Pilihan

“Jadi, apa masih ada kesempatan untuk kita?”

“Menurutmu?” Balasnya

Aku masih mengingat senyumnya sore itu. Bukan. Bukan cuma sore itu. Kenyataannya, aku selalu mengingat senyumannya. Istimewa sebenarnya bukan kata yang tepat untuk menggambarkannya, karena sejatinya senyumnya lebih dari itu : Senyumnya adalah penyebab tumbuhnya sayap tak kasat mata di punggungku.

Aku tidak menjawab pertanyaan yang keluar dari bibir tipisnya itu, karena jawaban itu terlalu menyakitkan : sebentar lagi dia akan menikah. Bahkan sebelum dia datang ke kota ini sejatinya sudah tidak ada lagi ruang untuk kami bersama, Walau kami masih memaksakan untuk merangkai ruang tersebut dari  sisa waktu yang ada dari kesibukan kami, serta kesibukan dia bersama kekasihnya, yang tidak lama lagi akan  resmi berganti status.

“Aku mau menyudahi ini”

Aku masih diam, memandang ke stasiun yang dipenuhi manusia yang berlarian mencari tempat berteduh. Hujan mendadak turun di  stasiun kotaku yang magis. Wanita ini datang ke kotaku untuk sebuah acara partai dimana dia sudah duduk sebagai salah seorang pengurus utama kader mudanya. Sebuah partai baru yang punya masa depan cerah, untuk mereka dan mungkin untuk bangsa ini kalau mereka tetap bergerak di jalur ini. Rekan rekannya yang lain sudah pulang lewat bandara, kemaren. Tapi dia memperpanjang kunjungannya sampai hari ini  : untukku untuknya, atau mungkin untuk kami. Untuk kejelasan dari akhir sebuah cerita.

“Sebenarnya tak harus berakhir kan, toh, selama ini kita baik baik saja” ucapku. Lirih.

“Ini tidak adil”

Dia memandang langit sore itu.

“Selama ini, aku sudah berlaku tidak adil kepadanya” lanjutnya kemudian.

“Kamu tidak pernah cinta dia kan?” Ucapku pelan, tapi penuh emosi, dan aku tau dia bisa merasakannya, karena ketika aku memandangnya, dia balik menatapku, Sendu, pelan tapi juga penuh emosional.

“Kamu ambil kesimpulan dari mana?”

“Karena kamu cuma cinta aku, seperti aku juga cinta kamu”

“Cinta? Jangan terlalu meninggikan dirimu. Bagaimana kalau aku memang cinta dia?”

Suaranya mulai serak. Dia kemudian mengambil kopernya yang tadi berdiri diam menjadi saksi pembicaraan kami,

“Aku ingin memulai segalanya lagi dengan dia. Dan untuk mulai, ada yang harus berakhir”

Dia hendak berjalan meninggalkanku, ketika aku kemudian menahan tubuhnya.

Mata kami lagi-lagi bertemu, membuat  dusta menjadi tidak berguna.

“Aku akan datang” ucapku kemudian mencium bibirnya. Lama. Panjang. Pelan. Seakan ini akan menjadi ciuman terakhir kami.

Maka, ada tiga  hal yang basah sore itu :  bibir kami, stasiun dan juga matanya.

**

“Jadi,  masih ada kesempatan untuk kita?”

“Menurutmu?” Balasnya

Sungguh,aku tidak datang ke sini untuk mendapat pesan ini di ponselku. Aku datang cuma untuk mengucapkan Selamat.  Aku ingin ketika memulai semuanya baik-baik, semua selesai dengan baik-baik pula. Aku menyalami keduanya, kemudian kedua orangtuanya yang memang tidak pernah menyukaiku. Itu saja.

Aku kemudian bergabung dengan teman-temanku di meja yang sudah hadir dengan hidangan pilihan masing masing. Aku sudah siap, hidangan utama mereka bukan yang ada di depan mereka, tapi aku. Dan aku sudah siap untuk itu.

“Apa aku salah tidak bisa melupakanmu. Apa  aku salah, apa kita salah? ”

 Ini pesan yang pertama kali datang, dan aku pun membalasnya.

Guru-guru SMA dan makhluk- makhluk depanku ini sepertinya benar :  Aku sudah membawa pengaruh buruk buat dia.

Aku memandang pelaminan. Dia tidak pernah secantik hari ini.

