CARITA NAGARA 7- Maharani

“Maafkan saya paduka, sepertinya tempat paling aman ini, sekarang menjadi tempat paling berbahaya  ”

Karja menghela nafas.

“Tenanglah Baraka, kau akan baik baik saja, kita tau siapa yang mereka incar”

Naga  putih berukuran sedang itu perlahan menampakkan tubuhnya, dibelakangnya menyusul dua naga lain yang serupa, engambil tempat di kiri dan kanan yang muncul pertama kali.

“Ada apa dengan kalian?,” Teriak Baraka mencoba mengulur mengulur waktu, berbicara kepada penunggang putih di tengah yang sepertinya adalah pemimpin mereka, seakan-akan itu akan berhasil.

“Seharusnya kalian tidak ikut serta dalam hal hal seperti ini” lanjut anak muda ini kemudian.

“Seharusnya? Seharusnya guru Angkara yang memimpin negeri ini”

Sang pemimpin mencabut pedang panjang di pinggangnya, dua pasukan kerajaan yang dari tadi menyertai Karja dan baraka langsung tewas seketika.

Karja dan Baraka mundur, saat tiba tiba seorang melompat dari belakang mereka. Sebuah lompatan yang luar biasa untuk  pemilik tubuh seukuran separo raksasa.

Sebuah gelang besi di tangannya berhasil mematahkan pedang sang pemimpin mulia yang sedang di ayunkan di udara.

“Balabala” ucap  Karja dan Baraka bersamaan.

Dua mulia yang masih duduk di naganya segera memerintahkan tunggangan mereka untuk menyerang, saat tiba tiba ada perisai tak terlihat. seorang pemuda dengan jubah hitam panjang terlihat mengacungkan dua tangannya keudara,

“Paduka, segera pergi dari sini, hamba tidak bisa menahan mereka…. lebih lama”

suara dari bawah tudung itu terdengar melemah, sepertinya pertarungan sebelumnya cukup menguras energinya

“Pergilah baraka, aku tidak mungkin membiarkan Lib sendirian”

“Nagaswa, Balabala, Lib”

Balabala melompat menghantam kepala naga  dihadapannya dengan tangan kosong , Sementara Lib masih sibuk membaca mantra, memperkuat perisainya

“Nagaswa, paduka” ucap mereka kemduian, bersaman

**

Baraka dan karja akhirnya keluar dari ruangan, berlari menelusuri lorong lorong istana, sekelompok pasukan istana  yang melihat keduanya segera mengejar mereka.

Bakara kemudian menyuruh karja bersembunyi  sementara di salah satu sudut yang cukup aman.

“Larilah saat sempat paduka, Nagaswa” ucap Karja kemudian

Baraka kemudian berlari,  di kejar oleh pasukan angkara yang untungnya tidak melihat pemimpin sah mereka yang sedang bersembunyi

Karja menarik nafas, akhirnya mengandap sejenak dan berlari ke luar

“Nagaswa,Baraka” balasnya cepat saat sebuah tangan raksasa mengapitnya

**

“Kau tidak apa apa paduka?”

Karja sudah berada di punggung Nakama, naga merah milik Chandra.

“Dimana angkara?”

“Ayah masih di repotkan  oleh Malakunda,dan aku menggunakan kesempatan itu untuk menyelamatkanmu, paduka”

Tiba-tiba sebuah naga hijau raksasa melesat menyusul  dan berhanti tidak begitu jauh depan mereka.

“Ayah” bisik Chandra

“Pegangan paduka”  lanjut anak muda itu kemudian.

Chandra tidak berlebihan, karena untuk kecepatan, bahkan jenggot putih akan kesulitan untuk  mengalahkan Nakama. Belum sempat Karja bertanya atau menjawab, Nakama sudah melesat, bermaksud seakan menubruk jenggot putih!

Naga besar itu menghindar, dan Nakama terus melaju kearah gunung Nagamula.

Jenggot putih terus mengejar, bola-bola apI pun di arahkan ke mereka tapi sayap sayap merah Nakama berhasil melindungi makhluk makhluk diatasnya.

“Paduka, seberapa hebat kau melompat?” tanya Chandra tiba-tiba.

