MATAHARI DI PENJARA SUCI

 “Apa kabar penjara suci?” Tanyanya di ajang telpon perdana kami.

Aku tertawa. Awalnya aku heran, darimana dia tahu sebutanku untuk tempatku sekarang ini. Ternyata, lewat percakapan dengannya, aku jadi tau beberapa seniorku di angkatannya, yang sekarang berstatus alumni, juga menyebut tempat ini dengan sebutan yang sama.

Sosok pemilik suara di seberang sana, sayangnya bukan penghuni penjara suci sepertiku. Dia Makhluk yang di besarkan di kelas yang walaupun di kepala beberapa orang dianggap tidak lebih baik dari kami, mereka terlihat lebih bahagia. Terlepas benar atau tidaknya, paling tidak mereka tidak perlu punya kewajiban tambahan sepertiku : kelas ini lah, kelas itulah, ceramah ini lah, ceramah itulah. Di masa yang konon masa paling indah seumur hidup ini, mereka punya waktu bebas lebih banyak. Dan aku pikir memang sudah seharusnya demikian…

“Kalau di kelas ini, kamu bisa masuk perguruan tinggi favorit dengan mudah, dan bisa bekerja disini, disana

Kemudian dia menyebutkan nama universitas dan tempat kerja idaman yang dimiliki bangsa ini. Aku tau, dia meledekku, walaupun kalimatnya persis dengan apa yang dikatakan orangtua dan pembimbingku di tempat ini, tapi nadanya jelas terdengar berbeda. Aku cuma bisa tertawa sambil membetulkan letak kacamataku, kemudian memainkan ujung rambutku yang bergelombang dengan jari sambil terus menikmati suara renyahnya. Begitulah, Karena sekarang berada di antara para perempuan atau akhwat, seperti panggilan yang kudapat di tempat ini, aku memang tidak mengenakan hijabku. Kamarku memang tergolong wilayah aman, tapi kalau keluar pintu sedikit saja, ini pasti akan jadi masalah. Jangankan masalah jilbab yang memang prinsipil, memakai celana panjang sebagai pengganti rok juga akan jadi masalah. Kadang aku heran, ini sekolah umum, atau Madrasah ? karena hampir semuanya harus terlihat begitu suci.

Aku menghela nafas.

“yah begitulah Da” jawabku kemudian, dan pembicaraan kami pun berlanjut.

**

Aku kenal makhluk ini seminggu yang lalu, ketika dia masuk ke ruang redaksi MATAHARI – majalah sekolahku- Jangan tanya kenapa namanya matahari, aku juga tidak tau pasti, ketika aku pernah bertanya pada seniorku, dia cuma memberi jawaban : MATAHARI itu menerangi, dan keren aja, kalau ada yang nanya, ‘matahari udah terbit?’”

Terdengar masuk akal, tapi aku tidak begitu percaya.

Ketika aku bertanya kepada mahluk ini, ternyata dia juga tidak tau. Karena sewaktu dia bergabung dengan tim redaksi pertama majalah sekolah ini, majalah yang materinya sudah rampung tersebut, gagal diterbitkan karena terlalu banyak pertimbangan ini itu, perubahan ini itu. Jadi saat itu, belum ada Matahari.

Aku tersenyum sendiri. Ternyata masalah yang kami alami adalah masalah klasik : content yang harus banyak muatan agama, cover yang tidak boleh inilah, itulah, harus punya identitas inilah, bahkan ilustrasi cerita pendek edisi ini yang menampilkan sosok gadis tanpa jilbab sempat ditentang, untung kami bisa menjelaskannya. Mungkin masalah sensor menyensor di matahari ini, cuma bisa ditandingi komisi sensor negara kami yang sensornya sudah berada di luar batas kewajaran.

Maaf, mari lupakan soal matahari, kembali ke perkenalan kami.

Saat kami sedang menyiapkan materi untuk edisi terbaru, guru pembimbing kami masuk dan memperkenalkan beliau, yah beliau, karena memang sudah sepantasnya beliau mendapat panggilan demikian. bahkan beliau juga mengakuinya.

