Patahati, lagi

Aku sudah mematikan lampu kamar, tapi  cahaya lampu taman yang masuk dari jendela masih memberiku sedikit penerangan.

Aku tidak benar-benar dalam kegelapan.

Aku memeluk Mr. Panda, boneka raksasa  yang  sudah menemaniku beberapa tahun belakangan,  memandang wajahnya yang lucu.

“Kau tau cara paling ampuh untuk melupakan patah hati?’ tanyaku kemudian

“Tidur?”

Tentu saja tidak ada suara yang keluar dari mulutnya yang dijahit itu.

Jadi, tadi siang adalah pertemuan ku pertama kali dengan seorang lelaki yang dikenalkan temanku. Keren, pintar, ramah, dan tentu aja aku menyukainya. Dia? entahlah, aku tidak begitu yakin.

Dingin.

Aku jadi  penasaran, diumur yang sudah hampir kepala 3 ini, apakah aku masih punya kesempatan bertemu dengan pangeran berkuda putihku, atau aku memang ditakdirkan untuk sendirian?

Air mata menetes, aku terisak, dan kemudian aku benar-benar tertidur

**

Ada cahaya super terang yang menyinariku,

Saat kemudian  membuka mata, aku sudah  di dalam ruangan penuh buku seperti salah satu ruangan Kastilnya Beast di Beauty and the Beast nya Disney.

Bedanya tidak ada  Beast disana, di gantikan Mr.Panda berdiri yang seakan tersenyum padaku.

“Hai” sapanya pendek.

kali ini aku tidak mengarangnya, suara itu memang berasal dari boneka raksasa yang ada dihadapanku tersebut.

“Kamu?’

“Selamat datang di perpustakaan langit” kali ini suaranya membesar, namun tidak menjawab pertanyaan yang masih memenuhi kepalaku

“Ah, ini membosankan” lanjutnya kemudian sambil membuka kepala Pandanya,kemudian dia berhenti sesaat.

“Bisa bantu?” ucapnya sambil membalikkan badan.

Aku pun membuka risleting boneka pandanya.

“Ah, akhirnya” ucapnya sembari membuang kostum  tersebut sembarangan.

“Terimakasih” lanjutnya kemudian

Sekarang didepanku sudah muncul lelaki dengan rambut gondrong berantakan, berkacamata, dengan flanel, jeans dan sepatu kets bututnya.

“Begini lebih baik” ucapnya tanpa kutanya

“Sorry, Sekali lagi. selamat datang di perpustakaan langit, kami mencatat,menyimpan, merekam setiap perjalanan, ucapan dan pilihan seluruh manusia di bumi ini” lanjutnya. lagi lagi tanpa kuminta.

“Perpustakaan langit?’

Otakku seperti dihantam palu besar, semuanya berantakan, aku sudah mendengar ini dua kali, tapi masih belum bisa menganggap ini nyata.

“Kenapa? patah hati lagi?”

Pertanyaan ini jelas  tidak ada hubungan dengan pertanyanku

Aku diam masih tidak fokus.

“Santai, setiap kita punya jatah patah hati, objeknya saja yang berbeda” ucapnya kemudian, tidak peduli dengan kebingunganku

Aku tau ini mimpi, tapi perlahan  ini semua terasa begitu nyata, aku mengerjapkan mata berharap terbangun di tempat tidurku, disamping boneka panda raksasa, yang tidak bisa bicara

Tapi gagal.

Lelaki di depanku ini masih tersenyum,  dan detik selanjutnya, dia kemudian berjalan meninggalkanku

Beberapa lelaki lain terlihat mondar mandir di sekitar kami, pakaian mereka beda : celana kain, kemeja dan  jas snelli,seperti yang biasa dipakai para dokter. Mereka  terlihat rapi dan professional. Berbeda dengan lelaki tadi, juga denganku yang malam ini entah kenapa hadir dengan baggy selutut, kaos dan hoodie yang kebesaran. Padahal seingatku aku tertidur dengan piyama lucu.

