Bianglala

FPI, Forum Pembaca Indienesia, adalah sebuah wadah virtual untuk bertemunya para pembaca (dan juga calon penulis) dari berbagai daerah di negara ini untuk saling bertukar cerita dan juga ilmu, tentunya. Disinilah, kisah Feris dan Wel dimulai. Bersama tiga orang lainnya, bisa dikatakan Feris dan Wel adalah pendiri forum ini. Ditambah lagi lewat forum ini pulalah : BIANGLALA, novel pertama Feris yang membuatnya digandrungi banyak pembaca, terutama kaum hawa, dimana Wel adalah salah satunya.

Bianglala merupakan sebuah wahana iconic di sebuah taman bermain di kotanya Feris, yang sekaligus menjadi setting novel pertama Feris. Di tempat ini juga, Rama dan Yuli, tokoh rekaan Feris mengikrarkan cinta mereka. Sebenarnya  Bianglala bukan lah sebuah  tempat yang istimewa, tapi tulisan Feris lah yang berhasil membuatnya jadi tempat yang luar biasa indah, paling tidak  di mata para pembacanya. Banyak pasangan muda  yang datang  ketempat ini cuma untuk mengulang salah satu scene di novel Bianglala milik Feris, atau sekedar mengabadikan wahana tersebut di media sosialnya. Sementara bagi yang tidak membaca, bianglala tidak lebih dari sebuah kincir ria tua biasa.

Feris dan Wel memang sudah terbilang dekat, karena hampir tiap malam mereka harus mengurus forum ini dengan menjadi admin, mengatur anggota baru, menyediakan topik diskusi, bergantian membuat review buku dan hal hal lainnya yang menjadi pekerjaan ekstra dari pekerjaan mereka di dunia nyata, dimana Feris adalah seorang akuntan pada sebuah perusahaan di ibukota, sementara Wel adalah seorang dosen  muda di sebuah universitas negeri di kotanya.

Belakangan, keduanya  makin sibuk, karena tidak lama lagi akan diadakan event besar pertama dari FPI  di ibukota, kotanya Feris. Pembicaraan dan diskusi tiap malam soal konsep, dana, pihak undangan, dan hal hal lain  membuat intensitas pertemuan virtual mereka, terutama Feris dan Wel semakin intim, mereka yang biasanya cuma bertegur sapa lewat forum mau tidak mau sekarang kadang saling berbagi stiker senyum lewat jalur pribadi,  dari sekedar pembahasan  buku dan event keduanya pun membahas hal lain :  keluarga, pekerjaan sampai keseharian mereka. Mulai tentang pekerjaan Feris yang begitu membosankan yang membuatnya ingin berhenti, juga keluhan Wel tentang mahasiswa  sekarang yang sangat malas membaca, tentang bos yang galak,  atau tentang Snow, husky putih piaraan  Wel, semuanya dibahas bahkan mengalahkan event yang akan mereka persiapkan,

indah memang,  tapi dari sinilah masalah bermula..

**

“Janji ya, Bianglala”

“Iya, nanti kita ke bianglala, biar kamu bisa menjadi Yuli”

Wel tersenyum “Aku udah pernah sih, sebenarnya.. ”

“Tapi gak bareng aku kan?” potong Feris.

*

Jumat, satu hari sebelum event, Wel sudah sampai di ibukota. Dia sangat menunggu event ini, karena sudah tidak sabar untuk bertemu muka lagi dengan orang-orang yang biasanya cuma dia temui di layar ponsel,  apalagi bagi Wel, mereka ini sudah merupakan keluarga keduanya. Wel yang introvert memang tidak terlalu mudah membuka diri untuk orang-orang baru, maka beruntunglah bagi mereka yang sudah bisa masuk dan menyentuh lingkaran Wel, dan  Feris, adalah salah satu orang yang beruntung tersebut. Bukan cuma beruntung, dia menjadi alasan kuat lainnya mengapa Wel berdiri di tempatnya saat ini.

Bandara menjadi saksi pertama kalinya Wel bertemu langsung dengan Feris, lelaki berkacamata dengan wajah ramah dan teduh, serta potongan rambut rapi. Sore itu dia menjemput Wel masih dengan  batik, celana khaki, dan pantofel coklat,  khas stelan lelaki kantoran kekinian.