“Stop dulu kerjaannya, hari ini kita kedatangan tamu, seorang alumni, selanjutnya mungkin Uda ini bisa berbagi tentang penulisan dengan kalian, kebetulan Uda Ramadhan ini seorang penulis ”

Sepeninggal guru pembimbing kami, aku mencoba menganalisa alumni didepanku ini, dia cukup terlihat masih muda untuk orang seusianya, maksudku diusianya yang hampir mencapai kepala tiga, dia masih terlihat seperti mahasiswa, mungkin karena penampilannya, yang rapi.. ala kadarnya, kemeja flannel tua kotak yang digulung sebatas lengan, jeans, sneakers KWan , dan kacamata yang menutup bagian paling indah dari wajahnya…

Aku tidak melebih-lebihkan, sepasang mata dibalik kaca mata itu terlihat begitu mempesona, teduh, dan… aku tidak tau apa namanya…

Gadhul bashar..

Kata-kata itu terlintas di otakku, bukan, itu bukan istilah untuk mata teduh hangatnya, bukan pula istilah untuk alis mata hitam lebatnya, itu bahasan ustadz sekaligus guru Bahasa Inggrisku di masjid, kemaren malam..

..menjaga pandangan

Bando plastik tersebut membuat rambut gonforngnya terlihat agak lumayan tapi tidak mengurangi ke-pria-annya, mungkin karena tertolong kumis dan jenggot yang dibiarkan tumbuh,walau pendek dan tertata cukup rapi.

Astaghfirullah, aku pun menundukkan kepalaku, dan serius mendengarkan.

Sekarang, dengan penampakan seperti itu paling tidak aku menunggu, Oscar wilde, Lovecraft, Poe, King atau paling tidak Shakespeare keluar dari mulutnya sambil memperkenalkan diri, tapi ternyata yang muncul adalah…

“Jadi, saya disini pengennya kita bisa sharing, seperti kata soundtracknya Pokemon : I teach you and you teach me

Teman-temanku tertawa.

“Kalian tau pokemon kan? ah, sorry, faktor usia, itu soundtrack pokemon yang pertama, dan mungkin yang terbaik, sorry, the very best” Lanjutnya kemudian.

Aku tersenyum, Boleh juga. mau tak mau aku kembali menatap matanya.

Setelah itu dia mulai bertanya soal Matahari, tentang kesulitan tim redaksi, setelah itu berbagi tentang pengalaman menulis dan tak lama kemudian meminta kami kembali bekerja sementara dia mempelajari Matahari dua edisi terakhir, sesekali bertanya dan kemudian kembali sibuk dengan coretan dna keluhan-keluhannya.

“Ga boleh bawa Handpone? ada apa dengan sekolah ini?”  satu keluhan lagi keluar dari mulutnya, setelah sebelumnya dia menyarankan tim redaksi yang laki-laki untuk melepas huruf S di tulisan SMAN di depan pintu gerbang sekolah kami.

Tak lama berselang beliau berdiri kembali, bertanya sekaligus menantang kami soal kemungkinan meningkatkan frekuensi Matahari menjadi majalah bulanan, yang biasanya bisa muncul 3 bulan sekali atau lebih lama, kalau redaksi nya lagi ga mood atau terlalu banyak perubahan disana sini. Sayangnya, dalam proses tersebut, Adzan Ashar pun memisahkan kami..

Allahu Akbar, Allahu Akbar..

Panggilan paling mulia ini juga yang kemudian menyadarkanku malam ini..

“Mau bareng ke masjid?” seorang temanku mencolek bahuku.

Aku menutup handponeku dengan tangan, kemudian menggeleng

“Biasa” jawabku pendek. Aku bohong, entah setan mana yang merasukiku.

Maafkan tuhan, bukan salahku, mahlukmu diseberang sana membuatku kecanduan.

“Sorry Uda, tadi ado kawan” ucapku.

Dan pembicaraan kami pun berlanjut. mungkin juga dengan kisah ini…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s