…Dan di Suatu Tempat,Tuhan Sedang Tersenyum

Tama sedang mencari angle terbaik lewat viewfindernya, sementara didepan sana, Rava, sahabat sekaligus model pribadinya sedang memasang senyum terbaik yang dia punya, walau sejatinya senyum terbaik tersebut yang dia punya masih kalah rancak dengan senyum tulus sehari harinya. Tubuh atasnya yang cuma dibalut kaos bergambar Shield Captain America dan jaket denim seperti gayanya keseharian membuatnya terlihat keras,cendrung rebel, tapi sebenarnya Tama tau, sahabatnya ini sangat rapuh, sedang resah dan gundah. Entah berapa kali Rava curhat kepadanya tentang keinginan dirinya untuk memulai hubungan baru lagi, tentang teman-teman mereka yang satu persatu mulai berkeluarga, atau caption-caption di media sosialnya. Tama masih ingat caption yang ditulis Rava di sebuah foto yang dia ambil ketika Rava duduk sendirian di  bangku kereta ketika mereka menuju ibukota.

bangku kosong, hati kosong, siapakah yang akan mengisi keduanya? #kode

atau caption di foto bendera yang di posting Rava di hari kemeredekaaan beberapa hari yang lalu :

Seperti Negara ini, aku juga mau merdeka, dan untuk merdeka, aku juga mau.. diperjuangkan. #merdeka

dan puluhan caption-caption sejenis yang selalu menunjukkan keinginannya untuk kembali jatuh cinta,  walau Rava sering kali membantahnya.

“Sekali lagi boleh gak Tam? tapi kali ini berdiri, oke ga sih? ” Tanya Rava kemudian.

Tama mengacungkan ibu jarinya “Tapi kali ga usah liat kamera ya Va”  kali ini giliran gadis manis itu memberikan ibu jarinya.

Setelah mengambil beberapa foto lagi, mereka pun berlalu dari sana.

“Gue langsung balik ya Va, ga apa apa kan?”

Rava cuma tersenyum.

“Moga lancar deh Tam” Ujarnya kemudian seperti sudah sangat tahu kemana tujuan sahabatnya ini.

“Tengkyu Bro” Balas Tama kemudian

**

Rava sedang  memilih foto-foto yang baru di transfer Tama untuk di postingnya di media sosial, walau terlihat tomboy dan cuek, Rava sangat senang menjadi model, tepatnya model pribadinya Tama, karena entah kenapa, menurut Rava, dia yang biasa-biasa saja bisa terlihat sangat oke dalam hasil bidikan Tama. Rava kemudian mengeditnya dengan beberapa filter dan kemudian diposting dengan caption yang dipikirkannya semenjak di jalan tadi :

Saat sendirian, kalau kamu tidak terlalu kuat. Jangan melihat kebelakang.

**

Di suatu tempat, Tuhan sedang tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Belakangan ini, Rava  memang sedang mendapat perhatian khusus dari Tuhan. Bukan cuma karena foto -fotonya yang selalu memenuhi akun medsos tuhan, tapi juga karena caption-nya yang Tuhan sangat tahu merupakan bentuk doa lanjutan, doa yang disamarkan. Tuhan maklum, setelah tujuh tahun membina hubungan, akhirnya Rava  dan Vino harus berakhir, di usia dimana teman-teman Rava sudah memenuhi media sosial mereka dengan foto suami dan anak anak mereka. Sebenarnya sangat gampang bagi Tuhan menemukan pengganti untuk Rava, namun saat ini sepertinya Tuhan masih ingin melihat usaha gadis ini, dan bagi tuhan, ‘usaha ‘tidak berarti Rava harus bergabung dengan biro jodoh, karena sesungguhnya bagi Tuhan,  level usaha itu bermacam-macam, sesuai kemampuan dan style masing-masing umatnya,  dan buat tuhan, caption dan ‘kode’ Rava  di  media sosial nya ini dianggap sebagai salah satu bentuk usaha yang sah dalam pencarian jodoh!

