TAKUT

Ahmad, remaja berkulit coklat dengan tubuh kurus itu memang terlihat biasa saja, bahkan lemah dan ringkih. Tapi jangan salah, Ahmad adalah yang paling kuat dan berani di kawanannya. Bahkan beberapa tahun lalu, dalam sebuah peristiwa perkelahian besar-besaran dengan anak komplek, dia mengalahkan Rama, jagoan anak komplek depan yang paling tinggi dan besar badannya, Ahmad berhasil mengalahkan Bocah itu dalam 3 jurus saja. Menurut Ahmad, anak itu bisa saja lebih babak belur kalo Pak Haji yang baru saja memberikan pengajian di kampungnya tidak lewat dengan seorang anak gadisnya, dan kemudian memisahkan mereka. Ahmad, memang hampir tidak ada yang dia takuti, kecuali mungkin, ayahnya.

Ahmad, dari kecil memang cuma hidup berdua dengan ayahnya, semenjak ibunya memilih pisah karena tidak tahan dengan ayah Ahmad. Semenjak itu, Ahmad dan ayahnya memang punya hubungan yang agak aneh, tapi menarik, karena selain takut Ahmad juga sangat mengagumi ayahnya. Kagum, karena beberapa kali dia tau ayahnya selalu berhasil membawa membawa pulang banyak hasil ‘kerja’ walau cuma bergerak sendirian. Gagak tak berkawan – pencuri yang tidak pernah punya komplotan- begitulah ayahnya biasa dikenalI. Menurut ayahnya, berkomplot cuma akan memperlambat kerjanya dan memperkecil pendapatannya. Walaupun ayahnya cuma seorang pencuri, sejak dahulu Ahmad sangat ingin menjadi seperti ayahnya, tapi sebaliknya, ayahnya pernah sangat marah, ketika tau Ahmad berhasil mencuri barang milik teman-temannya. Saat itulah dimana pertama kalinya, Ahmad yang waktu itu masih SMP menjadi sangat takut pada sosok ayahnya, sekaligus tetap menyimpan mimpinya untuk  menjadi sosok yang melebihi ayahnya sendiri.

Ahmad, malam ini baru saja selesai memberikan pelajaran tambahan kepada anak SMP di komplek depan demi sedikit bayaran yang bisa membantu biaya hidupnya sehari-hari. Ahmad sebenarnya hendak segera pulang dan bermain kartu bersama teman-temannya di kampung belakang, tapi ketika melihat sebuah pintu di balkon sebuah rumah di lantai dua masih menganga, itu membuat instingnya tergoda Ahmad membuka tasnya, memasang topeng badut yang selalu dia bawa kemana-mana…

Ahmad, memang sangat memimpikan beraksi dengan topeng badut seperti di film-film action yang dia tonton bersama teman-teman sekolahnya, Ahmad selalu merasa kalau beraksi sambil menyembunyikan wajah dibalik topeng itu keren, sekaligus menyeramkan.

Ahmad mulai memanjat..

**

Rama, lagi-lagi pulang larut, ini entah yang sudah keberapa kalinya, kerjaan part time di sebuah toko buku membuatnya harus melewatkan angkot terakhir yang melewati kompleknya ini. Anak muda ini terlihat berjalan santai sambil menyalakan rokoknya, di tangan kanannya ada kopi plastikan yang baru saja dia beli di warung pinggir jalan masuk komplek.

Rama, baru saja melewati gerbang kompleknya. Perlu dicatat, kompleknya Rama bukan komplek elit seperti terlihat di film dengan tembok tinggi, ataupun komplek mahal yang harganya bisa naik hari Senin depan. Komplek ini cuma komplek kelas menengah, tapi jelas masih tetap terlihat lebih baik jika dibandingkan dengan kampung belakang, yang setau Rama, adalah komplek yang berisi para penyamun dan penjahat kambuhan. Terserah benar atau tidak, tapi buat Rama hal tadi tidaklah menjadi masalah, toh selama dia lewat daerah ini dia tidak pernah takut akan apapun, kepada siapaun, kecuali sekali saja, dan itu sudah lama, walau masih membekas. Ceritanya, Rama pernah dikalahkan dalam perkelahian ketika masalah permainan bola. Di komplek dia adalah jagoannya, tidak ada yang bisa menghentikanya, tapi di kalahkan anak kerempeng dari komplek belakang, dia merasa amat di permalukan.

