Dewi Resolusi

Dewi, namanya Dewi, kami memang dekat, tapi bukan pacar.

Teman?  aku lebih mirip penjaga.

Penjaga?

Jadi Kak Dewi ini adalah kekasih seniorku yang sekarang sedang melanjutkan studinya di Inggris :  Bang Ramon. sebelum keberangkatannya entah kenapa Bang Ramon semacam menitipkan kekasihnya ini  kepadaku. Agak aneh memang, tapi kak Dewi sendiri oke-oke saja. Wanita berkulit sawo matang ini cuma tertawa.

“Pokoknya kalau dia kenapa-napa, gua hajar lo” tutur lelaki yang berbeda dua tahun denganku ini.

 Keakraban kami dimulai ketika aku tidak sengaja memimpin ‘pemberontakan’ anak-anak baru sewaktu acara ospek di fakultasku, dan waktu teman temanku berbalik ‘memburu’ para senior,  aku langsung berhadapan dengan Bang Ramon, ketua komisi disiplin saat itu.

Bang Ramon mendorongku sampai terhempas kegundukan tanah tinggi belakang fakultas.  Tidak, aku tidak dihajar atau mengalami tindakan kasar sejenis. Seniorku yang tinggi kurus ini cuma mengelilingku bersama beberapa senior yang lain, kemudian memintaku membubarkan teman-temanku yang entah kenapa ikutan tersulut emosi. Namun untungnya suasana berakhir damai sore itu, anak –anak pulang, walau aku masih tertahan di fakultas bersama para senior.

Dan semenjak itu, aku sudah duduk bersama Bang Ramon di café senior- sebutan untuk cafe belakang fakultas yang banyak di huni para senior. Semacam kehormatan, karena tidak semua anak baru bisa duduk di sini.

Selain itu, hobiku menulis di blog ternyata mendapat perhatian juga dari bang Ramon yang merupakan ketua dari TRUTH- UKM   ( unit kegiatan mahasiswa ) jurnalistik kampusku kemudian mengajakku bergabung Dengan UKM tersebut.

Kak Dewi sendiri aku mengenalnya pertama kali  di kost bang Ramon, perkenalannya agak  berbeda. Biasanya aku pasti akan memberi tahu terlebih dahulu kalau mau main ke kostan Bang Ramon, tapi entah kenapa kali ini tidak, jadilah ketika pintu kubuka mataku menangkap pemandangan dua  merpati cinta yang sedang asik memadu kasih, namun herannya, Bang Ramon cuma tertawa. begitu juga Kak Dewi yang cuma mendorong kepala Bang Ramon sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.

“Kenalin, my padawan” kata Bang Ramon kepada kak Dewi.

Padawan itu semacam sebutan untuk Jedi yang masih dalam training dalam film seri Star Wars. Sementara jedi itu…

Okay,

Begini, pokoknya bang Ramon memperkenalkan aku ke kak Dewi sebagai muridnya.atau, apprentice, mungkin. Pokoknya begitulah.

“Kan gue udah bilang, tutup dulu, untung bukan orang lain” ucap kak Dewi santai

Bang Ramon cuma tertawa.

**

“Dewi itu penyelamat gue” kata Bang Ramon suatu ketika.

“Penyelamat gimana bang?”

“Tahun tahun terakhir gue di SMA itu hancur banget, sampai ahirnya gue kenalan ama Dewi”

Bang Ramon menikmati rokoknya. Dalam. Panjang.

“Gue masih ingat waktu itu bilang ke Dewi gue berenti ngobat”

Bang Ramon memberi jeda sejenak

 “Dan ajaib, perlahan, gue bisa. Satu persatu masalah gue kelar, dan pelan pelan keinginan gue terwujud, dan gue percaya itu karena Dewi ada di samping gue”

**

Bukan satu dua kali kita jalan bertiga.

Aku udah seperti anak dari pasangan ini.

Tapi kalau bang Ramon sedang sibuk, misal dengan kegiatan kampus, atau dengan HANTU TINTA, Bandnya,  aku biasanya jalan berdua Kak Dewi, paling ke pusat perbelanjaan trus nemenin dia shopping, ke tepi pantai menikmati sunset, atau yang lebih standar : nonton bioskop. sesimple itu.

