Teh & Kopi

Aku tak begitu kenal sudut kota ini. Maklum, aku tidak tinggal dan bekerja disini.  Walau kalau boleh memilih aku jelas akan memilih kota ini dibanding Ibukota yang sudah terlalu sumpek.

Aku kesini cuma dalam rangka liburan. Bukan pertama kali memang, tapi sendirian  di sebuah sudut kota dimana aku berada saat ini, jelas adalah pengalaman baru buatku. Seharusnya, aku bersama seorang teman penghuni kota ini. Dia sudah menyanggupi karena kekasihnya sedang ada tugas ke kota lain, tapi  apa yang ditawarkan seseorang dari masa lalunya yang juga sedang berkunjung, sepertinya lebih menarik.

Pengkhianat.

Akhirnya, makhluk sialan ini cuma memberiku informasi kalau sudut kota inilah yang akan menyediakan banyak acara menjelang perayaan imlek besok hari .

Cukup membantu, walau tadinya aku memang masih harus tanya sini untuk mencapai daerah ini. Jangan heran, aku tidak terlalu baik dalam membaca peta. Aku adalah bukti nyata kalau tidak semua lelaki jago navigasi. Harus lurus atau belok masih menjadi masalah besar dalam usiaku yang hampir kepala tiga ini.

Maka beginilah, sore ini aku berjalan  sendirian, berencana merekam persiapan dan perayaan, yang ternyata masih sepi. Cuma ada satu atau dua toko yang sudah memasang lampion lampion merah tersebut. Di beberapa toko lain juga terlihat  sih, sayangnya itu bukan hiasan, itu barang jualan.

Sore berganti malam, dan aku belum menemukan penampakan latihan barongsai , persiapan lilin raksasa atau apalah yang menandai kemeriahan esok hari.

Aku masih berjalan sendirian, sampai sebuah  suara halus menyapaku lewat sebuah kata sapaan standar

“Hai”

Perempuan.

Cantik.

Memang sudah berumur, tapi  masih cantik.

“Hai” ujarku balik.

“Sini”, lanjutnya sambil senyum.

Aku memalas tersenyum dengan ramah kemudian melewatinya, tapi beberapa langkah kemudian, entah kenapa, aku berbalik.

Gila.

“Ya” ujarku, sambil menggosok hidungku yang tidak gatal.

“Mau masuk?” katanya menunjuk bangunan tua di belakangku

“Berapa?”  balasku. Suaraku kubuat setenang mungkin.

Wanita di depanku ini pun menyebutkan sejumlah angka

“Wah,walau aku  sangat suka perempuan secantik teteh. Sayangnya aku tidak punya uang sebanyak  itu”

 Dia  tertawa.

“Kamu bohong”  katanya kemudian sambil menjawil hidungku

Ketahuan.

Aku memang kebetulan bawa cash. Ga banyak, tapi cukuplah.

Masalahnya, memang tidak menjadi kebiasaanku untuk kesenangan seperti ini, apalagi dengan membayar sejumlah tarif yang disebutkannya tadi.

“Kita masuk dulu”, ujarnya menarik tanganku, diiringi pandangan beberapa bapak-bapak dan tukang parkir yang ada di depan tempat tersebut. Menurutku ini agak aneh, seolah hal ini baru terjadi sekali. Atau akunya yang aneh? Pokoknya wanita berkostum merah ketat ini menuntuntuku melewati tangga reot ke lantai dua. senyuman manis manja menggoda beberapa orang  rekannya cuma aku balas dengan senyuman dan anggukan saja.

“Mi, aku pakai kamar ujung ya” ujarnya selintas lalu pada perempuan paruh baya  yang lebih tua  dengan dandanan menor lainnya yang  tadi juga sempat tersenyum kepadaku. Dari dari penilaian sekilas, perempuan yang sekarang menggiringku adalah yang paling cantik di tempat ini. Tidak heran, perempuan yang di panggil mami tadi  seperti memberikannya ruang lebih.

“Mau sekalian aku bawain minum? ” tanyanya setelah kami sampai di kamar ujung lorong yang berukuran agak besar di banding kamar-kamar yang kulewati  sebelumnya. Aku tidak tau kenapa dia harus memilih kamar yang jenisnya berbeda dengan yang lain. Padahal tidak berbeda pun, aku sama sekali tidak keberatan.

