVD dewasa yang entah dia dapat dari mana, tapi memang beredar dari mulut ke mulut kalau pilihan DVD Malik adalah yang terbaik. Larisnya DVD malik menjadi bukti bahwa majunya konten digital, bukan berarti manusia melupakan keindahan masa lalu, buktinya masih ada saja golongan golongan yang mencari DVD, diantara murahnya akses untuk mendapatkan konten seperti ini.  Mungkin dalam bermaksiat, masih ada juga yang butuh nostalgia, betapa indahnya masa-masa susah nonton DVD waktu akses internet masih belum semudah ini, atau mungkin memang sekedar malas untuk mengunduh. Celaka sudah ! Namun, walaupun kaya dengan DVD yang katanya merusak moral bangsa tersebut Malik tidak pernah tergoda untuk melakukan praktek langsung di kawasan yang tidak jauh dari lapaknya tersebut,  konon banyak yang percaya kalau Malik tengah memakai prinsip kalau pengedar tidak akan memakai barang haramnya sendiri. Wallahualam

Sementara itu, rekan se profesinya, Ridwan, yang berkonsentrasi pada DVD anak anak dan agama justru langganan di tempat hiburan tersebut. Ridwan memang menggabungkan teori dan praktek ( beberapa kali dia bahkan meminjam koleksi dari Malik untuk memperdalam ilmunya ) bahkan menurut cerita yang beredar diantara para pedagang DVD bajakan ( dan juga pedagang lain di sekitar sana)  Selain itu ada gosip lain yang mengatakan kalau Ridwan juga punya hubungan khusus  dengan beberapa wanita yang sering membeli DVD bajakan ketempatnya, walau tidak begitu banyak yang percaya, karena kalau memang Ridwan punya akses gratisan, kenapa sering kali hidung belangnya ( hidungnya benar benar belang, ada bagian yang lebih putih dibanding bagian lain dihidung Ridwan, konon ini adalah bekas plester yang sering dia pakai buat gaya-gayaan)  masih sering terlihat di kuda terbang?

**

Malam ini, lagi-lagi Malik diajak Ridwan ke kuda terbang. Tapi bedanya, kali ini Malik menyanggupi, Ridwan pun kaget, tidak siap menerima perbuahan ini. Padahal, ketika mengajak kali ini, dia tidak lagi berharap disetujui,cuma menjalani rutinitas, semacam sudah candu dengan penolakan. Selidik punya selidik dari Pak Koi penjual ikan hias, ternyata Malik kedatangan pembeli, seorang gadis cantik berhijab,dengan kaos dan celana superketat, yang sepertinya  berhasil mengusik hormon Malik.

“Tapi gue ga punya cukup uang Wan!”

“Bohong lo, mana mungkin pedagang selaris lu tidak punya uang”

“Ada, tapi tidak banyak, gue dengar-dengar disana mahal”

Ridwan tertawa “Udah, ga usah khawatir, lo bawa  berapa yang lu punya, kurang urusan gue”

Malik masih ragu, itu yang sebenarnya terjadi. Karena, semenjak mendapat telpon dari ibunya di kampung kalau kekasihnya sudah meninggalkannya dengan lelaki kaya, Malik punya tabungan cukup  banyak, karena dia tidak perlu lagi meriusaukan  pulsa dan oleh-oleh berupa baju tas dan sandal kw untuk kekasihnya itu kala Malik mudik.

**

Malik pergi ke sebuah mushalla kecil di sebelah wc umum yang mungkin kadang mereka yang masuk akan salah menebak  yang mana adalah yang mana. Setelah mengambil wudhu dan menguatkan diri sendiri kalau airnya bersih,  Malik pun shalat dua rakaat.

“Tuhan, kau tau selama ini aku sudah menahan untuk tidak mengerjakan laranganmu ya tuhan, bahkan aku tidak pernah menjamah si Jeni yang sekarang sudah meninggalkanku”

Dia melihat kiri kanan, takut kalau ada yang mau masuk, tapi sepertinya tidak ada, dia pun berdoa lagi dengan suara yang lumayan keras.

“Tapi hari ini, sepertinya aku sudah tidak tahan tuhan, aku  tau kau tau aku belum pernah menyentuh Jeni, tapi siapa yang tau tuhan, maksudku, selain engkau,apa yang dia lakukan di belakangku, sekarang saja dia sudah..

tiba-tiba Malik merasa doanya sudah rerlalu melebar, bahkan dari memohon sudah sampai kepada ghibah dan mungkin fitnah…

“Jadi,singkatnya  begini tuhan,  kalau malam ini kau beri aku ruang untuk  maksiat, maka aku mohon berikan juga aku ruang untuk tobat”

maksiat-taubat

Tiba tiba dia percaya kalau doanya sudah benar, karena dia pernah baca di salah satu buku gratis di gerobak kopi uda rama yang mangkal tidak jauh dari tempatnya: kalau berima seperi diatas,maksiat-taubat,  dia sudah melangkah ke jalan yang benar.

Benar atau salah, entahlah.

**

“Kalau buat pemula seperti lo, gue saranain sama si Lulu saja, dia bakal bikin kecanduan, kalau gue sih udah bosan ama yang begitu, gue langganan ama yang sudah pengalaman, macam si Niken, lo tau si Niken kan ?” Sepanjang jalan tadi, Ridwan memberikan pengarahan kepada Malik.

Malik mengangguk, karena Niken juga salah satu langganan film-film Hollywood bajakan di lapaknya..

Kemudian dari kantong kresek yang dari tadi dipegangnya, Ridwan mengeluarkan dia membawa sebotol  jamu, “Nah lo minum ini dah, biar gak rugi, biar gak banyak ngobrol, langsung hajar!“

Sementara Malik minum, seorang perempuan mendatangi Ridwan,

“Nah, silahkan lo pilih sendiri dah, gue masuk duluan, kalau butuh apa-apa  klo tanya saja si Ridwan kemana, pasti mereka tahu”

Namun tidak lama, Malik kemudian keluar lagi, ada bau yang tidak cocok dengan hidungnya, ya, dia tau memang area bawah jembatan itu bau, tapi ini berbeda, bukan busuk , harum malah, tapi harum yang dia tidak biasa. Dia kemudian keluar, tepat saat seorang perempuan lain menyapanya dengan logat daerah yang kental,  menawarkan dirinya, dan Malik lagi lagi cuma tersenyum.

Tak jauh dari tempat Malik berdiri, ada sebuah becak yang sedang parkir, pemiliknya terlihat sedang lelap, Malik tau siapa orang itu, dia , dia memang suka membawa perempuan dari sini,atau dari luar ke sini, kadang sekali dua kali dia mendapar bayaran dalam bentuk lain. Benar tidaknya Malik tidak tahu,  Malik mendapat cerita dari Johan, seorang tukang ojek yang cuma sesekali juga mangkal di kuda terbang,

“Psst!”

tiba-tiba terdengar suara dari sebuah sudut lain.

Awalnya Malik sedikit takut, apalagi suara itu berasal dari sebauh sisi gelap kuda terbang, namun ketika pemilik suara muncul. malik sedikit tenang, ternyata cukup perempuan itu cukup cantik,dia cuma kumal dan berantakan, dan tentunya jauh dari kata dandan.

“ Lo mau masuk kesana?”

Malik menggeleng.

“Pertama kali?’”

Mulut malik terkunci, tapi tangan dan kakinya bicara.

“Disono mahal, ama gue aja, gue diskon”

Malik kaget bercampur heran

“Maksudnya apa nih?”

“Gue  kasih servis lebih dengan bayaran kurang,”

Malik masih diam.

“Lo mau begini kan?” perempuan itu memberi kode menggunakan jari-jarinya.

Malik kemudian mengeluarkan dompetnya,memperlihatkan uang didalamnya

“Ga apalah, gue lagi butuh duit, belum makan dari tadi pagi…”

Malik  diam lagi.

“Begini,kalau lo mau,  ikut gue sebentar, ada urusan yang harus gue selesein dulu”

Malik membakar kreteknya, dia pun kemudian mengikuti langkah si perempuan yang berjalan ke arah bawah dari kuda terbang, menuju tumpukan rumah kardus dan triplek yang digunakan mereka yang kurang beruntung sebagai tempat hunian.

“Anak siapa?’ tanya Malik ketika melihat si perempuan kelaur dari salah satu rumah kardus sambil menggendong balita.

“Anak teman gue , emaknya pulang malam, kasian juga dia, gue boleh minta duit dulu ga buat beli susu?, nanti lo tinggal bayar kekurangannya”

Malik kaget tiba tiba ditodong demikian, tapi entah kenapa dia tetap mengeluarkan dompetnya dan menarik sejumlah uang

“Gue  titip bentar  ga apa kan?” Si perempuan menyerahkan bayinya

Malik menarik uanganya kembali

“Maaf,  biar  gue deh yang pergi”

“Ga usah, ngerepotin”

“Justru kalau lo  pergi  gue yang  repot,  lagian gue kaga ngarti  gimana ngurus  ini anak, lo tunggu disini aja”

Baru beberapa langkah, tiba tiba Malik ingat sesuatu.

 “Mereknya?”

Wanita tersebut kemudian menyebutkan merek susunya,

**

Malik masuk sebuah mini market yang tidak jauh dari kuda terbang. Setelah berputar putar mencari susu, akhirnya Malik  pun sukses  menuju kasir.

Malik kaget, ternyata gadis yang tadi datang ke lapaknya ada disana. Dia tersenyum, ramah sekali, Malik gugup. Berbeda dengan tadi siang, malam ini dia begitu teduh, Sama sama bercahaya, tapi siang tadi dia seperti matahari, malam ini bak rembulan.

“Abang yang jual DVD kan?”

Jantungnya berdetak kencang, gadis ini mengingatnya.Dia cuma mengangguk, sambil tersenyum kecil.

“Buat anaknya bang?”

“Bukan, buat anaknya teman”

Si gadis mengangguk kemudian tersenyum. Dan entah kenapa, senyumnya ini memberikan kehangatan yang berbeda kepada Malik, sesuatu yang pernah di dapat Malik dulu pada senyum kekasihnya

“Terimakasih” ucap Malik mengambil kantong dan kembalian uang

si perempuan tersenyum lagi.

“Sampai-” Malik tercekat.

“Sampai….pagi?”

“iya bang”jawabnya pendek

Malik pun tersenyum

“Sampai.. ketemu lagi ” ucapnya kemudian, tiba-tiba.

Giliran si gadis berjilbab , tersenyum, lagi.

***

Perempuan itu sedang meracik susu untuk si anak, sementara Malik masih disana, bingung mau berbuat apa. Setelah minum susu dari botolnya, tidak lama kemudian si anak bisa tertidur dengan nyenyak.

“Ga jadi?” tanya si perempuan

Malik masih diam, ada yang mengganggu pikirannya. Tubuhnya mungkin disini, ingin mendapat kenikmatan ragawi, tapi jiwa dan hatinya tidak.

bunyi perut si perempuan, mengambalikan Malik ke dunia nyata

“Maaf” ucapnya kemudian.

