Just Not My Cup Of Coffee

“Gampang banget anak-anak ini dapat nilai A”

“Mungkin kamu aja yang pelit sayang” Dia tertawa

“Bukan gitu, aku tu standarnya jelas,  materinya ini, tugasnya ini, skornya ini”

“Ya, ada beberapa orang yang memang lebih dermawan dan murah hati sih sayang, biar dunia ini seimbang, kalo ga kan kasian mahasiswanya”

Aku menghela nafas.

itu suamiku, dia tidak mengerti akan fakta kalau anak-anak ini terlalu di manja oleh banyak rekan-rekanku yang lain, bukan apa apa, bukan pelit, tapi kan katanya mau mencerdaskan bangsa ? ya jangan di gampang-gampangin lah..

Kalian setuju kan sama aku?

Tidak? terserahlah,

Gimana ya, tapi memang rekan-rekanku di kampus itu banyak yang kelewatan, bukan cuma soal menggampangkan nilai, tapi di kepala mereka itu apa apa duit, mau penelitian di tanya duitnya berapa dulu, mau ini duitnya berapa dulu, duit aja semua.

“Kamu juga butuh duit kan sayang?”

“Iya, butuh, tapi ga gini juga caranya. aku cuma ngambil hak aku, aku perjuangkan dengan baik baik”

Ah, ini entah keberapa kali aku ribut dengan suamiku ini.

bukan ribut berantem acak-acak rumah sih,cuma adu pendapat saja, maklum lah penganten baru, belum cukup setaun, masih baru kan ya?

kalau sudah agak lama, udah punya anak nanti,  mungkin banyak hal lain yang kami perdebatkan, tapi sekarang ini soal aku yang terlalu serius dan mungkin dia dan teman temanku yang terlalu santai.

**

Suamiku masih melukis di ruang belakang, ada satu ruangan khusus yang berisi dia dan lukisan lukisannya – yang belum terjual.

Jangan heran.

Kebetulan mama dan papa tidak pernah menentang pernikahan ku dengan makhluk ini, karena ketika kami menikah, dia masih punya pekerjaan tetap, barulah beberapa setelah pernikahan dia resign dari pekerjaannya,tentunya setelah meminta pendapatku.

I’m okay

‘Serius?”

i mean it, aku berkata demikian bukan buat membuat dia senang,tapi aku memang tidak keberatan, karena aku tau, dia sudah jatuh cinta dan mendalami dunia lukis melukisnya sejak dari kapan. Jauh sebelum dia jatuh cinta kepadaku, mungkin.

ini passionnya, dan passion, adalah penderitaan.

Apa gunanya pernikahan, kalau cuma mau berbagi bahagia, tapi tidak derita?

dan sekarang, masalahnya bukan itu  masalahnya adalah banyak diantara teman sejawatku yang sama sekali tidak peduli sama isi otak mahasiswa mahasiswa ini

tu kan, aku balik ke masalah tadi lagi

“Apa aku udahan aja ya?”

lelakiku meminum kopi hitam yang selalu dibuatnya sendiri, berhenti menatap kanvas, beralih menatapku.

‘Kamu yakin, trus anak anak itu ama siapa dong? kan katanya kamu doang yang peduli ama isi otak mereka”

“ya, ga aku doank sih, tapi ya… lebih banyak yang kaya aku ceritain tadi, gitu “

“Mencerdaskan kehidupan bangsa lo sayang“

Dia berhenti sejenak, memlankan suaranya, kali ini tidak lagi memandangku.

“Lagian, untuk sementara aku juga belum bisa bantu kamu apa-apa”

Aku menghela nafas, mereda, mengambil teh. Ya, aku tidak pernah suka kopi. Aku kemudian  memeluknya yang sudah kembali tenggelam dalam warna warna di depannya.

“Hei, aku ga ada maksud buat..”

“Iya, aku tau, dan kamu juga harus tau. kalau aku percaya kamu, bahkan dibanding diriku sendiri, tapi sebagai suami yang baik, aku harus membuatmu mempertimbangkan  apa yang kamu mau, kalau selalu mengiyakanmu, tentu tidak seru” potongnya bijak.

Aku memeluknya erat, tak sengaja pandangan mataku  terhenti di lemari, sebuah kamera yang masih terletak damai dalam kotak plastik.

**

“Serius?”

“Serius, pokoknya aku mau kamera buat mahar” jawabku

“Kenapa?”

“Kamu taulah, keluargaku, tetangga,  semua yang di sekitar kau suka menghitung dengan uang uang dan uang, aku tidak mau semua nya dihitung dengan uang”

“Tapi orang juga tau lo kamera itu harganya berapa’

“iya, tapi wujudnya kamera bukan uang. beda lah pokoknya, lagian keren gitu”

“iya sih, keren” ucapnya kemudian.Setuju.

**

Aku mengeluarkan benda itu dari kotak plastik.