Tidak. semenjak hari itu, dia selalu secantik hari ini.

**

“Jadi apa ada kesempatan untuk kita?”

“Menurutmu?” Balasnya

Aku tersenyum, kemudian memegang tangannya.

Wajahku bergerak mengecup bibirnya pelan. Entahlah, ini mungkin salah satu cara agar aku tidak larut dalam senyumnya yang sudah meremukkan logikaku semenjak beberapa bulan belakangan. Dia cuma diam, wajahnya yang putih bersemu merah.

Aku melepaskan ciumanku.

“Maaf” ucapku kemudian melayangkan pandangan ke arah lain

“Tidak apa—apa” ucapnya memandangku dan membetulkan anak rambut yang menggelitik telinganya. kemudian dengan gugup membenarkan letak kacamatanya yang sempat turun.

“Puisimu bagus, aku suka”

“Terimakasih juga buat gambarnya” lanjutnya kemudian.

Gila.  Apa yang baru saja terjadi?

Gadis di depanku ini adalah ketua OSIS sekolahku, sementara aku cuma bajingan yang berkelas di ruang BK dan kantin belakang sekolah : markas anak-anak buangan yang sudah dicap para guru tidak punya harapan. Untunglah, orang tuaku tidak pernah menyerah, mereka masih percaya kalau ada tempat untukku suatu saat nanti. Entah dimana.

Dan selain mereka, tidak ada yang pernah menyetujui hubungan kami.

Tidak orang tuanya, tidak para guru.

Bahkan mereka percaya, kalau aku sudah memberi pengaruh buruk kepada anak emas mereka ini, walau aku tidak mengerti apa buruknya sekali dua kali bolos. Dengan otaknya yang cemerlang itu, dia tidak akan ketinggalan apa-apa. Mereka cuma ingin mencari alasan untuk menyalahkanku!

Tapi peduli setan. Buatku, tidak ada masalah selama dia masih di sisiku saat makan baso depan sekolah, masih di boncengan vespa tuaku, dan tangannya masih dalam genggaman tanganku saat kami berlarian menembus hujan menuju parkiran taman kota. Itu sudah cukup.

“Kami, perempuan, sama seperti kalian wahai para lelaki, kita juga punya dua tanduk, tapi kami menyimpannya,menyembunyikannya, memotongnya, karena kami terlihat tidak cantik dengan itu.  Tidak seperti kalian yang membiarkannya tumbuh besar. Kami, cuma butuh lelaki yang tepat untuk membuatnya muncul dan tumbuh kembali”

Aku tidak tau dia dapat kisah ini dari mana, atau cerita itu benar atau tidak, tapi yang pasti, cerita itu menjadi pengantar dimana untuk pertama kali kedua bibir kami saling membalas.

Kisah kami seperti Romeo dan Juliet. Keluarganya dan guru kami adalah Capullet, dan Montaguenya adalah teman teman tongkronganku yang selalu percaya kalau aku bisa mendapatkan yang lebih baik.

Lebih baik?

Siapa yang mendefinisikan yang lebih baik untuk kami. Tidak ada yang lebih baik dibanding aku untuknya, dan dia untukku.

Lagian, harusnya, menurutku, para guru dan teman temanku harusnya tidak cuma melihat bagaimana aku mempengaruhinya, tapi juga sebalaiknya bagaimana dia mempengaruhiku.

Karena cinta yang baik, adalah cinta yang saling mempengaruhi.

Lihat, bagaimana aku bisa hadir di kelas. Walau itu cuma untuk memenuhi buku catatanku dengan menggambar karikatur gadis berkacamata yang selalu memenuhi kepalaku ? atau membuat tulisan-tulisan dengan kata kata gombal  yang cuma berujung pada dua subjek : Dia dan senyumnya.

Lihat bagaimana akhirnya aku bisa lulus, walau dengan nilai apa adanya, dan kemudian melanjutkan ke sebuah fase yang akhirnya menjadi awal kutukan untukku : bangku kuliah!

**

“Jadi, masihkah ada kesempatan buat kita?”

“Menurutmu?”

Diam.

Sisa telpon kami malam itu cuma kami isi dengan diam, kami sudah punya jawaban masing masing, kami cuma tidak suka mengutarakannya. Ini bukan kali pertama telpon kami cuma berakhir seperti ini: Diam,  kemudian pamit untuk beristirahat.

