CARITA NAGARA 4 – Karja Kala Kudeta

 

“NAGA!”

“NAGA!”

Teman-teman kecilnya berteriak kelangit , Karja ikut mendongakkan kepalanya sejenak tapi kemudian kembali sibuk dengan buku ditangannya.

Hari itu para pasukan naga kerajaan baru pulang dari sebuah  misi, mereka terlihat gagah dengan baju besi pelindung mereka.

Karja  yakin kawan kawannya menginginkan untuk menjadi  satu dari mereka, seperti para anak lelaki pada umumnya

tapi tidak dirinya

Karja  lebih suka membaca buku dan menyendiri, melihat teman temannya dibawah sana kembali bermain, kali ini bukan lagi bermain ksatria kuda, batang pisang mereka sudah berubah menjadi seekor naga.

**

Awalnya tidak ada yang menyangka, kalau seorang Karjanyata yang kecil dan kurus akan menjadi paduka Nagara, karena dia cuma seorang lelaki biasa,  tidak seperti bhatara yang tampan dan rupawan yang mempesona setiap wanita, atau seperti Dharma seorang panglima dengan senyum yang menggetarkan setiap lawan dan menenangkan kawan. Tidak, karja tidak mempunyai keduanya

Dia cuma orang biasa.

tapi siapa sangka , orang biasa itu yang sekarang berdiri memandang dari kaca istana.

“Paduka,semua sudah menunggu”   Kalajaka ,wakilnya muncul.

“Sudah aku bilang, kau tidak perlu memanggil aku paduka, kaka Kalajaka”

“kau adalah seniorku , dan sekarang sudah menjadi wakil di pemerintahanku” lanjut Karja

“Tetap saja, kau adalah paduka”  Kalajaka kemudian membungkuk, menunjukkan sikap hormat

“Baraka sudah datang?”

“Sudah  paduka” jawab  Kalajaka

“Terimakasih, aku akan segera menyusul”  ucap Karja kemudian.

**

Tidak, karja tidak pernah bisa menyusul teman temannya yang sudah lebih dahulu berlari di depannya.

Karja  memang tidak unggul secara fisik karena itu dia tidak pernah bermimpi menjadi seorang penunggang naga

Dia lebih memilih membaca, apa saja, salah satu kitab kesukaannya adalah kitab Sajaranaga  tulisan Ramahendra  yang mmeuat banyak kisah tentang naga, baik yang nayta maupun kisah kisah ramalan dan legenda.hal ini lah yang membuat Karja punya pengetahuan luas tentang naga

ketika dewasa datang, Di saat beberapa kawannya sudah menjadi penunggang, karja lebih fokus untuk berdagang

Sampai bertahun-tahun kemudian, dia menjadi salah satu pedagang tersohor di Solkota,dan kemudian menjadi pemimpin kota kecil tersebut. Di tangannya Solkota akhirnya tumbuh menjadi kota yang luar biasa.  Namanya melambung sampai tingkat nagara,karena itu ketika namanya muncul dari sumur dua purnama, tidak ada yang menggap itu sebuah hal luar biasa. Kebanyakan sudah menduganya.

Jelas Karja adalah pilihan tepat untuk memimpin nagara yang sedang dalam masa pertumbuhan ekonomi . Selain itu, seorang paduka yang tumbuh dari rakyat kecil, besar bersama rakyet, dan mengerti apa keinginan rakyat jelas adalah pilihan terbaik.

Sama cocoknya  juga dengan bathara sang diplomator, ketika mendirikan Nagara, atau dharma sang panglima ketika masih hidup di zaman perang naga dan raksasa

**

Rombongan naga-naga putih yang dipimpin naga hijau pulam berjenggot putih terlihat bergerak menuju istana.

“Jangan menyerang duluan, kita lihat apa mau mereka, perkuat pertahanan” ucap Karja kepada Titaraja.

