Truth OR Truth?

Lelaki itu  membuka matanya, dia ada di dalam kaca

Kebiasaan,Ternyata cukup lama dia tertidur di samping sopir.Setelah mengusap wajahnya ,matanya menangkap wajah lain di kaca kecil tersebut.

Perempuan. Seorang saja.

Reflek lelaki ini tersenyum. satu lagi kebiasan buruknya yang lain.

 Tanpa dia duga, perempuan di dalam kaca ternyata tersenyum balik.

Dia menggeleng sendiri, tersenyum ( lagi ) ke jalanan yang basah sambil mengusap rambutnya ke arah belakang kepala.

“Stasiun masih jauh ya pak?” terdengar suara merdu.

Lelaki di penghujung dua puluhan ini melirik lagi ke spion.

“Bentar lagi kok neng, di stopan depan tinggal belok kanan trus lurus”, jawab pak supir yang sedang bekerja.

“Deket kok, kalau mau bareng aja, aku juga mau ke stasiun” ucap lelaki tersebut dengan percaya diri demi melihat wajah bingung si perempuan yang berpikir tadi angkot ini langsung lewat di depan stasiun.

“Mau kemana?” tanya si lelaki. Basa basi

“Ibukota”  jawab lawan bicaranya pendek.

**

Keduanya turun dari angkot, si lelaki sudah membayar duluan ongkos untuk dua orang sekalian menolak kembalian dari si supir. Dia kemudian memimpin jalan ke stasiun yang ternyata tidak begitu jauh dari pemberhentian mereka.

 “Kereta jam berapa?” tanya si lelaki sambil membuka ponsel di tangannya

“Jam sebelas” si perempuan dengan rok panjang tersebut melangkah pelan, sesekali terlihat mencoba mengejar langkah si lelaki

Entah sadar langkahnya terlalu cepat, atau cuma sebuah kebetulan, si lelaki berhenti

“Masih lama, mau ngopi dulu?”

Si perempuan mengangguk. Manis.

**

“Ini pertama kalinya aku balik naik kereta”

terang  si perempuan ketika mereka berjalan beriringan menuju warung kopi tenda belakang stasiun.  Langkah si perempuan terlihat terseok-seok sambil menarik koper pink berukuran sedang di jalanan  belakang stasiun yang tidak terlalu mulus.

“Emang biasanya ke ibukota naik apa?” si lelaki mengeluarkan tangannya dari kantong jaket jeansnya, mengulurkannya pada si perempuan, bermaksud menawarkan bantuan untuk membawakan koper. Si perempuan tersenyum dan memberikan kopernya.

“Kamu mau ke Ibukota juga?” si perempuan malah bertanya balik

Si lelaki menggeleng,

“Jemput teman”

**

Keduanya sudah sampai di warung tenda yang menyediakan menu sederhana seperti kopi dan minuman hangat lainnya, juga makanan semacam mie rebus, roti bakar dan kawan-kawannya.

Keduanya sudah duduk berhadapan, makanan dan minuman pun sudah dipesan, mata mereka berpapasan. Senyum mereka berjumpa lagi.

Si lelaki  kemudian sibuk mencoret coret buku yang dia keluarkan dari tas kecilnya, si perempuan juga diam, memainkan ponselnya.

Tiba-tiba seakan ada jeda antara mereka.

“Ngomong donk, apa gitu” tukas si perempuan setelah beberapa ketika.

Si lelaki berhenti mencoret coret

“Ngomongin apa ya? ada ide?”

Si perempuan mengangakt bahunya, si lelaki memain mainkan pensilnya kemudian memandang si perempuan, tepat di matanya.

“Mau Truth or Truth ga?”

“Truth or Truth?”

Si lelaki menyandarkan punggungnya

“Mirip Truth or Dare, tapi kita gak pake dare nya”

“Lah, trus gimana donk?”

Si lelaki tersenyum lagi

“Kamu duluan deh yang nanya” tukasnya cepat.

Si perempuan kaget, tapi  kemudian dia terlihat berpikir, jarinya di gerak gerakkan di dagu. Manis.

“Okay,kerja apa?”

Si lelaki tertawa.

“Yah, sayang banget pertanyaannya gitu doank”

Si perempuan ikut tertawa.

“Ya aku kan bingung mau nanya apa” matanya berbinar,

“Ok, misalnya gini nih, …kamu pernah selingkuh dari cowok kamu yang sekarang?”

Si perempuan kaget, tapi kemudian kembali menguasai diri.

“Apa sih, kepo” si perempuan melengos.

“Truth and truth” ucap si lelaki sambil mengedipkan matanya

“Gimana ya?” si perempuan kemudian meletakan kepalanya di meja, wajahnya berubah menjadi lucu. matanya yang bulat menggelikan.

“Lama nih mikirnya, pernah lah ya”

“Belum. Belum pernah, tapi naksir yang lain pernah, tapi aku bilang ke dia kok” potong si perempuan cepat.

