Pesta Ulang Tahun Si Badut

“Aku pasti datang” ujar seorang anak kecil berambut ikal sebahu kepada Badut didepannya,

“Ini pasti akan seru” sambungnya terlihat antusias memandang kertas undangan di tangannya. Badut itu tersenyum, tentu saja, dia selalu tersenyum, karena topeng yang dia pakai memang menghadirkan sebuah senyum besar di wajahnya. Tidak mau tersenyum pun, dia akan selalu tersenyum. Badut itu melihat kembali undangan di tangannya, saat si anak tadi sudah menghilang dari sana.

Badut yang sedang duduk sendirian ini merupakan penghibur terbaik di kota kecil ini. Tidak cuma anak-anak, semua orang di kota ini terlihat  menyukainya. Setiap ada perayaan ulang tahun, atau acara bahagia lainnya, Si Badut akan selalu di undang dan dinantikan kedatangannya,  karena Si Badut memang selalu bisa membuat suasana menjadi riang gembira. Setiap orang mengenal Si Badut ini, tapi benarkah demikian? Entahlah, mungkin mereka mengenalnya sebagai Si Badut, tapi sepertinya tidak ada yang tau siapa dan bagaimana si Badut sebenarnya, bahkan konon belum ada yang melihat wajah asli Si Badut. Tapi, sepertinya tidak ada yang peduli siapa yang dibalik kostum itu, mau dia mahluk luar angkasa bertentakel delapan pun buat mereka tak masalah, selama dia bisa membuat mereka tertawa. itu sudah lebih dari cukup.

**

Sebuah pesta akan di adakan lagi, tapi kali ini berbeda, Si Badut tidak diundang!

kenapa?

Tentu saja. Karena kali ini adalah pesta ulang tahun Si Badut. karena ini acaranya, maka wajar kalau dia yang harus mengundang semuanya : mendatangi setiap anak di kota, menunjungi setiap toko, mengundang orang orang yang dia temui di jalan di kota kecil itu untuk datang ke acaranya di taman kota, tepat malam bulan purnama. Banyak yang menyanggupi untuk datang,terutama anak anak, namun tak sedikit juga yang mengatakan tidak bisa, umumnya dari kalangan orang dewasa. Maklum, walaupun kecil, kota tersebut merupakan kota industri dan pertokoan yang cukup sibuk, semua orang dewasa bekerja,dan malamnya pasti sudah sangat lelah. Sementara Si Badut tidak bekerja, dia cuma menjadi badut, dia punya terlalu banyak waktu untuk tertawa. Paling tidak begitulah yang ada dipikiran mereka.

Namun dari semuanya, ada satu orang yang sangat Si Badut harapkan kedatangannya, dia adalah seorang wanita berlesung pipit yang bekerja sebagai penjaga perpustakaan tua di kota itu. Ada satu rahasia tentang wanita berlesung pipit yang menghabiskan waktu di antara buku dan ruangan sepi ini : dari semua orang di kota, mungkin wanita ini adalah yang paling beruntung, karena mungkin cuma dia satu-satunya yang pernah melihat bagaimana rupa Si Badut sebenarnya. Ya,pada suatu ketika Si Badut bersedia melepas topengnya di depan si wanita, dan setelah kejadian itu mereka pernah beberapa kali menghabiskan waktu di sebuah coffee shop tak jauh dari pustaka tua itu, mereka berdua juga beberapa kali  menikmati sore di pinggiran sungai yang membelah kota kecil tersebut. tentunya tanpa mata besar dan senyum palsu, tapi dengan rambut gondrong ikal dan mata sendu.

“Aku pasti datang, kamu teman terbaikku” kata si wanita ketika Si Lelaki beralis mata tebal itu datang ke perpustakaan dan memberikan undangan itu kepadanya. Lelaki tanpa topeng senyum itu pun tersenyum.

**

Taman kota malam itu terlihat sedikit berubah, ada balon dan hiasan disana sini, Musik musik ceria diputar, bersahutan dengan suara klakson mobil tengah macetnya Jalanan kota. Di sebuah meja panjang ada sajian rupa rupa makanan dan minuman. Beberapa anak anak terlihat berlarian kian kemari, sementara beberapa yang lain mengelilingi Si Badut yang sedang membacakan sebuah buku dongeng untuk mereka. Tak lama, para orang tua berdatangan, sekedar mengucapkan selamat untuk Si Badut kemudian mengajak anak mereka pulang.

Perlahan,taman itu mulai sepi, cuma ada cahaya lampu dan balon, tapi si badut masih duduk sendirian di bangku taman, menatap bulan, menunggu wanita berlesung pipit. Si Badut percaya, wanita itu pasti akan datang, karena kalau ada yang paling mengerti arti kesepian di kota yang hiruk pikuk ini, orangnya pasti si wanita itu. Si Badut sudah melihatnya sendiri, bagaimana perpustakaan tua itu, cuma dikunjungi hitungan jari tiap harinya. Si Badut tau pasti, Walau kamu berada diantara ribuan buku, percayalah, sepi akan tetap menjadi sepi, dan kamu tidak akan pernah bisa membacanya, apalagi menebak menuju ke titik gila mana dia akan  membawa kisahmu nanti!

Jam raksasa di menara seberang taman kota pun berdentang, hari berganti, dan Si Badut masih sendiri.

**

Besoknya warga kota di hebohkan akan sesosok mayat yang ditemukan di pinggir sungai yang membelah kota tersebut. Tidak ada yang menyangka  badut yang selama ini menghibur mereka sudah ditemukan tak bernyawa dengan beberapa buah bekas tusukan. Akhirnya mereka sadar, mereka sama sekali tidak mengenal si badut, untuk pertama kali mereka melihat wajah asli dibalik kostum si badut : seorang wanita berlesung pipit yang rasanya pernah mereka lihat entah di bagian kota yang mana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s