Catatan Warung Kopi

 Ramadhan mengucek matanya yang  masih mengantuk, tubuhnya masih terasa sangat lelah habis main Street Fighter terbaru sampai pagi. Buat ukuran wanita, lawannya ini juara, apalagi dia jago banget pake Zangief, karakter yang susah dipake. Anti mainstream lah pokoknya. Rama, begitu lelaki ini biasa di sapa, sebenarnya masih mau melanjutkan tidurnya, namun ketika melihat di pantulan kaca rias, wanita di depannya sudah mau berkicau..

“Bangun Ram, lo gak Jumatan? “

“Eh, sekarang Jumat ya?” Rama memaksakan dirinya untuk bangun, menguap dan kemudian bersandar ke dinding sambil memeluk guling. Imut maksimal.

“Berarti kali ini wajib jumatan ” ucapnya settelah melihat ponselnya.

“Kok kali ini ?  bukannya tiap minggu juga wajib ?”

Rama sekarang duduk dengan posisi bersila. Masih mengumpulkan kesadarannya. Masih di kasur, kali ini tanpa guling.

“Jadi gini, konon kalo gue ga jumatan tiga kali berturut-turut,  langsung dianggap keluar dari agama gue. Udah strike two nih ”

“Oh gitu, gue baru denger, itu beneran apa gimana?” ujar si perempuan sambil mengatupkan bibirnya, mencoba menyempurnakan lipstiknya.

“Ga tau juga sih, ntar deh, kalo ketemu malaikat gue tanyain” Rama menjawab asal, kemudian menyalakan rokoknya.

“Ya udah mandi sono, itu udah heboh”

Rama berdiri, kemudian memeluk wanita didepannya “Lo mau kemana udah cantik gini?” ujarnya sambil menyibak rambut indah sebahu milik si perempuan, kemudian mengecup lehernya. Pelan.

“Apaan sih Ram, udah deh!” si perempuan merapikan lagi bajunya, kemudian sekali lagi memastikannya di kaca. “Kan gue udah bilang siang ini mau presentasi ke client“

Rama cuma ber-o pendek kemudian masuk ke kamar mandi. Terdengar kran dinyalakan.

“Lo mau bareng  apa gimana?” tanya si perempuan kemudian

“Duluan aja deh, lo ga bakal tahan nungguin gue. Lama” teriak Rama dari dalam

“Emang lo tau masjidnya dimana?”

“Tau lah, gang belakang ini kan ya? kemaren gue lewat ”

“Gak sayang, di belakang itu mushalla doank, masjidnya di  depan warung kopi tempat lo nungguin gue kemaren itu”

“Oh, I see. itu masjid ya, Okay”

**

Dari pengeras suara masjid sudah terdengar panggilan Adzan, sementara Rama baru keluar dari kamar mandi. Berlenggak-lenggok sambil mengibas-ngibas rambut gondrongnya. Alhasil, ketika dia sudah rapi dengan kemeja dan jeansnya, ceramah sudah mulai terdengar hangat karena bercerita tentang kejamnya siksa neraka.  Tak lama kemudian, tokoh utama kini ini sudah berada di dekat masjid, dia berdiri sejenak, terlihat menimbang-nimbang, kemudian alih-alih ke masjid lelaki ini malah masuk ke warung kopi. Rama langsung medatangi si pemilik warung, walau baru yang kedua kalinya kesini, dia sudah cukup akrab dengan Pak Tino,pemilik warung Ini.

“Kopi kaya yang kemaren ya pak?”

**

Selain Rama dan pak Tino, warung kopi yang berukuran cukup besar itu sudah dihuni seorang pemuda yang kira-kira sedikit lebih tua dari rama, 30 an awal lah, sementara Rama berada di 20 an akhir. Tampilan lelaki ini terlohat necis, tipikal pegawai kantoran yang sedang istirahat, atau memang lagi ijin jumatan trus melarikan diri ke sini. Wajahnya tampan, teduh dan bercahaya, cambang-cambang halus menghiasi wajahnya. Kurang lebih mirip John Snow di Game of Throne, atu kalau dalam negeri, mirip Ridho Roma versi kurusnya lah.

“Gak ke masjid Den?” tanya Pak Tino, waktu mengantarkan kopi ke meja Rama yang tepat berada di depan meja si pemuda tadi.

“Lah, Bapak sendiri gak ke masjid?”

