Perjalanan lintas waktu, pilihan, dan takdir.

Konon, di dunia ini tidak ada yang namanya  kebetulan, semuanya sudah dipersiapkan, bahkan kebetulan yang sangat kebetulan pun, semua sudah ada dalam sebuah timeline mahabesar yang disebut  maha rencana.

Kebetulan, belakangan  serial tv yang sedang saya ikuti, pun serial tv baru yang muncul belakangan, seperti Traveller, Timeless, Frequency  hampir semuanya bergerak dalam jalur yang sama : perjalanan lintas waktu. Ada yang pergi kemasa lalu, ada pula yang berpindah ke masa depan, ada yang ingin memenuhi ambisi pribadi, ada yang kebetulan ikut, sampai ada yang berpetualang dengan misi besar : menyelamatkan bangsa dan dunia.

Tidak heran, lagi-lagi sebuah mimpi abadi saya untuk memperbaiki ‘kesalahan-kesalahan’ di masa lalu dengan menumpang mesin waktu, kembali muncul kepermukaan. Percayalah yang begini-begini tidak hilang, mungkin saya cuma memindahkannya beberapa level ke bawah.

Kalem, walupun membawa bawa perjalanan lintas waktu, saya tidak akan membahas sesuatu yang berat seperti yang terjadi di film Predestination (2014) nya Ethan Hawke, dimana dia, istrinya, kakeknya, anaknya adalah DIRINYA SENDIRI. Saya juga tidak akan membahas sebuah teori popular seperti grandfather paradox dimana kamu tidak mungkin membunuh kakekmu dimasa lalu, karena ini akan membuat dirimu tidak ada, dan kalau tidak ada kamu tidak akan bisa membunuh kakekmu,

bla bla bla

Pertanyaan saya, bagaimana kalau kita pergi kemasa lalu, kemudian membiarkan kakek kita hidup, bercengkrama, membocorkan satu dua rahasia. Kenapa harus membunuhnya?

Lupakan

Saya bukan ahlinya, lagian paradox ini sendiri sudah coba ‘dijelaskan’ oleh para peminat perjalanan lintas waktu, salah satunya adalah dengan menghadirkan timeline B :  sebuah waktu alternative, dimana kamu tetap bisa membunuh kakekmu, dan hidup terus berjalan….

Dan, disinilah, tentang timeline, atau garis waktu ini, hampir semua serial tv yang saya sebutkan diatas sepakat:

bahwa tidak ada timeline yang sempurna..

Simpelnya, ketika seandainya saya berbalik ke masa lalu, memperbaiki A, maka ketika saya kembali ke masa sekarang, A akan baik namun saya akan merusak B, bahkan mungkin kehilangan B, ketika saya kembali memperbaiki B, maka bisa saja C atau D yang berubah, kira kira demikian.

Entah kenapa, saya cocok dengan teori ini, karena bukankah rasanya terlalu mudah dan indah ketika saya, anda, seseorang yang lain, atau kita, bisa memperbaiki semuanya dan membuat semuanya sempurna sesuai skenario kita?

Karena sejatinya tidak ada yang sempurna kecuali penguasa waktu yang maha sempurna, jadi kenapa tidak bersyukur saja dengan pilihan  pilihan kita?

pilihan pilihan anda?

pilihan-pilihan kamu, RAY…

**

Kebetulan juga, saya sedang memainkan sebuah game android baru berjudul CHOICES, yaitu game yang tentang … PILIHAN.

Game ini mirip seperti buku pilih sendiri petualanganmu, yang dulu pernah ngehits, mungkin diantara teman-teman pernah membacanya, serial ini punya beberapa judul, sama seperti  game ini yang juga  punya beberapa genre cerita. Diantaranya romance yang menyorot kehidupan mahasiswa baru, kemudian ada crime tentang kasus pembunuhan di Hollywood dan yang terakhir, favorite saya : cerita  fantasy tentang perebutan kembali tahta, putri yang diasingkan, pengguna sihir, suku yang hilang, dan seterusnya, dan seterusnya

 Screenshot_2016-10-28-10-23-35.png

Saya sendiri sudah menyelesaikan buku pertama dari The Crown & Flame ini. sementara saya belum memulai buku kedua, karena chapternya masih belum lengkap, saya takut nagih dan menunggu itu perih.  Mungkin kalo buat para hardcore gamer ini cupu banget : cuma milih-milih kaya ujian pilihan berganda. Tapi buat saya pribadi, selain gambarnya yang ciamik, cerita yang dibikin buat game CHOICES ini oke banget, terutama buat The Crown & Flame , memang, kalau buat para pembaca novel fantasy hardcore ( *cough* ONI *cough*) ini bukan lagi sesuatu yang baru, tapi upaya untuk menghadirkan cerita cukup rumit  untuk game se’remeh’ ini, lengkap dengan trik dan intrik, kejutan, karakter-karakter dan referensi : saya harus angkat topi buat penulis game ini.

Namun ada  satu hal yang lain yang harus menjadi catatan:

Walau game ini memberikan kita pilihan, kebebasan, namun tetap saja, ada sebuah koridor besar yang harus kita jalani, ada yang tidak bisa diubah, selalu ada ‘event’ yang membuat kita kembali ke jalur yang ditetapkan si pembuat game :  Kenna sang putri yang terbuang memang tetap akan bisa mengambil kembali kerajaannya. Tapi bagaimana caranya, siapa saja yang akan kita ajak terlibat,  sekejam atau secerdas apakah tuan putri Kenna nantinya? semuanya jelas berbeda. Misalnya,saya menyelesaikannya  dengan senjata short sword,  bala tentara yang tidak begitu banyak, kemudian saya juga memilih membunuh beruang raksasa,  menghancurkan mahluk penjaga labirin yang harusnya bisa jadi ally, dan membuat  pilihan-pilihan lain yang kadang, seperti hidup, harus diambil karena ini sebuah keharusan. Juga ketika bermain sebagai Dominic si penyihir api, saya memilih untuk flirting dengan gadis-gadis lain, dan di akhir buku 1, memilih memeluk Kenna lebih sebagai sahabat daripada menjadi cinta happily ever after sang putri.

HAHAHAHAHAHA

Mungkin begitulah, cara takdir bekerja, kita seolah-olah memilih, atau mungkin kita memang memilih, tapi tetap saja selalu ada jalan, selalu ada cara. ada rambu, remah roti  atau apapun yang membawa kita kembali, menggiring kita ke jalan dimana seharusnya. Mungkin juga seperti waktu, yang akan ‘memperbaiki’ dirinya sendiri dengan cara yang  tidak kita tau, agar semua sesuai seperti yang sudah digariskan sang penguasa waktu.

***

Terakhir, Ini akan membawa kita pada pertanyaan :

Kalau suatu saat nanti saya  secara kebetulan menemukan.  Me-ne-mu-kan, bukan menciptakan mesin waktu, apakah saya memilih menggunakannya atau tidak?

Jawaban saya: apakah saya benar-benar punya pilihan?

**

 56.jpg

Advertisements