Kak Dewi memang penyuka film. Bang Ramon sebenarnya juga suka, tapi tidak semaniak kak Dewi.  Seniorku itu lebih suka membaca. Aku dan Kak Dewi juga sering tuker tukeran koleksi film, bahkan Kak Dewi beberap kali memberiku refernsi film-film canggih, dari temannya anak perfilman dan pertelevisian.  Maaf, aku lupa menceritakan kalau kampus Kak Dewi memang berbeda denganku dan Bang Ramon. Perempuan ini mahasiswi jurusan seni tari di kampus seni yang cuma ada tiga  buah di negara kami ini.

Jujur, menyenangkan memang, tapi kedekatanku dengan kak Dewi, membuat hubunganku dengan Chika, junior merangkap kekasihku, menjadi bermasalah, padahal aku sudah bilang kalau kak Dewi itu cuma kakak, tapi dia tetap tidak terima.

Ya, aku tidak bisa membalas dan balik marah sih, toh kenyataanya, dia benar.  Aku memang tidak ada hubungan darah apapun dengan  dengan Kak Dewi. Tapi menurutku, ayolah, kenapa harus cemburu coba? Dia itu kan kekasih seniorku…

Singkat cerita, Chika memutuskan hubungan kami, pahitnya lagi, itu terjadi  beberapa hari sebelum ulang tahunku,

Saat aku cerita ke Bang Ramon mahluk sialan itu cuma tertawa.

“Udahlah, berarti dia emang bukan buat lo, lagian wajarlah, cewek-cewek cemburu ama Dewi” lanjutnya kemudian

Aku tahu,dan aku akui, Kak Dewi memang punya tubuh yang sangat menggoda, aku bohong kalau aku tidak sempat curi-curi pandang sekali dua kali.  Apalagi kulitnya yang eksotis menjadikan kak Dewi paket lengkap dalam pembahasan fisik. Tapi kalau cuma itu, Chika harusnya tidak merasa terintimidasi, karena walau tubuhnya tidak seistimewa kak Dewi, Chika punya wajah super innocent, yang membuat cewek-cewek lain harusnya juga terintimidasi, kalau saja Chika mau, dia akan jadi bagian dari girlband atau idol group yang sekarang di idolakan para lelaki.

Tapi sudahlah, sudah berlalu dan sepertinya aku tidak akan  mengerti.

Kalau Bang Ramon menanggapinya dengan santai, kak Dewi berbeda, dia malah merasa kalau ini juga bagian dari tanggung jawabnya ( padahal harusnya Bang Ramon nih yang bertanggung jawab, kalau dia gak pake nitipin Kak Dewi, kan ga gini juga),  maka, dia menyiapkan sebuah kejutan kecil di ulang tahunku.

Sebuah kue ulang tahun muncul di hadapanku ketika aku sibuk memindahkan film dari hardisk ku ke laptopnya.Kami duduk di bale-bale depan kostan kak Dewi, yang juga dilengkapi sebuah meja untuk tamu. Tapi kecuali aku, tamu-tamu penghuni kostan yang lain, sepertinya lebih suka untuk langsung ke dalam.

“Jadi  resolusi next year apa?”

Kak Dewi memang menggunakan kata resolusi, bukan wish atau keinginan, karena kebetulan ulang tahunku memang berada di beberapa hari akhir penghujung tahun. Buatku sebenarnya sama saja, karena dari tahun ke tahun, resolusi cuma akan jadi resolusi, dan new year-new me akan cuma jadi bullshit lainnya.

“Aku mau bisa kelar bikin saru naskah film”  ujarku serius, kemudian meniup lilin di kue.

Kak Dewi mengaminkannya, kemudian memotong kue dan menyuapkanku

“Boleh kan bro?” tanyanya kepada Bang Ramon yang hadir lewat video call.

Bang Ramon tertawa.

“Asal jangan disuapin yang lain aja, ntar bocah ini ketagihan”

**

Sebuah lembaga film yang cukup besar, untuk pertama kalinya menggelar yang lomba penulisan naskah film di kotaku. Aku pun menulis sebuah  naskah  yang akhirnya menjadi salah satu finalis dari  lomba tersebut.

Berkat bantuan dari Kak Dewi juga, akhirnya naskah tersebut keluar menjadi pemenang dan dijanjikan untuk di produksi. Tapi janji hanya tinggal janji, produksi tersebut kemudian tidak pernah ada, organisasi penyelenggara minta maaf dengan berbagai alasan dan berjanji kalau mereka akan mengupayakan berbagai bentuk ganti rugi  dan segala macam.

