Lelaki Berkacamata dan Berpayung Hijau

Januari.

Dan hujan masih akan menjadi alasan yang baik untuk setiap keterlambatan, tapi juga menjadi pengantar yang baik untuk cerita di jejaring sosial mereka yang sedang terperangkap cinta. Seperti aku dulu, gadis belia yang percaya dan menggemari cerita-cerita cinta, sampai beberapa kisah di dunia nyata membuatku perlahan tidak lagi percaya virus hati tersebut. Paling tidak, aku lebih mempertanyakan keberadaannya, meragukan kebenarannya.

Sebenarnya, pusat perbelanjaan tua lokasi book-signing ini tidak terlalu jauh dari rumahku, tapi apa mau dikata, hujan membuatku tidak bisa menempuhnya berjalan kaki, kegiatan yang sudah lama tidak kulakukan. Dari jendela taksi aku melihat para pejalan kaki, ada rasa iri – apalagi jalan sedang dipenuhi payung-payung lucu warna-warni. Seperti payung hijau itu, aku juga pernah memilikinya. Payung kecil favoriteku.

Damn. hujan memang mesin waktu yang pertama kali tercipta di dunia.

**

Wajah itu…

aku lupa dimana aku bertemu denganya sebelum ini, tapi wajah tirus dengan kulit kecoklatan, mata teduh misterius berpendar kehijauan, serta kacamata bundar dengan gagang perak favoriteku itu, memaksaku untuk mencoba mendalami kembali ingatanku. Sialnya, aku benar-benar lupa, dan ini mengganggu konsentrasiku untuk melayani mereka yang sedang menunggu sepatah dua patah kata dari bibirku ini.

Teman SMP, mungkin. SMA ? bisa jadi. Masalahnya, aku bukan jenis gadis yang punya banyak teman di bangku sekolah, jadi jangan salahkan aku kalau tidak begitu kenal dengan semuanya, seperti mereka juga entah peduli dengan kacamata bundarku, rambut pixie ku yang berantakan, bahkan mungkin dengan keberadaanku.

Mata kami masih beradu.

Hari ini book-signing buku pertamaku : NAGA NUSANTARA, cerita fantasi buatanku yang berhasil menjadi hits nasional. Begitulah, setelah sekian lama menulis, seingatku semenjak SMP dulu, aku tidak pernah menyangka kalau akhirnya aku bisa menghasilkan sebuah novel fantasi, karena aku baru mencoba mendalami genre ini, karena sebelumnya aku lebih tertarik bercerita tentang : cinta

“Kamu masih ingat aku?” tanyanya ketika aku melihatnya berdiri di depanku, menyodorkan bukunya.

Aku bingung, menatapnya sesaat.

“Mau ditulis buat siapa?” tanyaku sambil membubuhkan tanda tangan.

“Terserah, aku tidak punya nama” ujarnya sambil tetap tersenyum. Smiling voice – Walau aku tidak sedang melihatnya, aku tau dia sedang tersenyum. Suranya seperti menambahkan icon bulatan kuning di percakapan ponsel. Mungkin.

Aku mengangkat bahu, dan menyodorkan kembali bukunya.

“Makasih” ujarnya pelan.

Aku menghela nafas. Rencana barusan gagal, jadi siapa lelaki ini?

**

Perfect..

Aku menyesap teh hijau di sebuah café kecil di pusat perbelanjaan kota kecil ini. Mereka yang membuka gerai makanan disini terbilang beruntung, bangunan ini sudah cukup tua, jadi mereka tidak perlu lagi sengaja mendesain ulang tempat mereka agar terlihat tua seperti yang banyak di lakukan para pemilik tempat makan belakangan ini. Ah, sudahlah, yang penting , mau minum di manapun, teh hijau ini selalu mampu memberiku kehangatan, bukan cuma kala hujan seperti ini , tapi tiap kali aku merasa sepi dan sendiri, yang berarti sama banyaknya dengan usiaku sekarang.

“Maaf mbak, boleh minta tanda tangannya?”

Suara itu mengalihkan pandanganku dari jendela kembali ke dunia nyata. Aku tidak menyangka hari ini masih ada yang mengenaliku, kemaren sih wajar, fotoku masih terpampang jelas. lagian, seterkenal apa sih penulis fantasi di negeri ini?

Aku cukup kaget, ternyata yang mendatangiku seorang waitress. Bukan maksudku merendahkan, sama sekali bukan. Siapa aku yang berhak menilai seseorang? maksudku adalah, kalaupun ada yang akan mendatangiku, itu mungkin adalah sekelompok mahasiswa di ujung sana yang sepertinya tidak punya waktu membaca karena sibuk dengan ribuan tugas dan kegiatan mereka, atau para wanita kantoran di meja satunya yang mungkin membaca bukuku untuk pelarian rutinitas harian mereka. Tapi sekali lagi, siapa aku yang berhak menentukan?

“Diah suka baca juga?” Ya, tadi aku sempat melirik nama di seragam yang berhasil menunjukkan semua keistimewaan tubuhnya tersebut.

