Balado Si Ray

Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, saya sebenarnya berniat menyelesaikan koleksi di meja Boss saya ini ketika saya masih berstatus orang kantoran, tapi karena ada satu buku yang absen, maka saya gagal menyelesaikannya. Barulah ketika editor saya : Nenek Oni, menghibahkan boxset ini, saya yang sekarang berstatus pengangguran terselubung ini punya kesempatan untuk menyelesaikan balada keren ini.

Ada beberapa alasan kenapa buku ini berpindah ke tangan saya, pertama, karena Oni tidak suka ( atau mungkin sudah masuk ke fase benci?  😀 ) pada karakter Roy ini, mungkin bisa dilihat dari reviewnya di sini, atau bisa juga karena Oni yang penggila fantasi tidak mau buku ini ‘menodai’ koleksi fantasinya, ( padahal buku ini juga fantasi  : fantasi para pria :D) . dan terakhir, mungkin Roy ini sedikit banyak mengingatkan Oni kepada saya…

img-20160309-wa0018

HA HA HA

**

20161202_000555

BALADA SI ROY,  karangan Gol A Gong ( sudah di kembalian dengan ‘A’ terpisah, setelah sebelumnya disambung dalam wujud Gola Gong )  ini sebenarnya merupakan kumpulan cerita  dari majalah HAI yang dalam kemunculan awalnya diterbitkan dalam wujud sepuluh buku, tapi belakangan, dicetak ulang kemudian menjadi lima buku dengan ukuran yang tentunya  lebih tebal,sementaa dalam boxsetnya juga dilengkapi dengan buku naskah filmnya yang tidak ( baca : belum ) terwujud, Covernya keren, sayangnya sinopsis dari lima buku tetap menggunakan kisah yang sama dari buku pertama.

Buku ini, seperti halnya fiksi remaja lainnya, berisi hal-hal penting dalam kehidupan remaja : petualangan, keluarga, persahabatan  dan tentu saja, cinta wanita

Sepanjang buku kita disajikan petualangan Roy ke pelosok Indonesia, menikmati kerasnya jalanan sekaligus indahnya pemandangan dan kehidupan berbagai daerah, sembari Roy menuliskan catatan  tersebut untuk di kirimkan ke HAI, menerima honor dan menggunakannya lagi untuk perjalanan berikutnya.Ada banyak alasan kenapa Roy memilih untuk advonturir/ journey/ traveling, selain untuk mencari inspirasi, dan mengerti makna hidup, salah satu alasannya yang lain adalah mewarisi semangat almarhum papanya.

Sepeninggal papanya yang mengakhiri petualangannya ketika membuka rute baru di  di gunung tertinggi di indonesia, Roy cuma tinggal dengan mamanya, ditambah seekor anjing herder bernama Joe, yang nantinya juga menjadi salah satu penyebab perjalanan Roy. Selain itu seperti  halnya remaja lainnya,  Roy, punya banyak teman dan sahabat, mulai dari RAT (Roy Andi Toni), geng pertama Roy ketika pertama kali pindah ke Banten, yang berujung tragis.  Borsalino, gengnya Dulah, yang awalnya  menjadi lawan akhirnya kawan, juga SPIDER kawan-kawan Roy di Bandung,  juga kawan kawan sesama traveler dari manca Negara dan orang orang yang ditemuinya di tiap kota perjalanannya.  Perkelahian, silang pendapat, kemalangan, kehilangan semuanya mendapat tempat dan menjadi catatan dan pelajaran berharga untuk Roy. Dari kesemuanya, yang paling menarik dari 5 buku/ sepuluh kisah ini  buat saya pribadi adalah ketika Roy si bandel keren menemukan saingannya : sang pengembara, yang merepotkannya ketika kehilangan belahan jiwanya  : blue ransel-nya . Si pengembara bahkan  mampu membuat sebuah orchestra yang melibatkan banyak orang untuk mempermainkan Roy. Sayangnya tokoh menarik ini tidak pernah hadir lagi sampai di buku terakhir,

Terakhir, kurang lengkap membahas si bandel ini, kalau tidak menyertakan para wanita yang berada di sekelilingnya, di tiap kota dan tiap perjalanannya. ada banyak sekali wanita yang singgah di hidup Roy  ( bahkan saya malas menuliskannya satu persatu saking banyaknya .:D)

“Kamu seperti  koboi Amerika saja Roy, meninggalkan  wanita di tiap kota yang kamu lalui”

Namun, dari sekian  banyak wanita, menurut saya cuma ada beberapa yang tergolong penting dalam kisah Roy :

