Misteri Hilangnya Sebatang Rokok

Konon, salah satu pertanyaan terbesar dan mendasar di dunia adalah: apakah para hantu juga merokok?

Pertanyaan ini muncul didasarkan pada  kebiasaan para hantu yang lebih sering keluar di malam hari di banding siang hari,  dimana dinginnya udara malam merupakan waktu yang pas untuk merokok apalagi ditemani secangkir kopi hitam panas.

**

Aku sedang kalut. dan tidak lucu kalau anak anak kostan ini melihatku menangis, aku ini sudah seperti bos mereka, bos terpaksa, karena aku yang paling tua, satu satunya yang sudah tidak duduk di bangku kuliah. Makanya aku memilih untuk melarikan diri ke bawah, ke depan warung yang kebetulan sudah hampitr tutup.

Ah, perhitunganku tepat, mereka  baru bubar :  bapak bapak tetangga yang  mendisukusikan apa saja. Mulai dari sepakbola sampai kerja  walikota, ditemani secangkir kopi dan tentunya beberapa bungkus rokok. Aku memang sengaja menunggu mereka bubar, aku tidak terlalu suka keramaian, apalagi menurutku masalah bangsa ini tidak akan selesai di warung kopi, di tambah lagi aku dan bapak-bapak sekalian ini berada di pihak yang berbeda. Apa mau dikaata, seberapun kita tidak mau mengakuinya tapi  memang Negara ini sedang terbelah jadi dua kubu

Aku pernah memaki maki jagoan mereka di kostan, aku meneriaki tokoh tersebut sebagai biang makar dan antagonis bangsa ini,  dan salahku juga suarku tidak kukontrol, maka ketika aku turun,bapak bapak ini pun memandangku dengan sorot mata yang berbeda. Cuma pemilik warung kopi yang menatapku normal. Dia sudah benar, tidak memihak siapa siapa. Atau orang yang suka berhutang di warungnya akan berkurang satu, paling tidak.Jadi biasanya aku akan cuma permisi lewat dengan senyum basa basi, membeli kopi atau rokok , kemudian balik kanan ke kostanku.

Maka, berhubung malam ini sudah sepi maka ada kesempatan bagiku untuk menangis, karena kalau anak-anak kostan saja sudah lucu apalagi kalau bapak bapak tetangga ini pada tau? Wah, besok pagi bisa jadi bahan gunjungan ibu-ibu pengajian, dan kemudian malamnya lagi, begitu terus  sampai mereka punya bahan baru tentang klub sepakbola ini, tentang politik, atau mungkin tentang keduanya, klub sepakbola yang jadi kendaraan politik,

Malam ini, aku membeli secangkir kopi dan dua batang rokok, cukuplah untuk menemani aku menangis. Aku janji mengambalikan gelasnya besok, tapi sepertinya akan bernasib sama dengan tumpukan gela lain di kamarku.

SIAL!

Aku lupa membawa korek , maka detik-detik terakhir sebelum warung tutup aku meninggalkan kopi dan sebatang rokokku di bale kayu di sebelah warung tersebut, tepat di samping gelas kopiku.

Rokok kubakar, kuhisap, nikmat

Aku kembali, kemudian rokok yang disamping gelas sudah lenyap,

Pait.

**

Aku mencari cari lagi, terjatuh, atau mungkin nyelip  di sela sela bangku kayu ini, tapi tidak ada, aku kembali ke warung yang sudah ditutup siapa tau kelalaianku, tapi tetap tidak ada. Aku masih mencari-cari saat sebuah motor lewat

“Nyari apa kang?” tanya seseorang yang aku tidak tau tersebut,

“Rokok” jawabku sambil kemudian tersenyum

‘”Oh, mudah mudahan ketemu kang” Doanya sebelum berlalu

Figuran tidak bernama

Aku kemduian mencari lagi, berjongkok, tapi sia-sia, masih tidak ada yang kutemukan, kecuali  seekor tikus berukuran amat besar. Tikus  ini heran melihatku, aku tau pandangan itu, pandangan yang mengatakan

“udahlah bos, nikmatin rokok yang ada dulu aja napa?”

Aku terus mencari, dan kalau mataku tidak salah, tikus itu geleng geleng kepala,kemudian menyebrang  jalan ( ya, bagi tikus jalan ini sudah termasuk jalan besar) dan kemudian hilang dalam selokan.

sebenarnya bisa saja aku mengetuk pintu dan membeli sebatang rokok lagi, tapi masalahnya bukan disana, masalahnya adalah penasaran dan jiwa detektif hasil didikan komik dan novel.

Bagaimana bisa hilang secepat itu?

aku butuh penjelasan, aku tidak habis pikir.

ah, mungkin di ambil hantu,

Beberapa menit kemudian, Akhirnya aku putuskan saja demikian,

Bulu kudukku tiba-tiba merinding.

untuk mengalihkannya, aku menyesap kopiku yang sudah dingin, aku hisap sisa sisa rokokku yang tinggal separo.

Bayangan bayangan masa lalu dna ektakutan masa depan berkecamuk seiring hisapan rokokku yang semakin dalam

Aku pun menangis, tapi bukan karena rokokku yang hilang sebatang.

Aku tidak tau lagi harus kemana dan bagaimana, hidupku  hilang arah!

**

Sosok lelaki berambut sebahu, brewokan dan gondrong itu tiba tiba duduk disampingku

Jelas, aku takut, tapi aku mencoba sok kuat.

