29 : postingan ini mungkin telat, tapi percayalah Ray, belum telat untuk berubah.

 

“Pulau, pak, ada yang idolnya ulang tahun trus dikasih pulau, tapi masih ada yang lebih hebat sih pak, ada yang patungan trus ngasih bintang buat idolnya”

“Bintang?”

“Iya pak, bintang, jadi beli ke NASA gitu pak, trus dinamain nama idolanya”

Demikian potongan percakapan dengan Reni, seorang jamaah al- koreah yang waktu itu masih dalam suasana duka atas kehilangan salah seorang idolnya..

Tapi saya pikir, mungkin harusnya saya tak kalah sedih,soalnya alih-alih  pulau atau bintang, hari itu saya dapat  kerjaan dengan deadline mepet dan revisi luar biasa banyak. Ini bukan skenario dimana tiba tiba headwriter saya menghilang trus di salah satu ruangan ada surpise berupa piring raksasa dengan puluhan donat, sama sekali bukan. Hari  itu memang kebetulan bertepatan dengan long wiken para pekerja normal, dan ulang tahun saya.

Yah, tanggal 24 Desember tahun lalu, saya ganjil berusia 29 tahun, sebuah usia yang jelas tidak muda lagi, dan saya masih suka bertanya :

Sebenarnya apa sih tujuan saya dilahirkan?

Sayangnya, saya bukan George Bailey, tokoh utama di film  it’s a wonderful life,  yang punya kesempatan untuk melihat apakah ada kehilangan berarti dalam hidup orang orang di sekitar saya kalau saya tidak ada? atau justru malah lebih baik?

Kalau  mungkin pertanyaan di atas terlalu berat, Saya juga suka bertanya hal hal lain seperti salah tu postingan sanak saya:  Tika, yang berbunyi : sudahkah anda membuat orang lain bahagia hari ini?  atau seperti kata Aan Mansyur: sudahkah kamu memeluk dirimu hari ini?

Jadi Ray, daripada berpikir siapa saya bagi dunia luar, mungkin kamu harus lebih banyak berpikir ke dalam. Misalnya selama 2017, apa sih Ray yang sudah kamu lakukan untuk dirimu sendiri?

Apa sudah ada perubahan dan pergerakan,  atau masih di bawah tempurung yang sama ?

**

Selamat tahun baru 2018, mudah mudahan saya lebih produktif, lebih bersyukur, lebih rajin meditasi, minum air putih,  dan rajin membersihkan  kamar.

Saya tahu, saya akan selalu berada di bawah tempurung, tapi mudah-mudahan 2018 tempurungnya jauh lebih besar.

 “ Tuhan sayang kamu, that’s a nice gift, ini waktunya kamu level up”

Seperti kata Oni, anak geng Reni juga, tapi tidak suka kekoreaan.

 

 

Advertisements

YANG TIDAK DICERITAKAN TEMANKU

Aku baru menempati kamar ini beberapa hari. Hasil rekomendasi salah satu temanku di kampus, tepatnya mungkin, satu satunya temanku. Jadi kamar ini sebenarnya bekas kamarnya dulu. Sekarang makhluk ini sudah pindah kostan ngikut kakaknya. Sebenarnya kost-kostan ini agak jauh dari kampusku, kalau memakai kendaraan harus memutar, tapi untunglah, ada gang-gang kecil yang baru aku temukan beberapa hari yang lalu, yang bisa mempersingkat perjalananku ke kampus.

kost- kostan ini terbilang lumayan bagus, apalagi untuk fasilitas dengan harga yang berada di bawah rata-rata kostan mahasiwa lainnya di sekitar sini.  Cuma masalah yang tidak diceritakan temanku. Sebenarnya ini lebih ke pribadi, mungkin penghuni lain tidak mempermasalahkan hal ini, apalagi temanku yang merekomendasikan ini. Masalh itu adalah  pemilik  kost nya yang kelewat rajin berkunjung ke kostan, satu lagi, orang sekitar yang kelewat ramah,

Aku pikir, cuma itu masalahnya, ternyata …

**

Temanku tidak mengatakan tentang hal ini, yah, seperti sudah kubilang, mungkin menurutnya ini bukan masalah. Aku bukanlah seorang yang cepat akrab dengan orang lain, dan orang orang yang cepat akrab denganku membuatku muak. Maksudku kenapa mereka bisa seakrab itu? kenapa kami harus sedekat itu? apa keuntungan buat mereka?

Aku sedang mencuci piring dan gelas di dapur bersama, sebuah dapur kecil di sebelah tangga tepat di bawah kamarku, dan dan tepat di sebelah kamar lelaki ini saat dia dengan santai dan senyum menjulurkan tangan besarnya kepadaku.

Aku memberi kode bahwa aku sedang mencuci gelas, yang artinya tanganku basah.

Dia masih tersenyum.

“Ga apa-apa, santai”

Aku kemudian terpaksa mengelurkan tanganku. Dia menyebutkan namanya, dan aku akhinya menyebutkan namaku dengan malas.

Detik selanjutnya aku  kemudian naik ke tangga, meninggalkannya.

“Sok akrab”

Gumamku di dalam hati

**

Lelaki itu terlihat sibuk dengan mesin tiknya, ada sisa rokok dan kopi di mejanya.

Tentu saja aku bisa melihatnya, pintu kamarnya terbuka lebar, seperti biasanya. Sekedar informasi, selain pintu utama, yang seperti pintu normal lainnya, dia juga sudah membuat sebuah pintu lain serupa pintu-pintu di saloon di film-film koboi.

Aneh.

Aku berjalan, berusaha, menghindari, tapi  kemudian memanggilku.

“Kemana Bung ?”

Bung? aku tidak tau dia lahir tahun berapa, walau wajahnya jelas terlihat jauh lebih tua dibanding denganku, tapi menurutku, tetap saja penggilan bung sudah tidak cocok lagi. Maksudnya apa?

“Keluar, bentar” ucapku dingin

“Baiklah, hati hati” ucapnya dengan nada hangat seperti biasa.

Aku tidak menjawab dan dia kembali sibuk dengan ketikannya.

**

“Ada apa dengan orang itu?” Tanyaku ketika kami duduk di kantin kampus, menyantap makan siang kami

“Aku pikir tidak ada yang salah, dia punya banyak teman, sebentar lagi kau akan lihat kalau..”

“Apa itu tidak mengganggumu?” potongku kemudian.

“Terkadang” jawab temanku singkat,

“Tapi bagaimana mungkin aku berkata itu mengganggu saat diajak gabung dan kemudian satu atau dua botol minuman bisa kunikmati dengan gratis?”

“Ayolah. santai” lanjutnya.

Aku cuma bisa menggeleng.

Untungnya aku sudah berteman dengangan makhluk ini semenjak kecil, makanya pembawannya, sikapnya, gayanya, tidak mengangguku. Seandainya aku baru kenal, jelas, aku tidak akan …

“Hai, sorry, boleh kenalan?” ujar seorang gadis yang tiba-tiba mendekat kemudian menyebutkan namaku

Aku heran, darimana dia bisa tau namaku, dan yang lebih mengherankan  kalau dia sudah tau, buat apa kenalan?

“Oh, boleh silahkan duduk dulu’

Temanku kemudian sibuk sendiri.

Menyambung yang aku katakan tadi, kalau aku baru kenal mahluk ini sekarang, mugkin aku tidak punya teman sama sekali.

**

Untunglah,  kali ini lelaki di kostanku ini sepertinya sedang sibuk, jadi aku tidak perlu terlibat basa basi busuk seperti biasanya. Saat ini dia terlihat sedang membersihkan akuarium kecilnya di westafel.

“Dari mana?”

Aku kaget

“Kampus” jawabku seperti biasa sambil terus berjalan ke lantai atas

‘Nanti malam teman-teman mau maen kartu,mau ikut?”

“Terimakasih, aku ada tugas ”

**

Seperti yang kukatakan di awal, ada hal-hal yang sepertinya lupa disampaikan temanku kepadaku tentang kost-kostan ini, atau mungkin dia tidak mengalaminya, atau mungkin tidak mau membicarakannya.

Mataku masih melek, kehebohan main kartu di kamar bawah membuatku tidak konsentrasi untuk membaca buku, sementara besok buku ini harus dikembalikan, karena itu aku menyelesaikannya malam ini, ketika keadaan sudah terbilang sepi. Aku yakin aku bakal menyelesaikannya kalau tidak ada gangguan yang membuat bulu kudukku berdiri.

percaya atau tidak, aku mendengar suara tangisan lirih.

Terisak,persis suara wanita yang tengah menangis.

Sial.

Aku melempar bukuku, dan  langsung menutup tubuh dengan selimut

**

awalnya aku ingin menceritakan ini kepada temanku, tapi setelah aku pikir ulang, aku tidak jadi menceritakannya. Banyak alasan tentunya.

“Gimana, nyaman?” tanyanya, setelah aku resmi satu minggu di mantan kosannya tersebut

“Ya, begitulah” Jawabku

“Warung depan apa kabar?” lanjutnya kemudian

“Ga tau, aku ga pernah ke warung depan”

Dia mengangguk paham.

“Kalau sama penghuni kos cewek di sebelah udah kenalan?”

“Hah,kostan cewek?”

Jangankan kostan cewek, sesama penghuni kostan saja aku belum berkenalan…..kalau mereka tidak datang duluan

“Main donk kesana, manis manis semua”

Bertambah lagi hal yang dia belum ceritakan:  kos cewek disebelah, dan aku sama sekali tidak tahu itu.

Ah, apa sih yang aku tau?

Temanku ini berhenti sejenak, kemudian menatapku.

“Kamu masih normal kan?”

Aku tidak menjawab pertanyaan bodohnya itu, karena ada hal lain yang berkelebat dikepalaku.

Fakta baru ini,  paling tidak menjelaskan satu hal.

**

Makhluk menyebalkan itu disana lagi duduk di tangga menuju kamarku, sepertinya dia tidak punya kerjaan selain menegur dan menyapa orang pulang kuliah. Tapi untunglah, kali ini dia sibuk dengan anak kamar atas lain, satu angkatan denganku, beda jurusan, dan aku tidak tau namanya.

