Tukiak

“Tukiak sia lo nan ang laluan lai ko?”

Aku tertawa. Biasa, setan-setan berbentuk teman kuliahku ini sudah sangat percaya kalau aku adalah mahluk pencuri dan pengoleksi korek, geretan, mancis, cricket atau di daerahku disebut tukiak– benda wajib yang dimiliki seorang perokok. Kalau ketika ngumpul ada yang kehilangan benda ini, maka aku adalah tersangka utamanya, tapi aku tidak bisa marah, karena biasanya benda itu memang sudah ada di kantongku, sadar atau tidak. Parahnya, kebiasaan ini tidak hanya berhenti diantara teman-temanku, aku juga sudah mengkoleksi beberapa tukiak milik supir angkot dimana mereka sedang sibuk bekerja dan ngobrol denganku, atau milik tukang parkir yang aku pinjam ketika kami ngalur-ngidul seakan mengerti keadaan bangsa ini. Seharusnya, kalau dikumpulkan, mungkin aku sudah punya satu tas ransel penuh tukiak, tapi disana masalahnya, kadang benda ini raib entah kemana.

Mungkin tukiak atau mancis ini memang ditakdirkan berumur panjang. Beli hari ini, bisa hilang esok hari, Dapat hari ini, bisa hilang beberapa jam lagi. Penyebab nya bisa macam-macam, misalnya dipinjam  kemudian dibawa pulang, atau ada juga yang kelupaan, karena memang sedang sibuk ngobrol, sibuk dengan dunia sendiri, dan sang tukiak ini pun di ‘selamatkan’ oleh  yang lain. Dari pada mubazir?

Mungkin diantara kawan-kawan ada yang heran dan bertanya : kenapa tidak beli lagi?  Toh, harganya juga tidak terlalu mencekik kantong.

Jawaban yang bisa aku berikan mungkin cuma ini : karena hasil beli ama nyolong beda rasa, rasa apinya juga beda.

Tidak percaya, coba saja

**

Aku menyalakan rokokku. Sekilas memandang jam di mejaku. Hampir tengah malam.Dia tadi sudah memberi tahu  akan ada meeting, tapi aku tidak menyangka akan setelat ini.

“Tumben Ma, meetingnya pasti bikin kamu cape banget ya?”  Aku Tersenyum, kemudian sengaja meniupkan asap rokokku ke arahnya. Dengan wajahnya yang terlihat sangat lelah, dia masih mencoba tertawa. Begitulah, Istriku ini memang tidak keberatan dengan asap rokok, karena semenjak kami menikah, dia sudah memutuskan untuk berhenti merokok. Walau sebenarnya aku tidak pernah melarangnya.

“Begitulah Pa, item yang dibahas lumayan banyak, mana jalanan macet banget” jawabnya sambil menghempaskan tubuhnya di bantal duduk  di ruang kerjaku. Terdengar keren sih, ruang kerja, walau sebenarnya di ruangan ini cuma ada sebuah meja kecil, sebuah kursi lantai yang merupakan singgasanaku, rak buku dan komik, beberapa bantal duduk, laptop, lampu meja, dan sebuah boneka manekin di meja. Sisanya ruangan ini cuma diisini coretan-coretanku yang memenuhi dinding dan lantai.

Aku kemudian kembali mencoret coret, sesekali menggerakkan manekin untuk memastikan gerakan karakterku sudah baik dan benar.

“Gimana, Editor bilang apa Pa?”

“Minta revisi lagi sih ma, buat perkembangan ceritanya, kalau buat gambarnya sih, mereka udah cocok”

“Aku percaya kamu bisa kok Pa” jawab istriku sambil melepas blazer di depanku. Sebuah gerakan sederhana yang membuatku terpaksa menghentikan kegiatanku

“Kenapa ?” Wanita cantik berambut pendek tak sampai sebahu ini pun mengedipkan matanya.

“Aku ga tau berapa kali aku melihat itu, tapi aku selalu suka gerakan itu ma, Hawt

Dia tidak menjawab dan berlalu ke dapur kecil kami, kemudian tak lama kembali lagi dengan secangkir kopi

Hot mana sama yang tadi? “

Tanpa menunggu jawabanku dia kemudian beranjak menuju kamar,membawa blazernya,dan tanpa dia sadari sebuah tukiak jatuh dari sana.

**

Aku mengenal istriku dari temanku, tepatnya, dia adalah mantan kekasih temanku. Aku tidak bermaksud merebutnya, tapi sepertinya, dia selalu ada masalah dengan temanku itu, dari sekian curhat, dan sekian usaha, mereka sepertinya semakin tidak cocok, dan memang susah untuk dipersatukan. Singkat kata, dari teman curhat, kami sering ketemu, akhirnya jadian, dan aku hilang kontak dengan temanku tersebut. Sampai sekarang, sebegitu dendamnya kah? Entahlah, mungkin sudah jalannya demikian. Aku yang dulunya sama sekali tidak kepikiran untuk menikah malah merasa cocok dengan mahluk satu ini, walau sebenarnya kami sangat berbeda. Bukan cuma karena membentur tiang adat dan agama, tapi karena secara kasta, kami juga tidak sama.

Dunia kami keseharian juga berbeda, dia adalah tipikal yang serius dan realistis, beberapa buku di rak istriku mengatakan kalau istriku ini adalah tipikal pengguna otak kiri, sementara aku dikatakan cendrung menggunakan otak kanan. Walau, sebenarnya aku tidak terlalu percaya dan tidak begitu suka membaca buku-buku tersebut. Terlalu sistematis dan rasional. Aku lebih suka membaca fiksi, penuh intuisi dan khayalan.

Tapi sejauh ini, dari semua perbedaan itu, kami baik baik saja. Kenapa? mungkin karena kami sudah menikah.  Itu saja.

**

Budi, seorang kawan karibku yang lain datang kerumahku, kebetulan dia sedang ada kunjungan kerja  ke kotaku. Maklum, dia kebetulan bekerja di pemerintahan, bagian yang punya banyak tugas lawatan ke sana dan kemari.

Setelah menghidangkan kopi, istriku yang malam itu kebetulan pulang cepat, langsung kembali ke kamar,padahal Budi ini juga termasuk temannya. Tepatnya, istri Budi ini adalah temannya istriku.  Mungkin istriku sudah lelah, jadi tidak sempat berbasa basi.

Aku menyalakan rokokku, dan meletakkan tukiak di meja,

Budi juga mengeluarkan rokok, kemudian merogoh rogoh sakunya, mencari cari sesuatu. Tak lama dia menjangkau tukiakku.

“ Tukiak den ntah kama lo” keluh temanku ini kemudian menyalakan rokoknya.

“Baa dapeknyo, mode tu lo ilangnyo mah kawan” Jawabku berseloroh.sekaligus bernostalgia akan ‘hukum’ curi mencuri tukiak waktu kuliah dulu.

Dan kami pun tertawa.

END

1.“Tukiak sia lo nan ang laluan lai ko?: Korek siapa lagi nih yang lo embat?

2.“Tukiak den ntah kama lo” : korek gue ga tau kemana

3.“Baa dapeknyo, mode tu lo ilangnyo mah kawan” : gimana lo ngedapetin sesuatu, maka, hilangnya juga akan kaya gitu

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s