Tuhan, aku baru sadar kalimat barusan terdengar amat merendahkan,

“Iya, saya juga suka nulis mbak” ucapnya sambil tersenyum.

Buat Diah : Aku menunggu masa dimana giliranku untuk minta tanda tanganmu

XOXO

Setelah itu, aku membubuhkan tanda tangan tanpa nama yang kemudian dibalas dengan ucapan terimakasih dari gadis yang menurutku terlalu cantik untuk menjadi seorang waitress di café kecil ini. Mataku mengikutinya sampai terus kembali ke counter di dekat pintu masuk. Aku baru saja mau kembali ke dunia khayal di balik jendela saat aku melihat seseorang melewati café ini.

Lelaki berkacamata itu….

Aku meninggalkan selembar 50 ribuan di meja dan kemudian berlari keluar.

**

Syukurlah!

Aku masih bisa melihatnya. sekarang aku mengendap-ngendap mengikutinya dengan jarak aman. Lelaki itu kemudian terlihat menuruni eskalator menuju lantai dasar. Ah, sepertinya aku sudah bisa menebak menuju kemana lelaki ini. Bodohnya aku, tentu saja tebakanku benar : sebuah toko buku kecil di pojokan lantai dasar !

“Tunggu, buku itu milikku, aku sudah melihatnya duluan” sebuah tangan menghentikan gerak tanganku.

“Tapi aku sudah memegangnya duluan” balasku kemudian.

Jelas, tidak ada yang mau mengalah antara kami berdua.

“Kalau begitu kita putuskan dengan.. suit” usulku kemudian, dan herannya bocah lelaki itu mengangguk.

Suit dilakukan. Bocah berkacamata itu tersenyum. Aku tertunduk,hampir menangis.

“Buatmu saja” ucapnya kemudian sambil mengulurkan buku.

“Lho, kenapa? kan kamu yang menang”

“Kata mama, aku gak boleh bikin anak cewek nangis” uajrnya kemudian meninggalkanku

Aku bingung, tapi satu hal yang penting, novel Draga Malaika karangan Deares Mahayana, pengarang favoriteku yang sudah lama aku tunggu, akhirnya menjadi milikku. Dan bocah bodoh tak bernama itu tidak tahu, dia baru saja membuatku menangis, dan mungkin sama bodohnya, aku tidak tau kenapa.

**

Sial !

penguntit payah, bagaimana mungkin aku bisa kehilangan dia? aku cuma kehilangan fokus beberapa detik.

Lagian mana mungkin itu… Dia?

Aku memandang keluar, hujan masih deras. Tapi kalau memang itu dia…

Aku menghela nafas kemudian menuju pintu utara, pintu masuk utama pusat perbelanjaan ini, dimana hujan berhasil membuat kerumunan, membuka percakapan, dan tentunya tetap dengan tugas utamanya : mengulang kenangan.

“Ka-Kamu–”

“Aku pikir kamu sudah melupakanku” jawabnya memotong kegagapanku.

“Hampir” ucapku gugup, mencoba bersikap normal, padahal, bagaimana bisa? ini sama sekali diluar kewajaran!

“Kamu mungkin terlalu sibuk dengan naga-nagamu, aku harusnya sadar, sebenarnya dari dulu kamu sudah tertarik dengan mereka”

Aku tak berkata apa-apa.

“Tapi aku senang, kau masih mengingatku-” lanjutnya tanpa mengindahkanku.

“–atau kau memang sudah lupa ? Tak apa, aku kesini cuma untuk memenuhi janji kita” jelasnya sambil membetulkan letak kacamatanya.

“Aku harus pergi, selamat ya ” Lelaki itu kemudian sambil mengembangkan payung hijaunya dan berjalan menjauh.

Hujan belum reda, tapi aku tidak peduli, aku berlari mengejarnya menuju puluhan payung warna warni, tapi dia benar benar menghilang, bersama warna warni hujan di mataku.

Aku berhenti, kemudian menghela nafas, aku naikkan tudung parkaku, waktunya pulang.

**

Dingin!

Tapi aku tidak peduli, aku membuka laci lemari paling bawah, mengeluarkan sebuah box lama dan mengambil sebuah buku bersampul hijau, membalik halamannya dan kemudian membaca tulisan tanganku sendiri.

Anak laki-laki itu masih memayungiku dengan payung hijaunya, padahal ini sudah di depan rumah.

“Jadi kamu harus pergi?” tanyaku kemudian

“Iya, tenang saja, kita akan ketemu lagi kok”

“Kapan?” tanyaku

“Siapapun yang buku pertamanya terbit duluan harus menghadiri dan mengucapkan selamat kepada yang lain” ucapnya sambil tersenyum

Aku ikut tersenyum. Kembali menghadirkan anak lelaki itu, cinta pertamaku, lelaki tak nyata, lelaki tak bernama – tokoh utama di dalam tulisan pertamaku : lelaki berkacamata dan berpayung hijau.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s