**

Malamnya, ada lagi keriuhan  lagi. Malam ini lelaki tersebut melakukan ritual bakar membakar daging di teras kosan yang cukup besar, kali ini dengan teman-teman yang lain yang belum pernah aku lihat. Dia mengenalkanku, katanya ini rekanan sewaktu kuliah. Terserahlah, aku tidak begitu tertarik.

Aku melenggang ke atas, kemudian menghempaskan badanku. Aku menyangga kepalaku dengan tangan, pikiran ini kembali menyerangku. perasaan ini…

**

Tengah malam aku terbangun. Suasana sudah sepi, sepertinya makhluk – makhluk di kamar bawah sudah bubar.

Dan ada suara isak tangis lagi,

Awalnya aku mencoba mengalahkan ketakutanku, mengingat perkataan temanku kalau di sebelah ada kost-kostan cewek, dan aku tidak perlu takut.

Tapi kali ini berbeda, kali ini berat, isaknya lebih mengerikan, karena ada suara suara mengumam seperti memohon sesuatu namun tidak jelas, dan aku juga tidak punya keinginan dan keberanian juga untuk mendengarkannya dengan seksama.

Bangsat.

Aku menarik selimut, memejamkan mata, tapi aku tidak bisa tertidur, wajar saja, aku baru saja bangun

Badanku menggigil,

Sial. aku lupa jendelaku belum kututup, apalagi musim hujan seperti ini.

Tapi kubiarkan, tidak lucu kalau tiba-tiba pemilik suara itu muncul di jendelaku.

Pokoknya, besok harus kuceritakan pada temanku.

Harus !

**

“Akhirnya kau mendengarnya juga,” Dia tertawa.

Aku heran.

“Sebenarnya aku tidak ingin menceritkan hal ini, tapi daripada kamu pindah atau mati penasaran?”

dan kemudian dia pun menceritakan hal yang agak sulit untuk kupercaya.

“Serius?”

“Yap. demikian lah adanya” balasnya tenang

“Bangsat, kenapa kau tidak pernah menceritakannya?”

“karena kadang ada hal hal yang memang ga harus diungkapkan, kadangkala untuk melindungi orang lain, kadang kala melindungi diri kita sendiri” balasnya sok bijak

Tapi aku mengganguk-angguk setuju. Aku tidak bisa membantah soal ini.

**

Dibawah ada keramaian lagi, sepertinya seorang temannya membawa boardgame entah apa, permainan yang  pokoknya menyebabkan keributan yang tak kalah dahsyat dibanding permainan kartu atau genjreng-genjreng gitar seperti sebelumnya. Tapi, apapun itu, sepeti biasanya, kehebohan itu bisa menyembunyikan suara tangisanku saat aku merasa kesepian, sendirian seperti saat ini. Keadaan dimana aku harus memakan kebohonganku sendiri, aku harus aku butuh teman.  Ternyata ketika ada hal halyang tidak harus diceritakan, sebaliknya, ada juga hal-hal yang harus diceritakan dan tidak bisa disimpan, sendirian.

 

HEROVEMBER

Sepertinya, bulan November 2017 ini memang bulannya para pahlawan. Bukan cuma di Indonesia yang memperingati hari pahlawannya pada bulan ini, tapi lebih kepada kemunculan para pahlawan dan pahlawan super di berbagai layar di seluruh dunia.

  1. Sebenarnya saya mau menyebut THE GIFT, serial baru dari universe x-men yang sudah mencuri perhatian saya, dengan casting dan plot yang maha keren. bagaimana tidak, ini seperti menonton lagi serial HEROES season-season awal. Sayangnya serial dimana kita bisa melihat kerennya Thunderbird, jutek dan manisnya Polaris, sexynya Dreamer,  dan machonya brewok Eclipse ini, tidak muncul di bulan Novermber tapi di akhir oktober kemaren. Karena itu sebagai gantinya, saya akan menyebut nama RUNAWAYS, yang bercerita tentang sekelompak remaja yang menemukan kenyataan pahit bahwa orang tua mereka ternyata adalah supervillain. RUNAWAYS adalah salah satu komik favorite saya, kenapa, karena jalan ceritanya yang simple, ability yang biasa dan ga overpowered, dan twist yang berani. Dan melihat apa yang dilakukan dengan bagus oleh serial ini di 4 episode awal , saya harap twist  tadi bisa di twist lagi ataupun malah diganti sama sekali, biar bocah-bocah yang entah kenapa suka sekali membocorkan hal hal seperti ini di youtube atau di forum, jadi kecele dan kesal sendiri.

featured-runaways

Pada kesempatan ini juga, saya mengajak  kawan kawan yang baca komik trus nonton, Ayolah, bagaimana kalau kita sama sama belajar  mengurangi  kalimat :

KALAU DI KOMIK  BLABLABLABLA, NANTI DI KOMIK BLABLABLA, HARUSNYA BLABLABLA

btw, PUNISHER juga sudah tayang di netflix, tapi saya belum nonton

2. Valentine, seorang superheroine dari Indonesia ( bayangkan hitgirl nya kickass dengan kearifan lokal ) juga diluncurkan bulan ini, yang kalau sukses akan menjadi pembuka dari universe sendiri yang disiapkan oleh om Marcellno dan skylar comics, sebelum meluncurkan pahlawan pamungkas mereka, VOLT. walau ga dapat banyak layar, mudah mudahan bisa berjaya. selain valentine, ada KNIGHTKRIS, animasi tentang seorang anak dan keris sakti yang membuatnya mampu berubah menjadi seorang ksatria harimau untuk melawan ashura, yang di produseri om Dedi Corbuzier dan juga membawa Kaesang dan STELLA CORNELIA sebagai pengisi suaranya.

(mudah mudahan masih sempat nonton)

 

knight kris

 

dan, WIRO SABLENG juga sudah menyelesaikan proses syutingnya dibulan ini.

3.DOOMSDAY CLOCK

4. yang ditunggu dan sepertinya harus ditonton para manusia bumi : JLA- liga pahlawan milik DC, karena Batman, Wonder Woman, Cyborg, Flash dan Aquaman, tidak bisa menyelematkan bumi sendirian…tanpa SUPERMAN.

dan last but not least,

yang sangat saya  tunggu dan akhirnya membuktikan bahwa penantian itu tidak sia sia, yaitunya, saudara JLA di layar tv : CROSSOVER ARROW VERSE / BERLANTIVERSE yang bercerita tentang para superhero DC di TV vs NAZI dari alternate universe, yang hadir , dengan cerita yang lebih padat, karakter yang lebih mendapat tempat, in short, buat saya pribadi,  ini lebih keren  dibanding tahun kemaren ketika melwan dominator, bahkan, buat saya ini lebih mengesankan  dibanding menonton JLA.

dcs-legends-of-tomorrow-2017

dan dengan munculnya TRAILER INFINITY WAR, kurang apa lagi coba Herovember ini?

 

Kuda Terbang

Kuda terbang, adalah nama daerah yang berada di bawah jalan layang terbesar di kota ini, yang punya beberapa jalur yang memang sering meragukan pengendara, terutama mereka yang baru menginjakkan gas di kota ini. Saat ini kawasan teduh karena terlindung oleh beton raksasa ini menjelma menjadi surganya para pedagang kecil.  Asal nama ‘kuda terbang’ sendiri ada beberapa versi, yang pertama adalah dulu sekali ada sebuah toko besar yang bernama ‘koeda terbang’ di daerah ini, toko ini menjadi satu satunya tempat belanja.Apapun, mulai dari sandal jepit sampai garam. Yang kedua kenapa nama daerah ini menjadi kuda terbang adalah karena dulu, lebih tua dari toko tersebut, pernah ada patung kuda terbang besar yang menjadi penanda daerah ini, namun patung itu dirobohkan, karena dianggap puja-pujaan terhadap setan oleh kaum ekstrimis agama kala itu. Kemudian,  ada juga sumber lain yang mengatakan bahwa daerah ini dinamakan kuda terbang, karena ada sebuah minuman keras terkenal hasil racikan lokal yang bergambar kuda terbang, padahal mungkin yang terjadi justru sebaliknya, karena ini terkenal dengan kuda terbang, produsen minuman tersebut membuat nama yang sama, entahlah, sementara yang terakhir adalah yang paling sedikit dipercaya sekaligus yang paling fantastis, adalah tentang keberadaan kuda terbang yang semenjak zaman dahulu kala sering terlihat di daerah sini.  Sempat beberapa hari yang lalu seseorang mengaku melihat kuda terbang tersebut  namun tidak ada yang percaya,karena di tangannya sedang ada botol kuda terbang yang konon memang jago membuat orang kecanduan meracau.Ada pula yang mengatakan kalau kuda terbang itu akan menampakkan diri pada mereka yang sudah melakukan kebaikan kebaikan, dan akan membalasnya dengan….. kotorannya yang konon adalah emas. tapi yang pasti apapun itu yang paling terkenal adalah kawasan hiburan malam di bawah jembatan tersebut, maka kalau sudah ada yang mengataan ke ‘kuda terbang’, biasanya itu artinya, mereka ingin melepaskan roh kuda dalam diri untuk meringkik ke angkasa. Padahal sejatinya,masih banyak pedagang lain di bawah jalan layang ini, misalnya pedagang makanan, minuman, aksesoris handphone dan juga pedagang DVD bajakan, dan satu diantaranya adalah :  Malik.

