Kala & Bahagia

Shinta adalah jenis manusia yang tidak percaya akan takdir, menurutnya, segala sesuatunya pasti bisa dijelaskan, ada sebab, ada alasan, ada aksi, ada reaksi.  Itulah kenapa, sampai saat ini dia masih belum bisa mengerti dan masih tidak bisa terima ketika Wana, kekasihnya, vokalis band indie ternama  di kotanya memutuskannya tanpa dia tahu apa yang salah tentang hubungan mereka yang sudah berjalan cukup lama tersebut.

“Mungkin ini sudah jalannya Shin, sudah takdir” Tutur Wana waktu itu.

bullshit

**

Shinta terbangun, nafasnya memburu. mimpi itu lagi.

Sebenarnya mimpi nya biasa saja, tidak mengerikan, bukan hantu atau monster, dia cuma bertemu dirinya sendiri dalam wujud cukup berbeda.

Dan ini sudah hari ketiga.

**

“Mimpi si Wana lagi?” tanya Oman, sahabat sekaligus rekan siarannya yang sebenarnya punya nama yang cukup keren: Abdi Romansa, tapi di antara teman-temannya malah percaya kalau ‘oman’ sebenarnya cuma kependekan dari Hanoman.

 Shinta cuma menggeleng.

“Udahlah, apapun itu, mimpi cuma bunga tidur”

Shinta menghela nafas,“Nenek gua juga bilang gitu kali Man”

Gadis berambut hitam sebahu itu menyesap kopinya,  ”Tapi ini udah yang ke tiga kali, ini kayak yang….”

“Kayak yang ada di  film-film lo kan ya?” Oman menggeleng gelengkan kepalanya, “Lo udah kebanyakan nonton film Shin, way too much

Shinta menyesap lagi kopi dicangkirnya, omongan Oman ada benarnya, dosis filmnya berkali kali lipat di banding sebelumnya. Dia tau ini pelariannya dari pikirannya yang masih kepada Wana, dan seperti biasa, film-film ini cukup membantu.

“Mungkin juga sih, tapi..”

Oman melihat ponselnya “Ga ada tapi-tapian, yuk cabut, lima menit lagi lo on air, ntar si Raksasa ngamuk-ngamuk lagi” tutup Oman merujuk kepada program director mereka yang memang punya ukuran di atas rata-rata manusia.

*

“Satu penelpon lagi sebelum Shinta pamit undur dari ruang dengar mitra ayodya sekalian“ ujar Shinta di microphone-nya setelah menerima Kode Oman yang menjadi operator Shinta hari ini. Jam ini sebenarnya bukan jadwalnya Shinta, tapi karena Ayu yang seharusnya siaran ada keperluan yang bersifat emergency, maka Shinta pun diminta Raksasa untuk menggantikannya. Shinta menyanggupinya walau siaran  romantis sejenis ini bukanlah keahliannya. Sayangnya, seperti kata Mas Raksasa diawal pembekalannya dulu, dia harus bisa menguasai semua program, tau sedikit tentang banyak hal, dan seterusnya. Lagian, belakangan ini dia sebisa mungkin dia memang sedang menghindari kostannya yang terlalu banyak mengingatkannya akan kenangan indah bersama Wana.

“Silahkan” ujar Shinta setelah menerima kode berikutnya,

Si penelepon mulai bercerita tentang susahnya melupakan kekasihnya.

Shinta geleng geleng kepala, inilah sebenanrya mengapa dia tidak begitu suka memegang program in, terlalu banyak remaja labil yang hidupnya seakan cuma masalah cinta, cinta  dan cinta. Tapi bukankah dia tetap harus profesional? maka Shinta pun mengeluarkan jurus-jurus andalannya, materi-materi contekan dari dialog dialog film romantis di kepalanya bermunculan seperti script di depan matanya.

its more than enough to please him. 

Tapi ternyata penelpon diam beberapa saat.

“Tapi itu semua gak mungkin” tak lama kemudian terdengar suara dari seberang sana

“Gak mungkin kenapa? “ Nada Shinta mulai berubah.

Tidak terdengar jawaban dari si penelpon.

“Gak mungkin karena dia bakal susah ngelupain elo, gitu?” Nada Shinta menaik, Oman menatapnya dari seberang sana.

“Kenapa jadi seyakin itu ? LO CATAT YA, MOVE ON ITU GAMPANG, SEKEREN APAPUN LO!” sambung Shinta.

Kemudian terdengar telpon diputuskan.

“Sorry”, ujarnya pelan ke Oman sambil memegang kepalanya yang mendadak sakit.

Oman melepas headphone,bersandar lemas ke kursinya. Raksasa pasti  ngamuk.

**

Walaupun matanya menatap ke layar yang sedang memutar salah satu film favoritenya, dia tau, sahabatnya ini sedang tidak berada disana.

