Bentang

Ceritanya, lagi-lagi, saya sedang mencoba mengisi sebuah posisi di sebuah penerbit  yang kali ini mengharuskan saya untuk melampirkan ulasan buku  dari penerbit tersebut. Singkat cerita, saya baru sadar kalau saya sudah membaca beberapa buku dari penerbit ini, namun ‘lupa’ menuliskan ulasannya.

so, here we go

Saya menulis lagi tiga buah ulasan buku dari serial SUPERNOVA, tulisan Ibu Suri, Dewi Lestari

**

PARTIKEL

Sejatinya, buku ini tidak seberat Ksatria Putri Dan Bintang Jatuh, tidak seserius Akar, namun juga tidak seringan dan seceria Petir.

Menurut saya pribadi, dibanding tiga buku sebelumnya, PARTIKEL merupakan buku yang sangat  memperlihatkan ( baca :  memamerkan ) kejeniusan Dee dalam riset, yang sayangnya sekaligus menjadi ‘kelemahan’ buku ini, dimana banyaknya hasil riset dan studi yang dipaparkan membuat buku ini menjadi semacam  kumpulan artikel tentang alien yang sudah tersebar di banyak artikel internet:  para penggemar teori konspirasi pasti sudah khatam dengan tiga ras alien paling terkenal yang ada di novel ini.

Namun, PARTIKEL tidak cuma bercerita tentang alien dan makhluk langit,

Novel ini sebenarnya sangat membumi. Secara tidak langsung, novel ini mengajak kita untuk lebih peduli kepada bumi, makhluknya, dan segala isinya :  mulai dari jamur sampai orang hutan. Dan tidak bisa tidak, kita pasti akan jatuh cinta dengan ZARAH,sebagai partikel utama buku ini, juga FIRAS sang ayah, walau kejeniusannya diluar akal manusia.

Dan, Diantara semua seri supernova, ini boleh dikatakan PARTIKEL adalah seri favorite saya.

Kenapa? simple :  karena ada Alien-Aliennya.

Saya dari dulu suka bermimpin diculik atau paling tidak bisa bekomunikasi dengan alien jelas langsung jatuh cinta pada buku ini, walaupun ada bagian bumbu sinetron dalam bentuk cinta dan pengkhianatan yang sedikit tatatanan yang sudah di bangun untuk Zahra khususnya, dan buku ini pada umumnya.

GELOMBANG

Akar, saya selesaikan sebagai teman perjalanan panjang di sebuah bis, Petir saya selesaikan cuma beberapa jam di sebuah taman bacaan, sementara partikel, saya selesaikan kurang dari satu malam di kontrakan seorang teman.

Walau di tempat berbeda, ketiganya punya rasa yang sama, rasa  yang sama ketika menyelesaikannya.

Namun tidak dengan Gelombang….

**

Gelombang., menceritakan tentang Ichon, nama kecil dari Thomas Al(F)a Edison,sang tokoh utama  atau yang kemudian kita kenal dengan Alfa, yang ektika sebuah upacara di kampungnya, membawanya berkenalan dengan mahluk bernama Jaga Portibi, sebuah manifestasi malaikat dari mitologi batak tua, yang kemudian membawanya menjadi rebutan dari dua datuk  ( dukun) di kampungnya….

Waktu berlalu, kemudian tokoh kita pindah ke Jakarta,hanya singgah, karena kemudian Alfa harus segera betolak   ke Negara yang menjadi setting utama cerita ini : Amerika

Disinilah, Alfa memperlihatkan kejeniusannya yang mungkin mirip dengan cerita laskar pelangi yang padahal belum saya baca sampai sekarang .  Anak rantau biasa di negeri orang, jenius, masuk universitas ternama dengan beasiswa full, dan kemudian bekerja sebagai pialang di wall street.

Ada lagi? yup, dia jago main gitar dan cakep.

Okay, masalahnya bukan cuma sentiment pribadi saya terhadap cerita macam ini saja, tapi lebih karena tokoh kita kali ini tidak di ceritakan sepadat  yang di  alami  akar bodi, Elektra di Petir dan Zarah di Partikel, di sebelumnya kita bisa lebih  menyelami , memahami, dan merasa ikut larut dalam kisah tokohnya, tapi disini, entah kenapa saya seakan berada di luar, dan cuma disodori kejeniusan dan kemampuan Alfa, sekaligus kejeniusan riset  seorang Dee.