Rama,seperti kebanyakan remaja seusianya, akan melakukan apa saja yang dia inginkan, bahkan guru dan senior nya di sekolah juga tidak ada yang berani melarang Rama melakukan apa yang ingin dia ingin lakukan. Apalagi, kesibukan orang tuanya membuat Rama bisa lebih bebas dibanding remaja lainnya, Untungnya sejauh ini dia tidak jatuh pada stereotype sebangsanya. Rama malah memilih untuk mandiri dengan bekerja part time, dan sesekali hangout, sesekali berkelahi, atau hangout sambil berkelahI. Sama seperti remaja lainnya.

Rama bersiul-siul, udara malam ini terasa agak berbeda. Mungkin ini ada pengaruhnya ketika tadi sebelum pulang teman-temannya berbagi cerita horor. Rama sebenarnya tidak ambil pusing, tapi karena semua temannya ikut, jadi dia pun terpaksa mendengarkan seorang temannya yang melihat sosok gendruwo di pohon besar dekat pabrik tua yang tak jauh dari tempat kerjanya. Rama cuma diam, tapi dalam hati dia bersyukur ketika pulang dia tidak harus melewati jalan tersebut.

Rama merapatkan jaketnya, membuang rokoknya yang sudah cukup pendek, memasukkan satu tangan ke kantong, karena yang satunya cukup panas oleh kopi.

Rama merasa Tiba-tiba bulunya merinding. Dia pun mempercepat langkahnya

**

Pak Haji terbangun dari tidurnya, Beliau langsung melihat jam dinding, Komat kamit, kemudian beliau mengusapkan tangannya ke wajah. Jelaslah, walau tak menengadahkan tangan, beliau baru saja selesia berdoa.

Pak Haji kemudian berjalan ke rak buku di kamarnya, rak yang mungkin menjadi mimpi para maniak buku di luar sana. Pasalnya, rak ini bukan cuma diisi oleh buku buku keagamaan, tapi juga sosial psikologi, filsafat, dan buku-buku lainnya baik dari fiksi, maupun non fiksi. Wajar, kalau banyak yang berpendapat bahwa ceramah dan apa yang kerap disampaikan Pak Haji ini bukan cuma satu dimensi. Tapi sebaliknya, banyak juga kalangan yang menilai Pak haji ini menciderai nilai-nilai agama. Untunglah, lelaki yang masih terlihat bugar ini tergolong orang yang cuek, dia percaya sebuah nasehat lama : jika ada 100 yang menyukai kita, maka akan ada pula 100, bahkan mungkin lebih banyak yang tidak menyukai.

Pak Haji mengambil sebuah foto di bagian atas rak bukunya, Semenjak kematian pemilik wajah di foto itu ketika melahirkan putri semata wayang mereka, Pria ini tidak lagi berniat untuk mencari pengganti. Sudah 17 tahun berlalu, dan sekarang Gayatri sudah tumbuh menjadi anak yang cantik, tubuh semampai dengan rambut panjang tergerai persis seperti milik perempuan yang ada di foto.

Pak Haji sadar begitu banyak yang menyayangkan kenapa dirinya tidak menyuruh anak dan almarhumah istrinya memakai penutup kepala. Beberapa rekan menasehatinya, namun sepertinya Pak Haji punya satu kepercayaan, kalau kedua wanita yang amat dicintainya itu punya pilihan dan jawaban sendiri. Terutama untuk Gayatri, dia tidak ingin anaknya ini memakai jilbab cuma karena terpaksa oleh aturannya, atau juga karena ikut-ikutan trend fashion yang belakangan sedang marak-maraknya. Beliau tau putrinya itu sudah cukup dewasa untuk bersikap, Selain itu Pak haji juga tau kalau Gayatri bukan anak yang macam-macam. Shalat dan mengajinya selalu teratur, bahkan amalan sunat lainnya.