Beristirahat dari hari yang melelahkan, atau beristirahat dari hubungan kami, yang tak kalah menjemukan.

Jarak, memang yang akan menumbuhkan rindu. tapi tak jarang, jarak juga yang akan menjadi benalu. menggeroroti pelan, kemudian membiarkannya mati, dan berlalu.

Sekarang, dia adalah seorang mahasiswI ilmu politik di universitas negeri yang terkenal di kota kami, semenjak dulu memang kecintaannya kepada politik, mengalahkan semuanya. kecuali mungkin kecintaannya padaku, juga  kepada  tuhan, atau kepada orangtua. Pokoknya, dia memang mencintai politik.

Dia bahkan bercita cita menjadi presiden pertama wanita negeri ini!

Walau tak lama kemudian, dia harus mengganti beberapa kata pada cita-citanya : Seorang presiden wanita hadir di negeri ini.

Sementara, aku memilih kuliah di kota lain, di sebuah universitas seni swasta di kota sebelah. Aku memilih memperdalam coret-coretanku. Aku tidak tau apakah itu yang kumau, tapi saat itu, satu satunya yang aku suka selain dirinya adalah gambar-gambar di buku dan dinding kamarku.  dan  paling tidak orangtuaku sudah cukup senang melihatku duduk di bangku kuliah.

“Aku mungkin tidak bisa setia” ucapnya di telpon malam itu. Suatu hari.

“Tidak apa-apa” Balasku

Aku mengerti. Belakangan dia sudah terlalu sering bercerita tentang seniornya yang sangat perhatian. Seniornya yang lucu. Seniornya yang..

“Aku yang akan mencoba setia”  ucapku kemudian.

Coretan coretan kuasku mendadak kacau. Gadis di jendela yang ada di kanvasku kemudian kububuhi dengan warna- warna pekat.

Hitam.

Mau menjadi pelukis atau tidak, aku tidak begitu yakin.

**

“Jadi, apa masih ada kesempatan untuk …?”

“Menurutmu?” Potongnya cepat

Aku percaya aku adalah seorang sapiosexual –  lebih tertarik dengan lawan yang lebih pintar dan menguji intelegensiku. Entah dia seorang sapio atau tidak,aku juga tidak tau, yang pasti kami pernah menjadi makin gila dan liar, ketika bercinta sambil mendiskusikan Machiavelli di ruang kerja suaminya ketika pemiliknya keluar kota.

“Menurutmu, apa yang akan terjadi dengan seorang petinggi partai dan seorang wartawan majalah politik ibukota berada dalam satu ranjang?”

wartawan?

Begitulah, ditahun keduaku di bangku kuliah, aku  diajak salah  seorang seniorku ke sebuah forum diskusi di rumah kontrakan yang tidak begitu jauh dari kostanku. Di forum ini, selain berdiskusi, kami diminta untuk membuat tulisan. Dari sanalah, aku mulai tertarik untuk lebih banyak membaca dan dan menulis, aku memulai kari penulisanku di koran kampusku, kemudian pindah ke koran kota yang menjadi kantor pertamaku beberapa bulan sebelum wisuda. Dan sekarang, tidak terasa aku sudah berada di tahun ke lima di sebuah  media besar di kotaku. Kota kami.

“Aku tidak melihat ada yang harus di takutkan”

Dia berdiri, menuju ruang mandi.

“Oh, aku tau, karirmu”  ujarku meralat pernyataanku sendiri

Dia kemudian keluar  memakai lagi pakaiannya.

“Aku pulang malam ini, kalau kamu mau stay, terserah”  Seakan tak mendengar pertanyaanku.

“Suamiku mulai curiga” lanjutnya merapikan riasannya di kaca yang memantulkan bayanganku tanpa busana di ranjang.

“Jadi kapan kita akan bertemu lagi?”

“Ini terakhir kali, sudah cukup aku mengkhianati dia”

Aku kemudian berdiri dari ranjang,dan memeluknya dari belakang.

“Kadang, Pengkhianatan adalah bentuk kesetiaan kepada yang lain”

**

“Cuma segitu, aku menilaimu terlalu tinggi !”

Dia melempar majalah ke meja  di hadapanku. Hampir saja mengenai kopi hitamku yang masih mengepul.

“Keterlaluan, ini caramu membalasku?  dasar wartawan rendahan!”

Aku melirik majalah ini dan langsung mengerti.

