Puncak Kepala Elang

Lusi memandang keluar jendela kereta yang akan mengantarnya untuk bertemu sahabatnya. Gadis ini sudah tidak sabar, karena rasanya waktu sudah berputar terlalu lama semenjak  terakhir kali mereka bertemu saat menghadiri nikahan kawan mereka. Sementara,  pertemuan kali ini dalam rangka memenuhi janji mereka : bahwa siapa yang akan menikah duluan, wajib mengunjungi yang lain dan kemudian mereka akan treking, untuk terakhir kalinya, berdua, karena somehow mereka percaya, setelah salah satu dari mereka punya suami atau istri, semua tidak akan sama lagi.

Puncak Kepala Elang,  adalah target mereka kali ini. Walau tempat yang akan mereka kunjungi ini di mulai dengan kata ‘puncak’, sesungguhnya tempat ini  tidak terlalu tinggi, cuma berada sekitar  1500 mdpl, namun punya jalur treking yang lumayan, namun menjanjikan pamandangan yang lebih dari lumayan,  apalagi  kalau mendatangi tempat ini waktu masih pagi, maka kita akan akan menemukan kabut di atas sana yang membuat kita seperti berada di negeri atas awan. Sebenarnya, cuma ada satu spot menarik di objek wisata yang memang sedang hits ini: pinggiran tebing yang kebetulan berbentuk kepala elang. Jadi, di angle yang tepat, siapapun yang berdiri atau duduk di tebing ini, memang akan terlihat seperti menunggang elang raksasa, yang ceritanya sedang terbang di  awan.  Lusi memang sudah melihat banyak foto tempat yang kekinian tersebut, tapi bukankah keindahan itu sejuta kali lebih menakjubkan kalau dilihat dengan mata sendiri, juga dengan sebelumnya berjalan kaki, dengan orang yang di sayangi?

Lusi sudah menyusun sendiri itinerary-nya, karena kalau diserahkan kepada sahabatnya, maka seperti terakhir kali, mereka tidak akan kemana-mana, paling cuma menghabiskan beberapa cangkir kopi racikan sendiri di kamar kost sambil membahas ini itu, ( walau Lusi memang menggilai espresso  manual dari rok presso classic di kamar sahabatnya itu ), nonton bioskop. atau paling banter hunting buku bekas di pasar  yang keadaannya seperti di knockturn alley nya Harry Potter, bahkan Lusi percaya kalau ada satu dua penyihir yang membaur disana. Lusi maklum, karena memang sahabatnya ini bukan tipe  lelaki penyuka petualanganseperti tunangannya, bahkan mungkin bukan tipikal orang yang suka berada di luar ruangan. Sahabatnya ini pernah berkata bahwa kalau bukan Lusi yang mengajaknya melakukan kegiatan yang melelahkan ini, dia tidak berminat sama sekali.

Pengumuman bahwa kereta ‘Kencana’ yang sedang di tumpanginya akan memasuki stasiun membuyarkan lamunannya.

Lusi berdiri, mengambil ransel kuning favoritenya. Kali ini dia  cuma membawa satu ransel saja, karena memang cuma diijinkan dua hari oleh kekasihnya. Lusi tersenyum ketika tak sengaja  memandang cincin di tangannya, lelaki itu bukan lagi  kekasihnya, statusnya sudah berevolusi  : tunangannya.

Setelah menyandang ransel dan kemudian turun dari kereta, Lusi kemudian mencek ponselnya, ada berkali kali telpon dan pesan masuk menanyakan kabarnya.  Lusi sebenarnya kesal, dia bukan anak kecil lagi,  tapi dia tau,  bukankah perhatian itu juga perkara sayang?

bagaimana, sudah di jemput kau ama pangeran kau itu? jangan dibiarkan kau lama menunggu, bisa kuhajar dia nanti

Lusi tersenyum, Rem  dan  tunangannya memang tidak punya sejarah yang baik.

