KELTUM

 

HALO SEMUA

( sapaan seakan akan akan fans udah 1 milyar lebih )

ceritanya belakangan,

kurang lebih 10 tahun belakangan-lah, saya sedang mendalami  hobi rekam dan dengar suara sendiri,

Semacam audio narsistik, ada ga sih istilah audio narsistik?

pokoknya gitulah

tapi…baru 3 hari belakangan berani mewujudkan ini dan melempar ini ke public

ASIK.

kenapa? lagi lagi jawabannya karena momennya pas : Ramadhan

alasan

Jadi, apakah ini bersifat religius, ah tidak juga,

eh, entahlah, tergantung apa definisi religius mungkin,

Pokoknya mulai dari hari pertama puasa kemaren, saya menelurkan rekaman audio berisi keluhan tentang hal hal random, ya ga random-random amatlah, masih muter muter disana sana juga

karena durasinya cuma 7 menit, dan itupun saya juga bingung mau ngomong apa, trus  banyak ketawa dan blanknya

maka, saya memberi judul album, atau apalah makhluk ini dengan..

KELTUM

keluhan tujuh menit,

karena kuliah itu tujuh tahun

Buat yang penasaran, silahkan main ke soundcloud saya, yang saya bikin demi posting ginian

https://soundcloud.com/user-982867035

( mudah mudhan linknya bener, kalo nyasar, cari akun Ramahendra aja, hahaha. baru banget ini, masih di otak atik)

Mudah mudahan  bisa terus nyampe sampe lebaran, trus abis lebaran ada season non ramadhannya juga

Doain aja, bebas, mau doain lanjut apa stop, yang manapun saya rasa akan baik untuk manusia dan kemanusiaan

-TAMAT-

 

Advertisements

PENUH (TERLALU)

LAGI.

Netbook kecil ini penuh, hardisk eternal senasib, smartphone sudah protes dari kemaren kemaren, kamar sumpek, dada sesak bahkan  melebihi cupicupita…

KEPALA? jangan ditanya…

penyebabnya sama : TERLALU-BANYAK-BARANG-TERLALU-SEDIKIT-RUANG

padahal mungkin mereka sudah tak harus disana

terlalu banyak yang dianggap indah, padahal, sudahlah..

entah sampai kapan mempertahankan,, sehingga membiarkan semua menjadi beban

terlalu berharap ini terlalu takut itu, sehingga banyak yang  sebenarnya tidak perlu.

terlalu sayang, padahal mungkin sudah harus ada yang dibuang, atau dibiarkan menghilang

**

Mungkin ada yang mengusulkan untuk membeli yang lebih besar, menambah memori, upgrade volume otak, ukuran kepala, bentuk rahang dan usulan sejenis lainnya

tapi percayalah,

 I know me..

paling tidak untuk hal ini.

Kalaupun semuanya itu ditambah, pindah ke ruang yang lebih besar, atau apalah,  masalahnya akan tetap sama. Tetap saja, ini akan selalu penuh oleh banyak hal, akan selalu ada alasan untuk  menumpuk segala sesuatu.

jadi,  paling tidak untuk sekarang, saya akan mencoba merasa cukup dengan ruang yang ada, dan mulai menatanya lagi dengan seadanya, sebisanya.

Semoga bisa belajar, untuk sesuatu yang lebih besar.

Semoga bisa menciptakan ruang, siapa tau ada hal hal baru menarik yang datang.

Mudah- mudahan bisa bikin senang, bisa bikin tenang.

DSC_0510.JPG

**

*mumpung momennya  pas, selamat bulan suci Ramadhan untuk kawan kawan yang merayakan. Mohon doanya, ditengah semrawutnya bangsa ini, semoga masih ada ruang untuk hal hal baik.

AMIN.

CARITA NAGARA –Para Penunggang Naga Merah

 

Tak ada seorang penduduk Nagara pun yang meragukan kepiawaian Angkara menunggang naga, Jelas,dia adalah salah satu penunggang terbaik yang dimiliki negeri ini. Salah seorang pemuda yang ikut menjadi saksi dalam peristiwa berdarah : NAGAMURKA

Sementara, Jenggot putih, keperkasaannya juga bukan lagi sebuah rahasia, kulit hijau pualam dengan jenggot putih yang menggelayut di dagunya sudah menjadi legenda. Jenggot putih adalah naga yang menjadi pahlawan di peristiwa luar biasa.