Malik memandang perempuan tersebut.

“Sebentar”

Malik kemudian berjalan tanpa menunggu jawaban dari si perempuan. tak lama  kemudian Malik sudah kembali dengan sebungkus nasi di tangan

“Nih, makan’

Perempuan itu tampak ragu ragu, tapi kemudian tetap mengambil bungkusan dari Malik dan membukanya.

“Makasih, lo tinggal bayar sisanya” jawab si perempuan dan mulai makan dengan khusyu.

Malik tersenyum, kemudian memberinya sejumlah uang

“Lo, kita kan belum? ….atau lo mau sekarang”

Malik menggeleng

“ Abis gue makan ya, lapar banget ini”

Malik kemudian tertawa, meninggalkan si perempuan yang masih terheran heran.

**

Malik  sedang menonton film kesukaannya : RAMBO keberapa yang entah keberapa kali. layar baru saja menampilkan tentara Vietnam yang kepalanya pecah kenapa sniper. Bagian favoritenya.

Kemudian dia melakukan apa yang tidak bisa dilakukan ratusan tentara Vietnam ;  mematikan Rambo dan menggantinya dengan sebuah DVD yang sepertinya  dari negeri sakura

Malik kemudian sudah menikmati dengan adegan per adegan di DVD tersebut, semuanya berpindah ke kepalanya, dia sibuk sendiri sampai puncaknya, antara sadar dan tidak, dia melihat seekor kuda terbang menembus dinding kamarnya. Sayangnya dia sudah tidak bertenaga untuk membuktikan apapun, dia pun tertidur di kasur tipis kontrakannya.

ENF

 

 

Fabel Si Beruang

Beberapa hari belakangan Fabel tidak bisa tidur. Sampai hari ini pun masih demikian. Sekarang dia sedang  mencoba merebahkan  tubuh besarnya  di dalam sebuah liang es – semacam lubang yang dikelilingi bongkahan es yang tebal, memang dari luar terlihat dingin, tapi percayalah di dalamnya cukup hangat, sama seperti hati si empunya,  dan Fabel didalamnya tidur sendirian, Tidak seperti rekan-rekan beruangnya yang lain yang kebanyakan sudah berkeluarga, Ursa misalnya. Punya teman tidur tentu membuat liang es lebih hangat, cakar yang bersentuhan, tubuh dan  bulu yang bergesekan, apalagi ketika seorang anak lagi ditengah mereka,  dan sekarang Ursa  sudah punya dua, Dua duanya jantan, gagah seperti ayahnya. Ursa memang mungkin beruang paling tampan diantara kawanan beruang di lingkaran pergaulan Fabel, Bulu bulunya tertata  rapi. hidungnya hitam sempurna, matanya tajam, tidak sendu seperti milik Fabel, semua yang ada pada diri temannya itu memang menunjukkan kalau  dan dia pemburu yang hebat, tidak ada anjing laut atau rusa yang bisa lepas dari buruan Ursa, dan dia mendapatkan Polar, bintang beruang yang tercantik. Oh, kadang Fabel berpikir, apa memang beberapa beruang diciptakan beruntung dan yang lain tidak?

Dan lagi-lagi Fabel gagal untuk tidur.

**

Fabel mencoba menjangkau beberapa ikan yang seolah menantangnya saat dia sedang duduk sendirian di  bongkahan es tipis yang cukup jauh  dari liangnya. saat  Ursa tiba-tiba datang dengan hasil buruan,seekor anjing laut berukuran sedang.

“Aku tau kau belummakan,” ucap sahabatnya itu sambil kemudian menjatuhkan bangkai tersebut di depan Fabel

“Terimakasih, aku bisa sendiri” balasnya sambil melirik hasil buruan yang menggoda tersebut.

Ursa duduk di sebelahnya, “Belakangan ku lihat kau sering kesini, ada apa?”

“Es kian menipis ” jawab Fabel pendek

Ursa memandangnya

“..dan aku tidak bisa tidur” lanjutnya kemudian.

“Sudahlah teman,es menipis atau tidak itu bukan urusanmu, sudah ada yang mengatur, kau cuma menambah beban di kepalamu, lakukan saja apa yang seharusnya kau lakukan, maka kau akan bisa tidur dengan nyenyak”

Seekor ikan yang ternyata masih punya nyawa lolos dari cakar Fabel dan melompat kembali ke dalam air. Fabel menggaruk kepalanya yang tidak gagal kemudian menikmati  anjing laut dihadapannya.

“Terimakasih” ucapnya walau terdengar aneh dengan mulut yang penuh lemak

“Kau mau?” sambung Fabel kemudian

“Aku sudah kenyang”

“Anak-anakmu?”

“Jangan khawatir, Polar juga pemburu yang baik, mereka pasti sudah makan sekarang”

dan Fabel terus bertanya sambil terus menikmati sajian mewah dihadapannya tersebut.

“Ayo pulang” ucap Ursa ketika melihat temannya kembali memandang kejauhan, setelah hasil buruannya tadi habis.

Fabel menggeleng

“Ayolah, jangan sendirian , biasa bisa kau dimakan Wendigo*”

“Itu cuma mitos”

“Mitos? aku pernah melihatnya langsung,  ukurannya sangat besar dan”

“Dan pasti kau sudah mengalahkannya” potong Fabel

“Kau gila, mana mungkin!”

“Memang apa yang tidak bisa kau kalahkan?” ucap Fabel

“Percayalah, semua ada batasnya”

“Ayolah, mari berkumpul bersama yang lain”

“Duluan saja, aku masih ingin disini. nanti aku menyusul”

Ursa kemudian berlalu, dia tahu, Fabel sepertinya memang butuh waktu sendiri, biasanya dia adalah yang paling rajin berkumpul bersama yang lain, dan dia juga tahu, kali ini Fabel tidak akan menyusul.

*

Hari sudah menjelang sore, ketika seekor  camar kecil turun mendekatinya.

“Ada urusan apa kau kemari” tanya fabel kemudian, setelah mereka berdiam diaman beberapa saat.

“Tidak ada larangan  bukan? aku tidak melihat  ada rambu atau semacamnya “

“Selain anjing laut dan rusa, Kau tau kalau aku dan teman temanku juga suka memakan bangsamu?”

Burung kecil itu menghela nafas, “Bukankah setiap kita punya peranan masing masing, dan salah satu perananku adalah menjadi makaan  bagi kaummu, tidak ada yang salah dengan itu”

“Aneh,kenapa kau tidak takut, wahai camar tak bernama”

“Namaku Pink, dan maaf kalau aku menyinggungmu, tapi buatku, kau sama sekali tidak berbahaya”

Fabel tersenyum, dia bisa melihat kenapa di dinamai demikian ada rona  merah jmbu di wjh burung camar cantik tersebut, tepat di atas sebelum paruhnya.

“Kau tau dari mana kalau aku akan tersinggung”

“Dari wajahmu, kalaupun tidak tersinggung, wajahmu memikirkan sesuatu,”

“Kau tau-“, kali ini dia duduk di sebelah Fabel dengan santai. “-aku selalu melihat wajah kau seperti dirundung kesedihan, bukan karena bentuk matamu yang sendu itu, sama sekali bukan, tapi dari dalam matamu, aku selalu melihat ada ketakutan.. kebimbangan.   Kadang aku bepikir, apa yang sedang kaupikirkan?”

“Entahlah, aku juga tidak tau” jawab Fabel cepat

Camar laut betina itu terkekeh,

“Lihat,  lagi lagi kau memunculkan itu, wajah  memikirkan sesuatu”

Fabel mengangkat satu alisnya.

“Lucu,kau tau, dengan wajah itu kau terlihat tua”

“Aku memang sudah tua”

“Tolong, jangan memikirkan perkataan ku barusan”

“Telat ! aku sudah memikirkannya”

dan keduanya terkekeh. Ada yang mencair, tapi bukan es di sekitar mereka.

“Sebaliknya, kau terlihat tidak ada beban” ucap Fabel kemudian

“Maksudmu?”

“Kata katamu tadi, kau seperti tidak takut mati,  apa kau tidak berpikir setelah imati  kau akan bagaimana, atau sebelum kau memnuhi takdirmu untuk dikoyak koak kawananku, apa kau tidak ingin melakukan sesuatu yang besar, seperti menyelamatkan dunia mungkin?”

“Entahlah, tuan berwajah-memikirkan-sesuatu, aku  tidak berpikir terlalu banyak,  aku tidak suka memikirkan apa apa yang diluar kenaliku, aku lebih suka menjalani -“

“Terbang, maksudmu?”

“Baiklah, maksudku, aku lebih suka terbang dan menikmati pemandangan”

“Aku juga aku suka berjalan-jalan, lihat, tempat  ini cukup jauh dari tempat tinggal ku” protes Fabel

Camar cantik itu tersenyum, “Tapi kau tidak menikmatinya, kau memikirkannya-“

“-dan barusan  kamu memikirkannya lagi” lanjut Pink cepat.

Fable tersenyum

“Ah, kamu begitu gampang ditebak” ucap lawan bicaranya  tersebut sambil kemudian bertengger di bongkahan es yang agak tinggi.

“Aku pamit dulu, sebenarnya masih banyak yang ingin kubicarakan, tapi kwananku sudah muncul, mungkin lain waktu” lanjutnya kemudian

Fabel berdiri “Baiklah kawan, begini,karena kau sudah menemaniku dengan percakapan ini , kau kubiarkan pergi dengan selamat sore ini, tapi tidak lain kali”

Pink terkekeh, “Jangan terlalu memandang tinggi dirimu, lain kali pun kau tidak bisa menangkapku”

“Siapa bilang?”

Fabel berjalan mendekat, Pink naik ke es yang lebih tinggi lagi

“Kau yakin?”

Fabel diam sejenak,

“Tidak juga sih” Jawabnya kemudian.Pelan.

dia menghapus es ditangannya , menghela nafas panjang kemudian kembali menantang burung tersebut

“Tidak untuk sekarang, tapi aku serius, lain kali akau akan serius untuk mendapatkanmu”

“Sudahlah, hentikan bualanmu, bagaimana mungkin aku bisa menganggap serius, beruang yang meragukan diriya sendiri?”

setelah berkata demikian, burung cantik itu pergi. mengepakkan sayapnya, bergabung bersama kawanannya yang lain.

**

Malam menjelang dan fable masih memikirkan, entah apa. Dia menatap kukunya, tak lama perutnya terasa lapar. Tak lama mencari,  seekor ikan yang sepertinya memang sudah menjadi rezeki Fabel berakhir di perutnya.

Setelah bersendawa, Fabel kemudian  kembali telentang, memandang langit malam yang entah kenapa menjadi sangat indah.

**

Terdengar suara yang sudah dihafalnya berteriak dari luar, Fabel yang baru saja berencana mencoba tidur setelah semalaman bicara sendirian kepada langit malam kembali  menyeruak keluar lubangnya.

“Ada apa kawan?”