Di buku ini juga, banyak hal yang tidak ( atau  belum ) terlalu signifikan keberadaannya, keberadaan jaga portibi, fungsi dari mimpi, dan tokoh-tokoh yang kalau tidak adapun tidak apa-apa, berbeda dengan Bong di Akar atau Mpret di Petir.

Namun dari semuanya saya curiga, Ibu suri  sengaja  tidak membuka keseluruhan tentang Alfa di buku ini, karena kalau kita membandingkanya dengan seri sebelumnya buku ini lebih banyak membuka soal supernova yang di tiga seri sebelumnya cuma muncul di awal dan di akhir buku. Di buku ini dibukakan jelas kalau masih ada dua batu lainnya, di buku ini juga dibukakan kalau bintang jatuh bukan bagian dari klan mereka. Di GELOMBANG juga  dihadirkan kembali Ishtar,tokoh penting yang pernah hadir di Akar, yang sepertinya menjadi bagian penting dari mereka yang  mengalami Amnesia ini. jadi, mungkin buku ini seperti sebuah pengantar untuk menutup kisah besar ini, yang artinya mungkin semua ketidak jelasan, kekosongan di buku ini adalah untuk disimpan di seri berikutnya ;  Intelegensi Embun Pagi.

mudah-mudahan.

Karena kalau tidak, bagi saya pribadi gelombang akan menjadi rangkaian terlemah dari serial Supernova, sebuah buku dimana ketika menyelesaikannya, saya tidak merasakan sebuah orgasme otak tak bernama  yang sama ketika saya menyelesaikan serial Supernova lainnya.

INTELEGENSI EMBUN PAGI

Mungkin saya seorang peretas yang mengalami  amnesia.

Serius, saya baru sadar  kalau ternyata saya belum ( baca : tidak) mengulas buku pamungkas seri Supernova ini, padahal  pada masanya,buku ini adalah buku yang paling saya tunggu.

wajar, pembaca Supernova mana sih yang tidak menunggu, pertemuan para peretas di seri ‘terakhir’  ini?

INTELEGENSI EMBUN PAGI, berhasil menjalankan tugasnya secara paripurna : memberi penjelasan dan menjawab ( hampir )  semua pertanyaan yang terbentang dari Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh sampai Gelombang.

Walau beberapa diantaranya muncul terkesan dipaksakan dan disajikan dengan instant, Misalnya chemistry antara dua tokoh utama yang terlalu cepat padahal sebelumnya kita tau masing-masingnya (* atau paling tidak salah satunya) punya cerita yang dibangun sedemikian rupa di buku-buku sebelumnya, atau tentang ‘evolusi’ status salah satu tokoh menjadi lebih penting dengan penjelasan yang terkesan baru sengaja dihadirkan di buku ini sebagai sebuah ‘pembenaran’. Twist? Buat saya tidaklah demikian.

Walau, harus diakui, memang ada beberapa twist yang patut diacungi jempol, misal tokoh yang dianggap sebagai infiltran ternyata savara, tapi itu punya penjelasan yang berterima.

Terakhir, mungkin buat beberapa orang, ending buku ini sedikit mengecewakan, dari yang semua berat-philosophical berubah menjadi lebih ‘biasa’ dan ringan. Walau memang, Dee sendiri  masih memberi garis yang lumayan kabur antara hitam dan putih, bahwa kedua kubu:  savara dan infiltran punya maksud yang baik  untuk para peretas,  pada akhirnya intelegensi embun pagi tetap menjadi pertarungan baik dan jahat.

hati-hati ekspektasi

Sementara, bagi saya, semenjak membaca supernova, khususnya ketika mengakhiri Akar dan Petir, saya sudah membayangkan ( baca : mengharapkan) kalau endingnya akan menjadi seperti ini : pertarungan layaknya avatar dengan berbagai kanuragannya  demi menyelamarkan dunia.

**

Epilog : sama seperti intelegensi Embun Pagi yang bukan hanya sebuah akhir, tapi menjadi awal dari sesuatu yang lain, maka mudah-mudahan berakhirnya ulasan ini bisa menjadi awal yang baik untuk saya di Bentang Pustaka.

Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s