Tak lama kemudian, Feris dan Wel sudah berada di leretan kota tua yang sepertinya sudah banyak berubah dari terakhir kali Wel kesini. Di sana-sini sudah muncul  bangunan modern,  namun masih seperti dulu, Kota tua yang tepat bersebelahan dengan pecinan ini memang masih tetap ramai, bahkan sampai malam hari , apalagi di penghujung minggu seperti ini,

Feris dan Wel menelusuri jalan yang dipenuhi neon warna warni diatas merka, berbicara tentang apa saja, topik –topik baru dan cerita lama yang pernah mereka bahas di ponsel, tapi tentu berbeda ketika membicarakannya dengan tatap muka langsung, masing-masing dari mereka bisa melihat tawa dari mata lawan bicaranya, paling tidak, salah satu dari mereka. Setelah berjalan memutari pecinan, Feris  dan Wel pun makan di sebuah gerai ayam cepat saji  yang uniknya tetap mempertahankan gedung tua nya, padahal biasanya gerai ini hadir dengan bangunan modern yang punya cirri khas sendiri. Masih, mereka seperti tidak pernah kekurangan topik,seperti sudah kenal lama, atau mungkin kenal di kehidupan sebelumnya, Padahal ini benar-benar pertama kali mereka bertemu, kalau pertemuan virtual selama ini tidak diberi angka.

Selanjutnya, mereka pun berjalan menuruni 100 anak tangga yang terkenal dengan tangga cinta, karena memang banyak pasangan yang datang kesini untuk menghabiskan waktu dengan orang yang mereka cintai, sebagian besar adalah para muda mudi, walau juga ada beberapa pasangan yang sudah berumur dan tetap beruntung masih punya romantisme itu, karena tak banyak yang bertahan, sebagaian besar pudar di  tahun-tahun awal pernikahan. Di bagian bawah, diujung anak tangga, banyak terdapat jajanan tradisional yang memanjakan perut mereka yang berkunjung. Feris lagi-lagi mengajak Wel menikmati  makanan yang tersedia di depan mereka, lupa, makan malam untuk sebagain besar wanita adalah dosa, apalagi sampai dua kali. Akhirnya, mereka cuma duduk di sebuah gerobak yang menyediakan  kopi naga api, minuman penghangat khas kota ini. Sementara, tak jauh di belakang mereka, terlihat sebuah kincir ria raksasa, seolah sebuah mata yang selalu mengawasi aktivitas kota ini :  Bianglala.

**

Besoknya, Feris pun menjemput Wel ke penginapan. Sebenarnya beberapa anggota FPI menawarkan rumah mereka untuk di tempati barang sehari dua hari tersebut, tapi Wel memang tidak ingin merepotkan mereka, dan lagian seperti biasa, Wel lebih suka menghabiskan waktunya sendirian, dan dalam beberapa kasus, bersama orang yang memang dia sangat ingin untuk hadir dalam waktu spesial  tersebut.

Acara FPI sudah dimulai. Feris dan Wel yang memang agak telat karena terjebak macet pun menjadi bahan candaaan anggota yang lain. Kedekatan mereka memang sudah menjadi rahasia umum di FPI, Makanya tidak heran kalau beberapa orang tanpa canggung langsung berkata kalau mereka berdua sangat serasi satu sama lain, malah ada pula yang menyarankan mereka langsung menikah. Sayangnya, walau sudah di usia pernikahan,sepertinya keduanya belum berpikir kearah sana,  jadi candaan dan saran itu akhirnya vuma mereka tanggapi dengan tawa. Dari jumlah manusia  yang hadir, langsung sudah bisa dikatakan kalau acara ini cukup berhasil. banyak sekali anggota yang mengisi balai pertemuan dimana acara ini diadakan, baik dari FPI, juga dari komunitas lain yang mereka undang. Menariknya lagi, banyak juga yang datang dengan kostum dari karakter dari berbagai macam judul, peringkat satu diduduki mereka yang datang dengan seragam Hogwarts, ada juga yang datang pakaian dari seri Hunger Games, bahkan ada yang  cosplay menjadi Edgar Allan Poe yang lengkap dengan gagak di bahunya, juga tokoh-tokoh lain yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Sementara Feris cuma datang dengan tampilan manusia biasa : kemeja yang di lapisi sebuah vest, dengan bawahan jeans dan boots, sementara Wel hari itu memakai kaos seragam FPI yang di punggungnya ada lambang berupa buku yang dikelili lingkaran api.

