Dajjal

Percaya atau tidak, di semua planet. Atau tepatnya di belahan bumi manapun…..

…atau mungkin cuma  di negeri ini?

Pasti selalu ada aja sekelompok ibu-ibu yang punya forum diskusi jalanan. Ada yang punya basecamp sendiri di rumah ibu si anu atau si itu, di depan gerobak sayur, di belokan jalan,  pokoknya ini seperti  sudah sunnatullah, yang kira – kira artinya ya memang harus selalu ada. Demikian adanya. Kekal, seperti energi : tidak dapat diciptakan, tidak dapat dimusnahkan, tapi dapat berubah dari suatu bentuk ke bentuk lainnya.Tidak terkecuali kumpulan ibu-ibu  rombongan rebana yang pernah ikut tampil di pengajian pengajian  televisi dengan seragam dan yel-yelnya ini. Beberapa dari mereka adalah anggota tetap forum  diskusi depan warung sederhana yang berada persis di depan kost kostan ku.

Hari itu, dari sekian banyak topik di dunia, dari mahalnya harga cengek, sampai seksinya Ivanka Trump, ibu – ibu ini memilih membahas  tentang kebangkitan Dajjal, atau yang juga dikenal dengan nama anti-kristus atau apalah namanya di literatur lain. Asal muasalnya pun beragam, ada buku yang mengatakan kalau Dajjal memang sengaja diciptakan tuhan sebagai fitnah dan kebohongan akhir zaman, ada juga artikel kalau Makhluk ini dibesarkan salah seorang malaikat dan sekarang ini sedang di rantai di sebuah pulau dan, atau yang cukup terkenal : yang mengatakan mahluk ini akan muncul segitiga Bermuda, atau Tibet, atau..

Entahlah..

Yang aku tau, sampai saat ini tidak ada yang tau pasti bagaimana rupa beliau, kecuali mungkin ibu-ibu yang lagi nongkrong di depanku ini

“Dajjal itu pendek dan matanya sipit, udah pasti dia itu mah

Seorang ibu berkerudung memulai teorinya yang aku tidak tau dia dapat darimana. dugaanku sih sosial media, tapi peduli setanlah, paling tidak aku tau kenapa mereka memilih topik ini :pemilihan kepala daerah di provinsi tetangga.

“Iya udah pasti dia, kiamat makin dekat” ujar ibu-ibu lainnya.

“Pendusta,pembohong,penista agama” seorang ibu muda berkacamata menambahkan.

“Iya, saya juga baca  demikian”

Mamang-mamang penjual somay yang kebetulan lagi nongkrong disana menambahkan.

Aku tersenyum. Menarik. Tergelitik mau ikut, tapi kemudian saya urungkan. Biarkan sajalah ibu-ibu ini bahagia dengan kepercayaannya sendiri. Namanya juga kepercayaan, ya masing-masing, tidak perlu sikut sikutan dan saling mengusik bukan?

Lagian topik-topik jarang muncul kepermukaan. Jadi, dari pada mereka membahas anak-anak kostan kami yang bawa cewek atau nyetel music hardcore sampai larut malam, aku pikir topik  ini jauh lebih baik.

**

Tapi, lama kelamaan ibuk-ibuk pengajian ini mulai menganggu kenyamanan, paling tidak kenyamananku dalam definisiku sendiri. Minggu pagi itu, masih dalam seragam pengajian pink-ungu terang mereka, mungkin habis acara dari mana yang aku tidak tau, mereka mulai ribut lagi tentang pemilihan gubernur di provinsi sebelah. Padahal kan tidak ikut nyoblos, tapi kenapa seribut ini sih?

Bukan cuma ibu ibu saja sebenarnya, soalnya ba’da isya giliran bapak bapaknya sambil ngopi, tapi paling tidak, bapak bapak ini tidak seheboh ibu-ibu yang juga sesekali ditimpali kang mainan atau mamang cuanki yang manggut-manggut mendengar beberapa coletehan ibu ibu yang sepertinya update banget dengan  cerita ini.

