Balita Terkeren Sekomplek

“Harus ya Ma?”

pertanyaanku yang satu ini sudah sekian kali kulontarkan diikuti wajah cemberut ketika mama mulai sibuk mendandaniku. Entah kenapa aku masih betah mengatakan ini walau aku tahu, mamaku tidak akan mengerti, atau tidak mau mengerti sama sekali, aku juga tahu, di otaknya sekarang yang terdengar adalah..

Bagus ya ma

Tuh, aku bilang juga apa, mama  tersenyum

“Iya. Bagus kok,sekarang liat sini  donk Arai ”

Mama  kemudain mengambil foto lewat ponselnya, belakangan, yang artinya beberapa bulan belakangan, Mama sudah menjadi fotografer sekaligus pengarah gaya pribadi, kadang aku mau protes, tapi melihat senyum bahagia  ketika melihatku dan hasil foto di ponselnya, entah mengapa aku tidak tega .

“Cakep ya  anak mama”

Aku cuma bisa berkata dalam hati

tapi kan kemaren mama sudah bilang hal yang sama  sekian kali, kemarennya lagi juga entah berapa kali, tapi ..

“Lagi ya, ayo senyum ”

Aku pun kemudian tersenyum, dan cahaya dari ponsel mama kembali menerpa wajahku.

‘**

Aku memanjat jendela kamar kemudian keluar,  berjalan  ke  lahan nyaris kosong  di sebelah rumah : cuma ada tumpukan ban dan barang bekas lainnya, sebuah container  bekas yang jadi tempat tinggal di paman, lapangan basket kecil dan sebuah ayunan.  Ini merupakan markas Si Paman, sekaligus  wilayah kekuasaanku, paling tidak sampai Mama datang dan menjemputku kembali ke rumah,

Tapi kali ini ada anak lain disana. Perempuan.

“Woi. Anak baru! “ Teriakku naik ke atas tumpukan ban dan barang bekas lainnya yang disusun sedemikian rupa yang mana di puncaknya terdapat sebuah kursi raksasa.

“Ada permen ga?” Balasnya sambil mendekatiku, seakan akan teriakanku tadi tidak pernah ada.

Aku kaget, tapi kemudian reflek merogoh sakuku, mengambil dua permen yang aku pindahkan diam-diam dari stock penyimpanan mama dan memberikan satu kepada si anak perempuan ini.

“Athena” ucapnya sambil mengulurkan tangannya,

“Arai” ucapku menyambut uluran tangannya “Dan kamu duduk di tempatku”

“O, jadi tumpukan barang bekas  ini singgsasana mu”

Aku mengerenyit, kata katanya terdengar aneh, seperti  dari planet lain “Singgasana, itu apa?”

“Tempat duduk” ,jawabnya kemudian menduduki kursi di puncak itu “ Seperti ini”

“Okay, kamu duduk di singa……” aku kesulitan “Singa…. milik  ku” ucapku cepat

“Sing-ga-sa-na” ejanya perlahan

“Whatever,”ucapku kemudian, “Thats my spot!”

Dia berdiri kemudian menepuk nepuk pipiku “Begini anak tampan, lahan ini milik pamanku”

“Pamanmu?”

“Iya, kau pasti pernah bertemu dengannya, pria gendut dengan rambut agak keriting”

“Oh,kalau  yang itu aku tau,  aku juga memanggilnya paman, dia teman mama”

“Dia adik dari ibuku, jadi  aku adalah pewaris tahta yang sah”

Aku diam sejenak

“Baiklah” untuk pertama kali kepada wanita selain kepada mama, aku menyerah.

Aku berbalik arah, bermaksud pulang ke rumah, tapi anak itu memanggilku lagi

“Akhirnya aku ingat, wajar kalau aku merasa pernah melihat kamu, kamu pemenang tak terkalahkan lomba balita keren tiap minggunya di komplek ini, foto kamu gede banget di pintu masuk komplek”

Arai menggeleng sambil mengisap permennya

“ Mama”

“Aku mengerti “ lanjutnya kemudian “Tapi tetap saja, kamu keren”

“Kamu lebih keren” balasku singkat

“Keren dari mana?”

