Boss Saya Bu Shasya

Saya :  Senin ngantor kan Bu Boss? Miss you…

Bu Shasya : aku sudah resign*senyum manis*

Saya : serius?

kira-kira begitulah percakapan kami lewat komen  Instagram satu purnama yang lalu, yang kemudian dilanjutkan dengan cerita yang lebih  panjang di WA..

**

Dulu,saya pernah berjanji untuk bercerita tentang seorang atasan saya di kantor, namanya Bu Shasya, Saya memanggilnya dengan Bu Shasya, Mbak Shasya, atau Bu Boss. yang-mana-aja-boleh-asal- jangan-diganggu-pas-dandan. Saya pertama kali bertemu beliau saat test masuk menjadi copywriter ( baca: content writer ) di kantor saya yang dulu. Entah kenapa, saya langsung merasa, kalau saya bakal cocok dengan wanita yang memimpin jalannya test ini.

Yeah ! ternyata, sesuai skenario di kepala :  saya diterima..

Hari ( seharusnya ) pertama masuk kantor, saya langsung bikin masalah. Ceritanya saya tidak punya pakaian yang pantas dan benar buat ke kantor. Harusnya sih kiriman celana dan sepatu pantofel yang dulu pernah saya pakai sekalinya ketika wisuda datang hari itu, tapi Tuhan berkehendak lain. Akhirnya saya memilih tidak datang, dan ijin ke Bu Shasya lewat email yang baru dibalas saat malam menjelang. Malam itu Beliau menyesalkan mangkirnya saya pada hari pertama kerja, yang biasanya tidak akan ditolerir. Menurut beliau, harusnya saya tetap datang, apapun alasannya!

Jadilah, dengan cukup minder, besoknya saya datang dengan jeans belel, sneakers dan kemeja pinjaman :  Sukses menjadi alien dekil diantara para manusia tampan, cantik dan wangi. Sampai beberapa hari kemudian barang-barang tersebut datang, …… saya masih menjadi sang alien dekil tadi.

Beli? waktu itu saya tidak punya banyak uang. Sekarang? sama aja sih.

**

Menjadi bawahan dan berada dalam satu ruangan dengan Bu Shasya adalah kebahagiaan. Alter ego nya sebagai food blogger membuat hampir tiap hari ada makanan yang datang untuk dicicipi, dan biasanya dari mulut kami, semua akan di review dengan : ENAK. Masih tentang makanan :  bersama Bu Shasya, jam makan siang adalah jam istimewa, kami satu tim promo, akan pindah ruangan ke mobil beliau, dan bergerak menuju tempat tempat makan enak di Bandung ( Baca : sekitar kantor ). Dari sinilah, menu utama saya yang cuma nasi goreng dan es teh manis ( garis miring es Jeruk ), bisa menjadi lebih variatif. dan sebelum ritual makan hari itu selesai, biasanya pemilik surgamakan.com ini sudah akan mengadakan meeting dadakan, dengan tema : besok makan apa, dan dimana?

Beberapa hari kerja, saya sudah berani menjamah buku-buku bacaan di meja Bu Shaysa. Balada Si Roy yang waktu itu berencana difilmkan menjadi pembuka perbincangan panjang kami di kemudian hari soal beberapa hobi kami yang tak jauh beda. Apalagi, setelah jam lima, selain OB dan CS yang lalu lalang biasanya memang cuma saya dan Bu Shasya yang akan menjadi penghuni setia ruangan. Jadi, sambil melanjutkan sisa pekerjaan, kami membahas buku, film atau serial TV. Pernah juga beliau memberi saya tiket cuma-cuma yang bisa digunakan kapan saja, menonton film apa saja, atau meminjamkan koleksi DVD yang dia dapat dari teman-temannya yang sutradara dan selebritis itu. Tidak cuma sebatas itu, Bu Shasya juga lawan bicara yang baik soal politik dan isu sosial yang sedang jadi hits.