Malik, adalah seorang penjual DVD bajakan terlaris di daerah bawah jalan layang tersebut, dan rekor penjualannya terbanyak adalah dari DVD dewasa yang entah dia dapat dari mana, tapi memang beredar dari mulut ke mulut kalau pilihan DVD Malik adalah yang terbaik. Larisnya DVD malik menjadi bukti bahwa majunya konten digital, bukan berarti manusia melupakan keindahan masa lalu, buktinya masih ada saja golongan golongan yang mencari DVD, diantara murahnya akses untuk mendapatkan konten seperti ini.  Mungkin dalam bermaksiat, masih ada juga yang butuh nostalgia, betapa indahnya masa-masa susah nonton DVD waktu akses internet masih belum semudah ini, atau mungkin memang sekedar malas untuk mengunduh. Celaka sudah ! Namun, walaupun kaya dengan DVD yang katanya merusak moral bangsa tersebut Malik tidak pernah tergoda untuk melakukan praktek langsung di kawasan yang tidak jauh dari lapaknya tersebut,  konon banyak yang percaya kalau Malik tengah memakai prinsip kalau pengedar tidak akan memakai barang haramnya sendiri. Wallahualam

Sementara itu, rekan se profesinya, Ridwan, yang berkonsentrasi pada DVD anak anak dan agama justru langganan di tempat hiburan tersebut. Ridwan memang menggabungkan teori dan praktek ( beberapa kali dia bahkan meminjam koleksi dari Malik untuk memperdalam ilmunya ) bahkan menurut cerita yang beredar diantara para pedagang DVD bajakan ( dan juga pedagang lain di sekitar sana)  Selain itu ada gosip lain yang mengatakan kalau Ridwan juga punya hubungan khusus  dengan beberapa wanita yang sering membeli DVD bajakan ketempatnya, walau tidak begitu banyak yang percaya, karena kalau memang Ridwan punya akses gratisan, kenapa sering kali hidung belangnya ( hidungnya benar benar belang, ada bagian yang lebih putih dibanding bagian lain dihidung Ridwan, konon ini adalah bekas plester yang sering dia pakai buat gaya-gayaan)  masih sering terlihat di kuda terbang?

**

Malam ini, lagi-lagi Malik diajak Ridwan ke kuda terbang. Tapi bedanya, kali ini Malik menyanggupi, Ridwan pun kaget, tidak siap menerima perbuahan ini. Padahal, ketika mengajak kali ini, dia tidak lagi berharap disetujui,cuma menjalani rutinitas, semacam sudah candu dengan penolakan. Selidik punya selidik dari Pak Koi penjual ikan hias, ternyata Malik kedatangan pembeli, seorang gadis cantik berhijab,dengan kaos dan celana superketat, yang sepertinya  berhasil mengusik hormon Malik.

“Tapi gue ga punya cukup uang Wan!”

“Bohong lo, mana mungkin pedagang selaris lu tidak punya uang”

“Ada, tapi tidak banyak, gue dengar-dengar disana mahal”

Ridwan tertawa “Udah, ga usah khawatir, lo bawa  berapa yang lu punya, kurang urusan gue”

Malik masih ragu, itu yang sebenarnya terjadi. Karena, semenjak mendapat telpon dari ibunya di kampung kalau kekasihnya sudah meninggalkannya dengan lelaki kaya, Malik punya tabungan cukup  banyak, karena dia tidak perlu lagi meriusaukan  pulsa dan oleh-oleh berupa baju tas dan sandal kw untuk kekasihnya itu kala Malik mudik.

**

Malik pergi ke sebuah mushalla kecil di sebelah wc umum yang mungkin kadang mereka yang masuk akan salah menebak  yang mana adalah yang mana. Setelah mengambil wudhu dan menguatkan diri sendiri kalau airnya bersih,  Malik pun shalat dua rakaat.

“Tuhan, kau tau selama ini aku sudah menahan untuk tidak mengerjakan laranganmu ya tuhan, bahkan aku tidak pernah menjamah si Jeni yang sekarang sudah meninggalkanku”

Dia melihat kiri kanan, takut kalau ada yang mau masuk, tapi sepertinya tidak ada, dia pun berdoa lagi dengan suara yang lumayan keras.

“Tapi hari ini, sepertinya aku sudah tidak tahan tuhan, aku  tau kau tau aku belum pernah menyentuh Jeni, tapi siapa yang tau tuhan, maksudku, selain engkau,apa yang dia lakukan di belakangku, sekarang saja dia sudah..

tiba-tiba Malik merasa doanya sudah rerlalu melebar, bahkan dari memohon sudah sampai kepada ghibah dan mungkin fitnah…

“Jadi,singkatnya  begini tuhan,  kalau malam ini kau beri aku ruang untuk  maksiat, maka aku mohon berikan juga aku ruang untuk tobat”

maksiat-taubat

Tiba tiba dia percaya kalau doanya sudah benar, karena dia pernah baca di salah satu buku gratis di gerobak kopi uda rama yang mangkal tidak jauh dari tempatnya: kalau berima seperi diatas,maksiat-taubat,  dia sudah melangkah ke jalan yang benar.

Benar atau salah, entahlah.

**

“Kalau buat pemula seperti lo, gue saranain sama si Lulu saja, dia bakal bikin kecanduan, kalau gue sih udah bosan ama yang begitu, gue langganan ama yang sudah pengalaman, macam si Niken, lo tau si Niken kan ?” Sepanjang jalan tadi, Ridwan memberikan pengarahan kepada Malik.

Malik mengangguk, karena Niken juga salah satu langganan film-film Hollywood bajakan di lapaknya..

Kemudian dari kantong kresek yang dari tadi dipegangnya, Ridwan mengeluarkan dia membawa sebotol  jamu, “Nah lo minum ini dah, biar gak rugi, biar gak banyak ngobrol, langsung hajar!“

Sementara Malik minum, seorang perempuan mendatangi Ridwan,

“Nah, silahkan lo pilih sendiri dah, gue masuk duluan, kalau butuh apa-apa  klo tanya saja si Ridwan kemana, pasti mereka tahu”

Namun tidak lama, Malik kemudian keluar lagi, ada bau yang tidak cocok dengan hidungnya, ya, dia tau memang area bawah jembatan itu bau, tapi ini berbeda, bukan busuk , harum malah, tapi harum yang dia tidak biasa. Dia kemudian keluar, tepat saat seorang perempuan lain menyapanya dengan logat daerah yang kental,  menawarkan dirinya, dan Malik lagi lagi cuma tersenyum.

Tak jauh dari tempat Malik berdiri, ada sebuah becak yang sedang parkir, pemiliknya terlihat sedang lelap, Malik tau siapa orang itu, dia , dia memang suka membawa perempuan dari sini,atau dari luar ke sini, kadang sekali dua kali dia mendapar bayaran dalam bentuk lain. Benar tidaknya Malik tidak tahu,  Malik mendapat cerita dari Johan, seorang tukang ojek yang cuma sesekali juga mangkal di kuda terbang,

“Psst!”

tiba-tiba terdengar suara dari sebuah sudut lain.

Awalnya Malik sedikit takut, apalagi suara itu berasal dari sebauh sisi gelap kuda terbang, namun ketika pemilik suara muncul. malik sedikit tenang, ternyata cukup perempuan itu cukup cantik,dia cuma kumal dan berantakan, dan tentunya jauh dari kata dandan.

“ Lo mau masuk kesana?”

Malik menggeleng.

“Pertama kali?’”

Mulut malik terkunci, tapi tangan dan kakinya bicara.

“Disono mahal, ama gue aja, gue diskon”

Malik kaget bercampur heran

“Maksudnya apa nih?”

“Gue  kasih servis lebih dengan bayaran kurang,”

Malik masih diam.

“Lo mau begini kan?” perempuan itu memberi kode menggunakan jari-jarinya.

Malik kemudian mengeluarkan dompetnya,memperlihatkan uang didalamnya

“Ga apalah, gue lagi butuh duit, belum makan dari tadi pagi…”

Malik  diam lagi.

“Begini,kalau lo mau,  ikut gue sebentar, ada urusan yang harus gue selesein dulu”

Malik membakar kreteknya, dia pun kemudian mengikuti langkah si perempuan yang berjalan ke arah bawah dari kuda terbang, menuju tumpukan rumah kardus dan triplek yang digunakan mereka yang kurang beruntung sebagai tempat hunian.

“Anak siapa?’ tanya Malik ketika melihat si perempuan kelaur dari salah satu rumah kardus sambil menggendong balita.

“Anak teman gue , emaknya pulang malam, kasian juga dia, gue boleh minta duit dulu ga buat beli susu?, nanti lo tinggal bayar kekurangannya”

Malik kaget tiba tiba ditodong demikian, tapi entah kenapa dia tetap mengeluarkan dompetnya dan menarik sejumlah uang

“Gue  titip bentar  ga apa kan?” Si perempuan menyerahkan bayinya

Malik menarik uanganya kembali

“Maaf,  biar  gue deh yang pergi”

“Ga usah, ngerepotin”

“Justru kalau lo  pergi  gue yang  repot,  lagian gue kaga ngarti  gimana ngurus  ini anak, lo tunggu disini aja”

Baru beberapa langkah, tiba tiba Malik ingat sesuatu.

 “Mereknya?”

Wanita tersebut kemudian menyebutkan merek susunya,

**

Malik masuk sebuah mini market yang tidak jauh dari kuda terbang. Setelah berputar putar mencari susu, akhirnya Malik  pun sukses  menuju kasir.

Malik kaget, ternyata gadis yang tadi datang ke lapaknya ada disana. Dia tersenyum, ramah sekali, Malik gugup. Berbeda dengan tadi siang, malam ini dia begitu teduh, Sama sama bercahaya, tapi siang tadi dia seperti matahari, malam ini bak rembulan.

“Abang yang jual DVD kan?”

Jantungnya berdetak kencang, gadis ini mengingatnya.Dia cuma mengangguk, sambil tersenyum kecil.

“Buat anaknya bang?”

“Bukan, buat anaknya teman”

Si gadis mengangguk kemudian tersenyum. Dan entah kenapa, senyumnya ini memberikan kehangatan yang berbeda kepada Malik, sesuatu yang pernah di dapat Malik dulu pada senyum kekasihnya

“Terimakasih” ucap Malik mengambil kantong dan kembalian uang

si perempuan tersenyum lagi.

“Sampai-” Malik tercekat.

“Sampai….pagi?”

“iya bang”jawabnya pendek

Malik pun tersenyum

“Sampai.. ketemu lagi ” ucapnya kemudian, tiba-tiba.

Giliran si gadis berjilbab , tersenyum, lagi.

***

Perempuan itu sedang meracik susu untuk si anak, sementara Malik masih disana, bingung mau berbuat apa. Setelah minum susu dari botolnya, tidak lama kemudian si anak bisa tertidur dengan nyenyak.

“Ga jadi?” tanya si perempuan

Malik masih diam, ada yang mengganggu pikirannya. Tubuhnya mungkin disini, ingin mendapat kenikmatan ragawi, tapi jiwa dan hatinya tidak.

bunyi perut si perempuan, mengambalikan Malik ke dunia nyata

“Maaf” ucapnya kemudian.

Malik memandang perempuan tersebut.