“Aku dan beberapa teman mau berburu ke padang datar, mencari rusa belang kaki, kau mau ikut?” tanya Ursa

Fabel menggaruk kepalanya, sepertinya itu memang caranya berpikir.

“Ayolah, mengurangi beban tubuhmu, kau terlalu gendut buat seekor beruang, lama lama, manusia akan memburumu, mengiramu paus putih”

Terdengar tawa dari yang lain, kecuali Ursa yang masih menunggu jawaban temannya itu

“Lemak itu sudah keluar dari fungsi dasarnya, mereka  membuat kau susah bergerak, dan berenang, kau mejadi tidak cekatan, dan kalau tidak cekatan kau akan menjadi pemburu yang payah”

Fabel tiba-tiba  tersenyum.

“Mungkin sudah begitu keadaannya kamerad”  ucapnya kemudian

“Tidak semua beruang terlahir seperti kalian”

Temannya saling pandang.

“Semua beruang terlahir sama” ujar yang lain

“Tidak kawan, tidak, aku sudah memikirkannya”

“Apa yang kau pikirkan?” terdengar pertanyaan entah dari beruang yang mana, mereka terlihat sama, kecuali Ursa.

“Ya, mungkin aku memang dicpitakan seperti ini, aku memang diciptakan untuk tidak ikut perburuan kalian, aku memang dicpitakan untuk tidak cekatan”

“Lalu? untuk apa?”

“Nah, itupun aku masih memikirkannya”

Terdengar gelak tawa dari gerombolan, lagi lagi, kecuali Ursa.

“Kau payah” ucap Polar  yang dari tadi menguping, anaknya yang kecil, yang masih sedikit lebih besar dari tikus menempel di kakinya.

“Tidak ada yang tertarik dengan beruang yang demikian” sambungnya kemudian

“Sudahlah, jangan menggodanya sayang, kalian juga, hentikan gurauan kalian!” Ursa pun akhirnya bersuara, menenangkan semuanya.

“Lalu apa yang kau lakukan sekarang?” tanya Ursa kemudian

“Aku sudah putuskan..”

Fabel menggantung kalimatnya

“Aku mau  tidur dulu,sudah beberapa hari ini aku tidak tidur, mungkin aku juga akan tidak makan, dan mencoba tidak memikirkan apa-apa”

Ursa masih menatapnya

“Baiklah, aku berangkat, sampai jumpa” ucap Ursa kemudian

dan  Fabel  kembali ke liangnya,  tidak lama dia pun tertidur dengan pulasnya.

END

**

*wendigo adalah makhluk cryptid berupa monster raksasa yang mengerikan, ada yang mengatakan bertanduk. ada yang mengatakan tidak punya bibir, namun ada pula yang berpendapat bahwa makhluk ini masih saudara dengan Yeti dan Big foot, yang punya wujud serupa kera dengan ukuran sangat besar. 

 

Pustaka Kota Ini

Sudah terlalu lama aku tidak kembali ke sini.  Ternyata sudah cukup banyak yang berubah dengan kota ini, memang ini masih kota kecil yang dulu, tapi tidak sepertiku, sepertinya perubahan waktu juga menyentuh kota ini. Misalnya, kali ini ada sebuah bioskop di pojokan kota, yang akan memutar  film yang digandrungi muda-mudi kota ini, kalau saja dulu sudah ada bangunan ini, pasti kami sungguh bahagia. Ah, tapi tidak mungkin, bisa bertahan hidup saja, sudah bisa dibilang beruntung.

Tapi kalau ada yang tidak berubah, itu adalah bangunan yang sedang kulewati omo, bangunan yang menjadi tujuan utamaku ke sini : pustaka kota ini,  yang masih seperti dulu, catnya memang sudah berubah,  aku tidak tahu sudah  berapa kalii berubah semenjak terakhir kalu aku kesini dulu. Warnanya sekarang cukup menarik: merah darah, cukup mencolok, tapi sepertinya akan tetap seperti dulu : sepi.  Oh, pohon besar di depannya sudah tidak ada lagi, paling tidak ini mengurangi kesan horror dari bangunan ini. walau untuk beberapa orang ini juga kana menghilangkan bagian romantisnya.

**

Aku  berjalan keluar pintu pustaka, sedikit  kesusahan dengan beberapa buku besar ini, tidak kusangka, ternyata sudah cukup larut, lagi -lagi aku menjadi penghuni terakhir gedung ini, tapi siapa peduli, Selain Selena- satu satunya temanku , cuma ini  yang bisa menjadi hiburan di kota ini, paling tidak untuk gadis sepertiku, apalagi, aku butuh beberapa bahan bacaan untuk koran sekolahku.

Aku melewati pohon besar disana, saat tiba tiba sesuatu melompat dan berdiri di hadapanku

Aku gemetaran, cerita horror tentang pohon ini akhirnya menunjukkanw ajahnya di hadapanku

“Maaf mengagetkanmu,” ucap lelaki itu, dia terlihat beberapa taun lebih tua, mungkin di akhir 20 an, wajahnya terlihat

“Kau”

“Benar, belakangan kau melihat wajahku di koran koran, aku Rebel sang pembenrontak, paling tidak begitu mereka menyebutku,”

Aku masih terdiam disana

“Kau  seperti kesulitan dengan buku bukumu, boleh aku membantumu, nona?”

**

Aku sudah berada di Red Spot– sebuah losmen kecil yang cukup indah, apalagi kalau kau tidak tau apa-apa tentang kota ini, tentang dulu ada kejadian apa di tempat ini, atau lebih buruk, kau pikir kau tahu semuanya, padahal bukan itulah kejadian sebenarnya.

Tapi, peduli setan lah, setelah kejadian itu, aku memang tidak punya tempat dan siapa siapa lagi di kota ini, jadi menemukan losmen murah dengan pemandangan pinggiran  kota yang indah seperti ini, tentu cukup menyenangkan.

Setelah melatakkan koper dan bawaanku, aku mengganti pakaianku, tapi tidak warnanya, karena aku percaya hitam tidak pernah salah, dan percayalah, ini berlaku di tahun berapapun. Lengkap dengan sebuah kacamata hitam, aku akhirnya  berjalan menuju  pusat kota. Dulu disekitar sini kau akan melewati pasar tradisional yang sempit tapi menawarkan pengalaman luar biasa, lengkap dengan para penjual yang ramah dan baik hati, ( dulu ada warung kopi kecil favorit kami !). Tapi tidak sekarang, sudah berganti dengan bangunan-bangunan tinggi megah dan mencolok. Tapi siapa yang bisa menolak perubahan? mungkin aku saja yang masih terperangkap waktu.

Akhirnya, aku sudah sampai di depan pustaka.

Aku masuk.

Perasaan ini

Aku sedang memandang deretan buku buku di rak,  kemudian menuju meja penjaga pustaka untuk mengisi buku tamu.

Aku tersentak,  aku tau siapa dia, tentu saja, wajahnya itu, keriput di wajagnya tidak merubah wajah manisnya, tapi aku sungguh tidak menyangka dia akan berada disini.  Sepertinya dia juga merasakan hal yang sama, karena dia jelas sedang memandangi wajahku yang tertutup topi hitam lebar.

‘Kau?” tanyanya kemudian, terlihat ragu.

Aku tersenyum.Dia melihat nama keluargaku yang kutulis di buku tamu pustaka

“Aku keponakannya”, ucapku membaca pikirannya.

“Bibimu apa kabar ?  kalian…begitu mirip ”

Aku tersenyum lagi, ini bukan pertama kali aku mendapat komentar demikian

“Dia..baik baik saja” ucapku pendek

“Permisi, aku mau ke dalam” ucapku kemudian, sengaja menghentikan pembicaraan.

**

Aku berjalan menuju bagian pustaka yang lain, aku yakin akan menemukan yang aku cari disini. Temanku mengatakan kalau aku akan menemukannya disini, tempat terakhir yang sebenarnya ingin kudatangi.

 Aku melewati dinding dinding yang dipenuhi foto-foto hitam putih  Aku tidak mengerti kenapa foto foto seperti ini dipajang disIni. Pengetahuan, sejarah ?  ini lebih merupakan foto kekejaman di banding  sebuah pengetahuan.  Aku cuma bisa geleng –geleng kepala.  Aku sudah terlalu tua untuk menangis.

Setelah sekian lama, akhirnya aku menemukan buku yang kucari : Rahasia Merah Darah, karya  Rebelion Denwat. Sebuah buku yang harusnya menjadi bacaan wajib di sekolah sekolah, malah menjadi buku  berdebu di pustaka ini.Walau sebenarnya aku cukup heran kenapa masih bisa menemukan buku ini disini, setahuku buku ini sudah dibumi hanguskan dan dilarang peredarannya. Entahlah.

Aku beranjak dari rak, melihat sekeliling, cuma ada beberapa orang disini, seorang pria tua yang sepertinya sedang sbuk dnegan penelitiannya, seorang gadis lain yang jelas berbeda jauh usianya denganku yang dari tadi masih mencari cari buku ( sepertinya buku itu cuma alasannya )  dan satu orang lagi, yang aku tebak adalah alasan si gadis masih disana : seorang pria berkacamata berusia  akhir 20an dengan jas putih, tampilan perlente, lengkap dengan bulu bulu halus di wajah yang tertata rapi yang  menyempurnakan ketampanannya.

**

Aku membawa buku  ku kemudian langsung duduk di depan  si pria  yang kemudian melihatku. Pria ini  tersentak, terlihat ragu ragu akan bergerak, tapi dia mencoba tetap tenang dan membaca disana  sesekali membenarkan letak kacamatanya .

“Buku itu bohong” ucapku mengomentari buku yang saat ini menutupi wajahnya

“Aku tahu, seperti  juga gambar-gambar di dinding itu” Balasnya

Dia kemudian meletakkan bukunya, menutupnya, kemudian menatapku.

**

“Aku dan yang lain tidak menyerang siapa-siapa ” ujar lelaki didepanku, lelaki dengan rambut gondrong berantakan dan jaket panjang yang hampir menyapu lantai.

“Aku percaya”

“Syukurlah, cukup bagiku kalau kamu percaya” ucapnya lirih sambil memelukku. Aku memeluknya balik,

“Itu cuma alasan yang diada adakan pemerintah kota ini untuk membunuhku, membubarkan kami,  karena aku tau rahasia mereka ”

Semenjak perkenalan di pohon mengerikan depan perpustakaan, aku memang sudah terlalu dekat dengan lelaki ini, dia adalah ketua perkumpulan yang kerap kali menentang pemimpin kota ini.  Tapi sayangnya bukan hanya itu, dia bukan cuma sekedar pemberontak seperti yang dituduhkan, atau pemegang rahasia pemerintahan, dia adalah sesuatu yang lain, dan kombinasi  inilah yang membuatnya menjadi buruan yang harus dimusnahkan.

Kemudian, Terdengar heboh heboh diluar.

“Sepertinya mereka sudah tau,  aku dalam bahaya “

“Kau bisa menghabisi mereka! dan kau tidak salah!” ucapku hampir menangis.