Aku mengangguk, berkelana tanpa mendapat apapun memang melelahkan. Aku bahkan baru sadar kalau dari tadi  aku belum makan dan minum, cuma paru-paruku yang kuberi nutrisi dengan entah berapa batang rokok.

 “Bir?”

Aku masih berdiri, menikmati sebatang lagi.

“Kopi aja teh”

Dia tertawa. Aku tersenyum.

“Bentar” katanya saat keluar melewatiku  dan  menyempatkan mencubit pipiku.

Setelah si teteh pergi, aku tertawa sendiri membayangkan apa kata temanku kalau mengetahui hal ini.

ah, whatever-lah.

Aku kemudian melepaskan kemeja dan kaosku,menggantungnya di dinding yang hanya dihiasi satu lukisan pemandangan  yang sepertinya sudah cukup tua, buktinya cuma gunungnya saja yang masih terlihat,sawah dibawahnya tidak, namun masih menyisakan keindahan yang sayang dilewatkan. Sayangnya, aku tidak terlalu suka dengan pemandangan seperti ini. Aku lebih suka melihat pemandangan gedung-gedung atau menara yang tinggi menjulang. urban landscape. Sayangnya, hampir sebagian besar dari kita semenjak kecil sudah didoktrin kalau pemandangan dan keindahan adalah gunung dan rekan-rekannya seperti yang ada dihadapanku saat ini..

Aku mengedarkan lagi pandanganku.Di kamar ini, cuma ada satu ranjang yang di lubangi di bagian kepala, satu kursi kayu di samping meja, satu handuk, dan sebuah lampu yang membuat suasana kamar ini menjadi romantis.

Aku kemudian duduk di kursi pinggir ranjang,bersandar, menyalakan rokokku, membiarkan asap berpadu dengan warna remang cahaya lampu kamar yang cuma dibatasi dinding mika tipis ini .

Tak lama, perempuan merah tadi datang lagi.

“Nih, kopinya, kamu musti bayar lebih”, dia memberi jeda disana, menatapku dengan matanya yang jenaka.

“Aku nyari di luar, di bawah gak ada kopi” sambungnya sambil kemudian meletakkan kopi dalam gelas plastik itu di atas meja.

Wanita ini kemudian membuka rokokku, menyalakannya. Cara dan gayanya menunjukkan kalau dia sudah terbiasa menghisap racun satu ini.

“Cowok kok rokoknya beginian” ujarnya.

“Paling murah” jawabku pendek.

“Pelit”  balasnya sambil terus menghembuskan asap ke arahku.

“Diminum atuh, katanya mau ngopi” lanjutnya kemudian.

“Oh, iya teh”  aku tersadar.

“Bukan teh, itu mah kopi” ucapnya diikuti senyum kecil yang amat manis. Semanis wajahnya.

Aku tidak mengada-ngada, aku yakin bahwa seandainya make up menornya ini dihapus,  wanita yang kupanggil teteh ini akan tetap terlihat cantik. Seperti kebanyakan kaum hawa, dia cuma tidak pede dengan kecantikan alamiahnya ini, atau mungkin saja , di tempat ini berdandan menor adalah sebuah keharusan. menor is the new sexy.  Entahlah, aku masih tidak begitu mengerti dengan make up, padahal banyak dari lingkaran utama pertemananku yang meraup uang dari bidang ini.

Yang aku tau pasti, candaan teh dan kopi barusan itu… garing.

Aku menyeruput kopiku, sambil tak lepas menatapnya yang juga masih menatapku, sembari mengoyang goyang kakinya, dan sesekali  menghembuskan asap rokoknya.

“Teteh suka ngopi juga?” tanyaku sejurus kemudian. Dia cuma tersenyum, mengangguk dan meminum kopinya.

“Kamu pasti jarang ya, minum kopi beginian, biasanya pasti nongkrong di coffeeshop, nyeruput kopi  mahal ”

Aku menggeleng “Jarang teh,tapi pernah. Sesekali. Karena menurutku sebagai warga negara ini, setidaknya sekali dalam hidup kita harus nyoba kopi beneran”

“Oh, jadi ini bukan kopi beneran ya?” dia mengangkat gelas plastiknya.