“Sebentar”

Malik kemudian berjalan tanpa menunggu jawaban dari si perempuan. tak lama  kemudian Malik sudah kembali dengan sebungkus nasi di tangan

“Nih, makan’

Perempuan itu tampak ragu ragu, tapi kemudian tetap mengambil bungkusan dari Malik dan membukanya.

“Makasih, lo tinggal bayar sisanya” jawab si perempuan dan mulai makan dengan khusyu.

Malik tersenyum, kemudian memberinya sejumlah uang

“Lo, kita kan belum? ….atau lo mau sekarang”

Malik menggeleng

“ Abis gue makan ya, lapar banget ini”

Malik kemudian tertawa, meninggalkan si perempuan yang masih terheran heran.

**

Malik  sedang menonton film kesukaannya : RAMBO keberapa yang entah keberapa kali. layar baru saja menampilkan tentara Vietnam yang kepalanya pecah kenapa sniper. Bagian favoritenya.

Kemudian dia melakukan apa yang tidak bisa dilakukan ratusan tentara Vietnam ;  mematikan Rambo dan menggantinya dengan sebuah DVD yang sepertinya  dari negeri sakura

Malik kemudian sudah menikmati dengan adegan per adegan di DVD tersebut, semuanya berpindah ke kepalanya, dia sibuk sendiri sampai puncaknya, antara sadar dan tidak, dia melihat seekor kuda terbang menembus dinding kamarnya. Sayangnya dia sudah tidak bertenaga untuk membuktikan apapun, dia pun tertidur di kasur tipis kontrakannya.

ENF

 

 

kurang dari 24 JAM BERSAMA GASPAR : BUKAN CERITA DETEKTIF

Sebagai penggemar detektif, pertama kali melihat novel  24 JAM BERSAMA GASPAR, saya langsung gatal ingin memiliknya, bagaimana tidak, dengan sub judul SEBUAH CERITA DETEKTIF, tentulah ini semacam keharusan, namun sebagai orang kere yang punya pekerjaan sama dengan tokoh utama di buku ini, maka saya menahan diri untuk tidak membelinya dulu, sampai, pada suatu hari junior yang juga seorang suhu saya,di instagram menawarkan buku buku bekas bacaanya, maka jadilah saya membelinya, dengan harga yang kurang lebih sama, bedanya,  kali saya dapat dua buku.

Dan setelah membaca kurang dari 24 jam, percayalah, walau buku ini keren, ini bukan cerita detektif.

***

gaspar-depan

“Semua orang terlahir untuk menjadi keparat dan siapa pun yang berkata sebaliknya pastilah delusional atau, kalau tidak, ya pendusta kelas berat.” (hlm. 170)

Seperti yang tertera di bagian belakang, novel ini bercerita tentang rencana seorang lelaki 35 tahun bernama Gaspar yang dalam 24 jam kedepan berencana  untuk merampok toko emas Wan Ali demi sebuah kotak hitam yang misterius. sepanjang jalannya waktu tersebut  kita akan diberikan cerita dan mitologi tentang kotak hitam misterius terebut, seiring itu juga kita akan bertemu tokoh tokoh menarik yang akan meramaikan perjalnanan Gaspar, sang tokoh utama  dalam tindak kejahatan ini : ada Cortazar,motornya yang dirasuki jin citah, Nik, mantannya Gaspar, yang lagi hamil anaknya gaspar, tapi mau menikah dengan Jet, sohib selaigus mekanik buat Cortazar. Selanjutnya ada Afif atau Agnes, cewek yang dikenali di diskusi film Fight Club, ada Yadi atau Pongo, orang dalam pekerja toko mas Wan Ali, dan ibu-ibu yang mencari suaminya, serta ada Budi alozon, rocker legendaris yang memakai topeng pegulat.

Bersamaan dengan hitung mundur, kita akan terlibat dengan masalah masing masing karakter, ada yang berat dan rumit, ada yang selewat dan cuma sedikit. yang membuat kita akan berpikir dan percaya  kalau tidak ada yang kebetulan di dunia ini, dan kita kita semua terhubung in a way, Selain plot cerita utama ‘rencana’ perampokan toko emas oleh Gaspar, kita juga akan dihibur  oleh babak interogasi antara seorang lulusan terbaik akademi kepolisian dan seorang saksi nyinyir tentang kematian seorang anak.

Tapi percayalah, walau sempat meragukan  Holmes dan Poirot , ini bukan cerita detektif.

**

Gaya penulisn novel ini  seakan terkesal asal dan slengean, namun terkadang  lucu, dan di beberapa titik filosofis dan kritis, inilah yang membuat novel ini tidak monoton dan efeknya, susah untuk ditinggalkan. Dengan magis dari Sabda Armanio sang penulis yang kaya referensi baik dari film, musik atau bacaan, kita akan percaya saja pada semua mitologi yang  diceritakan oleh Gaspar. Begini,  kalau anda jenis manusia  yang percaya dan suka kalau laksamana Noah  akan bertarung melawan zombie yang muncul dari bekas banjir besar, maka hal hal lainnya di novel ini  juga akan membuat anda jatuh cinta.

Terakhir, tidak perlu menjadi seorang detektif atau mencintai cerita detektif untuk menyukai buku ini, buku ini ringan dan sama sekali tidak berbelit-belit. Ikuti saja alurnya, biarkan dialog dialognya mengalir di tubuh anda. Lalu,tersenyumlah mengkerutlah, dan tertawalah, dan  kurang dari 24 jam, anda akan langsung terlibat dan jatuh cinta pada seorang Gaspar yang walau ini bukan cerita detektif, konon adalah seorang detektif.

Fabel Si Beruang

Beberapa hari belakangan Fabel tidak bisa tidur. Sampai hari ini pun masih demikian. Sekarang dia sedang  mencoba merebahkan  tubuh besarnya  di dalam sebuah liang es – semacam lubang yang dikelilingi bongkahan es yang tebal, memang dari luar terlihat dingin, tapi percayalah di dalamnya cukup hangat, sama seperti hati si empunya,  dan Fabel didalamnya tidur sendirian, Tidak seperti rekan-rekan beruangnya yang lain yang kebanyakan sudah berkeluarga, Ursa misalnya. Punya teman tidur tentu membuat liang es lebih hangat, cakar yang bersentuhan, tubuh dan  bulu yang bergesekan, apalagi ketika seorang anak lagi ditengah mereka,  dan sekarang Ursa  sudah punya dua, Dua duanya jantan, gagah seperti ayahnya. Ursa memang mungkin beruang paling tampan diantara kawanan beruang di lingkaran pergaulan Fabel, Bulu bulunya tertata  rapi. hidungnya hitam sempurna, matanya tajam, tidak sendu seperti milik Fabel, semua yang ada pada diri temannya itu memang menunjukkan kalau  dan dia pemburu yang hebat, tidak ada anjing laut atau rusa yang bisa lepas dari buruan Ursa, dan dia mendapatkan Polar, bintang beruang yang tercantik. Oh, kadang Fabel berpikir, apa memang beberapa beruang diciptakan beruntung dan yang lain tidak?

Dan lagi-lagi Fabel gagal untuk tidur.

**

Fabel mencoba menjangkau beberapa ikan yang seolah menantangnya saat dia sedang duduk sendirian di  bongkahan es tipis yang cukup jauh  dari liangnya. saat  Ursa tiba-tiba datang dengan hasil buruan,seekor anjing laut berukuran sedang.

“Aku tau kau belummakan,” ucap sahabatnya itu sambil kemudian menjatuhkan bangkai tersebut di depan Fabel

“Terimakasih, aku bisa sendiri” balasnya sambil melirik hasil buruan yang menggoda tersebut.

Ursa duduk di sebelahnya, “Belakangan ku lihat kau sering kesini, ada apa?”

“Es kian menipis ” jawab Fabel pendek

Ursa memandangnya

“..dan aku tidak bisa tidur” lanjutnya kemudian.

“Sudahlah teman,es menipis atau tidak itu bukan urusanmu, sudah ada yang mengatur, kau cuma menambah beban di kepalamu, lakukan saja apa yang seharusnya kau lakukan, maka kau akan bisa tidur dengan nyenyak”

Seekor ikan yang ternyata masih punya nyawa lolos dari cakar Fabel dan melompat kembali ke dalam air. Fabel menggaruk kepalanya yang tidak gagal kemudian menikmati  anjing laut dihadapannya.

“Terimakasih” ucapnya walau terdengar aneh dengan mulut yang penuh lemak

“Kau mau?” sambung Fabel kemudian

“Aku sudah kenyang”

“Anak-anakmu?”

“Jangan khawatir, Polar juga pemburu yang baik, mereka pasti sudah makan sekarang”

dan Fabel terus bertanya sambil terus menikmati sajian mewah dihadapannya tersebut.

“Ayo pulang” ucap Ursa ketika melihat temannya kembali memandang kejauhan, setelah hasil buruannya tadi habis.

Fabel menggeleng

“Ayolah, jangan sendirian , biasa bisa kau dimakan Wendigo*”

“Itu cuma mitos”

“Mitos? aku pernah melihatnya langsung,  ukurannya sangat besar dan”

“Dan pasti kau sudah mengalahkannya” potong Fabel

“Kau gila, mana mungkin!”

“Memang apa yang tidak bisa kau kalahkan?” ucap Fabel

“Percayalah, semua ada batasnya”

“Ayolah, mari berkumpul bersama yang lain”

“Duluan saja, aku masih ingin disini. nanti aku menyusul”

Ursa kemudian berlalu, dia tahu, Fabel sepertinya memang butuh waktu sendiri, biasanya dia adalah yang paling rajin berkumpul bersama yang lain, dan dia juga tahu, kali ini Fabel tidak akan menyusul.

*

Hari sudah menjelang sore, ketika seekor  camar kecil turun mendekatinya.

“Ada urusan apa kau kemari” tanya fabel kemudian, setelah mereka berdiam diaman beberapa saat.

“Tidak ada larangan  bukan? aku tidak melihat  ada rambu atau semacamnya “

“Selain anjing laut dan rusa, Kau tau kalau aku dan teman temanku juga suka memakan bangsamu?”

