Pelaku

Seorang komedian  kenamaan baru saja tewas gantung diri di rumahnya. Setelah sebelumnya seorang pelukis juga ditemukan menyayat nadinya sendiri dan menyisakan cipratan darah di kanvasnya.  

**

Makhluk ini berlari, dia baru saja sampai disana, dan lelaki itu sudah tidak bernyawa.

Kalau sudah begini, sudah pasti semua orang menuduh dia adalah penyebabnya. Dia berlari dan terus berlari, kemudian mengatur nafasnya sejenak, dia tidak tau mau kemana, tapi tiba-tiba badannya membawanya menuju kesebuah menara jam, bangunan paling  tua di kota tersebut. Dan lagi-lagi, saat dia datang, seorang perempuan melompat ke bawah.

Sial.

Di bawah sana terdengar jeritan, lalu tak lama satu persatu penduduk kota berkerumun. Sirine polisi pun bersahutan dan beberapa dari mereka langsung bergerak menuju lantai teratas menara jam.

Makhluk ini masih berdiri di pinggir menara jam saat seorang wanita berkacamata sudah muncul di pinggirannya.

“Kasihan dia, cintanya tidak berbalas, dan kau, seperti biasa,  kerja bagus!” ucap si gadis dengan mata sendu ini kepada si  makhluk.

Setelah membenarkan letak kacamatanya yang melorot, gadis itu kemudian melompat ke bawah- lebih seperti melayang -mendarat dengan mulus, kemudian menghilang d tengah keramaian.

**

Di belakang bar seorang barista bertopeng badut terlihat sibuk dengan mesin kopinya, sementara di kursi depannya seorang lelaki parlente bertopi fedora sedang menyalakan rokoknya, gelas kopi yang sudah hampir kosong di depannya menunjukkan kalau dia sudah berada disana cukup lama.

Tiba-tiba Gramophone di sudut ruangan yang lain mengalun. musik sedih dan menyayat hati memenuhi ruangan.

 “Hari ini, tiga” ucap si gadis bermata sendu, seolah merayakan keberhasilannya.

Lelaki itu memandang si perempuan “ Kamu selalu terlihat menyedihkan, hari ini aku sudah sembilan”

Pemuda bertopeng badut terlihat tersenyum, tapi siapa tau yang ada di baliknya?

**

Matahari bersinar sangat terik, tapi tidak menyurutkan ribuan orang yang berada di depan panggung raksasa. PARKING LOT, salah satu band  rock papan atas sedang mengadakan konser di kota tua ini. Makhluk ini sebenarnya sama sekali tidak tertarik dengan Parking Lot, tapi dia bergabung ke dalam kerumunan demi  melihat komplotan yang baru saja masuk : si gadis sendu berkacamata, pemuda bertopeng badut dengan rambut kuncir, serta seorang  lelaki bertopi fedora.

Makhluk ini melihat  di sekitar, mencoba menebak siapa target mereka diantara kerumunan.

Sementara itu sang vokalis melompat ke penonton.

Moshing.

*

Konser selesai.

Sang Makhluk berjalan mengikuti rombongan yang tadi dicurigainya. Polisi seakan membiarkan mereka masuk ke ruang istirahat para personil band. Makhluk ini pun mengekor di belakang mereka.

Ketika rombongan itu masuk, ternyata sang vokalis sedang asik bercumbu dengan seorang wanita muda di sebuah sofa di sudut ruangan. Teman-temannya yang lain tidak terlihat di ruangan.

“Ternyata kau disini” ucap si lelaki paruh baya ber-fedora. Si vokalis terlihat tidak mempedulikan kehadiran mereka, ciumannya terus bersarang di leher dan lengan si wanita.

“Dia yang membawaku ke sini” ucap si wanita yang pakaiannya menawarkan semua yang diinginkan kaum adam.

lelaki fedora itu tersenyum.

“Aku pikir dia cuma mengundang kami”

menoleh kepada Si gadis sendu  dan si topeng badut duduk di kursi lain di ruangan.

Sang vokalis masih bercumbu,dan perlahan si lelaki  yang memakai fedora keluar ruangan. Makhluk ini  segera bersembunyi.

“Kau tidak perlu bersembunyi, tidak perlu mengintip, sebentar lagi kau juga akan dipanggil ke dalam sana”  ucap si lelaki sambil tersenyum dan berlalu dari sana.