“Kamu siapa?” tanyaku kemudian, pertanyaan standar yang seharusnya tidak muncul saat kamu berhadapan dengan mahluk lain, misalnya hantu atau alien.

“Panggil saja aku hantu” jawabnya

formalitas, kalau cuma itu, aku juga tau

“Aku utusan para hantu” lanjutnya kemudian seakan membaca pikiranku.

Aku masih tidak mengerti

“Aku datang untuk membantah tuduhan bahwa para hantu sudah mengambil rokokmu”

“O…okay” jawabku pendek, aku tidak menyangka jadi seserius ini.

Kita kemudian saling diam.

“Kami selalu saja disalahkan kalau ada yang kehilangan atau ada yang suara yang tidak jelas di malam hari, percayalah tidak semua berasal dari kami, memang kadang kami menyeberang dari alammu ke alam kami menimbulkan bunyi bunyi aneh atau segala macamnya, tapi kadang kadang itu bukan kami, itu cuma bunyi cicak, atau kecoak”

Aku kaget, ternyata masalah tuduh menuduh ini belum selesai.

“Beberapa dari kami memang iseng mengambil ini memindah kan menyembunyikan, tapi tidak semua barang yang hilang adalah perbuatan kami, rokok kamu tadi juga”

Aku menghapus sisa air mataku, gengsi juga nangis dekat hantu. ya kan?

“Yah,aku juga minta maaf, lagian ga usah dibahas, aku sudah melupakannya, aku sudah ikhlaskan”

Dia diam.

’Mungkin sudah di bawa oleh tikus, mereka suka memakan apa saja, makanya mereka tumbuh besar disini, mungkin ketika aku ke warung tikus itu melihat rokokku, kemudian membawanya” aku mencoba menjelaskan.

Aku memandangnya sejenak.

“Mungkin tikus muda yang mau keren-kerenan, atau itu tikus yang butuh teman baut begadang” tambahku kemudian

dan lawan bicaraku masih diam

Aku berdehem

“Mengai tuduhan tadi aku minta maaf”

Ucapku kemudian, agar masalah ini selesai, aku tidak suka berdebat, apalagi dengan hantu

“Masalah kentut juga, percayalah kalau ada bau-bau tidak jelas, itu bukan hantu, itu cuma manusia yang tidak mau mengaku” ucapnya tiba-tiba

Dan dari kalimatnya barusan, aku tau, dia masih belum menerima permintaan maafku dengan tulus.

“Apa kau selalu dalam bentuk seperti ini?” aku mencoba mengalihkan pembicaraan

Dia menggeleng

“Kau tidak ingin melihat rupaku yang lain” ucpanya kemudian

“Oke, kalau begitu jangan berubah, begini saja, aku nyaman” ucapku

“Kamu normal kan?” tanyanya, sedikit ragu

“Kenapa?”

“Kalau kamu naksir aku berarti kamu dua kali tidak normal, beda alam sesama jenis. kacau!” ucapnya sebelum menghilang

kopiku masih ada

Aku bermaksud menghabiskannya saat tiba-tiba seekor tikus raksasa( rasanya aku perlu menjelaskan, raksasa disini bukan berarti sebesar rumah, ini cuma bahasaku untuk menggambarkan tikus yang agak besar dari tikus lainnya, yang didepanku ini kira kira seukuran kucing )

Aku ulangi, tikus raksasa iniberdiri dihadapanku,memang berdiri seperti di film-film.Kemudian tikus ini mencicit panjang dan ribut

Aku menghela nafas

“Maafkan kalau begitu, aku salah lagi’

Dia masih mencicit.

“Ya ya ya,kamu adalah perwakilan yang dikirim bangsamu, sekali lagi aku minta maaf”

DIa meludah, dan kemudian kembali ke selokan

Aku tertawa, malam ini terlalu random buatku, aku tidak percaya aku bisa bertemu  hantu dan diprotes bangsa tikus cuma gara-gara sebatang rokok. Tapi aku belajar ada hal-hal simple yang bisa kita selesaikan,  tapi kita malah mencari masalah dan memperpanjangnya.

Kadang, ada jalan keluar yang lebih gampang dari semua permasalahan,

**

Aku mengambil sebatang rokok yang ditaro bapak berpeci disebelah kopi, dan dia diam saja.Wajar, dunia kami memang beda, ,Maksudku,  benar-benar sudah berbeda. Aku kemudian mengambil dan membakarnya.

“Ah, tidak ada rasanya” keluhku

“Begitulah, kalau kau mati” hantu tampan breowkan itu tiba-tiba muncul di sampingku.

“Bagaimana, kau mulai menyesalinya?” ucapnya sambil membenarkan letak kacamatanya

“Sedikit” jawabku

“Salah satunya ya begini” aku mematikan rokokku.

Dia tertawa “Kau anak baru, tidak banyak yang  kau ketahui tentang mati, nikmati saja dulu, selagi kau bisa menikmatinya”  tuturnya sambil  menepuk nepuk punggungku,

Aku terangsang, dia menghilang.

Dan tentang rokokku yang dulu, aku masih belum tau penjelasannya. Sudahlah, biarlah itu menjadi salah satu misteri diantara banyaknya misteri lain  didalam hidupku.

Atau, aku sudah  boleh bilang… matiku?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s