Reuni.Rangga.Cinta

Apa sih yang sebenarnya kita dapatkan dari sebuah sebuah reuni ?  Paling juga ketawa-ketiwi, hal-hal lucu yang harusnya sudah garing, trus coba kita lakukan lagi ama teman-teman kita, mencoba lucu padahal udah ga, its so last year, tapi anehnya kita tetap ketawa. Hal-hal  romantis yang dulu mampu meluluhkan lawan jenis, sekarang magisnya jadi kurang, apalagi yang di gombalin udah punya pasangan. Ujung-ujungnya cuma jadi sebuah ajang becandaan, tidak lebih, tapi percaya atau tidak, yang begini begini tetap mendapat tempat di hati, bikin senyum-senyum sendiri. Tidak ada yang istimewa,tidak ada yang baru, kita sudah terlalu kenal mereka-mereka yang ada di depan kita, kita sudah melihat semuanya, kita tau semua kebodohan yang di lakukan itu sudah sangat biasa, gombalan dan pujian itu sangat cheesy, nyanyi nyanyiannya mah itu-itu juga. Tapi ternyata tetap aja ada rasa yang diciptakannya atas dasar sebuah reuni, namanya : nostalgia.

dan AADC2, sebuah film reunian Rangga dan Cinta, sepertinya memang berangkat dari ini semua.

**

aadc2

Saya baru menonton AADC2 ini ketika sudah satu purnama minggu muncul ke permukaan, awalnya dikarenakan Bu Shasya, masih harus bolak-balik Jakarta-New York untuk menyelesaikan tugasnya, tapi kemudian  kita sadar,  bahwa menunggu ratusan purnama tidaklah buruk, karena artina  antrian sudah mulai sepi. dari ABG yang tiba-tiba juga ngefans ama Nicsap dan Dian,

.. spoiler adalah batas antara saya dan layar, seperti Rangga adalah batas antara saya dan Cinta. Lihat tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginan, untuk menontonmu sekali lagi.

Begitulah, kawan-kawan yang nonton AADC2 ini kebanyakan terlalu jahat untuk tidak segan-segan berbagi spoiler, dan saya, entah kenapa, juga tertarik untuk sedikit-sedikit mengintip spoiler tersebut. Seperti sebuah ajang nostalgia,katakanlah acara reuni, kita jadi tergelitik untuk tau, siapa aja sih yang bakal datang,sekarang udah jadi apa, mukanya kaya gimana? dan seterusnya dan seterusnya. Efeknya saya sebagai penonton seolah-olah sudah tahu, film ini akan jadi sejahat apa. Walau belum nonton saya jadinya sudah punya skenario pribadi tentang film ini. Kata-kata seperti : biasa, standar, FTV, bahkan-ada-yang-bilang-sampah, adalah apa yang memenuhi kepala saya tentang film ini. Kalau dianalogikan sebagai peserta reuni, saya jenis peserta yang  skeptis dan tidak berharap banyak ketika menghadiri ajang reuni ini.

Tapi ternyata, ketika film ini mulai berjalan, ada perasaan aneh yang menjalar di tubuh saya saya, bukan, bukan berarti film ini serta merta jadi hebat dan keren, bukan. Saya malah sadar banget, pembukaan reuni ini  biasa, terlalu biasa malah. Namun rasa hangat  itu muncul melihat teman-teman kita ( sok akrab ), berbincang dan tertawa seperti waktu mereka SMA, dengan didampingi beberapa wajah baru. Yang di omongin mah biasa aja, tapi melihat mereka itu jadi.. damn, si ini tetap gini ya, si itu kok bisa beda banget ya, persis seperti sebuah scene di reuni, yang ujungnya jadi gosip. Mungkin  komentar Bu  Shasya ke saya bisa kita jadikan contoh :

“Bajunya Titi Kamal kaya out of the world gitu ya? kaya yang tiga lagi mau kemana, dianya mau kemana..”

Trus kita ketawa-tawa deh.

