CARITANAGARA 6-Batharaokta

Masa Bathara. Istana

“Aku butuh satu orang lagi Antasara” ujar Bathara di benteng peninggalan Kancara yang sekarang sudah menjadi istanananya tersebut.

“Bukannya kau sudah punya enam orang pilihan?” Antasera menikmati kopi, minuman istimewa yang dibuat dari biji yang banyak terdapat di seantero nagara

“Tujuh, denganmu”

“Aku?”

“Ya, aku percaya dengan delapan orang bisa menjalankan nagara”

“Delapan? kau percaya cuma dengan delapan orang,kau bisa menjalankan nagara?”

“Sembilan, denganku,dan sembilan  adalah angka kesempuranaan, bukan cuma Nagara,aku percaya aku bisa mengguncang dunia”

“Baiklah, walaupun aku tidak mengerti, aku sudah terlanjur percaya kau dari dulu, dan tentang  itu, kebetulan aku sudah punya satu nama di kepalaku”

“Siapa? “

**

“Kenapa harus aku?”

pemuda itu terlihat mengatur nafasnya, setelah dari tadi berlatih sampai Antasera mendatanginya.

“Aku cuma lelaki kampung biasa” lanjut pemuda itu kemudian.

“Juga petarung paling luar biasa yang pernah kukenal”

“Kau juga petarung yang baik Antasara, jauh lebih hebat”

“ Kau yakin?’ Ucap Antasera kemudian

“Kalau begitu begini saja, kalau aku bisa mengalahkanmu, kau akan ikut aku Dharmaputra” lanjutnya kemudian.

Antasara melompat, melepaskan pukulannya tanpa menunggu jawaban dari sahabatanya

Dharma menghindar, melompat kesana kemari.

Dia menggelengkan kepalanya,berdecak kagum  sahabatnya ini sepertinya sunguh sungguh.

Dharma merengsek maju, menepis pukulan Antasera,  kemudian melompat melewati kepala lelaki tersebut.  Dia kemudian menggerakkan kakinya dan melancarkan sebuah tendangan menuju bumi, tepat kearah kepala sahabatnya!

Dharma ternyata tidak kalah serius!

Antasara menahan tendangan tersebut dengan dua telapak tangannya, memaksa si penyerang bersalto dua kali di udara, kemudian kembali menjejak tanah.

Keduanya  tersenyum.

Dharma  kemudian maju menyerang lagi dengan tendangan yang bertubi tubi. Sekarang giliran  Antasera yang harus menghindar. Walau gerakan Antasera terkesan pelan, namun tidak satupun tendangan Dharma yang berhasil mengenai tubuhnya..

Dharma menghela nafas, menghentikan gerakannya membiarkan sahabatnya itu untuk maju!

lima jari menyatu, mengacung sempurna

Pancakira, salah satu dari beberapa jurus terbaik milik sahabatnya

Ternyata Antasera makin serius mengajaknya bergabung ke istana!

“Kau mau membunuhku ?” tanya Dharma sambil masih terus menepis dan menghindari serangan yang diarahkan kepadanya.

“Paling tidak kalau kau mati, Bathara bisa melihat kalau aku sudah berusaha” ucap Antasera sambil tersenyum.

“Dia tidak pantas mendapatkan kesetiaan mu yang seperti ini Antasera” Balas Dharma

Antasera tidak menjawab, tangannnya yang serupa tombak terus menyerang dan memburu mangsanya

gerakan itu terhenti oleh sebuah gerakan istimewa dari Dharma

kakimada

Dharma juga sudah mengeluarkan salah satu jurus terkuatnya!

Lama-kelamaan gerakan mereka berdua tidak sepeti dua orang yang saling bertarung. Tapi lebih seperti tarian indah yang sudah dilatih sekian lama.

 Hal ini tidak sepenuhnya salah, karena Dharma dan Antasera memang tumbuh bersama.

