CARITA NAGARA 8 : Keping Kenangan Kagitah

Gunung Nagamula tetap dingin seperti biasanya, tapi ada yang lebih dingin malam itu : hati seorang wanita yang ditinggal lelaki yang amat dicintainya, kakak lelaki satu satunya, keluarganya yang terakhir.

Dia tidak percaya, kakaknya begitu cepat meninggalkannya, tapi dia lebih tidak percaya kalau seeekor naga merah baru terbang dari kuburan kakaknya, ditunggangi oleh lelaki yang dikenalnya. Kagitah tidak tau, kalau lelaki itu seorang penunggang, dan yang lebih dia tidak  percaya naga yang ditungganginya adalah naga yang selalu  menjadi sosok menakutkan di Nagara. Kakaknya pasti merahasiakan ini. beberapa hari belakangan banyak orang berkata kalau Chandra adalah  orang jahat, atau pengkhianat. Tapi dia selalu percaya hal ini tidak benar, karena lelaki pilihan kakaknya tidak mungkin orang jahat, begitu juga lelaki pilihannya!

*

“Jadi dia itu kekasihmu?’

Kakaknya tersenyum

“Tapi..”

Yurah mengelus kepala adiknya,

“Aku tau, dia putra Angkara, tapi percayalah, dia berbeda”

lelaki besar itu kemudian tersenyum.

 “Aku akan baik baik saja” ucap Yurah.

Dan itu kata kata terakhir yang dia dengar dari kakaknya

**

Sudah lama sebenarnya Kagitah ingin berpetualang keluar dari daerah pamana, memang pamana bukanlah suku yang kekurangan apa-apa, hasil dari pertanian dan peternakna di nagamula cukup baik, paling tidak cukup untuk hidupnya sehari hari, tapi entah kenapa Kagitah merasa ada sesuatu yang  lebih besar menantinya di luar sana, dan kematian kakaknya, dia anggap sebagai sebuah pertanda!

Suku pamana yang lain,( seperti juga kepada setiap pemuda pamana yang hendak ke kota )  mencoba melarang mereka, karena sudah ada kepercayaan dan ajaran turun temurun kalau orang kota adalah orang jahat dan kejam kepada alam, juga kepada kamu mulia, yang menganggap mereka sesat dengan kepercayaan sajara mereka. Terakhir kepada Angkara, yang walau di percaya sebagai pahlawan, tapi sebagian besar suku pamana menaruh dendam terhadap tokoh ini.

Termasuk Randh, seorang anak kepala suku yang akan menggantikan kekuasaan ayahnya nanti.

“Kau yakin?’ ucap Randh setelah mengecup lembut bibir kekasihnya.

“Izinkan aku menemanimu”

“Tidak, kau harus disini, pamana butuh kau” Kagitah mengelus  pipi kekasihnya

“Kita pasti bertemu lagi” lanjut Kagitah

dan kemudian, Nagamula yang dingin kalah oleh hangatnya ciuman mereka.

Kagitah berjalan santai,menuruni lereng, dia bermaksud pamit ke kuburan kakaknya sebelum bergerak menuju kota, saat tiba tiba  terdengar raungan yang dikenalnya.

“Braksa?”  gumam Sagitash perlahan,

Sebagai suku pamana, Kagitah tau, ini bukanlah musim Braksa muncul, ini harusnya adalah waktu dimana mereka melakukan tidur panjang. Jadi kalau Braksa bangun dan meraung di gunung Nagamula, berarti  ada sesuatu yang tidak biasa yang sedang terjadi.

Kagitah berjalan memutar, kemudian berlari , memanjat pohon, melompat dari dahan ke dahan  mengikuti raungan Braksa tadi. Tak lama dari sebuah dahan pohon, Kagitah melihat beruang berukuran raksasa itu sedang mengejar seseorang!

**

Seorang gadis dengan kain penutup kepala berwarna merah terus berlari dari seekor beruang raksasa yang tak jauh di belakangnya.

Dengan tubuh kecilnya,  Kagitah terbilang lincah dan harusnya bisa merepotkan sang beruang yang  agak kesusahan dengan ukuran tubuhnya. Sayangnya, beruang ini punya keuntungan lain, tenaga luar biasanya mencabik cabik pohon yang Kagitah jadikan jalan untuk melarikan diri

Sampai akhirnya, Kagitah pun salah langkah, terjatuh

Braksa tersebuh mendekat  memajukan cakarnya saat seseorang  tiba tiba menahan tangan beruang itu  dan kemudian membantingnya.

“Kaka?”

“Jangan khawatir, kakak bersamamu!”  Lelaki itu melompat mundur, mendekati saudara perempuannya yang sedang ketakutan

“Kau tidak apa apa?”

