CARITA NAGARA 3 -Panjara

Awan gelap, petir menyambar, seakan kisah ini sudah ditakdirkan

Dua orang dubala turun dari kapal, mengapit Chandra.

Lelaki yang diapit melemparkan pandangannya, di depannya sudah terpampang hutan raksasa, ada banyak tumbuh tumbuhan  besar yang kemudian menjadi gerbang, dan menemaninya di kiri dan kanan perjalanan.  Chandra meneruskan langkah hidupnya . tertatih, Lelaki ini  memutuskan untuk tidak melawan, paling tidak untuk sekarang, karena  dia tau tidak ada gunanya, selain rombongan yang membawanya kesini, rombongan dubala yang menunggunya ternyata  jauh lebih banyak.

“Selamat datang di panjara,pengkhianat Nagara dan Anak muda yang berani melukai Agama ” ucap seorang yang satu matanya tertutup kain sambil menatap mata Chandra

Chandra masih mencoba bersabar, namun tetap menatap satu mata lawan bicaranya yang terbuka

sampai  sebuah pukulan menghantam perut Chandra, membuatnya  terpental.

“Anak muda, kau mungkin jagoan di luar sana, tapi aku sudah mnghadapi ratusan jagoan sepertimu” ucap si lelaki berpenutup mata kemudian

Chandra tidak menyangka bisa terpancing emosinya . melancarkan tndangan ke arah si mata satu tapi sayangnya tendangannya cuma bersarang pada sebuah benda sekeras baja yang kemudian  menghantam wajahnya

**

Tidak sembarang orang yang  masuk ke pulau panjara, cuma mereka yang dianggap kriminal tingkat tinggi atau mereka yang di tuduh dan dilabeli gelar gelar buruk seperti pengkhianat Negara dan semacamnya, atau juga seperti yang Chandra dengar : para penunggang naga merah, itupun kalau mereka masih hidup.

Para tahanan menghentikan kegiatan mereka,  melihat keributan yang disebabkan  seorang penghuni baru, jelas bagi mereka, ini sebuah hiburan.

Lagi-lagi Chandra terpental kebelakang, tangannya yang terikat rantai tidak bisa melakukan apa-apa, dia cuma melompat kesana kemari menghindari serangan dari gada raksasa dari pria yang menyambutnya tadi.

Beberapa tahanan  masih disana, diantaranya seorang tua yang berada di depan dan terlihat mencolok diantara para tahanan lainnya.

entah kenapa, tiba-tiba Chandra merasakan ikatan tangannya terlepas.

Para dubala yang mengawasinya  terkejut, mereka bermaksud menangkap Chandra, tapi  sia-sia.

Chandra lebih cpat, dia sudah mlompat ke angkasa, dan dia sama skali tidak sadar bagaimana  sebuah pukulan dari udara bersarang, kemudian mematahkan gada itu menjadi dua, dan kemudian ketika lengah, tangan yang bercahaya itu segera bersarang ke dada si dubala.

Chandra cuma mengikuti naluri, sepertinya dia lepas kendali.

Tiba-tiba tubuhnya melemah, tersungkur.

Para dubala yang tadi ragu ragu mendekat, kini segera mengikat kembali tangannya.Sementara para tahanan yang sedang bekerja menatapnya, kagum bercampur takut, karena belum pernah ada yang mematahkan gadapalaka selama ini

Belum pernah ada

**

Chandra di bawa kedalam bangunan utama, dari luar berbentuk gunung kecil, sementara bagian dalam  di penuhi banyak rongga yang merupakan sel  untuk para tahanan. Penerangan utama dari  dari obor obor yang ditempel di dinding.Sementara  lentera raksasa utama yang menggantung di langit langit tertinggi.

 Chandra dimasukkan ke dalam sebuah ruangan. Setelah kepergian dubala yang mengantarnya, Chandra melihat tangannya dia masih belum mengerti tentang apa yang terjadi tadi, tapi dia bisa merasakan dan ini adalah jenis pukulan yang sama yang mengalahkan tameng bumi milik kekasihnya saat mereka pertama kali berjumpa.

Chandra kemudian melemparkan pandangannya keluar, para penjaga terlihat mondar mandir, tapi bukan itu yang menarik perhatian matanya, melainkan penghuni sel seberang

Seorang tua dengan rambut putih, dia ingat, orang tua ini juga ada disana waktu penyambutan tadi

Si orang tua itu menatapnya tajam, tapi Chandra mengalihkan lagi pandangannya

Belum satu hari, dia sudah mendapatkan plajaran pertamanya

Disini, tatap mata hanya akan menambah musuhnya.

**

Entah sudah berapa hari berlalu, Chandra tidak bisa mengingatnya, rutinitasnya sama: melakukan tapa, berolahraga, makan makanan yang diberikan penjaga, menghindari tatapan mata aneh penghuni sel di seberangnya, kemudian menunggu giliran keluar untuk bekerja.

Seperti hari  itu, Chandra melanjutkan pekerjaannya,tangannya memilih Kristal Kristal kecil dari serpihan batu batu yang sudah dihancurkan, Para tahanan memang dipekerjakan  untuk menambang krystal yang banyak trdapat di pulau panjara, yang nantinya akan dikirim ke kota untuk berbagai keperluan.

Pemuda itu mengusap peluhnya dengan tangan, tepat saat orang tua di sel depannya mendekat . Lelaki tua itu terlihat santai dengan sebuah pipa berasap di tangan.