Satu hal lagi yang membuat saya merasa berada di frekuensi yang sama dengan Bu Shasya adalah:  Mama cantik ini juga suka menulis. Selidik punya selidik, ternyata, sebelumnya, kerjaan yang saya kerjakan sekarang sebenarnya dikerjakan oleh beliau, jadi seringkali waktu saya ga masuk, Bu Shasya lah yang menggantikan tugas saya. Sementara saat saya masuk, beliau akan menjadi editor yang selalu stress melihat typo saya yang kadang berada di luar batas kewajaran. Bu Shaysa memang gak bisa melihat typo sekecil apapun, apalagi untuk penulisan namanya seperti contoh barusan, bahkan huruf besar dan kecil yang tidak pada tempatnya akan membuat beliau heboh. Kita lihat saja apa yang terjadi dengan tulisan ini.

Pernah sewaktu saya dan Bu Shasya mengikuti pelatihan copywriting di kantor, sang pemateri menanyakan apa yang salah dengan iklan yang ditampilkan di layar presentasinya. Sebenarnya maksud si pemateri adalah apakah kata-kata iklan tersebut terlalu panjang, kurang menarik, atau kurang efektif?  tapi Bu Shasya langsung menjawab bahwa kesalahan pada iklan tersebut adalah bahwa salah satu huruf besar berada di tempat yang tidak semestinya  Si pemateri kemudian  menjawab kalau hal tersebut memang disengaja. Terlepas benar atau tidaknya hal tersebut,  pelatihan hari itu pun resmi  kami  isi dengan BBMan  dengan tema : sang pemateri itu sendiri.

**

Hobi travelling, ketemu banyak orang, ikut banyak kegiatan, dan pengampu beberapa blog, membuat Bu Shasya selalu punya banyak stock cerita menarik. Namun dari banyak cerita beliau, selalu yang membuat saya tertarik adalah bagaimana ajaibnya BIYAN : putra semata wayang Bu Shasya yang menjadi partner utama kalau travelling kemanapun. Buat saya Biyan ini anak ajaib. Tidak heran, pola didikan yang tidak konservatif dari Bu Shasya memang membuat Biyan tumbuh jadi sosok yang tidak biasa untuk anak seusianya, in a positive way. Misalnya ketika saya bertanya pada bocah kelas 2 SD ini tentang film Batman V Superman,   ( ini serius ), dan jawaban Biyan adalah

“Katanya berantem, tapi banyakan ngomongnya, udah kaya drama korea”

Namun tetap saja, sebagai anak-anak, bocah ini kadang bisa menjadi polos untuk beberapa hal : Misal Biyan pernah protes ketika Bu Shasya memakai baju I love boys dengan tulisan BOYS yang dicoret dan diganti dengan SHOES

“Jadi mama ga sayang Biyan?”

Atau yang terbaru :  Jadi Biyan dulu di perut mama. Mama kenapa makan BIyan?

Sang mama sendiri juga punya selera humor dan celetukan yang seru. Di ruangan, di tempat makan, di mobil atau dimana aja pasti jadi seru, walau kadang terdengar agak kejam sih. Mengenai uniknya Biyan, celetukan dan joke Bu Shasya, saya sudah bikin kumpulan tulisan sendiri dari kapan tau yang sudah pernah saya kirim juga ke yang bersangkutan. mungkin suatu saat akan saya bagi disini, atau mungkin bakal hadir di toko-toko buku terdekat kalau ceritanya sudah tambah banyak, yang punya cerita setuju, dan….. ada penerbit yang berminat

Oke. Lanjut…

Walau terlihat santai, sebenarnya saya masih menyimpan kekhawatiran juga di ruangan. soalnya kalau Bu Shasya sempat kesel, pedes juga sih :  kaya cireng favorit yang suka mampir di ruangan. Atau ketika Bu Shasya stress melihat saya yang gak ngerti-ngerti di ajarin excel sederhana, atau ketika hitung-hitungan di meeting suka gak cocok ama laporan saya, disitu saya merasa sedih dan benar-benar gak enak hati. Bawaannya pengen pulang aja. *NGAREP. Tapi segitu aja sih, habis itu normal lagi. Kita gosip lagi, makan lagi : saya gendut, Bu Shasya tetap cantik-cantik aja.