Bagaimana ya mengatakannya?

kira-kira begini:  Vlad adalah adalah lelaki yang over-protektif, sampai dia pernah cemburu dengan teman teman wanita Lusi yang terlalu sering mengajak Lusi keluar dan menghabiskan waktu bersama, sementara Rem jenis pemuda yang tidak peduli dengan status-statusan  tersebut, bukan kepada Lusi saja, tapi kepada hampir semua teman-teman wanitanya. Prinsip yang sangat di percayainya :

lebih duluan mana, jadi teman aku  atau kenal pacar-pacar kalian itu?

Sayangnya, prinsip inijelas tidak berlaku buat semua gadis, apalagi  buat Lusi, karena Lusi sudah menjalin hubungan jarak jauh dengan tunangannya sekarang, jaraknya sangat jauh. Jauh sebelum Rem masuk ke dalam hidupnya.

**

Lusi kemudian memasang syal yang tadi diikatnya di atas ransel.  Kota ini makin dingin semenjak dia terakhir kesini bersama Vlad. rambut panjangnya diikat kebelakang, kemudian, dia memasang kacamata minusnya :  yang terakhir ini khusus buat Rem, karena lelaki satu ini punya fetish tertentu akan kacamata minus.

jaket udah dipake?

syal?

Lagi lagi pesan datang dari tunangannya. Lusi menceritakan semuanya, kecuali kacamata, tentunya, Karena  ini adalah satu hal lagi yang membuat dua lelakinya ini berbeda. Vlad si cukur rapi  sangat  tidak suka melihatnya berkacamata, sok serius, lagian kan kau tidak butuh butuh amat, katanya sok tau, tapi Lusi suka kalimat berikutnya :  tanpa kacamata itu kau lebih lucu,menggemaskan. Dan wajah Lusi selalu memerah dengan pujian tersebut, mengalahkan pujian sexy, ketika dia memasang kacamata minusnya, dari serigala berbulu wajah:  Rem.

**
Lelaki gondrong kurus dengan kantung mata hitam itu akhirnya datang.

“Meler?” tanya Lusi saat melihat sahabatnya itu menyeka hidungnya dengan lengan parka hitam yang dia kenakan.

“Biasa, cuaca, belakangan hujan hampir tiap hari,”katanya kemudian membersihkan lagi hidungnya.

“Kebiasan , jorok,” Lusia mengambil tisu dari kantong ranselnya, kemudian memberikannya kepada Rem

Rem menerima kemudian cuma nyengir, “Lho, Koper mana koper?”  sambungnya kemudian, ceria seperti biasa.

 “Gua kan udah bilang ijinnya dua hari doank.” jawab Lusi

“Ya udahlah, masih mending, daripada si Drakula ikut?”

“Woi, drakula-drakula, Tunangan gue itu!”

“Iya, tau, tapi emang pucet dan kaku kan? ” Rem menyalakan rokoknya, beberapa penumpang kereta terlihat lalu lalang di belakang mereka.

“Jadi kemana dulu nih?,”

”Ngopi dulu kita,“  Jawab Lusi dengan mata berbinar.

“Siap, espresso terbaik untuk tuan putri !” ucap Rem sembari melakukan sikap hormat sempurna.

“Nope,  kita ke coffee writer aja”  Lusi berjalan duluan ke luar stasiun, meninggalkan Rem yang langsung menunjukkan wajah tidak setujunya.

“Ngapain?, canggihan juga bikinan gue, ayolah, lo udah lama ga nyicip kopi ala Rem kan, gue udah punya syphon juga, lo musti coba, ayo kita kemon”

Lusi tmenghentikan langkahnya, menunggu Rem berdiri sejajar di sampingnya, “Gue pengen foto-foto, tempatnya lucu, kapan lagi coba?”