“Lah dibuka juga to akhirnya?’

Dengan santai dia menyalakan rokoknya,melewatiku, kemudian kembali duduk menghadap kanvas.

“Ada acara di kampus,peringatan hari kartini, lomba modeling-modeling gitu buat dosen”

“Seneng banget kayanya”

“Setelah sekian lama, akhirnya aku motret lagi”

Aku kemudian memandang suamiku “Kapan ya aku terakhir motret?”

‘Aku boleh ke kampus kamu?” tanyanya tanpa menghiraukan tanyaku

“Ngapain, kan aku ga ikutan lomba ?’

“Liat kamu motret” jawabnya sambil menggores gores kuasnya di kanvas.Masih.

“Kamu cantik kalo lagi motret”

“Gombal abis” tapi aku tetap tersenyum senang dibohongi seperti itu.

*

Di hari ini peringatan pahlawan wanita ini, para dosen wanita di kampusku berlenggak lenggok manja dengan kebaya mereka. Aku tidak tau apa hubungannya dengan perjuangan beliau dulu, tapi biarlah,  yang penting bangsa yang besar adalah bangsa yang memperingati hari kelahiran pahlawannya,

Namaku akhirnya dipanggil. Bukan oleh MC, tapi oleh para kartini masa kini yang ingin di abadikan kecantikannya. Memang ada beberapa dosen laki yang juga memegang kamera, tapi  entah kenapa cewek – cewek lanjut usia ini lebih suka di potret olehku, lagian aku berani taruhan kalau hasil fotoku jauh lebih bagus daripada hasil foto mereka.

ah, akhirnya memotret lagi di hari penuh kebaya ini.

ironisnya, aku cuma pake  kemeja dan jeans,

karena memang hari ini boleh sedikit lebih santai dari hari biasanya, kamera, jeans, flannel. i miss this feeling.

Menjadi diriku sendiri

walau , sebenarnya ada bagian dari diriku yang  sebenarnya juga ingin ikut serta.

“Sayang banget yang kamu ga ikut’

ucap suamiku ketika sampai di rumah aku memperlihatkan hasil jepretanku ketika kami berbincang di sofa ruang tamu

“Kebaya, uh, udahlah, juara pasti”

“Kamu tuh, ingat, kita bukan anak SMA lagi” ucapku

“Aku mungkin boong, tapi apa gambar itu bisa boong?”

Aku kemudian mengikuti arah tangannya, ke sesuatu dalam bingkai raksasa di ruang tamu kami

sesuatu? soalnya lukisan bukan foto bukan, benda ini perpaduan keduanya.

Di bagian lelaki adalah foto yang aku ambil, saat dia bergaya dengan  satu satunya jas yang dia punya, dan di kanannya adalah aku yang berkebaya, dalam goresan warna warni kanvas hasil karyanya. sebuah benda luar biasa yang berfungsi sebagai satu-satunya foto preweding kami.

**

“Kalau aku jadi resign gimana?” tanyaku tiba tiba, ketika kami nongkrong di teras rumah malam itu.

Dia mengisap rokoknya. Panjang, Dalam.

“Gapapa, kalau kamu emang udah mikirin matang-matang, kita mulai dari nol”

“Modalnya?” tanyaku kemudian,

“Ya…kuras tabungan”

“Trus, rencana jalan jalan ke Tibet?”

“ya..ntar-ntar aja”

“Atau kita bikin usaha apa aja gitu,aku bisa minjam bank de kayanya” ucapku memeluk lengannya.

“Oke, bisa jadi”

tiba-tiba dia mematikan rokoknya di asbak.

“Kamu tau, enaknya bahas ini sambil makan di luaran,”

“Boleh, tapi siapa yang traktir?”

“Aku donk, yang  suami kan aku” jawabnya sombong.

Aku tertawa

“Tumben?”

“Yang order sketsa wajah hari ini lumayan, yuk jalan. Makan pinggir jalan ini, gampanglah”

**

“Kamu yakin?” tanyaku di suatu pagi, setelah pembicaraan kami di luar beberapa malam yang lalu.

Suamiku ini mengangguk mantap, kemudian menyesap kopinya.

keningnya berkerut kemudian menatapku heran.

“Tumben pas”

Aku tersenyum

“Kayaknya aku bakal ambil tawaran temanku ini ”

“Kenapa? katanya gak cocok di kantor”

“Aku pengen ke Tibet” jawabnya pendek di ikuti sebuah senyuman yang sekaku membuatku luluh.

“Kamu sendiri, yakin mau stay di rumah aja?”

“Ga sih” jawabku pendek

“Palingan aku mau break bentar, abis itu nyoba di kampus lain, siapa tau  aku ada rejeki dan  nemu iklim yang cocok di tempat sana. Yang sekarang sih, just not my cup of coffee

Not my cup of tea, keles” ucapnya kemudian

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s