“Kenapa mengajakku kemari?’ Tanyaku tiba-tiba setelah bisa mengikuti langkahnya

“Siapa yang mengajakmu? kamu datang sendiri kok”

**

Saat ini, aku sudah duduk di ruangan berbentuk café, dengan kursi, sayangnya di ruangan ini cuma ada satu meja yang terisi : meja kami. Seolah ini sebuah acara romantis settingan.

Satu piring kosong, sudah dihidangkan di hadapanku, sementara lelaki ini cuma sebuah gelas transparan.

“Sebentar” ucapnya

dan kemudian piring kosong tadi sudah terisi mie goreng favoriteku

“Eh, Tau dari mana?”

Dia menyungingkan senyum nakal itu lagi,

“Aku sudah bilang semua sudah tercatat disini, termasuk hal hal kecil seperti mie goreng favoritemu ini” Dia memeutar jarinya, seolah mengatakan semuanya ada di langit-langit atas kepalaku”

“Dan kau punya akses ke semua data dan cerita ini?” aku bertanya, masih belum menyentuh mie goreng yang sangat menggoda dihadapanku

“Dan bukan cuma aku, kamu juga bisa mengaksesnya”

“dan kau baru saja mengakses catatan langit milikku?”

Dia tidak menjawab, cuma mengedipkan matanya, seolah dia keren untuk itu

“Silahkan”

Aku masih belum bisa menerima semuanya.

“Walau mie itu akan tetap panas karena hukum ruang waktumu tidak berlaku disini, tapi aku sarankan, kamu segera menghabiskanya”

“Kalau aku tidak mau?” balasku tidak mau kalah

“Silahkan tapi asal  kau tau, kau butuh energi’

“Energi? di mimpi?” aku masih belum bisa menerima semua ini.

“Mimpi?  oke ! itu salah satu cara menjelaskan tempat ini”

Dia memberi jeda disana

“Tapi bukan masalah mimpi, tapi sedih dan patah hati juga butuh energi”

Sial. Dia mengerjaiku

Aku menyantap  mie goreng didepanku sementara dia meminum kopinya.

“Ini semacam surga ya?” tanyaku asal, demi melihat berkali kali kopinya mengisi sendiri.

Dia tertawa.

“Mungkin konsepnya kurang lebih sama, semua ada disini” ujarnya menunjuk kepalanya. Atau rambutnya?

Dia kemudian mengambil sebuah cookies dari udara. Pamer.

“Seperti pustaka langit dimana kita sekarang , desain dengan banyak buku ini adalah desain yang kau pilih untuk tampilan perpustakaanmu. Megah, tapi ribet”

“Hah?  memang perpustakaan langit tidak seperti ini?”

“Tidak sama sekali” Jawabnya , kemudian menghela nafas

“ini keinginanmu, dan ada sedikit campur tanganku” sambungnya kemudian, sebelum tertawa puas. Entah karena apa

“Lalu, orang-orang ini?”

“Mereka penjaga, mereka pekerja ..” dia menggantung kalimatnya

“Tapi  ada yang jauh lebih penting  mereka adalah.”

Dengan jarinya  dia memintaku untuk mendekat, ini lebih penting

“Figuran”

Dia tertawa, “ Mereka cuma lewat, biar lebih rame aja”

Dia menikmati lagi kopinya yang sudah direfilll ajaib lagi,  entah berapa kali

“Kamu pasti tidak begitu nyaman kalau disini cuma ada kita berdua”

senyum jailnya muncul lagi

“Yuk kita kemon”

Lagi lagi dia meninggalkanku begitu saja, kakinya yang panjang membuatnya bisa melangkah sangat cepat,

“Ada apa?”

“Biasa, tapi kamu musti lihat”

Dia berjalan sangat tenang, aku mengikutinya dengan penasaran dan kami sampai di sebuah ruangan berbentuk lingkaran, ditengahnya sekarang terdapat mahluk raksasa hitam,  bertanduk dengan mata merah  yang di kelilingi beberapa pekerja dengan semacam tombak cahaya  di tangan mereka.

