Klise

Klise. Kata  Itu yang pertama kali muncul dipikiranku ketika aku membaca cerpen di tanganku ini, bagian dari sebuah kumpulan cerpen dari pengarang baru yang bercerita tentang romantisme di toko buku, dimulai  bagaimana seorang gadis kebetulan mengambil buku yang sama dengan lelaki dengan rambut bergelombang dan tatapan elang. Meh, stereotype lelaki cool dalam sebuah film yang baru-baru ini sempat booming lagi walau sekuelnya tidak menghadirkan kisah baru. Paling tidak untukku. Untungnya buku yang mempertemukan mereka bukanlah buku puisi, kalau sampai itu buku puisi, lengkaplah sudah.

ada apa dengan cerpen ini?  Utopis. Abis.

Padahal, kenyataannya, dulu, aku juga sosok gadis pendiam penyuka  kesendirian, malah mungkin  lebih parah dari gadis di dalam cerita yang sedang aku baca ini. Aku suka membayangkan kalau ada lelaki rupawan yang memandangku diam-diam ketika aku sedang duduk di bangku taman, atau memotretku kala berjalan sendirian di trotoar kota, atau seperti sekarang ini, mengajakku kenalan saat membaca gratis di pojokan toko buku, apalagi seperti scene di cerpen ini : di awali dengan bersamaan mengambil buku yang sama, berkenalan, diskusi buku yang sama, pacaran, kemudian hidup bahagia sampai akhir zaman..

wake up gals!

“Maaf Mbak, kalau baca jangan di lantai, itu sudah ada kursinya” seorang petugas toko buku ini menegurku.

Aku nyengir kuda, meletakkan buku tadi dan kemudian berlalu dari pandangannya.

**

Aku rindu perasaan ini

Aku memang sudah lama tidak datang ke toko buku. Biasalah, kesibukan kantor dan  rumah. Akibatnya aku lebih sering memesan buku lewat toko online, itupun lebih sering  nitip  teman-temanku. Buku-buku yang kubeli pun bukan pilhanku sendiri, lebih sering merupakan rekomendasi teman-teman kantor yang kadang bukunya juga di rekomendasikan temannya, dan temannya juga rekomendasi dari temannya, Begitulah.  Makanya, aku sangat merindukan hal ini :  memilih, membaca dan menemukan sendiri. Memegang sampul dan lembar halamannya, mencium aromanya. Katakanlah aku old school, tapi ini yang membuatku belum bisa pindah ke buku elektronik yang sedang menjamur dan katanya lebih praktis.

Buku itu.sexy.

Aku tersenyum sendiri. Sebuah judul terbaru dari pengarang terkenal di negeri ini memenuhi rak di depanku. Hebatnya, rak di sebelahnya pun masih dipenuhi beberapa judul buku lamanya yang masih di cetak ulang untuk entah ke berapa kali. Aku tidak suka pengarang ini. Tidak adil memang, karena aku tidak pernah membaca bukunya. Tapi paling tidak, aku tau apa isinya, karena Si Mas, mantanku, adalah penggemar beratnya. Mulai dari Romance, action dan fantasy, Si Mas punya semuanya. Bekali kali lelaki ini mempengaruhiku, tapi tetap tidak berhasil. Entah kenapa, just not my cup of tea. Tapi tetap saja, sebagai kekasih yang baik, aku selalu  mengalah untuk  menemaninya ke acara – acara yang melibatkan pengarang favoritenya tersebut.

“Dia itu penulis lintas genre, Mas tidak tau gimana caranya bisa menghasilkan banyak karya dalam satu waktu, bagaimana proses kreatifnya” katanya suatu ketika. Aku cuma bisa manggut-manggut saat itu.

Saat ini, Aku meletakkan bukunya.

Hujan.

**

“Un,aku mau ke lantai atas, nyari komik, Un ikut?” terdengar tanyanya diantara rintik hujan malam itu.

Uni, memang panggilan darinya untukku, karena memang aku lebih tua dua tahun, Adek adalah juniorku di kampus yang kebetulan berasal dari daerah yang sama.

Aku diam sejenak, kemudian menggangguk.

“Yakin?” ulangnya.

Aku tahu, dia tahu kalau aku tidak suka berada di tumpukan buku buku penuh gambar itu. lagian kalo dia sudah disana, dia seperti anak hilang, aku ada atau tidak bukan lagi soal baginya.

Dia memegang tanganku, aku terkesiap, ini pertama kalinya dia berani menyentuhku.Mukaku memerah, seperti anak SMA pertama kali merasakan cinta, padahal kami tidak punya hubungan apa apa selain senior-junior.

Dia berhenti sejenak. Masih memegang tanganku.

 “Un, mau jadi pacarku gak?”

Aku kaget, cowok macam apa yang melakukan penembakan disini?

“Kamu…”

Dia tersenyum, membetulkan letak kacamatanya yang melorot. Jelas dia grogi. Aku berani taruhan dia sama sekali tidak berencana melakukan hal ini, aku tidak tau alasannya, tapi ini terlalu tiba-tiba..

“Harus disini?” Aku setengah tertawa

Adek mengangguk, “Kalau Uni bilang tidak, paling tidak, komik-komik ini bisa menghiburku” jawabnya kemudian.

Aku tersenyum. Hujan di luar makin deras, tapi  aku menyukainya.

**

 Suara petir bersahutan!

Aku putus dengan Adek. Dia ketahuan punya cewek lain, teman satu angkatannya. Waktu itu, kata teman-temanku, ini murni kesalahanku karena  pacaran dengan brondong. Padahal setahuku tidak begitu, kalau mau selingkuh mah, siapa saja bisa !

Aku misalnya,waktu masih bersama si Mas, aku juga pernah selingkuh. Bedanya, ketika Si Adek selingkuh, kami sedang dalam keadaan baik baik saja. Sementara selingkuhku waktu itu cukup beralasan :  LDR.

Jadi sudah jelas kan siapa yang salah?

Ceritanya, pada suatu sore di sebuah toko buku, entah setan apa yang merasukiku, aku nekad mendatangi seorang cowok yang sedang serius membaca di pojokan. Singkat cerita,  dia meletakkan bukunya, kita berkenalan, pergi makan, dan berakhir di kostan. Hebatnya, setelah malam itu, cowok ini  menghilang dari duniaku. Aku awalnya bisa menyembunyikan cinta satu malam ini, tapi di sebuah sesi telponan malam dengan Si Mas, entah kenapa, aku tidak sanggup lagi, aku menceritakan dan mengakui yang sebenarnya .Malam itu cerita aku dan Si Mas resmi berakhir.

Maaf Mas.

**

“Maaf, aku lupa ngasih tau” ucapku kemudian terdengar jawaban dari pria yang menelponku.

“Udah, cuma keasyikan baca, maaf ya Sayang” sambungku kemudian

Begitulah aku, kalau sudah memasuki toko buku, aku lupa segalanya, sampai aku lupa bahwa aku sudah bersuami: pria yang tadi mengatakan akan menyusulku kesini, ke parkiran,  tepatnya. Karena suamiku ini entah kenapa tidak begitu suka dengan buku-buku, tiap kali kesini, dia akan menemaniku sampai parkiran, menungguku di mobil, atau di gerai makan samping toko buku ini, karena dia tau, aku akan melupakannya setelah masuk ke toko buku,

Begitulah, ternyata, pada akhirnya aku tidak pernah berjodoh dengan pangeran toko buku. Lagian, siapa yang bilang kalau wanita suka  buku juga harus berjodoh dengan lelaki yang juga suka buku?

Klise.

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s