**

Lusi dan Rem sudah berada di coffee writer. Berbeda dengan coffee shop lainnya yang bertebaran di kota ini, yang berkonsep indoor ala ala industrial, sebagian besar wilayah coffee writer  adalah lahan parkir yang disulap jadi tempat ngopi, barista bar-nya sendiri adalah sebuah pos satpam, bangku bangku nya dibentuk seperti drum minyak kecil, mengelilingi  meja kayu bulat sederhana,  Dinding-dinding parkiran tersebut dihiasi mural mural dari bomber lokal, juga gambar segelas kopi dalam beragam wujudnya. di sekeliling pos satpam tersebut, juga di pasangi beberapa foto  kopi ( bukan fotocopy), kata kata motivasi, juga  papan tulis yang berisi info kopi yang tersedia dan informasi acara komunitas, karena memang semenjak kemunculannya beberapa komunitas sering melakukan gathering disini.

“Masa belum pernah kesini Rem’ tanya Lusi setelah waiter yang sepertinya juga merangkap barista itu mengantar orderan mereka.

 “Mending bikin sendiri” jawab Rem sambil menikmati aroma kopinya.

“Tau deh yang jago” Lusi mencicipi kopi lewat sendok kecil di tangannya  ”Maksud gue  yang di papan itu lo Rem ”

Rem memasang kacamatanya, kemudian  melihat pengumuman di papan tulis yang ternyata berisi tentang jadwal pertemuan klub menulis.

“Pasti planet!” jawabnya pendek kemudian mulai menyesap kintamani tubruknya.

Lusi tertawa, sudah menjadi kebiasaan buruk sahabatnya ini mendefinsikan ‘planet’ untuk sesuatu yang di;uar kemampuannya, misalnya gaya penulisan sastra adiluhung,musik-musik indie luar yang bahkan dia tidak tau bagaimana mengeja nama bandnya, film-film artsy langganan festival, atau sekedar pembahasan feminis yang akhirnya dia jadikan materi thesisnya  yang kadang dia bagi dengan sahabatnya ini. Si Planet.

“Planet? , mau sampai kapan kamu nulis cinta melulu? ” Lusi mencomot blueberry pancake -nya ”Ayolah Rem, aku tau kamu bisa lebih dari itu!”

Rem menyalakan rokoknya  “Kapan kapan deh, cinta melulu ini juga gagal melulu”

“Eh, jadi gimana, lo ngomong apa sampe diijinin ama si Drakula?” tanya Rem seperti sengaja membelokkan topik

”Ya gue bilang kayak yang lo bilang” Lusi menghela nafasnya, “Maybe it’s the last time..”

“Sebelum nikahan,” tambah Rem.

“Iya, sebelum nikahan!” suaranya terdengar agak aneh, karena masih mengunyah pancake dimulutnya.

“Tapi lo emang beneran gak bisa datang ya Rem?”

“Kalau dalam wujud fisik mungkin gak, tapi kalau dalam wujud lain, bisa jadi… ”

“Maksud lo dalam bentuk Doa?” potong  Lusi “ Doa doank, kado donk!”

Rem tertawa, dan kemudian mereka kembali membahas Vlad, panjang kali lebar, namun sebagian besar terdiri dari dua jenis percakapan: Lusi memuji Vlad, dan kemudian Rem membantahnya.

“Eh, fotoin donk” Lusi mengeluarkan kameranya, yang mana merupakan hadiah ulang tahun entah keberapa dari Vlad yang memang berprofesi sebagai seorang fotografer.

Rem mengambil kamera, kemudian sudah sibuk dengan segala macam gaya, lebih heboh dari Lusi yang menjadi objek fotonya

“Lo masih ga berubah ya!, biasa aja kali Rem”

“Biar anglenya ga mainstream” jawabnya sambil masih  memiringkan badan, jongkok, pindah, mencari posisi.

“Serah lo deh Rem“ Lusi akhirnya pasrah akan kelakuan sahabatnya ini.