Aku menggaruk garuk kepalaku “Beneran juga sih teh tapi ..”

Wanita ini kemudian pindah ke sebelahku.

“Kamu lucu kalau gugup” tuduhnya.

Dia mulai menyentuh pipiku, pindah ke bibir, sampai ke dagu ku yang sudah ditutupi bulu-bulu halus yang sudah menampakkan diri lagi, padahal baru kurapikan dua hari yang lali.

“Jadi kamu mau apa?” ada nada berbeda dari suaranya.

“Aku mau..”

Dia menunggu.Menatap.

“Aku mau ke toilet dulu” putusku kemudian.

Dia tertawa.Aku keluar dengan cepat, menuju  toilet di ujung lorong satunya yang aku lihat ketika mau masuk kamar tadi. Aku kosongkan semuanya, kemudian kembali ke kamar.

“Aku..”

“Kenapa sayang?”

“Teh, aku dipijit aja ya” ujarku fasih dalam satu tarikan nafas.

Dia masih tersenyum melihatku.

“Gak apa apa kan teh?” lanjutku

Dia tertawa.

“Tengkurap”  cuma satu kata itu yang kemudian keluar dari mulutnya.

Aku pun melaksanakan kata yang terdengar seperti perintah di telingaku, wajahku tepat di lubang wajah pada ranjang.

“Di sini udah lama teh?”

“Udah, semenjak ini berdiri”  jawabnya sambil  menutupi badanku dengan  handuk.

“Setia donk” candaku saat tangannya mulai meraba punggungku.

“Ga juga, Tahun 91 sempat pindah sih

Walau tak sekuat yang aku biasa rasakan, Aku masih bisa menikmati tangannya.

 “Semua tempat  di sini di tutup tahun segitu, jadi aku pindah ke Batam”

“Terus di Batam ngapain?”

“Masaj iya, billyard juga, pindah-pindah gitu deh”

“Di injak mau?”  Tanyanya tiba-tiba

“Boleh deh Teh ”

Dia kemudian berdiri di punggungku “Gak berat kok, cuma 54”

Kakinya pun mulai melaksanakan tugasnya.

“Jangan ditahan atuh, lemesin aja”

Aku sudah mencoba melemaskan badanku, tapi….

“Udahan aja ya injak-injaknya, kamunya keras, ntar sakit, kamu duduk aja”

Tangannya kembali ke pundakku dan kami pun kembali bercerita banyak hal. Aku merasa beruntung bisa bicara banyak dengan wanita ini. Dia jago. Sampai aku juga bercerita tentang  perjalananku sehari ini yang tidak menghasilkan apa-apa. Dan, dari bibir merahnya  jugalah aku mengetahui bahwa ternyata kalau tahun baru seperti ini memang  persiapannya biasa saja, tidak seramai cap go meh, yang bahkan menurutnya, kadang bisa sampai menutup jalan, dengan pertunjukan barongsai  besar besaran.

“Kamu wartawan?” tanyanya kemudian.

Aku tertawa , bukan pertama kalinya aku dilontarkan pertanyaan begini, dan sialnya kebanyakan yang bertanya adalah mereka yang tidak begitu suka dengan profesi ini.

Wanita ini masih memijit pundak dan punggungku, sampai tiba-tiba ponselnya berbunyi.

“Bentar ya” ijinnya sebelum mengangkat ponsel, namun tanpa menunggu jawabanku.

“Iya sayang, lancar sekolahnya?”

“Mama lagi kerja”

“Nanti  ya kita lanjutin ceritanya”

Dia masih terus memijitku dengan satu tangannya yang masih bebas.

“Lanjutin dulu aja Teh, santai” bisikku sambil kemudian menyalakan rokok. Lagi.

“Anak aku” jelasnya berbisik. Aku mengangguk paham. Kemudian mama cantik ini melanjutkan pembicaraannya di telpon sampai beberapa waktu dia kembali ke belakangku.

“Telentang ”

Nada perintah lain, dan aku selalu menyukainya. submisif akut.

“Anaknya umur berapa teh?” tanyaku lagi setelah mengeser-geser tubuhku dan mendapatkan posisi enak.