Makhluk ini membuka pintu dan…

lagi-lagi disana tinggal dia dan si vokalis yang sudah tidak bernyawa.

“Selamat kawan, lagi – lagi kamu melakukannya”  ujar si perempuan cantik dengan tubuh menggoda tadi, sebelum  menghilang lewat pintu keluar.

**

Makhluk ini  kembali melarikan diri.  lagi-lagi dia harus begini, entah dari kapan, mereka selalu datang dan pergi, tapi dia yang akan selalu bertanggung jawab terhadap mereka yang mati.

Maka, makhluk ini pun mengambil glock-nya, kemudian berjalan mengikut arah angin. Makhluk ini sudah belajar kalau kemanapun dia berjalan, di tengah keramaian, atau di tepian hutan, dia akan selalu berjodoh dengan mereka.

Tiba-tiba saja dia sudah berada di persimpangaan jalan, di depan sebuah gedung pemerintahan kota ini.

Di depan matanya, seorang pemuda di alkhir 30 an menekan sebuah tombol di tangannya, kemudian terjadi ledakan besar.

Telat. lagi lagi dia telat.

Setelah ledakan berlalu, dan api sudah menjadi asap kelabu, makhluk ini melihat gerombolan itu masih disana. si lelaki fedora, si gadis berwajah sendu dengan kacamata, si topeng badut, si perempuan dengan tubuh menggoda, dan seorang lagi.

Seorang anak kecil, yang tersenyum bahagia.

**

Si lelaki ber-fedora bersama anak lelaki mendekati makhluk ini.

“Kau tidak akan bisa membunuh kami, kamu ada, karena kami ada” ucap si fedora.

“Sudahlah, ayo pergi” ujar si perempuan

“Kenapa kita tidak bunuh saja dia” ucap si anak anak yang mengamti mahluk ini yang sudah tidak bertenaga.

“Kita butuh dia’

“Lagian, kalau itu kejadian tentu sungguh sangat ironis”

**

Saat dia tersadar, dia berada di sebuah ranjang lusuh dalam sebuah kamar yang sangat berantakan yang di penuhi buku dan sampah makanan. Dia mengalihkan pandangannya, di sudut sana, di dekat jendela, seorang pemuda berkacamata dengan rokok di mulutnya terlihat sibuk dengan mesin tik-nya.

“Kau sudah bangun rupanya, di lemari masih ada bberapa mie instant lagi, tapi setauku kau tidak membutuhkannya”

“Kau yang membawaku ke sini?” Tanya si makhluk yang  bangkit dari kasur.

Lelaki di depan mesin tik itu mengangguk, bulu bulu halus di wajahnya terlihat dia sudah tidak berdukur entah berapa lama, dan itu juga membuatnya lebih tua dari umur seharusnya

“Kau tau siapa aku?” Makhluk ini kembali bertanya.

“Aku mendengar ledakan besar di depan gedung pemerintahan, aku kesana dan melihatmu terbaring”

Pemuda itu melanjutkan pekerjaannya.

 “Aku tau bukan kau penyebabnya” ucap si pemuda tiba-tiba. Seakan membaca pikiran lawan bicaranya.

“Mereka..”

“Begitulah. semua ini pekerjaan mereka, orang orang di luar sana yang salah paham kalau ini semua karena kau’ Lanjut si pemuda.

“Kau sepertinya cukup kenal dengan mereka” si makhluk sekarang menatap jauh keluar jendela.

“Mereka sering datang kesini” jelas si pemuda diantara bunyi mesin tiknya.

Pemuda itu kemudian berhanti mengetik, menghisap rokoknya panjang dan menghembuskannya berkali kali langit-langit/

“Tepatnya, aku yang mengundang mereka kesini”

Terlihat ekspresi kaget pada wajah di makhluk, si pemuda pun tertawa.

“Tenang saja, aku bukan bagian dari mereka, bahkan mereka berkali-kali mengincarku”

Si pemuda berdiri dan membuka lemari es kecil tidak jauh dari tempat si makhluk berdiri

“Bir?”

pemuda itu membuka dua kaleng bir dan memberikannya kepada di makhluk.

“Lalu bagaimana kau masih bertahan sampai sekarang?”

“Simple, aku belum sekuat itu, aku masih takut kepadamu” ucap si pemuda tanpa ragu

Dia kemudian menghela nafas

‘Tapi aku percaya mereka akan mengalahkanku’

ucapnya sambil kemudian menenggak birnya.