“Giliran kamu”

si lelaki seakan tidak peduli dengan keterangan si perempuan.

“Pertanyaan yang sama”

Orderan mereka datang, kopi untuk si lelaki dan si perempuan dengan jeruk panasnya.

“Pernah”  jawab si lelaki setelah mengucapkan terimakasih pada yang mengantarkan minuman mereka.

“Sama siapa?” si perempuan lanjut bertanya

“Satu satu non, sabar, nanti ada gilirannya”

si lelaki menyesap kopinya.

“Kamu lagi ada masalah apa sih ama cowok kamu?” tanya si lelaki tiba-tiba.

Diam sebentar, si perempuan kemudian menghela nafas,

“Gak ada masalah apa apa kok”

“Masa? truth or truth lo”

“Iya, dia lagi sibuk aja”

Si Perempuan kemudian mengaduk ngaduk jeruk panasnya.

“Aku maen ke kota ini  sendirian aja, dia fine-fine aja tuh. Aku maunya dia nyusul aku, tapi..”

“Klasik abis”

“Maksudnya?” si perempuan keheranan.

“Iya, klasik, cewek ngambek karena cowoknya sibuk kerja, padahal itu kan buat kamu juga”

Si lelaki berhenti sejenak disan

 “Tebakanku kamu itu…”

Lelaki kemudian mengetuk ngetukkan jarinya di meja

 “Dua puluh lima ?”

“Dua puluh enam” ralat si perempuan

“Tuh kan, berarti udah mau serius kan? pasti lah  perlu nabung”

Si perempuan menikmati jeruk panasnya

“Ia, aku tau, tapi masa bentar doank gak bisa?”

Si  lelaki memandang si perempuan, kemudian perlahan memegang tangannya

“Cantik,diamond ya?”

Si perempuan mengangguk sambil membenahi rambut yang menutupi bagian telinganya

“Dia yang beliin”

Tangan lelaki tiba tiba menggebrak meja,

“TUH KAN, AKU BILANG JUGA APA” si lelaki tiba-tiba menaikkan volume suranya, membuat pengunjung yang lain melihat kearah mereka

Si perempuan tertawa, kemudian menutup mulutnya.

“Sorry, tapi bener kan, dia kerjanya juga buat kamu, bener gak?”, kali ini si lelaki berbisik

kemudian keduanya tertawa lagi, bercerita lagi, sampai terdengar bunyi kereta bersahut-sahutan.

Si lelaki melihat jam di ponselnya “Masih belum kok”

“Temen kamu gimana?” tanya si perempuan

“Belum, ada masalah ama keretanya” jawab si lelaki cepat

“Udah jalan berapa sih ama dia?” lanjutnya kemudian

Si perempuan menikmati lagi minuman di hadapannya

“Mmm.. berapa ya”

Si lelaki menikmati lagi wajah perempuan di hadapannya

”Baru sih sebenarnya, tujuh  bulanan”

Si lelaki manggut-manggut

“ Gak keberatan kan kalo aku merokok?”

“Santai” jawab si perempuan “Eh, Sorry, jadi curhat gini”

“Ah,aku mah udah jadi tong sampah semenjak balita jadi …santai ” si lelaki menggenggam tangan perempuan.

Im all ears” lanjutnya kemudian tersenyum.

“Ya itu aja sih”

Si lelaki menatap mata si perempuan. Dalam.

‘Aku sebenarnya udah minta putus dua kali” ucap si perempuan kemudian

“Tapi dia nya ga mau”

“Dia masih sayang”

Ucap si perempuan terpatah-patah

“Dia pasti lebih tua ya?” tebak si lelaki, melepas genggaman tangannya

“Tau dari mana?”

Hujan turun dari luar, si lelaki menyesap kopinya, dan rokoknya masih beloum menyala.

“Tuaan dia sepuluh tahun” jawab si perempuan, kemudian dia balik menatap si lelaki

“Salah ya?”

lelaki itu menggeleng

“Kamu tau dari mana sih kalau dia lebih tua”

“Nebak aja, biasanya  jarak segitu emang agak cendrung… beda”

Lelaki itu menyalakan rokoknya

“Pasti sering berantem juga ya?”

Bibirnya tidak menjawab, tapi matanya yang basah, bersuara

“Masih sayang kan ya?”

“Masih…sih” jawab si perempuan pelan.

Kemudian keduanya berdiam-diaman, si lelaki sibuk mencoret coret lagi notes di depannya, si perempuan masih dengan ponselnya

“Lagi ngapain non, sibuk banget dari tadi?” Si lelaki kembali memecah kesunyian

Si perempuan tersenyum, “Cewek ya gini, apalagi? update ini update itu,biasalah”

Dia kemudian menaruh handponenya di meja.