**

Nakama melesat rendah mendekati pepohonan  gunung Nagamula. Jenggot putih lumayan jauh di belakang, mencoba mengejar, namun tubuh tua dan raksasanya memang tidak bisa mengejar kecepatan tubuh kecil Nakama. Nakama terus melesat, sampai akhirnya  sebuah bola api raksasa menghantam tubuh naga merah tersebut, terjatuh di sebuah lapangan di Nagamula.

Jenggot putih mendarat, dan cuma melihat Chandra yang berada didekat Nakama.

“Dimana Karja?”

“Menurut ayah?”

**

Karja merasakan nyeri yang cukup  lumayan di tubuhnya,  pendaratannya tidak begitu mulus, apalagi hantaman ranting ranting pohon tadi menambah sakit  di badannya. Dia ingin beristirahat,tapi kemudian dia memutuskan  berjalan dan terus berjala.

“Ingat paduka, tidak jauh  ke arah utara ada sebuah goa, kau kan aman disana”

Dia masih ingat perkataan dari penyelamatnya tadi. Dan tidak lama, dia benar- benar menemukannya

Karja merebahkan tubuhnya. Dia sama sekali tidak menyangka akan terlibat semua.Tapi dia merasa beruntung ketika kemaren,wakilnya,Kalajaka, mengajukan diri untuk pergi ke kancara untuk menggantikannya.Karena kalau sesuatu lebih buruk terjadi hari ini, paling tidak, dia sedang berada dimana seharusnya dia berada

Karja pun tertidur.

**

Karja masih separo sadar,  tubuhnya terasa hangat, dan hidungnya mencium bau yang menggoda, walau tidak seperti aroma dapur istana. tapi yang satu ini berbeda.

Saat membuka mata, sudah ada api dan seorang wanita bertudung di hadapannya.

“Bangunlah paduka”

karja menggosok matanya, meyakinkan diri bahwa yang dilihatnya bukan halusinasi, terutama untuk daging bakar di hadapannya ini

“Makanlah paduka” tawar wanita  di hadapannya

“Kau siapa?”

“Makanlah dulu, jangan ragu, aku berada di pihakmu”

Karja masih ragu ragu, walau perutnya sudah memburu. Akhirnya, Perempuan itu mengambil sedikit daging dan memakannya

“Lihat, aku tidak apa apa”

Tak lama kemidian, karja kemudian ikut mengambil dan kemudian memakannya dengan lahap.

“Jadi siapa”

perempuan itu membuka tudungnya.Karja tiba tiba tertegun,dia rasa dia pernah melihat orang ini

“kenapa, kau pernah melihatku?”

“Aku pikir  demikian, tapi aku lupa dimana”

Perempuan tua itu tersenyum.

“Perkenalkan, aku Maharani, putri bathara”

**

Maharani memeluk ayahnya ketika tamu ayahnya datang.

“Siapa mereka ayah?”

Bathara  kemudian meninggalkan tamunya sebentar, masuk ke ruang kerjanya, dan tidak lama, mereka sampai di sebuah ruangan yang belum pernah di kunjungi Maharani

“Kamu mau kan menunggu ayah disini?  ayah tidak lama, kamu pasti suka, disini banyak kitab, termasuk kitab dari pendongeng kesukaanmu”

Bathara mengedipkan matanya.

Rani tersenyum,”Baiklah ayah”

Maharani berjalan,melihat sekeliling, tak lama kemudian dia sudah terlihat menaiki tumpukan kitab kitab lainnya, dan menjangkau sebuah kitab yang ternyata tidak seperti dugannya, dinding itu membuka dan kemudian..

Rani melihat  seekor  naga merah raksasa sedang di rantai ruangan di balik dinding!

Naga itu terlihat mengerikan  tapi entah kenapa, Maharani kemudian berani memeluk kepalanya yang juga di rantai. Maharani tidak takut, sebaliknya, dia merasa nyaman dengan makhluk dihadapannya ini. Apalagi mata sang naga mengerjap-ngerjap seakan-akan dia juga senang di perlakukan seperti ini oleh Maharani.

Bathara kembali

“Ah, sepetinya kau sudah bertemu dengan Bhinneka, Maharani”

**

Waktu pun berlalu, namun semenjak saat itu ayahnya tidak pernah menyinggung soal naga merah bernama bhinneka tersebut, Sekali waktu Rani pernah bertanya, ayahnya cuma berkata kalau nanti dia akan kembali mengajak Rani kesana.