Burung kecil itu menghela nafas, “Bukankah setiap kita punya peranan masing masing, dan salah satu perananku adalah menjadi makaan  bagi kaummu, tidak ada yang salah dengan itu”

“Aneh,kenapa kau tidak takut, wahai camar tak bernama”

“Namaku Pink, dan maaf kalau aku menyinggungmu, tapi buatku, kau sama sekali tidak berbahaya”

Fabel tersenyum, dia bisa melihat kenapa di dinamai demikian ada rona  merah jmbu di wjh burung camar cantik tersebut, tepat di atas sebelum paruhnya.

“Kau tau dari mana kalau aku akan tersinggung”

“Dari wajahmu, kalaupun tidak tersinggung, wajahmu memikirkan sesuatu,”

“Kau tau-“, kali ini dia duduk di sebelah Fabel dengan santai. “-aku selalu melihat wajah kau seperti dirundung kesedihan, bukan karena bentuk matamu yang sendu itu, sama sekali bukan, tapi dari dalam matamu, aku selalu melihat ada ketakutan.. kebimbangan.   Kadang aku bepikir, apa yang sedang kaupikirkan?”

“Entahlah, aku juga tidak tau” jawab Fabel cepat

Camar laut betina itu terkekeh,

“Lihat,  lagi lagi kau memunculkan itu, wajah  memikirkan sesuatu”

Fabel mengangkat satu alisnya.

“Lucu,kau tau, dengan wajah itu kau terlihat tua”

“Aku memang sudah tua”

“Tolong, jangan memikirkan perkataan ku barusan”

“Telat ! aku sudah memikirkannya”

dan keduanya terkekeh. Ada yang mencair, tapi bukan es di sekitar mereka.

“Sebaliknya, kau terlihat tidak ada beban” ucap Fabel kemudian

“Maksudmu?”

“Kata katamu tadi, kau seperti tidak takut mati,  apa kau tidak berpikir setelah imati  kau akan bagaimana, atau sebelum kau memnuhi takdirmu untuk dikoyak koak kawananku, apa kau tidak ingin melakukan sesuatu yang besar, seperti menyelamatkan dunia mungkin?”

“Entahlah, tuan berwajah-memikirkan-sesuatu, aku  tidak berpikir terlalu banyak,  aku tidak suka memikirkan apa apa yang diluar kenaliku, aku lebih suka menjalani -“

“Terbang, maksudmu?”

“Baiklah, maksudku, aku lebih suka terbang dan menikmati pemandangan”

“Aku juga aku suka berjalan-jalan, lihat, tempat  ini cukup jauh dari tempat tinggal ku” protes Fabel

Camar cantik itu tersenyum, “Tapi kau tidak menikmatinya, kau memikirkannya-“

“-dan barusan  kamu memikirkannya lagi” lanjut Pink cepat.

Fable tersenyum

“Ah, kamu begitu gampang ditebak” ucap lawan bicaranya  tersebut sambil kemudian bertengger di bongkahan es yang agak tinggi.

“Aku pamit dulu, sebenarnya masih banyak yang ingin kubicarakan, tapi kwananku sudah muncul, mungkin lain waktu” lanjutnya kemudian

Fabel berdiri “Baiklah kawan, begini,karena kau sudah menemaniku dengan percakapan ini , kau kubiarkan pergi dengan selamat sore ini, tapi tidak lain kali”

Pink terkekeh, “Jangan terlalu memandang tinggi dirimu, lain kali pun kau tidak bisa menangkapku”

“Siapa bilang?”

Fabel berjalan mendekat, Pink naik ke es yang lebih tinggi lagi

“Kau yakin?”

Fabel diam sejenak,

“Tidak juga sih” Jawabnya kemudian.Pelan.

dia menghapus es ditangannya , menghela nafas panjang kemudian kembali menantang burung tersebut

“Tidak untuk sekarang, tapi aku serius, lain kali akau akan serius untuk mendapatkanmu”

“Sudahlah, hentikan bualanmu, bagaimana mungkin aku bisa menganggap serius, beruang yang meragukan diriya sendiri?”

setelah berkata demikian, burung cantik itu pergi. mengepakkan sayapnya, bergabung bersama kawanannya yang lain.

**

Malam menjelang dan fable masih memikirkan, entah apa. Dia menatap kukunya, tak lama perutnya terasa lapar. Tak lama mencari,  seekor ikan yang sepertinya memang sudah menjadi rezeki Fabel berakhir di perutnya.

Setelah bersendawa, Fabel kemudian  kembali telentang, memandang langit malam yang entah kenapa menjadi sangat indah.

**

Terdengar suara yang sudah dihafalnya berteriak dari luar, Fabel yang baru saja berencana mencoba tidur setelah semalaman bicara sendirian kepada langit malam kembali  menyeruak keluar lubangnya.

“Ada apa kawan?”

“Aku dan beberapa teman mau berburu ke padang datar, mencari rusa belang kaki, kau mau ikut?” tanya Ursa

Fabel menggaruk kepalanya, sepertinya itu memang caranya berpikir.

“Ayolah, mengurangi beban tubuhmu, kau terlalu gendut buat seekor beruang, lama lama, manusia akan memburumu, mengiramu paus putih”

Terdengar tawa dari yang lain, kecuali Ursa yang masih menunggu jawaban temannya itu

“Lemak itu sudah keluar dari fungsi dasarnya, mereka  membuat kau susah bergerak, dan berenang, kau mejadi tidak cekatan, dan kalau tidak cekatan kau akan menjadi pemburu yang payah”

Fabel tiba-tiba  tersenyum.

“Mungkin sudah begitu keadaannya kamerad”  ucapnya kemudian

“Tidak semua beruang terlahir seperti kalian”

Temannya saling pandang.

“Semua beruang terlahir sama” ujar yang lain

“Tidak kawan, tidak, aku sudah memikirkannya”

“Apa yang kau pikirkan?” terdengar pertanyaan entah dari beruang yang mana, mereka terlihat sama, kecuali Ursa.

“Ya, mungkin aku memang dicpitakan seperti ini, aku memang diciptakan untuk tidak ikut perburuan kalian, aku memang dicpitakan untuk tidak cekatan”

“Lalu? untuk apa?”

“Nah, itupun aku masih memikirkannya”

Terdengar gelak tawa dari gerombolan, lagi lagi, kecuali Ursa.

“Kau payah” ucap Polar  yang dari tadi menguping, anaknya yang kecil, yang masih sedikit lebih besar dari tikus menempel di kakinya.

“Tidak ada yang tertarik dengan beruang yang demikian” sambungnya kemudian

“Sudahlah, jangan menggodanya sayang, kalian juga, hentikan gurauan kalian!” Ursa pun akhirnya bersuara, menenangkan semuanya.

“Lalu apa yang kau lakukan sekarang?” tanya Ursa kemudian

“Aku sudah putuskan..”

Fabel menggantung kalimatnya

“Aku mau  tidur dulu,sudah beberapa hari ini aku tidak tidur, mungkin aku juga akan tidak makan, dan mencoba tidak memikirkan apa-apa”

Ursa masih menatapnya

“Baiklah, aku berangkat, sampai jumpa” ucap Ursa kemudian

dan  Fabel  kembali ke liangnya,  tidak lama dia pun tertidur dengan pulasnya.

END

**

*wendigo adalah makhluk cryptid berupa monster raksasa yang mengerikan, ada yang mengatakan bertanduk. ada yang mengatakan tidak punya bibir, namun ada pula yang berpendapat bahwa makhluk ini masih saudara dengan Yeti dan Big foot, yang punya wujud serupa kera dengan ukuran sangat besar. 

 

LPLPLK : LATE POST LO PIKIR LO KEREN

 

kalau lo ga punya duit, akan sangat penting bagi lo buat orang lain tau..kalo lo bahagia

-Adriano qalbi-

Meminjam kalimat MC di acara serius lingkungan hidup apalah, dimana hampir ga ada yang ketawa ketika orang ini standup, dan 15 menit pun dipangkas jadi 6 menit…

Terimakasih atas pencerahannya….

**

Pertama kali  “kenal” dengan  Bang adri ini  lewat ‘Talk Of Life nya Om Sam di youtube, ngomongin hal serius dengan santai dan berisi,  selain Om Sam dan  Bang Adri ini, ada  Acho dan Rindradana ( komika lain yang  saya tunggu spesial shownya yang bertajuk limit break di Bandung). Dari sini mulai ngikutin beberapa stand up si abang yang di youtube aja jarang, apalagi di tv,( walau bang Adri tetap ada di belakang layar sebagai  mentor di SUCI)  kemudian ngikutin social eksperimentnya si abang di kompas tv via yiutube, yang membuat saya  makin ngefans, sampai akhirnya  jadi fans banget ketika beliau resmi jadi bapak podcast Indonesia lewat PODCAST AWAL MINGGU di youtube dan  soundcloud.

Maka,saat si abang memutuskan bikin special show berjudul   LO PIKIR LO KEREN di Jakarta, langsung pengen nonton, tapi telat dan kehabisan, akhirnya cuma bisa menyimak dan request LPLK Bandung

yang mana akhirnya menjadi kenyataan!

dan thx to Randi dan Tami, akhirnya bisa menjadi bagian dari orang orang yang ikut menghabiskan tiketnya di 48 jam pertama

and..worth it..

**

Sampai di lokasi : IFI  Bandung, awalnya saya mikir bakal ada baliho besar besaran dengan wajah si abang atau apa, ternyata tidak, keadaan iIFI bandung tidak berubah,

benar-benar seakan tidak ada acara apa apa,sampai saya terpaksa nanya security  untuk memastikan…

dan ternyata memang acaranya di auditorium bagian belakang.

OK

Saya jalan, masih berharap akan ada tanda tanda atau penampakan, dan ternyata, masih tidak sama sekali pemirsa, cuma ada keramaian seperti perkumpulan mahasiswa pada umumnya  dan …

20171007_182631

serta  sebuah meja buat penukaran tiket yang  yang …benar benar biasa.

Sorry, ada sih satu meja shoutout, yang jualan merchandise,  bukan cuma merchandise acara ini saja,, ada kaos warkop DKI, setengah jalan dan lain lain.

gini doank nih bang?

