Kamar Ujung

Namaku Ujung.

Paling tidak, begitulah mereka yang datang dan pergi memanggilku, kamar ujung.

Penyebabnya jelas. Aku berada lokasi di paling ujung koridor kost kostan ini.

Aku satu satunya kamar yang berbeda dengan yang lain, Misalnya aku tidak mempunyai kamar mandi di dalam seperti kamar lainnya. Yang kedua, cahaya matahari tidak menyentuh tubuhku dengan sempurna. Kalau ada yang bisa kubanggakan adalah di pintuku, dimana ada tempelan kertas berisi berita konspirasi dari hasil klipingan koran dan majalah, mulai dari bukti Hitler masih hidup, keberadaan yeti, sampai kepada hubungan alien dan suku maya, semua kalian bisa temukan di pintuku seolah-olah penghuni baruku ini ingin menyebarkan fakta ini kepada siapa saja yang berkunjung.

walau, tidak banyak yang pernah berkunjung ke sini, semenjak dia menjadi penghuniku.

**

Dulu aku cukup sering dikunjungi, paling tidak oleh satu dua orang teman-teman penghuniku. Ada yang bermain gitar, bermain kartu sambil merokok dan ngopi, atau diskusi diskusi kecil yang berujung gelak tawa panjang, atau ada juga diskusi dan kerja kuliah yang berujung di ranjang. Horden ditutup, kemudian musik dihidupkan amat kencang.

Aku  menyukai semua itu, aku merasa hidup.

sampai entah kenapa mereka merasa semua pergi

 Aku tidak mengerti, penghuni baru datang lagi, tapi tak lama, sudah berganti kembali.

Apa salahku, setahuku,aku tidak melakukan apa-apa, oke kalau soal matahari dan berjamur itu bukan salahku, memang desain yang diciptakan pemilik kostan ini tidak sampai kepadaku, Lagian kalau mau bercerita banyak,  bapak pemilik kostan juga sepeti menganak tirikanku, atau tepatnya mungkin mengkamar tirikanku. Aku tidak begitu dirawat, kasur ku masih kasur terbapuk yang pernah ada mungkin sepanjang kosan berdiri. Dindingku tidak kusam memang, tapi tetap saja aku merasa tidak secantik saudara saudara ku yang lain.

jadi wajar juga kalau aku adalah pilihan terakhir, kalau ada yang memilih kostan, seperti ini, ketika sudah tidk ada pilihan, kamar lain sudah terisi, barulah semua memilihku, dan itu pun tidak lama maka itu pun tidak lama, paling sebulan dua bulan.

Barulah dari penghuni yang entah keberapa, aku mendapat titik terang, kalau konon menurut kepercayaan mereka aku menghisap kebahagiaan mereka. Aku tidak mengerti persisnya bagaimana. Tapi jelas  ini terkait dengan wajah wajah murung yang selalu mengisi kamar ini.

Tapi ada satu bagian dari diriku yang menikmati ini semua,  aku merasa menjadi penguasa untuk mereka yang datang silih berganti ini, aku bisa membuat mereka pergi atau memaksa mereka menetap, walau yang kedua ini belum berhasil sejauh ini.

tapi semua berubah semenjak kedatangan penghuniku yang baru ini.

Dia bukan mahasiwa, tampilan hariannya sih masih :rambut gondrong dengan kaos dan kemeja kedombrangan, sepatu kets dan celana jeans belel,  tapi jelas dia lebih tua dibanding penghuni kamar lain. Satu hal, aku heran kenapa dia memilih menempatiku,  Maksudku bukan karena aku yang satu satunya kosong, itu jelas. tapi aku pikir dia masih punya pilihan lain di daerah kost-kostan dekat sini, di gang sana, dua rumah dari kostan Pak Haji ini ada kost-kostan untuk mereka yang bekerja, walau Pak Haji memang tidak pernah mengatakan ini kostan khusus mahasiswa.

Pokoknya aku heran, tapi kemudian aku tau, dia juga tidak cocok untuk tinggal di kost-kostan yang aku ceritakan tadi. Lelaki ini bukan karyawan, tepatnya dia tidak bekerja – Dia seorang penulis,  meja tua yang selalu menemaniku, kini sudah ditempati mesin tik nya yang tak kalah tua, dan lemari kayu temanku,sekarang sudah di penuhi dengan koleksi bukunya. bila malam tiba, dia suka mematikan lampu dan menerangi diriku dengan lilin. Menulis lagi, ditemani kopi yang dihangatkannya dengan kompor parafin.

Jelas aku tidak menyukai orang aneh ini.

Maka mungkin sudah saatnya aku menunjukkan reputasiku sebagai kamar penghisap kebahagiaan, dan dia akan pergi dari sini dalam waktu dekat.