**

Dharma dan Antasera adalah dua orang sahabat yang tumbuh di kawasan sekitar Nagamula, sebelum daerah ini resmi bernama Nagara, sebelum lepas dari Kancara.

Keduanya memang tumbuh besama, Dharma adalah seorang anak petani biasa, yang hidup sederhana,di bawah kaki gunung nagamula, namun taksirnya bukan takdir biasa, di umur ke tujuh belas, dia sudah mendapatkan naganya, jauh lebih dahulu dibanding kawan kawannya yang lain. bahkan Antasera sekalipun.

Tapi Lelaki ini juga punya cerita sendiri. Antasera lebih beruntung karena ayahnya yang seorang saudagar mampu  mampu menyekolahkannya di akademi di Kancara.  Di negeri inilah, Antasera berkenalan dengan Bathara yang kemudian mengajaknya untuk menyusun rencana melepaskan daerah Nagamula  berdiri sendiri. Dalam sebuah syarat, yaitu sebuah pertarungan naga, ANtasera lah yang berhasil mengalahkan ksatria pilihan Ratu Kancara, namun Batharalah yang kemudian memangkan hati ratu, demi melihat kesungguhan dari Batahara bahwa nagara sudah seharusnya berdiri sendiri, menjadi milik suku di sekitar nagamula beserta mahluk lainnya, tentunya dengan menjaga hubungan baik dengan kerajaan Kancara.

**

Akhirnya, setelah Dharma bergabung, maka lengkaplah apa yang dinginkan Batara, delapan  orang penunggang naga terbaik, dari 8 suku utama di sekitar Nagamula, yang sekarang resmi mejadi Nagara.

Bathara ingin menunjukkan kalau nagara, semenjak awal tidak dibangun oleh satu suku saja, bathara ingin nantinya, penerusnya tau, kalau nagara adalah milik semua suku yang berada di sekitar Nagamula.

Antasara yang merupakan suku marawa, Dharma yang merupakan perwakilan suku pandaga, Mahendersh perwakilan suku pamana, dan 5 orang lagi yang merupakan masing-masing perwakilan suku Nalaya, Dakaya, Javasanda, Devata, Kataka.

“8 orang pendukung bathara, Batharaokta “ ucap Antasera kemudian.

**

“Paduka sudah memilih para Batharaokta? perlu bantuan ”

Kalajaka masuk ke ruangan, ini pertama kali paduka memilih seorang untuk menjadi wakilnya, karena menurut Karja, dia akan lebih sering di luar untuk turun langsung melihat warga,jadi dia membutuhkan seseorang yang bisa terus berada di istana.  Dan untuk itu, muncul nama  Kalajaka, seseorang saudagar  yang sebelumnya juga memang salah satu orang penting yang mengurus urusan dalam istana. Karja bahkan suka bercanda, mengatakan bahwa mungkin tak ada yang mengenal seluk beluk istana sebaik Kalajaka.

“Sudah kaka Kalajaka, dan tolong, aku belum terbiasa dengan penggilan tersebut”

Karja kemudian terlihat berkemas.

“Seperti biasa, aku perlu bantuan kaka, untuk mengurus segala hal selama aku pergi”

“Mau kemana?”

“Aku mau menyampaikan langsung kabar baik ini kepada para calon batharaokta, aku cuma ingin memastikan untuk terakhir kalinya,  kalau aku tidak salah memilih mereka”

**

“Paduka, sungguh suatu kehormatan bagi saya melihat paduka datang kesini, apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?”