**

Acara dimulai agak telat, kemudian dibuka  kageana, alias shadow MC  yang tidak lain tidak bukan adalah si empunya acara sendiri.

opener pertama,  Gusman, sukses dengan gagah gemulainya,   bit bit yang dekat dengan dunia demikian lumayan sukses memancing tawa, begitu juga  beberapa bit soal Bandung : Angkot, banjir  yang..kadang macet kadang ngalir. opener kedua, Patra, penyiar dari Jakarta yang langsung ditendang keluar di malam pertamanya di  SUCI 7 ini cukup pecah, apalagi Patra  ngaku baru mulai standup taun, dan bit panjang-nya soal afgan ini.. Sadis sih..

Kamal  menjadi opener terakhir show malam ini, awalnya sempat mikir, kenapa Kamal malah di letaakn di akhir, apa benar karena Bang Adr  salah manggil atau bagaimana? karena ketika  nonton kamal di kompetisi tv ini ga pernah berhasil ketawa, tapi ternyata pas live kemaren.. PECAH ANJING !!  yah, walaupun sama dengan materi opener pertama, kalau ini diluar bandung mungkin ga bakal seanjing ini! tapi bukankah itu fungsi opener yang dekat dengan crowd?

nah, apakah menu utama lebih baik?

ya, dengan lengkapnya persiapan yang bertebaran di stage  harusnya sih demikian…

dan memang demikian…

Munculnya logo 17 plus di tiket, dan peringatan awal MC, materi makhluk ini, juga opener tadi, adalah materi yang tidak aman untuk anak 17, walau kelakuan kids zaman now mungkin lebih parah sih, tapi tetap saja, ini  bisa makin ngerusak mental para remaja  jenis materi yang bakal memuncul kan titit titit  alias sensor di tv. Lagian kayanya emang para remaja gak bakal suka sih dengan materi materi bangsat ini.

Secara garis besar, tema nya adalah yang biasa di hajar bang Adri di podcast, jadi buat para KOLAM TAI  ( sebutan fans Lord Adri ini )  mungkin sudah akrab dengan tema, seperti  demokrasi, topeng moral,  netizen sotoy, nikah, sex , agama a la Bang Adri, tapi dengan setup dan patahan yang fresh.

Semua dihajar, dari rokok sampia stiker happy family, dari tukang parkir sampai presiden ga lepas jadi  bahan joke dan kritik. Bahkan yang punya kuasa di atas presiden, alias istri sendiri pun jadi bahan mantan penyiar radio ini. dari boomerang di kawinan, sampai wifi di tempat makan bisa membuat tawa luar biasa. Dan Analogi adalah jelas merupakan  senjata utama  bang adri, beberapa analogi bikin tawa dan tepuk tangan bergema di auditorium

Favorit saya sih analogi  jalan lurus yang dihadirkan hampir di penghujung Show.

“ Lo tau kenapa ga boleh muter, kenapa semua keluar pas lo puter balik?  karena yang lain  juga ingin muter”

dan banyak lagi hal-hal keren yang kalo ditulis di sini sih jadi sayang, karen, pertama ga enak ama bang Adri, karena materinya akan bocor ke khlayak ramai walau ga seberapa yang baca blog ini, dan yang kedua ga enak sama orang orang yang kena kick dari semua logika yang make sense dari bang Adri .

dan benar kata Kamal ( atau Gusman ya?)

habis ini lo semua bakal diajak berpikir dengan keren ama adri, dan sampai rumah, lo bakal mikir, kalo yang paling keren ya si Adri. ini doktrin!

ya, bener sih, mau gimana, Bang Adri toh juga benar

ada alasannya, kenapa gue yang berdiri disini, dan lo semua yang dengerin gue…

20171007_183537

 

Tai lo Bang

 

 

Pustaka Kota Ini

Sudah terlalu lama aku tidak kembali ke sini.  Ternyata sudah cukup banyak yang berubah dengan kota ini, memang ini masih kota kecil yang dulu, tapi tidak sepertiku, sepertinya perubahan waktu juga menyentuh kota ini. Misalnya, kali ini ada sebuah bioskop di pojokan kota, yang akan memutar  film yang digandrungi muda-mudi kota ini, kalau saja dulu sudah ada bangunan ini, pasti kami sungguh bahagia. Ah, tapi tidak mungkin, bisa bertahan hidup saja, sudah bisa dibilang beruntung.

Tapi kalau ada yang tidak berubah, itu adalah bangunan yang sedang kulewati omo, bangunan yang menjadi tujuan utamaku ke sini : pustaka kota ini,  yang masih seperti dulu, catnya memang sudah berubah,  aku tidak tahu sudah  berapa kalii berubah semenjak terakhir kalu aku kesini dulu. Warnanya sekarang cukup menarik: merah darah, cukup mencolok, tapi sepertinya akan tetap seperti dulu : sepi.  Oh, pohon besar di depannya sudah tidak ada lagi, paling tidak ini mengurangi kesan horror dari bangunan ini. walau untuk beberapa orang ini juga kana menghilangkan bagian romantisnya.

**

Aku  berjalan keluar pintu pustaka, sedikit  kesusahan dengan beberapa buku besar ini, tidak kusangka, ternyata sudah cukup larut, lagi -lagi aku menjadi penghuni terakhir gedung ini, tapi siapa peduli, Selain Selena- satu satunya temanku , cuma ini  yang bisa menjadi hiburan di kota ini, paling tidak untuk gadis sepertiku, apalagi, aku butuh beberapa bahan bacaan untuk koran sekolahku.

Aku melewati pohon besar disana, saat tiba tiba sesuatu melompat dan berdiri di hadapanku

Aku gemetaran, cerita horror tentang pohon ini akhirnya menunjukkanw ajahnya di hadapanku

“Maaf mengagetkanmu,” ucap lelaki itu, dia terlihat beberapa taun lebih tua, mungkin di akhir 20 an, wajahnya terlihat

“Kau”

“Benar, belakangan kau melihat wajahku di koran koran, aku Rebel sang pembenrontak, paling tidak begitu mereka menyebutku,”

Aku masih terdiam disana

“Kau  seperti kesulitan dengan buku bukumu, boleh aku membantumu, nona?”

**

Aku sudah berada di Red Spot– sebuah losmen kecil yang cukup indah, apalagi kalau kau tidak tau apa-apa tentang kota ini, tentang dulu ada kejadian apa di tempat ini, atau lebih buruk, kau pikir kau tahu semuanya, padahal bukan itulah kejadian sebenarnya.

Tapi, peduli setan lah, setelah kejadian itu, aku memang tidak punya tempat dan siapa siapa lagi di kota ini, jadi menemukan losmen murah dengan pemandangan pinggiran  kota yang indah seperti ini, tentu cukup menyenangkan.

Setelah melatakkan koper dan bawaanku, aku mengganti pakaianku, tapi tidak warnanya, karena aku percaya hitam tidak pernah salah, dan percayalah, ini berlaku di tahun berapapun. Lengkap dengan sebuah kacamata hitam, aku akhirnya  berjalan menuju  pusat kota. Dulu disekitar sini kau akan melewati pasar tradisional yang sempit tapi menawarkan pengalaman luar biasa, lengkap dengan para penjual yang ramah dan baik hati, ( dulu ada warung kopi kecil favorit kami !). Tapi tidak sekarang, sudah berganti dengan bangunan-bangunan tinggi megah dan mencolok. Tapi siapa yang bisa menolak perubahan? mungkin aku saja yang masih terperangkap waktu.

Akhirnya, aku sudah sampai di depan pustaka.

Aku masuk.

Perasaan ini

Aku sedang memandang deretan buku buku di rak,  kemudian menuju meja penjaga pustaka untuk mengisi buku tamu.

Aku tersentak,  aku tau siapa dia, tentu saja, wajahnya itu, keriput di wajagnya tidak merubah wajah manisnya, tapi aku sungguh tidak menyangka dia akan berada disini.  Sepertinya dia juga merasakan hal yang sama, karena dia jelas sedang memandangi wajahku yang tertutup topi hitam lebar.

‘Kau?” tanyanya kemudian, terlihat ragu.

Aku tersenyum.Dia melihat nama keluargaku yang kutulis di buku tamu pustaka

“Aku keponakannya”, ucapku membaca pikirannya.

“Bibimu apa kabar ?  kalian…begitu mirip ”

Aku tersenyum lagi, ini bukan pertama kali aku mendapat komentar demikian

“Dia..baik baik saja” ucapku pendek

“Permisi, aku mau ke dalam” ucapku kemudian, sengaja menghentikan pembicaraan.

**

Aku berjalan menuju bagian pustaka yang lain, aku yakin akan menemukan yang aku cari disini. Temanku mengatakan kalau aku akan menemukannya disini, tempat terakhir yang sebenarnya ingin kudatangi.

 Aku melewati dinding dinding yang dipenuhi foto-foto hitam putih  Aku tidak mengerti kenapa foto foto seperti ini dipajang disIni. Pengetahuan, sejarah ?  ini lebih merupakan foto kekejaman di banding  sebuah pengetahuan.  Aku cuma bisa geleng –geleng kepala.  Aku sudah terlalu tua untuk menangis.

Setelah sekian lama, akhirnya aku menemukan buku yang kucari : Rahasia Merah Darah, karya  Rebelion Denwat. Sebuah buku yang harusnya menjadi bacaan wajib di sekolah sekolah, malah menjadi buku  berdebu di pustaka ini.Walau sebenarnya aku cukup heran kenapa masih bisa menemukan buku ini disini, setahuku buku ini sudah dibumi hanguskan dan dilarang peredarannya. Entahlah.

Aku beranjak dari rak, melihat sekeliling, cuma ada beberapa orang disini, seorang pria tua yang sepertinya sedang sbuk dnegan penelitiannya, seorang gadis lain yang jelas berbeda jauh usianya denganku yang dari tadi masih mencari cari buku ( sepertinya buku itu cuma alasannya )  dan satu orang lagi, yang aku tebak adalah alasan si gadis masih disana : seorang pria berkacamata berusia  akhir 20an dengan jas putih, tampilan perlente, lengkap dengan bulu bulu halus di wajah yang tertata rapi yang  menyempurnakan ketampanannya.

**

Aku membawa buku  ku kemudian langsung duduk di depan  si pria  yang kemudian melihatku. Pria ini  tersentak, terlihat ragu ragu akan bergerak, tapi dia mencoba tetap tenang dan membaca disana  sesekali membenarkan letak kacamatanya .