Aku ? lagi lagi  sedang bersantai di bale-bale depan warung, menikmati kopi dan sebatang rokok.

“Tapi bukannya Dajjal ini gendut ya bu, saya pernah baca” timpal kang mainan, yang juga menjual aksesoris seperti jepit rambut dan pita-pita plastic warna warni.

Aku melirik perutku sendiri. sudah mulai gendut juga sih ini. belakangan memang aku tidak terlalu sering lagi berolahraga.

“Lah, si eta kan gendut juga, cuma gak keliatan aja”

Masih dari ibu-ibu kerudung yang memang dalam beberapa kesempatan aku perhatikan cukup vokal untuk hal-hal pergosipan ini. Ibu ini juga yang ikut bersama pak RT ketika anak kamar atas di grebek ketika sedang berasik masuk bersama kekasihnya.

“Ga ah bu, kurus gitu” lanjut si penjual.

“Jangan ngebelain dia mang, dosa. kafir! ” kali ini si ibu-ibu muda cantik berkacamata yang ikutan berbicara. Di ikuti anggukan dari uwak yang menjual nasi kuning.

“Untung bukan di tempat kita ya, kalau iya tua-tua gini saya mau demo lah, kalau Dajjal jadi pemimpin negeri ini, hancur! kiamaaaat”

“Iya, saya juga mau, ga rela saya” Tutur si ibu berkacamata, lagi.

“Ikut atuh bu, ke kota sebelah! jalan kaki sekalian biar mantap!” mamang cuanki mungkin masih kesal di bilang kafir.

“Saya kalau dijinin suami saya ikut aja, kan istri harus seijin suami mang”
Demikian pembelaan si ibu tersebut.

Akhirnya saya gatal juga ikut nimbrung. Iseng.

“Ke sini ijin suami juga ga bu?”

“Ah, kasep mah bisa saja, kan dekat, ga perlu ijin, lagian  suami saya tadi pagi ke luar kota” ucapnya kemudian memberikan senyuman manis nan memabukkan.

Saya balas tersenyum, kemudian kembali menikmati kopi yang sudah mulai dingin, namun jelas tidak memabukkan.

**

“Bentar ya neng, di bawah masih ada bapak-bapak” ujarku ketika Putri, kekasihku minta di antar pulang.

“Bentar lagi juga pada bubar” lanjutku kemudian.

“Emang Kenapa bang, kan kalo gak nginep ga apa-apa?”

“Gak enak aja neng, suka nanya-nanya gitu.Rese”

Aku sudah memeluknya, saat tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar. Anak-anak emang bangsat, kadang.

“Bang, minjam korek”

“Buka aja koh”

Mahasiswa semester akhir itu kemudian mengambil korek di mejaku, membakar rokoknya, meletakknya lagi sambil tersenyum pada aku dan Putri.

 “Bawa aja koh, masih ada satu lagi nih” ujarku kepadanya, namanya Erik, tapi karena matanya sipit dan kulitnya putih, jadinya dipanggil begitu sama anak-anak. Kebanyakan yang disini pada rasis memang.

“Sorry ganggu bang” ucapnya kemudian

Aku cuma memberinya jari tengah.

“Sambil nunggu sepi, nonton yuk” ajakku ke Putri setelah si kokoh pergi. Aku sudah melepas pelukan ku dan sekarang lebih mood untuk menyalakan komputer, kemudian sibuk memilih milih folder.

“Nonton apa?”

“Nonton debat Pilkada provinsi sebelah. Mau?”

Aku serius, debat terbaru sudah ku unduh kemaren, tapi belum sempat nonton, karena aku sedang mengerjakan naskah pesanan klientku.

“Ga ah, ngapain” ujarnya misuh-misuh

“Tapi seru , lucu!”