Walau, yang sebenarnya aku tidak melakukan apa apa. Kalau kalian membayangkan aku akan membuat benda-benda melayang, tidak, aku tidak akan melakukannya. Aku kamar penghisap kebahagiaan, bukan kamar ghaib.

Tapi ternyata aku salah.

Sebulan – dua bulan berlalu. Dia masih disini.

Aku penasaran sampai kapan dia mampu bertahan disini, tapi ini rekor, sudah.

 Setahun berlalu dan dia masih disini,masih  hidup dari tulisan-tulisannnya.

Hidupnya terlihat datar dan biasa, paling tidak begitu yang aku lihat, karena aku tidak tau apa yang terjadi di luar sana,

 ***

Ini tahun kedua. Dia sudah menjadi yang dituakan di kostan ini, juga menjadi  cerita sendiri bagi Pak Haji, sebagai orang yang bisa bertahan selama itu bersamaku.

Si lelaki yang rambutnya sudah semakin panjang ini meletakkan tote bag nya, kemudian mengeluarkan alat alat lukis. Lengkap

tunggu, kenapa aku tidak melihat kanvasnya?

ah, harusnya aku tau

Dia kemudian mulai menggores dinding dindingku. Gawat, ternyata dia cukup berbakat juga

Aku jadi terlihat berbeda,

Lelaki itu terlihat puas dengan hasil karyanya, menyalakan rokoknya sambil memandangi tubuhku.

“Terimakasih” ucapku pelan, walau  aku tau ini akan sia sia

tapi sepertinya dia mendengarnya, karena dia terlihat tersenyum dan mengangguk.

Tak lama,aku sudah melihatnya kembali sibuk dengan mesin tik tuanya.

**

Semenjak saat itu, aku dan dia seperti bisa berinteraksi walau ada kemungkinan untuk kebetulan yang terjadi berkali kali.

Pernah, lelaki ini tersenyum menatap langit langitku, saat aku juga menatapnya. Rindu, karena sudah tiga hari ini dia tidak mendatangiku, pergi entah kemana.

Ada juga waktu-waktu dimana dia pulang sambil melempar koran sembarangan, kemudian duduk menyandar padaku dengan wakah tertunduk. Dia mengeluarkan rokoknya, menghela nafas, kembali tersenyum, dan kemudian kembali mengetik.

Sesekali,  dia kembali menambah coretan-coretan pada dindingku dengan kata kata yang biasa dia dapatkan dari buku, atau lirik lagu dari radio yang belakangan menjadi teman mesin tik tuanya.

Di beberapa kesempatan,  dia membeli beberapa botol minuman, kemudian tertidur dilantaiku.

Lain waktu dia tertawa sendiri, asap membumbung, dan aku ikut bahagia.

**

Kadang, kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam kepala seseorang. Dari luar kita bisa melihat semua baik baik saja, tapi ternyata ada kerusakan berat di dalam sana. Atau, ketika kita tahu dan bisa melihat  kalau ada kerusakan di dalam sana, tapi kita tidak melakukan apa apa. membiarkannya begitu saja. Namun, mungkin yang terparah adalah, ketika kita bisa melihat kalau ada kerusakan didalam sana,dan kita bermaksud mencegah kerusakan itu bertambah parah, namun, tidak bisa melakukan apa-apa.

Dia tersenyum, sebuah tali menggantung di langit langitku.

‘Terimakasih” ucapnya kemudian

Melihat kursi itu lepas, dan tali itu meregang kuat, aku berteriak, tapi tidak bisa merubah apa-apa

 Dia tersenyum, ya, masih tersenyum

the purpose is not to life forever, its to create something that will

Tulisan raksasa yang tepat terlukis di dinding belakang tubuhnya itu menjadi background perpisahan kami///

atau paling tidak seperti itu yang aku pikir.

Mengenai tulisan tadi, Aku tidak tau apakah yang dia buat selama ini  berhasil atau tidak, apakah tulisannya mendapat tempat atau tidak,  yang aku tau cuma kadang dia punya uang yang lumayan, kadang dia makan dengan mie instant, kadang menatap koran dengan wajah sedih, kadang tertawa membaca satu dua surat yang datang untuknya.

Ini terdengar berlebihan,melankolis,dan sedikit aneh, tapi kalau ada yang abadi yang sudah dihasilkannya, mungkin itu adalah persahabatan kami.

**

Aku ujung,dan aku masih kamar yang dulu, walau dengan penampilan baru dari Pak Haji

Aku mungkin masih kosong semenjak kejadian itu.

tapi aku tidak pernah kesepian, karena semenjak kejadian itu, dia selalu disini bersamaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s