Si makhluk masih mendengarkan si pemuda

“Malam ini mungkin mereka akan kesini lagi”

“kalau begitu aku tidak boleh disini, mereka akan memaksaku menghabisimu” ucap si makhluk serius. Sekaligus takut.

pemuda itu tertawa. Makhluk ini heran.

“Sebelum mereka atau kataikanlah kau, melakukan itu, akan ada yang akan melakukannya lebih dahulu

“Maksudmu”

 ‘”Aku yang akan melakukannya” ucap sosok lain dengan jubah hitam yang sedang . bertengger di jendela lainnya.Entah sejak kapan dia berada di sana.

‘Dia sudah mondar mandir beberapa hari ini, semenjak jantungku sakit’ jelas si pemuda.

“Kau bisa melihatnya” tanya si makhluk

Si pemuda mengangguk.

“Aku akan melakukannya malam ini “ ucap  si mahluk dengan wajah tertutup tudung tersebut.

“Kau dengar yang dia katakan ? ” Si makhluk lagi-lagi bertanya.

Pemuda itu tertawa

”Begitulah” jawabnya santai.

Tidak lama kemudian, terdengar langkah-langkah kaki mendekat.

“Mereka datang’ ucap si pemuda pelan.

Si tudung tersenyum. si lelaki berfedora masuk duluan. Bertepuk tangan

“Wah, di cerita detektif, kalau semua sudah berkumpul, artinya ini sudah mendekati akhir” ucapnya dengan wajah gembira, sementara rombongan  lain cuma tersenyum.

“kau masih bertahan anak muda, aku terkesan”  lanjutnya kemudian.

” Mungkin akhir ceritanya memang harus demikian” balas si pemuda.

“Padahal seharusnya dia  sudah berkali kali mati denganku” tutur si lelaki berfedora kepada kawanannya.

“Jangan sok, Depresi, dia juga bisa mati denganku kapan saja” ucap si gadis sendu.

“Padahal dia sudah begitu akrab denganku, bukankah begitu sobat? harusnya kau mati karena aku” ucap si topeng badut memeluk si pemuda.

“Sudahlah Pretender, akui saja, dia sudah mempecundangi kamu” ucap si perempuan sexy yang sekarang duduk menyilangkan paha di kursi kerja si pemuda/

“Sayangnya, dia tidak mau memakai diriku, kalau tidak dia bisa mati lebih cepat,” lanjut wanita itu kemudian, sambil memainkan ujung rambutnya.

“Aku tidak tau harus berkata apa. jelas, dia tidak akan mati ditanganku” Giliran si anak kecil berbisik kepada si gadis sendu yang kemudian memeluknya.

Sementara si pemuda membuka kotak rokoknya. Cuma ada satu batang lagi disana.

“Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, skenarionya sudah ada” ucap si pemuda sambil kemudian membakar rokok terakhir tersebut.

Tak lama kemudian, Si tudung kemudian mendekati si pemuda.

Untuk sejenak, semua menghilang, cuma ada si tudung dan si pemuda.

“Selamat jalan”  bisik si tudung di telinga si pemuda.

dan detik berikutnya  semua kembali hadir diikuti tepuk tangan si lelaki ber fedora.

“Selesai” ucapnya kemudian.

Tapi lelaki itu salah, karena  masih ada satu kejutan lagi,dan semuanya terjadi sangat cepat:  si makhluk menembak kepalanya dengan glock nya sendiri.

sesaat hening sampai si fedora menghela nafas.

 “Makhluk ini benar benar melakukannya”

“Ironis” ucap si badut

“Menyedihkan”  Ucap si perempuan berkacamata

“Tugas kita sudah selesai, masih banyak yang menunggu” ucap si fedora kepada kawanannya.

“Kau juga, Kesepian!, buka tudungmu, kau tidak bisa menipuku”

Kesepian membuka tudungnya kemudian tertawa dan berjalan mengikuti kelompoknya.

“Tunggu,bagaimana dengan makhluk ini?” ucap si anak kecil.

Semuanya tertawa.

“Dasar naif ! Tinggalkan saja. Dia akan muncul lagi selama kita masih ada di dunia ini” ucap si lelaki ber-fedora sambil menutup pintu.