“Si Aden, ditanya malah balik nanya”

Si pemuda tadi tersenyum

Rama menyalakan rokoknya, “Tadi rencananya sih mau jumatan, tapi udah telat juga sih pak, malaikatnya udah cabut”

Rama kemudian tertawa, diikuti senyum dari pemuda tadi.

 “Cabut bagaimana Den?” jawab Pak Tino yang sudah kembali ke pusat kendali markasnya : dapur kecil tak jauh dari meja Rama dan si Pemuda.

“Lho, bapak gak tau, kan konon malaikat itu cuma nyatet sampai adzan, habis itu cabut” Jawab rama sembari sebuah pisang goreng singgah ke mulutnya.

“ Bilang aja situ males, banyak alasan” balas Pak Tino sambil menghitung uang di kotak ajaibnya.

“Tadi saya udah niat lo pak ,beneran,  tapi ngeliat warung bapak, niat saya belok”

pemuda tadi mendehem, menarik perhatian Rama dan Pak Tino.

“Sorry nih, nyambung walau ga ada kabel, jadi gimana dengan orang yang datang habis adzan, kasian donk mereka, udah cape-cape datang tapi ga dicatat?”

“Iya mas, setuju,nah, itu gimana?” Pak Tino menimpali.

“Yaa, ga tau mas, itu urusan tuhan saya rasa, pokoknya yang saya tau itu ya kaya begitu tadi mas”

Pemuda itu mengangguk, kopi di hadapannya terlihat masih utuh, tak tersentuh.

“Mas, titip warung yo!”  ujar Pak Tino yang sekarang sudah berada di dekat pintu warungnya

“Lo, bapak kemana?” Rama agak heran melihat si bapak ternyata udah  siap dengan sarung, dan terlihat sedang merapikan kopiahnya asal-asalan.

“Ke Masjid, bentar lagi mau iqamah”

“La, Warung gimana?” tanya Rama

“Itu ama si mas, udah biasa kok, lagian kalopun si masnya cabut,  pada mau ngambil apa sih, gorengan ama kerupuk? saya  ikhlas, serius. rejeki mah urusan tuhan”

“Kalau malingnya ngambil kotak duit?” Lanjut Rama kemudian

“Oh, kalo itu udah saya kosongin”

**

Rama mencomot lagi sebuah gorengan, Sementara pemuda didepannya terlihat sibuk mencatat-catat sesuatu.

“Bikin apa mas?”

 Si Pemuda tersenyum “ Saya nyatat jajan situ, kan saya dititipin warungn, takutnya saya lupa, situnya khilaf”

“Saya Rama mas” Lelaki tersebut membalik balik buku di hadapannya  “Eh, serius di catat nih?”

Lelaki itu  tersenyum lagi, Rama membalas. kaku. Cukup niatnya ke mesjid aja yang belok, tapi dia belum niat buat lebih belok dari Ini.

“Becanda kok mas, saya lagi nyatat nama Pak Tino, kan beliau barusan jadi ke masjid”

Rama tertawa. Pemuda itu tidak.

“Si mas jenaka nih, emang si Mas selain jaga warung nyambi jadi malaikat juga?”

Lelaki itu menggeleng, “ Kebalik, saya malaikat mas, yang nyambi jaga warung”

Rama tertawa lagi, tapi kemudian berhenti sendiri.

“Eh, si mas serius…. malaikat?”

Lelaki itu berdiri dari mejanya, membawa gelas kopinya dan pindah ke meja Rama. Membuka bukunya, memperlihatkan coretan coretan serta nama nama, serta sekian tanda ceklis, banyaknya angka-angka disana membuat Rama mulai kliyengan, jadi dia memilih untuk percaya saja.

“Lah,serius toh,  trus disini ngapain, ga ada kerjaan lain mas?”

“Cerita mas Rama tadi benar,  kalo udah adzan, saya ga di masjid lagi, cabut, tapi ga langsung ke langit, saya disini dulu, ngopi sambil masih nyatet liatin siapa yang datang, kan kasian, mereka udah macet, mandi wangi segala macam, masa gak dicatat?”

Rama manggut-manggut.

“Tapi nyatetnya di yang lain, gak di buku yang ini Mas”

Pemuda itu memperlihatkan satu buku lagi

‘Catatan Warung  Kopi’ Rama membaca tulisan di bagian depan  buku yang sekarang di pegang lawan bicaranya.

“Oh, ada gitu juga ya Mas” Tanya Rama, yang  kali ini cuma di jawab si pemuda dnegan kedipan mata.

Sejenak ada diam diantara mereka, sampai Mata Rama bersirobok dengan kopi yang masih tak tersentuh milik kembaran Ridho Roma itu.