Naga murka adalah peristiwa yang akan selalu menjadi momok menakutkan bagi Nagara. Konon, Bhinneka, naga merah raksasa mengamuk dan kemudian menghancurkan istana, menewaskan Bathara-sang paduka,  pendiri dan pemimpin nagara, berikut  7 batharaokta –panglima pengawal paduka.

Dharma, sang panglima yang tersisa, yang mengalahkan Bhinneka, pemilik awal dari jenggot putih,  akhirnya ditunjuk rakyat menjadi  paduka.

sementara  Angkara yang waktu itu masih muda, dijodohkan dengan salah satu putri Dharma, dan menjadi pemimpin dari Batharaokta yang baru.

Semenjak itu, tidak ada tempat untuk naga merah di Nagara. Mereka dihabisi, sementara para penunggangnya diasingkan ke  Panjara, sebuah pulau kecil disisi sebelah timur Nagara.

Para penunggang terbaik menunggangi jenis  naga hijau dan putih, naga yang melambangkan kedamaian dan kesucian. walau, selain mereka di Nagar, juga hidup kelompok kelompok  naga  kecil lainnya yang berdampingan rukun dan damai, dipimpin oleh  jenggot putih sebagai naga tua yang sekarang telah memilih Angkara menjadi penunggang barunya , sementara  Dharma memutuskan fokus menjalankan kekuasaan.

Jenggot putih,sekarang lebih menjadi simbol, dipuja. Dari dahulu pun, sudah banyak yang percaya,kalau jenggot putih adalah jelmaan dari sang dewa.

Sementara Sang penunggang, sepertinya sudah merindukan perang

Untuk itu, di dua purnama berikutnya, Angkara berencana untuk menang

**

Ada satu peraturan menarik di Nagara. ketika seorang paduka (pemimpin) tutup usia atau merasa sudah tidak mampu lagi berkuasa, maka, tahta tidak diturunkan langsung kepada anak atau menantu, melainkan para penduduk akan berkumpul dan memberikan suara mereka dibawah sinar dua purnama- waktu munculnya dua bulan penuh, di Nagara

Sayangnya, di dua purnama yang sekarang, Angkara tidak muncul sebagai pemenang.

Karja, seorang pemuda, pedagang sukses di sudut kecil di Nagara, dipercaya para penduduk menggantikan Dharma, sang panglima tersisa yang sudah semakin tua.

Namun, sepertinya Angkara yang didukung para tetua penunggang naga tidak suka dengan kemenangan Karja yang merupakan rakyat biasa yang tidak bisa apa-apa…

Karja bukan penunggang naga

**

Alkisah, di  salah satu di antara banyaknya pertempuran naga yang dipimpinnya, ada satu kejadian membuat Angkara  tidak bisa menpatkan seorang putra, karena itu Angkara mengangkat seorang putra yang ditemukannya dalam  pertapaannya…

namanya Chandramakna.

Semenjak kecil, Chandramakna  sudah dididik ayah angkatnya menjadi penunggang naga, dan sehari-hari dibesarkan di lingkungan panglima yang teratur dan disiplin, namun juga mewah dan berkilauan harta benda. Sayangnya, Chandra, begitu jejaka ini biasa disapa, lebih suka bermain dengan rakyat jelata, sehingga dia tumbuh menjadi pemuda yang perkasa, tapi juga jujur, dan rendah hatinya. Semenjak kecil, Chandra juga pemenang tak terkalahkan, dalam olahnaga, sebuah permainan rakyat nagara. bahkan mengalahkan mereka yang lebih tua.

dan seperti penunggang naga lainnya, di usianya yang ke 20, dia akan pergi ke gunung Nagamula, tempat  yang dipercaya merupakan surga bagi para naga. Disana, dia akan melakukan tapa wajanaga, untuk bertemu dengan naganya

karena, penunggang tidak memilih naga. Naga lah yang memilih penunggangnya

Tidak ada yang tau, tidak juga Angkara, dalam masa pertapannya,sebuah pertemuan mengubah nasib besar nagara.

Chandra bertemu dengan seorang wanita tua yang memperkenalkan diri sebagai  Maharani. Putri dari Bathara sang pendiri negeri ini. Maharani pun menceritakan kepada Chandra tentang kejadian sebenarnya di malam naga murka:  Bhinneka, sang naga merah raksasa, adalah teman ayahnya, sementara yang membantai Batharaokta dan ayahnya adalah Dharma, Angkara dan pasukannya!

Bhinneka sendiri berhasil menyelamatkan Maharani  dan menyembunyikannya disini, di gunung Nagamula.