Sang paduka, masih berdiri melihat situasi dari balkon istananya

Naga-naga itu makin mendekat, awalnya Karja  tidak percaya, tapi jelas itu adalah Agama, naga yang selama ini menjadi pelindung  nagara dan  simbol perdamaian.

“itu Angkara paduka” Titaraja, pemimpin  dari Batharaokta-nya mengingatkan

‘Tenang tita, aku tau itu dia, aku akan coba berbicara”

“Makhluk seperti itu  itu tidak bisa dengan bicara paduka, dia itu…. gila” Tirtaraja memberi penekanan pada kata terakhirnya

“Lindungi aku dari belakang, tetap berkoordinasi dengan yang lain”

“Tapi paduka, itu berbahaya”

Pintu terbuka, Karja sudah berjalan melewatinya menuju sebuah  lapangan luas , tempat biasa para naga mendarat setelah bertugas.

“Ada apa paman Angkara?”

Di kepala naganya, Angkara berdiri dengan pongah, Agama mendengus dengus marah.

“Kau tidak cocok memimpin negeri para naga ini Karja”

“Kau terlalu lemah!” sambunnya ketika dia mendpati lawan bicaranya cuma diam

“Negeri ini punya kesempatan untuk jadi lebih besar” Angkara masih meneruskan bicaranya

“Setuju, tapi tidak dengan perang!” ucap Karja, membalas untuk pertama kali

“Kau lemah karja!” kutuk  Angkara sambil mencabut Nagaraka nya

“Dengan pendidikan, politik, dan ekonomi kita akan jadi lebih besar Angkara”

Angkara masih mendengus dengus seperti naganya

“Aku tidak melihat  ada alasan kita untuk berperang angkara, Nagara sedang dalam keadaan damai, tidak ada bahaya”

“Ah sudahlah ! Terbang Agama!” perintah sang panglima kepada naganya

‘Kau terlalu nekad  keluar dari sarangmu Karja” ucapnya sesaat sebelum naganya mengudara

Agama kemudian membuka mulutnya dan mengeluarkan api, Karja masih berdiri disana

dan..

Sebuah perisai raksasa melindunginya.

“Titaraja” gumam Angkara

“Murid durhaka, berani beraninya kau!”

“Kau sudah bukan guruku lagi Angkara” Tirta kemudian melompat ke atas Agama, mencabut tombak Jagabela nya kemudian menyerang gurunya tersebut

pertarungan sengit terjadi, tapi pengalaman tidak bisa berbohong, di beberapa jurus,  Nagaraka unggul dan mengalahkan tombak Jagabela.

“Mati kau Titaraja !” Angkara kemudian menjatuhkannya dari udara, saat yang lain bersorak sorak dari naga putih mereka.

para pasukan Titaraja kemudian meneyrang dengan panah mereka,  namun sia sia, karena  pasukan naga putih lain menyambar dan memporak porandakan mereka, ajaibnya Karja masih disana menyaksikan semuanya.

“Berlindunglah paduka” ucap salah seorang pasukan

“Aku percaya kalian” ucapnya.

Sepercaya apapun, Sekuat apapun Karja, namun ada satu bagian dirinya yang merasa kecewa, karena tidak bisa melakukan apa apa disaat seperti ini ini, namun yang penting dia harus disini, kalaupun mati dia akan mati bersama orang orangnya

Angkara menyerang lagi, Dia sudah menghajar beberapa pasukan naga terbang kerajaan. Sekarang agama dan angkara melesat kembali  menuju karja!

Karja memejamkan matanya

dan

seekor naga sudah berdiri di hadapannya

Naga merah dengan seorang anak muda berdiri gagah di atasnya!

**

Angkara terlihat kaget, tapi dia tidak ingin terlihat gentar di hadapan anak buahnya.

“Apa yang kau lakukan disini Chandra?”

“Seperti yang ayah lihat, menghentikan rencana ayah”

“Rencana apa?”

“Sudahlah ayah, aku sudah tau rencana kudeta ayah  dan aku tidak akan membiarkannya!”

