Pelaku

Seorang komedian  kenamaan baru saja tewas gantung diri di rumahnya. Setelah sebelumnya seorang pelukis juga ditemukan menyayat nadinya sendiri dan menyisakan cipratan darah di kanvasnya.  

**

Makhluk ini berlari, dia baru saja sampai disana, dan lelaki itu sudah tidak bernyawa.

Kalau sudah begini, sudah pasti semua orang menuduh dia adalah penyebabnya. Dia berlari dan terus berlari, kemudian mengatur nafasnya sejenak, dia tidak tau mau kemana, tapi tiba-tiba badannya membawanya menuju kesebuah menara jam, bangunan paling  tua di kota tersebut. Dan lagi-lagi, saat dia datang, seorang perempuan melompat ke bawah.

Sial.

Di bawah sana terdengar jeritan, lalu tak lama satu persatu penduduk kota berkerumun. Sirine polisi pun bersahutan dan beberapa dari mereka langsung bergerak menuju lantai teratas menara jam.

Makhluk ini masih berdiri di pinggir menara jam saat seorang wanita berkacamata sudah muncul di pinggirannya.

“Kasihan dia, cintanya tidak berbalas, dan kau, seperti biasa,  kerja bagus!” ucap si gadis dengan mata sendu ini kepada si  makhluk.

Setelah membenarkan letak kacamatanya yang melorot, gadis itu kemudian melompat ke bawah- lebih seperti melayang -mendarat dengan mulus, kemudian menghilang d tengah keramaian.

**

Di belakang bar seorang barista bertopeng badut terlihat sibuk dengan mesin kopinya, sementara di kursi depannya seorang lelaki parlente bertopi fedora sedang menyalakan rokoknya, gelas kopi yang sudah hampir kosong di depannya menunjukkan kalau dia sudah berada disana cukup lama.

Tiba-tiba Gramophone di sudut ruangan yang lain mengalun. musik sedih dan menyayat hati memenuhi ruangan.

 “Hari ini, tiga” ucap si gadis bermata sendu, seolah merayakan keberhasilannya.

Lelaki itu memandang si perempuan “ Kamu selalu terlihat menyedihkan, hari ini aku sudah sembilan”

Pemuda bertopeng badut terlihat tersenyum, tapi siapa tau yang ada di baliknya?

**

Matahari bersinar sangat terik, tapi tidak menyurutkan ribuan orang yang berada di depan panggung raksasa. PARKING LOT, salah satu band  rock papan atas sedang mengadakan konser di kota tua ini. Makhluk ini sebenarnya sama sekali tidak tertarik dengan Parking Lot, tapi dia bergabung ke dalam kerumunan demi  melihat komplotan yang baru saja masuk : si gadis sendu berkacamata, pemuda bertopeng badut dengan rambut kuncir, serta seorang  lelaki bertopi fedora.

Makhluk ini melihat  di sekitar, mencoba menebak siapa target mereka diantara kerumunan.

Sementara itu sang vokalis melompat ke penonton.

Moshing.

*

Konser selesai.

Sang Makhluk berjalan mengikuti rombongan yang tadi dicurigainya. Polisi seakan membiarkan mereka masuk ke ruang istirahat para personil band. Makhluk ini pun mengekor di belakang mereka.

Ketika rombongan itu masuk, ternyata sang vokalis sedang asik bercumbu dengan seorang wanita muda di sebuah sofa di sudut ruangan. Teman-temannya yang lain tidak terlihat di ruangan.

“Ternyata kau disini” ucap si lelaki paruh baya ber-fedora. Si vokalis terlihat tidak mempedulikan kehadiran mereka, ciumannya terus bersarang di leher dan lengan si wanita.

“Dia yang membawaku ke sini” ucap si wanita yang pakaiannya menawarkan semua yang diinginkan kaum adam.

lelaki fedora itu tersenyum.

“Aku pikir dia cuma mengundang kami”

menoleh kepada Si gadis sendu  dan si topeng badut duduk di kursi lain di ruangan.

Sang vokalis masih bercumbu,dan perlahan si lelaki  yang memakai fedora keluar ruangan. Makhluk ini  segera bersembunyi.

“Kau tidak perlu bersembunyi, tidak perlu mengintip, sebentar lagi kau juga akan dipanggil ke dalam sana”  ucap si lelaki sambil tersenyum dan berlalu dari sana.