“Buku itu bohong” ucapku mengomentari buku yang saat ini menutupi wajahnya

“Aku tahu, seperti  juga gambar-gambar di dinding itu” Balasnya

Dia kemudian meletakkan bukunya, menutupnya, kemudian menatapku.

**

“Aku dan yang lain tidak menyerang siapa-siapa ” ujar lelaki didepanku, lelaki dengan rambut gondrong berantakan dan jaket panjang yang hampir menyapu lantai.

“Aku percaya”

“Syukurlah, cukup bagiku kalau kamu percaya” ucapnya lirih sambil memelukku. Aku memeluknya balik,

“Itu cuma alasan yang diada adakan pemerintah kota ini untuk membunuhku, membubarkan kami,  karena aku tau rahasia mereka ”

Semenjak perkenalan di pohon mengerikan depan perpustakaan, aku memang sudah terlalu dekat dengan lelaki ini, dia adalah ketua perkumpulan yang kerap kali menentang pemimpin kota ini.  Tapi sayangnya bukan hanya itu, dia bukan cuma sekedar pemberontak seperti yang dituduhkan, atau pemegang rahasia pemerintahan, dia adalah sesuatu yang lain, dan kombinasi  inilah yang membuatnya menjadi buruan yang harus dimusnahkan.

Kemudian, Terdengar heboh heboh diluar.

“Sepertinya mereka sudah tau,  aku dalam bahaya “

“Kau bisa menghabisi mereka! dan kau tidak salah!” ucapku hampir menangis.

“Tidak, aku tidak bisa melakukan itu, mereka sudah mendatangkan orang itu, apalagi, itu cuma akan membenarkan tuduhan mereka kepadaku dan yang lain”

Kami masih berpelukan.

“Kau harus pergi, selamatkan dirimu” ucapnya

Aku menggeleng.

“Aku mohon, aku tidak akan memafkan diriku, kalau mereka juga menghabisimu, percayalah, mereka akan melakukan apa saja, aku mohon”

Untuk pertama kalinya, aku melihat lelaki ini menangis

“Baiklah, dengan satu syarat,” ucapku lirih.

Aku membisikkan sesuatu, sesuatu yang sudah lama aku minta tapi tidak pernah dia kabulkan.

Tepat saat orang-orang berbaju putih itu merengsek masuk, bibirnya menyentuh leherku, Dingin.

**

Pria itu tersenyum melihatku, aku balik tersenyum. Aku melihat gadis yang masih berdiri disana, dia memandangku sinis, aku cuma tersenyum. Dia kemudian mengambil sembarang buku dan berlari ke arah lain

“Aku seperti mengenalmu” ucap si pria.

“Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya” ucapku kemudian

Aku tersenyum, tahun sudah berganti dan kata-kata seperti ini masih saja menjadi andalan para lelaki utnuk memulai percakapan.

“Oh ya?, dimana?” balasku

“Aku tidak tau, tapi aku yakin kita pernah bertemu”

‘Aku juga” ucapku sambil memandang matanya.

**

“Aku sudah menunggu lama”  ucapnya yang sedang ebrbaring di ranjang kamarku di Red Spot, ketika aku keluar dari kamar mandi

“Percaya atau tidak aku menunggun lebih lama dari itu,” ucapku kemudian memperlihatkan gigi taringku.

“Akhirnya kau menunjukkan dirimu” balasnya sambil tersenyum

Aku melompat menerjang, kuku-kuku ku memanjang!

Adal kau tahu, pria didepanku adalah pria yang bertanggung jawab akan pembantaian di kota yang dituduhkan pada kekasihku! dan aku akan menghabisinya disini, ditempat yang sama  makhluk ini  membunuh kekasihku,  kemudian membakarnya hidup- hidup! 50 tahun lalu !

Dia menghindar, kemudian kami terlibat pertarungan tak terelakkan, kuku ku berkali kali berhasil  melukai badannya, tapi sayangnya, semua itu sia sia,luka itu kembali seperti semula.  Dan akhirnya,  sebuah gerakan sangat cepat, berhasil merobohkanku.  ditangannya terlihat sebuah benda yang cukup berbahaya bagi kaumku, sebuah keris perak yang kemudian bersarang di dadaku.

 Dia tertawa persis saat dia berhasil membunuh kekasihku, tawa yang sama saat aku mengintip sebelum  melarikan diri.

Aku sudah mengikutinya bertahun tahun, dan akhirnya memaksaku kembali ke sini ke tempat yang manyakitkan ini, cuma untuk mengakhirinya, tapi sepertinya aku gagal

Maafkan aku kekasihku.

**

Aku masih hidup.

Seseorang menarikku keluar sesaat sebelum penginapan itu dibakar habis,

 Ibu tua penjaga perpustakaan.=Selena.

“Aku tahu kalau itu kau” ucapnya

‘Aku mengikutimu kesini dan menemukanmu dengan pria yang beberapa minggu belakangan rajin datang ke pustaka, Aku tau dia  menunggu seseorang, dan tidak kusangka dia sudah menunggu kehadiranmu”

“Aku juga tidak tau sama sekali” ucapku pelan dengan sisa sisa tenagaku

“Bagaimana kau tidak takut dengan keadaanku yang seperti ini” tanyaku kemudian

“Aku membaca semua cerita dan karangan kekasihmu, menurutmu bagaimana mungkin buku Rahasia Merah Darah masih ada di pustaka kota ini? itu koleksi pribadiku, dan aku sengaja meletakkanya disan agar orang orang bisa membacanya, sayangnya…”

“Sayangnya tidak banyak yang membaca, dan tidak banyak yang akan percaya” potongku

Selena mengangguk pelan.

Dan sekarang,  Kami sedang memandang kembang api perayaan 50 tahun  Hari Merah Darah , dimana pemerintah kota berhasil memburu habis para makhluk penghisap darah yang membahayakan kota.

**

 

PERKUMPULAN KEBENCIAN

Layar laptop tuanya masih kosong, sebenarnya sudah ada beberapa paragraf, tapi kembali di hapus, dia masih belum puas.

Rem meluruskan punggungnya. Ini sudah waktunya untuk dipijat, pikirnya. Rem percaya kalau  voucher pijat dan refleksi memang salah satu hadiah terbaik untuk  penulis. Laptop baru mungkin adalah yang lainnya, paling tidak bagi dirinya.

Dia melihat ke sekeliling, masih belum terbiasa dengan kamar barunya. Penulis amatiran satu ini sudah merasa sejiwa dengan kamarnya yang lama, memang tidak sebesar yang ini, tapi sepertinya ada bagian dari kamar tersebut yang sudah merasuk ke jiwanya. Namun apa daya pembangunan sebuah pusat perbelanjaan baru ikut melibatkan  kamarnya yang memang berada di kawasan kecil dan terbilang kumuh, juga angkringan kopi Da Rama, tempat dia bisa minum atau sekedar bermain kartu bersama bapak-bapak sekitar sana,saat akhir minggu tiba.

Sial! Lagi-lagi!

Dia berdiri, berjalan ke arah jendela, melihat ke bawah, kearah pos ronda yang tepat berada di bawah kost kostannya.  Bapak-bapak  sudah mulai  terlihat berkumpul dan bercerita. Dia tidak habis pikir, apa yang di omongkan beliau-beliau tersebut.  Rem bukan anti sosial dia selektif sosial, dan dia percaya kalau itu adalah dua hal yang berbeda-beda.   Dia bisa tertawa bersama teman temanya,  tapi tidak untuk duduk berjam-jam bergosip ala lelaki, atau  membahas politik seakan akan bisa menyelesaikan masalah negara ini.  Jelas tidak.

Rem mengambil handponenya, mencoba menghubungi kekasihnya. tapi tidak diangkat

apa suaminya sedang di rumah, tumben?

pikirnya kemudian

Dia mengambil rokoknya, tapi kemudian baru sadar, kalau rokoknya sudah habis. Asbak di depannya sudah menggunung,

Sial, ini berarti dia harus pergi keluar, melewati bapak bapak ini, harus memasang senyum dan berbasa basi.

Asu!

**

Dia menuruni tangga, mengunci pintu, kemudian keluar dari pagar.

‘Kemana den?” tanya seorang bapak

“Ke warung depan pak, beli rokok,” Jawab Rem jujur.

Bapak-bapak lain terlihat tersenyum.

‘Penghuni baru ya den?”

Rem cuma mengangguk

“Udah lapor ke RT ? “ lanjut si bapak

“wah, belum sempat pak, baru pindahan banget,”

Rem merapikan rambut gondorngnya dan kemudian menyelamatkan dirinya sebelum terlibat terlalu jauh

 “Permisi pak, mau ke warung dulu”

“Silahkan den silahkan “ jawab bapak-bapak yang kemudian melanjutkan pembicaraan mereka. Rem kemudian juga tersenyum pada gerombolan pemuda yang tidak lebih tua darinya, yang sedang khusyuk merokok di pinggiran jalan.

**

Rem sudah sampai di warung, dan kemudia lagi lagi melihat pemandangan yang mengganggu matanya.

Sekumpulan anak usia sekolah sedang berkumpul tepat di depan warung tersebut, sampai Rem harus minta izin untuk masuk warung. Rem tidak habis pikir saat dia melihat sepasang anak-anak tersebut berpelukan dan cium pipi. Rem bukan pendeta,  tapi apa perlu menunjukkannya sedemikian rupa? dan di usia mereka  yang masih cukup belia?

Rem kemudian membeli sebungkus rokok dan sekaleng kopi.

ah, melewati jalan itu lagi

Pikirnya.

Kemudian,terdengar pengumuman dari sebuah pengeras suara, bahwa seorang warga baru saja meninggal karena serangan jantung, Kebetulan Rem sedang melewati sebuah tanah lapang dimana di salah satu pojoknya ada sebuah pohon besar yang cukup mengerikan. Bulu roma Rem berdiri,  dia bergegas pulang.

**

Rem  meneguk kopi kalengnya.

udah jam segini, ngapain sih masih pada kumpul kumpul?

Dia bersungut sungut sendiri sambil terus memainkan jarinya di laptop.

Kali Ini beberapa ide dan paragraph muncul di layarnya. Kopi dan rokok memang teman paling pas untuk merangsang sel-sel kelabunya, walau dia sendiri juga sadar kalau sebenarnya cuma sugesti, seperti dia kenal rekan seorang penulis terkenal yang sama sekali tidak minum kopi. apalagi merokok. cukup dengan teh hijau dan meditasi.