Pak Haji mencium foto di tangannya, kemudian meletakkan kembali. Beliau masuk ke kamar mandi, terdengar bunyi air, tak lama kemudian, terlihat wajah segar dan rambut yang mulai memutih itu sudah siap menghadap kiblat.

**

Ahmad melihat kiri kanan, menurut perhitungannya jam segini sudah terbilang aman untuk beraksi, apalagi sepulang memberi les beberapa hari ini dia tau bahwa tidak ada ronda malam yang diadakan di komplek ini, kecuali malam ini dia berhasil, pasti ronda itu akan dimulai lagi.

Sekarang cuma tinggal beberapa langkah lagi! dia cuma melompat dari atap rumah sebelah dan…

mendarat sempurna di balkon, tepat saat tiba-tiba lampu pemilik balkon menyala!

Gayatri yang menyalakan lampu sempat kaget ketika dia melihat bayangan seseorang di balkon, dia baru sadar kalau tadi lupa menutup pintu. Begitu juga Ahmad, tapi di banding kaget, Ahmad lebih tepat dikatakan terpesona, dan harusnya pemuda ini berterima kasih pada angin yang membuka sedikit kain pintu yang kemudian membawa nya pada pemandangan luar biasa itu. Walau dia tidak melihat rambutnya, dia bisa melihat, wajah si gadis yang masih tertutup mukena. Sungguh meneduhkan, beda dengan para artis yang dia tonton di televise buram di rumahnya, apalagi biduan yang sering pentas di kampung nya. Kecantikan mahluk didepannya ini terasa menyejukkan, tapi sayangnya kesejukan itu cuma berlangsung beberapa detik saja. Ahmad tersadar, dia berbalik, dan melompat, tapi karena tidak siap, Ahmad pun terjatuh dan menimbulkan suara yang cukup gaduh.

Pak Haji yang sedang shalat di lantai bawah, sempat kaget mendengar suara tersebut. Beliau beristighfar,kemudian meneruskan shalatnya. Jelas ada yang lebih dia takuti selain bunyi tidak jelas dan kemungkinan kehilangan harta dan bendanya.

Mendengar suara benda jatuh, Rama yang sedang berjalan terhenti sejenak, melihat kiri kanan, bergidik sendiri, kemudian mempercepat langkahnya. Perasaan aneh mulai menyelimuti tubuhnya.

**

Ahmad yang kemudian langsung sadar, memilih untuk tidak berlari, dia sengaja bersembunyi di pojok gelap yang tak tersentuh cahaya, menurut perhitungannya, ini adalah titik mati yang tak terlihat dari pintu, dari balkon atas ataupun dari luar. a perfect blind spot.

Gayatri meletakkan mushaf di meja, kemudian berjalan ke balkon, jelas tadi ada orang di sana, tapi dia tidak sempat melihat wajahnya.

Rama yang sekarang tengah berlari terhenti ketika matanya tak sengaja menangkap sosok putih yang berdiri di balkon. Sejenak berhenti,kemudian mempercepat larinya. Sementara dari balkonnya, Gayatri tertawa kecil melihat orang berlari di jalan depan rumahnya. Dia pun mengucapkan hamdalah perlahan, dia tahu Tuhan baru saja menyelamatkannya dari niatan tidak baik siapapun itu.

Pak Haji yang tak lama kemudian keluar segera membuka pintu, tepat ketika Gayatri kembali ke kamar , menutup balkon dan mematikan lampu. Dan pada saat yang sama dimana pak Haji menutup pintu kembali ketika tidak menemukan keanehan apapun, Ahmad menyelamatkan diri dari sana. Takut.

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s