“Tidak, aku tidak bisa melakukan itu, mereka sudah mendatangkan orang itu, apalagi, itu cuma akan membenarkan tuduhan mereka kepadaku dan yang lain”

Kami masih berpelukan.

“Kau harus pergi, selamatkan dirimu” ucapnya

Aku menggeleng.

“Aku mohon, aku tidak akan memafkan diriku, kalau mereka juga menghabisimu, percayalah, mereka akan melakukan apa saja, aku mohon”

Untuk pertama kalinya, aku melihat lelaki ini menangis

“Baiklah, dengan satu syarat,” ucapku lirih.

Aku membisikkan sesuatu, sesuatu yang sudah lama aku minta tapi tidak pernah dia kabulkan.

Tepat saat orang-orang berbaju putih itu merengsek masuk, bibirnya menyentuh leherku, Dingin.

**

Pria itu tersenyum melihatku, aku balik tersenyum. Aku melihat gadis yang masih berdiri disana, dia memandangku sinis, aku cuma tersenyum. Dia kemudian mengambil sembarang buku dan berlari ke arah lain

“Aku seperti mengenalmu” ucap si pria.

“Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya” ucapku kemudian

Aku tersenyum, tahun sudah berganti dan kata-kata seperti ini masih saja menjadi andalan para lelaki utnuk memulai percakapan.

“Oh ya?, dimana?” balasku

“Aku tidak tau, tapi aku yakin kita pernah bertemu”

‘Aku juga” ucapku sambil memandang matanya.

**

“Aku sudah menunggu lama”  ucapnya yang sedang ebrbaring di ranjang kamarku di Red Spot, ketika aku keluar dari kamar mandi

“Percaya atau tidak aku menunggun lebih lama dari itu,” ucapku kemudian memperlihatkan gigi taringku.

“Akhirnya kau menunjukkan dirimu” balasnya sambil tersenyum

Aku melompat menerjang, kuku-kuku ku memanjang!

Adal kau tahu, pria didepanku adalah pria yang bertanggung jawab akan pembantaian di kota yang dituduhkan pada kekasihku! dan aku akan menghabisinya disini, ditempat yang sama  makhluk ini  membunuh kekasihku,  kemudian membakarnya hidup- hidup! 50 tahun lalu !

Dia menghindar, kemudian kami terlibat pertarungan tak terelakkan, kuku ku berkali kali berhasil  melukai badannya, tapi sayangnya, semua itu sia sia,luka itu kembali seperti semula.  Dan akhirnya,  sebuah gerakan sangat cepat, berhasil merobohkanku.  ditangannya terlihat sebuah benda yang cukup berbahaya bagi kaumku, sebuah keris perak yang kemudian bersarang di dadaku.

 Dia tertawa persis saat dia berhasil membunuh kekasihku, tawa yang sama saat aku mengintip sebelum  melarikan diri.

Aku sudah mengikutinya bertahun tahun, dan akhirnya memaksaku kembali ke sini ke tempat yang manyakitkan ini, cuma untuk mengakhirinya, tapi sepertinya aku gagal

Maafkan aku kekasihku.

**

Aku masih hidup.

Seseorang menarikku keluar sesaat sebelum penginapan itu dibakar habis,

 Ibu tua penjaga perpustakaan.=Selena.

“Aku tahu kalau itu kau” ucapnya

‘Aku mengikutimu kesini dan menemukanmu dengan pria yang beberapa minggu belakangan rajin datang ke pustaka, Aku tau dia  menunggu seseorang, dan tidak kusangka dia sudah menunggu kehadiranmu”

“Aku juga tidak tau sama sekali” ucapku pelan dengan sisa sisa tenagaku

“Bagaimana kau tidak takut dengan keadaanku yang seperti ini” tanyaku kemudian

“Aku membaca semua cerita dan karangan kekasihmu, menurutmu bagaimana mungkin buku Rahasia Merah Darah masih ada di pustaka kota ini? itu koleksi pribadiku, dan aku sengaja meletakkanya disan agar orang orang bisa membacanya, sayangnya…”

“Sayangnya tidak banyak yang membaca, dan tidak banyak yang akan percaya” potongku

Selena mengangguk pelan.

Dan sekarang,  Kami sedang memandang kembang api perayaan 50 tahun  Hari Merah Darah , dimana pemerintah kota berhasil memburu habis para makhluk penghisap darah yang membahayakan kota.

**

 

PERKUMPULAN KEBENCIAN

Layar laptop tuanya masih kosong, sebenarnya sudah ada beberapa paragraf, tapi kembali di hapus, dia masih belum puas.

Rem meluruskan punggungnya. Ini sudah waktunya untuk dipijat, pikirnya. Rem percaya kalau  voucher pijat dan refleksi memang salah satu hadiah terbaik untuk  penulis. Laptop baru mungkin adalah yang lainnya, paling tidak bagi dirinya.

Dia melihat ke sekeliling, masih belum terbiasa dengan kamar barunya. Penulis amatiran satu ini sudah merasa sejiwa dengan kamarnya yang lama, memang tidak sebesar yang ini, tapi sepertinya ada bagian dari kamar tersebut yang sudah merasuk ke jiwanya. Namun apa daya pembangunan sebuah pusat perbelanjaan baru ikut melibatkan  kamarnya yang memang berada di kawasan kecil dan terbilang kumuh, juga angkringan kopi Da Rama, tempat dia bisa minum atau sekedar bermain kartu bersama bapak-bapak sekitar sana,saat akhir minggu tiba.

Sial! Lagi-lagi!

Dia berdiri, berjalan ke arah jendela, melihat ke bawah, kearah pos ronda yang tepat berada di bawah kost kostannya.  Bapak-bapak  sudah mulai  terlihat berkumpul dan bercerita. Dia tidak habis pikir, apa yang di omongkan beliau-beliau tersebut.  Rem bukan anti sosial dia selektif sosial, dan dia percaya kalau itu adalah dua hal yang berbeda-beda.   Dia bisa tertawa bersama teman temanya,  tapi tidak untuk duduk berjam-jam bergosip ala lelaki, atau  membahas politik seakan akan bisa menyelesaikan masalah negara ini.  Jelas tidak.

Rem mengambil handponenya, mencoba menghubungi kekasihnya. tapi tidak diangkat

apa suaminya sedang di rumah, tumben?

pikirnya kemudian

Dia mengambil rokoknya, tapi kemudian baru sadar, kalau rokoknya sudah habis. Asbak di depannya sudah menggunung,

Sial, ini berarti dia harus pergi keluar, melewati bapak bapak ini, harus memasang senyum dan berbasa basi.

Asu!

**

Dia menuruni tangga, mengunci pintu, kemudian keluar dari pagar.

‘Kemana den?” tanya seorang bapak

“Ke warung depan pak, beli rokok,” Jawab Rem jujur.

Bapak-bapak lain terlihat tersenyum.

‘Penghuni baru ya den?”

Rem cuma mengangguk

“Udah lapor ke RT ? “ lanjut si bapak

“wah, belum sempat pak, baru pindahan banget,”

Rem merapikan rambut gondorngnya dan kemudian menyelamatkan dirinya sebelum terlibat terlalu jauh

 “Permisi pak, mau ke warung dulu”

“Silahkan den silahkan “ jawab bapak-bapak yang kemudian melanjutkan pembicaraan mereka. Rem kemudian juga tersenyum pada gerombolan pemuda yang tidak lebih tua darinya, yang sedang khusyuk merokok di pinggiran jalan.

**

Rem sudah sampai di warung, dan kemudia lagi lagi melihat pemandangan yang mengganggu matanya.

Sekumpulan anak usia sekolah sedang berkumpul tepat di depan warung tersebut, sampai Rem harus minta izin untuk masuk warung. Rem tidak habis pikir saat dia melihat sepasang anak-anak tersebut berpelukan dan cium pipi. Rem bukan pendeta,  tapi apa perlu menunjukkannya sedemikian rupa? dan di usia mereka  yang masih cukup belia?

Rem kemudian membeli sebungkus rokok dan sekaleng kopi.

ah, melewati jalan itu lagi

Pikirnya.

Kemudian,terdengar pengumuman dari sebuah pengeras suara, bahwa seorang warga baru saja meninggal karena serangan jantung, Kebetulan Rem sedang melewati sebuah tanah lapang dimana di salah satu pojoknya ada sebuah pohon besar yang cukup mengerikan. Bulu roma Rem berdiri,  dia bergegas pulang.

**

Rem  meneguk kopi kalengnya.

udah jam segini, ngapain sih masih pada kumpul kumpul?

Dia bersungut sungut sendiri sambil terus memainkan jarinya di laptop.

Kali Ini beberapa ide dan paragraph muncul di layarnya. Kopi dan rokok memang teman paling pas untuk merangsang sel-sel kelabunya, walau dia sendiri juga sadar kalau sebenarnya cuma sugesti, seperti dia kenal rekan seorang penulis terkenal yang sama sekali tidak minum kopi. apalagi merokok. cukup dengan teh hijau dan meditasi.

Tapi, bukan kah setiap orang  punya cara masing-masing. Maka buat Rem, rokok dan kopi adalah meditasi.

Tawa keras dari bawah menghentikan lamunan Rem,

Dia kemudian melihat ke bawah, mencoba menjamkan pendengarannya, pantas saja, mereka sedang menertawakan presiden terpilih saat ini.

Rem cuma bisa menggeleng, kemudian melanjutkan tulisannya, sementara  di bawah masih terdengar obrolan tentang peluang besar sang jendral panutan mereka  untuk memang di pemilihan presiden tahun depan

Kali ini, giliran Rem tertawa. Keras.

**

Terdengar pengumuman kematian lagi dari pengeras suara, saat Rem membanting handponenya, ketika pacarnya masih tidak bisa dihubungi.

Bangsat!

Sudah hampir satu bulan Rem tinggal disini, tapi dia masih bermasalah dengan kebiasaan berkumpul para penduduknya, beberapa kali dia diajak berkumpul oleh bapak-bapak, tapi dia menolak dengan halus. Atau siangnya, ketika giliran ibu-ibu yang bergosip, dia memilih untuk tersenyum saja menanggapi mereka. Belum lagi dengan para remaja dan bocah bocah yang juga suka berkumpul di tiap pojokan, depan warung atau samping sekolah. Dia masih tidak mengerti apa mereka tidak kehabisan bahan perbincangan berkumpul tiap hari selama berjam-jam?

Entah kenapa, ini benar-benar menganggunya, padahal belum tentu ini semua ada hubungan dengannya.

Dia mematikan rokoknya ke asbak, menatap layarnya yang kosong, menyumpah, kemudian menarik sesuatu dari laci mejanya.

Sebuah pistol.

Dia mandapatkan ini dari pacarnya, yang memintanya berjanji untuk menghabisi suaminya, kalau seandainya hubungan mereka ketahuan. Tapi sepertinya, dia harus menggunakannya untuk hal lain terlebih dahulu.

BRAK!!