”Lo diem aja, mumpung sepi ini, gue yakin foto ini bakal oke”

Rem mulai mengabadikan Lusi dengan beberapa buah pose dI beberapa spot berbeda. Bahkan di saat-sat terakhir, ketika kamera sudah kembali ke sarangnya pun, kedua sahabat ini masih sempat menutup sesi sarapan mereka di coffee writer dengan sebuah foto mereka berdua di depan pos barista . Sementara barista berapron kulit,yang juga merangkap waiter dengan lengan penuh tattoo, juga sekaligus owner berkumis tipis ramah, yang mana ternyata juga seorang penulis, menjadi fotografer dadakan mereka, lewat ponsel Lusi!

**

Bercerita banyak, mengalahkan peluh di tubuh mereka, keduanya kembali mengenang masa kuliah, termasuk  mengingat asal muasal bagaimana aktivitas treking ini bermula. Jadi, kebetulan kampus mereka lumayan jauh dari peradaban, tepatnya di  puncak sebuah  bukit, jadi biasanya sepulang dari kampus, yang sebenarnya menyediakan bis dari dan menuju peradaban. Sementara, dua orang ini, sepulang kampus memilih untuk  berjalan kaki, membahas apa saja :politik, gosip artis, serial tv yang sedang happening, atau apa saja, termasuk membahas Vlad, lelaki unik yang sudah mendampingi Lusi semenjak jadi paskibra di bangku SMA. Selanjutnya, selain jalan kaki sepulang kampus, mereka sepakat untuk jalan ke tempat  wisata yang memiliki rute yang cukup melelahkan, sebenarnya Rem menolak ide ini di awal, tapi ujungnya, dia tetap menyetujuinya, walau Lusi memang harus bersabar, menemani Rem yang  hobi beristirahat.

Jalanan yang awalnya landai,rumah rumah dan penduduk yang tersenyum ramah, perlahan mulai menghilang, berganti jalanan yang mulai terjal dan berbatu, mereka masih saja bercerita, apa saja,namun sepertinya mereka sama sekali tidak pernah kehabisan topik menarik, seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya. Perlahan, lama kelamaan, tanpa mereka sadari, di kiri kanan mereka mulai terlihat kabut, dan tak lama kemudian, gerbang puncak kepala elang, mulai terlihat di depan mata mereka dan , sebagai pengunjung pertama pagi ini, si penjaga gerbang membiarkan mereka masuk tanpa tiket alias gratis!

“Lah kenapa mas? tanya Rem, heran.

“Sok protes, tengkyu ya mas” Ujar Lusi menarik tangan Rem sebelum sang penjaga berubah pikiran.

“Eh, gue baru nyadar, lo udah gak pilek lagi ya Rem”

Rem tersentak “Iya, kenapa tiba tiba ilang ya?” dia mengusap-ngusap hidungnya sendiri, kemudian memandang ke atas langit, “Gak konsisten nih”

Sinar mentari yang menyeruak di antara kabut benar benar membuat pagi ini menjadi amat indah. Lusi langsung mengabadikannya, karena selain swafoto, dan menjadi model dadakan,  gadis ini memang penggemar foto landscape, tidak jauh berbeda dengan tunangannya yang dibayar untuk melakukan perjalanan ke seluruh penjuru dunia dan mengabadikan perjalanannya tersebut lewat sentuhan luar biasa pada kameranya. Sementara Rem sendiri memilih bersantai , meluruskan kakinya sambil, menikmati pemandangan indah, versinya  sendiri : Lusi.

Tapi itu semua tidak berlangsung lama, karena Lusi sudah berpaling ke arahnya. menyodorkan kamera.

“Rem, pegangin bentar” Lusi kemudian mengeluarkan tongsis dan memasang ponselnya di ujung tongkat tersebut.

“Oi Vlad, aku udah di puncak kepala elang nih,  belum pernah kesini kan? seru !!!  pemandangannya cantiiiikk, kau pasti iri!” ujarnya seperti berbicara sendiri ke layar ponselnya.