Titaraja membelah kayu dihadapannya, kemudian membiarkan saja kapaknya tertancap disana

“Aku memang sedang butuh bantuan paman“ Karja kemudian mengumpulkan kayu tersebut dan melemparnya ke tumpukan

“Aku ingin minta bantuan paman untuk menjadi salah satu dari Batharaokta”

Titaraja tertawa, duduk di salah satu batu, kemudian menyalakan gulungan tembakaunya

“Apa saya tidak salah dengar paduka? “

“Tidak paman, Aku membutuhkan orang yang sudah berpengalaman untuk memimpin batahraokta yang lain”

“Tapi paduka tau sendiri, kalau sebelumnya aku bukanlah seorang Batharaokta”

“Tidak apa apa paman,  pengalaman paman sebagai kepala dubala menurut aku sudah lebih dari cukup”

Titaraja diam, dia mengisap lintingan tembakaunya panjang, kemudian menatap Karja serius

“Aku belum bisa menjawab itu sekarang paduka, mohon maaf”

“Tidak apa paman, silahkan dipikirkan, saya juga mau pamit menemui yang lain”

“Terimakasih banyak paduka, saya akan memberi kabar secepatnya”

Karja mengangguk, kemudian segera berjalan kearah prajurit kerajaan yang mengawasinya. menaiki kudanya, kemudian berlalu dari sana.

Tak lama, sepeninggal karja, seekor kuda lain dengan beberapa prajurit, datang mendekat ke kediaman Titaraja.

“Guru Angkara”

Sang pemilik kuda putih pun turun dari kudanya.

**

Kala Kudeta.Istana Nagara

“Mereka seperti tidak ada habisnya” ucap  Hamish dari suku pamana

“Dosakah kita kalau membunuh para mulia” tanya Razak, batharaokta dari  Dakaya

“Tentu tidak, apalagi mereka sudah bermaksud membunuh kita lebih dahulu!”

Hamish, bathara okta yang lain membanting langsung dua orang mulia, tapi yang lain segera maju menyerang mereka

jangan pernah remehkan, orang goblok atau orang lemah dalam jumlah besar

Razak teringat kata kata gurunya.

“Senang bisa bertarung bersamamu kawan” ucap Razak, sambil mencabut pedang lengkung raksasa dari punggungnya

**

Di udara para pasukan naga pimpinan Malikunda terus menyerang namun beberapa mulai berjatuhan. Tidak heran, pengalaman mereka memang belum seperti Malikunda yang sekarang berdiri dengan anggunnya di atas kepala Salarabunda, naganya .

Bahkan dia tidak memakai pelindung seperti pasukan yang lain, cuma sebuah ikat kepala dari ibunya, yang dia anggap sebagai jimat pelindung sejak dahulu kala.

**

Jaran melompat dengan panahnya, dia langsung memimpin sisa pasukan panah yang belum bergerak membantu Titaraja dan Malikunda.

Dia bukan pemanah yang baik, tidak seperti kebanyakan pria si sukunya. Tapi dia tidak akan menyia nyiakan kepercayaaan yang sudah diberikan Karja kepadanya

satu anak panah melesat menjatuhkan seorang mulia yang bergerak kearah pasukannya

tapi terlambat, sebelum mati, mulia tersebut memakan sesuatu, kemudian meledakkan dirinya.

**

Sementara itu di jalanan, para Dubala terlihat menenangkan penduduk. Mereka diminta tenang dan  menjauhi kawasan istana.

**

Di ruangan lain di istana, para pasukan angkara beserta beberapa mulia yang entahkenapa bergabung bersama mereka terlihat berjaga-jaga.Saat tiba tiba seorang lelaki kurus berpakaian panjang hitam datang dan membuat mereka melayang, kemudian  terhempas tanpa menyentuh mereka!

**

Sementara itu, di tengah kekacauan di lorong  yang lain,  seorang lelaki berukuran raksasa sedang melindungi seorang rekannya, lelaki kurus yang lebih muda.

‘Baraka, cepat pergi dari sini dan cari paduka”

 “Tapi, balabala”

“Tidak apa apa, aku juga akan mencari yang lain, cepat pergi”

pria yang di panggil Baraka masih disana

“Pergilah, kau tau pasti kemana akan membawa beliau, untuk saat ini, mungkin ruangan itu ruangan paling aman di istana”

Barakapun segera beranjak dari sana, meninggalkan Balabala yang masih sibuk dengan pasukan Angkara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s