“Kamu  tau  hal yang aku tidak tau”

“Ibuku” Jawabnya kemudian

**

Besoknya , Dari kaca jendela Arai memandang anak perempuan kemarin itu sedang bermain tenda tendaan dengan mamanya di depan container. Si Paman sendiri entah pergi kemana, seperti biasa.

“Hai keren” kata mama sambil mencolek pipiku.

Aku memasang  senyum. Palsu. Mama mengarahkan kembali kamera ponselnya ke wajahku.

Aku berlari, tetapi ternyata itu tindakan keliru. Bodoh. Justru aku terlihat semakin menarik. Mama malah semakin semangat mengarahkan kameranya ke arahku, kali ini modus video.

Aku berlari keluar, menuju tempat Athena  berkemah, mama mengejarku dari belakang.

“Eh tetangga, akhirnya ketemu, maaf belum sempat main ke rumah” Kata ibu Athena, menyongsong Mama yang sedang mengejariku

keduanya pun bersalaman.

“Keren banget ya bu anaknya, pantes  langganan juara” lanjut Ibu Athena

“Ah, ibu bisa saja,makasih lho bu, anaknya juga cantik, persis ibunya” balas Mama kemudian

 Athena melirikku kemudian mengedipkan matanya.

**

Aku sedang memainkan boneka Batman dari plastik.

Mama mengambil beberapa foto sambil terus berbicara kepada tante Desi , teman mama, teman paman juga.

“Lucu kan?” tanya mama sambil memperlihatkan fotoku  kepada tante Desy

“Iya lucu, gemesin gitu”

“Makanya Des, kamu buru-buru nikah, biar bisa punya yang lucu kaya gini juga”

Aku masih memainkan Batmanku, ceritanya Batman sedang memeriksa roda mobil yang sedang aku pegang di tanganku yang satunya, karena kemungkinan kecelakaan mobil ini adalah sebuah konspirasi  tingkat tinggi yang melibatkan banyak negara, dan sebagai detektif terhebat dunia, Batman akan memecahkannya.

Tante Desi cuma diam, entah apa yang dipikirkannya, untuk yang satu ini Batman pun mungkin tidak bisa memecahkannya

Mama lagi lagi mengambil beberapa fotoku.

“Eh anak yang di depan keren ya?” ujar Tante Desi tiba-tiba.

“Biasa aja, masih keren-an Arai kemana-mana” ucap mama pendek. Ketus

“Iya keren “ jawabku sambil terus memainkan Batman ku

“o,iya, Batman ya” jawab mama menterjemahkan perkataanku  “Dia lagi seneng-senengnya ama Batman”  lanjut Mama kepada tante Desi.

“Bukan Batman ma, tapi Athena keren”  ulangku

“Ow, bukan batman, permen” Mama kemudian tertawa dan memberiku beberapa permen

Aku mau berkata “Bukan ma, Athena keren”

 Tapi ya udahlah ya, lumayan, ada permen tambahan ini.

**

“Kamu jadi pemenang mingguan balita terkeren lagi ya Rai”

Kami sudah duduk di ayunan, bagian belakang kontainer si paman, tepat di sebelah lapangan basket kecil, ukuran untuk 3 on 3.

“Kalau kamu ikut, pasti  kamu yang menang”  ucapku kemudian

“Ga lah, kamu emang keren ”

“Kamu lama lama mirip mama, menurut aku yang keren itu ya kamu”

“Kamu kecil-kecil udah gombal” ujarnya sok dewasa

“Kecil? terus kamu “

“Paling tidak aku lebih tua dari kamu beberapa bulan”

“Tau dari mana Tua?”

Dia mengeluarkan sebuah ponsel dari sakunya.

“Aku ngehack server kelurahan dan mendapatkan data kalau kamu itu lahir beberapa bulan setelah  aku”

“Wow, aku bilang juga apa, kamu keren kaya Batman”

“Ada permen?” tanyanya tanpa mengomentari pujianku

*

Sore itu, mama lagi-lagi sedang bersama Tante Desi, sore ini pembicaraan pengantar basa basi sebelum masuk ke sajian gosip utamanya adalah soal baju , jualan tante Desi di media sosial.