***

Advertisements

Bentang

Ceritanya, lagi-lagi, saya sedang mencoba mengisi sebuah posisi di sebuah penerbit  yang kali ini mengharuskan saya untuk melampirkan ulasan buku  dari penerbit tersebut. Singkat cerita, saya baru sadar kalau saya sudah membaca beberapa buku dari penerbit ini, namun ‘lupa’ menuliskan ulasannya.

so, here we go

Saya menulis lagi tiga buah ulasan buku dari serial SUPERNOVA, tulisan Ibu Suri, Dewi Lestari

**

PARTIKEL

Sejatinya, buku ini tidak seberat Ksatria Putri Dan Bintang Jatuh, tidak seserius Akar, namun juga tidak seringan dan seceria Petir.

Menurut saya pribadi, dibanding tiga buku sebelumnya, PARTIKEL merupakan buku yang sangat  memperlihatkan ( baca :  memamerkan ) kejeniusan Dee dalam riset, yang sayangnya sekaligus menjadi ‘kelemahan’ buku ini, dimana banyaknya hasil riset dan studi yang dipaparkan membuat buku ini menjadi semacam  kumpulan artikel tentang alien yang sudah tersebar di banyak artikel internet:  para penggemar teori konspirasi pasti sudah khatam dengan tiga ras alien paling terkenal yang ada di novel ini.

Namun, PARTIKEL tidak cuma bercerita tentang alien dan makhluk langit,

Novel ini sebenarnya sangat membumi. Secara tidak langsung, novel ini mengajak kita untuk lebih peduli kepada bumi, makhluknya, dan segala isinya :  mulai dari jamur sampai orang hutan. Dan tidak bisa tidak, kita pasti akan jatuh cinta dengan ZARAH,sebagai partikel utama buku ini, juga FIRAS sang ayah, walau kejeniusannya diluar akal manusia.

Dan, Diantara semua seri supernova, ini boleh dikatakan PARTIKEL adalah seri favorite saya.

Kenapa? simple :  karena ada Alien-Aliennya.

Saya dari dulu suka bermimpin diculik atau paling tidak bisa bekomunikasi dengan alien jelas langsung jatuh cinta pada buku ini, walaupun ada bagian bumbu sinetron dalam bentuk cinta dan pengkhianatan yang sedikit tatatanan yang sudah di bangun untuk Zahra khususnya, dan buku ini pada umumnya.

GELOMBANG

Akar, saya selesaikan sebagai teman perjalanan panjang di sebuah bis, Petir saya selesaikan cuma beberapa jam di sebuah taman bacaan, sementara partikel, saya selesaikan kurang dari satu malam di kontrakan seorang teman.

Walau di tempat berbeda, ketiganya punya rasa yang sama, rasa  yang sama ketika menyelesaikannya.

Namun tidak dengan Gelombang….

**

Gelombang., menceritakan tentang Ichon, nama kecil dari Thomas Al(F)a Edison,sang tokoh utama  atau yang kemudian kita kenal dengan Alfa, yang ektika sebuah upacara di kampungnya, membawanya berkenalan dengan mahluk bernama Jaga Portibi, sebuah manifestasi malaikat dari mitologi batak tua, yang kemudian membawanya menjadi rebutan dari dua datuk  ( dukun) di kampungnya….

Waktu berlalu, kemudian tokoh kita pindah ke Jakarta,hanya singgah, karena kemudian Alfa harus segera betolak   ke Negara yang menjadi setting utama cerita ini : Amerika

Disinilah, Alfa memperlihatkan kejeniusannya yang mungkin mirip dengan cerita laskar pelangi yang padahal belum saya baca sampai sekarang .  Anak rantau biasa di negeri orang, jenius, masuk universitas ternama dengan beasiswa full, dan kemudian bekerja sebagai pialang di wall street.

Ada lagi? yup, dia jago main gitar dan cakep.

Okay, masalahnya bukan cuma sentiment pribadi saya terhadap cerita macam ini saja, tapi lebih karena tokoh kita kali ini tidak di ceritakan sepadat  yang di  alami  akar bodi, Elektra di Petir dan Zarah di Partikel, di sebelumnya kita bisa lebih  menyelami , memahami, dan merasa ikut larut dalam kisah tokohnya, tapi disini, entah kenapa saya seakan berada di luar, dan cuma disodori kejeniusan dan kemampuan Alfa, sekaligus kejeniusan riset  seorang Dee.

Di buku ini juga, banyak hal yang tidak ( atau  belum ) terlalu signifikan keberadaannya, keberadaan jaga portibi, fungsi dari mimpi, dan tokoh-tokoh yang kalau tidak adapun tidak apa-apa, berbeda dengan Bong di Akar atau Mpret di Petir.

