CARITA NAGARA 2- Balada Cinta Gunung Nagamula

Tak ada sata negeri pun di dunia yang tidak mengenal cinta, bahkan saat  perang naga, racunnya terkadang lebih mengerikan dari taring dan cakar raksasa  atau ratusan anak panah di depan mata.

-Ramahendra-

Gunung Nagamula, memang merupakan rumah dari banyak makhluk selain naga, tapi tidak banyak yang tahu, kalau disana juga tempat bermain dari para Bunia, mahluk suci yang berwujud wanita dan lelaki cantik, menurut mereka yang pernah berjumpa, wajah dan tubuh mereka tertutup pakaian berkerudung panjang, dua mata mereka berbeda warna, kulit mereka putih halus mempesona. Sayangnya para bunia jarang menunjukkan diri mereka, kecuali kepada para Mulia,Untuk berbagi ilmu  soal hal- hal yang berbau spiritual.

Mulia, adalah para manusia yang mengabdikan diri mendekatkan pada Dewa, mahluk yang menciptakan bumi dan naga sebagai para penjaganya, para mulia ini adalah para lelaki dan wanita yang memilih jalan surga, mereka biasanya tinggal sendirian di tempat tempat jauh dari keramaian,Sesekali mereka turun ke  kota, mengingatkan manusia, atau berkumpul sesama mereka di Rumibada- untuk mengingatkan sesama mereka.

Kalau bunia adalah mahluk yang diam diam membesarkan dan merawat para naga sebelum mereka berjumpa dengan para penunggang mereka. Mulia adalah yang bertanggung jawab untuk melindungi keberadaan bunia dari kejahatan manusia, dan juga mahluk-mahluk lainnya.

**

Chandra melompat dari dahan ke dahan , kemudian bergelantungan  keakar raksasa,  kemudian terjun bebas ke sungai yang memang membelah Nagamula menjadi dua.

Terdengar burung burung berkicau. Salah satunya adalah madia, burung penyampai kabar yang dengan suaranya yang keras dan serak, biasanya ketika sudah dipelihara dan dimiliki, media ini akan berubah warna menjadi biru, dan mereka akan mendapat sebuah kemampuan baru :  berkata apa yang dibisiikan oleh pemiliknya

tapi kemudian mendadak  sunyi

 Bunia!

Chandra memang belum pernah melihatnya langsung, namun karena sudah terbiasa berlatih di gunung ini, dia seperti bisa merasakan keberadaan mereka. Di tambah lagi, ketika dia melaksanakan tapa wajanaga  dia melihat rombongan yang kemungkinan para  bunia yang hadir didekatnya, ditangan masing masing mereka terdapat obor, dengan api putih.

walau, dia tidak begitu yakin dengan penglihatannnya malam itu.

*

Desahan kenikmatan dari seorang wanita bunia ini cukup keras, namun tidak semua mahluk bisa mendengarnya, dibelakangnya, seorang tua dengan rambut panjang memutih khas mulia, dengan kening merah yang bergambar  matahari, sedang mencumbunya, keduanya terlihat benar-benar sedang dimabuk cinta.

jelas ini adalah sebuah perbuatan terlarang !

Para mulia, seharusnya bertugas melindungi bunia, bukan terjebak dalam perasaan cinta bergelimang dosa seperti ini.

Bukankah tidak sekali dua kali para mulia turun ke kota, dan mengingatkan para warga untuk tidak menggangu mulia,menggoda mereka, juga tidak melakukan tindakan dosa lainnya?

 Apalagi cap matahari di kepala mulia tersebut, menandakan dia adalah salah satu pimpinan tinggi mulia

 Kemudian terdengar bunyi gemerisik!

ternyata ada mahluk lain selain mereka!

keduanya berhenti, yang lelaki kemudian berlari  mengejar pengintipnya. Jelas dia tidak ingin statusnya sebagai mulia, rusak gara gara peristiwa ini! sayangnya mulia satu ini kalah cepat, si pemuda sepertinya sudah hafal gunung nagamula seperti telapak tangannya sendiri. Si mulia tua tidak melihat siapa-siapa , kecuali seekor burung madia berkulit biru yang menyeruak ke angkasa

dia melepas sebuah senapan yang selalu dibawa kemana-mana, tapi gagal, tembakan itu tidak mengenai si madia biru.

Sudah naluri, insting, kita lebih peka ketika kita sedang  dalam bahaya

**

Sang Mulia tua terlihat bersila, kemudian mulai melakukan tapa.Tapi si wanita bunia masih memeluknya dari belakang, terlihat tenang.

“Sudahlah,tidak apa apa, kita jujur saja”

Si mulia masih memejamkan matanya, mencoba berkonsentrasi

“Apa yang kau takutkan, ini bukan pertama kali  bunia menikah dengan seorang manusia?

