Bidadari

Kepada dunia luar, temanku ini mengaku sebagai penulis lepas, tapi, mungkin cuma aku yang tau kalau wujud sejati dari makhluk ini  adalah…. pengangguran lepas. Paling tidak pekerjaan menganggurnya ini lebih terlihat jelas dibanding hasil tulisannya. Sesungguhnya, dia bisa saja  punya ‘pekerjaan’ kalau saja dia mau menuntut bayaran akan sebuah ‘profesi’ yang mungkin sudah dilakoninya semenjak dia duduk di bangku sekolah menengah pertama,  aku menyebutnya : konsultan cinta. Jangan tertawa !!! Percayalah, kalian juga  pasti punya teman yang seperti temanku ini :  jago banget ngasih nasehat cinta dan pernikahan, tapi di usia yang hampir mencapai kepala tiga, masih saja sendirian. Ketika ditanya, dia mengaku sudah melewati fase pacaran, bahkan sudah sampai ke level bosan. bla bla bla..dia sedang tidak ingin terikat dan seterusnya, dan seterusnya.

Paling tidak, Begitu katanya.

MEH. Aku tidak percaya itu semua. Alasanku jelas : aku tidak pernah melihat dia pacaran,kecuali dia pacaran dengan orang bunian dan mahluk halus lainya, atau mungkin dia pacaran lewat pintu belakang.

Serius, tapi walau bagaimanapun harus diakui temanku ini memang tempat curhat yang terbilang… lumayan. Dia punya kemampuan untuk memberikan solusi yang terdengar masuk akal, walau kadang-kadang terdengar seperti contekan dari novel-novel romantis picisan yang di konsumsinya. Terserahlah, paling tidak, dia selalu berhasil jadi  pendengar yang baik, paling tidak buatku.

“Kamu sepertinya sudah harus mulai ngambil tarif untuk setiap mahluk yang curhat ke kamu” Ujarku pada suatu ketika.

“Yakin?” Dia bertanya balik.“Kalau aku ngambil tarif, kamu sepertinya harus bayar pakai tubuh kamu, soalnya, aku punya tarif cukup tinggi” lanjutnya santai tanpa menungggu jawabanku lebih dulu. Kemudian dia mengambil rokokku, tentunya juga tanpa bertanya lebih dulu.

**

“Kamu mau nyari yang gimana sih?”

Pertanyaan yang sama lagi-lagi muncul dari mulutku, cuma settingnya saja yang berbeda-beda, kesempatan kali ini diatas tungganganku yang baru, sebuah  VW Combie bekas.

Sumpah, aku memang heran dengan mahluk berambut gondrong ini, terakhir, yang aku tau dia ingin gadis cantik, lembut, berjilbab dan berkacamata. Sekarang ketika hijab sudah booming dan tersedia banyak pilihan, dia sepertinya malah sudah tidak tertarik.

Kadang aku khawatir, bukan cuma dengan status mahluk ini, tapi juga dengan status diriku sendiri, karena lama-lama  aku bisa  diduga sebagai pasangan homonya. Aku punya Gea sih, tapi ya, harus diakui kalau aku lebih sering terlihat bareng mahluk ini.

Maafkan aku Gea

“Aku mau bidadari”  jawabnya pendek, suatu ketika, sambil membuang abu rokoknya keluar jendela. Jawabannya itu seakan menjawab pertanyaanku tadi,  padahal dia cuma menjawab pertanyaan yang memenuhi kepalanya sendiri, seperti biasa.

“Begini -” Aku baru saja protes tapi truk besar di depan kami sudah …

*

Kita tidak tau kebaikan mana yang akan berpengaruh besar terhadap kita, maka lakukan saja sebanyak banyaknya, sebisa kita. Satu hal lagi, Tuhan tidak bekerja dengan hitungan matematika, paling tidak, bukan dengan matematika manusia, tuhan punya cara menghitung sendiri.

Buktinya, kami sudah berada di tempat indah ini, kalaupun ini bukan surga, paling tidak kami belum di panggang  dipasung seperti yang ada di buku-buku yang aku baca waktu SD dulu.

Kami berjalan. Masih memakai pakaian yang sama :  aku dengan polo shirt  dan temanku ini memakai baju favoritnya seumur hidup ( dan mati ) : kemeja kotak-kotak dan kaos bergambar tokoh kartun yang aku tidak tau siapa. Trus, kami berdua sama-sama pakai jeans- sama sama pakai sneakers, dan sama-sama sudah mati.

Kami terus berjalan sampai di sebuah tempat pemandian dimana kami menemukan wanita-wanita cantik bertubuh sexy tanpa pakaian yang akhirnya mengelilingi kami, lebih cantik dari Raisa dan Isyana, bahkan kalau keduanya digabungkan sekalipun.