Rangga dan Cinta
Cinta yang tetap cantik dan Rangga yang kebanyakan makan bulan purnama

Satu hal lagi, selama saya di kantor lama itu, kami sering kebetulan tidak hadir pada saat bersamaan. Misalnya, saya gak ikut outbond, Bu Shasya ternyata juga gak ikutan. Ketika ada latihan pernafasan atau apalah di kantor, kami sama-sama memilih di ruangan, atau paling aktif jadi tukang foto. Dan terakhir, mungkin jumlah ketidakhadiran saya dikantor, cuma bisa ditandingi oleh Bu Shasya. Jadi kadang lucu aja, kalau pagi-pagi mau ijin ke bu Shasya, eh, kebetulan  beliau juga lagi ijin ga masuk, saya langsung senyum, dan menebak kalau Beliau lagi ama Biyan di belahan dunia yang entah dimana.

**

Ketika akhirnya saya memutuskan untuk resign, mungkin ngomong ke beliau adalah hal terberat, ( walau  sama dua bos lainnya, saya juga nangis sih). Sama Bu Shasya saya gak perlu ngomong banyak, she knows me too well, jadi saya bisa lebih fokus ke nangisnya aja. Dia bisa sangat paham apa yang saya maksud.

Saya masih ingat, ketika teman- teman satu tim udah pulang, dan Bu Shasya sengaja pulang belakangan buat mendengar cecurhatan ( baca: nangis ) terakhir  saya yang amat sangat panjang, Saat itu, Bu Shasya membuka sebuah rahasia besar:

Ray, kamu tau, sebenarnya aku ga milih kamu pas test kemaren, tapi dua duanya bos kita suka ama tulisan kamu. Jangan salah paham ya, ini  bukan karena tulisan kamu, tapi karena saya tau.. anak kayak kamu kurang cocok di kantor. dan saya benar kan?

Saya malah nangis lagi. Sekaligus ingat sebuah rahasia lain yang sudah terbuka sebelumnya, bahwa sebenarnya, saya hampir tidak lulus buat ikutan test, karena pas ngelamar, di badan email saya  nulis : Salam kenal teteh. trus di tutup dengan : jodoh pasti bertemu, paling ga buat interview.

Walau Bu Shasya juga jualan cireng yang enak banget, cuma kalau di email lamaran di panggil teteh kan kurang sopan juga kan ya? 😀

Untunglah, setelah gak disana pun, kami gak hilang kontak, saya masih sering main ke kantor, curhat dan ngobrol ama beliau, ngomongin film, kirim-kiriman makanan, komen-komenan di pashatama.wordpress.com , atau cuma cek kabar masing-masing di BBM dan WA.

Pernah ketika saya main ke kantor dengan tampilan ala kadarnya, Bu Shasya nyeletuk :

Ray, kalau jelek, itu absolut, ga bisa diubah, tapi kalo dekil, ya.. itu pilihan.

Saya tersenyum. Sukurlah, gak ada yang berubah. Maksudnya, saya ternyata masih tetap setia ama pilihan saya. Saya tetap dekil. Gitu

**

“So, whats next ?”  tanya saya di WA malam itu.

“Paling mau jalan – jalan dulu, jualan dan nulis. Dengan kata lain, belum tau mau ngapain sih”, balas beliau.

Namun entah kenapa, saya justru percaya hal sebaliknya : mungkin memang hal-hal diatas justru adalah hal yang beliau mau..

SUKSES BU BOSS!

Advertisements

2 thoughts on “Boss Saya Bu Shasya

    1. wah, salam kenal ya mba Chika.makasih udah mampir. kalau ada waktu wa saya juga donk, sapa tau bisa ngomongin kerjaan juga ..:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s