**

Tama melepas sepatunya, kemudian duduk bersimpuh di depan sebuah patung besar, dia sudah cukup lama tidak kesini, terakhir kali kesini pun cuma untuk melakukan pemotretan untuk sebuah lomba foto yang akhirnya dimenangkannya. Sebuah foto yang menang karena adanya tangan tuhan di foto tersebut.  Tapi kali ini berbeda, Tama sedang resah, dia ingin kejelasan kelanjutan hubungannya dengan Angel. Entah kenapa, kekasihnya itu seakan ingin menghindari Tama, beberapa kali pesan dan telpon Tama tidak pernah direspon, sekalinya direspon, Angel cuma berkata kalau dia sedang sibuk dan tidak punya waktu, maklum, Angel memang seorang model papan atas, model dalam definisi sebenarnya, yang berbeda dengan model ‘sekedar hobi’ semacam Rava, padahal Tama sudah berencana serius, dan sudah mulai menabung untuk persiapan hubungan mereka ke level berikutnya.

“Tuhan, apakah masih ada kesempatan untuk kami?  berikan aku petunjuk ”  tutup Tama, kemudian beranjak dari sana. Ketika dia memasang sepatu, ponselnya berbunyi. Foto Rava yang tadi dia potret muncul di media sosialnya.

 **

Rava sedang mencoba tiduran di bangku raksasanya, pekerjaannya sebagai penjaga rental playstation milik abangnya, memang membuatnya bisa mendapatkan keistimewaan sejenis ini, lagian dia cuma bekerja sampai sore, sore sampai paginya lagi, giliran abangnya yang akan mengawasi rental playstation yang belakangan sudah mulai  ini.

Rava yang hampir memasuki dunia mimpi, dikembalikan ke realita ketika ponselnya berbunyi : sebuah pemberitahuan bahwa seorang lagi menyukai fotonya : Gautama, sahabatnya.

Rava tersenyum, Seperti biasa, foto yang dia posting ke media sosial ini memang selalu menuai banyak tanda hati dan komentar, terutama  captionnya yang memang selalu berhasil memancing komen-komen menarik dari teman-temannya

‘masih belum move-on dari yang kemaren ya sis?’  komen salah seorang temannya.

Rava cuma menghela nafas.  Sampai dia menemukan orang yang baru, Vino akan terus menghantui kepalanya, tapi untuk menemukan orang baru dia harus menyingkirkan Vino dari kepalanya. dan demikianlah dunia Rava berputar, mengelilingi planet merah jambu bernama …….

..cinta.

**

Tuhan tersenyum lagi, melihat keduanya. Jangan heran kenapa Tuhan bisa, jangankan dua, dua puluh milyar juta pasang saja, Tuhan bisa melihat secara bersamaan,  karena Tuhan maha melihat. Tuhan diam sejenak kemudian menarik garis dari tama Rava, kemudian menggerakkaan tangannya dari Rava menuju…

..namun kemudian  Tuhan menghentikan tanganNYA..

“Ini kan Tam yang kamu Ingin?” Tuhan tersenyum sendiri.

**

Tama mengetuk pintu kamar Rava yang memang bersebelahan dengan rental Playstation tersebut.Semenjak lulus kuliah, sahabatnya ini memang memutuskan untuk tinggal di kamar yang lebih pantas disebut gudang itu, walau kedua orang tua Rava sempat menentan keputusan ini,  abangnya  berhasil meyakinkan kalau Rava akan baik baik saja, lagian Abangnya juga tidur di sebeuah ruangan kecil di dalam rental Playstation tersebut.

“Kesambet apa lo bangunin gue jam segini?” Tanya Rava setelah membukakan pintu

“Ga ada apa -apa, kebetulan lewat aja, gue bawain kopi. lo pasti belum sarapan kan?”  Jawab Tama kemudian masuk, seenaknya, seperti biasa.

“Menurut lo ?” Rava  kemudian berjalan ke arah kamar mandi, “Bentar, gue cuci muka dulu”

Tidak lama kemudian, sahabatnya ini sudah kembali dengan rambut pendeknya yang sudah basah, mengambil kopi dari yang sudah di letakkan Tama di meja.

“Tengkyu ya” ucap Rava sambil menyeruput kopinya

Tama cuma tersenyum  “Lo ga buka rental nya Va?”