“Mau?”  tawar si orang tua

Chandra menggeleng, terlintas sejenak dipikirannya darimana lelaki ini mendapatkan pipa tersebut dan bagaimana para penjaga membiarkan si lelaki ini berjalan sesukanya, bahkan Chandra tidak melihat ada rantai di kaki si kakek ini, seperti dia dan tahanan yang lain.

“Gerakanmu waktu itu luar biasa”

Dia tau maksud si orang tua, namun Chandra memilih tidak menjawab,dia cuma melanjutkan pekrjaannya, kalau memang ditakdirkan disini dia tidak mau menambah masalah lagi.

“Bukan cuma kamu, si gila itu menyerang setiap orang yang dipercaya sebagai penunggang naga merah, tapi dia tidak membuat mereka   mati, dia cuma ingin kalian menderita”, ucap si orang tua itu kemudian

Chandra melanjutkan pekerjaannya mengumpulkan Kristal, saat dua orang dubala datang mendekat kemudian menutup kepalanya

**

Tiga  pasukan mencoba  memanah seekor naga yang sedang bergerak turun menyatu dengan malam.

kemudian penunggangnya turun saat seorang pasukan kerajaan langsung maju dan menyerang beliau

si penunggang melompat dan kemudian menghantam si pasukan, namun tidak membunuhnya, begitu juga dengan dua orang lain yang mengalami nasib sama. Melihat nasib dua temanya, sekelompok pasukan menyerangnya bersamaan,  namun kekutannya memang belum tandingan mereka.

Dharma muncul,  turun dari naga hijau pualamnya.

“PENGKHIANAT!!!” ujar lelaki tadi kemudian maju menyerang Dharma

“Percuma, aku sudah tau setiap gerakanmu”

Tidak heran, selama ini, keduanya memang selalu berlatih bersama.Cuma, malam ini  harus berbeda jalan.  Keduanya kemudian tetap beradu pukulan, tendangan dan serangan pedang yang semuanya berujung sama : Imbang.

“Bergabunglah bersamaku, aku akan membiarkanmu hidup” tawar Dharma kemudian sambil bergerak ke naganya

“Tidak akan pernah” ucap si lelaki yang kemudian juga mendekati naganya

“Baiklah, sepertinya waktunya tiba sahabat” ucap Dharma

“Sepertinya demikian” Balas si lelaki satunya

Naga hitam itu mengengkasa , diikuti naga hijau berjenggot putih di belakangnya

Saling mencakar saling menyerang, tidak ada yang mau mengalah.

Harusnya, malam itu menjadi keuntungan tersendiri untuk si naga hitam,

sayangnya  Dharma sepertinya sudah menyiapkan semuanya, diatas Agama, dia terlihat memejamkan matanya.

**

Chandra membuka matanya, di depannya sudah ada tiga orang, salahs atuya adalah petugas bermata satu yang tadi dikalahkannya.

Si petugas bermata satu kemudian menyuruh dua orang lainnya untuk membawa Chandra melewati ruangan ruangan goa yang Chandra tidak tau dimana. Entah berapa lama, Chandra mendapati sebuah ruangan goa yang lebih besar, ruangan yang menurut tebakan Chandra tidak lagi terpisah dengan ruangan utama dimana mereka selama ini berada.

Si petugas bermata satu kemudian membuka kunci pintu baja berukuran raksasa tersebut

kemudian memberi kode kepada dua oranglainnya untuk mendorong Chandra masuk.

“ Selamat menikmati, anak muda” ucap si lelaki bermata satu, dan itu menjadi kalimat terakhir yang didengar Chandra sebelum  pintu dibelakangnya kembali tertutup.

Gelap. memang ada beberapa obor , tapi tetap saja ada dinding dan lorong yang tidak tersentuh cahaya yang memberi kesan menakutkan, bahkan untuk lelaki seperti Chandra.

Tiba0tiba terdengar suara langkah

Bukan, jelas itu bukan manusia, langkahnya besar , pelan dan berukuran raksasa

Chandra  kemudian bersiaga, dia melihat kiri kanan,, mencoba mencari sesuatu yang bisa dijadikannya senjata, sayangnya dia tidak menemukan apa apa.

Dia kemudian memejamkan matanya, melakukan tapa

**

Angkara masih duduk brsama para kroni-sebutan untuk orang orang kepercayaan Angkara.

“Jadi apa langkah kita selanjutnya panglima?” tanya seorang kroninya

“ Kita bersabar, gerakan kita harus terstruktur dan sistematis, jangan gegabah diwaktu yang sedikit ini” jawab Angkara

“Apa yang kita tunggu, bukankah Karja sudah tidak diistana?” ucap yang lainnya

“benar, tapi belum ada yang memastikan dia sudah mati, aku tidak mau dia tiba tiba muncul dan mengacaukan semuanya”

“Jadi, ini artinya kita akan menunggu dua purnama lagi?’ ucap salah seorang anak muda

“Mungkin, bisa jadi demikian,” Jawab Angkara sambil menatap tajam pada si pemuda yang terlihat tidak puas

“Tapi bisa jadi lebih cepat, kalau kita bisa menemukan Karja, hidup atau mati” lanjut Angkara kemudian

“Masalahnya, dimana dia sekarang?”

“Bersabarlah, kita tunggu kabar dari orang kita di istana” jawab sang panglima.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s