Sampai suatu malam, Bathara kedatangan tamu tamu itu lagi, kali ini beserta Dharma, seseorang yang tidak pernah dia sangka-sangka.

“Siapa orang orang itu ayah?

“Mereka orang jahat, karena itu kamu harus bersembunyi”

“Lalu kenapa  paman Dharma bersamanya?”

“Nanti kau akan mengerti semuanya Maharani, sekarang ayah mau kamu duduk di ruangan yang waktu itu. Ayah tau, kamu msih sering bolak balik kesana kan untuk bertemu Bhinneka bukan?”

Maharani Cuma tersenyum, dia tidak menyangka ayahnya mengetahui rahasianya ini.

“Ayah akan menyusul”

**

Setelah beberapa saat di ruangan tersebut, membaca sambil sesekali beradu pandang dengan bhinneka, ayahnya belum juga datang.

Kemudian, Maharani merasakan perasaan tidak enak, seiring rintihan dari Bhinneka.

Dia berlari keluar, dan kembali ke tempat ayahnya tadi

“Bhinneka ” Ujar ayahnya terbatuk batuk

Terdengar suara ribut di luar.

“Kamu harus pergi dengan Bhinneka Rani”

“Ayah tidak ikut?”

“Ayah masih punya urusan”.

Bhatara kemudian memejamkan matanya, mulutnya komat kamit.

 “Pergilah, Bhinneka  akan melindungimu”

“Tapi ayah..”

“Tiba tiba terdengar suara besar memekakkan telinga, semacam suara raungan,. Dan kemudian naga merah raksasa keluar dari bawah istana

Tangannya mencengkram Rani dan meletakkan gadis tersebut di punggungnya yang berbulu nyaman,  kemudian, maklhkuk itu pun terbang ke angkasa

**

“Aku tidak menyangka bisa mendengar kisah ini:” ucap Karja sambil menghabiskan minuman yang diberikan Maharani kepadanya

“Jangan terlalu merasa istimewa dahulu paduka, sudah ada anak muda yang tau cerita ini lebih dahulu”

“Siapa?”

“Yang menyelamatkanmu, yang memintamu datang kesini”

“Chandra?”

“Aku bertemu dengannya ketika dia melaksanakan tapa wajanaga”

“Aku tidak menyangka, dia berani menentang ayahnya. selama ini aku melihatnya sebagai anak yang penurut”

“Dia lebih dari yang kau tahu” ucap Maharani kemudian.

“Maksudmu”

“Suatu saat kau akan tau” jawab wanita itu pendek.

Karja terdiam sejenak, kemudian mengangguk angguk paham. Dia tau tidak ada gunanya mendesak wanita ini menceritakan semuanya sekarang.

“Ada satu lagi yang menarik perhatianku”

karja berhenti sejenak, rasa sakit di tangannya tiba tiba membuncah.

“Bhinneka,aku tidak tau naga itu benar benar ada. aku pikir dia cuma sekedar mitos”

“Kau tau Bhinneka?”

“Sajaranaga” jawab Karja menyebutkan kitab favoritenya tersebut

“Demi Ramahendra, aku melihatnya langsung!” balas wanita di depannya.

“Jadi naga merah yang diceritakan selama ini sebagai monster itu…”

“Ya, tidak banyak yang tau, peristiwa nagamurka cuma menyebutnya sebagai naga merah, naga penghancur istana ! tapi dia adalah bhinneka! naga merah istimewa!

“Kalau mereka tau, kalau mereka tau itu bhinneka, mereka tidak mungkin percaya dengan cerita peristiwa nagamurka, tapi  sepertinya aku mengerti  kenpa ayahmu menyimpan bhinneka  di ruang bawah tanah istana, Justru Agar  tidak ada yang  tahu, karena kalau kitab sajaranaga benar adanya …”

Karja menghela nafas

“Jadi, bhinneka adalah naga dari tuan Bathara?” Karja membelokkan pembicaraan

“Begitulah, tapi semejak menyelamatkanku sebagai permintaan terakhirnya, Bhinneka sudah lepas jadi naga yang bebas”

“Jadi, dimana Bhinneka, apa dia  masih hidup”

“Tentu saja, dia ada disini, di  gunung Nagamula”

***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s