Terdengar pintu kosanya, di dobrak, sekelompok orang berpakaian hitam hitam datang dan menyerbu, kemudian membawanya ke tanah lapang yang selalu dilewatinya kalau dia keluar dari komplek ini.

Di pinggir lapangan, didekat pohon besar, sudah berdiri seseorang yang juga memakai tudung seperti para penculiknya, bedanya, yang ini terlihat lebih mewah. Mungkin ini pemimpim mereka,pikir Rem.

Detik selanjutnya, Rem sudah terikat di palang kayu, dengan pencahayaan  berasal dari beberapa obor yang ditancapkan,  kemudian, sang pemimpin,  yang ternyata Rem kenali sebagai bapak pemilik warung, mulai mengoceh tentang bagaimana dia akan  menjadi korban untuk dewa mereka, pohon besar disana, sekaligus menjaga keutuhan penduduk kampung, dan menurut dewa mereka, keberadaan Rem akan membahayaan penduduk kampung, Apalagi, Rem sudah menghina Jendral, panutan mereka!

Rem pasrah.

Remmenebak kalau mereka akan membantainya  dengan sesuatu yang menimbulkan banyak  cipratan darah, apalagi ketika si bapak tua pemilik warung membawa sebuah tempurung di tangannya. Tapi dia salah, ternyata, tempurung tersebut berisi cairan yang Rem tidak tau, yang kemudian diminumkan kemulut Rem,

Kemudian yang Rem tahu, dia terlelap dan kemudian terbangun di tempat tidurnya.

shit, apakah dia bermimpi atau memang nyata?

yang pasti, tubuhnya berpeluh, basah luar biasa.

**

Terdengar pegumuman lagi lewat corong  kalau  Remorse Neverenda, seorang warga baru, yang belum lama mengontrak di rumah depan pos ronda meninggal karena seranganjantung, Warga pun berbondong berbondong- karena sudah tidak punya keluarga, warga pun memutuskan untuk memakamkannya di pemakaman sekitar,

Setelah proses penguburan selesai, warga kembali berkumpul di depan pos ronda, kembali bercerita, tertawa.

INDRA KEENAN

Indra adalah lelaki yang biasa-biasa saja, jenis lelaki yang biasa ditemukan temukan di sebuah kamar kost biasa, atau sesekali di warnet biasa, atau duduk sendirian di pojokan warung kopi biasa.

Keenan adalah lelaki yang baik luar biasa. dia percaya kalau dia semacam indigo yang punya kemampuan merasa melebihi manusia biasa.

Juni adalah junior mereka yang cantiknya tidak biasa

Dan ini adalah cerita tentang ketiganya.

Cerita yang… biasa.

**

Keenan sedang duduk menikmati secangkir ice long black favoritnya di sebuah gerai kopi tak jauh dari kantornya. Niatnya sih melarikan diri sejenak dari tumpukan kertas dan olahan data yang padahal harus diselesaikan sore ini, tapi sebenarnya ini lebih kepada pelarian akan ruwetnya otak hasil keributan kemaren dengan Kasih, kekasihnya. Pasalnya, Kasih sudah di wanti-wanti orang tuanya soal pernikahan, sementara Keenan belum bisa menjanjikan apa-apa soal ini.  Tadi, sebelum kesini, dia sudah meminta Indra, sahabatnya untuk menemaninya disini, karena dia tau kalau makhluk gondrong itu sedang tidak ada kerjaan, tapi hari ini, dia mengatakan tidak bisa menemaninya, karena ada keperluan mendadak. Padahal biasanya kalau sudah mendengar kata traktir, makhluk satu itu pasti muncul.

Terdengar bel, seseorang masuk di kedai kecil tersebut. Perempuan dengan rambut bob, flannel dan jeans serta sebuah tote bag bergambar wajah John Lennon, pentolan the beatles, celingak-celinguk sebentar kemudian berhenti di depan mejanya.

“Mas Keenan?”

Keenan terdiam sebentar. Sementara Juni tertawa, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Juni?” ucap Keenan tak percaya.

“Ama siapa mas?”  balas perempuan tersebut, masih ada sisa sisa tawa di wajahnya.

“Sorry, apa?”

“Mas ama siapa?”

“Eh, sorry, sendirian?” Keenan terlihat gugup.

“Kamu sendiri ?”

“Boleh gabung ?”  tanpa menunggu jawaban, perempuan itu sudah duduk di depan Keenan.

“Ngopi?” Keenan menawarkan , walau dia tidak terlalu tentang kopi, Indra sang bayangannyalah yang khatam dengan minuman yang belakangan juga mulai diminatinya ini. Juni tersenyum, kemudian memesan secangkir flat white. Keenan balas tersenyum.

kebetulan, Itu yang ada dalam pikiran keenan, pantas tadi perasaannya agak bahagia dan berbunga.

“Ga nyangka ya ketemu disini, ”

“Iya,  tapi aku emang udah ada feeling gitu bakal ketemu ama mas” jawab Juni lagi lagi dikuti senyum yang mengaduk ngaduk cangkir hati Keenan.

 “Serius, kok bisa?”

“Iya, aku tuh emang feelingya kuat mas, soalnya aku punya temen” bisiknya sambil  menunjuk  ruang kosong di sampingnya.

“Teman?”

“Namanya Aya, dia lagi ngeliatin Mas”

Keenan tersenyum kecut, walau mengaku berfeeling kuat, dia paling tidak suka dengan sesuatu yang tidak bisa dia lihat dan jelaskan.

“Kopinya enak?” ucap lelaki itu kemudian.

**

“Lo masi ingat Juni?“  kalimat pertama Keenan mendatangi sebuah warung kopi yang tidak jauh dari kostan sahabatnya ini.

indra masih mengaduk kopi hitam panasnya.

“Oh, junior manis itu, kenapa?”

“Kemaren gue ketemu dia, udah lama banget padahal. Doi katanya udah stay disini, makin cantik”

Indra berhenti, kemudian menyesap kopinya

“Masih nih ceritanya?”

“Mungkin ini jawaban atas kegagalan gue ama Kasih”

Indra menggeleng-gelengkan kepala, tersenyum.

“Gagal gimana, belum finish ini”

“Gue harus realistis, kan lo tau nyokap bokap ortodoks, si Kasih kena dua kali”

Indra masih memandang sahabatnya ini.

“Udah ga sipit, ga salib, I have a bad feeling about this

“Ya elah bos, feeling lagi, ini bukan soal perkara kaca mobil pecah”

Jadi, Keenan percaya kalau dia memiliki semacam feeling. Ceritanya dulu, memang beberapa kali feelingnya kebetulan benar, misalnya ketika mereka harus mengganti kaca mobil yang sedang parkir waktu bermain basket padahal Keenan sudah mengatakan kalau mereka tidak usah basket hari itu, atau ketika Keenan punya feeling kalau cuma Indra yang akan di panggil Dosen ketika mereka  bolos. Untuk yang terakhir ini, Indra tidak  begitu percaya, karena belakangan dia tahu, kalau dosen itu masih ada hubungan darah dengan si Keenan.

“Kalo ama Juni, feeling gue positif nih bro”

“Emang Juni sipit kayak lo?”

Keenan tertawa “Tapi paling ga bisa natalan bareng lah”

**

“Hai Bang” Juni mendekati pria di depannya

Pria gondrong simpatik itu tersenyum “ Ga nyasar kan?”

Juni menggeleng, “Lucu juga ya tempatnya,”

Indra cuma mengangkat bahu, bukan pertama kali dia mendengar pujian sama tentang angkringan favoritenya ini.

“Ya, makanya,sesekali ke tempat yang ga instagramable gini ga papa lah ya,”

Not bad sih Bang, lucu juga” Juni mengeluarkan kameranya, memotret beberapa sudut.

“Gimana feelingnya, masih kuat?”

Juni menoleh, “ Feeling ke abang maksudnya?”

Indra tertawa, dulu memang juniornya ini pernah bilang kalau punya feeling kepadanya, namun Indra tidak pernah membahas dan menanggapinya serius, karena dia tahu sahabatnya juga mengagumi gadis ini, walau Keenan sendiri memang tidak menyatakan perasaannya ke Juni, dia cuma bilang ke Indra dia mengagumi juniornya ini.

“ Maksud abang, kan kamu biasanya suka tau sesuatu gitu”

Juni tertawa melihat muka Indra yang berubah.

“Santai aja kali bang, feeling ke abang udah ilang kok”

Indra tidak tau harus berkata apa, makanya dia kemudian cuma berkali kali merapikan rambutnya, yang padahal  tidak akan pernah rapi.

“Soalnya setelah dilihat lihat,  ternyata abang ga sekeren itu

Indra cuma tersenyum kecut

“Lagian itu kan dulu Bang”

Indra lagi lagi cuma bisa tertawa

“Kalo ga mana bisa aku minta cariin ke abang, ya kan?” Lanjut Juni.

“ Jadi,  feeling kamu gimana, bakal ketemu disini ga jodohnya?” Indra mencoba mengganti topik.

 “Kayanya gitu sih bang” jawab Juni sambil sibuk motret makanan di angkringan yang kebetulan masih sepi.

“Feelingnya masih kuat berarti”

“Maksud abang?’ tanya Juni heran.

“Besok Abang kenalin kamu sama seseorang”

**

Keenan baru saja memarkir  Mustang hitamnya saat dia melihat sosok cantik yang dia kenal .

“Juni?”

Hari itu, juniornya ini terlihat sangat amat menarik dengan sackdrees  putih yang dengan sebuah kalung silver. Simple, yet elegant

“Mas Keenan?”

“Ah, kerjaan Indra lagi ya?”

Jadi, beberapa hari kemudian,Keenan akhirnya tahu, kalau Indra sengaja mengatur pertemuan mereka. Awalnya, Juni sendiri juga sebenarnya tidak tau siapa yang akan dikenalkan Indra, dia pikir Indra juga akan ada berada disana hari itu, tapi ketika melihat Keenan, dia langsung tau dan ikut dalam rencana Indra.

Juli tertawa “Ga lah, Karina itu temen aku”

“Wah , yang cowo temen kantornya Aku” jawab Keenan.

“Kamu datang sendiri?”

Juni megangguk, lagi-lagi memberikan senyumannya

“Mas sendiri?”

“Bareng anak istri, udah masuk duluan”

Juni terperangah.

“Ga lah, sendiri. serius amat, mau masuk sekarang?”

Indra menggamit tangan Juni, Keduanya tersenyum.

**

Indra juga sedang tersenyum di kamarnya, menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok sambil melihat postingan Instagram Keenan bersama Juni. Dia kemudian keluar dari aplikasi tersebut dan kemudian mengetik sebuah pesan ke sebuah nomor lain.

“Sorry gua ga bisa datang, ada keperluan mendadak banget- banget,emergency.  Happy Wedding bro, sampein ke Karina juga, akhirnya tugas gue sampai finish. SAMARA ”

Indra tau pasti, semua sudah ada yang mengatur, mau kebetulan atau takdir, semua sudah ada ada rahasia masing masing, tanpa atau dengan campur tangan Indra, yang ditakdirkan bertemu akan tetap bertemu, begitu juga sebaliknya.