  1. Ani , si dewi venus, cewek pertama di buku pertama Roy, yang kemudian menjadi penghuni sinopsis sampai buku ke 5, entah apa alasannya, padahal sudah ada entah berapa wanita lagi setelah Ani, tapi mungkin Dewi Venus adalah salah satu yang beruntung mendapatkan perhatian lebih dari si nakal, tidak cuma singgah, karena walaupun Ani sudah menikah, Roy masih kembali mengajaknya bertemu, di toko kaset saat itu. Manis.
  2. Si manis, Suci, yang awalnya kenal dari wanita Roy yang lain : Jesse si keren. Suci juga yang membuat Ray hampir saja mengakui adanya cinta, bagaimana dia ‘cemburu’ melihat suci bersama cowo lain, juga menjadi pemilik kisah terpanjang bersama Roy, baik lewat surat-suratnya selama Roy traveling atau pertemuan mereka kembali.
  3. Mima, si cewek berbibir merah delima. Cewe ini dimana koboi kita merasa ditampar, ketika ‘korban- korban’ Roy lainnya cuma bisa menerima kepergian Roy tanpa terikat apa-apa, Mima, tidak. Mima memaki Roy di tengah hujan, dan tidak memberi kesempatan Roy untuk melakukan pidato pembelaannya.
  4. Ina, si gadis jerman, yang mengisi perjalanan Roy selama di India, menelusuri Gangga, menikmati indahnya taj-mahal, menonton konser, sampai menghabiskan malam berdua,
  5. Aisyah,seorang pemilik perusahan besar di makasar, di kenal Roy di atas kapal menuju Ambon, mamah muda ini masuk list karena ini adalah favorit pribadi si Ray, bukan si Roy.

“entahlah, apa yang sebenarnya ada di benak si Roy tentang wanita. Kadang kala sebuah episode sudah direncakan dan dia sekaligus memerankan pemain utamanya. Itu memang betul. Pernah suatu kali seorang kawan wanitanya protes “kalau nyari inspirasi jangan nyusahin orang dong, Roy!”

(125,solidarnos)

Lalu Kepada siapakah hati Roy berlabuh? mampukah Roy bertahan dengan kepercayannya tersebut?

Selamat membaca !

**

box-set-balada-si-roy.jpg
ngambil dari greeny-onie.blogspot.com

“ Roy cuma traveling Ma. Melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain. Gunungnya adalah kota, hewan-hewannya adalah manusia” ( 55. Traveler)

Seperti Roy yang pada akhirnya memilih meninggalkan kuliah sastranya di Bandung, dan kemudian traveling ke manca negara untuk belajar di ‘universitas kehidupan’. Pada akhirnya, Balada si Roy ini seakan seperti sebuah kehidupan sendiri di tiap lembarnya. Ceritanya terus maju, masalah  datang, namun tidak berlarut, satu, dua judul, kemudian selesai. Tidak ada musuh abadi,kalau kita mau melapangkan hati. Kesedihan akan berganti kebahagian, demikian sebaliknya, dan seperti kehidupan pula, tiap halaman dan ceritanya memberi kita pelajaran : tentang bersyukur, berbagi, memberi, tentang menghargai orang lain, dan diri sendiri, tentang keluarga, tentang cinta, dan tentang mimpi.

 **

Sedikit tambahan, ada sebuah hal menarik lain yang dituliskan Gol A Gong, lewat Roy :

“Ini jelas surprise, segalanya di luar batas kesadarannya, dia menyadari ini  sebab akibat. bukankah kalau  rajin belajar kita akan pintar? menyirami tanaman berarti akan memetik buah-buahan? nah si Roy sudah bekerja keras dan berjuang untuk menjadi seorang pengarang dan hasilnya mulai nampak sekarang. walaupun sedikit. ya, memang masih belum apa apa. masih seujung kuku/ belum bisa menularkan trend permen karet dan rambut gondrong model John Taylor” ( Bad Days 186)

Dari tokoh-tokoh keren yang hadir di generasi 80-90 an, memang, si rambut sarang burung berpermen karet tetap menjadi favorit saya. tapi yang pasti, saya percaya, bahwa Roy, kala itu sudah mendapat tempat spesial di bagian remaja lain yang mungkin tidak terwakili oleh pemilik vespa kuning,  symbol remaja ceria, konyol,  yang hidup di area aman ini. Roy yang pemberontak dan ‘liar’ dan baik hati, juga mungkin membagi tempatnya di jalan bersama si wartawan jalanan yang juga doyan kebut-kebutan. Sementara di   tempat lain lagi, yang lebih mentereng, remaja kalangan atas, diwakili oleh seorang lelaki sempurna, yang baik hati lagi pintar, dan seterusnya.

Sementara untuk Oni, remaja perempuan berusia lanjut ini, walau tidak di tulis di era tersebut,  lelaki 80-90-annya tetaplah Dilan, seniornya, yang konon cuma bisa dipandangnya dari kejauhan, ketika punggung kokoh itu sudah menjadi milik kakak kelasnya, Milea.

HA HA HA

peace, sekali lagi, tengkyu buat boxset, ( atau bookset sih) yang keren dan menginspirasi ini Nek!

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s