“Duduk dulu, aku bisa jelaskan” ucapku membimbingnya ke sofa.

Dia pun duduk dan menyalakan rokoknya.

“Sejak kapan?”

“Bukan urusanmu” jawabnya cepat, menghembuskan asapnya ke angkasa.

Aku menghela nafas.

“Oke, Dengar. Tulisan ini tidak ada urusan dengan keputusanmu untuk tidak menemuiku lagi, kamu tau, aku selalu mendukungmu. tapi..pasanganmu ini..”

Jadi, beberapa hari yang lalu, aku baru saja menulis artikel yang menyudutkan pasangannya untuk maju menjadi pemimpin kota ini. Tapi aku sama sekali tidak menduga, kalau dia akan menghubungkannya dengan masalah pribadi kami.

Dia masih diam, masih menunggu lanjutan kata-kataku.

“Kau tidak seharusnya berpasangan dengan dia. Kau tau pasti bagaimana latar belakangnya!”

“Siapa kau yang menentukan bahwa siapa yang lebih baik, terutama untukku” balasnya sambil mematikan rokok yang masih panjang ke meja.

“Aku…”

“Aku tau, dia bukan sosok yang baik untukmu, atau untuk kawananmu, tapi bukan berarti dia juga tidak baik untukku, untuk kota ini”  Dia memotongku.

“Kau seharusnya bisa memilih berpasangan dengan yang lain, lagian tidak harus maju saat ini kan?” tanyaku tak mau kalah cepat lagi.

“Jangan sok suci lah, aku tau kau juga tidak netral dalam hal ini, aku tidak bodoh! kau bergabung dalam tim sukses pasangan satunya kan? yang menurutmu lebih  pro perbedaan, kebebasan, rakyat kecil, buruh,  sesuatu yang selalu kau agung-agungkan bersama kawananmu!  ”

“Jangan mengalihkan, aku memang bukan orang suci, tapi paling tidak aku tidak penggila perang seperti pasanganmu, dia berbahaya!” Emosiku mulai terpancing.

“Kemana teman-teman partaimu yang notabene harusnya berseberangan dengan orang gila ini? aku tau mereka orang baik, tapi kenapa malah mendukungnya dan tetap memasangkannya denganmu?”  Lanjutku kemudian.

 “Bagaimana kalau dibalik, bagaimana kalau aku bilang orang yang membayarmu ini punya rencana lebih buruk, yang lebih berbahaya dari pasanganku yang kau bilang orang gila ini! ”

Dia masih belum mau kalah.

“Paling tidak, track recordnya masih bersih, tidak seperti pasanganmu, sudah rahasia umum siapa dia, buka matamu!”

Entah kenapa aku ikut larut dalam debat ini.

“Kamu tau dari mana?  informanmu sampai di ring berapa, aku lebih tau siapa orang gila ini!”

“Tau dari mana?  kau pikir siapa otak yang membubarkan diskusi aku dan teman temanku, siapa tokoh dibalik dibungkamnya beberapa seniorku?”

Kepalang basah sudah.

Dia kemudian berdiri “Aku sudah memperingatkanmu dari dulu, teman-temanmu itu berbahaya”

“Buat siapa, kamu dan karirmu?”

“Buat otakmu dan bahkan buat bangsa ini” Jawabnya cepat.

Aku meminum kopi di hadapanku. Aku baru sadar belum menawarkannya apa-apa.

“Maaf, kamu mau minum apa?” Aku menyandarkan tubuhku di sofa kerjaku.

Dia menggeleng.

 “Im fine” ujarnya kemudian.

Aku menghela nafas. Diam sejenak, kemudian tertawa sendiri.

“Lucu, kita mengalahkan perbedaan kita, kita mengalahkan jarak, bahkan kita mengalahkan pernikahanmu” ucapku kemudian.

Dia menyalakan lagi rokok yang baru. Ikut tertawa.

“Dan kita tidak bisa bertahan untuk yang satu ini” sambungnya, mengeti kemana arah pembicaraanku.

Kopiku dan rokoknya mungkin masih berdebat. bercengkarama lewat asap masing-masing. Yang manapun yang menang, keduanya hilang. Sisa puntung. Sisa kopi sehitam arang.

Sementara kami berdua diam. Mendiamkan pertanyaan yang ada di kepala kami masing masing

“Apa masih ada kesempatan untuk kita?”

Menurutmu?

***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s