“Lucu gimana, pusing yang ada”

Aku menghela nafas.

“Drama korea putri duyung mau gak?”

**
Setelah shalat subuh berjamaah aku pun..

Kenapa?

Apa aku tidak boleh sholat subuh berjamaah setelah semalam berduaan dengan Putri?

Kalau beberapa peserta pilkada saja bisa berjamaah demi kemenangan pemilu, pencitraan, dan menghancurkan lawan, kenapa aku orang biasa yang tidak punya misi apa-apa ini tidak boleh?

Paling tidak aku tidak akan merugikan banyak orang. Dosaku urusanku dengan tuhan.Tidak seperti mereka yang kalau menang akan memimpin begitu banyak orang dengan kepalsuan.

Menurutku dosa yang demikian lebih berat adanya, kalau mereka mengetahui.dan peduli.

Tapi, tidak bisa disalahkan juga, di negeri ini, semuanya memang laku dijual  kalau sudah ada embel-embel agama : film agama, laku. Pakaian agama, laku. Model agama, laku. Parfum, laku. Kampanye dan aksi semua atas nama agama apalagi. Mudah Mudahan cerpen agama juga laku. Belakangan aku sedang mencoba merambah tulisan di genre itu.  Lebih menjanjikan memang.Amin

Jadi setelah shalat aku berencana langsung balik ke kostan dan  melanjutkan tidur, ketika salah seorang bapak yang menahan tanganku

”Kamana sep? dengerin ceramah dulu atuh. Ustadnya bagus”

Aku kemudian cuma bisa senyum, kemudian duduk melingkar, bergabung  bersama jamaah lainnya.

Menunggu sejenak, dan ceramah pun di mulai.

Beberapa saat kemudian..

Ah, harusnya aku tau, semua orang di penjuru negeri ini sepertinya memang heboh dengan pemilihan kepala daerah di sebelah. Sampai-sampai ustadz di depan ini pun bahasannya tidak jauh-jauh dari itu. Bahkan sampai merambah kepada kemunculan PKI. Aku memang bukan ahli partai berlambang palu arit ini, apalagi terdaftar sebagai anggota, tapi sejauh mana sih kita tau dan mau membahas PKI?

Tuh kan, lagi lagi  kita cuma soal gorok-gorokan,lubang buaya dan anti tuhan.

Apa PKI memang cuma soal itu?

Mohon maaf pak ustadz.

Kalau soal provokatif ini aku mending gak usah duduk di masjid. Tinggal baca media sosial, lebih banyak pilihan dan lebih Hot. persis akuarium.

Maka, sejurus kemudian aku pun minta ijin untuk keluar kepada bapak yang tadi menahanku.

“Kemana?”

“Sakit perut, ga bisa ditahan pak”  Jawabku dengan muka memelas

Akhirnya dia maklum, karena jelas, dia tidak bisa menahan. Padahal aku bohong. Aku bukannya sakit perut, aku sakit  sakit ..hati, sekalian sakit jiwa.

**

Putri menelpon.

“Kok ga diangkat ?”

“Ini diangkat” jawabku pura pura bodoh

“kemaren-kemaren. iih” katanya dengan nada manja

“Sorry , neng tau kan tulisan abang banyak yang ngutang”

Perempuan di depan saya tertawa kecil, kemudian reflek menutup mulutnya.

“Neng, ntar di telpon balik ya, ini lagi deadline banget banget”

“Owh, okay, kirain abang kenapa-kenapa” jawabnya dari seberang sana

“ Ga kok, aman selalu berkat doa neng, miss you

sebuah kecupan hangat dari masing masing pembicara menutup pembicaraan malam itu.

“Siapa?” tanya wanita didepanku

“Putri” jawabku pendek.

“Pacar kamu yang anak kuliahan itu?”

Aku mengangguk.

