Bukankah Sudah Pernah Kukatakan Kalau Langit Tidak Akan Seindah Sebelumnya, Walau Kita Sudah Bertemu Kembali?

Indah.  Langit kota kecil  kita ,sore itu masih seperti hari hari sebelumnya, semburat merah cerah bisa kita lihat di gedung dengan atap runcing yang menjadi kebanggaan kota kita. Sebuah ingatan akan masa lalu.

Yah, begitulah, bukan cuma aku dan kau, tapi setiap kita selalu percaya kalau ada titik masa lalu yang patut di banggakan, diceritakan dan dirindukan.

Aku tau, seperti langit yang sudah biasa terlihat indah, kau akan melewati jalan ini, seperti kebiasaanmu. tapi sayangnya sore itu kau tidak sendirian. kau bersama lelaki itu, aku tersenyum, kau tersenyum.

langit sore itu, masih tersenyum, tapi entah apa maksud di balik senyuman itu.

**

Langit kota kita memang selalu indah, itu tidak terbantah,

Tapi tidak tanpa kehadiranmu yang kutunggu di sini.

kau tahu, aku tahu kau sudah bersamanya, tapi aku pikir itu bukan alasan bagiku untk tidak menikmati senyummu, Zaman sudah punya caranya sendiri untuk bahagia, untuk membuat berduka, Foto fotomu bersama keluarga, beserta teman temanmu disana sudah lebih dari cukup untukku

Aku tau kau baik baik saja dikota itu, masih bersama lelaki yang dulu.

dan  itu sudah lebih dari cukup untukku

**

Apakah langit kotamu yang sekarang seindah disini? apakah gedung gedung raksasa itu benar-benar menjangkaunya

gedung gedung itu mungkin terlihat tinggi, seperti rasaku, tapi tidak akan pernah bisa menjangkau langitmu

cuma seakan akan, cuma anggapan orang orang kalau hatiku akan mencakar langit cintamu

Entahlah, tapi mudah mudahan aku tak separah gedung gedung itu, yang menghalangi pemandanganmu. atau membuatmu terluka

Begitulah, Sejatinya,aku lebih memilih menyentuh langitmu, daripada mencakarnya

**

Langit malam, lampu taman, tak ada yang seindah ini, tapi aku harapkan aku bisa menikmatinya bersamamu.

sekedar duduk, kemudian bercerita tentang apa yangs udah kau lalui, atau seandainya kau lelah, biarkan saja aku yang bercerita,kau tinggal tersenyum, mengangguk atau menggeleng, walau aku lebih suka yang pertama.

Karena kalau senyummu adalah haram karena terlalu memabukkan, maka aku mungkin pria paling berdosa di seluruh dunia.

**

Langit selalu punya cerita, seperti dirimu, walau bukan untukku. Atau cerita itu untukku tapi langit cuma gagal bercerita?

Aku tau, kau tidak lagi bersamanya, lelaki waktu itu. Aku tidak tau aku harus senang atau sedih.

karena aku tau kau sedih, tegakah aku bahagia  diatas kesedihanmu

entahlah, yang pasti aku masih disini.

ada hal-hal yang patut kukerjalan, tapi aku lebih memilih menikmati kisahmu

walau, aku selalu tau kisah itu bukan untukku.

**

Langit luas tak seperti hatiku, tapi kami sama, sama-sama akan menangis saat dibutuhkan.

Ada tangis sesal, kesal, harusnya aku yang berjalan bergandengan tangan bersamamu

bukan, bukan dia.

ini perkara hati, tapi apa mau dikata? dia mungkin jauh lebih berani  dia memang lelaki

tapi kalau berbicara jarak dan kemungkinan, aku lebih percaya kita lebih punya kemungkinan lebih besar untuk bersama, seperti kata kawan-kawanku.

tapi ini bukan percaya kemungkinan, ini bicara kepastian

dan lelaki itu pasti sudah memberikan kepastian kepadamu, tidak sepertiku, mungkin.

hujan di luar,  aku menangis

**

KIta bertemu lagi, dibawah langit kota yang sama,

 indahkah? kau tetap

langit  kota ini? tidak

sore itu cuma akan menjadi bahan cerita, ini bukan cuma pertemuan kita berdua, kita cuma dua dari puluhan yang ikut bercerita sore itu.