“Katanya udah gak mikirin Wana lagi”

“Emang udah enggak” jawab Shinta pendek

“ Trus, lo masih mikirin si Raksasa ngamuk tadi?”

Shinta menggeleng, “Itu mah emang salah gue, buat apa dipikirin”

“Jadi ini soal…”

“Nyata banget kaya ngeliat cermin gitu , Man-” potong Shinta cepat.

“Persis” sambungnya kemudian sambil terus melihat ke layar

Even the way she rolls her eyes” Shinta masih lanjut bicara sendiri, Oman cuma mendengarkan sambil terus memperhatikan film yang sedang di putar di layar depan mereka.

Shinta diam sejenak, Oman memperhatikan sahabatnya tersebut.

“Tapi ada yang berbeda…”

Ada jeda lagi disana.

“Gue ga sefeminim itu”

Ada jeda lain yang lebih panjang dalam monolog sahabatnya itu.

“TUNGGU! KENAPA GUE BARU SADAR”

Shinta memencet tombol di remote, kemudian menatap serius kepada lelaki di sebelahnya. matanya membesar. Oman tau gejala ini. Dia sudah terlalu sering melihat wajah sangat antusias sahabatnya akan topik ini.

“Atau mungkin gue belum se feminim itu, Man?”

Oman menggeleng  “Here we go…”

“Gimana kalo itu cara diri gue dimasa depan buat ngasih tau sesuatu bakal terjadi”

Oman memegang bahu rekannya tersebut, “Shinta cantik, dengerin Oman ya”  Oman mengambil nafas “Dream is just a dream ,okay, mending lo istirahat, biar besok seger , lo ga mau kan di strike sekali lagi ama si  Raksasa?”

“Tapi Oman, dengerin gue dulu deh…”

No no no” Oman menggeleng “Gue balik” ujarnya sambil memasang jaketnya.

“Lo nginap disini aja Man, gue mau cerita”

Oman yang udah berdiri dari sofa, kembali duduk “ Really?  Gue masih belok kali ”  ujarnya sambil berjalan kearah pintu ”Lagian gue juga ga bakal ngerti  cerita lo soal perjalanan lintas waktu, dunia parallel dan apalah itu” Oman pun menutup pintu.

**

Shinta bermimpi lagi.

Kali ini jaraknya dan gadis itu makin dekat,

Sekarang semuanya jelas!

Bukan, gadis di depannya ini ini bukan dirinya,walau harus Shinta akui, mereka memang bagai pinang di belah dua.

Lalu siapa?

Gadis itu memegang tangannya, menatap matanya, kemudian mengucapkan sebuah nama,

Shinta terbangun lagi,

SIAPA RAMA?

**

Shinta sedang serius  membuat cue card dengan Oman di stand sekretariat festival film kotanya, saat tiba-tiba lelaki itu datang bersama hujan. Lengkap dengan tas ransel lusuh yang cuma yang disandang sebelah,sebuah kaos hitam dengan kemeja flannel yang tidak dikancing, rambut gondrong acak-acakannya, serta sebuah kamera di tangan.

“Permisi mas, saya numpang neduh” ucapnya ke Oman. Ramah. Berbeda dengan visualnya yang cukup menyeramkan. terutama kumis dan jenggotnya yang sudah agak berantakan tak terurus.

“Oh iya mas, silahkan” balas Oman tak kalah ramah.

Shinta yang sedang asik tidak memperhatikan lelaki yang kini sedang menyalakan rokoknya tersebut.

Oman mencolek baju Shinta, “Cucok” komentarnya kemudian tanpa suara.

Shinta menggeleng, kemudian melanjutkan kesibukannya. Sementara Lelaki itu beberapa kali melirik kearah mereka, seperti ada yang Oman cuma senyum senyum tiap kali lelaki itu menoleh kearah mereka.

“Sorry, Dari film apa ya mas?” tanya Oman, karena memang yang sudah hadir jam segini adalah para finalis buat festival film kota mereka tahun ini.

Lelaki itu tersenyum, “Oh gak mas, saya ga ikutan pengen liat pemuteran aja”  ujarnya agak  gugup sambil lagi-lagi beberapa kali melirik kearah Shinta yang masih sibuk menulis.

“Ow, pemutarannya diundur ke jam 8 mas, masih lama” jawab Oman kemudian “Eh,  namanya siapa mas?” Oman tersenyum, Shinta menggeleng lagi.

“Rama“ Jawab si lelaki pelan sambil mengulurkan tangannya.

Shinta tersentak. tapi kemudian dia tersenyum.

kebetulan. Di kota sebesar ini pasti banyak yang punya nama Rama, berapa peluang dia bertemu dengan  nama yang di sebut gadis itu di mimpinya.