“Ternyata beneran ya mas, malaikat itu ga makan minum?”

Si pemuda langsung melirik kopinya, “mmm,, ini rahasia kita aja  ya Mas Rama, tapi mau dibilang rahasia juga ga mungkin, Tuhan pasti tau.”

Pemuda itu mengambil nafas sebelum melanjutkan bicaranya,“Gini, Mas Rama tau Harut Marut?

“Carut Marut?” Ulang Rama

“Harut & Marut, malaikat yang digantung terbalik di Babylonia”

Rama berpikir sejenak ”O, iya, saya ingat, yang begituan ama wanita yang kemudian jadi planet venus , trus mabok ama ngebunuh juga, saya pernah baca, cuma lupa nama, kalau ketemu wajah mungkin kenal, jadi…”

Si pemuda di depannya ini memotong Rama sebelum cerita kemana-mana “Nah, biasanya kami-kami yang turun ke dunia manusia ini emang musti ekstra hati-hati mas. Dunia mas ini penuh godaan banget, bahkan buat kami”

Pemuda ini berhenti sejenak “Walau ya.. mereka berdua kelewatan sih”

“Maksudnya Mas?” Rama gagal paham

“Ya, kayak yang saya bilang tadi, memang agak susah untuk tergoda nafsu ama indahnya dunia kalian ini. Jadi, kadang kami harus menahan rasa penasaran kami akan segala sesuatunya, atau..”

Pemuda tampan di depan Rama ini berhenti, kemudian meminum kopinya “ ..menikmati semua ini, dan siap dengan hukuman”

Lawan bicaranya kemudian tertawa. Rama kaget

“Emang minum kopi dosa gitu mas, pakai dihukum segala?”

“Dosa?  bukan sih, tapi ya mungkin mas udah dengar, kalau kami sebenarnya gak punya  keisitmewaan buat merasakan hal – hal nikmat semacam ini”

Dia meneguk kopinya lagi, “Sementara kopi ini… ah, sepadanlah dengan harga yang harus saya bayar”

Rama manggu manggut, mencoba mengerti.

“Pokoknya Mas beruntung lah  jadi manusia, serius”

 Lelaki itu berdiri, “Saya berangkat dulu deh mas, ada janji, ketemu designer grafis cantik”

Rama tiba-tiba ingat sesuatu, “Mas serius? janjian dimana”

Pemuda itu tertawa,berhasil ngerjain manusia di depannya “Becanda, kan saya udah bilang, kalau kopi dibandingkan ama kenikmatan dunia lainnya, malaikat juga tau …”

Rama memotong, teringat sesuatu yang penting “Eh,bentar deh Mas, saya mau nanya, kali ini serius”

pemuda itu menarik nafasnya, “Okay, apa? “  Kemudian dia kembali duduk, dan menatap serius ke Rama.

“Gini,saya kan udah tiga kali nih ga jumatan, katanya sih saya langsung….” Rama menghela nafas  “Itu bener gak sih mas?”

Pemuda itu  tersenyum, kemudian menggaruk-garuk rambut ikalnya, “Begini..”

Rama menunggu…

“Ah, udah deh,  nanti kalo terlampau banyak cerita saya digantung terbalik kaya Harut Marut lagi. Maaf banget nih mas, Saya cabut ya, itu kayanya udah pada kelar jumatannya”

“Lho? ga nunggu Pak Tino dulu? sebat dulu lah, sebat” Rama menawarkan rokoknya.

“Makasih, tapi saya ga ngerokok mas, takut candu. Soal pak Tino, kan disini ada Mas Rama, lagian emang udah skenarionya gitu kok Mas” Pemuda merogoh-rogoh sakunya, “Saya kopi ini doank” kemudian dia memberikan 10.000-an lecek ke Rama “Nitip ya, sekalian aja ama jajan mas Rama, kembaliannya juga boleh buat Mas deh”

Rama terdiam, sejenak “Oh, okay, seriusan nih saya ditraktir?”

“Iya, serius, ga mau?”

“Maulah, kapan lagi coba ditraktir malaikat? tengkyu ya Mas” Jawab Rama sopan.

“Yoh” lelaki itu mengangkat sebelah tangannya, dan berlalu dari sana.

Sepeninggal pemuda malaikat tadi, Rama baru sadar, dari tadi dia belum menjamah kopinya sama sekali. Maka Rama pun menikmati minumannya yang sudah mulai dingin itu..

Damn, kopi pak Tino memang numero uno

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s