CARITA NAGARA 8 – Alasan, Angan , Angkara

“Jadi bagaimana Kalajaka, dimana paduka tercinta  kita sekarang?”

“Dia sudah mengabariku dengan media,  dia tidak jauh dari sini angkara”

“Nagamula?” tebak Angkara

Kalajaka Mengangguk

“Aku sudah menduganya, lelaki lemah itu tidak akan  pergi jauh” tutur Angkara

“Kau benar benar ingin berkuasa ya Angkara”

Angkara cuma tersenyum  kemudian berdiri dari kursinya, berjalan ke belakang Kalajaka.

“Aku berutang banyak padamu Kalajaka”

Angkara mencabut Nagarakanya kemudian menyemblih kepala kalajaka yang langsung bergulingan di lantai tersebut

“Sayangnya, kau ular yang cukup berbahaya”

Angkara kemudian tersenyum.

“Singkirkan dia, kita bersiap-siap ke Gunung Nagamula” ucapnya kepada para penjaganya.

**

SEBELUM NAGARA. NAGAMULA

Nagamula saat itu masih menjadi sebutan untuk daerah itu, saat pemberontakan kepada Kincara masih terjadi dimana-mana, sebelum mereka  berdiri sendiri seperti permintaan Bathara. Para naga terlihat bertarung diangkasa, sementara mereka yang bukan penunggang terlibat baku hantam di darat :  para pemilik ajian dan beladiri, dengan tangan kosong mereka, para pengguna senjata juga adu senjata mereka, namun dari segi bala tentara kerajaan kincara yang sudah jauh lebih maju memang masih unggul di banding daerah nagamula yang memang berada dalam cengkraman mereka.

Angkara muda turun dari naganya. Beberapa temannya sudah menunggu

“Sukurlah kau tidak apa apa Angkara, teman-teman di utara perlu bantuan!”

Angkara mengangguk kemudian segera  berjalan menemui jendral yang sedang terluka, Dharma.

“Jendral, biarkan aku memimpin pasukan menuju utara”

“Aku tidak mau lagi kehilangan orang terbaikkku Angkara” Ujar Dharma yang memang terdengar  melemah

“Percayalah, aku akan kembali Jendral”

“Nagaswa”

“Nagaswa Angkara“

Angkara menaiki naganya, mengambil alih pasukan dan kemudian membabi buta membakar para pasukan kincara, sampai dua naga besar milik kincara menyeruak ke angkasa, sayangnya dua naga  kancara tersebut  tidak ada yang bisa mengalahkan Garinda, naga hijau milik angkara yang tanduk dikepalanya sangat tajam, sehingga mampu membelah naga musuhnya menjadi dua bagian. Dua naga itu dibereskan dengan waktu yang tak lama, begitu juga dengan sisa pasukan angkara yang akhirnya kocar kacir.

Di tendanya, sang jendral mendapat laporan tentang aksi Angkara. Sang jendral terkagum kagum mendengar kisah, jelas, anak muda ini memiliki bakat luar biasa, bakat yang suatu saat nanti akan berguna untuknya.

**

Angkara tidak pernah tau siapa orang tuanya, dia dibesarkan bersama anak anak lain yang tidak punya orang tua, dia melihat sendiri bagaimana kesedihan, kesulitan dan kegengerian yang di alami kawan kawannya  saat kincara pertama kali menduduki nagamula. beranjak remaja, angkara sudah bergabung dengan pasukan pemberontak , dia sudah keluar masuk hutan dan berlatih. dia sangat mengagumi pimpinannya saat itu, Dharma.  saat Bathara memerdekan nagara, dia tidak sebahagia yang lain, dia tidak punya siapa- sisapa di dunia ini, yang dia tau kincara adalah yang bertanggung jawab terhadap kehilangan dan kesedihannya ini .

Angkara tidak cuma piawai mengendalikan naga, tapi dia adalah petarung senjata terbaik, Nagaraka adalah pedang yang diberikan langsung oleh Dharma yang di kaguminya, ketika berhasil menyelesaikan sebuah misi dengan gemilang, karena itu dia menganggap pedang itu sesuatu yang istimewa, tidak tau berapa potong kepala, berapa banyak darah yang sudah dihasilkan senjata yang juga diangggap azimat oleh Angkara tersebut.

Makanya, ketika suatu malam, Dharma mengajak nya untuk ikut dalam sebuah rencana luar biasa, angkara tidak butuh waktu lama untuk langsung menyetujuinya, Sebuah rencana, penuh darah yang akhirnya dikenal dengan nama peristiwa Nagamurka.

**

SEBELUM NAGAMURKA. ISTANA

“ Ini namanya kudeta angkara, jelas aku tidak akan menyetujuinya”

Ruang rapat pasukan keamanan di bawah pimpinan batharaokta Dharma terlihat ribut. Pasukan terbagi menjadi dua, yang mendukung dan jelas jelas menolak, namun sebagai pemimpin mereka,Angkara terlihat sangat tenang

“Tapi ini perintah dari jenderal dharma sendiri”

“Perintah tertinggi adalah dari Bathara, bukan Dharma” ujar salah seorang pasukan

“Benarkah?”

Angkara berjalan ke arah yang berbicara tadi, kemudian langsung menggorok leher yang tadi berbicara.