“Oke, sekarang giliran kamu yang cerita, dari tadi aku mulu”

“Duh, apa ya, hidup aku tuh flat banget, cendrung ke menyedihkan malah”

ironisnya, lelaki itu tertawa sesudah berkata demikian.

“Masa? kok aku ga percaya ya, kayanya hidup kamu baik-baik saja”

Lelaki itu tertawa, memutar-mutar rokok di tangannya.

“Teman teman aku juga bilang gitu, ga tau kenapa. Tapi, kenyataan justru sebaliknya,  banyak banget yang aku pikirin yang aku takutin, I,m so far from okay..”

Mata sayu si lelaki memandang ke luar warung.

“Hujan” ucap si lelaki.

 “Kenapa?Kangen pacar, atau mantan??”

Lelaki itu menggeleng

“Kalau cuma buat kangen-kangenan sih gak harus nunggu hujan”

“Maksudnya?”

“Ya, semua bisa jadi mesin waktu kan? kopi, mi rebus, bahkan stasiun tua ini juga…” lelaki ini masih akan terus bicata kalau si perempuan tidak memotongnya, tepat setelah dia melihat ada ruang hampa di mata si lelaki.

“Kenapa jadi sedih-sedihan gini sih, truth or truth lagi yuk?” Si perempuan kemudian memberikan senyum termanisnya, Mungkin mencoba menghibur si lelaki.

Tapi si lelaki cuma diam, masih menatap keluar

“Dia udah gak ada ”

“Sorry” ujar si perempuan. Cepat. Lirih,sebelum keduanya  berdiam-diaman lagi.

Hujan belum menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti.

“Yuk jalan, bentar lagi nih” Si lelaki melihat jam di ponselnya.

“Masih hujan tapi”

Si lelaki berdiri, membayar minuman mereka, kemudian membuka jaket jeansnya

“Yuk”

Si perempuan menggelengkan kepalanya tapi  kemudian tetap bergabung di bawah jaket si lelaki.

**

Walau sudah ditutupi jaket jeans di lelaki, Hujan tetap menyampaikan hakikatnya.

Mereka basah.

Dan kini mereka berhenti di salah satu sudut pintu masuk stasiun

Si perempuan mengangkat ponselnya yang tiba-tiba berbunyi.

“Iya, aku lagi ama temen-temen kok” ujarnya kemudian tersenyum pada lelaki di yang langsung membalasnya,

kemudian, si perempuan melanjutkan pembicaraan di telpon pintarnya tersebut.

“Aman?’ tanya si lelaki saat si perempuan selesai menelpon

“Apa dia punya cewek lain ya?”  Bukannya menjawab, si perempuan malah memberi pertanyaan baru.

Si lelaki memegang bahu si perempuan, menatapnya serius

“Menurut kamu gimana?” Sama, si lelaki juga lagi lagi memberikan pertanyaan.

“Mungkin aja sih” ucap si perempuan kemudian tertunduk. Merajuk

Si lelaki memindahkan satu tangannya dari bahu ke dagu si perempuan.

“Kalau dia bisa punya, kenapa kamu ga?”

Detik berikutnya, bibir mereka sudah bertemu.

“Sorry” ucap si lelaki setelah beberapa saat.

Si perempuan cuma mengangguk.

Si lelaki kemudian mengambil pulpen dari tas nya, mencoret-coret  di tangan si perempuan

In case of emergency” ujarnya kemudian membungkukkan badan

Si perempuan  tersenyum geli

Thanks, i will call u later” ujarnya kemudian dan meninggalkan si lelaki sendirian.

**

Di pintu kedatangan stasiun. Si lelaki tadi terlihat duduk menikmati segelas kopi di sebelah si penjual kopi sachetan yang di lengkapi termos , tak lama, matanya seperti menangkap sesuatu.

 “Bang, saya titip jaketya, trus, ini buat kopi yang tadi, kembaliannya buat abang aja”

Si abang cuma menggelengkan kepala. Dia sudah hafal sekali dengan kebiasaan lelaki yang sudah berlari menembus hujan tersebut.

**

Si  lelaki masih memandang si perempuan yang sedang bersandar, jelas, dia menunggu reda, berbeda dengan dirinya yang sedang menunggu tanda.

Si perempuan kemudian melihat jam tangannya

Sekali

Dua kali

Tiga

this is it!

“Hujan kayak gini mah bakal lama” Si lelaki membuka suara

Si perempuan memencet ponselnya, melirik si lelaki sejenak, kemudian kembali  mamainkan ponselnya.

Si lelaki kemudian tersenyum pada dirinya sendiri, mengisap rokoknya, hujan masih deras, niatnya juga masih keras.

“Boring ya, nungguin hujan gini, kamu ada ide gak?”

Si perempuan menghela nafas.

“ Mau Truth or Truth?”

Alih alih  menjawab, si perempuan malah memasang headphone ke telinganya.

Si lelaki membuang rokoknya ke tanah, menginjaknya, kemudian menertawakan dirinya sendiri.

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s