Anda GAlau kaMi Ada!

Lelaki itu bangun, duduk di pinggiran ranjang di sebuah hotel berbintang. Di jendela, masih terlihat lampu lampu yang menjadi perantara gelap dan terang, maklum, masih dini hari, gelap masih belum berganti pagi.

Pandangannya menerawang, kosong, seperti ruang di kepalanya, mungkin juga rongga di hatinya. Dan ini bukan pertama kali.

Semalaman dia tidak tidur. Ada banyak alasan,  bukan karena dia sibuk berbagi peluh dengan perempuan di belakangnya ini, tapi juga karena dia memang tidak biasa tidur di ranjang seempuk ini, apalagi, dia memang sudah biasa menjadi mahluk nokturnal, ide-ide yang biasa di tuangkan di kertas dan kanvasnya biasa muncul setelah laut malam.

Dia terlihatmengggit saja rokok di bibirnya, tidak menyalakannya, saat tiba-tiba mahluk cantik yang lebih tua beberapa tahun darinya memeluknya dari belakang

Epic.

Are you okay honey?” tanya si perempuan dengan suara manja sambil tangannya bergerak menuju dada si lelaki.

Lelaki memegang tangan si perempuan, mengusap-ngusapnya pelan.

“Kamu tidur lagi aja, im okay” ucapnya kemudian

tapi si perempuan malah menopangkan kepalanya di bahu si lelaki

“Aku tau kamu ga oce, ada apa?” ulang si perempuan sambil mengusap rambut si lelaki, kemudian perlahan menggantinya dengan gerakan menggosok  dan mengusap secara melingkar di kulit kepalanya . Dia sudah cukup lama bersama si lelaki ini, dia tau hal ini adalah salah satu favoritenya..

“Aku merasa kosong lagi, hampa” jawab si lelaki jujur,

Si perempuan tersenyum. Dia juga sudah sangat hafal kalau ini juga titik lemah si lelaki, untung saja ini bukan sebuah interogasi.

“Masih yang kemaren-kemaren itu?”

Si lelaki mengangguk.

“ Gini, kamu tau, setelah beberapa kali kamu cerita…”

dia masih memutar tangannya di kepala si lelaki

“Sepertinya aku tau masalah kamu apa”

si lelaki memandang si perempuan, tepat di bulatan matanya.

“Bentar” ucap si perempuan, kemudian berdiri tanpa ada apapun yang melekat di tubuhnya.

Dia  memanaskan sejenak  pot listrikyang tak jauh darinya, kemudian menuangkan teh ke dua cangkir  tanpa menambahkan gula sachetan yang juga sudah tersedia disana.

“Minum dulu”

si perempuan kemudian meminum teh di tangannya, diikuti si lelaki.

“Udah enakan?”

Si lelaki cuma tersenyum “Kamu tau kalau aku lebih suka kopi”

Perempuan menggeleng “ No , not with me, teh lebih sehat”

“Jadi begini” si perempuan kemudian duduk di sebelah lelaki, nadanya berbeda

“Kamu kehilangan sesuatu yang dulu sangat kamu percaya” lanjutnya sambil menyesap lagi teh di tangannya.

“Apa? kehilangan? Kehilangan apa?” tanya si lelaki kemudian

“Agama”

“C’mon” Si lelaki setengah protes, setengah tidak percaya

Hei, im serious you know, aku-tau-kamu-banget”

“Aku pernah baca, setiap mereka yang beragama, pasti akan merasa ada yang kurang, ketika mereka tidak melakukan apa yang di suruh agama, atau lebih jauh melupakan agama, bedanya cuma soal mengakui kekosongan itu atau tidak, dan aku tau pasti itu yang terjadi ama kamu.”

Si Lelaki menghela nafas.

“Kamu harus coba temukan lagi, aku percaya itu yang akan mengisi ruang kosong kamu”

“ OK, kalau memang faktanya demikian, lalu bagaimana bisa, kamu tidak pernah merasa kosong?”

Si perempun tersenyum

“Kamu tidak akan pernah kehilangan apa yang kamu tidak pernah punya, apalagi percaya dari awal” jawab si perempuan.

**

Si Lelaki sedang berada di jalanan, ini sudah beberapa hari semenjak perbincangannya dengan si perempuan. Peluh membasahi kening dan sebagian wajahnya. Dia terlihat mulai menggaruk terutama bagian jeggot dan kumis tipisnya, flanelnya juga sudah mulai basah. Tak lama, dia terlihat duduk di sebuah warung kecil, di  sebelah gang dimana terdapat sebuah rumah agama yang demikian besarnya : tempat yang dulu diajarkan dua orang tuanya, dan juga guru-gurunya untuk menemukan agama, sebuah tempat yang dulu menjadi tempat singgahnya

Sebuah air mineral dingin ( dan sebatang rokok) menyegarkan tenggorokannya.