“Eh liat deh anak yang di depan sudah ikutan ikutan pakai baju Batman kaya Arai, padahal kan anaknya cewek” mama memulai protesnya sore itu

“ Kan ada batgirl, batwoman “ jawab tante Desi

“ Iya, tapi ka  ada Elsa, Cinderella, apa gitu yang agak cewek”

“Ya biarin aja napa sih, kali aja dia emang suka batman, papanya suka batman, atau gimana gitu”

Dia itu batman beneran ma, tante . Ucapku dalam hati, takut disalah arti. Lagi

Aku kemudian tertawa yang menyebabkan mama mengambil foto lagi dari ponsel yang selalu setia di tangannya. Berdasarkan penjelasan Athena kemaren, aku jadi tahu, kalau setelah  ini fotoku pasti dipajang  sampai empat atau 5 buah, walau pose, latar belakang, dan pakaianku sama persis, tapi mama tidak peduli. Aku melihatnya sendiri dari ponsel Athena yang dia dapat entah dari mana : : aku cukup populer di dunia maya. dan itu karena mama..  Mama Juara.

“Lagian biarin aja napa. eh, aku kan kesini mau minta bayaran baju, mana?”

“Eh, ini lebih penting kali,dari pada bayaran baju,pokoknya,  Batman itu Arai”

“Arai ? trus,Affleck?” balas tante Desi

“Affleck? ”

“Sorry, my bad” ucap tante Desi “ ini efek kelamaan nemenin musuh bebuyutan kamu nulis”

Aku harusnya tahu. pantas kalau dari tadi tante Desi terdengar seperti Paman. Mama cemberut. Aku tertawa.

**

Lomba balita terkeren sekompleks  diadakan lagi. Aku sedang  tersenyum bahagia, karena Athena juga ikut, dan aku yakin dia bakal menang.

Dugaan ku benar.

Authoria Putri Athena – Pengarang pewaris kebijaksanaan-seperti yang diceritakan Athena tentang arti namanya- pun di panggil ke panggung.

Wajah mamaku menjadi agak suram, aku mencoba tersenyum.

“Kali ini ada kejutan, karena nilai mereka sama, karena  itu Athena akan berbagi tempat dengan sang juara bertahan : Efritin Araita “

MC Tingkat kompleks itupun kemudian asik sendiri.

Aku naik ke panggung, menatap Athena, hari itu, akhirnya Raja balita terkeren resmi menemukan ratunya, atau sebaliknya.

**

“Harusnya kan Arai yang menang, kenapa anak itu juga? dia kan baru pindah, kok bisa?”

“Udahlah ma”  kata papa mencoba menenangkan istrinya.“kan Arai udah menang  berapa kali berturut turut” sambungnya kemudian

“Tapi pa, ntar pas arai ngerti dia bisa lihat, nilai perfect kemenangannya sebagai bocah terkeren sekomplek ini, sekarang kan..”

“Udahlah, mama jangan lebai ah, toh Arai nya seneng seneng aja, Apalagi  pas tadi difoto bareng Athena, Ya ga Rai?” ucap Papa kemudian mengacak-acak  tatanan sempurna rambut ikalku.

“Ah, papa! bilang aja papa naksir mamanya Athena yang janda itu, yang jago masak, yang lebih alim, yang pinter, yang lebih bohai, yang lebih semua semuanya!”

“Apaan sih ma, kenapa jadi papa yang salah, papa kan baru nongol ?” Protes papa, mengejar mama yang lari ke kamar.

**

“Lucu ya, mamaku”  Tanyaku setelah aku menceritakan kepada Athena soal kehebohan tadi siang. Sore itu kami masih duduk diatas sepeda roda tiga kami masing-masing.

“Begitulah , makanya aku tidak mau dewasa, mending jadi anak anak terus aja, lebih menyenangkan” Komentar Athena. Serius

“Sok tau kamu, kata siapa?”

“Kata Paman “ jawabnya

Aku tertawa,”Kata Mama ke tante Desi Sih, jangan percaya kata paman, dia kan belum punya anak, belum nikah juga malah, jadi, tahu apa dia cerita soal anak?”

“Eh, dia pamanku tau” ucapnya kemudian, namun detik berikutnya, dia ikut tertawa.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s