Remi menggelengkan kepala, kemudian menyalakan rokoknya.

Setelah selesai melepas rindu dengan tunangannya ( Lusi juga menawarkan apakah Rem mau ngobrol dengan Vlad, yang ditolak dengan ucapan terima kasih oleh Rem), gadis itu pun kembali melanjutkan menikmati pemandangan  Puncak kepala Elang.  Sementara Rem tanpa sepengetahuannya sudah mengambil beberapa foto Lusi lewat kamera di tangannya.

“Paparazzi” tutur Lusi pelan ketika mengetahui tingkah sahabatnya itu.

 Rem cuma tertawa dan kemudian melanjutkan aktivitasnya.

“Lus, sekarang di kepala elangnya deh, mumpung sepi”

“Ngeri ah Rem” balas Lusi pendek, kemudian memasukkan tangannya ke kantong jaketnya. Udara tiba-tiba menjadi lebih dingin.

“Gak lah, santai, banyak kok yang foto disana, mumpung sepi”

Lusi pun kemudian memberanikan diri, duduk di ujung batu yang entah bagaimana ceritanya memang membentuk kepala elang tersebut. Sementara sahabatnya sibuk mencari angle yang lebih bagus. menurutnya.

Lusi lagi-lagi tersenyum.

“Rem, udahlah, disana aja”

Rem menggeleng,”kurang oke, mainstream banget, udah banyak yang foto kaya gini ”

Rem kemudian mendekati sebuah batu paling ujung, yang sudah dipagari. Rem masih mundur dan ebrgerak mencari angle yang tepat, namun entah karena licin atau apa, tiba-tiba Rem kehilangan keseimbangan, dan parahnya pagar tidak dapat menahan tubuhnya, dan kemudian….

***

Lusi dan Vlad masih berdiri bersalaman dengan para undangan, ketika pandangan mata Lusi melihat seseorang di gapura melati : pintu masuk  ke acara resepsinya. Pria itu memakai baju dan celana putih. Rambut gondrongnya disisir rapi ke belakang, dan sepertinya dia tersenyum ke arah Lusi.

Panggilan pelan dari Vlad, suaminya, membuat pandangannya teralihkan dari gapura melati, dan kembali bersalaman dengan para tamu yang sudah mengantri. Sebagian besar adalah tamu dari kedua orang tua mereka yang cuma sepersekian yang mereka benar benar kenal. Sementara beberapa rombongan teman teman Lusi dan teman Vlad sudah pulang dari tadi.

“Kau gak apa-apa ?” tanya suaminya ketika antrian salaman sudah mulai sepi.

“Bentar” bisiknya.

Lusi mengangkat sedikit rok ungunya yang menyapu lantai, pelan dia turun dari pelaminan, dan menuju ke gapura melati. Dia melihat kiri kanan, mencoba mencari sosok tersebut, tapi dia tidak menemukan seorangpun seperti yang dia lihat tadi,

Apa matanya yang salah?

ketika mau berbalik ke pelaminan tak sengaja pandangannya menuju ke buku tamu di meja tak jauh dari gapura melati.

AREMUS DORMATA

Tanpa dia sadari seseorang sudah berada disampingnya.

Vlad ternyata sudah ikut turun di pelaminan dan sekarang sedang  menggengam tangannya yang tiba-tiba gemetar. Suaminya itu ikut melihat ke buku tamu.

“Paling kerjaan iseng temen-temen kau, jangan risau” tuturnya pelan  sambil masih menggenggam tangan mempelai wanitanya tersebut. Ketika para tamu mulai melihat ke arah mereka, keduanya pun tersenyum.

“Iya, paling kerjaan anak-anak,” ujar Lusi pelan kemudian menyeka air matanya dengan cepat, dan sejurus kemudian, dia kembali berjalan dengan suaminya menuju pelaminan.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s