“Belumlah,  masih jam segini, lo nya aja yang kepagian”

“Ow, sorry” Tama menyeruput kopinya lagi  “By the way, foto lo yang kemaren cantik banget”

“Oya? bilang aja lo pengen dipuji” balas Rava cepat.

Tama tertawa “Bukan itu, maksud gue lo beneran cantik, gue mah cuma tukang nyari angle yg cantik aja”

Rava kemudian tertawa “Angle? maksud lo enjel kali?”

Sadar di sindir, Tama cuma tersenyum  “Ah, udahlah, ga usah bahas dia lagi Va”

Tama mematikan rokok yang baru dihisapnya sedikie  “Kayanya Angel bukan buat gue Va”

“Trus?” Tanya Rava kemudian

Tama tidak menjawab, cuma memandang Rava, kemudian meminim kopinya.

**

“Ini cuman mau ngesave apa gimana tong,? ” Tanya Rava kepada  bocah yang sedang main di rentalnya

“Satu pertandingan ini aja boleh ga. final nih ?, kan saban hari gue main disini mulu mpok, masa ga ada bonusnya?”

“Iye, main doank, bayarnya ga tau kapan!” Balas Rava sambil kembali ke kursi kebesarannya, meninggalkan si bocah bernama Otong yang cuek dengan tumpukan hutangnya di rental Playstation Rava.

Rava melihat ponselnya, dan kemuian menghela nafas pendek, Ada 7 panggilan tak terjawab di ponselnya, Rava menggeleng pelan, sudah hampir seminggu ini, sahabatnya itu mendadak menjadi ekstra perhatian, beberapa kali dia mengantarkan makan siang, mengingatkannya untuk bangun pagi, dan membuatkannya kopi. Bukannya Rava tidak menyukai ini, tapi entah kenapa, dia merasa ada yang berbeda , apalagi ketika Tama mulai bertanya dan mencek kemana Rava,tadi telponan dengan siapa dan sebagainya. Aneh, Rava mulai merasa kebebasannya yang sudah  mulai dinikmatinya semenjak putus dengan Vino, tiba tiba menghilang, bahkan belakangan dia sudah tidak punya waktu lagi untuk menyelesaikan novelnya, bahkan untuk menulis satu atau dua cerpen untuk koran seperti biasanya.

Tapi, tetap saja, Rava menelpon balik sahabatnya tersebut.

“Hai Tam. wazap?”

“Ga, pengen ngobrol aja, lo udah makan?”

“Ow, iya, udah,  sorry rental lagi penuh, lagian ribut banget” Rava memandang rentalnya yang cuma dihuni satu orang bocah yang nyengir karena Rava masih  memandangnya

“Ntar  aja gimana Tam, sorean pas abang gue datang” Sambung Rava kemudian

“Kangen gue, sekarang aja deh” kemudian ada jeda sejenak  “Atau lo bosen ya ngobrol ama gue?”

Rava menggaruk kepalanya yang tidak gatal  “Ga sih Tam, emang lagi rame aja”

“Ya udah, ntar sore gue jemput ,ada spot baru yang bagus banget, lo ga usah dandan, natural aja lo udah cantik banget kok”

Dan seperti telpon dan chat yang datang hampir tiap malam sampai dini hari, Rava lagi-lagi tidak bisa menolaknya.

**

Di suatu tempat, tuhan masih melihat keduanya, masih tersenyum sendiri.

“Yakin, kamu butuh ini Va?”

**

Tama sudah berada di depan rental playstationya Rava, tepat jam 5, waktu pergantian shift Rava dengan abangnya. Setelah pamit kepada Si Abang, tama langsung membonceng Rava dengan vespa nya.

“Kita kemana nih?” tanya Rava penasaran

“Udah, ikut aja, lo pasti suka kok”

Kurang lebih satu jam perjalanan ke daerah yang belum pernah di kenal Rava, akhirnya Tama memarkir vespanya di depan sebuah warung, membeli  tiga bungkus rokok, sekaligus menitipkan vespanya kepada bapak pemilik warung.

“Banyak banget, tumben, biasanya batangan”

“Minggu depan rokok resmi naik, mayan, buat persiapan”  jawab Tama sambil nyengir.