“Di belakang masih ada agama gak Pak ?” tanya si lelaki pada si pemilik warung.

“Mungkin Den, biasanya jam segini masih rame sih, masih pada kumpul, teriak- teriak, belakangan bahkan sampe malam. Masuk aja den, kebetulan  ada rombongan apa gitu yang datang dari Ibukota”

Si lelaki manggut manggut. menghabiskan tehnya, membuang rokoknya yang sebenarnya masih cukup panjang.

“Makasih pak, kembaliannya buat bapak saja”  Si lelaki menyodorkan uang, si bapak mengucapkan terimakasih

Si lelaki kemudian masuk ke rumah agama, tak lupa membasahi wajah dan kepalanya yang sudah sangat panas. Dia kemudian bergabung dengan orang-orang yang sebagian besar memakai baju agama, terlihat rapi, suci dan bersih, sangat kontras dengan kaos, flanel dan jeans lusuhnya. Si lelaki mencoba melihat apakah ada agama atau seuatu tentang itu yang dulu dia kenal, yang mengingatkannya. tapi ternyata tidak, sudah tidak ada agama disana, cuma ada cerita tentang ajakan untuk membenci dan membedakan, kemudian cerita tentang hadiah yang menggiurkan, serta hukuman yang sangat menakutkan.

Tidak lama, dia kemudian keluar dari gedung besar tersebut, keluar dari gang dan tersenyum pada si bapak di warung tadi.

“Nemu den?”

Lelaki itu menggeleng.

**

“ Emang gak gampang, menemukan agama buat ngisi lobang kamu itu  kayak cari mutiara, ya kudu nyelam”

“Tapi emang gak ada” protes si lelaki

“Emang kamu nyelam berapa lama?  berapa jauh? kamu gak tau kan, siapa tau sesudah kamu keluar agama ada disana. Kamu itu kurang sabar, baby”

Lelaki dan perempuan itu bertemu lagi di salah satu coffee shop yang membanjiri di kota mereka. Si Perempuan baru pulang dari kantornya,masih dengan blus, cardigan. rok span hitam, stocking dan stiletto, sementara si lelaki baru pulang dari pencarian agamanya untuk hari  itu.

Si perempuan mengeluarkan beberapa buah buku dari tote-bag nya

“Nih, sengaja aku bawain buat kamu’”

Si lelaki melihat-lihat buku tersebut

“ Yang ini udah pernah aku baca nih”

“Pokoknya baca lagi aja, siapa tau kamu menemukan sesuatu yang bisa ngisi kekosongan kamu”

 “Kadang kadang aku heran sama kamu – ” ucap si lelaki, sambil malas malasan membalik balik lembaran buku. “untuk orang yang dari dulu mengaku tidak pernah punya agama, menurutku kamu tau lebih banyak daripada aku, bahkan mungkin jauh lebih banyak dari orang-orang di luar sana”

Perempuan itu tersenyum, mengaduk-ngaduk green tea nya.

“Kamu tau, sekarang kita lagi dimana?”

“Coffee shop”

“Kamu juga tau kan kalau aku ga pernah ngopi tapi aku tau lebih banyak tentang kopi, at least di banding kamu yang cuma tau merk-merk kopi sachetan?”

“Iya, OK, tau, tapi..”

Si Lelaki kemudian berhenti sejenak, membenarkan posisi duduknya, kemudian menyesap Mandailing tubruknya.

“Ga tertarik cari dan belajar sama-sama, gitu?” tanya si lelaki kemudian.

“Aku tetap lebih milih teh” jawab si perempuan.

**

Si lelaki kembali bertualang di jalanan, dan entah kenapa kakinya membawa dia kembali ke warung beberapa hari yang lalu. Mungkin takdir mengatur demikian.

Dia bertemu lagi dengan si bapak yang dia duduk santai di sebuah kursi plastik depan warungnya

“Wah, aden , apa kabar. sehat?”

“Sehat pak” jawab si lelaki

Kemudian pembicaraan mereka berlanjut, si bapak ternyata orangnya santun dan cerdas, awalnya si lelaki cukup heran dengan tutur kata si bapak yang sopan dan halus, pemilihan diksinya juga luar biasa, ternyata setelah lama bercerita si bapak dulunya seorang pejabat di Dinas Pendidikan kota ini,namun di bebas tugaskan, dicukupkan demikian, karna suatu hal.

wajar.

