CARITA NAGARA –Para Penunggang Naga Merah

 

Tak ada seorang penduduk Nagara pun yang meragukan kepiawaian Angkara menunggang naga, Jelas,dia adalah salah satu penunggang terbaik yang dimiliki negeri ini. Salah seorang pemuda yang ikut menjadi saksi dalam peristiwa berdarah : NAGAMURKA

Sementara, Jenggot putih, keperkasaannya juga bukan lagi sebuah rahasia, kulit hijau pualam dengan jenggot putih yang menggelayut di dagunya sudah menjadi legenda. Jenggot putih adalah naga yang menjadi pahlawan di peristiwa luar biasa.

Naga murka adalah peristiwa yang akan selalu menjadi momok menakutkan bagi Nagara. Konon, Bhinneka, naga merah raksasa mengamuk dan kemudian menghancurkan istana, menewaskan Bathara-sang paduka,  pendiri dan pemimpin nagara, berikut  7 batharaokta –panglima pengawal paduka.

Dharma, sang panglima yang tersisa, yang mengalahkan Bhinneka, pemilik awal dari jenggot putih,  akhirnya ditunjuk rakyat menjadi  paduka.

sementara  Angkara yang waktu itu masih muda, dijodohkan dengan salah satu putri Dharma, dan menjadi pemimpin dari Batharaokta yang baru.

Semenjak itu, tidak ada tempat untuk naga merah di Nagara. Mereka dihabisi, sementara para penunggangnya diasingkan ke  Panjara, sebuah pulau kecil disisi sebelah timur Nagara.

Para penunggang terbaik menunggangi jenis  naga hijau dan putih, naga yang melambangkan kedamaian dan kesucian. walau, selain mereka di Nagar, juga hidup kelompok kelompok  naga  kecil lainnya yang berdampingan rukun dan damai, dipimpin oleh  jenggot putih sebagai naga tua yang sekarang telah memilih Angkara menjadi penunggang barunya , sementara  Dharma memutuskan fokus menjalankan kekuasaan.

Jenggot putih,sekarang lebih menjadi simbol, dipuja. Dari dahulu pun, sudah banyak yang percaya,kalau jenggot putih adalah jelmaan dari sang dewa.

Sementara Sang penunggang, sepertinya sudah merindukan perang

Untuk itu, di dua purnama berikutnya, Angkara berencana untuk menang

**

Ada satu peraturan menarik di Nagara. ketika seorang paduka (pemimpin) tutup usia atau merasa sudah tidak mampu lagi berkuasa, maka, tahta tidak diturunkan langsung kepada anak atau menantu, melainkan para penduduk akan berkumpul dan memberikan suara mereka dibawah sinar dua purnama- waktu munculnya dua bulan penuh, di Nagara

Sayangnya, di dua purnama yang sekarang, Angkara tidak muncul sebagai pemenang.

Karja, seorang pemuda, pedagang sukses di sudut kecil di Nagara, dipercaya para penduduk menggantikan Dharma, sang panglima tersisa yang sudah semakin tua.

Namun, sepertinya Angkara yang didukung para tetua penunggang naga tidak suka dengan kemenangan Karja yang merupakan rakyat biasa yang tidak bisa apa-apa…

Karja bukan penunggang naga

**

Alkisah, di  salah satu di antara banyaknya pertempuran naga yang dipimpinnya, ada satu kejadian membuat Angkara  tidak bisa menpatkan seorang putra, karena itu Angkara mengangkat seorang putra yang ditemukannya dalam  pertapaannya…

namanya Chandramakna.

Semenjak kecil, Chandramakna  sudah dididik ayah angkatnya menjadi penunggang naga, dan sehari-hari dibesarkan di lingkungan panglima yang teratur dan disiplin, namun juga mewah dan berkilauan harta benda. Sayangnya, Chandra, begitu jejaka ini biasa disapa, lebih suka bermain dengan rakyat jelata, sehingga dia tumbuh menjadi pemuda yang perkasa, tapi juga jujur, dan rendah hatinya. Semenjak kecil, Chandra juga pemenang tak terkalahkan, dalam olahnaga, sebuah permainan rakyat nagara. bahkan mengalahkan mereka yang lebih tua.

dan seperti penunggang naga lainnya, di usianya yang ke 20, dia akan pergi ke gunung Nagamula, tempat  yang dipercaya merupakan surga bagi para naga. Disana, dia akan melakukan tapa wajanaga, untuk bertemu dengan naganya

karena, penunggang tidak memilih naga. Naga lah yang memilih penunggangnya

Tidak ada yang tau, tidak juga Angkara, dalam masa pertapannya,sebuah pertemuan mengubah nasib besar nagara.