“Alasan” balas Rava yang sore itu memakai kaos hitam polos, berlapis jacket kulit, bawahan celana baggy dan tentunya sneakers buluk andalannya.

mereka pun ngobrol sambil terus berjalan, tidak lama, mereka sampai di tempat yang di maksud Tama. Rava langsung terlihat bahagia, bagaimana tidak, ditempat ini ada beberapa kincir air dan kincir angin yang sepertinya sudah tidak terpakai lagi.

“Keren kan ya? gue nemu pas hunting, bukan gue juga sih, ama anak anak juga, tapi asik kan tempatnya?”

“Wah ini mah asik banget Tam, kok gue ga tau ya ada tempat sekeren ini?” benar benar terdengar nada kagum dari ucapan Rava.

Tama tersenyum lagi “Bukan cuma lo Va, yang tau ya cuma penduduk sekitar sini,dan buat mereka ya, semua ini biasa aja”

Selanjutnya, mereka pun mengambil beberapa foto dengan berbagai gaya dan background,sampai ketika matahari hampir terbenam, Tama mengajak Rava naik ke sebuah kincir angin, dimana mereka bisa melihat pemandangan luar biasa dengan duduk di bagian atas dari bangunan kincir yang cukup tinggi tersebut.

“Gue sayang lo Va” bisik Tama tiba-tiba

“Apa sih” balas Rava sambil fokus pada pemandangan luar yang terhampar di depan matanya.

“Iya, serius Va, gue sayang elo”

“Iya,iya, gue sayang lo juga kali Tam”

“Ga Va, ini serius, kalo lo mau.. “ Tama kemudian menggantung kalimatnya,  berhenti sejenak. memandang ke bawah, ke arah rerumputan yang entah kenapa menjadi sangat indah “ ..tahun depan kita nikah, lo ga usah khawatir, gue udah nabung buat semuanya” lanjutnya kemudian, baru berani menatap Rava yang cuma diam.

Rava kaget, dia sudah pernah menduga skenario ini, tapi dia menepiskannya begitu saja. Beberapa menit kemudian barulah gadis itu  memaksa dirinya berbicara.

“Trus, Angel mau lo kemanain?”

“Kan gue dah bilang, gue udah ga mikirin Angel lagi”

“Tam, walau jomblo kaya gini , gue bukan pelarian juga kali” Ucap Rava sambil menggoyang goyang kakinya yang terjuntai. Sebagian dari dirinya sadar, kalau dia bukan apa-apa dibandingkan Angel, yang benar benar mirip bidadari. Dia masih belum percaya, belum percaya semua ini terjadi, juga belum percaya diri.

Tama menghela nafas “Gue ga pernah nganggap lo pelarian Va, entah kenapa gue percaya,  tuhan yang ngatur ini semua ,tuhan yang buka mata gue, kalo sebenarnya Angel bukan buat gue,  jodoh gue ada di dekat gue, klise sih ya, tapi ,jujur,  gue emang nyaman sama lo Va, dan menurut gue, itu udah lebih dari cukup”

Rava tertawa, “Kalo soal nyaman sih, gue juga nyaman kali Tam ama lo, tapi menurut gue, jadian, dan lebih gawat lagi : nikah ga soal  kenyamanan doank kan Tam?”

Tama memegang tangan Rava, menatapnya serius, “Arava, lo ga musti jawab sekarang, besok lusa, seminggu lagi, sebulan, atau setaun, juga ga apa apa kok, yang penting, lo udah tau,kalo gue sayang banget ama lo, gue-mau-serius-ama-lo” Tama memberikan penekanan di kata-kata terakhirnya

“Sunsetnya cakep ya”, ucap Rava sambil menarik tangannya,memasukkan ke kantong jacketnya,  seolah  hal lebih indah yang baru saja dilukis tuhan dibanding pemandangan di depan mereka, tidak pernah ada sama sekali.

**

Malamnya, di atas sajadah di kamarnya, Rava menengadahkan tangannya, “Tuhan, pemilik segala solusi, mohon bantu hambamu ini…”

**

Di tempat yang lain, tuhan tersenyum lagi, “Oke, jadi kali ini, maumu apa  Arava ?”

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s