Tak terasa sudah hampir satu jam si lelaki bercerita, sebelum si bapak menutup dengan sebuah pertanyaan.

 “Masih nyari agama, Den?”

Si Lelaki kaget

“Emangnya kenapa pak?”

“Kebetulan mulai hari ini, bapak jualan agama”

“Murah kok den, silahkan di lihat-lihat dulu”

Si bapak membuka kopernya kemudian kembali bercerita panjang lebar tentang isi koper tersebut.

**

Sekarang Si lelaki dan Si perempuan terlihat  sedang berbincang di sebuah sofa di ruangan kantor. Kedudukan si Perempuan  yang tinggi di perusahaan ini membuatnya punya ruangan sendiri yang cukup nyaman. Sebenarnya keduanya berjanji untuk bertemu di luar sore ini, tapi ternyata si perempuan harus merubah jadwal acara perawatan tubuhnya, karena besoknya ada business trip  mendadak keluar kota. Makanya si perempuan meminta si lelaki datang ke kantornya sore ini, dimana dia sudah tidak begitu sibuk

Si lelaki terlihat mengeluarkan bungkusan kertas dari dalam ransel buluk yang selalu di bawanya kemana mana.

“Apaan nih?”

“Liat aja”

“O”Ternyata reaksi si perempuan tidak sesuai ekspektasi si lelaki

“Kok gitu doank, aku udah nemu apa yang aku cari lo”

“Yaelah, itu bukan agama keles, bukan itu yang kamu butuh ! ”

Si perempuan kemudian kembali sibuk dengan kaca kecil di tangannya.

“Jadi ini KW ? ” Si lelaki bertanya lagi. Penasaran

“Yah, kalo KW mah masih ada agama-agamanya juga, ini mah bungkusnya doank Sweety”

Si lelaki membuka plastik dengan tulisan besar AGAMA tersebut, kemudian sebuah tiupan angin kosong langsung menerpa wajahnya!

“Tuh kan aku bilang juga apa!” tukas si wanita.

Muka si lelaki berubah, cmapuran antara kecewa, kesal dan penasaran

“Tunggu! kok kamu tau sih?”

“Say, Aku ini cewek, udah khatamlah ama shoping-shopingan dan barang-barang ginian, kamu sih, kemakan orang jualan, pasti kemaren iya-iya doank kan pas  di ajakin ngobrol panjang lebar”

Si lelaki mengangguk.

“Masa agama sachetan, aneh-aneh aja”

Si lelaki menggaruk-garuk kepalanya.

“Buku-buku yang kemaren aku bawain di baca gak?”

lelaki itu menggeleng. Pelan.

“Pantesan gampang ditipu” ucap si perempuan sambil kemudian melepas blazernya.

By the way, kamu gak gerah?”

**

Sorenya si lelaki sengaja datang ke tempat dia kemaren membeli agama, tapi ternyata si bapak sudah tidak ada, digantikan seorang pedagang baru yang lebih muda.

“Maaf kang, bapak yang jualan kemaren disini kemana ya?” Si lelaki mendekati si pedagang.

“Bapak yang jualan agama ya Mas?”

“Iya kang”

“Wah Mas telat, si Bapak udah gak disini Mas, jualannya laris manis,  kabarnya sih udah jadi orang besar di Ibukota”

Si lelaki tertawa.

“Saya kan kesininya baru kemaren kang,  masa udah jadi orang besar aja, cepat amat, Si akang bisa aja becandanya”

“Yah Si Mas dibilangin ga percaya, masa saya boong. kalau jualan agama itu pasti laku Mas, laris manis tanjung kimpul”

Si lelaki tersenyum

Et dah si Mas. Serius saya mah. ini aja saya juga jualan Mas, lumayan, ini aja udah hampir habis. Pokoknya kalau laris saya juga mau mengubah nasib lah Mas, mau ke ibukota juga, mau jadi selebritis. Kan oke, kang Uru : dari penjual agama jadi selebritis

“Gitu ya kang”

“Iya Mas,begitu, Mas mau beli ?  saya kasih diskon lah, mas beli dua, gratis satu, gimana?“

“Makasih deh kang, saya jalan dulu”

si lelaki langsung tak tertarik

“Lah si Mas, serius ini, agama yang ini bikin damai mas, ada yang bikin pinter juga, nah kalo yang ini, kerjaan lancar, semua-semua lah mas pokoknya.

Si lelaki terus berjalan

“Mas, beli dua gratis dua deh, ayolah, mau saya panggil lagi kan?  udah saya panggil nih, masa ga balik?”

Si lelaki terus berjalan, sementara si pedagang terdengar mulai mengeluarkan sumpah serapah.

END

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s