Hujan, kenapa?

Oktober, atau tidak, tidak ada yang berubah dari hujan di kota ini, tidak menyisakan tempat untuk mereka yang terlambat. Terlambat pergi, terlambat menyadari.

Seperti siang ini, Roma berjanji bertemu seorang calon clientnya, tapi karena keasikan main game-alasan bodoh- dia harus kalah dengan hujan yang lebih dahulu datang,

Ya, Lagi – lagi.  Hujan. kenapa?  Bathin Roma.

Roma bukan lelaki yang benci hujan, dia bahkan jenis lelaki yang suka menari dibawahnya dan menikmati setiap tetesnya, tapi  bukan hujan yang seperti kali ini. Hujan kali  bukan jenis hujan yang bisa digunakan untuk reka ulang drama serial korea kesukaan Yuli. Seperti kepercayaan mantan kekasihnya itu : hujan seperti  ini  cuma dingin dan basah, tidak romantis. dan indah

Hujan yang membasahi kamar kostannya yang bocor kembali memapahnya ke dunia nyata. Tapi tidak memberikan jawaban. Sementara hujan di kaca jendelanya sekarang menghadirkan pemandangan baru : sebuah gazibu di tengah taman kota yang pernah mereka claim sebagai milik mereka. Sebuah Gazebo dimana  mereka bisa melihat ke sekeliling taman kota mereka yang memang digunakan sebagai  lahan serba guna, tapi umumnya menjelma sebagai ruang seni terbuka. Sehingga  tidak mengherankan kalau hampir tiap hari mereka bisa melihat ekspresi seni disana. Kadang mereka melihat pembacaan puisi, lain waktu ada  anak-anak kecil menari, pernah juga mereka melihat orang berteriak-teriak sendiri.

Sungguh indah, mereka pernah menyukainya

Ah hujan. Kenapa?

Rama mengeluarkan kamera dari tas yang disandangnya, iseng mengecek display.

Tersenyum sendiri pada foto-foto Yuli yang sedang membalas senyumannya. Yuli, gadis cantik peranakan Sunda-Padang yang pernah mengisi hidupnya. Mantan model pribadinya yang pernah memenuhi lensa kameranya.

Dan hujan mendadak reda.

Tak lama, Roma memacu vespa kuningnya Tapi ternyata hujan reda bukan buat waktu yang lama, dan mungkin bukan buat Roma.. Di tengah jalan, di depan sebuah gedung tua peninggalan belanda yang konon kabarnya dihuni hantu serdadu yang berbaris saat malam tiba, hujan kembali bercerita.

ah, hujan, kenapa?

Roma berteduh, memarkir vespanya, sedikit ragu, karena hujan membuat gelap muncul lebih cepat. tapi ini lebih baik daripada kehujanan, vespa tuanya jelas tidak begitu tangguh di medan seperti ini.

Gelap, Untunglah, saat itu ada cahaya yang ikut berteduh,

Malaikat, atau bisa saja hantu, atau bisa juga calon pengantin yang mau sesi preweding, pasalnya Roma pernah memotret kliennya satu dua kali disini. Tapi Roma tak peduli. Gadis ini menarik. Yuli juga menarik, tapi yang ini berbeda. Cewek berambut sebahu dan berkacamata ini lebih pas disandingkan dengan kata manis daripada cantik yang  cocok dengan Yuli. Kalau Yuli itu diibaratkan matahari yang panasnya bikin keringatan. Gadis ini  seperti bulan. Meneduhkan.

Roma balas tersenyum, karena gadis itu tersenyum duluan. Sepertinya.atau tidak, Roma lupa.Yang pasti  kemudian ada pembicaraan diantara mereka, basa-basi, dari mana hendak kemana.

Sepertinya cerita ini bisa berlanjut kemana mana…

Namun, tiba -tiba sang matahari keluar lagi dari perembunyiannya,  menyebabkan sang bulan dalam wujud manusia yang Roma belum tahu namanya itu minta diri dan berlalu dari sana..

Roma menggeleng sendiri, menatap langit yang mendadak cerah di hadapannya.

Ah, hujan, kenapa…. reda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s