Kita tertawa tapi bukan tentang kita,

Dan walau kau tidak lagi bersama dia, masih belum ada kita.

Tapi. bisakah tawa ini menjadi awal semuanya?

**

Aku tau, cerita tentang memandang langit yang sama begitu klise, tapi aku tidak peduli

Cukup dengan suaramu, mungkin diseberang sana kau juga cukup dengan suaraku

Kita bisa berada di langit pikiran masing masing.

ternyata masih banyak hal yang belum kuketahui tentang dirimu, tapi  tebakanku benar, kau sudah jauh lebih dulu mengenalku

ah, sudahlah

kita bercerita tentang banyak hal

dan aku cukup percaya satu hal

kita sudah menginjak tangga ke langit masing masing

**

ternyata masih banyak awan di langit kisah kita

 Sementara di langitku, kau matahari

siapa aku di langitmu?

**

Langit punya takdir, ada suratan yang sudah tertulis, cuma kita yang belum bisa membacanya

sampai kapankah aku menunggu bisikan, sampai kapan aku membutakan diri dari jawaban?

Terjawab sudah.

Aku bukan siapa siapa di langitmu, mungkin aku cuma sekumpulan burung terbang, atau balon udara yang mencoba menikmati sisimu yang tidak di lihat semua orang,

tapi tidak, masih aku tidak siapa aiapa

kau sudah menjadi milik orang lain yang lain.

bulan yang tepat untuk langitmu, saat malam

**

Kadang kita lupa, di langit bukan cuma ada mentari, bulan dan bintang

tapi ada saatnya petir dan hujan

dan ini yang terjadi sekarang

aku benci mengatakan ini, tapi langitku seakan retak

dan kau adalah zeus tercantik yang pernah kulihat sekaligus kubenci

**

siapa sangka kita akan bertemulagi di langit?

kau duduk di sebelahku, dan dia di sebelahmu

kita bicara lagi banyak hal

lelakimu menggengam tanganmu

aku? jangankan hatimu, bahkan kursi untuk menatap langit di  luar jendela  itu tidak  jadi milikku

**

Langit kota kita tidak seindah dulu lagi, aku pernah bilang kepadamu

tidak, mungkin sebenarnya langit tidak berubah, cara kita yang memandangnya berbeda

sama seperti kau, kau tidak pernah berubah,

cuma mungkin aku tidak lagi memandangmu seperti dewi yang menapak pelangi seperti dulu lagi,

kau masih tetap mempesona, cuma sekarang aku tidak lagi terpesona, itu saja.

Mungkin,  waktu kita yang memandangnya juga sudah berbeda

kita tumbuh, menjadi dewasa dan punya cara pandang yang tentunya tidak sama lagi seperti saat kita masih di mabuk cinta

aku yang mabuk, kamu tidak, kamu terlalu waras untuk jatuh cinta kepadaku

apa lagi yang bisa ku katakan?

sekarang kita sama sama sudah di kota yang sama, dengan cerita yang tidak sama

mungkin sudah waktunya pemandangan ini kusimpan, paling tidak, dulu pernah ada langit kota yang kukagumi keindahannya

semua berubah , ketika semua harus berubah, dan aku harus ikut berubah, semua tidak berubah, ketika tidak harus berubah, dan kau tetap tidak berubah

Tidak ada yang pernah bisa di paksakan di langit

semua terjadi karena sebab akibat, ada proses, ada cerita  dan takdir masing masing

pelangi muncul setelah hujan, dan bulan tidak memancarkan cahayanya sendiri

lebih jauh

semua benda langit bergerak  menurut orbit masing-masing

menurut cerita masing masing

kau dengan ceritamu, tentang bulanmu, dan satelit satelit kecil yang kini mengelilingimu

aku, aku masih disini, menatap langit, tapi bukan kau

karena mungkin kau bukan langit

kau cuma batas pandangan,

yang harus kutembus, untuk menemukan langitku sendiri

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s