(S1 FINALE) CARITA NAGARA 10 : Akhir di Nagamula

 

Langit terang benderang oleh Bola bola api yang kemudian  jatuh dan membakar pepohonan raksasa di nagamula

“Mereka datang!” ucap Maharani

dan tak lama langit sudah di penuhi pasukan naga milik Angkara.

**

“Cukup sampai disini Antasera”

Seorang  tahanan berkata ketika rombongan Antasera sudah merapat di Nagamula

“Kau mungkin sudah melupakan siapa aku, tapi aku tidak”

Pria itu kemudian keluar dari kerumunan dan berdiri paling depan.

“Orang tua ini akan kalah, maka kusarankan lebih baik kalian berpihak kepada yang menang, karna  aku menjanjikan kalian kekayaan kalau kalian memihakku”

“Siapa kau? beraninya memerintah dan berjanji kepada kami ” salah seorang tahahan akhirnya bertanya

“Perkenalkan, aku Tomasa, putra Dharma”

**

Kaki kaki agama yang sudah tua namun masih kokoh akhirnya mendarat di tanah Nagamula. menimbulkan getaran yang luar biasa,apalgi setelah si pemiliknya mengeluarkan raungan yang memecah angkasa

“Karja, akhirnya kita bertemu kembali” ucap Angkara turun dari Naganya diikuti beberapa orang pasukannnya

“Chandra, aku tau kau akan bertahan, dan kita akan bertemu lagi, tapi  seperti yang ayah katakan sebelumnya kau memihhak pihak yang salah nak”

Angkara berhenti sejenak

“Sebentar lagi, ayah akan memimpin nagara dan ayah akan mengabulkan apa yang kau minta”

Chandra tersenyum

“Ayah sudah tau di mana aku berpihak”

Angkara mengangguk angguk dan memandang anaknya

“Baiklah, kalau memang itu keinginanmu, jangan salahkan ayah”

Selesai berkata demikian, serempak pasukan pasukan berbaju putih milik Angkara pun maju

di pihak Chandra, Kagitah yang pertama maju dengan Braksha nya.

Maharani bergerak mundur, memancing sekelompok pasukan putih-putih bergerak ke arah lain

Chandra sendiri sudah langsung mengangkasa, beberapa pasukan naga tewas tersambar api hitam milik Tambara.

“Kita kalah jumlah paduka” ucap Kagitah yang bertarung bersisian dengan Karja

Tiba-tiba terdengar gemuruh derap kaki : Randsh turun bersama sekelompok pasukan pamana!

“Bagaimana, kau sudah menemukan lelaki impianmu?” ucap Randsh yang sekarang sudah berdiri di sisi Kagitah, setelah melompat turun dari kudanya

“Sudah, dia di depanku”

Kagitah mencium bibir Randsh, namun tidak lama Randsh melepas bibir kekasihnya tersebut

“Kita lanjutkan setelah kita memenangkan pertarungan ini”

Randsh melompat dan menghajar beberapa orang pasukan putih

Sagitah menaiki lagi beruangnya, Randsh kemudian ikut di belakangnya

“Salam kenal kawan” ucap Randsh

“Namanya Yurash”

Randsh tertawa

”Kau memang pengemar berat kakamu itu ya”

Kagitah cuma tersenyum.

**

Karja melompat menuju segerombolan pasukan putih Angkara,  beberapa jurus yang dilatih oleh Maharani berhasil dikuasainya dengan cepat. Tubuh ringkihnya juga kini telrihata agak berisi.

Sang guru sendiri  sudah menghantam beberapa pasukan di dekat Karja dengan tenaga dalamnya

“Kau belajar dengan cepat muridku”

“Aku punya guru yang luar biasa”  Balas Karja sopan sambil mengambil posisi berpunggungan dengan gurunya tersebut.

**

“Sekali lagi ayah minta, jangan ikut campur chandra ini bukan pertarunganmu”

Agama terbang bersisisian dengan Tambara

“Terlambat ayah,aku sudah terlanjur ikut serta!”

“Sekarang giliranku yang meminta ayah untuk  hentikan saja semua rencana ayah, biarkan karja sebagai paduka yang sah memimpin Nagara”

Ayah dan anak tersebut masih terbang bersisian

“Ayah serahkan diri ayah dan akui apa yang sudah ayah lakukan saat naga murka”

“Sepertinya kau benar Chandra”

Angkara menatap anaknya tersebut

“Kau sudah ikut campur terlalu jauh”

Ekor Agama menghantam badan Tambara yang membuat tambara dan Chandra kehilangan keseimbangan.

Agama kemudian melesat kearah pertarungan di bawah sana

Tambara mengejar,keduanya lagi lagi saling serang, saling hindar

sampai kemudian agama terlihat kewalahan, tanduk tambara sudah hampir bersarang di perutnya saat sebuah bola api raksasa menghantam tambara!

Seekor naga lain yang tak kalah besar  sudah melayang di angkasa!

Seekor naga berkulit abu abu mengkilap,

Tambara tersungkur, begitu juga Chandra, disana sudah ada Antasera dan beberapa sisa tahanan yang memihaknya.