Braksa  menggeram, sepertinya dia belum menyerah

Yurah mengangkat sebuah batang pohon  dan menghantamkannya pada Braksa tersebut. Si beruang terlihat mengaduh kesakitan, tapi tak lama, dia bangkit dan meraung lagi. Membuat  burung burung beterbangan.Ketakutan.

Yurah kemudian memejamkan matanya, memukul tanah di hadapannya yang kemudian menciptakan getaran sampai ke tubuh si beruang .

pasakbumi,  jurus milik ayah, kakak sudah menguasainya!

Pikir Kagita terkagum-kagum.

beruang raksasa itu kemudian terlihat kesakitan. Yurah melompat dan mencabut senjata di pinggangnya

“JANGAN KAK” Kagitah berteriak, dan kemudia berlari mendekati si beruang, melepaskan kain merah di kepalanya, terutai, kemudian mengikatkannya di kaki si beruang yang terluka .

“Pergilah, kau akan baik baik saja”

Yurah  tersenyum, mengusap rambut saudara perempuannya yang hitam panjang terurai.

**

“Terima kasih kak, untung kaka datang”, ucap Kagitah ketika sang beruang meninggalkan mereka dengan tertatih.

“Kau tau, ini musimnya Braksa, kita tadi sedang beruntung cuma bertemu yang seukuran itu. biasanya mereka lebih besar”

Tangan besar Yurah lagi-lagi mengusap kepala adiknya

“Tapi kakak salut sama kamu”

Kagitah cuma tersenyum, dan kemudian  keduanya pulang bergandengan tangan

“Jadi, apa yang kau lakukan di sini sendirian?”

“Tidak ada kak,aku cuma sedang berlatih saat braksa itu muncul”

“Buat apa?”

“Biar sehebat kaka” jawab Kagitah polos

‘Suatu hari nanti  kamu bahkan akan lebih hebat di banding kaka”

**

Lelaki yang dihadapi kakaknya ini sungguh mengagumkan

Kagitah  tersenyum melihat pertarungan kakaknya, selama ini dia menyangka tidak akan ada yang bisa menyaingi kekuatan dan kecepatan kakaknya, tapi dia salah. Sama salahnya seperti ketika dulu dia percaya kalau  tidak ada lelaki yang bisa menaklukkan hatinya.

Kagitah sedang jatuh cinta!

**

Yurah memeluk saudara perempuannya

“Maaf, kamu harus tau kalau kakak…’

‘Tidak apa kak, tidak apa apa “

“Aku yang bodoh, jelas aku tidak akan menang bersaing dengan kakak”

Kagitah tertawa

“Tapi aku mohon, kakak jangan kasih tau Chandra” lanjut gadis itu kemudian.

Giliran Yurah tertawa.

Kagitah patah hati.

**

Gadis dengan tubuh kecoklatan itu melompat dari sebuah pohon, kemudian meluncur  kearah  Braksa yang sedang memburu  mangsanya,dia memang tidak sekuat kakaknya, tapi dia pasti akan menyelamatkan orang ini!

Masing-masing pisau di kiri dan kanan Kagitah berhasil menghentikan gerakan Braksa tersebut!

“Larilah” perintah Kagitah kepada pria kurus dengan wajah di tumbuhi jenggot dan kumis yang tidak berarturan tersebut. Pria itu kemudian menghindar, tapi tidak melarikan diri, dia malah bersembunyi di balik pepohonan tidak jauh dari arena pertempuran yang sekarang menjadi milik Kagitah dan Braksa tersebut.

“Pergi”ucapnya kepada si beruang.

Tapi sepertinya si beruang tidak suka diperintah!

Braksa tersebut menggeram memperlihatkan gigi gigi tajam dan besarnya kepada gadis di depannya tersebut. Kagitah melemaskan otot ototnya, kemudian memasang tameng besi di tangan kirinya, sementara tangan kanananya sudah memegang pisau berujung ganda. gabungan pisau yang tadi berada di kanan dan kiri tangannya !

Beruang raksasa tersebut menyerang maju, Kagitah melompat, dan seperti biasa, kelincahannya menyulitkan si beruang!Tapi lagi-lagi pada satu titik kepala si beruang berhasil menghantam tameng yang dipakai Kagitah, tameng tersebut pecah dan tangannya terluka karena pecahan tameng besi tersebut!

Kagitah berguling menghindari cakaran si beruang raksasa. Melihat lawannya berhasil menghindar, Braksa tersebut marah dan menyerang makin membabi buta!

Kagitah berlari lagi, dan memang, sekarang ini, dengan tangannya yang terluka, cuma bisa berlari!