‘Tukang bohong”  komentarnya kemudian

“Apa sih teeeh” balasku

 “Tukang bohong. Kasian tuh anak orang” jelasnya kemudian

“Tapi kalau teteh suka kan aku boongin?” Aku belum kehabisan jurus

“Masih mau ngobrol nih? suamiku besok pulang looh” jawabnya kemudian.

Kali ini aku tidak berkutik.

**

Pagi-pagi aku sudah nongkrong lagi di warung depan kostan, ditemani beberapa gorengan setia dan  segelas kopi hitam. Geng ibu-ibu masih duduk di bale- bale depan. Aku melihat jam tanganku, bentar lagi warung ini akan rame dengan anak sekolahan, dan itu berarti saatnya kembali ke kamar. Soalnya  aku suka malas melihat kelakukan sok keren mereka, baik yang cowok atau yang cewek, tetapi pembicaraan di depan sungguh sayang untuk di lewatkan.

“Kalau aku di sebelah ya, mending aku pilh calon yang satunya“ Masih dengan tokoh utama si ibu-ibu berkerudung, kali ini kerudung instan yang warna hitam.

Aku heran, sepertinya topik ini ga habis-habis, sampai kapan? di media sosial juga seperti ini, tapi lebih seru yang live actionnya ini sih. Aku juga bertanya apa yang kan di bahas orang-orang setelah pilkada ini selesai.

Media sosial mungkin sudah tidak menarik lagi.

Atau sebaliknya? jadi menarik lagi?

“Kenapa bu, dengan calon yang satu lagi?” tanya seorang ibu.

“Keren, berwibawa”

“Tapi ngomongnya belepotan. Aku mah lebih suka ama yang satunya lagi, ngomongnya santun, pinter gitu” potong si ibu berdaster oren dengan bunga bunga putih.

“Ye,dia kan dulu menghina pak jendral” semprot si Ibu berkerudung kepada ibu tersebut. Merujuk kepada pak jendral calon presiden di pemilu sebelumnya. TerLihat jelas beliau fans jendral garis keras.

“Iya sih, dulu dia mendukung si Ndeso” si ibu berdaster jadi keliatan tidak yakin.

“Masa udah lupa aja sih bu?”

Whatever. Tapi jujur, daripada sekedar ukuran payudara si anu yang membengkak, mungkin operasi, padahal hidupnya gitu gitu, atau ibu itu yang selalu fresh padahal suaminya tidak di rumah, jelas topik ini lebih menarik dan mengedukasi.

“Pokoknya yang mana aja lah, asal tidak si Dajjal. Ketahuan penista agama! kafir!”

Aku tiba-tiba ingat sesuatu tentang Dajjal : bahwa konon kalau yang di tawarkan Dajjal adalah itu surga berarti itu sebenarnya adalah neraka. Sayangnya aku lupa dari mana, dari guru agama, atau buku dan tulisan yang pernahku baca. Pokoknya kira-kira demikian.

Sepertinya kesimpulan  asal-tidak-dajjal tadi sekaligus menutup pembicaraan tentang pilkada provinsi sebelah pada hari ini,entah besok masih ada atau tidak, kita lihat saja. Yang pasti, sekarang topik pembicaran beralih kepada gosip bahwa Bu Anu, ibu cantik berkacamata yang  juga anggota geng mereka ini, ( cuma kebetulan hari ini tidak hadir ) sering membawa lelaki lain ke rumahnya ketika suaminya tugas keluar kota.

Aku pun segera membayar gorengan dan kopi.ketika salah seorang tetangga yang lain, jamaah masjid yang biasa dipanggil pak Haji muncul dan menegurku

“Wah, Si Kasep, kebetulan”

“Ada apa pak haji? ”

“Nanti malam datang ya ke pengajian di masjid RW sebelah, ustadnya top”

Aku tersenyum, “Insha Allah Pak Haji” jawabku mantap.

**

 

Advertisements

2 thoughts on “Dajjal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s