Chandra masih belum percaya kepada cerita Maharani, karena cerita yang diterimanya selama ini jauh  berbeda, juga dengan kitab yang di pelajarinya, karena itu dia memilih mengulang lagi pertapaan wajanaga nya.  Maharani tidak memaksa, dia pun menghilang dalam gelapnya hutan gunung nagamula

**

Sebuah malam akhirnya merubah segalanya, sudut pandang akan Nagara dan cerita-cerita yang selama ini Chandra percaya

Tanpa sengaja, dia mencuri dengar rencana ayah angkatnya,untuk menyerang ibukota nagara bersama para tetua penunggang naga dan anak anak muda haus kuasa

Ternyata, pertemuannya di Nagamula, bukan sebuah kebetulan belaka!

**

Bahaya !!

besoknya para penunggang yang memihak angkara, menyerang ibukota, bola api dari naga berseliweran di angkasa.

Langit nagara dipenuhi naga putih  yang membentuk barisan panjang, di depan sana,  angkara dengan naga hijau raksasa dan jenggot putih, memimpin langsung menyerang istana,

ketika akhirnya jenggot putih menyerang Karja

sesosok naga merah muncul  dan melindungi sang Paduka

dan Chandra berdiri diatas punggungnya!!

ya, pertapaan wajanaga Chandra, berhasil mempertemukannya dengan Nakama, naganya yang sekarang mengangkasa gagah bersamanya!

Angkara tersenyum. Tidak, ini sama sekali tidak akan menganggu rencananya .

Nakama bersama Chandra dan Karja kemudian melesat kegunung nagamula, Jenggot putih mengejar dibelakang mereka.

dan pertarungan ayah-anak  tidak terelakkan, bola api saling sambar,  kuku tajam saling cakar.

jenggot  putih pun terluka, di wajah tuanya ada memar, di kulit pualamnya ada luka bakar

“AGAMA !!”

terdengar teriakan Angkara

tak banyak yang tahu, ‘jenggot putih’ bukan nama, itu tak lebih dari panggilan akrab  yang diberikan kepada naga perkasa tersebut, sementara, Agama adalah nama sang naga yang sebenarnya. nama yang ditemukan dalam tapawajanaga Dharma dan Angkara.

Singkat cerita, Angkara kembali ke ibukota dan menceritakan soal pertarungannya, bahwa Nagara akan binasa, karena Chandra, anaknya sudah melukai Agama, naga dari surga, dia juga membual bahwa bahwa penyerangan tadi sudah di rencanakannya, karena dia tahu, Paduka Karja, sudah mengkhianati Nagara dengan berteman dengan naga merah!

Singkat cerita, bersama para tetua dan pasukan naga , Angkara  berhasil menangkap  Chandra dan Nakama di gunung awal mula. Nakama di rantai  dan disiksa di depan penunggangnya, sementara Chandra, diasingkan ke pulau panjara.

Bagaimana dengan Karja?

Untunglah,  belum  ada yang berhasil menemukannya

Angkara sendiri  sekarang masih bersiap menyusun rencana  kembali menduduki tahta.

karena dengan tak adanya Karja,  dalam dua purnama berikutnya , giliran dia yang akan jadi paduka.

*

Satu yang Angkara tidak tau, walau pun terlihat pendiam dan lemah, karja bukan pedagang biasa

lewat bimbingan Maharani di gunung nagamula, Karja pun berhasil mendapatkan naganya bahkan tanpa tapa wajanaga.

tidak tanggung tanggung,

wajah tua yang sekarang siap untuk patuh dihadapannya adalah Bhinneka, naga yang pernah dimiliki bathara, pendiri negeri nagara, yang tidak banyak yang tahu, juga merupakan seorang penunggang naga!

Bagaimana kelanjutannya? kita tunggu saja.

 

*saya  cuma seorang pemuda yang kebetulan sedang berada  di nagara dan mengetahui kisah negeri para naga ini. Saya cuma ingin penduduk negeri lain mengetahui cerita ini, sebelum saya, dan  naga merah saya :Aksara, dan mungkin naga merah lain yang tersisa dihabisi oleh Angkara dan para anggotanya.

 

 

Kamar Ujung

Namaku Ujung.

Paling tidak, begitulah mereka yang datang dan pergi memanggilku, kamar ujung.

Penyebabnya jelas. Aku berada lokasi di paling ujung koridor kost kostan ini.