Tapi, bukan kah setiap orang  punya cara masing-masing. Maka buat Rem, rokok dan kopi adalah meditasi.

Tawa keras dari bawah menghentikan lamunan Rem,

Dia kemudian melihat ke bawah, mencoba menjamkan pendengarannya, pantas saja, mereka sedang menertawakan presiden terpilih saat ini.

Rem cuma bisa menggeleng, kemudian melanjutkan tulisannya, sementara  di bawah masih terdengar obrolan tentang peluang besar sang jendral panutan mereka  untuk memang di pemilihan presiden tahun depan

Kali ini, giliran Rem tertawa. Keras.

**

Terdengar pengumuman kematian lagi dari pengeras suara, saat Rem membanting handponenya, ketika pacarnya masih tidak bisa dihubungi.

Bangsat!

Sudah hampir satu bulan Rem tinggal disini, tapi dia masih bermasalah dengan kebiasaan berkumpul para penduduknya, beberapa kali dia diajak berkumpul oleh bapak-bapak, tapi dia menolak dengan halus. Atau siangnya, ketika giliran ibu-ibu yang bergosip, dia memilih untuk tersenyum saja menanggapi mereka. Belum lagi dengan para remaja dan bocah bocah yang juga suka berkumpul di tiap pojokan, depan warung atau samping sekolah. Dia masih tidak mengerti apa mereka tidak kehabisan bahan perbincangan berkumpul tiap hari selama berjam-jam?

Entah kenapa, ini benar-benar menganggunya, padahal belum tentu ini semua ada hubungan dengannya.

Dia mematikan rokoknya ke asbak, menatap layarnya yang kosong, menyumpah, kemudian menarik sesuatu dari laci mejanya.

Sebuah pistol.

Dia mandapatkan ini dari pacarnya, yang memintanya berjanji untuk menghabisi suaminya, kalau seandainya hubungan mereka ketahuan. Tapi sepertinya, dia harus menggunakannya untuk hal lain terlebih dahulu.

BRAK!!

Terdengar pintu kosanya, di dobrak, sekelompok orang berpakaian hitam hitam datang dan menyerbu, kemudian membawanya ke tanah lapang yang selalu dilewatinya kalau dia keluar dari komplek ini.

Di pinggir lapangan, didekat pohon besar, sudah berdiri seseorang yang juga memakai tudung seperti para penculiknya, bedanya, yang ini terlihat lebih mewah. Mungkin ini pemimpim mereka,pikir Rem.

Detik selanjutnya, Rem sudah terikat di palang kayu, dengan pencahayaan  berasal dari beberapa obor yang ditancapkan,  kemudian, sang pemimpin,  yang ternyata Rem kenali sebagai bapak pemilik warung, mulai mengoceh tentang bagaimana dia akan  menjadi korban untuk dewa mereka, pohon besar disana, sekaligus menjaga keutuhan penduduk kampung, dan menurut dewa mereka, keberadaan Rem akan membahayaan penduduk kampung, Apalagi, Rem sudah menghina Jendral, panutan mereka!

Rem pasrah.

Remmenebak kalau mereka akan membantainya  dengan sesuatu yang menimbulkan banyak  cipratan darah, apalagi ketika si bapak tua pemilik warung membawa sebuah tempurung di tangannya. Tapi dia salah, ternyata, tempurung tersebut berisi cairan yang Rem tidak tau, yang kemudian diminumkan kemulut Rem,

Kemudian yang Rem tahu, dia terlelap dan kemudian terbangun di tempat tidurnya.

shit, apakah dia bermimpi atau memang nyata?

yang pasti, tubuhnya berpeluh, basah luar biasa.

**

Terdengar pegumuman lagi lewat corong  kalau  Remorse Neverenda, seorang warga baru, yang belum lama mengontrak di rumah depan pos ronda meninggal karena seranganjantung, Warga pun berbondong berbondong- karena sudah tidak punya keluarga, warga pun memutuskan untuk memakamkannya di pemakaman sekitar,

Setelah proses penguburan selesai, warga kembali berkumpul di depan pos ronda, kembali bercerita, tertawa.

GERBANG NERAKA yang tidak begitu panas.

Rasanya sudah cukup lama saya tidak menulis  ‘review’ film disini,  dan berhubung saya sudah menunggu film  ini semenjak  kemunculan trailernya di 2016, sat masih memasang FIRE GATE sebagai judulnya, maka saya akan merayakan kembalinya review-review-an film di blog ini, dengan mereview film satu ini

Masih ingat, penemuan situs piramida gunung padang di Jawa Barat yang digadang gadangkan sebagai  piramida tertua di dunia

Nah , cerita filmsatu  ini memang berangkat dari sana, dan di film ini pun kalimat senada di ulang  beberapa kali :

“Piramida Gunung Padang adalah piramida tertua dunia, yang artinya ini akan mengubah sejarah manusia

okay, we got it.

Dan  dari trailernya, kita sudah tahu lebih banyak dari yang kita butuh, kalau ini lebih dari sekedar penemuan sebuah piramida, karena tempat ini ternyata adalah penjara dari kekuatan kuno yang akan menhancurkan dunia, tempat ini adalah..

GERBANG NERAKA

**

GERBANG NERAKA

Setelah  kuliah tentang  Gold ( kekayaan),  Gospel ( penyebaran agama/ilmu pegetahuan) dan glory (kejayaan) dari  professor  Ray Sahetapi yang merupakan pemimpin Ekskavasi piramida ini, kita pun perlahan diantar menuju tiga karakter kunci :  Tomo ( Reza Rahadian) , seorang wartawan majalah ghoib yang justru skeptis terhadap hal hal seperti ini , sekaligus mantan  wartawan majalah politik yang sudah membuang idealisme untuk makan keluarga, kemudian ada Arni, ( Julie Estelle) yang merupakan  tangan kanan dari professor Ray sahetapy. Terakhir, ada Guntur Samudra,( Dwi Sasono ) seorang paranormal, dukun selebritis,

Nasib ketiganya bertemu di situs ekskavasi, dan yang berikut ini bukan spoiler, karena di trailer pun sudah di bocorkan kalau ketiganya adalah semacam perwujudan dari Gold Gospel  dan Glory, sekaligus tiga orang yang konon diutus Tuhan untuk menutup gerbang neraka ini.

**

Film ini berjalan cukup lambat, jadi buat yang pengen aksi atau petualangan menegangkan dari awal, atau paling tidak tegah, mungkin akan terasa menjemukan, Sementara pencinta horror sejati akan sedikit dimanjakan dengan beberapa penampakan dan jump scare yangterbilang  lumayan.  Film ini mencoba membangun setup yang kuat dan tidak terburu-buru, walau dengan waktu sebanyak itu, setupnya masih saja terasa kurang, masih banyak yang terasa terbuang. misalnya kita bisa melihat Tomo punya cerita dibalik pilihan pilihanya, tapi bagaimana dengan Arni dan Samudra ?

Tomo, yang walau tetap bisa diperankan dengan apik oleh Reza sayangnya  menjadi karakter yang kurang ‘kuat , padahal dia adalah sentral dari cerita, Oke, dia wartawan yang sudah tidak percaya dengan idealisme, skeptis dengan hal hal gaib, doa dan tuhan, then what?  Dia seperti ikut ke cerita cuma karena tuntunan naskah  untuk seorang reza Rahadian,ketika film ini butuh  seorang alpha male untuk menjadi sentral cerita, Dan  beberapa line dialog  juga terdengar  “ah, sayang sekali keluar dari mulut Reza”, walau, di akhir terbayar dengan  dialog teologis-filosofis nya dengan Lukman Sardi yang mungkin merupakan  salah satu bagian keren, atau mungkin terkeren dalam film ini. Julie Estelle, arkeolog cantik pemimpin eskavasi setelah mentornya meninggal , juga kurang meyakinkan, lagi lagi  buat saya ini bukan masalah akting  julienya, tapi  ini masalah Arni Kumalasarinya,  yang artinya, ini masalah penulisan, ini masalah riset !  Sementara Mas Adi sebagai Guntur Samudra  mungkin tokoh paling  meyakinkan disini, cara dia berbicara, bergerak, membuat kita yakin dia seorang yang sakti,  sayangnya lagi, Mas Guntur  tidak mendapat banyak porsi menarik ,bahkan di bagian gelut dengan  Badurah, sang jin. Dan chemistry ketiganya pun, masih terbilang lemah.

Begitulah, tidak semua ide luar biasa  bisa diekssekusi dengan luar biasa.

Apalagi ketika ada banyak hal yang di hadirkan di dalamnya : kompilasi horror drama dan adventure, pertentangan science dan klenik, idealisme dan uang, dan hal hal lain yang membuat semuanya tidak terjawab dengan sempurna. Bukan tidak bisa, tapi mungkin, penulisan yang lebih baik dan riset yang lebih mendalam bisa menjadi jawabannya,

Yang pasti, saya sebagai penggemar fantasi, fiksi ilmiah dan supranatural  harus angkat topi untuk keberanian mas Rizal Mantovani menghadirkan film ini, sebuah film yang seperti oase ditengah gurun film horror repetisi atau komedi yang jokenya begitu begitu saja. Gerbang Neraka, jelas dibuat dengan serius, dilihat dari jajaran cast yang tidak main main dan CGI yang buat saya , sudah berada di level lumayan. Lebih jauh, Firegate atau Gerbang Neraka ini juga membuktikan kalau mas Rizal masih belum kehilangan sentuhan magis jailangkungnya. Mudah mudahan kedepannya, mas Rizal, dan juga sineas lain, mampu mengeksplor lebih genre ini. Terbukti lewat Pintu Neraka,  kita bisa, cuma masih belum sempurna.

Terakhir, membahas Glory, Gospel dan Gold yang cukup sering di sebutkan di film ini, maka sesuai dengan apa yang terjadi di filmnya, maka ramalan saya mengatakan, kalau yang tersisa untuk film ini pun cuma  gospel : sebuah pengetahuan, kalau Indonesia pun bisa bikin film seperti ini, sebuah pengetahuan kalau Indonesia juga punya piramida dan situs purbakala yang cukup mengguncang dunia. Sementara Glory dan Gold…. silahkan tonton sendiri!