Chandra bertemu dengan seorang wanita tua yang memperkenalkan diri sebagai  Maharani. Putri dari Bathara sang pendiri negeri ini. Maharani pun menceritakan kepada Chandra tentang kejadian sebenarnya di malam naga murka:  Bhinneka, sang naga merah raksasa, adalah teman ayahnya, sementara yang membantai Batharaokta dan ayahnya adalah Dharma, Angkara dan pasukannya!

Bhinneka sendiri berhasil menyelamatkan Maharani  dan menyembunyikannya disini, di gunung Nagamula.

Chandra masih belum percaya kepada cerita Maharani, karena cerita yang diterimanya selama ini jauh  berbeda, juga dengan kitab yang di pelajarinya, karena itu dia memilih mengulang lagi pertapaan wajanaga nya.  Maharani tidak memaksa, dia pun menghilang dalam gelapnya hutan gunung nagamula

**

Sebuah malam akhirnya merubah segalanya, sudut pandang akan Nagara dan cerita-cerita yang selama ini Chandra percaya

Tanpa sengaja, dia mencuri dengar rencana ayah angkatnya,untuk menyerang ibukota nagara bersama para tetua penunggang naga dan anak anak muda haus kuasa

Ternyata, pertemuannya di Nagamula, bukan sebuah kebetulan belaka!

**

Bahaya !!

besoknya para penunggang yang memihak angkara, menyerang ibukota, bola api dari naga berseliweran di angkasa.

Langit nagara dipenuhi naga putih  yang membentuk barisan panjang, di depan sana,  angkara dengan naga hijau raksasa dan jenggot putih, memimpin langsung menyerang istana,

ketika akhirnya jenggot putih menyerang Karja

sesosok naga merah muncul  dan melindungi sang Paduka

dan Chandra berdiri diatas punggungnya!!

ya, pertapaan wajanaga Chandra, berhasil mempertemukannya dengan Nakama, naganya yang sekarang mengangkasa gagah bersamanya!

Angkara tersenyum. Tidak, ini sama sekali tidak akan menganggu rencananya .

Nakama bersama Chandra dan Karja kemudian melesat kegunung nagamula, Jenggot putih mengejar dibelakang mereka.

dan pertarungan ayah-anak  tidak terelakkan, bola api saling sambar,  kuku tajam saling cakar.

jenggot  putih pun terluka, di wajah tuanya ada memar, di kulit pualamnya ada luka bakar

“AGAMA !!”

terdengar teriakan Angkara

tak banyak yang tahu, ‘jenggot putih’ bukan nama, itu tak lebih dari panggilan akrab  yang diberikan kepada naga perkasa tersebut, sementara, Agama adalah nama sang naga yang sebenarnya. nama yang ditemukan dalam tapawajanaga Dharma dan Angkara.

Singkat cerita, Angkara kembali ke ibukota dan menceritakan soal pertarungannya, bahwa Nagara akan binasa, karena Chandra, anaknya sudah melukai Agama, naga dari surga, dia juga membual bahwa bahwa penyerangan tadi sudah di rencanakannya, karena dia tahu, Paduka Karja, sudah mengkhianati Nagara dengan berteman dengan naga merah!

Singkat cerita, bersama para tetua dan pasukan naga , Angkara  berhasil menangkap  Chandra dan Nakama di gunung awal mula. Nakama di rantai  dan disiksa di depan penunggangnya, sementara Chandra, diasingkan ke pulau panjara.

Bagaimana dengan Karja?

Untunglah,  belum  ada yang berhasil menemukannya

Angkara sendiri  sekarang masih bersiap menyusun rencana  kembali menduduki tahta.

karena dengan tak adanya Karja,  dalam dua purnama berikutnya , giliran dia yang akan jadi paduka.

*

Satu yang Angkara tidak tau, walau pun terlihat pendiam dan lemah, karja bukan pedagang biasa

lewat bimbingan Maharani di gunung nagamula, Karja pun berhasil mendapatkan naganya bahkan tanpa tapa wajanaga.

tidak tanggung tanggung,

wajah tua yang sekarang siap untuk patuh dihadapannya adalah Bhinneka, naga yang pernah dimiliki bathara, pendiri negeri nagara, yang tidak banyak yang tahu, juga merupakan seorang penunggang naga!

Bagaimana kelanjutannya? kita tunggu saja.

 

*saya  cuma seorang pemuda yang kebetulan sedang berada  di nagara dan mengetahui kisah negeri para naga ini. Saya cuma ingin penduduk negeri lain mengetahui cerita ini, sebelum saya, dan  naga merah saya :Aksara, dan mungkin naga merah lain yang tersisa dihabisi oleh Angkara dan para anggotanya.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s