Aku satu satunya kamar yang berbeda dengan yang lain, Misalnya aku tidak mempunyai kamar mandi di dalam seperti kamar lainnya. Yang kedua, cahaya matahari tidak menyentuh tubuhku dengan sempurna. Kalau ada yang bisa kubanggakan adalah di pintuku, dimana ada tempelan kertas berisi berita konspirasi dari hasil klipingan koran dan majalah, mulai dari bukti Hitler masih hidup, keberadaan yeti, sampai kepada hubungan alien dan suku maya, semua kalian bisa temukan di pintuku seolah-olah penghuni baruku ini ingin menyebarkan fakta ini kepada siapa saja yang berkunjung.

walau, tidak banyak yang pernah berkunjung ke sini, semenjak dia menjadi penghuniku.

**

Dulu aku cukup sering dikunjungi, paling tidak oleh satu dua orang teman-teman penghuniku. Ada yang bermain gitar, bermain kartu sambil merokok dan ngopi, atau diskusi diskusi kecil yang berujung gelak tawa panjang, atau ada juga diskusi dan kerja kuliah yang berujung di ranjang. Horden ditutup, kemudian musik dihidupkan amat kencang.

Aku  menyukai semua itu, aku merasa hidup.

sampai entah kenapa mereka merasa semua pergi

 Aku tidak mengerti, penghuni baru datang lagi, tapi tak lama, sudah berganti kembali.

Apa salahku, setahuku,aku tidak melakukan apa-apa, oke kalau soal matahari dan berjamur itu bukan salahku, memang desain yang diciptakan pemilik kostan ini tidak sampai kepadaku, Lagian kalau mau bercerita banyak,  bapak pemilik kostan juga sepeti menganak tirikanku, atau tepatnya mungkin mengkamar tirikanku. Aku tidak begitu dirawat, kasur ku masih kasur terbapuk yang pernah ada mungkin sepanjang kosan berdiri. Dindingku tidak kusam memang, tapi tetap saja aku merasa tidak secantik saudara saudara ku yang lain.

jadi wajar juga kalau aku adalah pilihan terakhir, kalau ada yang memilih kostan, seperti ini, ketika sudah tidk ada pilihan, kamar lain sudah terisi, barulah semua memilihku, dan itu pun tidak lama maka itu pun tidak lama, paling sebulan dua bulan.

Barulah dari penghuni yang entah keberapa, aku mendapat titik terang, kalau konon menurut kepercayaan mereka aku menghisap kebahagiaan mereka. Aku tidak mengerti persisnya bagaimana. Tapi jelas  ini terkait dengan wajah wajah murung yang selalu mengisi kamar ini.

Tapi ada satu bagian dari diriku yang menikmati ini semua,  aku merasa menjadi penguasa untuk mereka yang datang silih berganti ini, aku bisa membuat mereka pergi atau memaksa mereka menetap, walau yang kedua ini belum berhasil sejauh ini.

tapi semua berubah semenjak kedatangan penghuniku yang baru ini.

Dia bukan mahasiwa, tampilan hariannya sih masih :rambut gondrong dengan kaos dan kemeja kedombrangan, sepatu kets dan celana jeans belel,  tapi jelas dia lebih tua dibanding penghuni kamar lain. Satu hal, aku heran kenapa dia memilih menempatiku,  Maksudku bukan karena aku yang satu satunya kosong, itu jelas. tapi aku pikir dia masih punya pilihan lain di daerah kost-kostan dekat sini, di gang sana, dua rumah dari kostan Pak Haji ini ada kost-kostan untuk mereka yang bekerja, walau Pak Haji memang tidak pernah mengatakan ini kostan khusus mahasiswa.

Pokoknya aku heran, tapi kemudian aku tau, dia juga tidak cocok untuk tinggal di kost-kostan yang aku ceritakan tadi. Lelaki ini bukan karyawan, tepatnya dia tidak bekerja – Dia seorang penulis,  meja tua yang selalu menemaniku, kini sudah ditempati mesin tik nya yang tak kalah tua, dan lemari kayu temanku,sekarang sudah di penuhi dengan koleksi bukunya. bila malam tiba, dia suka mematikan lampu dan menerangi diriku dengan lilin. Menulis lagi, ditemani kopi yang dihangatkannya dengan kompor parafin.

Jelas aku tidak menyukai orang aneh ini.

Maka mungkin sudah saatnya aku menunjukkan reputasiku sebagai kamar penghisap kebahagiaan, dan dia akan pergi dari sini dalam waktu dekat.

Walau, yang sebenarnya aku tidak melakukan apa apa. Kalau kalian membayangkan aku akan membuat benda-benda melayang, tidak, aku tidak akan melakukannya. Aku kamar penghisap kebahagiaan, bukan kamar ghaib.