**

KORBAN

Tulisan kamu itu tidak ada nyawanya !!

lagi-lagi kalimat itu terngiang-ngiang di kepalaku.

Sejujurnya, aku memang merasa, sampai detik ini, ada sesuatu yang belum muncul dari tulisan tulisanku.

Selama ini orang orang disekelilingku cuma berkata kalau tulisanku bagus. Sekedar itu.  Beberapa yang lain cuma memberi masukan agar coba mencari ide lain karena aku cendrung terjbak pada setting yang itu-itu saja, dengan karakter yang cendrung monoton, pasalnya  cuma ada tiga profesi karakter utama di tulisanku: penulis. pelukis dan seorang fotografer.

Tapi belum ada yang sampai mehyentuh ke titik terdalam seperti yang dikatakan wanita tadi

Seseorang yang kukenal pada sebuah pertemuan  supranatural. Aku tidak begitu tertarik dengan hal begini, tapi demi sebuah cerita, aku pun menghadirinya. Singkat cerita,  setelah berkenalan dan berbincang, kami pun berjanji untuk bertemu,, dan memang tidak ada yang kebetulan, kalau ternyata dia adalah pembaca tulisan tulisanku!

“Pertama kali aku bertemu dan berbicara denganmu, entah kenapa aku langsung tau kalau kamu sosok yang selama ini ada dibalik nama REX!  makanya kamu bisa mendapat kesempatan istimewa mengunjungi kantorku” jelasnya kemudian

Aku tersenyum, kantor yang dia maksud  sebenarnya cuma sebuah toko kecil, bagian depannya adalah yang menjual barang-barang antik, sementara di bagian belakang di pergunkana sebagai ruang pribadinya, sebagai tempat meramal lewat media kartu tarot.

“Sejelas itu?”

Dia mengangguk

“Aku tidak perlu buka kartu untuk membacamu,”

Aku tertawa.

“Tapi, menurutku, tulisan kamu itu tidak ada nyawanya !”

**

“Jadi bagaimana? apa yang harus kulakukan?”

Aku menyalakan dua batang rokok di bibirku, kemudian  memberikan satu kepadanya, saat kami melepas penat setlah bercinta entah berapa ronde  di atas meja kerjanya.

“Simple, Kamu harus memberikan nyawa kepada tulisan tulisanmu,”

“Caranya?”

“Kau yang lebih mengerti, kau penulisnya”

Bisik wanita  ini sambil memelukku dari belakang, kemudian meniupkan asap rokoknya ke telingaku.

“Aku  mau buka toko ,kau boleh pergi sekarang”

Dia berjalan ke arah pintu kemudian membalikkan  tanda buka pada kaca depan tokonya

“Ngomong ngomong, salah satu temanku menyukaimu” ucapnya sambil menunjuk tumpukan kartu di mejanya.

“Mau kenalan?”

Aku cuma menyunggingkan senyum, kemudian keluar dari pintu.  Hal yang tidak kulihat, bagaimana aku bisa mempercayainya?

**

Aku sedang mengitari jalanan, mencoba mengambil beberapa foto, ini caraku untuk mengisi kekosongan di kepalaku, sementara aku masih tidak mau bagaimana mengisi kekosongan di dalam tulisan tulisanku

Ah, harusnya kau tidak terpengaruh ini Raja Mahardika,  toh, masih ada yang membaca tulisan tulisanmu

ujarku kepada diriku sendiri.

Toh Kamil, editor majalah  masih meminta dan menayakan kalau aku belum menyetor tulisan-tulisanku .

Biasanya,

Entah kenapa kali ini  dia tidak bersuara, mungkin sudah menemukan wanita baru  untuk pelampiasan nafsunya lelaki buncit ini memang hobi main perempuan, tapi hebatnya dia tidak suka gonta-ganti,  dia cuma suka pada satu perempuan yang sudah jadi langgangannya, dan kemaren di pertemuan terakhir, dia bercerita, kalau perempuan tersebut meninggal, dibunuh dengan tragis.

Walau tidak main hati, aku tau, pasti dia tetap kehilangan juga,

Ah, peduli setan lah,Paling tidak aku bisa melanjutkan berburu foto foto untuk pameran minggu depan.

**

Aku segera menyeruak kerumunan, editor itu sudah ditemukan tidak bernyawa, menggantung diri di kamarnya . Terdengar bisik-bisik tetangganya, beberapa percaya ini terjadi karena  dililit hutang dan terlalu lama hidup sendirian.

Bodoh, jelas tidak mungkin. Kesepian? bisa jadi, tapi seperti yang sudah kuceritakan diatas, dia sudah punya pelampiasan kepada wanita, ah sudahlah.  Tapi kalau maslah hutang, aku yakin tidak,

Paling tidak itu sepengetahuanku

polisi masih kasak kusuk, saat mataku menatap sebuah benda yang ditemukan polisi di ranjang mendiang.

Sebuah kartu :  the hanged man

**

Aku pun kembali ke kontakan, menutup kordenku, menyalakan rokok, kemudian kembali menghadap mesin tikku.

Ada yang berbeda kali ini, jari-jariku bergerak lincah tidak seperti biasanya, kali ini ada yang berbeda di tarian jari-jariku ini. aku bisa merasakannya.

Waktu terus berjalan, sisa rokok sudah memenuhi asbak di sampingku

Tulisanku selesai, aku menghela nafas.

Ini tulisanku, tapi seperti bukan -tulisanku

Kalau begini  hasilnya, koran satu pasti tidak punya alasan untuk menolak

Tapi sesuatu kembali hadir di pikiranku.

ah, ada yang harus kupastikan terlebih dahulu.

**

Aku menuju ke toko  Astrid .tapi tidak ada siapa-siapa disana.

Aku mulai khawatir .

Seseorang menepuk pundakku,

“Maaf, aku  dari toko depan, biasa belanja bulanan,kebetulan lagi sepi” ucapnya

“Ada apa”” lanjutnya kemudian sambil membuka kunci

Aku menceritakan soal kematian si editor, kemudian memberikan satu salinan tulisan terbaruku padanya.

Dia tersenyum

“Hei, ini  yang aku maksud, ada nyawanya”

“Tapi..”

Aku ragu meneruskan, karena akan terdengar agak aneh, tapi di hadapan peramal kartu tarot yang punya tiga teman tidak terlihat, mungkin ini akan baik baik saja.

Astrid masih menatapku, menungguku melanjutkan. Bodoh, dia pembaca kartu, bukan pembaca pikiran.

“Apa ini bukan sebuah kebetulan yang aneh, sebelumnya..”

Astrid tertawa

“Kamu terlalu banyak bergaul dengan orang orang di dalam pertemuan itu, tidak semuanya yang mereka ceritakan benar, paling tidak aku tau satu dua yang berbohong, dan yang ini jelas mengada-ngada”

“Jadi bagaimana kamu bisa menjelaskan ini”

Dia menggeleng, “ Aku tidak bisa, kamu yang bisa menjelaskannya”

“Mau masuk?”sambungnya kemudian,

***

Aku duduk di kursi meja ramalannya, kemudian memandang ke jendela. Dari kursinya dia sudah pindah kemeja, memberikan senyum paling menggoda dari perpaduan bibirnya yang penuh dan basah dengan dagunya yang tak kalah menggoda, kakinya sudah bergerak ke tubuhku. Dia tau kelemahanku, tapi tidak kali ini

“Masih ada yang mengganggu pikiranku”

Dia menarik kembali kakinya, sekarang menggantung di meja, dan kemudian serius menatapku

“Ada kartumu disana”

Dia kemudian tertawa, mengambil tumpukan kartu di meja.

“ini, ada dimana mana, sayang, siapapun bisa memiliki ini, masa kau menuduhku membunuh cuma karna ada satu kartu disana,”

Aku kemudian berdiri menatap jendela

“Aku tidak menuduhmu, tapi entah kenapa, ini menjadi kebetulan yang terlalu, seakan akan kita berada di sebuah cerita yang diatur penulis recehan”

Astrid tertawa

“Maksudmu, cerita-ceritamu?”

Aku tersenyum, menyalakan  rokokkku lagi

“Dan terlalu kebetulan kalau kartu yang berada disana adalah…”

Dia mengambil kartu paling atas, kemudian memperlihatkan kepadaku

“ The hanged man-”

“terlalu tertebak, kalau aku melakukannya” lanjutnya kemudian

“Ya, kalau kamu melakukannya, kamu tidak akan- “

Aku belum sempat menyelesaikan kalimatku saat dia menarik kerah kemejaku, kemudian bibirnya sudah singgah di bibirku, sambil tangannya kemudian mengocok tumpukan kartu lain di mejanya, dia melumat bibirku sejenak, kemudian melepasnya,  cukup untuk membutakan semua indraku

“Ambil kartu yang mana saja”

Aku mengambil kartu paling atas, kemudian meletakkannya di meja.

“Death-kematian’

Ucapnya sambil kemudian melepas kancing kemeja nya satu persatu

“Mudah-mudahan kita masih ada waktu”

**

Aku masih berada di depan mesin tik tua ini, dan jari jariku kaku.

dingin menyerang sekujur tubuhku, ini aneh, aku tidak biasanya begini.

Aku mengambil  dan meminumnya,  memandang keluar jendela,

“Nyawa, aku butuh nyawa,”

Aku menggumam.

Pintu terbuka, Astrid muncul disana

“Astrid, aku butuh nyawa”

Aku nyaris tidak mempercayai ucapanku

**

“Tulisanmu butuh nyawa, kau tidak” ucapnya

Aku mengambil bolpoin di atas catatan kecilku. Sayangnya matanya mengikuti gerakanku, wajahnya berubah.

“Kau tidak butuh nyawa Rex,  kau cuma butuh dorongan visual untuk merangsang pikiranmu sendiri. Selama ini kau berada di zona nyaman, ketika kau keluar ke daerah yang berbahaya, dan ketika kau melihat langsung  sesuatu yang hendak kau tulis maka itu akan memaksimalkan indramu”

“Maksudmu?’

“Kau benar, aku yang membunuh Kamil”

Aku menggelengkan kepala. Masih tidak percaya.

“Demi  apa astrid? demi sebuah pandangan baru di tulisanku”

 “Aku melakukannya demi kau, karena bulan depan, dia tidak akan menerima tulisanmu lagi”

Aku masih tidak percaya, semua bagian ini memenuhi otaakku

“Kemudian aku melihatnya sebagai kesempatan untuk membuatmu berkembang, Rex, Apalagi temanmu itu bukan tidak berdosa Rex, Dia sudah membunuh dua nyawa, Perempuan itu hamil anaknya, dia membunuhnya!”

“Gila!”

“Tidak aku tidak gila, sekarang menulislah Rex, menulislah!” Dia berteriak, tapi seperti memohon.

“Aku tidak bisa menulis Astrid, aku butuh..”

Aku berlutut

“Aku kosong Astrid!”

Dia mendekatiku, kemudian mengusap kepalaku.