“Maaf aku terlambat, aku tidak menyangka dia masih hidup” Ucap Antasera

“Dan lebih tidak kusangka lagi,  dia adalah penunggang Kandana”

**

“Kandana?  tidak mungkin, tapi aku benar benar melihatnya

ucap Karja masih tidak percaya dengan penglihatannya sendiri

“Guru, apakah itu seperti yang kukira”

Maharani masih melihat ke angkasa dan mengangguk

‘Harusnya aku sudah tau kalau dia akan muncul’

“Jadi guru sudah tahu? “

Maharani menggeleng

“Seharusnya demikian, bukan kah Maharayana sudah menceritakan soal kemunculan naga lain?”

“Seharusnya aku sudah menebaknya, naga itu..Kandana”

**

Naga hijau, agama dan naga tua, candana mendarat bersama dua penunggangnya turun bersamaan

“Ternyata kau menepati janjimu untuk hadir”

“Aku tidak akan membiarkanmu menguasai nagara sendiri  saudaraku” ucap Tomusa kemudian

Tomusa adalah adik adalah adik dari istri angkara sekarang. yang merupakan anak dari Dharma, yang selama ini di percaya sudah mati, tapi ternyata masih hidup di panjara. dan selama ini identitasnya di rahasiakan dan  mendapat perlindungan dari petugas,

“Apa kabar Maharani?”

“Tomusa” bisik wanita tersebut

Dia sama sekali tidak menyangka, lelaki ini adalah lelaki yang sama yang dulu pernah  menemani masa kecilnya,

“Tidak ada yang berubah, kau masih penggemar cerita naga itu rupanya”

Tomusa tersenyum

“Dan aku lelaki  bodoh yang dulu tidak mempercayai mereka, harus menjilat ludahku sendiri karena sekarang aku justru menjadi salah satu penunggangnya”

Tomusa menepuk nepuk punggung Kandana.

“Aku dengar anak muda ini yang menganggu rencana rencanamu angkara, ah, saudaraku, kau terlalu lunak untuk seorang penjahat “

tomusa bergerak kearah Chandra yang terluka  tapi dihalangi oleh Angkara

‘Aku yang akan menyelesaikannya sendiri”

“Cih,aku tidak percaya kau mampu melakukannya” sanksi Tomusa

Tiba-tiba Tambara menggeram mengejutkan keduanya

Agama dan Kandana balas menggeram

Tambara menggigit pakaian tuannya,  meletakkannya di punggung, kemudian melesat ke angkasa

Tomusa kemudian langsung melompat dan menaiki Candana. Mengejar!

Untuk tubuh yang sebesar itu naga abu itu bisa dibilang sangat cepat , tak lama cakarnya berhasil menggores kulit tambara. Api hitam tambara ternyata tidak berpengaruh  apa apa untuknya! Kandana menembus api hitam tersebut dan kemudian menggigit leher panjang tambara dan kemudian dengan mulutnya dia membanting Tambara!

Tambara sempat mencoba mengepakkan sayapnya untuk menyeimbangkan diri, tapi sia sia, tubuhnya terlalu lemah, begitu juga kepakan sayapnya.

**

Sementara Angkara cuma bisa melihat dari bawah, ada rasa khawatir, tapi dia juga tidak bsia menghadapi kakak iparnya tersebut

pertarungan dua naga itu masih berlanjut! lebih tepatnya disebut, pemerkosaan akan Tambara, karena tambara sama sekali tidak berkutik. Sayap  tambara robek, ketika Kandana bertubi tubi menghajarnya dengan semburan  api. Chandra dan naganya memang tidak bisa berbuat pa-apa, keduanya jatuh  melayang di angkasa

Angkara hendak maju.tapi seekor  naga merah raksasa lebih dulu meletakkan karja di punggungnya, melesat, kemudian kembali mendarat  meletakkan chandra di tanah. persis di sebelah jasad naganya yang sudah jatuh terlebih dahulu.

Angkara berlari, mencoba menyadarkan putranya tersebut sementara sebuah hantaman bola api menghantam bhinneka…

Bhinneka tergeletak, Kandana terlalu kuat!

Tomusa melompat dari naganya, bergerak menghunuskan kerisnya kepada Chandra, tapi Karja sudah lebih dahulu berada disana,

Dan..

keris Tomusa pun bersarang di tubuh karja!

“Bhinneka, Chandra” bisik Karja di sisa-sisa tenaganya

Bhinneka membuka matanya, mengeluarkna bunyi seperti lolongan

naga merah besar itu kemudian menyambar chandra dan melesat  menghilang dari Nagamula.

Kagitah yang sedang bertarung, juga maharani cuma bisa terdiam melihat kejadian di depan mereka.

Tomusa mencabut kerisnya, wajahnya menyiratkan kepuasan.

“Sekarang, nagara menjadi milik kami” ucap Tomusa

“Ayo saudaraku istana menunggu” ucapnya sambil merangkul Angkara yang masih memandang ke langit, mencemaskan nasib putranya

**

Chandra terapung di tengah laut lepas.

Tak lama Seekor makhluk muncul dari bawah laut, dan membawa chandra ketepian di atas punggungnya yang tertutup cangkang kokoh.

sementara seorang perempuan dengan tubuh penuh rajah menunggu di tepian!

“Terimakasih samudra”  ucap si perempuan kepada makhluk tersebut

Samudra pun meraung, dan kemudian kembali masuk ke dalam laut.

**

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s