Acara lancar, dan Wel menikmatinya : tukar-tukaran buku, pembacaan beberapa halaman dan kutipan buku-buku terkenal, sesi foto-foto, dan BOOKONTRA : semacam rebutan buku dari sumbangan para donatur mereka yang didominasi para penerbit. Kalau ada yang membuat Wel sedikit malas, adalah ketika beberapa mahasiswi dan anak SMA datang dan minta foto bersama Feris, malah ada juga yang lengkap datang dengan membawa buku Bianglala mereka untuk di tanda tangani, entah dari mana mereka bisa tau kalau penulis novel remaja yang sedang naik daun itu ada di festival ini.

**

Sore pun datang, para anggota lain sudah bersiap siap untuk meninggalkan gedung tempat acara ini diadakan, sementara Ferris dan Wel sedang berada di sebuah gazebo di area parkiran depan gedung, mendung mulai menggelayut.

“Aku mau minta maaf” buka Feris memecah kesunyian sore itu

“Minta maaf  soal apa?”

“Sepertinya…” Feris menggantung kalimatnya disana, melihat ke arah Wel yang sedang menunggu lanjutkan kalimatnya

“Aku gak bisa ke bianglala sore ini”

Wel menatap Ferris. Diam sejenak, kemudian bertanya pelan,“Memang kenapa?”

Ferris  menengadah, menatap langit yang mulai gelap.

“Ada acara keluarga , aku harus hadir Wel ”

Wel menghela nafasnya “ Okay, tapi kamu kan udah janji duluan mau kesana sore ini”

“Iya, aku tau, tapi..”

Feris masih tidak menatap wajah Wel

“Gimana kalo besok?”

Wel berusaha tersenyum, dan menjawab dengan lembut.Masih.

“Kamu pasti tau kan kalau aku balik pakai pesawat pagi”

Sekarang giliran Feris yang menghela nafas, “Gini aja deh, aku minta anak anak nemenin kamu”

Wel tersenyum, memasang ranselnya, kemudian mengikat rambutnya “Ga perlu Fer, aku sendiri aja, makasih”

Ferris memegang tangan Wel “Sorry”

“Kalem Fer, aku udah biasa sendiri kok, I’m fine

Wel kemudian meninggalkan Feris yang masih terdiam.

“Wel, tunggu..” Feris berdiri, berteriak

“Kalo kamu gak percaya, gimana kalo sekarang kamu ikut ke acara keluarga aku”

Tapi Wel terus berjalan.

**

Wel sudah berada di sebuah kabin bianglala, dia masih memandang langit yang merahnya sedang berlomba dengan matanya sendiri, sampai sampai dia tidak terlalu peduli saat seorang lelaki sudah duduk di hadapannya. Tak lama, Kincir raksasa tersebut mulai bergerak. Perlahan, kabin-kabin bergantian menempati posisi tertinggi. Sampai kemudian, saat kabin Wel berada di puncak, lelaki di depannya mulai bersuara.

 “Tidak ada yang melarang kamu menangis di bianglala, tak ada yang bisa melarang keindahan dan kesedihan datang bersamaan. Berganti, berputar, adalah sebuah kewajaran. Bukankah bianglala datang setelah adanya hujan”

Wel terpana, dia tau kalimat barusan : salah satu kalimat di Bianglala-nya Feris!

“Kamu..”

Lelaki kurus dengan mata sayu, sebuah plester di hidung, lengkap hoodie hitam dengan tulisan RM : tidak salah lagi, orang ini..

“Rama”

Ucap si lelaki sambil mengulurkan tangan, seolah sedang pamer  sebuah gelang pink dengan 4 huruf besar : Y-U-L-I

Wel pun menyebutkan namanya. Gugup.

“Kamu tau ga Wel, kenapa untukku bianglala selalu lebih menarik dibanding wahana lainnya yang ada disini?

Wel masih menatap lelaki di depannya. Ada pikiran-pikiran dan teori yang muncul di kepalanya.

“Karena bianglala mengajarkan kita untuk bersabar, bahwa kita akan sampai pada sesuatu yang kita harapkan pada suatu waktu,pada sebuah titik, tanpa perlu terburu buru, tanpa perlu kita paksa dan kita desak. Bianglala memberi kita kesempatan untuk menikmati pemandangan, atau apapun keindahan di perjalanan menuju tujuan kita : puncak, atau saat kita harus kembali ke bawah sana”

Wel mendadak tertawa, membiarkan lelaki di depannya terus mengoceh, kemudian mengalihkan pandangannya kepada matahari yang mulai terbenam. Indah memang.

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s