Dialog-dialog yang dihadirkan juga tergolong dialog biasa, tidak ada yang istimewa.Satu dialog yang keren dan penting mungkin adalah yang ini :

Saya ikut pemilu terus kok,  pilihan kita kemaren kayanya sama deh, KECEWA GA?
-Rangga-

Jelas tidak sehebat dialog mereka di masa SMA, tapi entah kenapa jadi… termaafkan, mungkin karena kita kenal dengan orang-orang ini. Seakan dalam kepala kita ada yang bilang : Mili masih tetap lemot ya, Maura wajar lah kaya gitu, atau yang paling masuk akal : kalau Rangga ama yang cinta ngomong mah bebas, semuanya jadi keren aja.  Lalu, Apa kita suka sama apa yang mereka katakan? belum tentu,  bahkan mungkin ada ego dalam diri kita yang bilang : Gue bisa nulis dialog yang lebih dalam, lebih filosofis, jokenya juga lebih kena dari ini! atau kalo gue yang bikin, Rangga bakal jadian sama Karmen, toh mereka udah pernah jalan bareng di 3 Hari Untuk Selamanya, sampai ML pula Tapi dari pengalaman saya menonton, hal-hal yang demikian dikalahkan ama senyum Dian, muka kucel Nicho, chemistry keduanya dan tentunya keindahan magis Jogja.

ini jelas subjektif..

Lagi-lagi seperti sebuah ajang nostalgia,semisal sebuah reuni, kita mungkin kudu tau apa yang sih yang kita cari :  murni buat ketawa dan ketemu teman lama, mau pamer kita sudah sukses luar biasa, atau simply jualan MLM, apa? Dan AADC2, sayangnya, memang sepertinya dihadirkan buat ajang nostalgia, ketemu teman teman lama dan ketawa-ketawa belaka. AADC2 tidak mau pamer soal cerita yang kuat dan twist berbelit, atau dialog-dialog sinis-romantis yang quotable, AADC2 cuma membiarkan kisahnya mengalir dan tertebak begitu saja. Bahkan post credit scene , yang punya kesempatan untuk membuat penonton mengharu biru, malah di twist untuk jadi sebuah kelucuan yang lain. Tidak lebih. AADC2 jelas bukan diperuntukkan bagi mereka yang menginginkan reuni yang serius untuk mengubah nasih bangsa, AADC2 juga tidak mengharapkan muncul diskusi berat apa-apa setelah film berakhir. Jadi, buat yang bermimpi reuni Rangga & Cinta adalah reuni grande nan megah, paling tidak selevel Before Trilogy nya Richard Linklater, jelas, AADC2 bukan ajang reuni itu. AADC2 mungkin sepakat dengan definisi saya soal sebuah makna reuni : simply ketemu lagi, mengenal lagi, bercerita lagi, tertawa lagi.

Afterall, terima kasih banyak buat Miles Film yang sudah kembali menghadirkan AADC2, sebuah reuni, yang seperti beberapa reuni lain, mungkin akan masih diperdebatkan perlu ada atau tidaknya. Tapi hadirnya jelas, menciptakan rasa hangat seperti segelas kopi  yang diminum sambil menikmati senyum Dian Sastro.

Screenshot_2016-01-07-01-27-22-1
Eh, ini lagi senyum bukan sih? pokoknya foto bibir cantik yang mungkin cuma bisa dikalahkan Laudya Cinyta Bella ini bukan punya saya, saya nyomot dari IG nya teh Dian

Sekali lagi, saya  tidak tau bagaimana  beliau melakukannya, tapi Riri Riza bisa membuat saya merasa pas dengan semua tokoh yang hadir disana, mau mereka sok romantis, bokis, berubah dan segalanya, saya menikmati ketidakpedulian saya, saya tertawa dan menerima kejayusan mereka,  saya.. bernostalgia. Don’t get me wrong, sebagai sebuah film yg berdiri sendiri, AADC 2 jelas bukan film yang istimewa, tapi sekali lagi, entah apa namanya, saya menikmati proses dan perjalanannya, I DO ENJOY IT !!!. Mungkin, saya adalah seorang yang percaya sebuah nasehat lama, yang pasti akan popular lagi karena keluar dari mulut Rangga yang legendaris:

 enjoy the journey, not the destination..

…..Atau mungkin, secara tidak sadar, enjoy the journey not the destination merupakan cara saya untuk mengatakan:   saya menyukai filmnya, tapi tidak  endingnya?

Advertisements

One thought on “Reuni.Rangga.Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s