Angakra tertawa

“Lebih baik kau menghindar Chandra,ini bukan urusanmu! kau sama sekali tidak mengerti!”

“Sudahlah ayah, aku sudah mendengar …”

Sebuah ajian membuat Chandra terhempas, jatuh dari naganya

Karja mendekatinya.

“Kau tidak apa-apa anak muda?”

“Tidak apa-apa paduka” jawab Chandra

Angkara turun dari naganya, dibelakangnya terlihat pemandangan naga putih bersusun, bersiap menunggu komando, sementara di belakang Karja juga sudah bersiap sisa sisa pasukan istana, sayangnya  tidak ada yang melihat para batahraokta nya Karja yang lain kecuali Titaraja yang sudah terkapar di bawah sana.

Chandra sudah berdiri lagi

“Paduka, aku tau ini berat bagimu, tapi masuklah kedalam istana, cari bantuan” tutur Chandra

“Aku tidak mungkin bisa melawan orang gila ini sendirian” lanjut anak muda itu kemudian.

**

Karja kembali ke dalam istana di damping beberapa pasukan kerajaan.

kehancuran disana sini, ternyata pasukan lain milik angkara sudah menyerbu kedalam, pantas dia tidak menemukan kabar dari Batharaokta yang lain.

“Paduka” seorang anak muda muncul, dia terlihat tidak apa-apa

“Kau tidak bersama yang lain? tanya Karja

“Tidak  paduka, kami terpencar aat pasukan angkara menyerbu masuk.”

“Komandan Tita meminta kami melindungi istana, dan dia sendiri yang akan melindungi paduka” lanjutnya kemudian.

Anak muda ini bernama Baraka.Di saat abru terpilihm Karja menunjuk langsung anak muda ini sebagai salah satu batharaokta

Masa pemerintahan Karja adalah dimana pertama kali dimana Batharaokta  tidak berasal dari para penunggang saja

Ada Baraka yang merupakan lulusan terbaik akademi  pancarita. Titaraja yang mana merupakan seorang dubala. Satu satunya penunggang adalah Malikundayang sekarang mungkin sedang berakrobat diluar sana dengan naga salarabunda nya. Pertama kalinya juga ada seorang wanita yang menjadi Batharaokta, Tantasusi,  seorang petarung hebat yang berasal dari bangsa Nalaya di barat Nagara, seorang diri dia pernah menenggelamkan beberapa kapal bajala, para penjahat di lautan nagara. hal ini lah yang membuat para penunggang cukup berang, karena jumlah mereka di  pemerintahan, menjadi berkurang,

“Ikuti aku, paduka”ajak Baraka kemudian,

Mereka pun masuk lorong, melewati koridor dan  bergerakmenuju bagian belakang istana.Berbelok belok. Sepertinya Baraka memang tau pasti dengan jalur rahasia ini, terbukti mereka dnegan lancar menghindari pantauan pasukan angkara yang masih berada di israna

Di sebuah ujung koridor yang seperti jalan buntu, Baraka kemudian menggeser sebuah lukisan Karja yang sedang membaca sebuah buku di ruang bacanya, lantai mereka pun turun, mengantarkan mereka pada tempat sepeti gudang tua berisi kitab dan manuskrip manuskrip lama.

“ Bahkan aku tidak tau ada ruangan ini” ucap Karja terkagum-kagum

Walaupun berisi artifak artifak lama, ruangan ini tidak berdebu, seperti ada yang merawatnya.

“Ya, aku tidak sengaja menemukannya, dan aku membersihkannya, keadaan awalnya sangat kacau”

ucap Baraka seakan bisa membaca pikiran padukanya.

“Kami  sudah berencana berkumpul disini..”

Kalimat Baraka belum selesai saat tiba- tiba sebuah serangan menghancurkan salah satu dinding ruangan tersebut.

“Tidak mungkin! tidak ada yang tau ruangan ini selain batharaokta” ucap Baraka terlihat kecewa

dan di lubang dinding yang berada tidak jauh dari mereka, muncul sebuah kepala naga.

**

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s