Dalam sekejap, aku sudah berada di kolam tersebut. Temanku? Bangsat itu  sudah duduk di sebuah sofa yang setahuku tadi tidak ada disana.

“Woi, bukannya kamu mau bidadari, tunggu apa lagi?” ajakku sambil merangkulkan tangan kepada dua bidadari terdekat dari jangkauanku.

Dia menggeleng. “Buat kamu saja,  aku cukup menonton dari pinggir sini”, lanjutnya sambil menikmati sebatang rokok di mulutnya.

Surga? rokok?  anak ini sudah gila!

“Kamu dapat rokok darimana?” tanyaku sambil masih sibuk menjamah tubuh bidadari-bidadari ini.

“Karena tidak ada tulisan ‘dilarang merokok di surga’, tiba-tiba aku pengen merokok, dan voila! rokoknya sudah ada di mulutku” jawabnya asal..

Kemudian aku sadar, itu bukan jawaban asal, itu semacam doktrin yang sudah tertanam kuat di alam bawah sadar aku dan anak anak sekitarku, bahwa, di surga semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan!

Tapi  bangsatnya, dari semua yang bisa dia pikirkan… dia minta rokok. ? Anak ini, Begonya.. dunia akhirat.

Walau begitu dia terlihat begitu menikmati rokoknya, sementara beberapa bidadari di sekitarku masih menikmati tubuhku. Perut sixpack dan dada penuh bulu-bulu halus  ternyata akan selalu terlihat menarik, bahkan diakhirat sekalipun.

Tiba-tiba, temanku tadi berjalan meninggalkanku.

“Kemana?” tanyaku heran sambil memasang bajuku dengan cara manusia bumi. padahal mungkin kalau aku memikirkannya pakaianku bisa terpasang secara otomatis. Yup. seperti yang baru saja kukatakan,  tanpa kusadari celanaku sudah  menutupi tubuhku bagian bawah.

“Ada yang datang” jawabnya sambil berbisik.

Kemudian terdengar langkah-langkah kaki di surga…

“Itu apa?” aku mulai sedikit bergidik.

“Tentara surga,kali “ jawabnya seperti biasa, sambil mempercepat jalannya

langkah-langkah kaki di surga itu kemudian terdengar semakin cepat, semakinmendekat dan kami pun akhirnya memutuskan untuk berlari!

“Tunggu, mungkinkah itu suami para bidadari tadi?” tanyaku sambil terus memikirkan perkataanku sendiri. Ya, aku baru sadar, bukankah sudah  banyak yang lebih dulu dijanjikan bidadari sebelum kami datang?

“Mungkin” jawabnya sambil mencoba mengatur nafasnya yang mulai ngos-ngosan.

Kami terus berlari sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan tersebut. sampai kami melihat sebuah cahaya diujung sana dan .. Kami pun melompat kedalam cahaya tersebut persis seperti di film-film!!!

Dan seperti di ending film-film juga, kami melihat kedua orang tua kami. Gea juga ada disana. Lengkap.

Jadi, yang tadi itu cuma mimpi?

**

Kami sedang berada di ruangan rumah sakit, dimana jasad kami berdua terbaring,

kami mati, tapi kami belum di surga.

Aku dalam bentuk roh menyandar di dinding, sementara temanku melayang dengan posisi bersila. dia memang selalu punya cara untuk terlihat keren. bahkan saat mati sekalipun.

“Kamu tau apa yang paling menyedihkan dari mati?” tanyanya kemudian

“kehilangan cerita-cerita mereka?” jawabku mencoba menirunya. Asal.

Dia tersenyum,tapi tidak menjawab. Membakar lagi rokoknya yang lagi-lagi entah dia dapat dari mana. Makhluk  ini memang tidak punya sopan santun dan etika,  tidak pernah peduli peraturan. Ini kan  rumah sakit!

Advertisements

2 thoughts on “Bidadari

  1. HAHAHAHA, Kamu mah mandi ga mandi sma aja keles.

    eniwei, kok kita sama aku juga pernah ga mandi seminggu walaupun tiap hari ganti baju. Ketika mood jelekku dateng dan lagi bosan se bosannya , kebetulan habis UN SMP dan mau masuk SMA. Hidup berasa suram mengurung diri di kamar SEMINGGU! (trus pas nonton HIMYM di episode Robin baru putus dari si DON, jadi ingek lagi perbuatan tolol itu) sampai akhirnya emak ku nangis nyuruh mandi ” YA ALLAH, SURANG KO PUNYO ANAK GADIH! JOROKNYA MINTA AMPUUUNNNNN” wkwkwkkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s