Kamu terlalu cengeng Rex, itu yang menyebabkan tulisan-tulisnmu menjadi tidak maksimal.

Aku menggeleng, tangannya masih di kepalaku

“Aku pembaca setiamu Rex, aku tau kamu, kamu akan bisa menulis lebih baik dari ini,” ujarnya lirih.

Aku kemudian menggenggam erat bolpoin di tanganku dan menusukkan berulang ulang ke pahanya, dia menjerit.

Aku mendorongnya, membuatnya terjatuh ke lantai, sekarang giliran lehernya, masih sama, aku melakukannya berulang ulang,

“ Kamu sudah gila stried, kamu sudah gila !!’

teriakku sambil terus melubangi lehernya.

**

Aku  menulis lagi, dan ternyata Astrid  benar, aku memang butuh sesuatu untuk memacu adrenalin, tulisan-tulisan ku yang sekarang mungkin adalah yang terbaik yang pernah kuhasilkan.

Aku sempat diperiksa dan dimintai keterangan, tapi mereka masih belum bisa menyimpulkan siapa pelakunya. Dari bisik bisik tetangga yang kudengar, Astrid dibunuh oleh pembunuh yang sama yang membunuh Kamil. Konon, di tempat ditemukan jasad astrid ada sebuah kartu death-kematian.

Aku tersenyum,  aku tau, dia punya setumpuk kartu death di mejanya., kartu apapun yang kau ambil dari tumpukan itu adalah kematian, dan ini berarti, siapa saja bisa melakukannya.

**

Aku sedang menyelesaikan tulisan terbaruku, kali ini bukan cerita pendek. Setelah sekian lama,  akhirnya aku berhasil menyelesaikan novel pertamaku.Jelas, ini karena astrid, aku harus berterimakasih kepadanya. Hari ini, aku ada janji untuk bertemudengan seorang editor dari sebuah penerbit besar.

**

Aku berlari, para polisi pasti sudah berada tidak jauh dibelakangku!

Seorang  editor penerbit tewas

kata-kata di telpon beberapa jam kematiannya masih terngiang di kepalaku

“Maaf, tulisanmu tidak ada nyawanya”

Aku terus berlari dan berlari. Saat tiba tiba sebuah timah panas bersarang di punggungku.

Di saat-saat terakhirku, Aku melihat sesosok malaikat yang keluar dari sebuah kartu tarot.

“Aku Temperance, kalau kau bertemu denganku berarti kamu sudah dekat dengan kebenaran, dengan apa yang kaucari”

END

 

Macet!

Nenek sihir itu sudah menunggu !

Dia memang tidak pernah bisa berkompromi dengan keterlambatan. Tepat waktu dan tepat janji  adalah nama tengahnya. Maklum, mungkin ini oleh-oleh  pengalamannyasekolah di Jepang dan Inggris, dua tempat yang menurutku sangat menghargai disiplin dan waktu, juga janji.

Efeknya, aku harus buru-buru sebelum dia mengeluarkan sumpah serapah dan kutukan, yang benar benar bikin waktu berhenti. Apalagi tatapan di balik kacamata bundar itu, benar-benar seperti medusa yang membuatmu menjadi batu.

Tapi, apa mau dikata ini bukan Jepang atau London, ada hal hal diluar kendali yang akan membuatmu tidak bisa datang tepat waktu. Bahkan kendaraan pribadi pun tidak bisa seenaknya menakhlukkan makhluk beranama waktu!

Apalagi aku, disini di pinggiran jalan berdebu, dengan jeans yg tak kalah berdebu , menunggu metro mini, sebutan untuk salah satu angkutan masa di kotaku, padahal ukurannya sama sekali tidak mini. tapi sama, berdebu. Keringat membasahi wajahku,  debu-debu yang kuceritakan tadi sudah menempel dengan indahnya. Ah, kapan aku gantengnya kalau begini terus, padahal aku baru saja mandi

Akhirya yang kutunggu datang juga! Metro mini mendekat, aku naik, metro mini pun kembali berjalan, aku duduk, dan tidak lama, benda  ini kembali berhenti.

MACET !

**

Beginilah yang terjadi sehari sehari di kota ini,,entah sampai kapan, mungkin sampai sebagian mobil sudah terbang di angkasa.

Memang tidak mudah mengurai masalah-masalah di kota ini, tapi masalahnya ada masalah yang lebih besar lagi, yaitu ketika orang yang punya peluang dan potensi besar untuk menghentikan masalah-masalah ini justru di permasalahkan, dan yang bermasalah dan punya kecendrungan akan membuat masalah, malah…. ah sudahlah.

Matilah!

Jangan salah, aku suka bepergian dengan kendaraan umum, terutama bis, malah biasanya aku yang asli dari pulau sebelah hampir selalu berangkat dengan bis menuju ibukota. Kenapa? karena aku bisa menikmati perjalanan, melihat pemandangan, bertemu dengan banyak orang, buatku perjalanan berhari hari jelas lebih menarik dibanding dengan kurang lebih jam lewat udara. Kecuali ada kebutuhan yang sangat mendesak dan lain hal yang memang mengharuskanku datang dalam waktu dekat, tentunya.

Tapi beda dengan ini pemandangan yang bisa kulihat hanya itu ke itu saja , jalan-jalanan kecil, yang sempit orang kecil dengan background gedung yg tinggi menjulang yang mirip satu sama lainnya, sebuah kontradiktif yang kadang aku suka abadikan dengan kamera sakuku.tidak untuk keperluan apa-apa, sekedar catatan perjalanan, sama halnya dengan menulis di  buku kecil  seperti yang aku lakukan sekarang.

Aku sedang mencatat percakapan yang cukup menarik dari pengamen ketika berdebat dengan temannya, dialog yang akan kucuri dan kumodifikasi untuk menjadi percakapan di cerita pendek ku selanjutnya.

O , aku lupa cerita kalau aku menyebut diriku ( orang lain? entahlah)  penulis lepas, amatiran. Beberapa cerpenku memang sudah di terbitkan, tapi belum banyak dan bukan di koran nomor satu atau nomor dua, tapi di tabloid biasa dengan pangsa pasar remaja.

dan sekarang aku sedang membuat sebuah novel.

Tentang kehidupan jalanan? tentang cinta?

Tidak, cerita ksatria, penyihir dan perjalanan lintas waktu.

**

Mobil bergerak, aku terbangun, entah berapa lama aku sudah tertidur.

Pengamen yang tadi ternyata sudah turun, sekarang digantikan oleh seorang pengaman yang sepertinya berbeda aliran dengan dua pengamen anak-anak tadi, pengamen yang ini terlihat lebih rapi, jenis pengamen yang dari stereotype pengamen oleh sebagain besar penduduk kota ini mungkin  akan dituduh sebagai bukan pengamen, pasalnya pengamen yang satu ini hadir dengan celana jeans yang lebih rapi di banding  celanaku yang sudah bulu dan robek , serius,  bukan kurobek sendiri tapi memang kebetulan robek di beberapa bagian, kalau mengikuti zaman sekarang dimana pakaian robek kembali tren, bedanya yang robek keren tersebut  bermerek dan di jamin bau parfum mahal, sementara milikku berbau kecut tidak dicuci sekian minggu. selain itu, bajunya juga kaos dan jaket yang bermerk. sungguh keren! bukankah bagus kalau pengamennya seperti ini, harusnya didukung, jangan ada diskriminasi ke pengamen!

Pokoknya, pengamen ini kemudian menyanyikan  zona nyaman dari Fourtwnty dengan sangat syahdu.

Pagi ke pagi
ku terjebak di dalam ambisi
seperti orang – orang berdasi yang gila materi
rasa bosan
membukakan jalan mencari peran
keluarlah dari zona nyaman

Aku tersenyum, benarkah keluar dari zona nyaman adalah pilihan? jadi apa sebenarnya zona nyaman itu sendiri? kalau sudah nyaman kenapa harus berubah? kenapa harus keluar? bukankah tujuan kehidupan sejatinya adalah mencari kenyamanan sejati?

Tiba-tiba aku teringat si nenek sihir, dia pasti kesal setengah mati sekarang, aku sudah mengabari kalau aku terjenak macet, tapi dia tidak membalas.

Aku dan makhluk  sudah menjalani hubungan di zona nyaman ini lebih kurang tiga tahun belakangan, tanpa status. Dia kupersilahkan dekat dengan lelaki lain yang dia suka, dari kantor atau lingkungan pergaulannya yang lain. Beberapa kali dia dekat dengan lelaki lelaki keren yang mengitarinya, tapi menurutnya tidak ada yang cocok dengannya, ujung ujungnya dia akan kembali ke pelukan, literally ke pelukan pemuda biasa dengan rambut gondrong keriting ini. Si nenek sihir juga mempersilahkan hal yang sama,  tapi kenyataannya, aku tidak dekat dengan siapa siapa kecuali makhluk ini.

dia semacam matahari, dan aku adalah salah satu planet yang mengitarinya.

Nenek sihir ini, namanya Anya. Percaya atau tidak, dia bukan nenek sihir beneran, tapi kecerewetannya memang mirip nenek sihir. Aku mengada-ngada, emang nenek sihir cerewet, tapi mungkin tidak secerewet anya?  apakah dia memang nenek sihir, entahlah, yang pasti dalam profil salah satu sosial medianya, dia menyebut dirinya half princess, half demon.

Klaim tadi tidak berlebihan sih, penampilannya memang sepeti putri, kalaau di Disney itu dia mirip dengan si putri tidur , Aurora, yang mungkin paling cantik di antara putri Disney  yang lain. Rambut panjang pirang natural dan  bibir nya yang merah, disempurnakan dengan sebuah kacamata minus.

pikiranku sudah kemana mana, sementara kendaraan ini masih disini sisni saja.

Aku kembali sibuk dengan catatan di tanganku, beberapa bagian novel nagaku sepertinya masih harus  diganti. Aku sudah mendapatkan beberapa ide jahat sang jendral antagonis utama berdasarkan referensinya di dunia nyata!

metro mini ini tiba  terguncang,

aku langsung paranoid. Apakah ini karena aku baru saja punya niatan buruk terhadap sang jendral? soalnya jendral ini akan melakukan apa saja untuk ambisinya, juga untuk orang prang yang bersebrangan dengannya. Bukan cuma di ceritaku.

Aku menoleh ke belakang dan baru sadar kalau dari tadi penumpang sudah banyak turun, dan sekarang cuma aku dan seorang bapak tua di belakang,  dan tentunya seorang supir di depan yang tiba tiba mengumpat dalam bahasa yang sangat aku kenal !

ah, aku baru sadar kalau kami  berasal dari daerah yang sama, padahal memang banyak lelaki dari daerah ku yang mencari kerja di kota ini, stereotype paling umum adalah para pedagang yang karena pelit  kemudian sukses, tapi banyak juga yang memilih pekerjaan lain, misalnya menjadi supir , atau contoh menyedihkan :  menjadi penulis nanggung seperti diriku sendiri.