 ..Sampai akirnya Braksa tersebut berhasil membuat Kagitah terpojok

Kejadian itu terulang lagi.ternyata aku belum sekuat kakak, jangankan membantu orang lain, aku belum mampu menyelamatkan diriku sendiri

Pikir sang gadis saat cakar beruang itu sudah berjarak saat dekat dengan tubuhnya.

Lelaki yang ditolong tadi langsung bergerak ke depan, tapi sudah keduluan oleh seekor makhluk yang langsung melindungi kagitash

Saat itu, Kagitah  merasa melihat kakaknya…

Bukan.

itu Braksa yang lain! Dia ditolong Braksa yang lain!

Braksa tersebut kemudian menggeram, dan berhasil membuat Braksa yang lebih besar itu pergi dari sana

Belum hilang heran lelaki dan Kagitah,beruang itu kemudian menunduk di depan gadis yang sedang memegangi tangannya tersebut, Kagitah baru sadar, kalau ini adalah braksa yang sama yang dulu pernah di tolongnya, kain merahnya masih disana.

Beruang tersebut makin menunduk. Kagitah tersenyum mengambil kain merah tersebut dan mengikat tangannya. beruang raksasa itu mengeluarkan bunyi yang terdengar seperti dengkuran, dan sejurus kemudian, entah dapat perintah dan keberanian dari mana, Kagitah sudah menaiki beruang tersebut.

**

Kagitah masih berada di makam Yurah saat orang yang tadi mendekatinya,masih dengan tubuhatas yang  telanjang dan celana kain yang sudah centang perenang.

“Aku belum mengucapkan terimakasih” ucap si lelaki kurus kepada Kagitah

Gadis itu  tersenyum, kemudian menggeleng.

“Aku cuma kebetulan lewat”

Lelaki itu kemudian mengangguk angguk.

“Maaf, siapa yang di kubur disini?”

“Kakaku, dia dibunuh mulia bangsat di kota,” tak sadar kata-kata itu muncul begitu saja dari mulut Kagitah.

Si lelaki memandang mata si gadis “Aku turut berduka,kalau seandainya aku tau, mungkin aku bisa menghentikannya”

“Tidak apa, kau tidak akan bisa mengubah apa-apa walau kau ada disana sekalipun”

Lelaki itu akhirnya tersenyum.

‘Percayalah,kalau seorang paduka nagara ada disana, dia akan bisa menghentikan hal tersebut, kalaupun bukan dia, aku percaya, pasukannya akan berbuat sesuatu”

Lelaki itu diam sejenak, bangkit dari batu tempat duduknya dan mendekati Kagitah.

“Sayangnya, aku tidak disana, dan aku tidak tau. Untuk itu aku minta maaf’

Belum sempat Kagitah berkata-kata, lelaki itu sudah mengulurkan tangannya

“Karja”

Kagitah tentu pernah mendengar nama tersebut tapi dia tidak tau yang didepannya ini adalah sang paduka, karena Karja yang dia tau tidak memelihata kumis dan jenggot seperti lelaki didepannya ini.

“Ya, aku tau, tidak begitu mirip dengan lukisanku. Aku sudah melewati minggu minggu luar biasa di gunung nagamula ini”

keduanya diam, sampai Karja bersuara kembali

“Jadi setelah pamit dengan kakakmu kau mau kemana?”

“Aku mau ke kota”

Paduka nagara itu tersenyum entah untuk yang keberapa kali.

“Kebetulan. aku butuh bantuanmu, istana dalam bahaya, dan katakanlah, aku kekurangan orang”

“Lalu hubungannya denganku?”

“Aku membutuhkan petarung yang baik sepertimu” ucap Karja terang-terangan.

“Kau ..” Kagitah berhenti

“Maaf,maksudku,  paduka sudah lihat sendiri aku tidak sebaik itu”

Kali sang paduka bukan cuma tersenyum, dia tertawa.

“Jangan sungkan, kau sudah menyelamatkan nyawaku, kau boleh memanggilku dengan apa saja”

Kagitah diam

“Bagaimana? apalagi, beruangmu sepertinya cukup kuat”

Lelaki itu mengusap kepala Braksa yang dari tadi berada di samping Kagitah.

Gadis itu  memandang langit, bertanya dalam hati.

Takdir inikah yang disiapkan untuknya?

**

Drakota. Sekarang.

Seseorang dengan jubah hitam  memasuki sebuah rumah yang dijaga beberapa pasukan dengan baju putih.

“Selamat datang Kalajaka” ucap si pemilik rumah yang sudah duduk menunggu tamunya.

“Selamat malam, Angkara” Balas sang tamu.

**

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s