Mulia tua membuka matanya

“Tapi aku tidak mungkin menikahimu, aku sudah punya istri, lagian aku bukan manusia biasa, aku mulia!”

“Lalu, kamu menganggap aku apa?”

“Diam  jangan ganggu aku!” si mulia mendorong wanita bunia tersebut

sang mulia mulai kusuk berdoa. tapi sepertinya dewa tidak mendengarnya

wanita bunia  tersebut bersedih, terlihat dari kedua matanya yang berubah rubah warna.

**

Mata Chandra berbinar melihat seseorang datang dan bergabung di sungai bersamanya.

“Kamu kemana saja?”

Chandra memeluk pria yang baru datang. pria tersebut balas memeluk. tubuh keduanya basah.

“kau pasti tidak percaya apa yang aku lihat waktu menuju kesini” ucap si lelaki yang baru datang ke telinga Chandra.

**

Di alun-alun  Drakota, ibukota Nagara, seekor burung madia berbulu biru sedang menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, burung ini sedang bercerita kalau seorang mulia sedang tertangkap bercinta dengan  seorang bunia!

Namun sebagian warga  terlihat tetap menjalankan pekerjaannya masing-masing, karena tidak satu kali mereka melihat burung madia ini membual, dengan kisah kisah bohong belaka yang dibisikkan para pemiliknya yang iseng, atau memang berencana membuat kekacauan!

Beberapa pedagang buah bahkan  melemparnya dengan tomat dan buah buahan lain karena selain tidak banyak kabar madia yang bisa dipercaya, mana mungkin ada mulia yang berbuat begitu hina dengan bunia? Belum ada sejarahnya, atau paling tidak, belum ada yang berhasil membuktikanya, atau, ada yang berhasil dibuktikan, tapi banyak yang mungkin melupakannya saja?

Tiba-tiba seseorang datang dan melindungi si burung madya, seorang pemuda dengan rambut panjang dan tubuh penuh rajah -seorang  pamana,

Pamana adalah suku asli  gunung nagamula, mereka biasanya hidup dengan bertani, berkebun dan hal-hal lain yang berhubungan dengan alam, tubuh mereka biasanya dihiasi rajah, berupa gambar gambar yang menurut kepercayaan mereka memberi mereka kekuatan. Mereka biasanya memang sering bersiteru dengan mulia, karena mulia sering mendapati mereka menyembah kayu dan alam, sementara mulia ingin mereka mengikuti Jalandewa, kepercayaan mulia,  padahal  nagara sendiri membiarkan mereka dan menjamin keberadaan mereka . Apa mau dikata, konon, pamana sudah lebih dahulu ada sebelum berdirinya Nagara

“Dia tidak bohong, ini adalah madiaku, aku tidak bohong ! aku melihatnya sendiri” teriak si pemuda tersebut

Beberapa anggota mulia  yang kebetulan sedang carama – menyebarkan ajaran, memberi peringatan- menghentikan carama mereka dan kemudian menghajar si pemuda, sampai sorang dubala-petugas keamanan kota- datang dan memisahkan mereka.

Capolda, lelaki berkumis tebal namun berwajah ramah ini adalah kepala dubala di Drakota.

“Dia seorang Pamana , kapan seorang pamana tidak membenci mulia, jelas ini fitnah!” ujar seorang mulia yang masih muda, mewakili kelompoknya

“Aku memang seorang pemana, tapi yang kukatakan tadi benar adanya”

balas di pemuda sambil sejenak  mengatur nafasnya.

“AKU BERANI BERSUMPAH ATAS NAMA SAJARA!!”

Chandra yang sedari tadi bersembunyi di balik kerumunan, tertegun. Dia tau pasti, lelaki ini tidak bohong,  tapi tidak semua orang seperti dirinya yang selalu percaya lelaki ini, bahkan tanpa sumpah suci sajara!

Sajara adalah pohon tertua, konon adalah pohon pertama yang muncul diatas dunia. Banyak yang percaya kalau pamana menyembah pohon sajara. Para pengunjung mulai berbisik bisik, kalau sudah membawa nama sajara, ini bukan perkara main main.

“Cukup anak muda, kita bicarakan ini di tempatku” ajak Capolda. Kumisnya bergerak gerak lucu , itulah kenapa dia tidak banyak berbicara.

“Tidak, aku ingin kalian semua tau, aku tidak bohong kalau salah satu mulia kalian..”

Tiba-tiba, seorang mulia dengan gambar matahari di keningnya berjalan kea rah mereka, anggota mulia lain pun menunduk.

Mulia tua ini kemudian melepaskan tembakan, tepat mengenai kepala si pemuda. Warga histeris. Mulia tua ini pun berjalan tenang kearah kerumunan. bebaur dengan mulia lain yang memakai baju kebesaran putih-putih mereka. Capolda segera memerintahkan anak buahnya mengejar si mulia, namun dia tidak menemukannya di tengah kerumunan warga.