Tapi ternyata aku salah.

Sebulan – dua bulan berlalu. Dia masih disini.

Aku penasaran sampai kapan dia mampu bertahan disini, tapi ini rekor, sudah.

 Setahun berlalu dan dia masih disini,masih  hidup dari tulisan-tulisannnya.

Hidupnya terlihat datar dan biasa, paling tidak begitu yang aku lihat, karena aku tidak tau apa yang terjadi di luar sana,

 ***

Ini tahun kedua. Dia sudah menjadi yang dituakan di kostan ini, juga menjadi  cerita sendiri bagi Pak Haji, sebagai orang yang bisa bertahan selama itu bersamaku.

Si lelaki yang rambutnya sudah semakin panjang ini meletakkan tote bag nya, kemudian mengeluarkan alat alat lukis. Lengkap

tunggu, kenapa aku tidak melihat kanvasnya?

ah, harusnya aku tau

Dia kemudian mulai menggores dinding dindingku. Gawat, ternyata dia cukup berbakat juga

Aku jadi terlihat berbeda,

Lelaki itu terlihat puas dengan hasil karyanya, menyalakan rokoknya sambil memandangi tubuhku.

“Terimakasih” ucapku pelan, walau  aku tau ini akan sia sia

tapi sepertinya dia mendengarnya, karena dia terlihat tersenyum dan mengangguk.

Tak lama,aku sudah melihatnya kembali sibuk dengan mesin tik tuanya.

**

Semenjak saat itu, aku dan dia seperti bisa berinteraksi walau ada kemungkinan untuk kebetulan yang terjadi berkali kali.

Pernah, lelaki ini tersenyum menatap langit langitku, saat aku juga menatapnya. Rindu, karena sudah tiga hari ini dia tidak mendatangiku, pergi entah kemana.

Ada juga waktu-waktu dimana dia pulang sambil melempar koran sembarangan, kemudian duduk menyandar padaku dengan wakah tertunduk. Dia mengeluarkan rokoknya, menghela nafas, kembali tersenyum, dan kemudian kembali mengetik.

Sesekali,  dia kembali menambah coretan-coretan pada dindingku dengan kata kata yang biasa dia dapatkan dari buku, atau lirik lagu dari radio yang belakangan menjadi teman mesin tik tuanya.

Di beberapa kesempatan,  dia membeli beberapa botol minuman, kemudian tertidur dilantaiku.

Lain waktu dia tertawa sendiri, asap membumbung, dan aku ikut bahagia.

**

Kadang, kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam kepala seseorang. Dari luar kita bisa melihat semua baik baik saja, tapi ternyata ada kerusakan berat di dalam sana. Atau, ketika kita tahu dan bisa melihat  kalau ada kerusakan di dalam sana, tapi kita tidak melakukan apa apa. membiarkannya begitu saja. Namun, mungkin yang terparah adalah, ketika kita bisa melihat kalau ada kerusakan didalam sana,dan kita bermaksud mencegah kerusakan itu bertambah parah, namun, tidak bisa melakukan apa-apa.

Dia tersenyum, sebuah tali menggantung di langit langitku.

‘Terimakasih” ucapnya kemudian

Melihat kursi itu lepas, dan tali itu meregang kuat, aku berteriak, tapi tidak bisa merubah apa-apa

 Dia tersenyum, ya, masih tersenyum

the purpose is not to life forever, its to create something that will

Tulisan raksasa yang tepat terlukis di dinding belakang tubuhnya itu menjadi background perpisahan kami///

atau paling tidak seperti itu yang aku pikir.

Mengenai tulisan tadi, Aku tidak tau apakah yang dia buat selama ini  berhasil atau tidak, apakah tulisannya mendapat tempat atau tidak,  yang aku tau cuma kadang dia punya uang yang lumayan, kadang dia makan dengan mie instant, kadang menatap koran dengan wajah sedih, kadang tertawa membaca satu dua surat yang datang untuknya.

Ini terdengar berlebihan,melankolis,dan sedikit aneh, tapi kalau ada yang abadi yang sudah dihasilkannya, mungkin itu adalah persahabatan kami.

**

Aku ujung,dan aku masih kamar yang dulu, walau dengan penampilan baru dari Pak Haji

Aku mungkin masih kosong semenjak kejadian itu.

tapi aku tidak pernah kesepian, karena semenjak kejadian itu, dia selalu disini bersamaku.