Makhluk ini membuka pintu dan…

lagi-lagi disana tinggal dia dan si vokalis yang sudah tidak bernyawa.

“Selamat kawan, lagi – lagi kamu melakukannya”  ujar si perempuan cantik dengan tubuh menggoda tadi, sebelum  menghilang lewat pintu keluar.

**

Makhluk ini  kembali melarikan diri.  lagi-lagi dia harus begini, entah dari kapan, mereka selalu datang dan pergi, tapi dia yang akan selalu bertanggung jawab terhadap mereka yang mati.

Maka, makhluk ini pun mengambil glock-nya, kemudian berjalan mengikut arah angin. Makhluk ini sudah belajar kalau kemanapun dia berjalan, di tengah keramaian, atau di tepian hutan, dia akan selalu berjodoh dengan mereka.

Tiba-tiba saja dia sudah berada di persimpangaan jalan, di depan sebuah gedung pemerintahan kota ini.

Di depan matanya, seorang pemuda di alkhir 30 an menekan sebuah tombol di tangannya, kemudian terjadi ledakan besar.

Telat. lagi lagi dia telat.

Setelah ledakan berlalu, dan api sudah menjadi asap kelabu, makhluk ini melihat gerombolan itu masih disana. si lelaki fedora, si gadis berwajah sendu dengan kacamata, si topeng badut, si perempuan dengan tubuh menggoda, dan seorang lagi.

Seorang anak kecil, yang tersenyum bahagia.

**

Si lelaki ber-fedora bersama anak lelaki mendekati makhluk ini.

“Kau tidak akan bisa membunuh kami, kamu ada, karena kami ada” ucap si fedora.

“Sudahlah, ayo pergi” ujar si perempuan

“Kenapa kita tidak bunuh saja dia” ucap si anak anak yang mengamti mahluk ini yang sudah tidak bertenaga.

“Kita butuh dia’

“Lagian, kalau itu kejadian tentu sungguh sangat ironis”

**

Saat dia tersadar, dia berada di sebuah ranjang lusuh dalam sebuah kamar yang sangat berantakan yang di penuhi buku dan sampah makanan. Dia mengalihkan pandangannya, di sudut sana, di dekat jendela, seorang pemuda berkacamata dengan rokok di mulutnya terlihat sibuk dengan mesin tik-nya.

“Kau sudah bangun rupanya, di lemari masih ada bberapa mie instant lagi, tapi setauku kau tidak membutuhkannya”

“Kau yang membawaku ke sini?” Tanya si makhluk yang  bangkit dari kasur.

Lelaki di depan mesin tik itu mengangguk, bulu bulu halus di wajahnya terlihat dia sudah tidak berdukur entah berapa lama, dan itu juga membuatnya lebih tua dari umur seharusnya

“Kau tau siapa aku?” Makhluk ini kembali bertanya.

“Aku mendengar ledakan besar di depan gedung pemerintahan, aku kesana dan melihatmu terbaring”

Pemuda itu melanjutkan pekerjaannya.

 “Aku tau bukan kau penyebabnya” ucap si pemuda tiba-tiba. Seakan membaca pikiran lawan bicaranya.

“Mereka..”

“Begitulah. semua ini pekerjaan mereka, orang orang di luar sana yang salah paham kalau ini semua karena kau’ Lanjut si pemuda.

“Kau sepertinya cukup kenal dengan mereka” si makhluk sekarang menatap jauh keluar jendela.

“Mereka sering datang kesini” jelas si pemuda diantara bunyi mesin tiknya.

Pemuda itu kemudian berhanti mengetik, menghisap rokoknya panjang dan menghembuskannya berkali kali langit-langit/

“Tepatnya, aku yang mengundang mereka kesini”

Terlihat ekspresi kaget pada wajah di makhluk, si pemuda pun tertawa.

“Tenang saja, aku bukan bagian dari mereka, bahkan mereka berkali-kali mengincarku”

Si pemuda berdiri dan membuka lemari es kecil tidak jauh dari tempat si makhluk berdiri

“Bir?”

pemuda itu membuka dua kaleng bir dan memberikannya kepada di makhluk.

“Lalu bagaimana kau masih bertahan sampai sekarang?”