Mahluk itu  menyerang balik, mencabik-cabik badan mereka dan kemudian tubuh mereka berpendar menjadi Kristal Kristal kecil.

Aku kemudian melihat mahluk tersebut   memanjat barisan buku tertinggi di langit- langit, dan entah kenapa, tiba tiba mata merahnya seperti menatapku!

“Awas!”  ucap si lelaki yang keberadaanya sempat kulupakan sejenak karna mahlukk tadi. Dia  mendorongku cepat saat mahluk itu melesat ke posisiku sekarang.

Aku terhempas, namun masih melihat mereka berdua

Mahluk itu berbicara entah apa.  terdengar sepeti geraman tapi lelaki didepanku ini sepertinya bisa mengerti bahasa mahluk ini.

“ironis, kau tau ini dimana, seranganmu ini pun sebenarnya sudah di….ah sudahlah” ucapnya  sambil kemudian melompat, di udara tangannya membantuk sebuah busur dari cahaya, Anak panah yang melesat cepat dan terang segera memusnahkan mahluk tersebut.

“Pencuri level intermediate” ucapnya seakan membaca pikiranku, kemudian tersenyum lagi.

Serius. lama lama senyuman ini menjadi sangat menyebalkan

“Menurutmu bagaimana sebagian ramalan diciptakan?”

Dia duduk di sampingku. Ikut bersila.

“Pencuri, mereka dikirim oleh tuan tuan mereka para peramal jahat, kami menyebutnya peramal hitam, yang tidak bisa mengakses pustaka langit dengan kekuatan mereka, alih-alih malah mengirimkan bawahan mereka untuk mencuri berita untuk mereka, yang kemudian akan mereka tambahkan”

“Tadi kau bilang, sebagian?” Aku jadi penasaran

“Beberapa peramal, Nostradamus, misalnya, berhasil berkunjung kesini  dan mengakses beberapa kisah penting”

“Jayabaya?” nama itu tiba tiba saja muncul di kepalaku

Dia terlihat berpikir sejenak, “Mungkin, bahkan konon Sidharta berhasil mengakses seluruh buku kehidupannya sendiri”

“Serius?”

“Entahlah, aku juga tidak terlalu tertarik membuktikannya walau aku bisa melakukannya”

“Kenapa?” tanyaku serius

“Kadang, membiarkan sesuatu menjadi misteri itu keren dan menyenangkan” ucapnya

Aku mendadak menyesal menanyakan hal tersebut.

“Jadi, apa semua orang bisa mengakses…ini” ucapku mencoba memilih kata yang tepat

Dia tersenyum lagi, berdiri, dan aku mengikutinya

“Semua orang bisa, tapi tidak semua orang benar benar ingin, lagian paling yang bisa diakses cuma sepersekian, cuma sepenggal yang benar benar kau cari”

ucapnya sambil terus berjalan, dan lagi, tanpa diminta aku mengikutinya.

“Satu hal lagi, beberapa orang kadang mendapatkan akses secara tidak sengaja”

Dia kemudian mengedipkan matanya

“Maksudmu, seperti aku?’

“Yup, walau aku belum bisa memastikan ,kamu memang berhasil memasukinya , atau memang tidak sengaja”

Dia berhenti sejenak, memandang kebelakang, ke mataku yang tertinggal dari langkahnya.

“Jangan dianggap istimewa,  bukan kamu saja sih yang pernah mengakses pustaka langit ini dengan tidak sengaja” ucapnya cepat, kemudian kembali berjalan.

Sekarang kami sudah masuk ke ruangan penuh tiang tiang  tinggi seperti kuil-kuil di yunani

“Kamu pernah mengalami de javu”

Aku mengangguk

“Ya, itu penjelasan paling gampang untuk membukikan bahwa kadang kita bisa mengakses perpustakaan langit milik kita sendiri”

‘Tunggu” ucapku mendadak

“Ada apa?”