Sementara itu, Chandra memeluk jasad lelaki pamana tadi, sampai Angkara, ayahnya datang dan mengajaknya pergi dari sana.

**

Namanya, Yurah.

Dia dan  Chandra bertemu di sebuah festival Olahnaga , ketika sudah melewati dua tantangan utama, keduanya masih bernilai sama. Sama sama menyisihkan yang lain dengan menjadi yang tercepat  melewati  terowongan naga, selanjutnya walau tidak sampai di puncak,   keduanya sama sama meraih  jarak tertinggi di banding yang lain ketika memanjat pohon Antaraksa

yang artinya, mereka  mereka harus menghadapi babak terakhir :

mencari yang terkuat di arena Cakanaga !

Tidak ada yang meragukan kemampuan fisik seorang pamana , keseharian mereka yang ditempa di  alam nagamula jelas adalah keuntungan buat Yurah, namun Chandra jelas juga bukan anak Drakota biasa. Bimbingan langsung dari batharaaokta dan  bakatnya yang entah dia dapat dari mana  membuat dia tidak bisa dipandang sebelah mata.

 keduanya saling pukul dan hantam.

penonton bersorak sorai! terutama para kaum hawa, karena keduanya sama sama memanjakan mata mereka,

Chandra dengan kulit putih bak purnama, dengan rambut pendek bergelombang sempurna. Sementara  yurah  bertubuh sedikit lebih besar, rambut hitam panjang  dan dengan tubuh coklat dipangang surya.Belum lagi rambut-rambut halus di wajah yang menambah ketampanannya.

Pertarungan terus berlangsung, namun di sebuah kesempatan,sebuah gerakan ke dada  Yurah tidak bisa ditepis oleh ajian tamengbumi Yurah.  Membuat  yurah roboh dan berhasil dikalahkan. Chandra memberikan tangannya, membantu yurah bangkit, semenjak itu, mereka menjadi teman.

**

“Lebih dari sekedar teman, bukan?” Tanya Angkara  ketika dia cuma berdua dengan anaknya  dI sebuah bangunan berbentuk delapan mata angin yang masing maisng ujungnya menjadi ruangan kerja seorang atharaokta.

Chandra menunduk, tidak menjawab.

“Ayah tidak akan melarangmu, tapi ayah harap, ini cuma rahasia diantara kita”

Chandra memandang ke jendela, matanya mulai berkaca kaca

“Tidak ada gunanya lagi  ayah, Yurah sudah tidak ada”

Angkara berjalan ke belakang putranya, memegang bahu si pemuda.

“Ayah percaya begitu banyak hawa yang  ..”

Chandra  meninggalkan ayahnya yang belum selesai bicara.membanting pintu yang bermotif kepala naga.

Angkara menghela nafas, dia tidak ingat kapan terakhir kali  melihat Chandra berair mata.

**

Ternyata, tidak susah bagi capolda dan para dubala untuk menangkap Mulia tua. Atas informasi lagsung dari Angkara, mereka berhasil menangkap sosok tersebut dan sekarang menyerahkannya langsung ke ruangan Angkara.

“Maaf tuan, hamba khilaf” ucap mulia.

“Harusnya kau tidak perlu membunuh dia, kau meragukanku bisa mengatur  semuanya?” ucap Angkara mulai marah

“Tapi dia sudah bicara terlalu banyak tuan”

Angkara berdiri dari kursinya,  mencabut pedang Nagaraka nya

“Ampun tuan, hamba salah, hamba sudah bodoh, hamba tergiur dengan wanita bulia, hamba sudah..”

CRASSS..

Nagaraka mandi darah

 kepala mulia tua terjatuh di lantai

“Itu  balasan karena sudah membuat putraku menangis”

**

Lewat tengah malam, belum pagi.Makam yurah di gunung nagamula sekarang kedatangan dua tamu istimewa, seekor naga dan seorang pemuda.

“Kau orang pertama yang tahu soal nakama, dan hari ini kau juga orang pertama yang melihatnya secara langsung. Aku tau, kau sudah tak disini, tapi disana, ditempat yang katanya bernama surga, aku tau kau masih melihatku dan nakama ”

Tak lama kemudian  Chandra sudah mengangkasa bersama naganya. Entah kemanamembawa hatinya yang sedang berduka.

Setelah kepergiannya, seseorang datang dan kemudian meletakkan bunga di makam Yurah.kemudian  memandang tidak percaya  ke angkasa.

Sementara burung madia di sekitar sudah berbunyi tak sabar, menunggu dipelihara, dan dibisikkan rahasia besar yang akan membuat gempar kalau mereka berkoar- koar.

***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s