D

“Gue cuma pengen tau, gue masuk surga apa neraka?”

**

D, aku biasanya memanggilnya demikian, dan kalian juga cukup tau sekian, karena kalau kalian tau nama lengkapnya, itu cukup membahayakan, bukan cuma untuknya, tapi juga untukku dan juga segala sesuatu yang kurahasiakan. Ya, Mahluk cantik yang tak berambut lebih dari sebahu ini  mungkin satu satunya yang tahu rahasiaku, dan aku cukup kaget sama sekali karena D tidak kaget dengan hal tersebut saat mengetahuinya pertama kali. Kami sudah berkenalan semenjak D masih duduk di bangku SMA, dan kemudian kisah kami berlanjut bahkan ketika D sudah menempati posisi penting di kantornya yang sekarang. Aku? aku masih tetap seperti bagaimana D mengenalku pertama kali. Bedanya, samaranku kali ini adalah seorang penulis, karena seperti pelukis di samaran sebelumnya, profesi ini membuatku bisa bergerak kapan saja saat aku dibutuhkan, atau saat aku menginginkannya.

Apakah D kekasihku ? sekarang, mungkin kami sudah melebihi status itu. Tapi tidak, dia lebih seperti seorang guru untukku, dia yang membuatku merasa kalau aku juga bagian dari manusia, dan  kalimat favoritenya  ‘if you kiss my neck , you will amaze for what happens next ‘ adalah pelajaran favoritku, tentunya selain berbungkus bungkus rokok dan berkaleng-kaleng minuman di setiap diskusi kami.

Apakah kekasihnya tahu ? tidak, pria itu tidak pernah tahu apa yang sudah kulakukan dengan kekasihnya yang imut ini,seperti kekasihnya yang yang lain tidak tau kalau selain mereka ,  D juga punya kekasih lain, bahkan buatnya mereka tidak lebih dari peliharaan imut yang dia mainkan : anak kucing, dia menyebutnya begitu, dan aku mau tidak mau harus menyetujuinya.

**

Aku dan D punya banyak kesamaan, D adalah penggila buku dan wanita yang percaya akan keberadaan mahluk-makhluk fantasi selain manusia. Aku? , tentu saja!  bagaimana mungkin aku tidak percaya? Selain itu kita sama sama tidak suka dengan semua aturan dan ketetapan yang ada, juga banyak kesamaan lain  yang mungkin  lebih dari yang D ketahui.

“Lo tau ga sih, kita seharusnya tidak terlahir di tempat ini?” katanya suatu ketika, sebelum hari itu.

Hari dimana D mengetahui rahasiaku.

**

“Gue sayang sama dia Res”

D mulai menangis,“Gue udah coba buat  setia sama dia, gue ga punya  kekasih yang lain, cuma dia”

Hal ini beberapa saat sebelum wanitanya memutuskan mengkhianatinya dengan menikahi  seorang pria. Ya, aku tidak bisa menjudge pilihan D, karena aku juga terkadang merasa nyaman dengan para lelaki manusia ini. Apa mau dikata, aku cuma kebetulan mengambil raga pria, seperti D yang kebetulan  seorang wanita. Dan kebetulan juga, wanita  yang satu ini, membuat D  melupakan para pria-nya, termasuk yang kebetulan memilih raga pria seperti diriku.

“Gue udah korbankan semuanya, tapi dia malah ninggalin gue, anjing ga sih Res”

Entah kenapa, dia kemudian berlari keluar, dan, aku mengejarnya.

Dan kemudian, seakan melengkapi drama sang penulis cerita diatas sana, di tengah hujan, D menangis di pelukanku, Dan tanpa aku sadari,  kedua sayapku pun muncul untuk  memeluknya balik.

“Lo..,. lo punya sayap Res?” tanyanya di sela tangisnya.

Dan detik berikutnya,  D sudah berhenti menangis.

**

D benar—benar berhenti menangis, karena setelah sore itu aku selalu melihat D tertawa bahagia. Paling  tidak sampai hari ini, ketika  kedua orangtuanya memaksanya berjodoh dengan seorang lelaki, anak dari teman orangtuanya. D mungkin sedikit nakal, tapi dia bukan anak kurang ajar, karena itu, dia tidak tega membantah  perjodohan ini. Dia cuma bermaksud menggagalkannya dengan caranya sendiri.

“Gue cuma pengen tau, gue masuk surga apa neraka?”

 Tanyanya di lantai tertinggi kantornya, sehabis maghrib hari itu. Angin meniup rambut pendek sebahunya. Dia terlihat sangat menggoda, bahkan untuk makhluk sepertiku.

Aku tersenyum, “Lo ga akan kemana mana D” jawabku kemudian.

“Brengsek”  ucapnya seperti biasa, “Gue serius”

“Iya, gue juga, karena cuma manusia yang bisa masuk neraka atau surga”  Jelasku kemudian.

“Gue serius, Deares Mahayana”

“Iya, sama” telat sudah, sekarang kalian tahu nama manusiaku.

D kemudian berjalan  mundur , sampai di ujung rooftop.

“Bye Res, tengkyu udah jadi yang paling baik selama ini” D kemudian menghela nafas, “Walau gue masih penasaran , kenapa lo selalu ada tiap gue butuh. berapa lamapun  gue ngilang, gimanapun gue marah, lo selalu ada Res”

Aku mengangguk “Itu  udah tugas gue kali D”

D tersenyum,  mengacungkan jari tengahnya,

“Whatever, Res”, ujarnya kemudian sambil merentangkan tangannya, dan menjatuhkan diri seperti rencananya semula.

Aku  melihatnya memejamkan matanya ketika tubuhnya mengikuti gravitasi.

Namun, tak lama  kemudian..

…terdengar suara sayap mengepak..

dan akhirnya..

D kembali mengangkasa, dan mendarat lembut tepat dihadapanku. Sayap hitamnya terlihat serasi dengan stelan kantornya hari ini.

“ANJING, Gue…”

Aku tersenyum “Kan gue udah bilang, lo ga  bakal kemana mana D”

Aku kemudian memeluknya. ujung sayap-sayap kami bertemu

“Gue dikirim buat jagain lo, sampai waktu ini tiba, sampai lo punya dua sayap dan lo tau siapa diri lo sebenarnya” jelasku kemudian

“Tapi …?”

Aku tersenyum lagi,

“Seperti yang lo  pernah bilang D, kita berdua tidak seharusnya lahir di tempat  ini, dan kenyataannya, kita memang tidak berasal dari sini”

“Tapi..  Gue kan..” sayapnya mengepak-ngepak, membelah angin yang mendadak mulai dingin.

 “SHIT, kenapa baru sekarang, Res?” Luapnya kemudian, seakan mewakili tanya dan gelisah dari banyak kepala.

Aku kemudian menutup bibir tipisnya dengan telunjukku

”Ceritanya panjang D, tidak disini, tidak saat ini”  Jawabku pendek sebelum mencium leher jenjangnya tepat saat sayap kami saling menutup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s