Namun dari semuanya saya curiga, Ibu suri  sengaja  tidak membuka keseluruhan tentang Alfa di buku ini, karena kalau kita membandingkanya dengan seri sebelumnya buku ini lebih banyak membuka soal supernova yang di tiga seri sebelumnya cuma muncul di awal dan di akhir buku. Di buku ini dibukakan jelas kalau masih ada dua batu lainnya, di buku ini juga dibukakan kalau bintang jatuh bukan bagian dari klan mereka. Di GELOMBANG juga  dihadirkan kembali Ishtar,tokoh penting yang pernah hadir di Akar, yang sepertinya menjadi bagian penting dari mereka yang  mengalami Amnesia ini. jadi, mungkin buku ini seperti sebuah pengantar untuk menutup kisah besar ini, yang artinya mungkin semua ketidak jelasan, kekosongan di buku ini adalah untuk disimpan di seri berikutnya ;  Intelegensi Embun Pagi.

mudah-mudahan.

Karena kalau tidak, bagi saya pribadi gelombang akan menjadi rangkaian terlemah dari serial Supernova, sebuah buku dimana ketika menyelesaikannya, saya tidak merasakan sebuah orgasme otak tak bernama  yang sama ketika saya menyelesaikan serial Supernova lainnya.

INTELEGENSI EMBUN PAGI

Mungkin saya seorang peretas yang mengalami  amnesia.

Serius, saya baru sadar  kalau ternyata saya belum ( baca : tidak) mengulas buku pamungkas seri Supernova ini, padahal  pada masanya,buku ini adalah buku yang paling saya tunggu.

wajar, pembaca Supernova mana sih yang tidak menunggu, pertemuan para peretas di seri ‘terakhir’  ini?

INTELEGENSI EMBUN PAGI, berhasil menjalankan tugasnya secara paripurna : memberi penjelasan dan menjawab ( hampir )  semua pertanyaan yang terbentang dari Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh sampai Gelombang.

Walau beberapa diantaranya muncul terkesan dipaksakan dan disajikan dengan instant, Misalnya chemistry antara dua tokoh utama yang terlalu cepat padahal sebelumnya kita tau masing-masingnya (* atau paling tidak salah satunya) punya cerita yang dibangun sedemikian rupa di buku-buku sebelumnya, atau tentang ‘evolusi’ status salah satu tokoh menjadi lebih penting dengan penjelasan yang terkesan baru sengaja dihadirkan di buku ini sebagai sebuah ‘pembenaran’. Twist? Buat saya tidaklah demikian.

Walau, harus diakui, memang ada beberapa twist yang patut diacungi jempol, misal tokoh yang dianggap sebagai infiltran ternyata savara, tapi itu punya penjelasan yang berterima.

Terakhir, mungkin buat beberapa orang, ending buku ini sedikit mengecewakan, dari yang semua berat-philosophical berubah menjadi lebih ‘biasa’ dan ringan. Walau memang, Dee sendiri  masih memberi garis yang lumayan kabur antara hitam dan putih, bahwa kedua kubu:  savara dan infiltran punya maksud yang baik  untuk para peretas,  pada akhirnya intelegensi embun pagi tetap menjadi pertarungan baik dan jahat.

hati-hati ekspektasi

Sementara, bagi saya, semenjak membaca supernova, khususnya ketika mengakhiri Akar dan Petir, saya sudah membayangkan ( baca : mengharapkan) kalau endingnya akan menjadi seperti ini : pertarungan layaknya avatar dengan berbagai kanuragannya  demi menyelamarkan dunia.

**

Epilog : sama seperti intelegensi Embun Pagi yang bukan hanya sebuah akhir, tapi menjadi awal dari sesuatu yang lain, maka mudah-mudahan berakhirnya ulasan ini bisa menjadi awal yang baik untuk saya di Bentang Pustaka.

Amin.

Jadi, Berapa Bintang untuk Bintang?

Pengulangan.

Itu.

Membosankan.

Pengulangan,

Itu.

Membosankan.

Pengulangan..

Itu…

***

“Ali, keluarkan kamera melayangmu”

“Raib, Ali, Seli, Siapa berjaga disana?”