“Aku seperti pernah membaca ini, kapan, entah dimana” Jelasku kemudian.

“De javu di ruang pustaka langit, menarik, atau memang sudah terlalu banyak tulisan yang membahas ini..”

Dia menggaruk garuk kapalanya lagi.

“ah, terserahlah. yuk,  sebentar lagi kita sampai” ucapnya  kemudian sambil menarik tanganku

Aku masih mengikutinya, walau aku tidak tau kemana tujuan kami. Aku lebih terpesona dengan arsitektur bangunan, lorong, hiasan dan semuanya yang begitu indah.

“Apa benar  aku yang membangun semua ini?”  masih belum bisa menahan diri untuk bertanya. Tapi tak apa, mahluk didepanku juga sepertinya tidak bisa menahan diri untuk menjelaskan. Walau seandainya ada yang melihat dan mendengar perbincangan kami, ini akan sedikit membosankan.

“Benar, kamu lah sang arsitek”

Dia kemudian berhenti “ Kita sudah sampai, silahkan” ucapnya sambil mundur.

Aku dan dia sudah berhenti di sebuah pintu putih. yang di keliling tanaman rambat di sisi sisinya.

random, tapi aku suka.

Aku memegang gagang pintu, membukanya, dan kemudian aku sampai di tempat yang sangat kukenal :  kamarku sendiri

Aku menghela nafas.

“Ini tidak lucu” ucapku meliriknya yang masuk setelahku.

 Dia menggaruk kepala dan tersenyum menjengkelkan lagi. Untuk yang entah keberapa kalinya

“Sebenarnya memang tidk perlu ,aku cuma mau..” jawabnya

“Pamer” sambungku kemudian.

“Ya, kurang lebih”  ucapanya kemudian duduk di meja kerjaku.

“Jawab,Ini kamarku atau bagian dari ilusiku?” Tanyaku lagi ketika mengamati diriku yang sedang tertidur lelap.

“Tergantung bagaimana kau mendefinidkan nyata atau ilusi sih”

Jawabnya sambil berjalan mendekatiku

sama sekali tidak membantu

“Satu hal yang pasti,  kamu belum mati”  ucapnya kemudian mendudukkanku di kursi depan meja kerjaku.

Dia membuka laci meja paling atas, kemudian mengeluarkan sebuah buku berwarna putih,

“Silahkan, catatan langitmu sendiri” ucapnya santai

“Ini akan menjawab apakah kau akan bertemu pangeranmu atau tidak, kapan, bagaimana dan seperti apa rupanya”

Jujur, aku tergoda untuk membuka buku yang sudah berada di tanganku ini, tapi…

Aku mengembalikan  buku  itu kepadanya.

Dia tertawa

“Kau yakin? mungkin ini bisa jadi obat patah hatimu”

“Aku tidak peduli, lagian kalau aku bisa mengaksesnya lagi lain kali”

Jawabku percaya diri dan untuk pertama kali aku berhasil memberinya senyum yang sama,

“Tidak semudah itu juga sih” dia menggaruk garuk kepalanya

“Bukankah tadi katamu..”

“Ya ya ya, kau bisa mencobanya” ucapnya sambil  membolak balik buku milikku.

Dia tersenyum, kemudian melirikku lagi

“Yakin, ga mau ngintip?’

Aku diam sejenak, menghela nafas.

“Seperti katamu, beberapa hal mungkin lebih baik dibiarkan menjadi misteri”

“Oke Then”  ucapnya pendek.

Dia membuka itu kemudian tersedot kedalamnya, dan detik yang sama..

Aku membuka mata di atas ranjangku, tubuhku penuh keringat,

Damn.

aku mengatur nafas, kemudian meminum air yang memang selalu kusiapkan di sisi tempat tidurku.

Aku memeluk Mr.Panda.

Sepertinya, aku sudah  jatuh cinta lagi, dan  besar kemungkinan akan patah hati lagi.

**

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s