Oman menjabat tangan  sambil menyebutkan namanya

“Wah, mas Oman dari AYODYA Radio ya, pantes saya kayak pernah liat”

“Shinta” giliran Shinta mengulurkan tangan.

Ragu-ragu Rama menyambut uluran tangan Shinta.

“Oh, Iya, saya…saya selalu dengerin mbak di MOVIESTALK” ucapnya kemudian

“Suka film juga mas?” tanya Oman kemudian sambil menyinggung Shinta dengan sikunya.

“Lumayan” jawab Rama pendek ke Oman, masih mencuri curi pandang ke arah Shinta.

Shinta memberikan pandangan aneh ke Oman, kemudian melihat ke arah lelaki tersebut.

 “Fotografer ya mas?” tanya Shinta demi melihat tangan Rama yang menenteng kamera.

“Oh, bukan mbak, ini iseng doank” Rama mengangkat kameranya  “Saya biasanya nulis-nulis aja mbak”

Shinta mengangguk angguk.

“Di media?” lagi-lagi Oman yang bertanya.

“Dimana aja sih mas, tapi seringnya sih curhat di blog”

“Wah, saya suka tuh baca-baca,boleh minta blognya mas?” tanya Oman makin bersemangat.

“oh, Boleh mas”  lelaki itu membuka dompetnya dan memberikan kartu namanya,

“Ada disana semua mas, siapa tau butuh orang buat nulis-nulis juga” ucapnya diikuti sebuah senyuman,

 Dan seperti sebuah skenario yang dirancang tepat waktu. hujan mendadak berhenti.

“Yuk, mas, mbak, kalau pemutarannya masih lama, kayanya  saya pamit dulu, Makasih”

“Okay, sama sama mas Aksara Ramayana”, Balas Oman membaca kartu nama di tangannya, diikuti sebuah sikutan lagi ke Shinta yang sepertinya dari tadi menjadi sasaran mata Rama.

“ Oh, iya, Thanks ya udah  dengerin MOVIESTALK”

Rama tersenyum, membungkuk sedikit, kemudian berlalu dari dua sahabat tersebut.

**

Shinta dan Oman berpandangan, sama sekali tidak percaya dengan apa yang mereka lihat di blog Rama. Tepatnya di postingan tiga hari lalu : sebuah  foto yang sangat mirip dengan Shinta, sekaligus perempuan yang menurut Shinta mendatanginya di mimpi.

Di tulisan itu Rama bercerita kalau  hari itu tepat setahun  yang lalu. perempuan yang amat disayanginya harus pergi selamanya karena sebuah penyakit. Nama perempuan itu Juliet,yang entah bagaimana caranya, kebetulan juga seorang penyiar sebuah radio kecil di kota besar tempat mereka bermukim.

I don’t know what to say Shin, tapi mungkin ini pertanda biar seseorang segera move on” kata Oman, kemudian melirik Shinta.

Shinta menarik nafas panjang, kemudian bermaksud membahas ini lebih jauh ketika Raksasa mendatangi mereka.

“Shin, gini, gue mau tugasin lo di Ayodyahati, so, program lo nambah satu ya berarti”

Shinta baru akan membuka mulutnya, bertanya.

“Jatayu mau resign, ada urusan keluarga yang harus dibereskan ke Inggris, anaknya belum terbang sekarang sih, tapi dia udah bilang, kalo dia mungkin gak bakal bisa lanjut ” Lanjut lelaki yang mereka sebut Raksasa tersebut.

Shinta melirik Oman.

“So, Gimana Shin?”

“Gimana ya mas, mas kan tau sendiri, kemaren.. saya – “

Dan ucapannya lagi lagi dipotong program directornya tersebut.

“Ah, yang udah lewat mah udah Shin, ga usah dipikirin. Kalo gue gak percaya lo bisa, masa gue mau kasih ke elo” ujarnya menatap serius kepada Shinta, “Ya ga Man?” lanjutnya seperti meminta dukungan Oman.

Oman memberikan jempolnya.” Sip bos, yang udah lewat mah udah!”

“Ya udah, pokoknya lo jajal dulu aja, gimana-gimananya nanti kita omongin lagi” Raksasa kemudian berlalu dari sana, meninggalkan Oman dan Shinta.

“Apaan sih lo, cari muka?”

Oman tertawa “Don’t get me wrong, gua cuma setuju ama kata kata si Raksasa, yang udah lewat mah udah!, masalah lo mau nerima program ini apa enggak sih, itu hak nya elo”

Oman kemudian memegang tangan sahabatnya itu “ Tapi ya, kalo menurut gue, mungkin udah saatnya lo melirik hal-hal baru”

Shinta melirik Oman “Kita masih ngomongin soal Ayodyahati kan Man?”

Oman terlihat menahan senyumnya. Shinta Balas tersenyum sambil menatap layar didepannya

“Udah takdir gue kali Man”

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s