Saat kecewa itulah, dengan maksud menghibur Kak Dewi mengatakan kalau dia akan mengupayakan teman-teman jurusan film untuk memproduksi film tersebut, dan percaya atau tidak, kebetulan seorang mahasiswa film kampus kak Dewi membutuhan skrip, untuk tugas penyutradaannya,

klop, sudah.

“ Lain kali kalau lo punya resolusi, kayanya lo harus kasih tau ke gue”

“Jadi minta kabulinnya ke kakak, gitu?”

“Ya gak lah, bego, minta mah tetap ama tuhan” dia kemudian memandang mataku “Cuma gue harus  tau. Gitu” lanjutnya.

Aku diam saja, terpana. antara fakta dan matanya. Dia mengasurkan sebotol bir kehadapanku. Aku tertawa, dua botol bir beradu lagi, dan aku pindah memandang langit malam, paling tidak, bintangnya tidak sebanyak yang ada di matanya.

**

Ketebak pasti, kalau aku mulai menyayangi Kak Dewi lebih dari kakakku sendiri.

Bagaimana tidak, aku menghabiskan banyak waktuku dengannya, nonton penampilan tari Kak Dewi, shopping, dan hal hal lainnya yang akan membosankan kalau kuceritakan disni.

Mungkin ada pembelaan dalam hatiku kalau ini permintaan dari Bang Ramon, buat menjaga, menemani Kak Dewi. Tapi sebenarnya, kalau mau jujur, tanpa diminta pun aku akan melakukan hal ini!

Lagian, ini udah silly dari awal. Tanpa ada aku pun,kak dewi akan baik baik saja. Kak Dewi punya banyak temen kok.

everybody loves Dewi.

  Beberapa kali  aku ikut ke tongkrongan Kak Dewi, and, yes she’s the heart of the party, tapi hebatnya, teman-teman lelakinya benar-bener Menghargai Kak Dewi, setauku tidak ada satupun yang berani menganggunya, entah karena faktor Bang Ramon yang memang disegani dimanapun dia berada, atau karena Kak Dewinya sendiri yang pandai menempatkan diri,  atau karena seperti Kak Dewi bilang : mereka udah seperti saudara.

Saudara? Seperti aku dan kak Dewi, aku dan Bang Ramon…

saudara..

**

“Dek, naskah lo kan  bentar lagi mau di produksi nih, jadi ulang tahun kali ini lo mau apa?” Tanya Kak Dewi yang belakangan sudah meresmikan panggilan baruku ini, walau masih tetap ditambahkan dengan lo-gue nya.

Kita sudah menyendok kue ulang tahunku bergantian. Waktu terasa berjalan begitu cepat memang, rasanya baru tadi aku merayakan ulang tahunku disini.

”Aku kayanya mau nyoba dunia baru”

“Dunia baru apaan” tanya kak Dewi.Lagi

“Lebay lo” giliran bang Ramon bersuara dari panggilan video.

“Pengen belajar motret bang, kaya abang” , lanjutku kemudian,

“Ya sudah, kalau gitu hadiah buat tahun ini kamera aja” ucap Bang Ramon cepat, seolah-olah membeli kamera pro itu seperti membeli mie ayam di gerobak mang Arjuna,  langganannku.

“Gak usah bang, aku udah nabung kok”

“Gak papa dek, dari gue juga ini, patungan kami”

Dan begitulah, dengan bekal kamera hadiah ulang tahun dari dua kakakku ini,aku mulai memotret, dan kemudian mendapat banyak ilmu dari teman teman kak Dewi yang ternyata banyak juga yang bergiat sebagai photographer. lewat kamera ini juga, aku bisa berisitirahat sejenak dari penyesalan, ketakutan, dan gejolak perasaan yang belakangan memenuhi ruang otakku

**

Ini sudah ketiga kalinya aku merayakan ulang tahunku berdua saja dengan Kak  Dewi, yang berarti tidak lama lagi, Bang Ramon akan pulang.

“Jadi  tahun ini mau apa?”  tanya Kak Dewi yang malam ini entah kenapa terlihat amat mempesona.

“Aku” aku memberi jeda sebentar, masih ada keraguan yang membelit lidahku.

“Aku mau punya pacar kaya kakak “ lanjutku kemudian sambil memegang tangannya yang sepertinya sedang mencoba melakukan panggilan video dengan Bang Ramon.

Wanita di depanku itu tersenyum,  menatapku.

“Thought you’d never ask”

Kak Dewi meniup lilin, dalam gelap bibirnya sudah bertamu ke bibirku.

**

s

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s