“Simple, aku belum sekuat itu, aku masih takut kepadamu” ucap si pemuda tanpa ragu

Dia kemudian menghela nafas

‘Tapi aku percaya mereka akan mengalahkanku’

ucapnya sambil kemudian menenggak birnya.

Si makhluk masih mendengarkan si pemuda

“Malam ini mungkin mereka akan kesini lagi”

“kalau begitu aku tidak boleh disini, mereka akan memaksaku menghabisimu” ucap si makhluk serius. Sekaligus takut.

pemuda itu tertawa. Makhluk ini heran.

“Sebelum mereka atau kataikanlah kau, melakukan itu, akan ada yang akan melakukannya lebih dahulu

“Maksudmu”

 ‘”Aku yang akan melakukannya” ucap sosok lain dengan jubah hitam yang sedang . bertengger di jendela lainnya.Entah sejak kapan dia berada di sana.

‘Dia sudah mondar mandir beberapa hari ini, semenjak jantungku sakit’ jelas si pemuda.

“Kau bisa melihatnya” tanya si makhluk

Si pemuda mengangguk.

“Aku akan melakukannya malam ini “ ucap  si mahluk dengan wajah tertutup tudung tersebut.

“Kau dengar yang dia katakan ? ” Si makhluk lagi-lagi bertanya.

Pemuda itu tertawa

”Begitulah” jawabnya santai.

Tidak lama kemudian, terdengar langkah-langkah kaki mendekat.

“Mereka datang’ ucap si pemuda pelan.

Si tudung tersenyum. si lelaki berfedora masuk duluan. Bertepuk tangan

“Wah, di cerita detektif, kalau semua sudah berkumpul, artinya ini sudah mendekati akhir” ucapnya dengan wajah gembira, sementara rombongan  lain cuma tersenyum.

“kau masih bertahan anak muda, aku terkesan”  lanjutnya kemudian.

” Mungkin akhir ceritanya memang harus demikian” balas si pemuda.

“Padahal seharusnya dia  sudah berkali kali mati denganku” tutur si lelaki berfedora kepada kawanannya.

“Jangan sok, Depresi, dia juga bisa mati denganku kapan saja” ucap si gadis sendu.

“Padahal dia sudah begitu akrab denganku, bukankah begitu sobat? harusnya kau mati karena aku” ucap si topeng badut memeluk si pemuda.

“Sudahlah Pretender, akui saja, dia sudah mempecundangi kamu” ucap si perempuan sexy yang sekarang duduk menyilangkan paha di kursi kerja si pemuda/

“Sayangnya, dia tidak mau memakai diriku, kalau tidak dia bisa mati lebih cepat,” lanjut wanita itu kemudian, sambil memainkan ujung rambutnya.

“Aku tidak tau harus berkata apa. jelas, dia tidak akan mati ditanganku” Giliran si anak kecil berbisik kepada si gadis sendu yang kemudian memeluknya.

Sementara si pemuda membuka kotak rokoknya. Cuma ada satu batang lagi disana.

“Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, skenarionya sudah ada” ucap si pemuda sambil kemudian membakar rokok terakhir tersebut.

Tak lama kemudian, Si tudung kemudian mendekati si pemuda.

Untuk sejenak, semua menghilang, cuma ada si tudung dan si pemuda.

“Selamat jalan”  bisik si tudung di telinga si pemuda.

dan detik berikutnya  semua kembali hadir diikuti tepuk tangan si lelaki ber fedora.

“Selesai” ucapnya kemudian.

Tapi lelaki itu salah, karena  masih ada satu kejutan lagi,dan semuanya terjadi sangat cepat:  si makhluk menembak kepalanya dengan glock nya sendiri.

sesaat hening sampai si fedora menghela nafas.

 “Makhluk ini benar benar melakukannya”

“Ironis” ucap si badut

“Menyedihkan”  Ucap si perempuan berkacamata

“Tugas kita sudah selesai, masih banyak yang menunggu” ucap si fedora kepada kawanannya.

“Kau juga, Kesepian!, buka tudungmu, kau tidak bisa menipuku”

Kesepian membuka tudungnya kemudian tertawa dan berjalan mengikuti kelompoknya.

“Tunggu,bagaimana dengan makhluk ini?” ucap si anak kecil.

Semuanya tertawa.

“Dasar naif ! Tinggalkan saja. Dia akan muncul lagi selama kita masih ada di dunia ini” ucap si lelaki ber-fedora sambil menutup pintu.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s