“ Kalian buta, apa benar perintah tertinggi di negeri ini milik bathara? bukankah kita masih di bawah tangan kincara, cuma dengan cara yang berbeda, perintah tertinggi tetap ada ditangan ratu, dan Bathara cuma salah satu pionnya”

“Kau gila Angkara!” beberapa pasukan mencabut pedangnya, beberapa pasukan yang memihak angkara juga mencabut pedang, melindungi pimpinan mereka

Angkara tersenyum, kemudian berjalan dengan tenang menuju pintu keluar.

“Bergabung atau mati, pilihan kalian cuma itu”

Angkara keluar dan mengunci pintu.

**

NAGAMURKA. ISTANA

Ketika naga merah itu muncul, Angkara sedang memimpin pasukan pemberontak melawan pasukan kerajaan, Satu lusin pasukan kerajaan cuma menjadi menu pembuka yang sangat mudah buat pemuda ini,, sampai seorang batharaokta muncul

“Angkara, kau punya kekuatan luar biasa, sayangnya kau berjalan di jalan yang salah”

“Aku bisa malihat mu akan menjadi orang besar yang di masa datang” lanjut lelaki itu kemudian

“Ya, paling tidak kau sudah melihat itu,  karena aku akan segera menghabisimu”

lelaki itu merapalkan mantra, angkara berhasil menghindari serangan api yang keluar dari  tangannya tersebut

lelaki itu kemudian mencabut dua kerisnya, angkara mencabut pedangnya, sayangnya lelaki tua ini lebih unggul, permainan kerisnya sungguh luar biasa, dan akhirnya, angkara pun menyerah.

Kemudian, saat lelaki ini lengah, angkara pun mengambil kesempatan, menusuk lelaki tesebut di uluhatinya, Sebelum kematiannya, si lelaki tua ini masih sempat merapalkan sebuah ajian pamungkasnya, sebuah bola api besar yang datang entah dari mana, yang kalau seandainya Garinda tidak menggantikan tempatnya, maka tidak akan ada lagi kisah Angkara..

**

SETELAH MENJADI NAGARA. GUNUNG NAGAMULA

Setelah kematian Garinda, Angkara kembali melakukan tapa wajanaga.

Namun di dalam tapanya kali ini , dia belum menemukan naga, melainkan ada wajah dan isak tangis  bayi yang mengganggu tapanya

Angkara pun berhenti, dia pun memutuskan untuk mencari, sampai akhirnya dia melihat pemandangan yang mungkin dia tidak akan pernah lupa seumur hidupnya..

Di  bawah sana, disinari  cahaya bulan purnama Angkara  melihat bayi yang di kelilingi entah berapa ekor naga

Angkara tiba tiba merasa melihat dirinya sendiri, yang tidak punya siapa siapa dari kecilnya, selalu berada dalam keadaan bahaya

Angkara pun melompat ke bawah, bergerak ke tengah, melindungi bayi tersebut!

Naga naga itu kemudian bergerak, Angkara bersiap untuk menghadapi mereka, namun yang terjadi sungguh di luar dugaannya, naga naga itu mengepakkan sayapnya dan terbang ke angkasa

Angkara tidak tau pasti apa yang sedang terjadi, tapi yang pasti malam itu menjadi malam kelahiran Chandramakna.

**

Angkara sama sekali tidak tidak menyangka, dia akan menghadapi putranya yang dia sayangi sepenuh hati ini, tepat di tempat yang sama dia menemukannya pertama kali

“Minggirlah Chandra”

“Tidak ayah, aku tidak akan membiarkan ini”

“Kau tidak mengerti Chandra ini harus ayah lakukan”

Ketika bisara tidak menemukan titik terang, keduanya saling menyerang, sampai sebuah bola api raksasa dari Nakama, berhasil melukai Agama. Agama terjatuh ,namun nagaraka milik angkara juga berhasil melukai Nakama dan membuatnya ikut rubuh.

Setelah itu, datangnya pasukan bantuan berhasil membuat Chandra dan naganya bertekuk lutut.

Chandra kemudian dia bawah ke tengah Drakota.

“Walau dia adalah anakku, dia seorang pengkhianat” ucap Angkara kepada semua yang hadir

“Dan aku ,Angkara tidak akan membiarkan  seorang pengkhianat pun”

“Pemuda ini sudah berani berani melukai agama demi seekor naga merah”

Angkara memberi jeda disana

“Naga merah yang selama ini disembunyikan oleh paduka kita, Karja!”

Di hadapan Chandra,  Nakama naga merahnya sudah dirantai sedemikian lupa, naga mencoba memberikan eerlawanan, tapi sia-sia beberapa pasukan sudah mengikatnya dan menghunuskan tombak tombak raksasa.

Dan akhirnya,  Angkara sendiri yang memotong kepala nakama yang sudah di rantai dengan Nagarakanya

Penonton bersorak sorai, sementara Chandra menangis dengan tubuh terikat dan mulut yang tertutup.

Tidak banyak yang tahu, ini adalah keputusan berat untuk Angkara, tapi ini dia harus membuat keputusan ini, sebelum ada yang memintanya untuk memotong kepala putranya tersebut.

“Kirim dia ke panjara!”

***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s