“Kalian mau makan?”

ini,bukan (hanya) soal kalimat-kalimat yang muncul entah berapa puluh kali tersebut. ini lebih ke petualangan mereka di klan bintang  yang menurut saya cendrung seperti loop, bolak balik itu ke itu saja, walau si pengarang sudah berusaha menghadirkan tempat-tempat ‘indah’ seperti padang musim berganti  ( ini  nama karangan saya sendiri)  atau padang sampah yang lebih keren dari yang saya sebut pertama kali. ( dan yes,  saya ingin bekerja disana, menggantikan Zaad kalau boleh )

Selanjutnya, pengulangan lorong dan binatang raksasa yang mungkin masih bisa dimaafkan, karena memang kali ini mereka kembali ke lokasi petualangan mereka di seri sebelumnya (reviewnya bisa dibaca disini)

lebih jauh, ini soal pengulangan yang lebih besar. Tentang bagaimana petualangan trio Ali, Seli dan Raib ini lagi lagi  (masih)terasa kosong . Petualangan mereka menjadi sekedar ‘petualangan’, tanpa nyawa. sekedar petualangan tanpa memberi perkembangan besar pada orang orang yang terlibat di dalamnya, tanpa melibatkan emosi.seperti juga yang terjadi di seri seri  sebelumnya.

gawai baru itu bukan emosi, kemampuan baru pun bukan

Air mata? bolehlah, tapi sayangnya ini bukan soal air mata saja, emosi yang hadir dalam petualangan mencari pasak bumi ini, jauh dari kata cukup.

Raib tak berubah banyak, apalagi Seli

dan Ali..

satu satunya perwakilan klan bumi ini lagi -lagi menjadi karakter yang sama : SANG JURU SELAMAT…

YANG SANGAT MEMBOSANKAN

tampan dan rupawan, tajit, Jenius, anak basket, bisa berubah jadi beruang

dan sekarang menjadi PEMEGANG SARUNG TANGAN KLAN BUMI,

(spoiler? tidak, kalian tau ini akan terjadi)

Tanpa Ali petualangan tim ini akan jauh lebih susah, bagaimana tidak, dia hampir menjadi solusi dari setiap permasalahn dan kesulitan, dia membuat semuanya terlihat amat mudah, tapi sebaliknya, mungkin kalau tidak ada Ali, petualangan tim ini menjadi jauh lebih menarik…

BINTANG menjadi bukti kalau kejeniusan tak terbatas dan kesempurnaan itu terkadang MEMBOSANKAN, mungkin sama membosankannya dengan ILY 3.0 super lengkap,  baju yang bisa berubah model dan sesukanya dan mencuci sendiri, juga soal makanan yang berubah rasa sesuai apa yang kita bayangkan yang hadir kembali di buku ini.

oke, memang menuju ending penulis memang berhasil menunjukkan kalau Ali tidak sempurna, tapi menurut saya..

BASI, MADINGNYA UDAH SIAP TERBIT!

TELAT BUNG!

sama telatnya untuk memperkenalkan sebuah kenyataan baru, kalau dunia paralel bukan cuma terdiri dari empat klan yang sudah menjadi novel laris ini, catatan : bukan cuma di klan kita : bumi, tapi juga laris di klan bintang, dengan memakai karakter dan judul sama.

begitulah,  meta-joke yang ini sama sekali tidak lucu

Namun ada yang lebih tidak lucu lagi,

YAITU ANEKDOT ANEKDOT  LEMBAH KEMATIAN !

statement kalau hal ini sudah jadi meme di dunia sama sekali tidak menolong, malah memperburuk keadaaan. Tapi paling tidak, ini membuka sebuah fakta kalau sekretaris kota zaramaras adalah

THE ONE AND ONLY …..CHUCK NORRIS

tapi pada akhirnya, saya harus katakan, kalau pilihan ending kali ini sangat luar biasa, buat saya ini ending terbaik yang pernah ada dari tetralogi yang pernah tercipta.

Mungkin, karena ini bukan akhir, ini awal baru untuk beberapa judul lagi, karena entah kenapa, saya tidak percaya kalau rangkaian kisah ini akan berakhir di KOMET.

btw, untuk penutup, saya juga punya anekdot receh seperti yang ada di lembah kematian:

Sekretaris dewan kota menemukan  salah satu buku petualangan Ali Seli dan Raib yang diterbitkan di klan bintang, dan cuma melihat bagian belakang bukunya, dia sudah tersenyum dan menebak ending novel tersebut.