Kembali ke cerita, jadi ,ternyata umpatan tadi disebabkan semacam kabut, atau mungkin akumulasi asap kendaraan, atau ..hal hal sejenis sekarang menutupi pandangan beliau!  Hal-hal yang  yang mungkin menjadi penyebab kenapa sebagian besar warga kota ini menggunakan masker selama berada di luar ruangan. Mungkin aku salah satu pengecualian, karena toh pada kesehariannya rokok, tapi tentunya tidak di dalam kendaraan….

…kecuali dalam keadaan kosong seperti ini

Aku menyalakan rokokku tepat saat si bapak tua di belakang ternyata melewatiku sembari  menepuk pundakku, kemudian dia membayar ongkos dan turun.

Aku tersentak,

feeling ku mengatakan ini sudah sangat  dekat dengan tujuanku. Walau pemandangan kiri dan kananya terlihat berbeda. Turun sekarang, berjalan sejenak, berlelah-lelah sedikit, mungkin lebih baik daripada terjebak pada kemacetan ini, seperti kata pribahasa  : bukan menyerah, tapi bijaksana, mengerti kapan harus berhenti

Aku pun turun dan mulai terpana melihat sekitar yang ternyata, memang berbeda. sudah tidak ada lagi kedai kopi dimana aku berjanji dengan Anya. Tapi aku yakin ini masih tempat yang sama! Sepengetahuanku, terkahir aku kesini, yang mana adalah minggu lalu, disini tidak ada taman yang di bagian tengahnya terdapat patung  yang entah kenapa begitu akrab denganku.

Aku mengamati lebih dekat patung tersebut, dan orang-orang mengamatiku. Ah, aku sudah biasa pakaian ku memang tidak sesuai dengan manusia manusia kekinian seperti mereka. Lihat, pakaian mereka…

“Ini patung seorang perempuan yang menunggu seseorang yang tak kunjung datang, sampai di meninggal dalam penantiannya,  karena kesetiannya pemerintah setempat membuatkan sebuah patung untuk mengenang wanita tersebut ”

seorang lelaki berdiri di sampingku, dan menjelaskan tanpa kuminta.

“Menarik bukan?”

aku tidak menjawab, terus mengamati patung tersebut.

“Sepertinya kau dari jauh, baru pertama kali kesini?”

Aku masih diam dan mengamati patung tersebut.

“Tapi itu cuma mitos, tidak ada yang tau kebenarannya, menurutmu  apa memang ada yang setia menunggu sesuatu yang tidak jelas mau datang atau tidak?”

Aku sedang berpikir keras, apa aku salah jurusan, atau bagaimana?\

END

Di Depan Kantormu

Di depan kantormu, tepat di seberang taman yang baru diresmikan pemerintah kota ini, aku berdiri. kadang aku berpikir, kamu  sungguh beruntung berkantor disini. Bukan, bukan soal jaminan karir yang gemilang kedepannya, itu sudah jelas, kamu pantas mendapatkannya, Tapi ini soal lokasinya, lingkungannya, suasananya,kantormu berada di jantung kota ini, dengan akses mudah kemanapun, kantor mu ini juga dekat dengan salah satu bangunan favoritmu :pusat perbelanjaan terbesar dan tertua di kota ini, dan satu lagi seperti yang sudah aku bahas sebelumnya,dari ruanganmu di lantai tujuh itu, mungkin kamu tidak bisa bisa melihat anak anak dan keluarga bermain seperti yang aku lihat sekarang, tapi pemandangan taman ini jelas  lebih luar biasa dari atas sana. Dari cerita-ceritamu,  aku tau kamu pasti agak bosan dengan rutinitasmu yang itu-itu saja,  tapi aku salut, kamu masih bisa bertahan, lebih dari  8 jam sehari  berteman dengan angka-angka, aku tau, aku pasti tidak akan bisa. Dan taman kota nan indah ini harusnya akan membantumu mengusir kebosanan dan kekakuan itu.

Jam raksasa di depan kantormu  berdentang lima kali, yang berarti tidak lama lagi kau akan merapikan barang-barangmu, merapikan dandananmu, kemudian turun dengan lift, dan keluar lewat pintu otomatis itu, Ah, itu cuma bayanganku, toh kenyataannya aku tidak tau pasti bagaimana kantormu, juga kantor yang lain, dan bagaimana rasanya menjadi bagian dari dunia tersebut.  Aku cuma menunggu disini,  Hari ini, seharusnya, kita bisa  entah kemana, menonton film atau  menemanimu berbelanja baju dan sepatu,mungkin. Ah, aku jadi ingat,  dulu kamu tidak begitu, tapi apa mau dikata,penampilan adalah bagian dari keseharianmu sekarang, dan aku mau tidak mau harus memakluminya.

lagian, siapa aku melarang larang kamu belanja ? Toh, kamu belanja pakai uangmu sendiri.

Tapi mungkin aku memang  penganut status-quo:  aku tetap lebih suka kamu yang dulu, yang lucu, lugu, wajah tanpa gincu, aku juga lebih suka rambut hitam keritingmu yang dulu. lagi-lagi menurutku, rambut lurus yang dihias warna coklat itu tidak terlalu cocok untukmu.

Aku sudah duduk di gazibu taman ini, memandang lurus kantormu yang menjulang tinggi, seandainya dulu taman ini sudah ada tentu jauh lebih mengasyikan, karena kita tidak perlu jauh jauh ke gerobak kopi Uda Rama untuk memandang matahari senja menyeruak di lorong lorong dekat sana, cukup disini di gazebo  taman ini.

“Kamu kenapa gak ngantor lagi  aja sih?”

“Kurangin rokoknya, ingat penyakit,”

“Bisa rapian dikit ga sih, kamu tuh sebenarnya lumayan lo kalo rapi?”

Aku tersenyum mengingat kata kata favoritmu sambil melihat bocah-bocah yag berlarian dan bersepeda di taman ini , kalau bisa ingin kukatakan kepada mereka untuk tetap saja menjadi bocah, karena menjadi dewasa sungguh tidak mengasyikkan.Terlalu banyak beban, pilihan, dan tuntutan. Tua? entahlah. Aku tidak pernah tau.

Salah seorang dari mereka melihat kearahku. Aku tersenyum, berharap dia membalasnya, tapi sayangnya,  teman temannya yang lain segera menariknya untuk kembali bermain bola, seolah memaksa si anak tadi untuk menjauhiku. Mereka kemudian kembali  berlari , saling mengejar, sesekali saling tendang.

ah, aku rindu masa masa itu.

Akhirnya, kamu sudah keluar dari kantormu, bercanda dengan teman temanmu. Aku lebih  rindu masa-masa denganmu.

***

Di depan kantormu, aku masih menunggumu, duduk di halte taman, saat seorang tua dengan jenggot panjang  memutih duduk disebelahku.

Seperti yang sudah bisa kau tebak, kami kemudian bercerita. Ternyata dulunya dia seorang pelukis, cukup sukses, buktinya sudah punya galeri di tiga kota, tapi kemudian, entah kenapa, penjualan lukisannya menurun, galerinya sepi. Aku jadi ingat diriku sendiri, kau ingat ? aku sering bilang padamu, kalau aku juga pelukis, tapi berbeda dengan beliau yang melukis di kanvas, aku melukis cahaya, dan objek lukisanku adalah kamu. Hasil cetakan fotomu di kamar gelap adalah yang selalu menerangi hari-hariku.

Kamu, mentari senjaku,

Senja, seperti namamu, di waktu itu juga aku pertama mengenalmu, dan di hari-hari selanjutnya, cuma di rentang waktu itu kita bertemu, Senin sampai Jumat kamu menghabiskan waktumu di gedung yang menjulang tinggi didepanku ini, sabtu dan minggu kamu masih sibuk dengan kegiatan sosialmu, panti asuhan, rumah singgah,  mengajar ini dan mengajar itu.

Jangan salah, aku tidak protes, justru sebaliknya, aku kagum, salut, kau sudah mendapatkan apa yang cari. Sementara aku? apa yang sudah aku lakukan selain membuang waktu dan menghancurkan hidupku sendiri?

Si bapak tua kemudian terus mengoceh dan bercerita, kali ini bukan tentang kehidupan, tapi tentang tempat ini, tentang para penghuni tempat ini. Kemudian, tidak lama dia pun beranjak dari sisiku.

Aku tertawa, sepertinya aku baru saja mendapatkan seorang teman, aku tentunya tidak akan merasa canggung lagi  dihari dimana aku tidak bisa melihat dan bertemu denganmu.

Jam raksasa itu berdentang lagi, dan aku bersiap siap menunggumu.

Aku cuma bisa memandangmu dari sini. Tidak lama kemudian temanmu datang dengan vespa antiknya . Kau tersenyum sebentar, kemudian naik ke boncengannya. Ah, aku juga pernah ingin punya yang seperti itu, aku sebenarnya ingin menjadi yang pertama aku bonceng dengan vespa impianku itu, tapi takdir berkata lain, hajatku belum kesampaian.

Paling tidak, kau sudah menemukan seorang teman. Ya, teman.

**

Di depan kantormu, harusnya hari ini kita bertemu, sebentar lagi.

Aku menyalakan  rokokku,  menghisapnya perlahan, saat tiba tiba jantungku terasa….

Akhirnya.

Aku tersenyum, paling tidak aku pergi sedang melakukan hal yang aku suka.

Rokok? iya aku suka itu, tapi ada hal yang lebih kusuaki dibanding rokok, atau kopi.

Menunggumu..

aku bersandar di halte depan kantormu, mataku mulai terbuka , dan melihat keramaian, orang orang mengelilingku, dan kemudian yang aku dengar adalah detak lonceng jam raksasa. Tubuhku di bawa ke ambulan, sementara aku masih di sini, mencoba mencerna semuanya.

Tidak lama kau pun turun, kemudian bergabung dengan keramaian, satpam kantormu yang tadi juga bergabung di keramaian  terlihat memberitahumu, mungkin bapak  ini sudah  hafal dengan wajah yang selalu muncul di depan kantornya setiap sore.

Aku tidak tau harus bagaimana, tapi salahkah aku kalau aku tersenyum melihatmu menangisi kepergianku

Aku memelukmu, tapi tak mampu. Sekarang, sahabatmu yang pernah kau kenalkan di stasion kereta itu yang kemudian menggantikanku,

Aku lupa namanya,tapi aku tau, dia memelukmu dengan tulus.

**

Aku masih disini, tiap sore melihatmu, mungkin kau sudah lupa, tapi aku masih selalu menunggumu. Mungkin kau sudah tidak menganggapku ada, mungkin aku cuma bagian dari ceritamu, tapi aku masih disini, di depan kantormu.

Terserah kau masih mengingatku atau tidak, terserah, foto di dompet dan meja kerjamu bukan lagi wajahku. Tapi sepertinya akau akan masih disini, melihatmu dan menunggumu.

Dentang jam lima kali, aku akan terbangun dan menunggumu pulang, kemudian  setelah melihatmu tersenyum di seberang sana, aku akan kembali menghilang.

END