Wanita di depanku ini  pun mulai bercerita tentang anaknya yang ternyata sudah duduk di bangku SMK. Dia juga bercerita bahwa minggu lalu si anak baru saja memenangkan sebuah lomba menulis cerita pendek tingkat provinsi.

“Dia tuh mau ngapain aja, ada apa apa biasa curhat sama aku” lanjutnya kemudian.

Aku cuma tersenyum, lalu manggut manggut.

“Aku emang biasain begitu, biar kita terbuka satu sama lain”

Dia kemudian membuka file di ponselnya.

“Nih fotonya, namanya Salwa”, menunjukkan sebuah foto remaja manis berjilbab ke arahku.

“Cantik kayak mamanya”, ucapku memuji, dan aku tidak bohong.

“Ah, mamanya mah jelek, papanya yang cakep, dulu tamu sini juga” terangnya kemudian.

Dia pun melanjutkan ceritanya sambil memijit dadaku, kali ini tentang mantan suaminya yang ternyata meninggal karena sebuah penyakit.

“Teteh cuma tinggal berdua donk ama Salwa ?”

“Ya begitulah, makanya aku ama dia tuh deket banget, bukan jadi mama aja, tapi juga jadi kakaknya, jadi temennya”

“Eh, duduk lagi deh“ ucapnya kemudian

Mamanya Salwa ini lalu mengambil posisi di belakang untuk kemudian mulai mengangkat sebagian tubuhku dan melakukan kegiatan semacam piting-memiting  yang aku tidak tau apa namanya.

“Gimana, enak?”

 “Enak sih teh, tapi ini , kepalaku masih sakit” jawabku jujur.

Tanpa protes wanita ini melakukan pijitan pada tengkorak bagian belakang.

“Kamu lagi banyak beban pikiran ya? mikirin apa sih ? ”

Sihir, aku lagi-lagibercerita. Semuanya lagi-lagi mengalir keluar begitu saja. Cepat.Deras.

“Entahlah teh, doain aja semuanya jelas” tutupku setelah bercerita panjang lebar.

Dia tertawa.

“Ah,kalem, Kamu masih muda ini, kamu masih banyak waktu buat mikir, buat milih. Omongan miring orang mah ga usah terlalu didengerin”

Aku mengangguk dan kemudian  menyeruput lagi kopi  yang sudah agak dingin karena lama dibiarkan menganggur di meja.

“Sekarang punya pacar ?” tanyanya tiba-tiba

“Ga teh, lagi ga minat”

“Bohong lagi, aku gak yakin model kamu gini gak punya pacar “

“Salma, udah satu jam ya”

Aku baru saja hendak menjelaskan ketika suara tersebut muncul. Aku bisa tebak, itu wanita paroh baya yang di panggil mami tadi.

“Iya mi, ini udah beres kok”

Aku bilang juga apa. dan aku baru sadar ini pertama kalinya aku mengetahui nama wanita di depanku ini.

“Ga kerasa, udah satu jam aja, kita keasikan ngobrol deh kayanya, maaf ya, padahal aku belum angkat-angkat kamu”

“Ah, cukup kok Teh.saya juga, sorry jadi kelepasan curhat” balasku sambil bangkit dan memakai kembali kaos dan kemejaku.

Aku kemudian membuka dompet dan memberinya tiga lembar uang.

Teh Salma terdiam sejenak.Menatapku.

“Banyak banget, bukannya tadi ga punya uang? ” tanyanya sambil masih memegang tiga lembar kertas yang kuberikan.

Aku tertawa.

“Ya, emang adanya cuma segitu teh, kan sekalian buat kamar dan kopi tadi juga, jadi aku gak perlu ke kasir bawah” jelasku.

“Iya, tapi apa buat akunya ga kegedean ?  kita cuma ngobrol loh ini”

Aku tersenyum, “Gak apa-apa teh, anggap aja aku titip buat Salwa” ucapku kemudian.

Teh Salma pun memelukku. Aku kaget. Serius.

“Makasih ya” ucapnya lirih.

“Sama-sama Teh. Boleh cium gak?” tanyaku manja.

“Boleh. Pipi doank kan? soalnya lipstick aku udah rapi” balasnya sambil melepas pelukan kami.

Aku tertawa,kemudian mencium kedua pipinya.

***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s